Budayaku Terkikis, Identitasku Semakin Hilang

Jumat, April 01, 2011

Arnold Cherren Belau)*

Secara etimologis, kata kebudayaan berasal dar budhayah (Bahasa Sansekerta), jamak dari kata budhhi yang artinya budi atau akal. Atau dasar kata tersebut, kebudayaan diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal atau budi. Dalam istilah antropologi, kebudayaan sebagai terjemahan dari kata culture, berasal dari kata latin Colore. Artinya mengolah atau mengerjakan yaitu mengolah tanah atau bertani (berkaitan dengan alam). Berangkat dari arti kata tersebut maka culture diartkan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

Budaya adalah identitas suatu bangsa. Budaya merupakan identitas yang secara kodrat dimiliki dan melekat pada setiap manusia sejak Ia dilahirkan. Dimana budaya itu menunjukan identitas pribadi, yang menunjukan iapun salah satu bagian dari suatu komunitas. Identitas tersebut meliputi segala macam unsur yang tergabung di dalamnya.

Kebudayaan memunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Kebutuhan masyarakat bidang spiritual dan materiil sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri.

Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungan alamnya.
Budaya dimiliki oleh tiap orang yang dipercayai sebagai identitasnya. Tiap suku memiliki budaya yang khas berbeda-beda. Budaya itu menjadi sesuatu yang sangat penting. Sebab dengan adanya budaya itu dengan mudah kita bisa mengetahui darimana ia berasal. Secara otomatis dengan melihat budaya itu kita bisa mengetahui budaya orang. Hal ini terlihat jelas karena setiap budaya memili sejarah yang berbeda-beda.

Unsur-unsur budaya meliputi, bahasa, pakaian adat, gaya hidup dan lain-lain. Sehingga budaya dianggap sangat penting dan perlu dipelajari serta diketahui oleh stiap orang. Sebab bila tidak mengetatuhi budaya yang sebenarnya maka seakan-akan seperti seseorang yang tidak memunyai identitas. Tidak dibatasi bagi setiap orang untuk mempelajadi budaya orang lain, namun perlu diketahui bahwa setiap orang tidak perlu terpengaruh dengan budaya orang lain tesebut, karena setiap orang didunia memunyai budaya yang beraneka ragam. Hal ini diikuti dengan kebiasan hidup pada suatu komunitas tertentu, yang mana kebiasaan dalam suatu komunitas itulah yang disebut budaya. Apapun jeleknya budaya, harus mencintai budaya itu, dengan cara ini secara tidak langung menghargai akan segala cipta, rasa dan karsa dari para pendahulu.


Aku Papua dan Aku Begini Adanya

Pada zaman ini budaya semakin tidak terlalu serius diperhatiakan  dan dianggap sebagai Sesutu yang tidak berate pada hal budaya merupakan identitas kita. Bahkan pada zaman sekarang budaya semakin tidak jelas dan semakin campur baur dengan budaya luar yang masuk. Contoh yang paling kongkrit yang kita bisa lihat dalam kehidupan sehari-hari adalah, gaya hidup dengan pirang rambut, pergi ke salon, minum bir (minuman beralkohol), mengubah warna kulit, membuat model rambut yang tidak asli (tarik, rebonding, dan lain-lain).

Begitu pun gaya hidup yang semakin tidak sesuai dengan tuntutan adat dan istiadat. contohnya dance, kewa, dan acara-acara yang sering diadakan oleh para remaja dan kaum muda pada umumnya. Tidak beda jauh dengan gaya bahasa sehari-hari yang kita gunakan. Secara tidak sadar bahasa yang kita biasa gunakan dalam sehari-hari pun telah berubah, contohnya, nggak, nda, lho. gue, beta, dll. Semuanya itu bukan bahasa (dialek) kita perlu ketahui bahwa sebenarnya hal semacam ini kita terpengaruh akibat kebiasaan kita menyaksikan tayangan sinetron yang biasanya bitayangkan melalui media audio visual setiap hari. Dampak ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, sebab kebanyakan orang tua sering menyaksikan sinetron tanpa memikirkan dampak yang diakibatkan oleh tayangan tersebut, secara tidak sengaja dengan semakin banyak ditontonkan kepada anak-anak maka anak-anak pun merekam semua adegan-adegan yang dimainkan, sebab otak anak kuat untuk merekam apa saja yang dilihat, dan didengar. Demikian pula dengan film-film hollywood.

Semua dampak itu akan berpengaruh terhadap gaya hidup maka semua orang perlu menyadari apa yang dibuat dan dilakukan oleh setia orang. Apabila dampak itu terjadi maka pihak orang tua bertindak sebelum terjadi dampak yang lebih besar, dan sebelum terjadinya  pengaruh yang dipengaruhi oleh film-film yang ditonton oleh anak-anak itu maupun gaya hidup yang tidak wajar yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Era globalisasi adalah zaman dimana semua hal untuk masuk ke suatu wilayah terbuka dengan lebar. Hal ini didalamnya terdapat gaya hidup orang luar untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ikut terbawa. Dalam kondisi seperti inilah eksistensi budaya kita (budaya Papua) diuji. Kita adalah manusia yang berbudaya, walaupun berbagai pengaruh dan gaya hidup yang tidak wajar daam kehidupan sehari-hari pun yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita melestarikan dan menjaga budaya kita ditengah-tengah maraknya budaya modern yang masuk. Pastinya setiap budaya mengajarkan hal-hal yang baik oleh suatu budaya, namun bagi kita bias meniru kebiasaan orang lain yang dianggap tidak memojokkan budaya kita sendiri.

Setiap generasi memunyai tanggung jawab dalam memperhankan gaya hidup masing-masing budaya, Bila generasi kita berhasil melestarikan dan menjaga budaya kita maka itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kita. Oleh karena itu, mari kita menjaga diri agar tidak terjerumus dalam dampak-dampak negatif dan katakan tidak pada budaya dari luar yang menjadikan budaya kita punah.

Kalo ko merasa ko orang Papua yang mendiami di Pulau Papua, mari tong jaga tong pu budaya untuk menghargai para pendahulu kita.
*** Semoga***

Mahaiswa Jurusan Broadcasting, Komunikasi Massa, STIKOM Jayapura, Alumni SMA Adhi Luhur  Nabire 2010
BACA TRUZZ...- Budayaku Terkikis, Identitasku Semakin Hilang

Tim Diskusi Iyoo/Ihoo Ikut Serta Dalam Gelar Seni dan Budaya Nusantara di Universitas Sanata Dharma 2011

Rabu, Maret 30, 2011

Spanduk pada Festival Budaya/Egeidaby Foto
Yogyakarta- Walaupun awal dilangsungkan Gelar Seni dan Budaya Nusantara hingga akhir, kota Yogyakarta dan sekitarnya diguyur hujan yang tak kunjung berhenti, namun tak menyurutkan semangat bagi putra-putri Papua yang merindukan adanya perubahan nyata di tanah Papua. Perwakilan Papua yang diikuti oleh Tim Diskusi Iyoo/Ihoo yang merupakan bagian dari Majalah selangkah ini berlangsung tanggal 24-26 Maret 2011 di Kampus Sanata Dharma Yogyakarta.


Semangat peserta dalam gelar budaya menghadirkan nuansa tersendiri bagi pengunjung, hal ini terlihat ketika siapapun yang mengunjungi, peserta yang menjaga stand merasa memunyai tanggung jawab untuk menjelaskan arti, kegunaan dan lainnya yang terkandung dalam setiap kerajinan tangan yang dihasilkan oleh rakyat Papua dengan berbagai kreasi dan inovasi tersebut. Sementara itu, toleransi antara setiap anggota yang selalu membagi waktu untuk menjaga stand agar tak mengganggu kuliah yang merupakan tugas pokok setiap mahasiswa, sehingga stand Papua selalu terlihat ramai.


Memang budaya merupakan identitas atau jati diri suatu bangsa, “Budaya adalah suatu kebiasaan yang biasa dilakukan oleh seseorang atau kelompok masyarakat tertentu disuatu daerah, secara tidak langsung dengan budaya akan menunjukan jati diri dan sejarahnya” kata Agus disela-sela acara. Oleh karena itu, kita harus pertahankan budaya kita masing-masing mepertahankan budaya kita masing-masing karena dengan mempertahankan maka kita telah menyatakan sejarah dan jati diri kita sendiri dan menyadari dan menghargai akan cipta, rasa serta karsa dari para leluhur kita, Lanjutnya.

Tim Diskusi Iyoo/Ihoo

Senada juga dilontarkan oleh Dorce Pekei, Obeth dan Merry Bame, kami ikut serta dalam acara ini adalah menunjukan kepada orang lain bahwa kami juga punya jati diri serta memunyai sejarah hidup yang mengatakan bahwa kami dari Papua dan karena itu kami menghargai akan cipta, rasa dan karsa dari para leluhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sehingga acara ini kami ikut dengan senang hati karena dengan cara inilah generasi kami mengatakan bahwa kami menghargai dan mencintai budaya kami serta kami ini unik dengan orang lain.

Banyak orang yang telah mengunjungi Stand kami [Papua]. Budaya Papua itu unik sekali karena pengolahannya masih alami dan bahan-bahannya pun langsung diambil dari alam. Tutur seorang mahasiswi yang mgnunjungi stand kami. Anak-anak Papua cukup kreatif juga dalam menyusun gambar hal ini diungkapkan ketika melihat gambar proses pasang api, bakar batu, hingga makanan siap disajikan. Ungkap seorang Suster. ” saya Ingin ke Papua” lanjut suster biara tersebut. Banyak pengunjung yang baru mengetahui seperti apa budaya Papua itu, bagaimana pengolahannya hingga menjadi barang yang siap digunakan. Menanyakan tetang Noken [ Mee: Agiyaa], mereka juga bertanya tentang Cawat [Mee: Moge] dan alat tradisional lainnya.

Itulah beberapa keunikan budaya Papua yang selama ini terpendam dan tidak pernah di dipublikasikan kepada masyarakat umum. Dengan demikian banyak orang berpikir bahwa Papua memunyai budaya mabuk, budaya membuat kacau dan lain-lain yang selama ini dicap oleh orang lain. Kami mengatakan bahwa ini bukan bagian dari budaya kami, namun budaya orang luar. Dengan semua ini kami ingin mengatakan bahwa budaya, sejarah dan Jati diri orang papua dari sejak dahulu begini adanya. [Egeidaby]

Yemima dan Kunjungannya [Kepala Dinas Kebudayaan Kab. Sleman]  
Mateus sedang menjelaskan proses pembuatan noken Anggrek  kepada Rektor III Univ. Sanata Dharma
Paulina Saat Dekorasi/sebelum Festival dimulai
 
BACA TRUZZ...- Tim Diskusi Iyoo/Ihoo Ikut Serta Dalam Gelar Seni dan Budaya Nusantara di Universitas Sanata Dharma 2011

Semakin Banyak Memberi, Semakin Banyak Menerima

Sabtu, Maret 26, 2011

"Namaku Linda. Aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberiku sebuah pelajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan  mengagumkan penuh gairah seperti dalam novel-novel roman, walau begitu menurutku ini adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari itu semua.

Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri. Mereka bertemu disebuah acara resepsi pernikahan dan kata ayahku ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk ke dalam ruangan. Saat itu ayah tahu, bahwa inilah perempuan yang akan menikah dengannya. Hal ini menjadi kenyataan, kini mereka telah menikah selama 40 tahun dan telah memiliki tiga orang anak, aku anak tertua, telah menikah dan memberikan mereka dua orang cucu.

Mereka bahagia dan selama bertahun-tahun telah menjadi orang tua yang sangat baik bagi kami, mereka membimbing kami, anak-anaknya dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan. Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Saat itu beberapa ibu-ibu tetangga kami mengajak ibuku pergi kepembukaan pasar murah yang mengobral alat-alat kebutuhan rumah tangga. Mereka mengatakan saat pembukaan adalah saat terbaik untuk berbelanja barang obral karena saat itu saat termurah dengan kualitas barang-barang terbaik.

Tapi ibuku menolaknya karena ayahku sebentar lagi pulang dari kantor. Kata ibuku,"Mama tak akan pernah meninggalkan papa sendirian". Hal itu yang selalu dicamkan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang perempuan aku harus patuh pada suamiku dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sehat maupun sakit. Seorang perempuan harus bisa menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu menurut mereka, itu hanya janji pernikahan, omong kosong belaka. Tapi aku tak pernah memperdulikan mereka, aku percaya nasihat ibuku.

Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami mengalami duka, setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh. Dokter mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi sehinnga ia harus menghabiskan sisa hidupnya di tempat tidur. Ayahku, seorang pria yang masih sehat diusianya yang lebih tua, tapi ia tetap merawat ibuku, menyuapinya, bercerita banyak hal padanya, mengatakan padanya kalau ia mencintainya. Ayahku tak pernah meninggalkannya, selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya, ia masih suka bercanda-canda dengan ibuku. Ayahku pernah mencatkan kuku tangan ibuku, dan ketika ibuku bertanya ,"untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan jelek sekali". Ayahku menjawab, "aku ingin kau tetap merasa cantik". Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, ia merawat ibuku dengan penuh kelembutan dan kasih sayan. 

Para kenalan yang mengenalnya sangat hormat dengannya. Mereka sangat kagum dengan kasih sayang ayahku pada ibuku yang tak pernah pudar. Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum, "Kau tahu, Linda. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku...kau tahu kenapa?" Aku menggeleng dan ibuku melanjutkan, "karena aku tak pernah meninggalkannya. .."

Itulah kisah cinta ayah dan ibuku. Mereka memberikan kami, anak-anaknya pelajaran tentang tanggung jawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya.

Sumber: http://www.conectique.com/enlight_your_life/article.php?article_id=5841
BACA TRUZZ...- Semakin Banyak Memberi, Semakin Banyak Menerima

Doa Seorang Gadis.... untuk Semua Perempuan di Dunia

Tuhanku...

Aku berdo'a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting
Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika aku berbuat salah

Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya

Tuhanku...
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

Tuhanku...

Aku juga meminta,
Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku

Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu
Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana, mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku
berharap kami berdua dapat mengatakan:
"Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah
memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat
hidupku menjadi sempurna."

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan

Amin....

rgds,
Evelyn


Sumber: http://www.conectique.com/enlight_your_life/article.php?article_id=8257
BACA TRUZZ...- Doa Seorang Gadis.... untuk Semua Perempuan di Dunia

Kacang Harus Melupakan Kulitnya

Seorang partner saya pernah bertanya “Pak, kok diajarkan semuanya ? Apa Bapak tidak takut nantinya setelah Bapak mengajarkan semua ilmu yang Bapak miliki mereka malah lupa pada Bapak, seperti kacang lupa pada kulitnya?” Hal ini terjadi karena ia melihat materi NLP Practitioner yang saya ajarkan lebih banyak dan lebih dalam pembahasannya, dibandingkan training sejenis di Indonesia. Saya katakan kepadanya ada empat alasan kenapa saya selalu total dalam memberikan sesuatu.


Pertama saya memiliki guru-guru yang luar biasa dalam hidup saya, Tung Desem Waringin, Krishnamurti, RH Wiwoho, James Gwee, Tim Hallbom (NLP Institute California), William Horton. Psy.D (NFNLP Florida), John Grinder (NLP Academy –London), Anthony Robbins, Stave G James (America Alliance of Hypnosis), Karl Nielsen (NLP & Coaching Institute Berlin), T Harv Eker dan Barnie Wee (Mind transformation Singapore), mereka selalu menjawab semua yang saya tanyakan dan tidak pernah menyembunyikan apa yang mereka ketahui. Karena semakin banyak memberi maka gelas, semakin kosong dan semakin kosong sebuah gelas,maka semakin banyak “air” yang bisa mengisinya.

Kedua, saya adalah orang yang terus belajar dan berkembang. Setiap tahunnya saya pasti melakukan upgrade keluar negeri jadi ilmunya pasti terus berkembang, oleh karena itu semua peserta NLP Practitioner dan Master practitioner saya diwajibkan untuk ikut kembali materi atau kelas yang sama pada angkatan berikutnya secara GRATIS. Ini bermanfaat untuk melakukan upgrade ilmu dan mengasah kembali “gergaji.”
Ketiga, saya balajar NLP Practitioner dari dua lembaga yang berbeda (NLP Institute -California, Mind transformation - Singapore) dan saya belajar NLP Master Practitioner dari tiga lembaga yang berbeda (Mind Transformation – Singapore, NLP Academy –London, NFNLP-Florida) dimana sebagian besar materinya berbeda, jadi saya tidak akan pernah kehabisan bahan saat saya membagikannya.

Dan keempat, power of vibration. Saat saya total, sungguh-sungguh dan tulus memberi, para peserta pasti akan dapat merasakan hal tersebut. Ini terbukti dari tingkat closing yang 90% dan bahkan ada kelas NLP Practitioner yang 100% pesertanya joint ke kelas NLP Master Practitioner. Lebih “gilanya” ada peserta yang sudah daftar untuk kelas NLP Trainer Training yang baru akan diadakan 2012.

Kemudian kepada partner saya ini saya mengatakan. Bagi saya kacang lupa kulitnya adalah pribahasa yang kurang tepat. Sudah semestinya kacang haruslah melupakan kulitnya, kalau ia mau tumbuh dan berkembang. Kacang yang tetap tinggal didalam kulitnya tidak akan pernah menghasilkan kacang-kacang yang lain. Sebaliknya jikalau ia keluar dari kulitnya kemudian tumbuh dan berkembang, baru ia akan dapat menghasilkan kacang-kacang yang lain. Menjadi egois kalau membiarkan sebuah kacang tetap tinggal didalam kulitnya sehingga akhirnya membusuk atau justru digoreng.

Dalam hidup ini saya pernah melatih beberapa trainer yang kemudian menjadi trainer yang handal, apakah mereka mengingat saya atau tidak itu bukan urusan saya lagi. Ada diantara mereka yang menjadi Motivator No.1 Asia, ada yang bekerjasama dengan pembicara terkenal asal Amerika dan membuka cabang coaching di Indonesia atau ada juga yang akhir saya perkenalkan dengan partner saya Tung Desem Waringin kemudian akhirnya kita menjadi partner bersama.Mereka sekarang telah berkembang dan bermanfaat bagi banyak orang.

Melihat kiprah mereka, membaca atau mendengar cerita tentang mereka saya merasa ketambahan energy ,semangat untuk berbagi ,membantu dan membimbing. Karena NLP bukanlah teori, NLP adalah PERBUATAN. Jadilah kacang yang melupakan kulitnya atau dalam pandangan yang berbeda yakni tidak bergantung pada kulitnya tetapi menjadi kacang yang bisa tumbuh, berkembang, menghasilkan lebih banyak kacang-kacang yang lain.

*) Ongky Hojanto adalah penulis buku Best-Seller “The Secret To Be More Success”, partner Penulis buku “Financial Revolution in Action” bersama Tung Desem Waringin. Narasumber OBROLAN Pagi motivasi di Pacific TV dan narasumber di SMART FM Indonesia ini dapat dihubungi langsung di www.ongkyhojanto.com

Sumber: http://www.pembelajar.com/kacang-harus-melupakan-kulitnya
BACA TRUZZ...- Kacang Harus Melupakan Kulitnya

Cerita Pagi dari Bangku Sekolah

Dari jaman sekolah doeloe rasanya senang sekali apabila Bapak atau Ibu guru kita mengumumkan bahwa ada kegiatan rapat dewan guru sehingga para siswa diminta belajar di rumah masing-masing. Teriakan hore secara koor bergema di ruang kelas tanpa komando. Budaya itu diyakini masih ada dan berlaku sampai sekarang pada level atau jenjang pendidikan manapun dan di mana pun.


Bahkan saya sendiri menjelang akhir pekan rasanya kok plong bangets ya? Apa karena akan terbebas dari rutinitas tugas? Hehehe… Sebuah seloroh pernah saya ungkapkan kepada para mahasiswa bahwa sesekali mahasiswa membuat pengumuman yang berbunyi demikian “Sehubungan para siswa/mahasiswa mau rapat, para guru/dosen dipersilakan mengajar di rumahnya masing-masing. Wkwkwkwk…”.

Barangkali saja ada guru/dosen yang senang mendengarnya karena terbebas dari belenggu rutinitas. Ups! Yang satu ini tolong jangan diekspos ya, entar dikira Anda dianggap tidak taat aturan dalam soal penghormatan pada guru/dosen.


Saya pernah mengumumkan suatu hari bahwa perkuliahan dipercepat dari jadwal yang seharusnya karena ada tugas/dinas ke luar kampus. Tak pelak teriakan hore secara koor yang sama bergema dari mulut para mahasiswa. Saya akhirnya memutuskan menunda keluar ruang kelas. Saya mengurungkan niat mengakhiri pecepatan perkuliahan dengan mengatakan bahwa selama ini berarti dalam mengikuti pembelajaran dijalani dengan terpaksa atau penuh tekanan. Mereka mengelak dengan tuduhan tersebut. Namun saya beranalogi bahwa seandainya menjalani perkuliahan dengan gembira atau fun mengapa teriakan yang terucap bukan kalimat yang sebaliknya. Yakni sebuah kalimat yang menggambarkan rasa kecewa karena dtinggal dosennya dalam proses belajar di kelas.

Yang jelas guru atau dosen yang baik adalah mereka yang kehadirannya dinantikan oleh para siswa atau mahasiswanya. Ia akan dirindukan bila tidak masuk/hadir di sekolah atau kampus. Apabila yang terjadi sebaliknya, berarti ada yang salah dengan proses belajar-mengajar yang selama ini terjadi.

Seorang pendidik mestinya mempunyai kepribadian yang menarik, supel dalam menjalani aktifitas pembelajaran. Ia juga menggunakan paradigma pendidikan demokratis dalam menekuni peran profesional seorang pendidik –untuk hal ini selanjutnya baca “Paradigma Pendidikan Demokratis karya Prof. Dr. Dede Rosyada, MA–. Ia juga harus menjadi orang yang pertama yang mengamalkan dan mengimplementasikan hal-hal yang diajarkan kepada para muridnya.

Pernah pada suatu siang seorang mahasiswa mengirimkan sebuah pesan pendek bahwa ia sedang bete mengikuti perkuliahan yang diasuh oleh seorang dosen. Katanya: “Panas euy, bete, jenuh, mendengarkan ceramah si dosen, sudah tua lagi”. Selang beberapa detik kemudian saya menjawabnya:”Bukankah kita juga akan menjadi tua? Berarti kita akan membetekan juga dong…”. Ya, mestinya seorang guru/dosen harus dapat mendesain pembelajarannya secara komprehensif dengan perencanaan yang matang. Kombinasi berbagai metode dan strategi pembelajaran dapat dilakukan agar prosesnya belajar di ruang kelas dapat berjalan secara menyenangkan dan sukses mencapai tujuan yang ditentukan dan diharapkan.

Metode ceramah memang murah meriah, dan bersifat massif. Tetapi ceramah yang monoton juga dapat membuat kejenuhan yang dirasakan oleh para peserta didik. Di samping mempunyai kelebihan, metode ceramah juga mempunyai sedikit-banyak kekurangan. Kekurangan inilah yang mestinya dapat didukung dengan penggunaan kombinasi metode semacam diskusi, tanya-jawab, demonstrasi, karya wisata, resitasi, dll. Sudirman N, et. all. dalam buku Ilmu Pendidikan menjelaskan secara gamblang berbagai kelebihan dan kelemahan metode-metode mengajar. Hal ini juga dapat diperkuat dengan penggunaan strategi, pendekatan, dan teknik pembelajaran yang berpusat pada aktifitas siswa. Buku 101 Strategi Active Learning karya Melvin L. Sibermen dapat memberikan inspirasi para pendidik untuk mengarahkan pembelajarannya menjadi lebih menarik.

Sebagai seorang guru, dosen, atau sebutan lain yang aktifitasnya sejalan, sudah seharusnya mengembangkan paradigma baru dalam proses pembelajaran. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Artinya bagaimana dapat mendesain agar peserta didik tetap dapat belajar kendatipun kita absen dalam proses pembelajaran dengan berbagai alasan yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Wallahu a’lam.

*) Tanenji, Dosen dan Sekretaris Laboratorium Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dapat dihubungi langsung di tanenji@yahoo.com



Sumber: http://www.pembelajar.com/cerita-pagi-dari-bangku-sekolah
BACA TRUZZ...- Cerita Pagi dari Bangku Sekolah

Mahasiswa Papua Dituntut untuk Memahami Arti Pendidikan yang Sesungguhnya.

Senin, Maret 14, 2011

Diskusi Iyoo/ihoo, 12 Maret 2011

“Saya melihat di televisi orang tidak memiliki ijazah ada yang sukses menjadi pengusaha besi bekas”, (Kompas, 24 Mei 06)/ Kalimat ini diucapkan oleh Hilmy. Hilmy adalah seorang gadis remaja kelas tiga sekolah alternatif SMP Qaryah Thayyibah di lereng Gunung Merbabu. Waktu itu, teman-teman sebaya di sekolah formal sibuk mempersiapkan diri ikut Ujian Nasional (UN) dan panik ketika akan mendengar hasil kelulusan UN.

Seorang Gadis SMP saja bisa berpikir orang tanpa ijasah saja bisa sukses walaupun boleh dikata mereka di pulau Jawa hidupnya keras, karena lahan yang mereka miliki pun sempit untuk bisa membuka usaha tetapi seorang siswa ini dia sudah berpikir jauh dan memahami tentang pendidikan. Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan buat kita mahasiswa Papua yang sedang menganyam pendidikan di tanah Jawa ini.


Pendidikan merupakan hal vital yang dapat kita membantuk suatu dedikasi untuk memperhitungkan ouputnya. Agar ita bisa memahami bahwa pendidikan menjadi sarana bukan menjadi tujuan. Ijasah merupakan suatu pencapaian hasil dari suatu jenjang pendidikan. Jadi jangan kita membeli sekolah tetapi sesuatu yang dapat kita terima setelah kita sekolah. Intinya adalah pendidikan bukan Ijasah, Kata Mery Bame. Lalu ia pun mencoba memberikan solusi bahwa, kalau kita mau agar hal itu dapat berjalan dengan baik maka kita harus keluar dari rutinitas sekolah, mencapai tujuan, keluar dari budaya atau kebiasaan 1. Takut 2. Kita tidak mau 3. Untuk keluar penuh dukungan, Pungkas Mery seorang Mahasiswi Sanata Dharma Yogyakarta.

Oleh sebab itu, Pendidikan yang kita terima dibangku kuliah itu dapat memahami dan harapannya dimemperaktekan dilapangan walaupun orang tua kita utamakan adalah bagaimana kita mendapatkan ijasah dan pulang bisa bekerja [ hal itu tidak dipungkiri bahwa itu telah menjadi budaya orang tua kita kita]. Dengan hal itu kadang mahasiswa menjadi santai karena setelah lulus tunggu tes PNS [Pegawai Negeri Sipil], secara otomatis akan menjadi pekerja Negara Indonesia, sebelum masuk kedunia kerja bisa membuka usaha agar pengganguran. Sebaik Mereka mebuka usaha Ungkap Yosina mahasiswa yang sedang menempu pendidikan bagian ekonomi.

Membuka usaha diPapua cocok karena memunyai kekayaan alam yang berlimpah,oleh sebab itu, harapan saya kita bisa mengunakan kemampuan kita yang ada selama kita kuliah untuk megimplementasikan jagan sebatas teori saja, tetapi diimbangi dengan praktek dilapangan. Hal itu yang kadang kurang di Tanah Papua. Yosina
Kita bisa menerapkan teori yang kita terima selama ini dibangku study tetapi Kehidupan masayarakat Papua dan kehidupan masyarakat Jawa tidak sama, disini mereka walaupun tanah tidak luas pun mereka bisa berwirah usaha karena kehidupan mereka telah terhimpit dalam kehidupan yang keras. Dengan kehidupan yang keras akan menciptakan kehidupan ekonomi yang baik dan berwirausaha. Tetapi kalau kita melihat ditanah papua dengan melakukan kebiasaan kita yaitu mengambil semuanya dari bahan alami itu berarti kita telah menyiasati hidup dan bisa dikaitkan itu pendidikan, pungkas Oce mahasiswa Sanata Dharma.

Memang ada yang mengatakan pendidikan ditanah Papua telah gagal atau orang tua masing-masing yang telah gagal mendidikan anak-anaknya. Mengapa demikian? Karena banyak anak-anak yang datang ke Yogyakarta untuk mengayam pendidikan tetapi sampai disini mereka mengonsumsi miras mengunakan uang yang diberikan oleh orang tua berarti mereka merugikan biaya orang tuanya. Hal itu terjadi juga mereka belum memahami pendidikan itu terlebih dahulu dan yang jelas mereka mengharapkan ijasah dan pulang dapat menunggu PNS dan masuk PNS lalu bekerja.kata Yeri Dogomo Mahasiswa APMD.

Lanjutnya Guru-guru [paklaawan tanpa jasa] mengalikan profesinya ke menjadi wakil rakyat [DPR], hal itu sudah, sedang, dan akan. terjadi tanah Papua. Dengan masuknya otonomi daerah dan Pemekaran juga tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi. Intinya bahwa mereka belum memahami pendidikan itu dengan baik. Walaupun alasan mereka secara skrim yaitu kesejatheraan belum diperhatikan.

Kesimpulan dari kami sebagai mahasiswa papua penerus generasi Papua harus memahami pendidikan, lalu menyikapi seluruh masalah yang sedang terjadi tanah papua di berbagai aspek agar kelak kita bisa menyiasati kehidupan sebagai bangsa papua yang memunyai harga diri dihadapan orang lain. Harapan kita sekolah bukan untuk menjadi pekerja Indonesia tetapi bisa membebaskan masyarakat Papua dari pelbagai masalah yang terjadi tanah luka Papua. [Agus Dogomo]
BACA TRUZZ...- Mahasiswa Papua Dituntut untuk Memahami Arti Pendidikan yang Sesungguhnya.

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut