Tim Diskusi Iyoo/Ihoo Ikut Serta Dalam Gelar Seni dan Budaya Nusantara di Universitas Sanata Dharma 2011

Rabu, Maret 30, 2011

Spanduk pada Festival Budaya/Egeidaby Foto
Yogyakarta- Walaupun awal dilangsungkan Gelar Seni dan Budaya Nusantara hingga akhir, kota Yogyakarta dan sekitarnya diguyur hujan yang tak kunjung berhenti, namun tak menyurutkan semangat bagi putra-putri Papua yang merindukan adanya perubahan nyata di tanah Papua. Perwakilan Papua yang diikuti oleh Tim Diskusi Iyoo/Ihoo yang merupakan bagian dari Majalah selangkah ini berlangsung tanggal 24-26 Maret 2011 di Kampus Sanata Dharma Yogyakarta.


Semangat peserta dalam gelar budaya menghadirkan nuansa tersendiri bagi pengunjung, hal ini terlihat ketika siapapun yang mengunjungi, peserta yang menjaga stand merasa memunyai tanggung jawab untuk menjelaskan arti, kegunaan dan lainnya yang terkandung dalam setiap kerajinan tangan yang dihasilkan oleh rakyat Papua dengan berbagai kreasi dan inovasi tersebut. Sementara itu, toleransi antara setiap anggota yang selalu membagi waktu untuk menjaga stand agar tak mengganggu kuliah yang merupakan tugas pokok setiap mahasiswa, sehingga stand Papua selalu terlihat ramai.


Memang budaya merupakan identitas atau jati diri suatu bangsa, “Budaya adalah suatu kebiasaan yang biasa dilakukan oleh seseorang atau kelompok masyarakat tertentu disuatu daerah, secara tidak langsung dengan budaya akan menunjukan jati diri dan sejarahnya” kata Agus disela-sela acara. Oleh karena itu, kita harus pertahankan budaya kita masing-masing mepertahankan budaya kita masing-masing karena dengan mempertahankan maka kita telah menyatakan sejarah dan jati diri kita sendiri dan menyadari dan menghargai akan cipta, rasa serta karsa dari para leluhur kita, Lanjutnya.

Tim Diskusi Iyoo/Ihoo

Senada juga dilontarkan oleh Dorce Pekei, Obeth dan Merry Bame, kami ikut serta dalam acara ini adalah menunjukan kepada orang lain bahwa kami juga punya jati diri serta memunyai sejarah hidup yang mengatakan bahwa kami dari Papua dan karena itu kami menghargai akan cipta, rasa dan karsa dari para leluhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sehingga acara ini kami ikut dengan senang hati karena dengan cara inilah generasi kami mengatakan bahwa kami menghargai dan mencintai budaya kami serta kami ini unik dengan orang lain.

Banyak orang yang telah mengunjungi Stand kami [Papua]. Budaya Papua itu unik sekali karena pengolahannya masih alami dan bahan-bahannya pun langsung diambil dari alam. Tutur seorang mahasiswi yang mgnunjungi stand kami. Anak-anak Papua cukup kreatif juga dalam menyusun gambar hal ini diungkapkan ketika melihat gambar proses pasang api, bakar batu, hingga makanan siap disajikan. Ungkap seorang Suster. ” saya Ingin ke Papua” lanjut suster biara tersebut. Banyak pengunjung yang baru mengetahui seperti apa budaya Papua itu, bagaimana pengolahannya hingga menjadi barang yang siap digunakan. Menanyakan tetang Noken [ Mee: Agiyaa], mereka juga bertanya tentang Cawat [Mee: Moge] dan alat tradisional lainnya.

Itulah beberapa keunikan budaya Papua yang selama ini terpendam dan tidak pernah di dipublikasikan kepada masyarakat umum. Dengan demikian banyak orang berpikir bahwa Papua memunyai budaya mabuk, budaya membuat kacau dan lain-lain yang selama ini dicap oleh orang lain. Kami mengatakan bahwa ini bukan bagian dari budaya kami, namun budaya orang luar. Dengan semua ini kami ingin mengatakan bahwa budaya, sejarah dan Jati diri orang papua dari sejak dahulu begini adanya. [Egeidaby]

Yemima dan Kunjungannya [Kepala Dinas Kebudayaan Kab. Sleman]  
Mateus sedang menjelaskan proses pembuatan noken Anggrek  kepada Rektor III Univ. Sanata Dharma
Paulina Saat Dekorasi/sebelum Festival dimulai
 

0 komentar:

Poskan Komentar

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut