15 Tahun Yayasan PESAT Nabire: “Mereka Anak-anak yang Terpilih”

Kamis, Desember 03, 2009

Dengan pendidikan berpola asrama, PESAT Nabire telah hadir di Papua selama 15 Tahun. Ada yang luar biasa dengan pelayanan mereka, di mana mendidik anak-anak asli Papua sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Bagi mereka, mendidik karakter seorang anak lebih penting daripada hanya kepintaran dan kecerdasan saja.

Pendidikan berpola asrama merupakan salah satu cara jitu yang dapat digunakan untuk membangun Pendidikan di tanah Papua, lebih khusus meningkatkan sumber daya manusianya. Namum, tidak banyak juga yang menyadari hal ini sehingga terkesan mengabaikan pendidikan pola asrama untuk anak-anak Papua yang membutuhkan pendidikan.

UU No. 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus sudah hampir 8 tahun hadir di Papua, namun tidak ada prestasi gemilang yang bisa Otsus torehkan untuk perubahan anak-anak Papua, khususnya di bidang pendidikan. Lihat saja, hasil Study Univerisitas Indonesia yang dipaparkan beberapa waktu lalu di Jakarta menempatkan provinsi Papua sebagai daerah buta huruf paling tinggi di Indonesia. Seharusnya tidak demikian, kenapa proposional dana Otsus untuk pendidikan yang milyaran rupiah belum bisa menjawab hal ini.

Hingga saat ini di Papua, hanya ada satu Yayasan yang mengembangkan pola pendidikan berasrama, yaitu Yayasan PESAT, mereka berdomisil di Kabupaten Nabire. Dan telah hadir di Papua hampir 12 Tahun lamanya. Sistem pendidikan berpola asrama yang mereka kembangkan, adalah dengan cara ber-asrama-kan anak-anak asli Papua dari TK-SMA, dan memiliki sekolah khusus yang tidak bisa dicampur baurkan dengan mereka yang ada di luar asrama.

Komentar Pelayanan Mereka
Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH telah banyak bercerita tentang kinerja luar biasa yang Yayasan ini tunjukan selama hadir di Papua, lebih khusus telah dipaparkan panjang lebar dalam bukunya “Kami yang Menanam, Kami yang Menyiram dan Tuhanlah yang Menumbuhkan”.

“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, karena Yayasan PESAT hadir di Papua dan telah mendidik dan mengajari sekian banyak anak-anak Papua, khususnya mereka yang datang dari pedalaman untuk menjadi manusia. Mewakili pemerintah daerah, saya mengucapkan banyak terima kasih untuk Yayasan Pesat,’ ucap Pak Bas saat melaksanakan kunjungan di Yayasan ini beberapa waktu lalu.

Yayasan PESAT berdiri bermula dari kerinduan besar seorang hamba Tuhan, Pdt Daniel Alexander namanya. Beliau sangat berkeinginan melihat anak-anak Papua yang pintar, cerdas, terampil, kreatif serta berkarakter kristus. Baginya mereka sudah pasti bisa membangun Papua setelah keluar dari arena pendidikan dasar (TK-SMA) ini. Dasar yang kuat, sudah tentu mengarahkan anak ini untuk memilih dan menentukan araha hidup yang lebih baik lagi.

“Saya yakin, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin Papua yang hebat dan luar biasa. Mereka imamat yang rajani, anak-anak yang terpilih untuk membangun dan mengubah Papua. Nanti kita bisa lihat kinerja mereka dalam beberapa waktu mendatang setelah mereka menyelesaikan studi,” kata Daniel beberapa waktu lalu di Nabire.

Menurutnya, pendidikan pola asrama paling jitu di Papua, agar setiap anak-anak tersebut bisa didik sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang berlaku, serta mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menjadi modal dasar. Guru-guru yang mereka datangkan untuk melayani anak-anak ini sangat luar biasa. Bahkan ada yang bergelar doctor tapi di mana harus tinggal serumah dengan anak-anak. Luar biasa bukan? Baginya, tidak cukup seorang anak hanya pintar dan cerdas, tapi yang terpenting adalah memiliki aklhak dan karakter yang baik, ini baru orang yang hebat. Dan, setiap guru-guru yang ada mengajarkan tentang hal itu dimana membentuk karakter dan akhlak dari pada setiap anak-anak didik.

“Lihat saja di negara Indonesia, terlebih khusus di Papua, banyak orang pintar dan cerdas, semua mereka selalu korupsi terus, sehingga rakyat hanya menjadi korban. Tetapi beda, kalau pintar dan cerdas dibarengi dengan aklhak dan karakter yang baik seperti kristus, mereka akan menjadi lilin di tengah kegelapan, dan memang itu kerinduan terbesar saya membangun pendidikan berpola asrama di Papua,” papar Daneil menjelaskan.

Selain itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Nabire, A. H. Sihombing pernah berkomentar tentang keberadaan Yayasan ini, ketika memberikan kata sambutan dalam acara yang diselenggakan oleh SMA Kristen Anak Panah, salah satu sekolah yang didirikan Yayasan ini.

“PESAT Nabire telah membantu meringankan beban pemerintah daerah, di mana bisa mendidik dan membina anak-anak Papua untuk menjadi manusia. Saya sangat berterima kasih untuk kerja ini,” tandas Sihombing.

Lebih lanjut menurutnya, PESAT telah menyatakan bahwa membangun pendidikan di kabupaten Nabire, uang bukan segalanya, tetapi kesungguhan dan motivasi untuk mendidik-lah yang harus dikedepankan. Ini harus menjadi contoh bagi yayasan-yayasan, serta sekolah-sekolah yang lain di kabupaten Nabire.

Kendala Mendidik Anak-anak Papua
Menurut kepala salah satu asrama di Nabire, Gestinov Hutubesy S.T. bahwa mendidik anak-anak Papua sangat susah, diperlukan pendekatan kasih saying agar mereka bisa berubah. “Mendidikan anak-anak Papua yang datang dari berbagai tempat, serta berbagai latar belakang memang sangat susah, tetapi kami menggunakan pendekatan kasih sayang, sehingga bersyukur anak-anak kami bisa menerima ini, dan banyak dari antara mereka yang memilki karakterk sangat baik, sopan, ramah, serta bergaul dengan siapa saja,” pungkasnya.

Lebih lanjut, pak Gestinov mengatakan bahwa mereka mendidik anak-anak Papua dengan kasih, sehingga ke depannya anak-anak ini bisa membawa terang kepada siapa saja, terutama keluarga mereka sendiri. Dan, kami sangat berkeyakinan, bahwa orang tua mereka juga akan disenang, melihat perubahan sikap hidup anak-anak mereka.

Banyak prestasi yang anak-anak kami torehkan, seperti ada beberapa anak yang selalu mewakili sekolahnya untuk ikut Olimpiade di Jayapura, bahkan ada beberapa yang sempat ke Jakarta, dan tinggal lama di sana. Ini merupakan kebanggaan tersendiri buat kami yang di Asrama maupun Yayasan, di mana keluh kesah kami mendidik tidak sia-sia.

“Selain itu juga, anak-anak kami telah belajar menulis melalui bulletin AGAPE yang mereka terbitkan setiap bulannya secara berkala. Di sini terlihat anak-anak kami memiliki potensi-potensi yang sangat luar biasa. Dan, mereka tetap belajar dan belajar untuk mengembangkan bulletin asrama yang mereka miliki, tetapi pesan saya untuk mereka, jangan sekali-kali mengabaikan tugas utama, yaitu sekolah,” pungkasnya.

Sekolah dan Asrama
Selama 12 Tahun hadir di Papua, terlebih khusus di Nabire, pesat telah membangun sangat banyak asrama, dan mereka sempat berpindah-pindah tempat. Terdapat 4 asrama. Asrama Anugerah (untuk anak-anak laki-laki SMP hingga SMA), Asrama Agape (untuk anak-anak perempuan SD), asrama gilgal (untuk anak-anak laki-laki dan perempuan TK hingga SD), dan terakhir asrama Yudea (untuk anak-anak perempuan SMP hingga SMA).

Sedangkan sekolah, ada beberapa taman kanak-kanak. Seperti TK Agapae, TK Shekina, TK Samabusa, TK Wanggar, dan ada beberapa TK lainnya di pinggiran kota Nabire. Pada umumnya, taman kanak-kanak ini dikelola oleh Yayasan Pesat dengan latar belakang para guru yang umumnya didatangkan dari daerah Jawa.

Selain itu, ada SD Kristen Agape yang berdiri sejak pesat masuk di Kabupaten Nabire, kemudian berikutnya didirikan SMP Kristen Anak Panah, setelah itu secara bertahap didirikan lagi SMA Kristen Anak Panah. Sampai saat ini, SMA Anak panah telah menamatkan dua angkatana, dan semua lulusan memang betul-betul tinggal didik di asrama sejak taman kanak-kanak hingga mereka lulus.

Jumlah anak-anak asrama secara keseluruhan, hampir mencapai 300 anak. Sebagian besar atau hampir seluruhnya anak asli Papua. dan berasal dari berbagai daerah di Papua, seperti dari Kabupaten Intan Jaya (suku Moni), Kabupaten Paniai (suku Mee), Serui, Biak, bahkan ada yang dari daerah pegunungan Papua (suku Dani).

Mereka semua hidup sangat bersahabat dan terlihat hubungan kekerabatan yang sangat besar. Mereka sepertinya telah menjadi satu keluarga dalam sebuah yayasan. Dan, bagi mereka moment penting saat tinggal di asrama, akan selalu dikenang saat ke mana saja mereka berpergian.

Setiap lulusan yang menamatkan SMA akan dikirim ke luar Papua untuk kuliah sesuai dengan kemampuan anak-anak itu. “Kami berharap setiap anak bisa berprestasi supaya kita bisa sekolahkan sampai di perguruan tinggi,” jelas Eliezer Edo Odo, Ketua Yayasan Pesat Nabire dalam sebuah kesempatan ketika duduk memberikan kejelasan kepada anak-anak Asrama.

Pelayanan PESAT, selain di Kabupaten Nabire, ada 9 tempat lagi yang mereka layani, yaitu di Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Timika bekerja sama dengan LPMAK, serta beberapa daerah kecil lainnya di Papua. PESAT lebih khususkan diri bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan untuk Papua. (Pogau).
-----------------
sumber: http://pogauokto.blogspot.com/2009/12/pesat-nabire-membangun-pendidikan.html



BACA TRUZZ...- 15 Tahun Yayasan PESAT Nabire: “Mereka Anak-anak yang Terpilih”

DEKLARASI KONGRES I - SELAMATKAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA

Minggu, November 22, 2009

PORT NUMBAY, 21 November 2009

MENCERMATI KONDISI MASYARAKAT ADAT DI TANAH PAPUA YANG SEMAKIN TERMARJINALKAN DARI PROSES PEMBANGUNAN YANG BERKAITAN DENGAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT, PERTAMBANGAN, PEMEKARAN WILAYAH, INFRASTUKTUR MILITER DAN HPH YANG TIDAK BERPIHAK KEPADA MASYARAKAT ADAT, KELESTARIAN SUMBER DAYA ALAM DAN PELANGGARAN HAM DI TANAH PAPUA.

MASYARAKAT ADAT PAPUA TELAH LAMA MENJADI PELAKU UTAMA DAN PENGGUNA UTAMA PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM BERBASIS PADA KEARIFAN LOKALNYA PADA RATUSAN TAHUN YANG LALU, MAKA SEGALA KEGIATAN PEMBANGUNAN HARUS MELIBATKAN MASYARAKAT ADAT DAN HASIL-HASIL DIPERUNTUKKAN BAGI KESEJAHTERAAN BANGSA PAPUA.

MAKA KAMI, PESERTA KONGRES PERTAMA “SELAMATKAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA” YANG TERDIRI ATAS PEMIMPIN ADAT, LEMBAGA KEAGAMAAN, AKTIVIS LSM DAN AKTIVIS PEREMPUAN, MENYATAKAN KEPEDULIAN DAN KEPRIHATINAN SERTA SIKAP KAMI BAGI UPAYA PENGAKUAN PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN HAK-HAK MASYARAKAT ADAT PAPUA.

UNTUK MEMBANGUN PAPUA SEBAGAI SATU TANAH YANG BEBAS DARI KEKERASAN, KESERAKAHAN DAN PENINDASAN, MAKA KAMI MENGELUARKAN DEKLARASI KONGRES I SELAMATKAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA.

“NEGARA BERTANGGUNGJAWAB BAGI PENYELAMATAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA”

1. TANAH MASYARAKAT ADAT PAPUA ADALAH MAMA YANG MEMBERIKAN KEHIDUPAN & PENGHIDUPAN BAGI MANUSIA & ALAM. TANAH PAPUA ADALAH WARISAN LELUHUR YANG MENJADI MILIK MASYARAKAT ADAT TANAH PAPUA, KARENA ITU TIDAK DIPERJUALBELIKAN.

2. ASET-ASET ADAT MASYARAKAT ADAT PAPUA SEPERTI GELAR ADAT TIDAK BISA DISERAHTERIMAKAN KEPADA ORANG LAIN.

3. PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI TANAH PAPUA HARUS BEBAS DARI KETERLIBATAN TNI/POLRI.

4. PEMBANGUNAN TANAH PAPUA DAN MANFAATNYA DIPERUNTUKAN BAGI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ADAT PAPUA, MAKA MASYARAKAT ADAT PAPUA HARUS TERLIBAT AKTIF DALAM SELURUH PROSES PEMBANGUNAN TERSEBUT.

5. SEGALA BENTUK KEGIATAN EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM TANAH PAPUA YANG MERUSAK LINGKUNGAN DAN PELANGGARAN HAM HARUS DIHENTIKAN.

6. TANAH PAPUA HARUS BEBAS DARI PRAKTEK PELACURAN INTELEKTUAL YANG MELEGITIMASI UPAYA PEMEKARAN WILAYAH PEMERINTAHAN, MERUSAK LINGKUNGAN HIDUP DAN MELANGGAR KEARIFAN MASYARAKAT ADAT YANG DILAKUKAN OLEH AKADEMISI DAN AKTIFITIS ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL.

7. PEMEKARAN WILAYAH PEMERINTAHAN DI TANAH PAPUA MENCIPTAKAN PERMASALAHAN BARU BERUPA KONFLIK HORISONTAL YANG MENGGANGGU TATANAN ADAT PAPUA, KERUSAKAN SUMBER DAYA HUTAN DAN EKOSITEMNYA, MAKA PEMEKARAN WILAYAH KABUPATEN/KOTA DAN PROVINSI DI TANAH PAPUA SEGERA DIHENTIKAN.

8. SEGALA BENTUK KEGIATAN DAN UPAYA PERDAGANGAN KARBON & KOMPENSASI KARBON YANG TIDAK MENGAKUI HAK-HAK MASYARAKAT ADAT DI TANAH PAPUA HARUS DIHENTIKAN.

9. PEMBERIAN PENGHARGAAN LINGKUNGAN KEPADA GUBERNUR PROVINSI PAPUA MERUPAKAN KEPEDULIAN MASYARAKAT INTERNASIONAL PADA UPAYA PELESTRIAN DAN KEBERLANJUTAN MANUSIA & HUTAN PAPUA, KARENA ITU PEMERINTAH PROVINSI PAPUA SEGERA MEREALIASIKAN KEBIJAKAN-KEBIJAKAN YANG SECARA NYATA MENDUKUNG PERLINDUNGAN MANUSIA & PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DI TANAH PAPUA.

10. PELANGGARAN HAK INTELEKTUAL YANG DILAKUKAN OLEH LEMBAGA & PENELITI NASIONAL & INTERNASIONAL ATAS KEKAYAAN FLORA & FAUNA ENDEMIK PAPUA HARUS DIHENTIKAN.

11. MASYARAKAT ADAT PAPUA TELAH MENGALAMI DEPOPULASI YANG SERIUS, KARENA ITU PROGRAM KELUARGA BERENCANA NASIONAL HARUS DIHENTIKAN DAN UPAYA SERIUS PENANGGULANGAN HIV/AIDS, KESEHATAN IBU DAN ANAK, GIZI TERUS DIGALAKKAN SERTA PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN DI TANAH PAPUA.

12. MASYARAKAT ADAT DI TANAH PAPUA PADA BERBAGAI LEVEL & WILAYAH ADATNYA, MELAKUKAN PENGUATAN KAPASITAS STRUKTUR, NILAI & NORMA ADATNYA.

SEGALA KEBIJAKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANG PEMERINTAH YANG TIDAK MENGAKUI DAN MELINDUNGI SERTA BERPIHAK PADA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ADAT DI TANAH PAPUA DALAM SEMANGAT OTONOMI KHUSUS SEGERA DICABUT.

BEKERJALAH BAGI NEGERIMU TERCINTA.
BERSAMA KITA BISA, KITA BISA BERSAMA
SELAMATKAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA
TUHAN MEMBERKATI TANAH PAPUA

BACA TRUZZ...- DEKLARASI KONGRES I - SELAMATKAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA

200 Anak Papua Ditelantarkan di Tangerang

TANGERANG - Sekira 200 anak Papua, yang masih berusia sekolah dikabarkan terlantar di berbagai daerah di wilayah Tangerang. Ratusan anak ini, ditelantarkan begitu saja setelah dibawa dari Papua.

Marsila, salah satu koordinator Bagian Kesehatan Kelompok Kerja Marsila mengaku menemukan satu orang anak Papua bernama Fauzan (12) warga Wamena. Marsila mengaku menemukan Fauzan setelah pihaknya mendapat informasi dari pihak Polsek Ciputat.

"Saya dapat info dari Polsek Ciputat," katanya saat dihubungi ponselnya, Senin ( 16/11/2009).

Saat ditemukan, dia mengaku anak tersebut dalam keadaan sehat dan tidak mengalami gangguan psikologis. Dari pengakuan Fauzan, dirinya bersama 200 anak Papua lainnya dibawa dengan menggunakan pesawat Hercules.

Namun Fauazan tidak mengetahui secara pasti dimana dia bersama yang lainnya diturunkan, dan tiba-tiba ditelantarkan begitu saja. Keterangan yang diperoleh dari Fauzan, menurut Marsila, mereka bertahan hidup di Tangerang dengan cara mencuri.

"Kini anak itu berada di Panti Asuhan di wilayah Pondok Aren," ucapnya.(hri)

----------
sumber : http://news.okezone.com/read/2009/11/17/338/276200/200-anak-papua-ditelantarkan-di-tangerang


BACA TRUZZ...- 200 Anak Papua Ditelantarkan di Tangerang

70 Persen Kecerdasan Anak Papua Alami Keterlambatan

Kamis, Oktober 29, 2009

JAYAPURA-Ketua Tim Studi Keterdidikan Anak Papua dari Lembaga Studi Willi Toisuta dan Associates Jakarta, Eka Simanjuntak, mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Papua terdapat sekitar 70 persen anak-anak Papua (terutama di pedalaman) yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan kognitif (kecerdasan otak)nya. Parahnya lagi, ini banyak terjadi pada anak usia dini.

Menurut Eka, keterlambatan itu disebabkan oleh tiga hal pokok. Pertama, aspek bahasa. Dimana hal itu menjadi masalah karena mereka kesulitan dalam memahami materi pembelajaran yang diajarkan, sebab umumnya untuk berbahasa Indonesia saja pun masih sulit terutama di daerah terpencil.

Permasalahan kedua adalah dalam hal membaca, menulis, dan menggambar. Ketiga ialah perilaku sosial mereka sendiri, yang kenyataannya lebih mementingkan hal lain dibanding harus bersekolah, serta sulitnya wilayah-wilayah yang harus dijangkau dalam pemberian pelayanan itu sendiri.

"Tiga faktor ini yang memberikan kontribusi dalam menghambat perkembangan kognitif anak," ungkap Eka kepada wartawan di sela-sela seminar hasil penelitian tentang keterdidikan anak Papua di Gedung Negara, Jayapura, Rabu (28/10).

Bila kondisi demikian dibiarkan terus menerus, maka ketika mereka masuk sekolah, mereka akan kesulitan mengikuti pembelajaran. "Sehingga antara pendidikan formal sendiri dan kondisi anak yang sebenarnya akan terjadi ketidaknyambungan yang jelas mempengaruhi perkembangan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) peserta didik selannjutnya," terangnya.

Untuk mengatasi hal itu, harus ada kebijakan khusus bagi pendidikan di pedalaman, termasuk bagi tenaga pendidiknya yang harus mengajar secara profesional dan berkualitas disiplin ilmunya, serta punya pengalaman dalam segala hal pendidikan.
"Misalnya kondisi ketika mereka sebelum sekolah itu mendapatkan masalah, lalu saat duduk di kelas 1 dan kelas 2, dan gurunya pun mengajar tidak dengan benar dan berkualitas, akhirnya pada kelas 3 ke atas mulai kelihatan ada murid yang drop out (putus sekolah), tinggal kelas, dan lain-lainnya. Khusus drop out, angkanya sangat tinggi di Papua," tegasnya.

Dijelaskan, persoalan-persoalan itu disebabkan oleh sejak anak itu dalam kandungan ibunya hingga masih berumur balita tidak terurus secara baik dalam hal merangsang perkembangan otaknya dan pemberian gizi yang benar bagi perkembangan otak dan fisik anaknya itu. Dengan kata lain menyangkut pola asuh anak itu sendiri.

"Anak-anak normal yang usia dua tahun harus ngomong atau umur sekian sudah bisa lakukan sesuatu, tapi kenyataannya umumnya anak-anak di Papua ini terutama pedalaman belum dapat melakukan hal-hal itu. Dan ini berpengaruh pada kemampuan dalam menangkap pelajaran di sekolah, bahkan membuat mereka tidak nyaman di dalam belajar. Di sini juga orang tua juga harus dipersiapkan juga untuk tahu bagaimana mendidik anaknya itu," tandasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Papua Drs. James Modouw,M.MT menegaskan, hasil penelitian yang dipaparkan itu sudah jelas mengungkapkan potensi-potensi keterdidikan anak Papua dan hambatan-hambatan apa yang muncul dalam upaya-upaya untuk mengembangkan potensi yang ada.

Hambatan yang paling besar adalah faktor gizi, sehingga menyebabkan anak-anak di Papua mengalami kelemahan-kelemahan dalam kecerdasan otak yang prosentasenya mencapai 70 persen.

"Oleh sebab itu kebijakan Gubernur tentang Respek dan perbaikan gizi ibu dan anak di kampung itu harus ditingkatkan, sebab penelitian ini menunjukkan memang gizi bagi anak dan ibu di kampung ini sangat memprihatinkan," paparnya.

Nah dengan hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk memulai suatu pendekatan basis dalam menyusun program kurikulum lokal sesuai dengan kewenangan Otsus itu sendiri. Karena kurikulum nasional tidak boleh disamaratakan dengan kondisi yang ada di Papua yang tentunya berbeda-beda sifatnya itu.

"Kondisi seperti ini menyebabkan bagaimana proses anak didik dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga anak SD kelas 3 menjadi kurang maksimal, tetapi ini sudah kami intervensi kepada keluarga dan guru yang mengajar agar guru bisa mengetahui apa yang menjadi persoalan anak tersebut. Karena ternyata anak-anak mempunyai permasalahan yang berbeda-beda dalam kecerdasan otak yang dipengaruhi oleh gizi itu," tandasnya.

Dikatakan, kesulitan akses pada daerah terpencil juga merupakan faktor hambatan terhadap potensi keterdidikan anak itu. "Oleh karena itu harus dibuka akses itu dalam rangka komunikasi, sesuai dengan kebijakan gubernur tentang pendidikan jarak jauh. Dan bagaimana memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar mereka memahami tentang pengaturan gizi yang baik, bagaimana ibu hamil dan anak balita," katanya.

Hal ini supaya potensi-potensi keterdidikan anak itu sejak dalam kandungan sudah bisa disiapkan secara optimal hingga melahirkan dan menyusui, dan setelah itu anak tersebut masuk sekolah dan kapasitasnya kecerdasan otaknya sudah terbentuk dan di sekolah tersebut dengan mudah anak bisa belajar, dan mampu berkomunikasi dengan siapapun.

"Ini yang harus kita semua kerja keras. Kerja keras kita bukan hanya persoalan pembangunan dalam rangka pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga persoalan mendasar tentang gizi yang lemah, komunikasi dan informasi yang lemah. Termasuk di dalamnya bagaimana mencerdaskan masyarakat yang masih buta aksara yang perlu diberdayakan supaya mampu mendidik dan mengasuh anaknya dengan baik," tandas Modouw.

Ditambahkan, hasil penelitian ini akan menjadi referensi untuk merubah pendidikan di Papua ke depan, terutama kurikulum secara lokal. "Sekarang kita sudah punya referensi dari mana kita mulai dan bagaimana membuat intervensi-intervensi fokus pada program-program apa yang menonjol dalam pendidikan, dan ini harus dimulai dari PAUD, bahkan keluarga pun harus diintervensi mengenai pendidikan itu," imbuhnya.(nls) (scorpions)
---------------------------
Sumber: Cenderawasihpos.com

BACA TRUZZ...- 70 Persen Kecerdasan Anak Papua Alami Keterlambatan

SMA Adhi Luhur Gelar Presentasi Finalis LMTP se-Nabire

Rabu, Oktober 28, 2009

NABIRE—Kolese Le Cocq d’Armandville, SMA YPPK Adhi Luhur Nabire menggelar presentasi Lomba Mengarang Tingkat Pelajar (LMTP) se-Kabupaten Nabire bagi 16 finalis, 10 orang tingkat SMA/SMK/MA dan 6 orang tingkat SMP/MTs, di ruang Laboratorium Bahasa Adhi Luhur, Selasa, (27/10).

Koordinator umum LMTP SMA/SMK/MA dan SMP/MTs se-Kabupaten Nabire, Valeria Gisela Sepventus Uhing didampingi Marintan Butar-butar mengatakan, jumlah naskah yang masuk pada panitia berjumlah 25, masing-masing 7 naskah dari tingkat pelajar SMP/MTs dan 18 naskah dari tingkat pelajar SMA/SMK/MA. “Jumlah naskah tahun ini (2009) lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,”katanya.

“Para finalis terdiri dari 10 orang tingkat SMA/SMK/MA dan 6 orang SMP/MTs. Mereka adalah 4 orang dari SMA Kristen Anak Panah, 1 orang dari SMA Negeri 3, 2 orang dari Adhi Luhur, 2 orang dari YPK Tabernakel, dan 1 orang dari SMA Negeri 1. Sementara yang dari tingkat SMP/MTs, 5 orang dari SMP Anak Panah, 1 orang dari SMP YPK Tabernakel, dan 1 dari SMP Negeri 2,” kata Valeria.

Katanya, masing-masing peserta diberi waktu 10 menit untuk presentasi naskah dan 10 menit untuk tanya jawab. Dewan juri LMTP adalah Dra. Suarsih Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri I Nabire; Refli Umpel, S.S., M.Pd., guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Kristen Anak Panah Nabire, dan Fr. Harry, S.J. Sub Moderator SMA Adhi Luhur Nabire.

Valeria mengatakan, LMTP ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Bulan Bahasa (Oktober, red) tahun 2009. Tema LMTP tahun ini adalah “Menggali Potensi Kabupaten Nabire” dengan beberapa sub tema, yaitu potensi sumber daya alam, potensi pariwisata, potensi sumber daya manusia, potensi ekonomi, potensi kebudayaan, sosial dan politik, dan potensi lainnya.

“Melalui LMTP ini kami ingin meningkatkan budaya menulis bagi para pelajar SMA/SMK/MA dan SMP/MTs se-Kabupaten Nabire. Selain itu, melalui tema LMTP, kami ingin memberikan kesempatan kepada para pelajar SMA/SMK/MA dan SMP/MTs untuk mengenali potensi yang dimiliki Nabire. Dengan demikian, para pelajar tidak menjadi asing dari potensi yang mereka miliki dan kemudian hari dapat mengembangkan untuk kehidupan mereka, “kata Moderator SMA Adhi Luhur Nabire, Pastor Odemus Bei Witono, S.J.

Dalam sambutan penutupnya, Bei mengatakan, hasil LMTP akan diumumkan pada acara Festival Budaya yang akan diselenggarakan pada 31 Oktober 2009 di halaman Adhi Luhur Nabire. “Festival Budaya Adhi Luhur ini akan hadiri oleh Bupati Nabire sekaligus membuka acara, Dandim, Kapolres, dan beberapa Kepala Dinas dan Kepala Bagian di Nabire dan Dogiyai,” kata Bei.

“Festival Budaya ini adalah acara dua tahunan SMA Adhi Luhur. Seluruh keluarga SMA Adhi Luhur akan memakai pakaian adat dari suku masing-masing. Mereka akan menampilkan, drama, tarian, dan atraksi dari suku masing-masing. Pada acara ini juga akan diluncurkan roket air buatan Adhi Luhur sehingga akan menjadi menarik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kami juga mengajak semua finalis LMTP untuk datang dengan mengenakan pakaian adat,” kata Bei mengajak.

Pater Bei mengatakan, hadiah untuk juara LMTP SMA/SMK/MA dan SMP/MTs masing-masing juara I piala Bupati Nabire, piagam, dan uang pembinaan; juara II piala Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, piagam, dan uang pembinaan; juara III piala KNPI Kabupaten Nabire, piagam, dan uang pembinaan; serta juara harapan uang pembinaan dan piagam. Para finalis yang tidak mendapatkan kesempatan menjadi juara pada LMTP tahun ini akan diberikan piagam penghargaan. (yer)


BACA TRUZZ...- SMA Adhi Luhur Gelar Presentasi Finalis LMTP se-Nabire

Festival Budaya Danau Paniai: “Memperkokoh Identitas Ke-Mee-an Orang Mee di Papua”

Senin, Oktober 19, 2009


Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Paniai bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Paniai, Oxfam GB, dan Gereja Kingmi Papua akan mengadakan Festival Budaya Paniai di pinggir Danau Paniai, Enarotali tanggal 22 s.d. 26 Oktober 2009.

Direktur Yapkema Paniai, Hanok Herison Pigai, S.E. mengatakan, Festival Budaya yang bertema “Berubah untuk Menjadi Kuat” itu akan dihadiri oleh puluhan ribu orang Mee. Festival Budaya tersebut dilaksanakan dalam rangka memperkokoh identitas dan harga diri ke-Mee-an orang Mee di tanah Papua sebagai ciptaan Tuhan yang mulia.

“Nilai-nilai budaya orang Mee saat ini mulai digilas oleh budaya popular. Padahal kebudayaan itukan merupakan cipta rasa dan karsa manusia yang merupakan pemberian Tuhan. Maka, orang Mee harus mempertahankannya sebagai identitas. Kalau kita kehilangan budaya, maka akan digilas zaman,” kata Hanok.

Festival Budaya ini akan menampilkan berbagai lomba, antara lain Totauga, Tupe, Bedouyouga, Gawai, Kaido, Bagaimakido, Mancing, Renang, Dayung, Mengarang, Menggambar, Kampung Bersih, dan lainnya.

Kata Hanok, semua orang Mee mulai dari Mapiha, Kamuu, Wagethe, dan Enarotali akan mengenakan pakaian adat (koteka-moge). Juga, akan mengadakan ibadah KKR dengan menghadirkan 10 pembicara termasuk Pdt. Dr. Benny Giyai (sebagai ketua umum, red).

“Kami menganggap penting untuk melakukan upaya-upaya pemberdayaaan dan pengembangan budaya dan adat Mee untuk tetap menjadi dasar filosofis dan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat Paniai sebagai pedoman berkehidupan sehari-hari,” katanya.

Dari sisi Undang-Undang Otsus Papua, kata Hanok, pelestarian kebudayaan orang Papua adalah satu amanat yang diatur di dalamnya. Pada 43 ayat 2 menyatakan bahwa kewajiban pemerintah Provinsi Papua salah satunya adalah mengakui dan menghormati, melindungi memberdayakan dan mengembangkan hak ulayat masyarakat adat dan hak perorangan para warga masyarakat hukum adat. Selain itu, dalam pasal 57 ayat 1 juga dinyatakan adanya kewajiban bagi pemerintah provinsi Papua untuk melindungi, membina dan mengembangkan kebudayaan asli Papua.

Kekerasan Terhadap Perempuan Bukan Budaya Paniai
Hanok mengatakan, kekerasan terhadap perempuan bukan merupakan budaya Paniai. Pada dasarnya, nilai-nilai dalam budaya Paniai selalu mengajarkan adanya perdamaian, saling menghargai, meghormati dan menjaga antarsesama manusia, tanpa membedakan laki-laki dan perempuan.

Hanok menjelaskan, Yapkema dan Oxfam GB melalui program Raising Her Voice menganggap penting untuk melakukan upaya-upaya pemberdayaaan dan pengembangan budaya dan adat Paniai untuk tetap menjadi dasar filosofis dan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat Paniai sebagai pedoman berkehidupan sehari-hari

“Salah satu pesan penting yang ingin disampaikan dalam Festival Danau Paniai adalah memastikan adanya pemahaman bersama dalam masyarakat Paniai, bahwa kekerasan terhadap perempuan bukanlah bagian dari nilai adat dan budaya Kabupaten Paniai.

Memperkokoh HAM
Menurut Hanok, nilai adat dan budaya Paniai juga memberikan penghormatan dan mendorong diakuinya Hak Asasi Manusia, termasuk di dalamnya Hak Asasi Perempuan. Perempuan hak untuk berpartisipasi dan menyampaikan pendapat, hak untuk hidup, hak memiliki rasa aman, hak mendapatkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang layak.

Katanya, untuk memastikan pemenuhan hak dasar dan HAM, termasuk juga Hak Asasi Perempuan di Kabupaten Paniai, maka perlu adanya kerjasama dan sinergi yang baik antara para tokoh agama, tokoh adat, pemerintah daerah, dan juga LSM lokal maupun internasional serta seluruh elemen masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. (yer)

BACA TRUZZ...- Festival Budaya Danau Paniai: “Memperkokoh Identitas Ke-Mee-an Orang Mee di Papua”

SEGERA TERBIT BUKU “MELANGKAH KE DUNIA LUAS, Impian dan Pergulatan Anak-anak Papua”

Jumat, Oktober 09, 2009

Segera terbit buku berjudul “MELANGKAH KE DUNIA LUAS, Impian dan Pergulatan Anak-anak Papua”. Buku ini ditulis oleh Johannes Supriyono. Dia lahir di Lampung, 25 Desember 1979. Menyelesaikan pendidikan di SMA Xaverius Pringsewu, Lampung (1997) dan di STF Driyarkara, Jakarta (2006), menulis skripsi sekitar pemikiran Roland Barthes tentang semiotika. Sempat belajar menjadi editor di Penerbit Yayasan Cipta Loka Caraka selama satu tahun. Sejak 2007 hingga tahun pertengahan 2009 hidup bersama dengan anak-anak Suku Mee dan Moni di Papua. Buku yang akan diterbitkan segera ini ditulis ketika bersama-sama dengan anak-anak Mee dan Moni di Nabire Papua.

Saat ini, Supriyono mengembangkan Lembaga Pendidikan Papua, Education of Papuans Spirit (LPP, edPapaS). Buku ini terdiri dari 40 kisah yang menggambarkan mimpi dan pergulatan anak-anak Papua. Berikut ini adalah kutipan tiga paragraf pertama dari cerita ke-40 berjudul “A Long, Tiresome Journey”.

Pernah kupikirkan untuk menulis artikel yang lebih serius tentang lahirnya babak intelegensia di Papua. Tidak lama keinginan itu bertahan di benakku. “Kalau kutulis menjadi artikel, sekian banyak nama yang kukenal, anak-anak Papua yang setiap hari kuhadapi, tidak akan muncul, tidak akan disebut. Boleh jadi munculnya nama justeru malah berdaya menggerakkan—bukan hanya nama tapi wajah!”

Melahirkan generasi intelegensia di Papua adalah perjalanan panjang, sangat panjang. Bahkan mungkin akan lebih panjang dari yang selama ini kubayangkan. Mengingat kenyataan betapa kacaunya pendidikan di Papua, bukan tidak mungkin sebagian dari para pemimpi itu akan gugur. Juga karena kondisi kesehatan secara umum belum maju, sebagian lain akan menyerah karena sakit—seperti Robby Tatogo dan Yanto Pigome. Juga karena desakan kemiskinan, akan ada yang terputus di tengah jalan secara menyakitkan seperti Yakobus Wayapa, si penemu setan putih. Mungkin juga akan ada yang tersendat-sendat karena dirintangi oleh malaria seperti Arnoldus Belau, sang penggulat fisika.

Mimpi-mimpi itu bisa pula membusuk dan rontok karena miskinnya teladan dari masyarakat. Banyak yang menempuh jalan pintas untuk mendapat-kan kekuasaan dan uang! Sering sekali mereka kuingatkan, “Jangan jadi koruptor. Sama saja Kau makan orang-orang Papua sendiri!” Entahlah, apakah kata-kata ini akan masih diingat kelak ketika mereka mendapatkan kesempatan dan kekuasaan.

...
Buku ini dapat Anda pesan melalui alamat email:selangkah_kpp@yahoo.com.


BACA TRUZZ...- SEGERA TERBIT BUKU “MELANGKAH KE DUNIA LUAS, Impian dan Pergulatan Anak-anak Papua”

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut