Mementingkan Ijazah Dari Pada Pendidikan dan Sekolah Merupakan Virus Dalam Pembangunan di Papua.

Minggu, Juni 12, 2011

Dari Hasil Diskusi Mahasiswa Asal Tambraw dan Selangkah Media

Fenomena jual-beli ijazah belakangan ini marak terjadi di Indonesia, beberapa kampus menjadikan lahan bisnis untuk mendatangkan keuntungan. Hal ini terjadi ketika masa rezim Soeharto runtuh dan ekonomi seakan mengendalikan segalanya dalam mendapatkan sesuatu. Bagi segelintir orang, wajar dan senang karena ada keinginan yang ingin dicapai, contohya seperti untuk menduduki suatu jabatan dalam Pemerintahan, maupun perusahan atau lainnya.


Melihat kondisi yang memprihatinkan dalam pembangunan Papua ke depan ini, Mahasiswa asal Tambraw melakukan diskusi sederhana di alam bebas, tepatnya depan Rumah Sakit Happy Land, Timoho Yogyakarta yang berlangsung sore (10/5). Tak ada rotan akar pun jadi hal itulah yang terjadi dalam berlangsungnya diskusi ini. Dengan Topik Pendidikan, Sekolah dan Fenomena Mencari Ijazah, menjadikan diskusi berlangsung seru dan menarik tanpa membatasi ruang bicara setiap anggota diskusi.

Diskusi diawali dengan sebuah pertanyaan dari Agus Dogomo yang menjadi moderator saat itu, berikut pertanyaannya “menurut teman-teman apa yang lebih penting, apakah Pendidikan, Sekolah atau Ijazah”? pertanyaan yang memang gampang-gampang susah untuk dijawab, namun bagi Mahasiswa/i asal Kabupaten Tambraw yang baru dimekarkan tahun 2008 dari Kabupaten induk Sorong ini mencoba menjawab sesuai dengan pendapat masing masing anggota diskusi.

Orang bersekolah dan tidak mengerti sama saja sementara ijazah hanyalah symbol bahwa telah menyelesaikan suatu bidang atau jenjang tertentu, kata Ley Hay, menjawab. Orang yang tidak punya ijazah bisa hidup dari keahliannya dan pendidikan pendidikan bukan hanya pelajaran semata namun banyak hal, lanjut mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini.

Hal ini diperkuat oleh perempuan Papua yang sering disapa Ocha, bahwa tanpa sekolah orang bisa mendapatkan pendidikan, sementara itu adopsi pendidikan luar atau seluruh Indonesia diseragamkan, menjadikan wajah pendidikan menjadi kabur. Bukankah pendidikan di sekolah itu bisa dimengerti jika disesuaikan dengan lingkungan dimana kita hidup? Tanyanya kesal. Orang punya ijazah pun belum tentu memanusiakan orang lain dan paradigma yang terbangun pada orang Papua bahwa bisa sekolah dan mendapatkan ijazah, sementara system pendidikan yang ada saat ini hanya mematikan karakter orang Papua, lanjutnya menutup pembicaraan.

Pendapat selanjutnya datang dari Merry Bame; susah sekali jika dijawab dengan asumsi kita sendiri. Semua penting, ijazah juga penting hanya saja masalahnya saat ini terjadi perbedaan kelas ekonomi antara kaya dan miskin, sehingga pendidikan yang didapatkan antara kedua kelas ini dalam pendidikan formal tidak sama dalam hal fasilitas di sekolah. Senada juga datang dari Maria, Anas Olin dan Zavi bahwa; ijazah penting juga untuk mendapatkan suatu pekerjaan, namun gambaran umum yang dirasakan dari pendidikan adalah bagaimana penerapannya ketika masuk dalam dunia kerja. Pendidikan diJawanisasikan akibatnya kualitas pendidikan rendah jika melihat kualitas pendidikan di Papua, lebih parah lagi praktek jual-beli ijazah yang marak terjadi belakangan ini.

Sementara itu, pendidikan formal memang perlu dan ujung-ujungnya akan mendapatkan ijazah, namun pendidikan non formal lebih penting, contohnya budaya, karena dengan belajar akan kebudayaan kita itulah kita akan mengerti akan identitas kita sendiri dan merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri, imbuh Emanuel dan Yohanes. 


“Pendidikan Seumur Hidup”/”Life-Long Education” (bukan “long life education”) adalah makna yang seharusnya benar-benar terkonsepsikan secara jelas serta komprehensif dan dibuktikan dalam pengertian, dalam sikap, perilaku dan dalam penerapannya.…
Pendidikan seumur hidup atau belajar seumur hidup bukan berarti kita harus terus sekolah sepanjang hidup kita. Sekolah banyak diartikan oleh masyarakat sebagai tugas belajar yang terperangkap dalam sebuah “ruang” yang bernama kelas, bukan itu yang dimaksud. Paradigma belajar seperti ini harus segera kita rubah. Pengertian belajar bukan hanya berada dalam ruangan tapi belajar disemua tempat, semua situasi dan semua hal. (Egeidaby)

0 komentar:

Poskan Komentar

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut