Tampilkan postingan dengan label Membaca dan Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Membaca dan Menulis. Tampilkan semua postingan

”Hari masih pagi ketika seisi rumah telah sibuk“

Kamis, September 02, 2010

 Oleh:Alberd Duwith 


” Hari masih pagi ketika seisi rumah telah sibuk “

Itu-lah ketikan sebuah kalimat, dari sebuah paragraf yang kami tulis di laptop kami. Harapan kami, kalimat itu dilanjutkan, sehingga menjadi sebuah paragraf yang linear.

” Hari masih pagi ketika seisi rumah telah sibuk. Burung berkicau, dan mentari baru bersinar. Bunyi air telah terdengar dari berbagai rumah yang berarti aktifitas kehidupan telah dimulai”.

” Oke. Saya menyetujui paragraf ini. Ini adalah paragraf narasi”, lanjutku.

” Namun untuk membuat tugas kampus, jenis penguraian paragraf seperti ini, tidak diperlukan. Tugas kampus memerlukan paragraf argumentasi. Coba kau kembangkan paragraf argumentasi”

Kataku, sambil mengcopypastekan, kalimat : ” Hari masih pagi ketika seisi rumah telah sibuk “

“Saya tak mampu menulis, karena tidak memliki banyak bacaan”, katanya.

“Ini bukan kalimat yang memerlukan bacaan untuk menguraikannya, kamu hanya perlu mengembangkannya menjadi sebuah paragraf yang linear – sebab ini adalah apa yang kamu alami tadi pagi”, demikian kata-ku.

Kalimat yang belum kusampaikan di dalam kepala adalah tatacara pengembangan paragraf dapat di bagi menjadi tiga (3) bagian. Bagian pertama adalaha paragraf yang dikembangkan dengan gaya penulisan dari Timur Tengah, semisalnya dapat kita lihat  padakitab Mazmur  dalam kitab suci Agama Kristen, yakni dengan gaya perulangan. Bagian kedua berasal dari peradapan di wilayah Asia Timur, yang dicirikan dengan menggunakan banyak sudut pandang dalam sebuah paragraf. Bagian ke-3, berasal  yakni secara linear, yang dikembangkan oleh berbagai ilmuwan pada kebudayaan Yunani ( terutama Aristoteles), yaitu dengan menggunakan 1 kalimat inti, dan di dukung oleh beberapa kalimat pendukung, dan diakhiri dengan sebuah kalimat penyimpul.

Karena mengingat tujuan dari berbagai tulisan ilmiah adalah membedah sebuah persoalan dan menyakinkan para pembacanya tentang sebuah ide baru, maka tatacara pengembangan paragraph secara linear ( Yunani). Paragraf ini menjadi standar baku yang digunakan ketika kita membuat sebuah laporan essay, paper, proposal dan skripsi serta tesis, yang pada prinsipnya di tulis dengan metode argumentasi, yang mengembangkan tulisannya lewat deduksi-induksi. Karena itu adalah hal yang penting untuk mengetahui tatacara pengembangan paragraf secara linear.

Ini bukanlah persoalan seberapa banyak buku yang di baca, namun bagaimana mengembangkannya sebuah kelimat menjadi sebuah paragraf. Dasar sebuah penulisan adalah kata, yang berlanjut kepada kalimat, yang kemudian akan menjadi paragraf yang setelah dikumpulkan kemudian menjadi sebuah kumpulan bab, yang dapat mewujud menjadi sebuah buku. Adalah kesedihanku, bahwa ada banyak karya limiah mahasiswa yang di tulis, namun pemahaman penulisan secara linear, sangat jarang digunakan. Sehingga kita membaca sebuah paragraf, kemudian menjadi bingung, tentang maksud dari paragraf tersebut. Artinya, ketika kebingungan paragraf itu berlanjut kepada kebingungan di paragraf berikut, maka kita menjadi bingung dengan isi keseluruhan cerita yang mau disampaikan lewat tulisan tersebut. Itulah sebabnya mengetahui tatacara pengembangan paragraf secara linear adalah sangat penting, terutama bagi kalangan mahasiswa.
Waktu cepat berlalu, 2 menit kemudian, karena melihatnya duduk di depan laptop sambil merenung, maka saya mengetahui bahwa hal ini adalah sesuatu yang baru baginya.

“Apa masih belum bisa”?

Saya pun meminta ijinya, untuk mengambil ganti duduk di kursi berhadapan dengan laptop di atas meja.
Kemudian saya pun menuliskan kata-kata ini.

Ide Pokok : hari masih pagi
Ide Pembatas : seisi rumah telah sibuk
Kemudian hal ini lanjutkan dengan mengetik
Kalimat Inti
kalimat Pendukung (1)
Kalimat Pendukung (2)
Kalimat Pendukung (3)
Kalimat Penyimpul

Setelah itu, kembali saya mempersilakannya untuk duduk dan lanjut menulis, menyampung kalimat di atas itu, yakni : ” Hari masih pagi ketika seisi rumah telah sibuk”

Kemudian, saya melanjutkan penjelasan kalimat ini.

“Kalimat pendukung itu, menjelaskan apa yang ada pada ide pembatas, dari kalimat inti tersebut. Karena itu, ketika pembatasnya adalah “seisi rumah telah sibuk”, maka kita harus menjelaskan, apa saja aktifitas seisi rumah, yang membenarkan bahwa “seisi rumah telah sibuk”. Kita sebut satu persatu anggota rumah ini, dan aktivitasnya yang dilakukan pada pagi hari (tadi)”. Kesibukan itulah yang kita masukan dalam kalimat pendukung 1,2, dan 3. Bila perlu, sampai lebih dari 3 kalimat pendukung. Dan semua ini, diakhir dengan sebuah kalimat penyimpul. Jadilah sebuah paragraph yang linear”.

Ternyata, 30 menit telah berlalu.

” Kita cukup dulu yah, untuk hari ini”.

” Oke. Besok kita lanjutkan lagi”!

Sumber: http://www.facebook.com/notes/duwith-alberd/hari-masih-pagi-ketika-seisi-rumah-telah-sibuk/424505677934
BACA TRUZZ...- ”Hari masih pagi ketika seisi rumah telah sibuk“

Budaya Menulis di Kalangan Mahasiswa

Selasa, Juni 03, 2008

Oleh : Hendra Sugiantoro

DALAM menempuh pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswa tak dapat dilepaskan dari aktivitas membaca dan menulis. Kedua aktivitas tersebut dimaksudkan untuk memperkaya khazanah pengetahuan sekaligus mengembangkan spesialisasi keilmuan mahasiswa. Dengan melakukan aktivitas membaca dan menulis, mahasiswa diharapkan akan memiliki kemampuan memahami dan mengaplikasikan bidang keilmuan yang tentu saja sangat menunjang proses akademiknya.

Aktivitas membaca dan menulis pada dasarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Untuk dapat melakukan aktivitas menulis, mahasiswa dituntut membudayakan aktivitas membaca. Dengan kata lain, aktivitas menulis mahasiswa berkaitan erat dengan aktivitas membacanya. Namun demikian, aktivitas membaca yang menjadi landasan menulis ini ternyata belum begitu maksimal. Masih dijumpai mahasiswa yang kurang antusias membaca literatur-literatur terkait mata kuliahnya. Tidak jauh berbeda dengan tingkat membaca masyarakat Indonesia umumnya, rendahnya minat membaca juga terjadi di kalangan mahasiswa.

Adanya kenyataan rendahnya budaya membaca di kalangan mahasiswa ini tentu berpengaruh terhadap aktivitas menulisnya. Dalam melakukan aktivitas menulis, mahasiswa dituntut membuka berbagai literatur. Kesulitan dalam melakukan aktivitas menulis dimungkinkan terjadi jika mahasiswa tidak memiliki motivasi dan ketekunan membaca.

Memang dapat dikatakan mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi tidak bisa menghindar dari aktivitas menulis. Di perguruan tinggi, khususnya S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya tulis, seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil, tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian (Harry Firman : 2004).

Dengan demikian, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan menulis dalam menunjang keberhasilan studinya. Sebut saja misalnya dosen yang mengampu mata kuliah X menganjurkan mahasiswa menyusun makalah sebagai bagian dari penilaian akhir. Mahasiswa yang mendapatkan tugas menyusun makalah tentu saja harus menuliskannya secara baik, sistematis, dan mudah dipahami. Dengan penyusunan makalah yang baik dipastikan memudahkan dosen memahami kerangka berpikir mahasiswa dalam penyajian makalahnya. Penyusunan makalah secara baik, sistematis, dan mudah dipahami jelas akan memberikan nilai positif. Tugas penyusunan makalah ini tidak saja diberikan oleh dosen yang megampu mata kuliah X, tetapi juga dosen-dosen mata kuliah lainnya. Banyaknya tugas makalah yang diberikan dosen berarti menuntut mahasiswa selalu membuka literatur dan menulis. Kebiasaan membaca dan kemampuan menuangkan pemikiran dalam tulisan yang dimiliki mahasiswa dipastikan akan berbanding lurus dengan peningkatan prestasi akademiknya.

Ditinjau lebih jauh, aktivitas membaca dan menulis sebenarnya telah ditumbuhkan dosen di perguruan tinggi. Tugas penyusunan makalah, misalnya, mengajak mahasiswa tekun membaca dan meningkatkan kualitas tulisan. Lomba kepenulisan karya ilmiah pun sering kali diselenggarakan di perguruan tinggi, seperti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) dan Program Penulisan Kritis Mahasiswa (PPKM). Dari pemberian tugas makalah dan lomba kepenulisan tersebut mahasiswa diarahkan untuk membiasakan membaca dan menulis sebagai tradisi intelektual di perguruan tinggi. Pertanyaannya, apakah mahasiswa memberikan respons positif terhadap stimulus menulis tersebut?

Aktivitas menulis di kalangan mahasiswa bisa dikatakan belum berjalan baik. Rangsangan menulis yang dilakukan dosen atau pun melalui lomba penulisan menunjukkan beragam perilaku di kalangan mahasiswa. Diakui atau tidak, mahasiswa sering kali merasa terbebani dengan tugas-tugas penyusunan makalah. Setiap dosen memberi tugas menyusun makalah selalu ditanggapi negatif oleh sebagian mahasiswa. Bahkan, mahasiswa tidak jarang memberikan stigma buruk terhadap dosen yang memberi tugas menyusun makalah karena dianggap memberatkan. Berbagai lomba kepenulisan pun hanya diikuti oleh segelintir mahasiswa.

Adanya respons kurang baik dari mahasiswa ini tentu disebabkan berbagai faktor yang tidaklah sederhana. Harus diakui jika karakter sebagian mahasiswa saat ini lebih menyukai pekerjaan yang tidak terlalu berat. Setiap tugas kuliah—tidak hanya penyusunan karya tulis—selalu dianggap membebani mahasiswa. Budaya instan memang disadari telah menjangkiti kepribadian sebagian mahasiswa di perguruan tinggi.

Perilaku menyontek saat ujian pertengahan semester dan ujian akhir semester tidak dimungkiri merupakan penyakit akut yang menunjukkan budaya instan tersebut. Mahasiswa dengan karakter seperti ini (baca : mahasiswa Z) dalam mengerjakan tugas kuliah termasuk menyusun makalah sering kali asal cepat jadi. Dalam penyusunan makalah atau karya tulis lainnya, mahasiswa Z ini sering kali hanya memindahkan tulisan orang lain atau mencomot berbagai referensi tanpa memerhatikan kaidah penulisan yang baik dan benar. Misal, mahasiswa Z dalam menyusun tugas makalah memiliki tema “Keluarga dan Penanaman Moral”.

Mahasiswa Z ini mencari literatur di perpustakaan yang terkait dengan penanaman moral dan keluarga. Dari bacaan-bacaan terkait, mahasiswa Z sering kali hanya copy paste apa yang dituliskan penulis dalam bacaan tersebut. Perilaku seperti itu memang tidaklah salah, namun tanpa memerhatikan kaidah penulisan tentu tidak dibenarkan dalam penyusunan karya tulis.

Sebagai sebuah bentuk aktivitas akademik, upaya menumbuhkan dan memacu minat mahasiswa untuk menulis tentu harus terus-menerus dilakukan. Meminjam istilah Prof. Dr. T. Jacob dalam Kata Pengantar buku Menulis Karya Ilmiah karangan Etty Indriati, Ph.D (2003), mahasiswa yang menulis karya-karya ilmiah disebut sebagai karyawan ilmiah. Bagi karyawan ilmiah, menulis seharusnya telah menjadi budaya dan panggilan hidup untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat luas. Dengan menulis, mahasiswa tentu akan dapat mentransformasikan pengetahuan dan wawasannya.

Di pihak mahasiswa, motivasi internal dalam diri mahasiswa sendiri untuk giat menulis tentu saja sangat diharapkan. Respons positif diharapkan muncul dari mahasiswa dengan, pertama, mengerjakan tugas-tugas penyusunan makalah, paper, laporan praktik/observasi sesuai kaidah keilmuan dan kepenulisan yang benar. Kedua, berperan dan berpartisipasi aktif dalam setiap perlombaan karya tulis ilmiah sebagai upaya menerapkan dan menguji ilmu pengetahuan terkait jurusan dan program studinya. Ketiga, mengembangkan ilmu pengetahuan terkait jurusan dan program studinya melalui karya-karya tulis yang dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat. Semoga.

*)HENDRA SUGIANTORO,
pekerja media di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
BACA TRUZZ...- Budaya Menulis di Kalangan Mahasiswa

Tidak Mebaca: Apa Kata Dunia?

Kamis, Februari 14, 2008

Yogyakarta (Selangkah)--Judul di atas ini dipilih sebagai tema pada acara pameran buku nasional 2007 yang digelar di gedung Wanita Tama, Yogyakarta yang berlangsung selama seminggu, berakhir tepat pada tanggal 10 Februari lalu. Acara seperti ini bukan hal yang baru, sudah sejak dulu pesta buku ini digelar dan hampir setiap beberapa bulan sekali pamerean buku dan penjualan buku murah diadakan di kota pendidikan Yogayakarta. Diskonnya mencapai 70%, di sana tersedia buku mulai dari harga lima ribu hingga sampai yang berharga ratusan ribu rupiah.

Tema yang ada di atas itu terkesan sangat ringan, namun bukan sesuatu yang kosong. Ada makna pilosofi yang cukup dalam bila kita mau masuk ke dalam dan menyelusuri makna kata ini. Walaupun kata itu terkesan menyerupai iklan wajib pajak ”tidak bayar pajak apa kata dunia” namun di antara kedua itu siapa yang lebih dulu bukan sesuatu yang harus kita perdebatkan. Yang terpenting di sini ada sesuatu yang mau dikomunikasikan pada kita dan seharusnya kita temukan .

Di dalam acara ini juga telah dilakukan berbagai diskusi dan bedah buku, dari jenis novel hingga buku akademik, mengenai agama, sosial dan budaya mistik dan sebagainya. Yang terpenting di sini, melalui diskusi dan bedah buku ini sudah menambah wawasan dan pengetahuan bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan diskusi dan beda buku ini. Nampaknya alasan menambah wasasan, menambah minat baca untuk pencerdasan, yang sepertinya telah menjadi harapan diadakannya pameran buku murah.

Setiap hari dikunjungi oleh ratusan orang, diperkirakan hampir mendekati seribu pengujung setiap hari. Namun selama dua hari pantauan tim dari Selangkah, dari sekian ribuh mahasiwa Papua yang ada di Yogyakarta, hanya nampak beberapa orang saja. Entalah? Mungkin 4 rbuan mahasiswa itu tidak tahu kalau sedang ada pameran buku.

Dari sekian banyak pengujung itu, ada ungkapan dari beberapa pengunjung yang kebetulan berseberangan dengan tim Selangkah mengatakan “pameran kali ini tidak semeria yang kemarin-kemarin” ada beberapa buku yang aku cari tidak dijual di sini, padahal pada acara yang lalu buku tersebut di jual.

Kita kembali kepada tema di atas? Barangkali kalau kita tidak membaca buku dunia akan menertawakan kita? Dunia akan meninggalkan kita, kita menjadi manusia yang paling terlambat, terbelakang dan ketinggalan jauh. Mungkin seperti itu yang mau dikatakan tema di atas kepada kita.

Untuk memahami dunia, berkeliling (mengelilingi) dunia juga dapat di tempu melalui membaca buku, misalnya jika kita ingin tahu tentang Afrika, Amerikan dan sebagainya tidak harus kita datang ke sana, meskipun kita ke sana dan pernah sampai di sana belum tentu mengetahui banyak tentang tempat itu. Tetapi ketika kita membaca buku ataupun peta tentang Afrika dan daerah lainnya justru akan menemukan dan tahu banyak hal. Misalnya juga, kita tidak pernah sampai di Bali, namun kita tahu Bali adalah kota wisata, kita akan tahu hal itu karena terdapat berbagai macam tempat wisata di antaranya Pantai Kuta, Pure Besaki dan sebagainya dengan membaca. Waluapun memang hanya membaca saja rasanya tidak puas, namun yang mau dikatakan di sini dengan membaca kita bisa keliling dunia dan tahu banyak hal.

Berkaitan dengan cara berpikir, membaca satu-satunya cara untuk memperluas wawasan kita. Dengan pengetahuan luas akan membuat wawasan kita semakin luas pula dan akan sangat membantu untuk memahami orang dari suku bangsa, agama lain. Sekalipun kita belum pernah bertemu dan saling menyapa. Melalui membaca kita akan mengetahui kebiasaan dan apa yang mereka yakini dan apa yang dapat menyinggung perasaan mereka, dari situ kita akan semakin menghormati dan menghargai mereka sebagai manusia yang sama dengan kita.

Memacu Minat Baca
Kegiatan ini tentu akan membatu menanamkan minat baca masyarakat. Paling tidak membuat masyarakat mencintai buku. Kita berharap untuk memacu minat baca orang Papua, akan bermunculan penerbitan dan percetakan buku di Papua. Tetapi yang lebih penting, untuk meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan masyarakat Papua sudah adakah upaya pemerintah daerah untuk mengampanyekan pentingnya membaca, menulis dan budaya bersikusi di Papua? Ini belum nampak, walaupun ada namun masih kurang.

Bukan hanya sekedar kampanye, tetapi bila belajar dari daerah lain sudakah pemerinah dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) pihak gereja dan sebagainya yang ada di Papua melakukan upaya untuk merangsang minat membaca masyarakat. Misalnya dengan mendirikan perpustakaan anak-anak, remaja dan umum serta melengkapinya dengan buku-buku bacaan, ataupun menggelar perlombahan menulis karya Ilmiah, puisi, cerpen dan juga kursus jurnalitik bagi kalangan umum.

Kegiatan seperti ini seharunya diprogramkan dalam anggaran APBD yang bernilai miliaran rupiah itu. Bila pemerintah sulit melakukannya, seharunya pemerintah bisa percayakan kepada lembaga ataupun intansi terkait yang secara serius menangani upaya-upaya soal pengembangan minat membaca dan menulis bagi masyarakat sebagai bagian dari upaya pencerdasan dan mengurangi angka buta huruf yang ternyata mendapat urutan paling atas di Papua. [Long/selangkah]
BACA TRUZZ...- Tidak Mebaca: Apa Kata Dunia?

Kontribusi Media Massa Menumbuhkan Minat Baca

Selasa, November 13, 2007

Oleh Johnherf

Pada kenyataannya, minat baca masyarakat masih rendah. Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa budaya baca belum tumbuh pada masyarakat kita. Padahal, dalam era global membaca merupakan kunci dalam menjalani kehidupan. Akankah kita tetap menerima kenyataan kalau budaya baca belum tumbuh pada masyarakat kita? Doktor Endry Boeriswati, M.Pd. mengungkap kontribusi media massa menumbuhkan minat baca masyarakat seperti berikut ini.
Apabila minat baca masyarakat tumbuh maka masyarakat akan gandrung membaca berbagai sumber bacaan, masyarakat akan haus informasi. Kehidupan masyarakat tidak terlepas dari suatu budaya yang secara tidak langsung menjadi panutannya. Budaya dibentuk melalui aktivitas kebiasaan di lingkungan individu tersebut berada. Oleh karena itu, apabila kita akan menilai kebiasaan suatu masyarakat tidak bisa lepas dari budayanya.

Membaca dapat dikatakan sudah merupakan suatu aktivitas kebiasaan dalam suatu masyarakat. Hal ini terjadi apabila membaca dipandang sebagai alat untuk memperoleh informasi, sedangkan informasi merupakan kebutuhan mutlak dalam kehidupan, bahkan merupakan kebutuhan pokok seperti halnya sembako. Namun, pada kenyataannya informasi dapat diperoleh tidak hanya melalui membaca, melainkan ada sarana lain yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi.

Dosen mata kuliah membaca pada jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Jakarta itu menyampaikan urun rembug berjuluk “Menumbuhkan Minat Baca Masyarakat” yang diadakan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional bekerja sama dengan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, Kamis 23/8.

Membaca membutuhkan kemampuan awal yang sangat mendasar, yaitu melek aksara. Orang dapat membaca apabila orang tersebut mengenali huruf-huruf. Ini baru sampai pada jenjang membaca tingkat pemula yang sering disebut dengan membaca simbol (word recognition).
Mari kita melihat apakah masyarakat kita sudah merdeka dari “buta huruf”? Ya masih ada sebagain kecil masyarakat kita yang masih belum merdeka dari “buta huruf”. Berarti belum bisa membaca huruf. Kebiasaan membaca pada kalangan akademis pun masih rendah. Membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata. Membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan. Hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan.

Kemampuan membaca yang kita harapkan adalah bukan sekedar kemampuan membaca simbol-simbol saja, tetapi membaca yang mampu memberikan suatu pemahaman baik yang tersurat maupun yang tersirat. Tentu memerlukan suatu kemampuan yang lebih tinggi dari hanya mengenali huruf. Keberhasilan dari membaca adalah pembaca mampu memproses informasi yang diterima dari simbol-simbol yang dibaca yang kemudian dihubungkan dengan apa yang sudah diketahui menjadi informasi yang bermakna. Tentu dalam hal ini diperlukan kognitif yang baik. Dengan kata lain, diperlukan suatu kemampuan penalaran yang baik yang tampak melalui kemampuan berpikir.

Bisa saja kita katakan membaca menuntut kemampuan berpikir. Lalu bagaimana dengan masyarakat kita? Ada indikator yang mengarah pada kemampuan berpikir hanya saja tidak kuat untuk disimpulkan, yaitu budaya instan. Haruskan budaya baca ditumbuhkan? Jawabannya 100% harus. Budaya baca harus ditumbuhkan sepanjang hayat beriringan dengan pendidikan. Membaca sebagai sarana mencerdaskan bangsa. Oleh karena itu, bangsa yang unggul adalah bangsa yang warganya mampu membaca. Kemampuan membaca dilatih melalui sekolah sejak SD sampai perguruan tinggi.

Berdasarkan pengalaman, pelajaran membaca di sekolah masih pada taraf membaca teknis, padahal dari sekolah dituntut melahirkan orang yang mampu membaca interpretasi. Guru masih banyak belum menuntut siswa untuk menjadi pembaca mandiri, artinya membaca menjadi suatu kebutuhan mencari informasi sebagai bahan pemecahan masalah. Karena siswa disodori oleh informasi siap pakai sehingga tanpa melalui membaca siswa sudah mendapat informasi. Inilah sisi lain yang belum mendorongnya budaya baca.

Tiap bulan September diperingati sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan. Ini merupaya upaya pemerintah untuk menumbuhkan minat membaca dan menandakan bahwa membaca merupakan persoalan bangsa yang bersifat nasional sehingga pemerintah turun tangan. Persoalan membaca ternayata menjadi persoalan bersama dan sangat urgen.

Persoalan membaca juga persoalan pendidikan, apabila siswa yang memiliki minat membaca tinggi akan berprestasi tinggi di sekolah, sebaliknya siswa yang memiliki minat membaca rendah, akan rendah pula prestasi belajarnya. Dampak dari kenyataan ini adalah lahirlah generasi yang memiliki prestasi rendah, tentu ini mengkhawatirkan pemerintah. Secara umum minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari atau mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif seseorang terhadap aspek-aspek lingkungan.

Ada juga yang mengartikan minat sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas disertai dengan rasa senang. Minat juga merupakan perhatian yangkuat, intensif dan menguasai individu secara mendalam untuk tekun melakukan suatu aktivitas.

Aspek minat terdiri dari aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif berupa konsep positif terhadap suatu obyek dan berpusat pada manfaat dari obyek tersebut. Aspek afektif tampak dalam rasa suka atau tidak senang dan kepuasan pribadi terhadap obyek tersebut. Minat membaca meliputi kesenangan membaca, kesadaran akan manfaat membaca, frekuensi membaca dan jumlah buku bacaan yang pernah dibaca oleh anak. Dengan demikian, minat membaca adalah sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam diri anak terhadap aktivitas membaca dan tertarik terhadap buku bacaan.

Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca. Hasil penelitian minat baca masyarakat di Tangerang mengungkapkan bahwa salah satu indikator bahwa masyarakat berminat terhadap membaca adalah masyarakat mengetahui dan paham bahwa membaca mempunyai makna yang sangat besar dalam kehidupannya. Namun, pendapat tersebut tidak berkorelasi dengan frekuensi membaca.
Frekuensi membaca masyarakat sangat rendah. Dari penelitian ini juga menungkap bahwa kendala yang dihadapi untuk membaca adalah kurangnya sarana, yaitu bahan yang dibaca, seperti koran, majalah, dan buku. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masyarakat memiliki minat membaca sangat tinggi, tetapi konasi dari minat tersebut belum dapat diimplementasikan yang terhalang oleh kekurangmanpuan untuk mengakses sumber bacaan, sehingga yang tampak masyarakat dinilai kurang berminat membaca atau minat membaca masyarakat rendah.

Rendahnya minat membaca masyarakat akar permasalahannya bukan pada minat atau kemauannya ternyata adalah sarananya yang kurang mendukung untuk action membaca yang rendah. Masyarakat belum secara merata menikmati kemudahan untuk mengakses bahan bacaan sehingga membaca belum menjadi suatu kebutuhan seperti sembako. Padahal, manfaat membaca sama seperti manfaat sembako pada kehidupan masyarakat.
Kemudahan mengakses bahan bacaan dapat diperoleh melalui toko buku bagi masyarakat yang mampu membeli bahan bacaan atau melalui perpustakaan bagi yang tidak mampu untuk memiliki buku. Kedua pilihan tersebut sangat berat. Bagi masyarakat yang kurang mampu bisa memanfaatkan perpustakaan. Tetapi seperti kita ketahui berapa banyak jumlah perpustakaan yang ada di sekitar masyarakat? Jika pun ada, masyarakat harus mencari waktu khusus untuk mengunjungi perpustakaan dengan jam kunjungan terbatas. Jadi, kendalanya adalah rendahnya daya beli bahan bacaan (koran, majalah dan buku).

Atas dasar itu, kontribusi media massa dalam menumbuhkan minat baca berkorelasi dengan bahan bacaan tidak terbatas. Korelasinya antara lain melalui buku atau majalah, dan koran yang juga dapat dikatakan sebagai bahan bacaan. Selanjutnya penyebutan media massa dibatasi hanya pada media cetak dan lebih khusus lagi koran.

Sebenarnya, koran telah tercatat dalam sejarah berperan menumbuhkan minat baca masyarakat. Dahulu, kala saya anak-anak sering lewat kantor kelurahan, sering melihat pemandangan sekerumunan orang dewasa. Namun, di dalam kerumunan itu ternyata “hanya” membaca koran yang ditempel di papan kelurahan. Sayang, pemandangan ini sulit ditemukan kembali. Mengapa koran tidak mengisi ruang kosong ini?

Dari keuntungan produksi dapat disisihkan untuk memberikan subsidi koran bagi masyarakat dengan memberikan secara gratis entah untuk setiap RT yang harus ditempel di papan pengumuman. Mungkin dapat juga dilakukan dengan bekerja sama dengan Pemda menerbitkan koran gratis tidak setebal koran nasional. Seperti kita ketahui bahwa yang mendorong masyarakat berminat membaca apabila membaca tersebut memberikan manfaat baginya.
Dengan demikian yang diperlukan adalah relevansi isi bahan bacaan dengan kehidupan pembacanya. Saat ini koran telah terbit dengan spesifikasinya; ada yang mengkhususkan berdasarkan isi ada mengkhususkan berdasarkan tingkat pembacanya yang semuanya berorientasi profit. Dalam hal ini koran dapat digunakan sebagai sarana untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Bagaimana strateginya? Pertama, kita tentukan siapa yang akan ditumbuhkan minat bacanya? Masyarakat umum? Mungkin terlalu sulit karena variabel pengiringnya sangat kompleks.
Di samping itu, aktivitas membentuk suatu minat pada kelompok informal sangat sulit mengontrolnya, sehingga yang dapat dilakukan adalah imbauan atau penyadaran bukan tindakan menumbuhkan minat. Dengan demikian, penumbuhan minat yang dapat terkontrol dan dapat secara nyata terlihat adalah penumbuhan minat pada kelompok formal melalui edukasi.

Media massa dapat membentuk klub-klub baca pada setiap jenjang baik jenjang birokrasi di masyarakat atau berdasarkan keminatan objek bacaan. Dalam klub tersebut, anggota dapat menjadi motor yang dapat mempengaruhi orang lain berminat. Untuk menarik minat orang lain untuk maka perlu adanya rangsangan yang menarik, seperti kemudahan, pengistimewaan, dan hadiah.
Dengan adanya rangsangan ini orang akan merespon berdasarkan persepsinya apa yang dilakukan dengan membaca. Kegiatan yang membaca koran yang tanpa harus hadir di arena lomba, tetapi dapat dilakukan di mana saja. Bentuk lomba membaca bukan sekedar membaca teknis, tetapi membaca dengan memberikan tanggapan apa yang dibacanya yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Keuntungan kegiatan ini bukan hanya menumbuhkan minat baca masyarakat tetapi juga membelajarkan masyarakat untuk bernalar.
Kegiatan ini merupakan kegiatan dengan tujuan jangka pendek yang dapat dilakukan oleh pelaku media massa. Untuk menumbuhkan minat membaca secara permanen dapat dilakukan di proses pembelajaran.

Guru dapat mengoptimalkan tugas membaca bukan untuk menghafal isi bacaan atau untuk mencari informasi saja, tetapi membaca digunakan untuk mengkonstruksikan informasi yang diperoleh melalui membaca membentuk pengetahuan baru. Hal ini diperlukan latihan secara struktural dengan bahan bacaan yang bermakna. Ruang ini dapat diambil oleh pelaku media massa khususnya media cetak, yaitu dapat dilakukan dengan adanya koran edukasi.
Koran edukasi adalah koran yang secara khusus ditujukan untuk pembelajaran yang lebih mengutamakan pada how to learn. Seperti halnya TV edukasi yang ditangani oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Depdiknas. Lalu siapa yang berminat untuk menangani koran edukasi untuk jutaan masyarakat sekolah ini? Inilah suatu tawaran yang dapat ditangkap oleh penerbit koran untuk memberikan kepedulian sosial bagi generasi mendatang.***
-----------------------------------------------------
Sumber:http://johnherf.wordpress.com/2007/10/08/kontribusi-media-massa-menumbuhkan-minat-baca/
BACA TRUZZ...- Kontribusi Media Massa Menumbuhkan Minat Baca

Membaca dan Menulis Basis Pembelajaran

Mungkinkah Diupayakan?

Membaca karya-karya Mary bagaikan membaca sebuah kisah tentang cinta. Tidak mudah, memang, mendefinisikan apa itu cinta. Namun, begitu kita bersentuhan dengan ekspresi-tertulis Mary dalam menjelaskan atau menunjukkan sesuatu, getaran cinta itu seolah-olah mengalir bagaikan air bah lewat teks-teks yang diuntainya.

Mary yang saya maksud di sini adalah Mary Leonhardt. Dia seorang guru sekaligus seorang ibu yang berparas menyejukkan. Hingga kini, ada lima buku-karyanya yang telah terbit. Kaifa telah menerjemahkan dan menerbitkan tiga karyanya. Menurut data yang ada, dua karyanya---99 Cara Menjadikan Anak Anda "Keranjingan" Membaca dan 99 Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis---diminati pembeli alias laris-manis di pasaran.

Karya ketiga Mary, yang baru saja terbit pada Maret 2002 lalu, berjudul 99 Cara agar Anak Anda Asyik Mengerjakan PR. Buku ini dengan sangat kuat membuktikan kepada para pembaca karyanya bahwa rasa cinta yang dimilikinya---untuk membuat murid-muridnya bergembira dan asyik saat belajar---masih terasa mengalir sangat deras. "Jangan menjatuhkan hukuman karena PR tidak selesai," teriaknya kepada para orangtua. Dan, "Pastikanlah rumah Anda bersuasana santai, penuh cinta, dan menjadi tempat yang mengutamakan kepentingan anak-anak," ujarnya pada kesempatan lain.

Sebanyak 99 kiat yang disebar Mary di sepanjang bukunya rata-rata bersuasanakan pembebasan. Dan yang menarik---dalam karya terbarunya itu---Mary tetap ngotot agar aktivitas membaca dan menulis benar-benar dijadikan "PR yang sesungguhnya" saat anak-anak itu berada di rumah. Dalam Kiat Kedua, yang bertajuk "Pastikan anak-anak Anda menguasai kemampuan dasar agar berhasil dalam PR mereka", Mary menulis:

"Yang paling penting dalam hal ini adalah memastikan bahwa anak-anak Anda dapat membaca dan menulis dengan baik. Keduanya merupakan kunci menuju dikuasainya kemampuan akademik yang dibutuhkan bagi keberhasilan dalam setiap pelajaran … Jika Anda berhasil menumbuhkan kecintaan dan kebiasaan membaca serta menulis dalam diri anak-anak Anda, kemampuan membaca dan menulis dengan baik, otomatis akan menyusul."

Di tempat lain, di Kiat ke-29, Mary berpesan kepada orangtua yang memiliki anak-anak yang masih berada di sekolah dasar: "Sekolah dasar merupakan waktu yang menentukan bagi anak-anak untuk mengembangkan suatu kecintaan dan kebiasaan membaca. Jangan biarkan apa pun mencemari hal itu. Tidak ada PR yang dapat bersaing dengan buku yang memesona kalau kita bicara soal mengembangkan kemampuan membaca yang baik."

Dan kepada orangtua yang memiliki putra-putri yang masih duduk di SMP dan SMU, atau yang masih berusia remaja, Mary berpesan: "Keahlian membaca dan menulis yang baik, serta minat akademik yang tinggi, akan membawa mereka pada pencapaian yang jauh lebih tinggi ketimbang sekadar nilai-nilai yang tinggi di sekolah."

Saya akan berhenti di sini dalam mengutip pandangan-pandangan Ibu Guru Mary yang saya kagumi. Saya akan mengajak Anda untuk merenungkan sejenak pandangan-pandangan tersebut. Saya tiba-tiba dirasuki sedikit kecemasan begitu mencoba mengaitkan pandangan-pandangan tersebut dengan keadaan di sekolah tempat anak-anak saya belajar.

Saat ini, saya memiliki empat anak yang masih bersekolah di SD, SMP, dan SMU. Pesan-pesan Mary terasa mudah saya cerna, namun sungguh terasa sulit untuk saya transfer kepada anak-anak saya. Bagaimana menumbuhkan minat membaca dan menulis anak-anak saya apabila tak saya jumpai satu PR pun yang mereka kerjakan yang berhubungan dengan dua aktivitas penting itu? Bagaimana saya memekarkan cinta membaca dan menulis kepada anak-anak saya itu apabila di sekolah, benih-benih cinta itu, rasa-rasanya, tak disebar oleh para bapak dan ibu guru?

Saya merasakan sekali betapa, di sekolah, aktivitas membaca dan menulis itu sudah dianggap salah satu aktivitas yang membebani dan memberatkan--- tak hanya para siswa, namun juga---para guru. Kayaknya, di lingkungan-mulia yang bernama sekolah, hampir sudah tidak dapat ditemukan lagi segepok keasyikan di dalam dua aktivitas membaca dan menulis---meskipun saya sangat tahu bahwa buku bacaan, buku tulis, dan juga pena atau pensil senantiasa berada di tas para siswa dan para guru.
Seakan-akan, dalam pandangan dangkal saya, aktivitas membaca dan menulis di sekolah telah berubah dan perlu perumusan baru. Apakah benar demikian, wahai Bapak dan Ibu Guru yang mulia?
----------------------------------------------------
Sumber: Majalah SELANGKAH Via Mizan.com
BACA TRUZZ...- Membaca dan Menulis Basis Pembelajaran

JIKA MENGIDAP BUDAYA BISU, Berbicaralah Dengan Menulis

Oleh Odiyai Pai*)

Sebuah realitas cultural-historis Papua, berbicara adalah sebuah “alat” pokok dalam kehidupan sehari-hari dalam sejarah, sehingga terbentuk budaya berbicara. Hal itu dapat dibuktikan dengan tingkalaku dan tutur kata orang Papua yang cepat menanggapi sesuatu melalui berbicara, entah marah, sungut-sungut, sayang dan cinta, mengemukakan gagasan, menolak gagasan, dan lainnya. Karena itu seringkali orang Papua terlihat “cerewet” entah di kampung, kampus, bus kota, saat makan, rapat, dan di mana saja tanpa perduli dengan keadaan sekitarnya.

Sebagai contoh, jika seorang mahasiswa Papua berpapasan dengan teman lamanya di dalam bus kota, karena saking rindunya, maka bukan tidak mungkin mereka saling berteriak: aduh... sayang, ko dari mana saja angjing neh, dan ungkapan perasaan dan kata sejenis lainnya. Begitu pula jika seseorang marah atas sebuah perkataan atau tindakan seseorang, dengan nada keras sudah pasti akan dicaci-makinya. Contoh, jika seorang mahasiswa Papua sudah memberi tahu kondektur dalam bus kota untuk turun, tetapi jika sopir masih belum bisa memberhentikan bus kota, maka bukan tidak mungkin lagi kalau sopir diteriaki begini: wei… sopir ko dengar tidak, bah… ini terlalu jauh neh taruh telinga di mana, dan ungkapan perasaan dan kata sejenis lainnya.

Walaupun terlihat cerewet dengan budaya berbicaranya, bukan hal yang tidak mungkin jika terjadi pergeseran budaya berbicara tersebut. Bisa saja sebuah faktor, katakanlah faktor “X” merubah budaya berbicara tersebut menjadi budaya diam atau bisu. Dalam konteks realita historis, budaya berbicara (spontan) telah berubah menjadi budaya bisik-bisik atau bisu sama sekali. Salah satu faktor penyebabnya, atau sebagai faktor ”X” adalah ”Memmoria Passionis” (sejarah atau ingatan penderitaan). Jika benar kata orang bahwa sejarah harus diukir, maka sejarah Papua telah diukir dengan sepatu lars, pisau sangkur, dentuman bedil, teror, intimidasi, pemenjarahan, cap separatis dan pemberontak, bodoh, ketinggalam zaman, tidak tahu mandi, dan lainnya. Hal-hal ini telah dengan ”rajin dan rapi” mengukir sejarah, sehingga tergambar sebuah masyarakat Papua yang indah namun harus disayangkan itu namanya budaya bisik-bisik atau budaya bisu.

Budaya bisu telah mengidap hampir semua kalangan orang Papua. Kebisuaan tersebut mendorong seseorang untuk tidak bisa mangakutualisasikan sebuah realita sosial yang dihadapinya. Misalnya, jika seseorang dibunuh dengan tuduhan separatis oleh militer Indonesia, maka tidak ada saksi mata yang akan berteriak atau mempersolkan – tentunya dengan berbicara – tentang pembunuhan tersebut. Hal ini didorong oleh sebuah rasa takut, karena saksi mata tersebut sudah tentu berada dalam ancaman jika berani ”berbicara” membongkar kedok kejahatan tersebut. Kasus-kasus semacam ini tersusun sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit, yaitu ”takut berbicara” untuk semua orang Papua. Ini sebuah realita sekarang di Papua dan hampir semua orang Papua di mana saja, sehingga barangkali harus ada ”undo” (istilah yang sering digunakan dalam komputer, arti kasarnya ”kembali ke belakang”) atau back to basic (kembali ke dasar atau pokok).

Undo atau back to basic, yaitu budaya berbicara, terutama keberanian untuk menyuarakan sebuah realita sosial, termasuk Memmoria Pasionis bagi orang Papua adalah sebuah kebutuhan yang diharuskan untuk dilakukan. Mengapa? Tentunya karena kita hidup dalam sebuah bayang-bayang kehidupan yang seolah-olah sudah ”mapan, tepat, dan seharusnya”, padahal kita sedang terbelenggu dalam kebisuan sebagai sebuah bangsa, sehingga menjadi bangsa yang sunyi dalam mengungkapkan realita, tetapi ramai dalam segala kepalsuan dan kebohongan. Inikah arti sebuah bangsa? Entahlah!

Salah satu alat untuk berbicara dalam kebisuan bangsa adalah ”menulis”. Menyadari pentingnya menulis, budayawan Melanesia, Dr. Benny Giyai pernah kerkata “Jadi dengan menulis ini membuka kebisaaan kita untuk menghilangkan kebisaaan budaya bisu dan kebisaaan kita diam.” Rupanya Benny Giyai benar-benar sadar kalau budaya berbicara telah pudar akibat Memmoria Pasionis yang telah diciptakan oleh berbagai kebijakan menjajah yang dipraktekkan oleh Indonesia di Papua selama lebih dari empat dasawarsa.

Pentingnya berbicara dengan menulis ini untuk mencapai beberapa tujuan. Pertama, belajar bangkit untuk berbicara lagi. Menulis mendorong orang untuk bisa menggungkapkan sebuah realita secara sistematis dan realistis. Dalam kontesk Papua, dengan menulis, orang Papua diharapkan supaya bisa belajar dan berpikir secara sistematis. Selajutnya tulisan yang sistematis diharapkan untuk dibicarakan – dengan data-data dan ungkapan-ungkapan – secara spontan seperti sedia kala. Dalam hal ini untuk menciptakan orang Papua yang bisa bersaksi tentang pembunuhan, pemerkosaan, pemenjarahan, teror, intimidasi dan kejahatan lainnya secara sistematis berdasarkan data dan kesaksian yang benar.

Kedua, menyeimbangi ”serangan media” yang selalu subyektif (bagi Indonesia) dan berbagai manipulasinya atas kepentingan atas wilayah Papua. Media massa di Papua tidak menjalankan fungsi kontrol sosial, tetapi menjalankan fungsi ”rekayasa sosial”. Rangkaian kata-kata di media massa yang membentuk sebuah berita sangat jarang mengungkpan sebuah realita, tetapi terlihat rekayasa yang dipenuhi dengan kepalsuan dan kebohongan. Hal ini membentuk opini publik yang palsu dan bohong. Karena itu orang Papua harus berani untuk menulis. Harus ada tulisan-tulisan penyeimbang (perlawanan) atas manipulasi media massa tersebut. Hal ini bertujuan menghindari kepalsuan dan kebohongan pembentukan opini bagi masyarakat atas semua realita yang terjadi di Papua.

Ketiga, warisan untuk gererasi masa depan Papua. Tidak cukup bagi orang Papua meninggalkan ucapan-ucapan spontan untuk generasi masa depan Papua. Memmoria Pasionis, nasehat dan wejangan, realita sekarang, dan berbagai hal harus ditinggalkan untuk anak cucu kita di masa depan. Warisan yang paling efektif adalah dengan cara menulis. Contoh, kata-kata Tuhan Yesus yang dikemas dalam tulisan di Injil bisa dibaca hingga sekarang, walaupun kata-kata itu diungkapkan dua ribu tahun silam. Memmoria Pasionis, nasehat dan wejangan, realita sekarang, dan lainnya yang ada hubungan dengan Papua harus menjadi cermin masa lalu bagi anak cucu kita di massa mendatang. Karena itu sekarang harus dituliskan.

Keempat, sumbangan ilmu pengetahuan bagi dunia. Menulis semua Memmoria Pasionis, nasehat dan wejangan, realita sekarang, dan lainnya yang terjadi di Papua harus menjadi sumbangan ilmu pengetahuan untuk dunia. Menyadari itulah, maka website www.westpapua.net mempunyai motto ”kami mendidik dunia”. Dengan mengungkapkan semua realita, termasuk realita tuntutan kemerdekaan Papua Barat sekalipun, harus menjadi sumbangan bagi dunia sebagai bagian dari manusia semesta. Sumbangan itu diharapkan menjadi ”pegangan” bagi perdamaian dunia atas nilai-nilai kebenaran, kedilan dan kejujuran, sambil menghindari segala manipulasi dan diskriminasi di seluruh belahan dunia.

Keempat – barangkali masih ada tujuan lain – tujuan yang dikemukakan di atas ini harus menjadi motivasi bagi orang Papua untuk bisa menulis. Jika tidak bisa berbicara, menulis pun jadi. Jika tidak ada rotan, akar pun jadi. Hal itu tidak serta-merta berangkat dari teridapnya bisik-bisik atau budaya bisu, tetapi juga karena tuntutan dunia sekarang. Mark Drake, seorang wartawan dari Inggris, seusai mewawancarai saya di Jakarta tahun 2005 pernah berkata begini: ”Jika Anda ingin menguasai dunia maka kuasailah media massa, dan jika Anda mau bebas dari belenggu penjajahan maka banyaklah menulis”.

Saya sependapat dengan Mark Drake dalam hal ini. Contoh, siapapun orang Papua yang pernah sekolah pasti ingat tulisan dalam buku pelajaran Sekolah Dasar yang bertuliskan ”Budi makan nasi, ini ayah Wati, dan Dewi membeli rujak”. Di tingkat yang lebih tinggi ada rekayasa sejarah Papua, pendidikan berbasis budaya Jawa, dan lainnya lewat tulisan dalam bentuk ”buku paket” di sekolah dan kampus. Sementara di tempat lain ada makalah di tempat seminar, teks pidato pejabat negara di Upacar Kenegaraan, dan lainnya yang menina-bobokan orang Papua. Dengan tulisan semacam ini orang Indonesia menguasai orang Papua. Sementara itu orang Papua tidak bisa bereskpresi atas kemampuan dirinya dan realita sosialnya. Lebih parah lagi Memmoria Pasionis diciptakan lewat sepatu lars, pisau sangkur, dentuman bedil, teror, intimidasi, pemenjarahan, cap separatis dan pemberontak, bodoh, ketinggalam zaman, tidak tahu mandi, dan lainnya.

Pertanyaan pokoknya adalah apakah orang Papua harus terpuruk dalam budaya bisik-bisik dan kebisuan ini? Jawaban kuncinya adalah ”Jika lidah tidak mampu untuk berkata dan tangan tidak berdaya untuk melawan, maka biarkanlah pena mengukir kata-kata tentang arti sebuah kehidupan.” Atas dasar inilah kita bisa bangkit, agar kita tidak bisa ”baku tipu” lagi, tetapi .... Begitu saja dulu! ***

*) Seorang mahasiswa Papua yang sedang bergelut dengan dunia tulis menulis.
-----------------------------------------------
Sumber; Majalah SELANGKAH
BACA TRUZZ...- JIKA MENGIDAP BUDAYA BISU, Berbicaralah Dengan Menulis

Hubungan antara Membaca dan Menulis

Lebih dari dua kali saya membaca buku Hedges bertajuk Read and Grow Rich. Saya merasa bosan. Barang kali itu karena saya menikmati karya penulis andal yang diterbitkan intipiblishing itu. Sebelumnya, Hedges menulis buku yang dari sisi judul sangat marketable berjudul Who Stole the American Dream? judul yang sangat berhasil. Selain provokatif, juga menggugah rasa ingin tahu (dari sini seorang penulis sudah dapat memetik manfaat dari membaca, bagaimana membuat sebuah judul buku yang berhasil).

Dibeberkan dalam Read and Grow Reach bagaiman peran buku di dalam mempengaruhi hidup seseorang. Dengan membaca, seseorang terbuka wawasannya. Dari membaca ia mendapat ide yang baru yang dilaksanakan, akan mendatangkan keuntungan. Melalui membaca dan mata pikiran terbuka lebar. Itulah sebabnya, sering kita mendengar ungkapan “buku adalah jendela dunia”. Mengapa? Dengan dan melalui membaca, kita melihat ke luar. Di luar sana, ternyata dunia ini sangat luas. Dengan membaca, kita meninggalkan dunia diri sendiri yang sempit (mikrokosmos). Dengan membaca, kita menggugurkan daun kelor dunia kita yang sempit itu. Kemudian masuk dan berintegrasi dengan dunia yang luas.

Sejauh mana buku mempengaruhi kehidupan, tentu setiap orang punya pengalaman sendiri-sendiri. Ada orang yang sekali baca, langsung buku mempengaruhinya. (saya jadi ingat seorang teman, hobiis adenium. Suatu saat saya pinjam buku how to membudidayakan adeniu, sampai bagaimana memasarkannya. Buku itu mempengaruhi hidupnya. Kini, berpapasan di mana pun dengannya, selalu pokok pembicaraannya tantang adenium!). Namun, adapula telah melahap sekali banyak buku, perilakunya tetap sama dengan kemarin.

Apakah setiap penulis adalah pembaca. Secara acak, sebutlah siapa penulis yang anda kenal. Apakah dia seorang pembaca ulung? Pasti. Paling tidak, membaca topik yang berkaitan dengan minat dan dunianya. Jika misalnya dia novelis, yang berkaitan pasti sedang membaca karya riwayat para novelis dunia (dan juga Indonesia).

Membaca-Menulis
Tali temali antara membaca dan menulis sangat erat. Sebagimana kata-kata bijak di atas, tidak seorang pun dapat memberikan sesuatu yang tidak ia miliki. Penulis pun demikian. Seorang penulis tidak dapat memberikan sesuatu kepada pembaca kalau dia sendiri hampa.

Dengan membaca, seorang penulis mengisi dirinya. Ia tidak hanya memetik manfat yang ada dalam apa yang dibacanya. Melalui dan dengan membaca, seorang penulis menemukan ide baru. Tidak menjadi masalah, apakah ide itu mendukung atau bertentangan dengan apa yang dibacanya. Yang penting,dari membaca, seorang mendapatkan ilham.

Masih banyak manfaat dari membaca. Lewat membaca, seorang penulis mempelajari trik-trik menulis dari penulis lain. Bagaimana misalnya, Putu Wijaya untuk membuat judul untuk cerpennya (judul cerpen-cerpen Putu Wijaya biasanya Cuma satu kata). Bagaiman cara Ayu Utami mendeskripsikan (Ayu Utami dikenal paling kuat dalam mendiskripsikan). Atau seperti apa proses kreatif Dyotami Febriani membuat komik (Dyotami dikenal sangat kreatif, ia menentang arus berani melawan dominasi komik Indonesia yang dibanjiri komikus Jepang).

Manusia makluk yang berkembang karena meniru. Seorang bocah bisa mengucapkan kata “mama” dan “papa” dari meniru bunyi yang ia dengar. Karena itu, pelajaran pertama bagaimana menulis dan mengarang ialah meniru. Bukanlah ada pepatah, “tidak ada sesuatu yang baru di muka bumi ini”? Maka, meniru apa yang pernah ada sebelumnya adalah langkah yang paling mudah dalam menulis.

Perlu dicamkan, bukan berarti meniru begitu saja. Tanpa diolah kembali. Menjiplak adalah perbuatan tercela. Tak hanya itu, buntutnya bisa panjang, bisa-bisa penjiplak dituntut pidana atau pun perdata kerena menjiplak karya orang lain. Karena itu, meskipun ide awal dari pembaca, seorang penulis perlu tahu tata krama dunia penulisan. Jika tidak mengutip karya orang lain ada mekanismenya. Ada aturannya jangan sampai kutipan melebihi sekian persen dari gagasan orisinal.

Jadi, kaitan membaca dan menulis sangat erat. Kepala seorang penulis ibarat yang memiliki dua saluran yang satu berfungsi untuk mengisi air, sedangkan yang yang lain untuk menyalurkannya ke luar. Keduanya harus selalu keluar-masuk dan seimbang. Sebab jika banyak yang keluar (menulis), tanpa ada yang masuk (membaca), kendi (ember) itu menjadi kering. Kalau sudah kering apa lagi yang bisa disalurkan ke luar?

Kaitan membaca dan menulis paling kongkret ialah Dari Buku ke Buku karya P. Swantoro (KPG, 2002). Dalam buku setebal 435 halaman itu, penulis mengisahkan kembali isi buku-buku kuno yang pernah dibacanya. Saya sendiri sangat menikmati buku ini, kerena mendapatkan sesuatu yang yang berharga. Apalagi, Swantoro yang mahir bahasa Belanda dan berlatar sejarah, dengan amat cerdik mengisahkan kembali buku-buku tua, sumber primer, yang pernah dibacanya. (Saya sering merasa “cemburu” dengan orang yang dapat menguasai bahasa Belanda. Mereka dapat membaca sumber primer tentang sejarah dan peradaban Nusantara, sedangkan saya merupakan sumber dari bahasa Inggris).

Dari apa yang dibacanya, Swantoro menghadirkan angle, sesuatu yang terasa baru untuk kemudian. Betapa kita merasa tertarik melihat lambang-lambang kotapraja Hindia Belanda tahun 1939-an, semacam lambang kabupaten sekarang. Betapa kita juga tertarik mengetahui apa judul buku yang mengupas tuntas PKI.

Contoh lain, Indra Gunawan, yang berlatar pendidikan wartawan, menulis buku Menelusuri Buku Kehidupan. Gamblang dikatakan, buku ini lahir dari membaca. Topik yang diangkat biasa-biasa saja. Namun, disajikan secara menarik. Penulis yang juga melebarkan minat dari manajemen sampai penyebaran ini tahu betul, betapa antara bungkusan dan isi buku saling terkait. Bahwa orang akan bosan membaca harga yang berguna kalau tidak disajikan dengan menarik. Bahwa juga orang akan meninggalkan bacaan yang hanya menghibur saja kalau ia tidak memperoleh manfaat apapun dari bacaan itu.

Swantoro dan Indra Gunawan sekadar contoh penulis yang langsung memetik dari manfaat dari membaca. Dengan membaca, seorang penulis mengisi diri. Ibarat baterai atau aki, dengan membaca, otak seorang penulis dicas. Setelah penuh, baterai siap digunakan.

Nasihat supaya bertekun ihwal apa pun, jika tidak ditekuni, tidak akan membuahkan hasil. Demikian pula menulis. Tidak ada orang yang sekali terjun, langsung menjadi penulis andal. Didalam proses menjadi, seorang penulis jatuh bangun. Ada yang kuat dalam ujian, tetapi tidak sedikit yang gagal.

Pada awal, banyak penulis patah arang. Tulisannya ditolak di mana-mana. Sudah susah-susah, akhirnya kerjaan sia-sia. Banyak pikiran dan waktu terkuras, tapi tak menghasilkan apa-apa. Bagaimana menghadapi kenyataan seperti itu?

Nasihat empu para penulis, Mark Twain barang kali membesarkan hati. Katanya, “Write without pay until somebody offers pay!” Karena itu, menulis. Menulis, sekali lagi, menulis. Menulislah terus, tanpa bayaran, hingga suatu saat menawarkan bayaran bagi Anda karena menulis.

Kata-kata Mark Twain sungguh meneguhkan. Menulis pertama-tama adalah ekspresi dan hobi. Baru kemudian, hobi yang ditekuni mendatangkan hasil (imbalan) baik berupa gaji atau honor. Jika tidak disederhanakan kalimat di atas menjadi: latih dan pertajam terus keterampilan menulis, hingga suatu saat upaya anda mendatangkan hasil.

Banyak penulis patah arang karena tidak tekun dan malas berlatih. Padahal, ada pepatah yang mengatakan “alah bisa karena biasa” (sesuatu yang pada awalnya dirasakan sulit bila sudah biasa dikerjakan akan menjadi mudah). “tajam pisau karena diasah” (orang bodoh yang menjadi pintar bila belajar keras dan tekun).

Pepatah yang sungguh dalam maknanya, mengingatkan kepada kita bahwa apapun dapat dikerjakan dan pasti membuahkan hasil, asalkan ditekuni dengan sungguh-sungguh. Demikian pula halnya dengan menulis. Menulis pertama-tama bukanlah talenta, tetapi suatu keterampilan yang harus digali dan ditingkatkan.

Seorang penulis dalam proses “menjadi”, tentu mengalami banyak hambatan. Mula-mula ia merasa kosong, tidak ada bahan yang dapat dijadikan bahan tulisan. Jika hambatan pertama ini berhasil diatasi datang halangan lain:bagaimana menuangkan bahan itu ke dalam suatu tulisan? Jika ia sudah menuangkan gagasan ke dalam tulisan, sering tulisan itu ditolak karena berbagai alasan.

Jangan mengalami hambatan kedua atau ketiga, ada orang yang baru sampai pada halangan pertama saja, sudah menyerah. Ia lalu sampai pada kesimpulan, tidak mempunyai bakat menulis jika begini, orang tersebut—dalam istilah Stoltz—termasuk quitter atau orang yang mudah menyerah, tidak memiliki cukup AQ di dalam mengatasi hambatan. Padahal, semua penulis dan pengarang hebat mengalami jatuh bangun. Mereka menjadi seperti itu karena ketekunan, didasari semangat tidak mudah menyerah.

Mendapatkan Ilham
Ilham dan ide. Sering dua istilah itu digunakan secara bergantian. Sama dan sebangunkah kedua istilah itu? Mari kita lihat makna leksikalnya.

Ide ialah rancangan yang tersusun di dalam pikiran, gagasan, cita-cita. Sementara ilham adalah pikiran yang timbul dari hati, atau sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta misalnya mengarang syair , prosa lagu, dan lain-lain.

Karya dengan ilham menjadi sia-sia kalau tidak berhasil diungkapkan dalam bentuk lisan dan tulisan. Ide saja tanpa adanya wujud, ibarat jiwa tanpa raga. Di sini ajaran filsafat Aristoteles mengenai materia dan forma, menjadi relevan untuk dibicarakan. Mengapa? Aristoteles mengajarkan bahwa segala sesuatu terdiri atas materia dan forma. Teori ini tetap gamblang menjelaskan kaitan antara ilham dan tulisan. Ide akan menemukan wujudnya dalam tulisan. Jika keduanya menyatu—setelah melalui proses tentunya—jadilah karya sastra, karya tulis.

Lain orang lain pula cara datangnya ilham. Ada orang tertentu yang merasa “kumat” atau mood pada waktu-waktu tertentu.

Ilham atau ide, untuk menulis suatu topik, berbeda satu sama lain. Berikut ini beberapa contoh bagaimana penulis mendapatkan ilham. Linus Suryadi misalnya, “kumbuh kumat”-nya pada bulan-bulan yang berunjung dengan “r”. Di saat-saat itu, ia dengan mudah menuangkan ide kedalam tulisan. Linus sendiri merasakan perlu adanya keseimbangan badan dan jiwa untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik. Kebetulan bulan yang berujung “r” adalah saat mood yang baik karena musim hujan dan musim kembang yang secara alamiah mempengaruhi proses kreatifnya. Lagi pula, akhir tahun bagi Linus merupakan siklus kegiatan hidup dalam arti keseluruhan sampai pada titip pengendapan.

Agatha Christie, penulis cerita kriminal yang andal itu, suka berendam di bak mandi ketika mencari ide. Berjam-jam lamanya, sambil makan apel. A.A. Navis, pengarang Robohnya Surau Kami, bahkan mengurung diri di kakus kalau sedang mencari ide. Sutardji Calzoum Bachri, “presiden penyair” itu, minum bir dulu sebelum bersyair. Djoko Pinurbo, penulis Celana, tak pernah berhenti mengepulkan asap rokok ketika menulis puisi. Dwianto Setyawan, pengarang cerita anak-anak terkemuka, menemukan ilham ketika sedang bengong waktu mengantar anaknya ke sekolah. Ia melihat seekor kuda tua, bertatih-tatih menarik sebuah kereta yang sarat dengan beban. Karena jalan menanjak, sang kuda tentu menghela napas berkali-kali. Ketika itu pantatnya dipacu, sang kuda meneruskan langkah. Dwianto merasa iba menyaksikannya. Meski tenaganya diperas, kuda tua itu sekaligus disayang oleh kusirnya karena mendatangkan rezeki. Penglihatan itu mendatangkan Ide. Ilham itu kemudian mendapatkan bungkusnnya menjadi Si Rejeki.

Y.B. Mangunwijaya, tentang ilham dan proses kreatif bahkan lebih lugas lagi mengingatkan bahwa menulis bisa dilakukan siapa saja, asalkan dialakukan dengan sungguh-sungguh. “…si penulis harus berniat sungguh untuk menulis sesuatu yang penuh kedalaman. Jangan jemu mengisi diri sendiri dengan mata dan telinga terbuka agar menangkap peristiwa serta hikmah dari siapa pun: tukang becak atau pengemis sekalipun. Karangan yang baik hanya dapat datang selaku luapan jiwa yang sudah penuh sebelumnya.”

Pengalaman para penulis di dalam proses mendapatkan ilham, ternyata beragam—dan kita tidak perlu meniru salah satu. Masing-masing punya cara sendiri-sendiri di dalam proses penciptaan. Namun, yang sama ialah kondisikan diri anda. Seorang penulis perlu mengisi baterai diri sendiri sampai penuh, sebelum mengeluarkan energi yang sudah ada.

Materia dan Forma
Jika setiap benda terdiri atas materia dan forma, ide dan tulisan juga demikian. Ide yang didapat dari pengodisian diri dan pengisian, perlu mendapatkan wujudnya dalam tulisan. Ide apa pun bisa diwujudkan dalam bentuk tulisan, tergantung topiknya.

Jika ditanyakan, manakah yang paling sulit memberi daging kerangka fiksi atau nonfiksi, maka yang pertamalah yang lebih sulit. Mengapa? Karena pertama itu memerlukan kreasi, fantasi, abstraksi yang luar biasa untuk bisa mewujud. Membentuk sesuatu yang tidak ada (tak kelihatan) yang disebut ide ke dalam bentuk tulisan—katakan cerpen—tidaklah mudah. Di sanalah penciptaan bermain. Di sana pula kata “mengarang” mendapatkan makna yang sesungguhnya: membuat suatu dari tidak ada menjadi ada.

Agak berbeda dengan menulis. Menulis karya nonfiksi bisa distrategikan. Bisa pula dibuat outline yang jelas-tegas karena sebuah tulisan nonfiksi memerlukan kerangka yang benar-benar nyata. Jadi, untuk menulis nonfiksi tidak mesti ketika “kumat”, sewaktu ilham datang, dan menunggu mood. Kapan saja menulis nonfiksi bisa dilakukan. Kerangka tulisan tinggal diberi daging di sana sini, baik dari ide orisinal maupun mengutip pendapat orang lain.

Tuang, Ya Tuangkan saja!

Menuangkan ide ke dalam tulisan, ibarat menuangkan teh dari teko ke dalam gelas. Tuang, ya tuangkan saja! Jangan berhenti, sampai gelasnya dianggap sudah penuh. Penuh, tapi tidak tumpah ruah dan meluber. Jika masih ada yang tersisa, tuangkan kedalam gelas yang lain.

Menuangkan ide ke dalam tulisan juga demikian. Kadangkala ide ide kita banyak sekali, kepala sampai mau pecah menampungnya. Rasanya, semua yang ada di kepala hendak dikeluarkan semua. Di sini sering seseorang menjadi tidak sabar, maunya menuangkan semua apa yang ada di kepalanya. Apa yang kemudian terjadi? Tulisannya tidak fokus. Topik yang dibicarakan tidak sistematis. Tidak proporsional. Ini karena yang bersangkutan mau menuangkan semuanya.

Tahap Sistematisasi
Pada tahap awal, hal demikian tidak apa-apa. Tampung saja ide yang ada dalam tulisan. Apa adanya, sampai habis. Ketika sudah selesai, kesempatan anda untuk menelitinya lagi. Apakah misalnya, susunan (sistem) tulisan anda urut ide demi ide? Adakah ide yang satu menyangkal yang lain? Kalau ya, bagaimana hal itu mesti disiasati? Apakah tetap mempertahankan ide yang satu, lalu membuang yang lain,dan menggantinya dengan ide baru yang mendukung?

Lihat pula kembali, apakah tulisan anda sudah proporsional. Pengantar, bahasan, dan simpulan—apakah unsur-unsur itu sudah ada semua? Kalau sudah ada dan terasa belum menarik alias kering, bagaimana caranya agar menjadikan menarik?

Pertimbangkanlah itu dari sisi pembaca. Seolah-olah, setelah tulisan selesai, anda menjadi sebagai orang lain. Sebagai orang lain, apakah anda tertarik membaca tulisan yang baru saja anda hasilkan? Apakah tulisan itu sudah cukup “berbicara”?

Tahap Mengedit
Sering timbul godaan, penulis pada saat bersamaan, sekaligus sebagai editor. Ini salah satu yang perlu dihindari. Ketika tengah menuangkan ide ke dalam tulisan, dan tatkala kumat mulai kambuh dan mood sedang “in”, tampung saja. Tuangkan semua yang ada. Jangan dulu dengan logika. Buanglah jauh-jauh ketakutan melanggar kaidah berbahasa yang baik dan benar. Jangan hiraukan tanda baca. Lemparkan kekhawatiran anda akan kode penulisan ke tabir jurang yang paling dalam. Maka ide yang tuangkan ke dalam tulisan akan mengalir bagai sungai. Terus dan terus, tiada henti. Habis satu ide, beralih ke ide yang lain. Jika sudah terbiasa menulis, seseorang tidak pernah kehabisan ide. Selalu saja ada ide baru. Semua, mengalir bagai aliran sungai, panta rhei kai uden menei—demikian kata filsuf Herakleitos.

Tatkala semuanya dianggap “selesai” dan anda sudah menulis dengan kesungguhan, kepenuhan, kegembiraan, dan mengerahkan semua energi, itu berarti anda tinggal menyelesaikan teknisnya saja. Saat mengoperasikan kalimat yang tidak jalan. Membetulkan bahasa, termasuk pilihan kata, yang keliru. Meluruskan ejaan yang salah dan menerapkan tanda baca secara cermat.

Untuk dapat menulis dengan benar dan menarik sesuai kaidah bahasa, seseorang tidak harus kuliah bahasa dan sastra. Belajar mandiri akan jauh lebih banyak menyerap. Bukankah setiap orang adalah pengguna bahasa? Kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus akan menjadi bagian yang melekat pada diri anda.

Karena itu, jadikanlah ensiklopedi, kamus, leksikon, dan buku penuntun sebagai bagian dari alat yang mendukung keberhasilan anda menulis. Dengan bantuan alat itu, anda jadi mafhum kapan kata “pun” dalam “sekali pun” ditulis serangkai dan kapan “sekali pun” ditulis terpisah. Dengan alat bantu itu pula anda tahu manakah penulisan yang benar, sekadar atau sekedar?

Tulisan anda akan menjadi akurat kalau didukung itu semua. Redaktur atau penerbit yang senang menerima kiriman naskah yang sudah matang, tidak hanya isinya, tapi juga bahasa dan cara penyajian yang baik, benar sekaligus menarik. Ibarat petani itulah pacul, parang, alat bajak, dan pupuk anda. Alat yang digunakan petani dalam proses bertani. Maka pergunakankan dengan maksimal?

Mengirimkan
Seorang penulis yang biasa menulis, tahu tema dan bentuk tulisan harus dikirim ke mana. Naluri dan intuisi akan menuntun anda menjadi biasa untuk menganalisis jenis tulisan ini cocok untuk media tulisan itu.

Bagaimana caranya mengirimkan tulisan? Sekarang zaman serba digital. Tidak mesti ke kantor pos. Cukup mengirimkan tulisan melalui pos atau internet. Asalkan disertai dengan keterangan yang jelas.

Sapalah redaktur atau pengasuh rubrik atau penanggung jawab media yang bersangkutan secara personal. Secara simpatik. Buatlah kata pengantar yang menyentuh, disertai alasan yang masuk akal, jelaskan pula mengenai kelebihan tulisan Anda. Usahakan meyakinkan redaktur bahwa tulisan anda memiliki daya pikat dan daya jual, karena itu sekaligus juga memuaskan audiens (pembaca, pasar)-nya. Yang lebih pokok katakan bahwa tulisan anda sesuai dengan kebutuhan mereka (redaktur/penerbit).

Di sana mekanisme pasar, yakni penawaran dan permintaan bertemu. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Penulis perlu tulisannya dipublikasi—dan mendapat honor. Penerbit butuh bahan untuk disajikan dan dimuat. Klop!
-----------------------------------------------------
Catatan: Tulisan ini disadur bebas dari bagian pertama tulisan R. Masri Sareb Putra di Majalah Matabaca Volume 3 Nomor 7 Maret 2005 oleh redkasi majalah SELANGKAH karena menarik dan ada kesesuaian topik majalah Selangkah. Ditulis kembali oleh Matheus Christofel Amoye Auwe.
----------------------------------------------------------
Sumber: Majalah SELANGKAH
BACA TRUZZ...- Hubungan antara Membaca dan Menulis

Menulis itu Membebaskan

“Banyak hal yang dapat diperoleh dan disumbangkan dengan menulis. Di samping dapat menyuarakan keterbelakangan komunitas tertentu, juga dapat melakukan kritik sosial. Melalui tulisan, kita dapat menyampaikan aspirasi kita tentang sesuatu. Kita juga dapat membagikan informasi tertentu kepada orang lain. Dapat juga memberitahukan peluang, ancaman dan kesempatan kepada orang lain melalui tulisan.”
Demikian kata YB Margantoro wartawan dan Kepada Lembaga Pelatihan Jurnalistik Surat Kabar Harian Bernas Jogya pada Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Papua seJawa-Bali yang diadakan oleh Majalah Selangkah (Komunitas Pendidikan Papua) beberapa pekan lalu.
Menurut Margantoro yang juga dosen di Universitas Sanata Dharma dan Atma Jaya itu, menulis itu menyuarakan keterbelakangan. Untuk mendapatkan sumber tulisan misalnya, kita tertarik untuk mengunjungi perumahan kumuh, daerah terpencil untuk mencari bahan tulisan sekaligus berkarya sosial. Apalagi dalam konteks ini, orang Papua kurang (belum banyak) mendapatkan perhatian dan kurang beruntung untuk mendapatkan pendidikan yang memadai, akses ekonomi yang baik, dan pelayanan kesehatan yang prima.

Lebih lanjut Margontoro mengatakan, menulis itu melepas kesakitan dan orang menjadi sehat. “Belajar menulis berarti juga belajar menghapus trauma. Menulis bukan saja memperkaya batin. Aktivitas menulis mampu mengurai kesakitan traumatis dan menyehatkan. Menulis adalah juga cermin intelektual. Intelektualitas seseorang dapat juga dipandang dari bagaimana ia dapat mengungkapkan gagasannya melalui tulisan. Banyak orang belajar dengan membaca tetapi jarang orang belajar dengan menulis.”

“Pelatihan Jurnalistik bertajuk “Menulis itu Membebaskan” yang diadakan oleh majalah “Selangkah” (Komunitas Pendidikan Papua) adalah tepat. Memang menulis itu membebaskan. Dapat membebaskan diri kita sendiri dan orang lain,” kata dia.

Irdianto mewakili Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam kata sambutannya mengiakan, menulis itu membebaskan. Tema pelatihan ini tepat. Dengan menulis banyak hal yang bisa kita dapatkan dan sumbangkan kepada orang lain. Kita bisa dapatkan banyak hal bukan sekedar karena menulis itu kegiatan melatih cara berpikir dan berbicara secara tepat tetapi juga untuk mencari referensi untuk menulis kita harus berhadapan dengan banyak bacaan.

Menurut Irdianto, menulis itu hal yang gampang-gampang sulit, tergantung pada ketekunan. Menulis itu seperti orang Indonesia yang besar dari kecil di Inggris lalu bisa berbahasa Inggris dengan baik. Juga seperti menulis harus sabar dan tekun dalam menulis. Proses pembebasan diri sendiri dan orang lain akan terjadi apabila kita tekun dengan dalam proses.

Direktur Yayasan Binterbusih, Drs. Paul Sudiyo yang hadir memberikan kata sambutan mengatakan, Papua bukan hitam karena kulit yang hitam tapi hitam karena tertinggal dari pendidikan juga tidak tersentuh oleh kemajuan. Kehitaman lainnya adalah otsus yang tidak menyentuh masyarakat serta hitam karena Papua yang kaya akan sumber daya alam itu tidak pernah dirasakan oleh masyarakat.

“Mengapa ini terjadi? Jawabannya temukan dalam pelatihan ini lalu buatlah suatu karya nyata setelah kegiatan ini. Beberapa pengalaman bahwa setelah pelatihan jurnalistik oleh suatu majalah dan buletin Papua di Jawa, majalah dan buletin tersebut macet. Semoga ini tidak terjadi pada Selangkah... semoga Selangkah akan maju dua langkah. Dengan menulis banyak hal yang dapat dilakukan untuk masyarakatmu di Papua sana. Kalian (mahasiswa Papua) harus menjadi aktor-aktor perubahan. Maka salah satu sarana perubahan adalah media (koran atau majalah) yang tidak memihak pada kepentingan apapun,’ kata Paul.

Budaya Menulis Mahasiswa
Ketua Komunitas Pendidikan Papua, Longginus Pekey mengatakan, budaya menulis di kalangan kita pelajar dan mahasiswa Papua belum terkembangkan. Sebenarnya minat menulis itu ada tetapi belum tergali dengan baik. Kadang merasa bahwa menulis itu tidak ada untungnya. Padahal menulis adalah salah satu cara untuk belajar.

“Perlu diakui bahwa banyaknya tulisan dari mahasiswa Papua yang masuk ke redaksi Selangkah memperlihatkan minat mereka. Namun kontruksi ide, tanda baca serta orisinalitas ide yang disampaikan melalui tulisan memang memprihatinkan. Sehingga ketika tulisan mereka tidak dimuat karena tidak layak muat, mereka patah semangat. Tidak mau terus mencoba dan berproses. Padahal menulis itu bukan langsung jadi. Ada orang yang tulisannya baru bisa dimuat setelah 999 kali gagal dimuat, kata Pekey mengajak.

Pekey mengakui, memang menulis itu sungguh merupakan pekerjaan yang susah untuk berkompromi dengan imaji atau otak. Banyak dari kita (mahasiswa Papua) menyerah, tidak mau terus berproses dengan kegiatan menulis itu. Padahal harapannya adalah mahasiswa dapat menjadi wakil rakyat dalam konteks tertentu.
Margantoro yang lebih dari 25 tahun berkiprah dalam dunia tulis menulis itu mengakui menulis itu memang tidak mudah. “Kegiatan menulis adalah bukan sekedar mengotori sebuah kertas. Seorang penulis tidak saja mesti memiliki keterampilan menuangkan materi tulisannya dengan menarik–memikat tetapi ia belajar untuk berpengetahuan luas, khususnya pengetahuan umum baik mengenai manusia (masyarakat) maupun alam seisinya. Artinya seorang penulis tidak boleh berhenti belajar. Mengisi diri baik dengan membaca, menyimak dan diskusi terus menerus.

Menurut Dr. Pranowo, MPd yang menjadi salah pembicara dalam pelatihan jurnalistik mengatakan, salah satu faktor terpuruknya budaya menulis di kalangan mahasiswa adalah pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang terkesan teoritis. Padahal hakikat pelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah belajar berkomunikasi secara lisan dan tertulis. Proses belajar selama ini hanya mendengarkan ceramah dari guru di depan kelas, siswa datang mencatat, pulang, ulangan, nilai dan ijazah. Pembelajaran model itu sudah tidak relefan. Orientasi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia harus dirubah. [yer]
-------------------------------------------
Sumber: Majalah SELANGKAH
BACA TRUZZ...- Menulis itu Membebaskan

Bermimpi “Menjadi” Penulis?

Oleh Longginus Pekey*

Bagi mereka yang sudah terbiasa menulis di koran atau penulis buku, pekerjaan menulis itu mudah. Namun, pekerjaan menulis bukan sesuatu yang begitu saja turun dari langit atau dibawa sejak lahir. Akan tetapi membutuhkan latihan, seperti bayi yang sedang latihan berdiri dan berjalan, kadang terjatuh dan berdiri lagi kemudian melangkah satu dua langkah akhirnya bisa berdiri dan berjalan. Juga seperti belajar mengendarai sepeda, awalnya didorong kemudian mencoba menaiki walaupun kadang terjatuh, kemudian dengan motivasi yang tinggi bangkit lagi mengendarai sampai akhirnya bisa. Itulah kata-kata para penulis handal untuk memotivasi penulis pemula. Kata kuncinya adalah menulis itu proses.

Walaupun jatuh -- dalam arti naskah yang dikirim tidak dimuat media massa, karena tidak layak muat--kita harus bangkit lagi untuk terus menulis. Melalaui beberapa diskusi dengan beberapa penulis dan kolumnus, ternya mereka pun mengalami kegagalan. Tulisan mereka berupa artikel, opini dan cerpen pada awalnya sering sekali ditolak media massa. Barangkali penulis berbakat sehebat kelas caliber pun pernah mengalami hal semacam itu. Karena pekerjaan itu bukan sekedar menuliskan huruf dan angka berarti sudah selesai. Lebih dari itu, yang dimaksud adalah kemampuan menemukan ide dari fenomena sosial kemudian menuangkan ide dan gagasan dalam bahasa dan kalimat yang menarik dan mudah dipahami pembaca.

Ide itu Mahal
Apa yang ingin aku tulis? Sebagai pemula pertanyaan seperti itu sering muncul di benak. Saya hingga saat ini masih mengalami hal ini. Namun yang terpenting, memulai dari hal kecil yang ada di sekitar kita seperti mengisi buku harian, menulis peristiwa yang kita lihat dan rasakan ataupun peristiwa yang dirasakan penting dan menarik. Kalau sudah terbiasa akan sedikit membantu kita, kotak pandora akan semakin terbuka, kita akan semakin terbiasa.

Dengan berjalannya waktu diirirngi latihan apa yang kita impikan dapat tercapai sebagai hasil dari perjuangan jatuh dan bangun serta suka dan duka yang telah kita alami. Karena memang benar “yang menabur dengan cucuran air mata akan menuai dengan sorak-sorai”. Untuk itu serius dan bertekun dengan waktu adalah kata kuncinya, bila ingin medapat hasil baik!

Bila ide datang dan mendarat di benak, ada baiknya tuliskan segera di atas sepotong kertas, buku harian, agenda atau di komputer. Sebelum lenyap dari memori, berganti dengan ide baru. Karena sekecil apapun sebuah ide akan ada manfaanya. Sekecil apapun sebuah ide bisa mahal harganya. Siapa pernah sangka, JK Rowling, dengan idenya yang awalnya sederhana saja bisa menjadi milioner, setelah menjadi Novel, Harry Poter yang cukup terkenal itu. Idenya datang ketika berangkat dari Manchester menuju London, karena di kereta tidak ada kertas sesampai di Asrama, dia baru mulai menuliskan ide-ide (pencerahan) itu pada potongan-potongan tisu, kemudian dikemas dengan kalimat yang menarik/ Kemudian lahirlah karya besarnya itu. Atau juga belajar dari Pramodya Ananta Toer yang rajin membuat kliping, atau dari The Liang Gie, yang selalu menuliskan idenya pada potongan-potongan kertas yang di bawahnya. Masih banyak lagi yang lain dengan caranya masing-masing. Namun yang jelas, mereka adalah teladan.

Mengisi Energi
Seorang penulis, terutama bagi pemula harus memiliki kreativitas untuk mengembangkan wawasan dan energi untuk mempertahankan gairah menulis. Mungkin, selain banyak membaca dan berdiskusi, barangkali sangat penting untuk menyempatkan waktu mengunjungi perpustakaan dan toko buku, membuat dokumentasi, seperti kliping pribadi, serta aktif mendengar dan nonton berita di media massa eletronik maupun membaca Koran atau majalah. Hal itu penting agar terus memberikan energi untuk menulis dengan ide-ide baru.

Memang harus seperti itu tugas seorang penulis, sebagai pemburu informasi. Kalau tidak, di era persaingan ini kita bakalan tertinggal. Artinya menjadi seorang penulis harus bersaing dengan dirinya sendiri. Barangkali melawan kejenuhan yang membuat kita malas. Kejenuhan itu bisa disiasati sendiri, mungkin dengan menonton film, bersepeda, membakar sampah, bermain sepak bola, dan kegiatan lainnya sesuai dengan kegemaran yang kita miliki.

Keraguan
Ketika tulisan sudah jadi dan siap dikirimkan ke media massa, keraguan kadang datang di benak. Paling sering dialami kita yang pemula. Mungkin, karena takut, malu dikritik. Barang kali, dikata bahasanya kurang ilmiah, atau tulisan kita tidak kontesktual. Hal seperti itu tidak perlu dipikirkan. Justru akan bermakna positif bila kritik dan ketakutan itu kita maknai sebagai kekuatan dalam proses belajar dan lebih tekun berlatih.

Keraguan juga sering muncul ketika pikiran kita dibayangi oleh ketakutan bahwa artikel, opini, cerpen kita ditolak oleh media massa. Pikiran itu memang seperti hantu, sehingga membuat kita tidak percaya diri, barang kali takut ditolak itu karena merasa kalimat kita tidak bagus atau tidak menarik dalam menguraikan ide dan gagasan. Ketika menjelang deadline atau setelah tulisan sudah jadi ada keraguan untuk dikirim ke media massa, kemudian hanya dimasukan ke dalam keranjang sampah.

Untuk itu, artikel, opini, dan cerpen dimuat atau tidak yang terpenting kita sudah berusaha untuk mengirimnya. Tidak harus merasa rugi, karena sudah tentu menambah poin tersendiri dalam proses latihan. Maka, pada saat seperti ini kesabaran itu paling utama. Tidak ada kata menyerah, harus teruslah dicoba “bukankah obat itu ketika dikunya pahit rasanya, tetapi akan menyembuhkan.” Dan yang penting adalah “semua itu akan indah pada tempatnya dan pada saatnya, karena semua yang ada di dunia ini benar dan baik adanya”.

*Ketua Komunitas Pendidikan Papua. Sebagai penulis pemula saat ini mengelolah dan aktif menukis majalah ini (Selangkah). Tulisannya sering dimuat di SKH Kedaulatan Rekyat Yogyakarta, SKH Kompas Jogja, Rubric Akademia, Majalah Dinas Pendikan DIY “Candra” dan Majalah Kampus Sanata Dharma, Yogyakarta “NATAS”.
-----------------------------------------------
Sumber: Majalah SELANGKAH
BACA TRUZZ...- Bermimpi “Menjadi” Penulis?

Membaca dan Menulis itu Membebaskan!

Sabtu, Agustus 04, 2007

Oleh Yermias (Ignatius) Degei*)

Beberapa pekan lalu, Papuans mahasiswa asal Papua (bukan nama sebenarnya) bertanya kepada saya, "Kawan, majalah "Selangkah" edisi depan akan mengangkat topik apa (edisi ini maksudnya-red)? Saya ingin menyumbang tulisan. Boleh to?" Saya sungguh apresiatif atas pertanyaan Papuans. Secara spontan saya menjawab, "Topik utama edisi depan adalah membaca dan menulis. Kami ingin bicara tentang pentingnya budaya membaca dan menulis bagi masyarakat, pelajar dan mahasiswa Papua. Jadi, kalau kawan mau sumbang tulisan boleh saja, tetapi tidak harus tentang membaca dan menulis. Kawan boleh tulis tentang apa saja, yang penting konteksnya Papua."

Sebelum saya melanjutkan penjelasan secara detil latar belakang pemilihan topik membaca dan menulis, Papuans memotong pembicaraan saya. "Membaca dan menulis? Ah... kamu kayak anak TK/ SD saja. Apakah tidak ada topik lain yang lebih baik." Papuans pergi meninggalkan saya sambil ketawa-ketiwi dan bergabung dengan beberapa teman lain asal Papua yang ada tidak jauh dari tempat kami berdialog. Waktu itu benar-benar saya tidak tahu (bahkan sampai sekarang), apa yang dipahami Papuans tentang membaca dan manulis. Hingga deadline majalah ini, Papuans belum menyumbang tulisan yang dia janjikan (lupa kalee). Maka, saya akan tulis tajuk ini untuknya. Harapannya, edisi berikut, Papuans dapat menyumbang tulisan untuk melayani rakyatnya melalui tulisan.

***
"Jadi dengan menulis ini membuka kebiasaan kita untuk menghilangkan kebiasaan budaya bisu dan kebiasaan kita diam, " (Dr. Benny Giay). "... salah satu cara untuk menambah wawasan kita adalah dengan banyak membaca. Sebenarnya hampir semua orang mengerti pentingnya membaca, tetapi mereka tidak ingin menjadikan membaca sebagai salah satu hobi mereka dalam proses pengembangan dirinya," (John Robert Powers).

Dua ungkapan di atas itu, tentunya bukan untuk anak-anak TK/SD. Lagipula, kalau Yakobus F Dumupa penulis buku "Berburu Keadilan di Papua Barat" mengatakan " Saya sangat menyadari bahwa akar masalah Papua Barat harus dipikirkan, dibicarakan, dan dituliskan terus-menerus supaya kita tidak tenggelam dalam budaya lupa, kegenitan sempit, dan lebih penting agar masalah Papua Barat dapat dituntaskan dengan jujur, adil dan benar," bukan tanpa refleksi mendalam atas pentingnya membaca dan menulis. Tentu juga bukan tanpa alasan bila Komunitas Pendidikan Papua (KPP) menggelar pelatihan Jurnalistik Praktis bagi mahasiswa Papua se Jawa-Bali bertajuk "Menulis itu Membebaskan" di Yogyakarta selama 3 hari (24-26 Agustus 2006).

Kata orang (saya mulai yakin), membaca dan menulis bagaikan sayur dan garam. Satu melengkapi yang lain. Tanpa membaca ide menulis kering. Membaca berasal dari kata dasar baca. Sulit sekali mendeskripsikan apa itu membaca. Saya punya kamus bahasa Indonesia setebal Injil, tetapi malas buka (mudah-mudahan kamu tidak ikut-ikutan dengan saya). Jadi saya mencoba untuk menjelaskannya menurut versi saya saja. Membaca itu sebuah kegiatan yang melibatkan panca indera mata yang mengartikan sederetan kata dan kalimat yang diteruskan ke otak dan diterjemahkan sebagai suatu arti dengan subyek tertentu.

Ketika kita membaca fisik dan batin turut terlibat. Otak adalah salah satu bentuk fisik itu. Otak akan bekerja keras men-translate kalimat-kalimat yang kita baca. Akan lebih keras lagi apabila buku yang kita baca itu adalah buku sejenis Matematika. Lalu apa hubungannya dengan batin? Dengan membaca batin akan ikut merasakan apakah sebuah bacaan itu bernuansa sedih, senang dan lain-lain.

Kita telah diajarkan membaca sejak kita duduk di Sekolah Dasar, seperti kata Papuans di atas. Saat saya menulis ini pun saya bisa membaca karena guru-guru saya yang mengajarkannya. Namun sangat disayangkan budaya membaca buku (terutama di kalangan kita) belum menjadi sebuah kebiasaan. Masyarakat lebih senang menonton sinetron atau film di TV daripada membaca. Padahal... film dan sinetron itu dibuat awalnya dengan membaca dan dituliskan ke dalam sebuah naskah/skenario. Contohnya adalah buku Harry Potter. Dengan membaca sebenarnya kita menambah pengetahuan dan wawasan kita di berbagai bidang, baik itu soal sosial sampai ke soal teknologi. Lebih baik lagi apabila setelah membaca kita tuangkan bacaan itu ke tulisan dengan versi kita sendiri dalam bentuk ringkasan atau rangkuman.

Membaca itu proses reseptif untuk menjadi produktif menulis. Anda dan saya tidak akan membagikan sesuatu kalau kita tidak memiliki sesuatu. Namun, bukan berarti anda dan saya harus demikian. Anda dan saya bisa menulis dulu juga boleh. Tapi yang jelas anda akan memiliki ide-ide baru atau gagasan-gagasan yang tak terhitung jumlahnya melalui proses membaca yang benar (bukan baca asal-asalan). Membaca dan menulis adalah proses kerja intelektual dan kebebasan di ranah pendidikan, kebudayaan, dan masa depan. Meski membaca dan menulis memberikan value yang holistik, namun tidak setiap orang mau dan mampu melaksanakan. Membaca dan menulis bahkan bisa menjadi momok bagi banyak orang, tidak terkecuali komunitas intelektual, termasuk mahasiswa (Papua).

Memang suatu realita bahwa bagi kebanyakan orang, khususnya di Papua, terutama mahasiswa Papua, membaca dan menulis mungkin adalah sebuah pekerjaan yang tidak menyenangkan. Bahkan membosankan dan menyita waktu untuk ngobrol (cerita mob). Apalagi belajar membaca dan menulis bukan lagi anak TK/SD (seperti ungkapan Papuans). Namun, perlu simak salah satu nilai yang ditanamkan dalam kursus John Robert Powers adalah tentang bagaimana kita bisa meningkatkan kapasitas dalam diri kita dengan menjadikan membaca dan menulis sebagai salah satu kebutuhan untuk membangun kesadaran kritis bagi rakyat.

Di kalangan kita masih sering ada anggapan bahwa untuk menjadi seorang penulis tidak cukup hanya berbekal pengetahuan dan latihan. Kemampuan menulis adalah bakat alamiah yang hanya dimiliki oleh segelintir orang istimewa saja. Shakespeare, Faulkner, Chekov, dan Gibran misalnya, adalah beberapa nama yang menjadi penulis besar karena anugerah bakat alam yang mereka miliki. Atau dengan kata lain kemampuan menulis adalah kemampuan yang sudah ditetapkan dan tidak bisa diubah.

Apakah memang benar demikian? Dalam buku yang judul aslinya "On Writing: A Memoir of The Craft", Stephen King memberikan sebuah sanggahan. Menurutnya, bekal sebagai penulis memang sudah ada dalam diri seorang penulis. Namun, bekal itu tidaklah istimewa. Banyak orang yang punya bakat sebagai penulis dan bakat-bakat itu dapat diperkuat dan dipertajam dengan membaca dan terus menerus mencoba menulis. Dan, untuk itu, kita hanya harus melakukan dua hal: banyak membaca dan banyak menulis (baca: Mizan.com).

Kata orang menulis itu memperkaya hidup orang-orang yang akan membaca karyamu dan memperkaya hidupmu sendiri pula... menulis itu mukjizat, seperti air kehidupan... air itu gratis. Jadi, minumlah...", Nasihat Ahmad Badrus Sholihin. Berdasarkan nasihat-nasihat yang dipaparkan di atas dan realitas mahasiswa Papua yang tercermin melalui Papuans, maka majalah "Selangkah" edisi ini lebih banyak menyoroti tentang menulis dan membaca. Karena kami mulai mengerti bahwa dengan menulis seseorang dapat dengan mudah mengekspresikan dirinya dan menuangkan ide-ide yang ada dibenaknya sehingga di suatu saat tulisannya dapat dibaca oleh orang lain.

Teman-teman mahasiswa Papua, kalau kita tidak mau menjadi orang yang tidak memiliki identitas dan peradaban, maka silakan jangan menulis! Menulis itu adalah sebuah warisan untuk anak cucu kita agar mereka dapat menarik pengalaman dari pendahulu-pendahulunya. Selamat membaca dan setelah itu menulis. Kerena membaca dan kemudian menulis itu membebaskan diri kita, orang lain dan bahkan bangsa kita.

*) Pimpinan Redaksi Majalah SELANGKAH

Catatan: Tulisan ini pernah menjadi tajuk rencana pada majalah mahasiswa Papua "Selangkah" edisi X Mei-Juli 2007
BACA TRUZZ...- Membaca dan Menulis itu Membebaskan!

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut