PERUBAHAN PENDIDIKAN PAPUA: Kerinduan yang Tak Kunjung Datang

Rabu, September 19, 2007

Oleh Bomkonwoqk Gerald Bidana*)

Sama seperti manusia lain, Tuhan menciptakan manusia Papua dengan kemampuan kognisi untuk mengembangkan potensi dirinya. Pastilah Tuhan punya maksut tertentu. Tidak lain adalah untuk membangun tanah Papua dan juga bumi tempat kita berpijak. Berangkat dari itu, pembangaunan manusia maupun fisik harus menjadi kerinduan generasi kita sebagai generasi yang sadar akan adanya pembodohan, kekerasan dan ketidakadilan dalam bidang HAM, ketidak adilan sosial dalam pembangunan yang memojokkan masyarakat di tanah Papua.

Percaya atau tidak, kerinduan untuk melawan ketidakadilan dan kerinduan untuk membanguan tanah Papua telah mengajak kita (kita terpanggil) datang dari sudut–sudut perkampungan, sudut persimpangan jalan, tepi pantai, di antara semak belukar bahkan di antara belahan gunung hanya untuk memperoleh pendidikan sebagai jalan pencerahan.
Pencerahan (fitra) itu tidak datang begitu saja, ibarat benda yang dengan kemegaannya jatuh dari langit. Pencerahan akan datang kala kita terus mau berusaha dan berjuang. Berjuang yang saya maksud memcari ilmu pengetahuan. Tentu saja, mencari ilmu tidak hanya lewat pendidikan formal (sekolah) dan pendidikan non formal. Banyak kegiatan positif, mislnya beroraganisasi, magang dan lainya yang kita lakukan itu, juga bagian dari pendidikan. Itu semua penting untuk memajukan SDM di tanah Papua. Dalam hal ini tercermin visi atau angan-angan untuk kemajuan manusia Papua. Bisa sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan hukum, HAM, sosial ekonomi dan lainnya.

Mari bercermin ke tanah Papua. Bukan main, potensi manusia Papua perlahan-lahan terus mulai nampak. Kita bisa lihat dari prestasi anak-anak Papua yang mulai menonjol akhir-akhir ini. Di tingakat internasional, misalnya Georgeo Saa yang tampil gemilang sebagai urutan satu mengalahkan puluhan negara maju di dunia dalam Olimpiade Fisika Internasional di Swedia. Apalagi kalau pendidikan di Papua diurus dengan baik dan serius. Misalkan saja, pemerintah mau melakukan berbagai terobos, seperti hubungan kerja sama dengan daerah lain yang mutu pendidikannya cukup maju. Juga Melengakapi fasilitas sekolah dan terus meningkatkan mutu guru, misalkan mengadakan studi banding keluar daerah mengunjungi sekolah-sekolah yang bermutu. Percaya Papua akan melahirkan banyak ilmuan.

Memang betul sobat, kemajuan pendidikan membawa perubahan besar bagi masyarakat. Jelasnya ini akan mengangkat derajat kita punya bangsa. Kalau begitu jawabannya adalah harus ada usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk itu ada banyak cara, misalkan membuka jaringan kerjasama dengan sekolah ungulan di dalam negeri maupun di luar negeri. Mengirim dan memberikan beasiswa kepada siswa berprestasi untuk belajar di sekolah bermutu, di dalam negeri, bisa juga di luar negeri.

Sekolah-sekolah guru, seperti PGSD, FKIP harus di kelola dengan baik. Mampu mencetak guru yang berkompeten dalam mengajar, mendidik dan mendampingi siswa. Hal itu bisa dilakukan dengan disiapkan dosen yang berkompeten, bisa didatangkan dari daerah lain. Asalkan kredibilitsnya terjamin dan benar-benar punya hati untuk membangun Papau. Selain itu, perlu juga, mengirim atau menyekolahkan guru ke sekolah jenjang tinggi, mengadakan studi banding ke sekolah yang lebih bermutu. Dan yang terpenting bagi Papau perlu menerapkan kurikulum berbasis lokalitas.

Sejauh ini, ada dua kata yang sangat sederhana dan mudah diucapkan tetapi merupakan bumerang bagi kematangan, kedewasaan semua potensi orang dalam hal memimpin, yaitu MEMBACA BUKU. Kita harus mengakui secara sadar bahwa orang Papua pada umumya tidak memiliki budaya baca dari tingkat SD sampai PT, apalagi para pegawai atau pejabat yang seharusnya memiliki waktu khusus untuk membaca di kantor. Dampak dari kebiasaan tidak tau membaca pengalaman orang - buku, maka kebanyakan pemimpin Papua belum mampu merumuskan konsep yang ada dalam benaknya maupun apa saja yang diucapkannya. Tahunya hanya pintar mengucapkan dan kelemahan inilah yang justru dimanfaatkan oleh orang lain. Pemahaman diri sangatlah penting untuk mengambil sebuah langkah demi kesuksesan yang diimpikan. Supaya otak manusia tetap hidup, satu – satunnya obat adalah Membaca Buku dan mendapatkan sesuatu yang baru (used it or you will losse it).

Membaca pengalaman orang lain dengan benar, pasti merumuskan ide-ide kita dengan baik dan bertangung jawab. Kita bangga punya koran lokal, seperti Cenderawasih pos, Papuapos dan tabloid suara Perempuan Papua, majalah dan radio lokal. Dengan membaca dan mendengarkanya tentu mendidik sekaligus meningkatkan minat baca. Ini penting mengingat salah satu faktor ketertinggalan orang Papua adalah rendahnya minat untuk membaca. Logikanya bisa mendapatkan pencerahan untuk membangun Papua. kalau tidak tentu akan ketinggalan dari daerah lain.

Pendidikan di Papua tanggung jawab pemerintah Provinsi Papua dan masyarakat Papua. Bisa dibilang, pemerintah pusat tugasnya mencairkan angaran pendidikan, membuat sistem pendidikan nasional dan kurikulum. Perlu kita pahami, ada kebebasan, kurikulum di tiap daerah bisa disesuaikan degan kondisi lokalnya. Nah, pertanyaannya, sudahkah pemerintah provinsi dan kabupaten mengalokasikan dana sesuai dengan fungsi dan manfaatnya? Kalau soal kurikulum belum sepenuhnya pembelajaran kontekstual, lokalitas tercipta. Kalau soal ini sangat terkait dengan mutu dan kreativitas guru di sekolah. Bergantung dari pandai-pandainya guru meramu mata pelajaran sesuai situasi lokal. Sebenarnya persoalannya adalah agar memudahkan siswa supaya cepat mengerti materi yang dia ajarkan.

Untuk itu, pertama, pemerintah provinsi dan kabupaten harus serius memperhatiakn pendidikan formal untuk membangun SDM yang memanusiakan. Sampai saat ini belum ada sekolah negeri yang memiliki faslititas belajar maupun tenaga pengajar yang lengkap, sekalipun ada SMA negeri BUPER Jayapura saat ini bukan jaminan kesiapan SDM yang memiliki hati untuk generasi manusia Papua? Untuk itu pemerintah harus belajar dari sokolah-sekolah missi yang berpola asrama. Kemudian menerapkan sistem pendidikan semi militer untuk membangun kognisi, afeksi dan psiko-motorik serta spritualitasnya. Dalam hal ini pemerintah bisa bekerja sama dengan pihak swasta. Hal ini berangkat dari kesadaran akan pendidikan formal yang benar – benar memberikan kemerdekaan utuh kepada setiap indidvidu. Kedua, membangun gedung edung sekolah dari SD, SMP dan SMA tanpa pertimbangan yang matang dari berbagai aspek.

Hal ini berdampak pada biaya operasional sekolah maupun pengadaan fasilitas lainnya, bahkan tenaga pengajar yang belum memiliki kompetensi sebagai seorang guru dan selalu kita katakan sekolah tidak berbobot. Ketiga, kebiasaan melempar tugas dan tanggung jawab para pejabat, yang seharusnya dalam kurun waktu yang ditetapkan ada evaluasi atau kunjungan kerja secara kontinue demi perbaikan. Keempat, penempatan pegawai negeri tidak sesuai dengan bidang keahliannya, sehingga prakteknya turut memperparah proses pengembangan dan peningkatan pembangunan yang diharapkan.

Otonomi khusus Papua memberikan peluang kepada orang Papua untuk memberdayakan semua potensi berdasarkan pengalaman–pengalaman masa lalu. Terutama membangun sekolah–sekolah yang dilengkapi dengan fasilitas sesuai tingkatannya. Ini akan tercapai asalkan manusia Papua harus jelih memandang jauh dan mau mengubah paradigma makna otonomi.

Saya sangat prihatin akan realitas pendidikan sekolah di seluruh tanah Papua. Saya selalu mengungkapkan di berbagai forum mahasiswa Papua di Jawa bahwa pendidikan formal yang baik dan benar merupakan tolok ukur keberhasilan pembangunan sebuah wilayah. Sehingga berharap kepada pemerintah provinsi dan kabupaten yang ada di seluruh Papua untuk mengedepankan pendidikan. “Berpikir bagaimana membuat pendidikan berbasis lokal tanpa menutup diri terhadap pengaruh luar. Dengan demikian pelan namun pasti, pendidikan itu dapat memebaskan manusia Papua. Melalui pendidikan itu terjadi proses pemanusiaan manusia muda.”

Kalau mau lebih baik lagi, lembaga independen yang bergerak di bidang pendidikan sebenarnya harus dibentuk. Lembaga yang tugas mencermati jalannya pendidikan di Papua, mengevaluasi jalannya pendidikan dan meramu kurikulum pusat untuk disesuaikan dengan lokalitas (melakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan pendidikan). Kalau memang Papua mau maju, lembaga ini harus menjadi perhatian serius.

Mungkinkah kerinduanku untuk Papua ini akan terwujud, kalau bukan kita siapa lagi? Mari kitorang berpikir bersama memberikan perubahan dengan cara kita masing-masing.

*)Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
--------------------------------------
Sumber: Majalah SELANGKAH

2 komentar:

amoyepos mengatakan...

SELAMAT MEMBANGUN PENDIDIKAN PAPUA MELALUI. TRANFORMASI, INFORMASI, DEMOKRASI MENUJU PPENDIDIKAN MEMAHIRKAN MANUSIA SEUTUHNYA DI TANAH PAPUA BARA

Anonim mengatakan...

wantok.yepmumo!
ide2 yg cemerlang.
saya juga akan mencoba berpikir atau menganalisa dari sisi yang lain DEMI PENDIDIKAN ORANG ASLI PAPUA. Saya salut dengan aksi kegiatan budaya mee mahasiswa/i jogja lalu. itu salah satu dari entitas kegiatan pendidikan itu.
Hal ini sangat berkaitan dengan akan masuknya bahasa daerah masuk ke kurikulum. ini merupakan sauatu kemajuan walaupun tidak begitu besar lingkupannya. ke depan PENDIDIKAN INI AKAN LAIN BILA SPIRIT INI Ditingkatkan terus.

Immanuel B

Posting Komentar

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut