Pemerintah Biayai Siswa, Mulai Dari Ujung Rambut Hingga Kaki

Kamis, April 24, 2008

Manokwari - Sejak dua tahun berjalan ini, Pemerintah Daerah Teluk Bintuni menerapkan program pendidikan gratis, mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga menengah atas (SMA).

Program ini bertujuan untuk merangsang sekaligus mempermudah anak-anak untuk bersekolah. Atau dengan kata lain tak ada istilah, soal ekonomi menjadi ganjalan utama hingga tidak bersekolah.

Hal ini diakui Bupati Teluk Bintuni, drg. Alfons Manibui, DESS. Ia menjelaskan pemerintah daerah tetap memperhatikan sektor inti, salah satunya adalah pendidikan.
Alasan utama hingga diterapkan program ini, jelas bupati, karena pendidikan itu berangkat dari keluarga yang kondusif. “Bagaimana kalo seandainya ekonomi saja sudah terjepit, tapi di sisi lain ada tuntutan untuk bersekolah. Dan ini yang coba kita (pemda,red) untuk menjawabnya,” jelasnya saat ditemui Cahaya Papua, belum lama ini.

Ia menegaskan, program pendidikan gratis ini bukan merupakan sebuah pemanjaan, tapi hanya berbentuk rangsangan. Dan hal ini pada akhirnya akan ditiadakan, jika pendidikan di Bintuni telah berjalan baik.

“Program ini akan berjalan terus, meski siapa yang nantinya menjadi pimpinan di daerah ini. Sebab kalo program ini bagus dan berguna kenapa harus diberhentikan,” jelasnya saat menjawab pertanyaan CP, terkait jaminan jika adanya pergantian pimpinan di Kabupaten Teluk Bintuni.

Bila dilihat, program pendidikan gratis ini sungguh luar biasa. Sebab pemerintah membiayai mulai dari ujung kaki hingga kepala siswa. Dan itu berlaku mulai dari TK hingga SMA. Misalnya, untuk siswa SD, pemerintah memberikan subsidi dana sebesar 1 ½ juta, sedang SMP sebesar 3 ½ juta per tahunnya.

“Ini tidak main-main. Dan sudah menjadi komitmen kita untuk mengangkat sektor pendidikan. Selain itu dana yang dialokasikan untuk pendidikan di Bintuni saat ini mengalami peningkatan, dari sekitar 97 miliar menjadi kurang lebih 120 miliar,” tandas Manibui.
Bupati menjelaskan, selain menerapkan program ini, pihaknya juga menggelar sistem pendidikan berpola asrama. Dan ini sudah mulai dilaksanakan di beberapa titik, seperti di Tanah Merah dan Babo.

“Dengan pola asrama ini, kita (pemerintah) berniat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sebab dengan asrama semuanya akan terpantau,” jelas bupati seraya mencontohkan untuk kelas 1 sampai 3 SD masih berada di rumah (keluarga), tapi menginjak kelas 4 sampai 6 akan masuk ke asrama.(wmr)
---------------------------------------
Sumber:http://cahayapapua.com/?p=274
BACA TRUZZ...- Pemerintah Biayai Siswa, Mulai Dari Ujung Rambut Hingga Kaki

Enam Tahun Otsus

400 Anak Telantar di Wamena

JAYAPURA] Meski otonomi khusus (otsus) Papua sudah berjalan 6 tahun, sekitar 400 anak di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua telantar. Mereka sangat membutuhkan perlindungan, kasih sayang, dan pertolongan. Anak-anak tersebut berasal dari keluarga orang Papua yang mengalami konflik dan perceraian rumah tangga.

"Kini, mereka hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Suka mencuri, mengonsumsi minuman keras, merokok, dan menghirup lem aibon yang sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan tubuh," ujar Koordinator Persekutuan Bangkit Orang-orang Muda (Perbom) Jayawijaya, Enius Wanimbo kepada SP, di Jayapura, Minggu (20/4).

Dia sangat mengharapkan agar semua pihak di Papua termasuk pemerintah kabupaten dan Provinsi Papua menggunakan dana otonomi khusus (otsus) bidang kesejahteraan sosial untuk menyelamatkan mereka melalui pendidikan dan pembinaan. Sebab, kebiasaan buruk itu akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anak-anak tersebut.

Perbom saat ini, tambahnya, sedang menangani 20 anak. Umumnya mereka berusia antara 8-16 tahun. Mereka diberikan pendidikan dalam kategori paket A, B, dan C, sekadar memperkenalkan kepada pengetahuan menulis, membaca, dan berhitung dengan model pendekatan secara rohani.

Selain memberikan pendidikan, anak-anak ini diberikan makan dan minum setiap hari. Namun, untuk kelanjutannya pihaknya sangat kesulitan untuk menyiapkan makan dan minum. Meskipun demikian, Perbom berupaya dengan menjual ternak ataupun menjual hasil kebun sehingga dari sana biayanya dipakai untuk melengkapi kebutuhan anak-anak tersebut.
Diungkapkan pihaknya mendapatkan bantuan tetap setiap bulan Rp 2 juta dari Persekutuan Doa Keluarga Generasi Baru (KGB) Jayapura ditambah bantuan yang sifatnya pribadi dari Ibu Willi yang bekerja pada Mission Aviation Fellowship (MAF) Wamena dengan nilai Rp 2,5 juta per bulan.

Memberi Perhatian
Untuk itu, Wanimbo berharap agar pemerintah kabupaten dan Provinsi Papua dapat memberi perhatian untuk generasi ini karena bila tidak segera diatasi maka dalam rentan 5-10 tahun ke depan generasi muda Papua akan berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Padahal, kita semua tahu ada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua yang diberikan untuk memajukan orang asli Papua.

"Ke manakah dana yang besar itu. Sementara orang asli Papua semakin menderita dan akan punah di atas kekayaan alamnya yang berlimpah. Marilah kita selamatkan anak-anak ini dari kesengsaraan. Menyiapkan masa depan generasi muda Papua yang cemerlang. Pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten Jayawijaya dengan dana otsus harus menyelamatkan mereka," ujarnya. [GAB/W-8]
-------------------------------
Sumber:http://www.suarapem baruan.com/ News/2008/ 04/21/Nusantar/ nus01.htm
BACA TRUZZ...- Enam Tahun Otsus

SISWI BICARA

Senin, April 21, 2008

“Kalau Kartini Masih Hidup, Dia Pasti Sedih"

Nabire (selangkah)—Hari Ulang Tahun (HUT) tahun ini (HUT ke-129), para siswi Kolese Le Cocq d’Armandville SMA Adhi Luhur ikut berkomentar. Kepada Selangkah, Senin, (21/4), beberapa siswi Adhi Luhur berkomentar, seandainya R.A. Kartini masih hidup dan melihat keadaan perempuan Papua, dia pasti sedih.

“Seandainya, Kartini masih hidup dan melihat keadaan perempuan yang masih belum bebas dari perjuangannya, dia pasti sedih. Perempuan, di berbagai sisi masih dililit berbagai persoalan. Lebih banyak persoalan diakibatkan oleh sistem adat,” kata Fitri Apriliyani Tiran, siswi kelas XI.

Katanya, selain sistem adat, juga dipengaruhi oleh aturan-aturan lain yang mengharuskan perempun harus ini dan itu. Sebenarnya, perempuan juga memuyai kemampuan lebih seperti laki-laki. Buktinya, perempuan bisa menjadi presiden, gubernur, bupati, dan lain-lain. Laki-laki masih memandang perempuan sebagai kaum kelas dua.

Di tempat yang sama, Uma Mariani Pekey dan Inna Veronika Uropmabin, mengomentari keprihatinan yang sama. “Dari sisi sistem adat, laki-laki Papua masih menganggap perempuan sebagai kaum yang lemah dan urusannya masih sebatas domestik (rumah tangga). Padahal, perempuan juga bisa melakukan banyak hal di luar dari sekedar dapur.

“Penghargaan dan pengakuan martabat perempuan Papua hingga saat ini masih harus diperjuangkan. Jadi, intinya, perjuangan Kartini belum selesai. Saat ini di Papua masih membutuhkan Kartini-Kartini muda,” katanya.

Kata Uma, Kartini adalah perempuan pejuang. Berkat perjuangannya di masa lalu, kini dapat kita rasakan. Kita (perempuan) bisa sekolah karena perjuangannya. Namun, di sisi lain perjuangan itu terus harus dilanjutkan, karena perempuan Papua, khususnya perempuan Mee dan suku-suku tertentu masih dikungkung oleh sistem adapt cara berpikir laki-laki yang sempit.

“Kebanyakan laki-laki Papua memandang perempuan hanya sebagai penghasil uang, sehingga harga maskawinnya terus meningkat. Bahkan, ada bapak-bapak yang melarang anak perempuan untuk sekolah, walaupun ada keinginan untuk sekolah. Saat ini, laki-laki dan perempuan memunyai hak yang sama untuk berpendidikan tinggi. Sejauh perempuan mampu dan orang tua mampu membiayai, untuk apa larang-larang,” kata Uma.

Kekerasan
Veronika dan Uma mengatakan, perempuan Papua hingga saat ini masih dihantui kekerasan oleh laki-laki (suami).“Laki-laki menganggap, dengan membayar harta maskawin, perempuan itu telah menjadi milik mereka sehingga mereka melakukan apa saja yang diinginkan,” kata Uma.

“Kadang-kadang laki-laki memukul perempuan dengan seenaknya. Mereka menganggap perempuan itu telah dibayar lunas dengan harta maskawin. Padahal, perempuan (istri) adalah pendamping laki-laki memunyai martabat yang sama seperti laki-laki. Selain itu, kalau kita lihat, banyak laki-laki yang ganti-ganti pasangan. Mereka memandang perempuan sebagai kaum lemah yang kapan saja dapat mereka permainkan,” kata Vero.

Fitri mengatakan, ujung tombak kemajuan suatu bangsa tidak hanya terletak pada laki-laki, tetapi juga perempuan. Mendidik dan memperlakukan perempuan sebagai manusia yang memiliki hak-haknya adalah satu langkah untuk kemajuan suatu bangsa. “Peran-peran penting dalam keluarga itukan dilakukan oleh perempuan. Dalam mendidik anak misalnya, perempuan memunyai peranan yang penting dalam mendidik anak. Jika, suami selalu memukul perempuan setiap saat, bagaimana dengan perkembangan anak-anaknya,” kata Fitri.

Terlapas dari kekerasan rumah tangga, Uma dan Vero mengatakan, perempuan Papua di masa lalu juga mengalami kekerasan oleh militer. “Perempuan Papua, khususnya perempuan pedalaman banyak yang mengalami kekerasan oleh militer. Ada yang diperkosa, ada yang dipukuli saat hamil. Jadi, mereka banyak yang mengalami tekanan psikis dan fisik. Namun, hal-hal itu tidak pernah terungkat. Tetapi, hal itu kini sudah mulai berkurang. Muda-mudahan tidak terjadi laki, soalnya tentara dan polisi itukan tugasnya melindungi masyarakat,” kata mereka prihatin.

Mereka berharap, kini zaman telah berubah dan tidak ada alasan lagi untuk perempuan tidak maju. Tidak perlu larangan-larangan yang berlebihan. Tidak perlu juga kekerasan-kekerasan terhadap perempuan. Bila perlu kekerasan terhadap perempuan harus dihapuskan. Karena kekerasan hanya melahirkan trauma bagi perempuan. Kekerasan hanya akan menghambat perempuan untuk berkembang. Laki-laki dan perempuan harus maju bersama-sama dua insan yang memiliki martabat yang sama.

Alvince Mengajar Teman-teman Kelasnya
Peringatan HUT Kartini (21/4) di seluruh Indonesia ditandai dengan berbagai kegaitan, baik kegiatan yang berupa hiburan maupun kegiatan yang berbauh ilmiah.

Siswa SMA Adhi Luhur, kelas XI misalnya, merayakannya dengan agak unik. Unik karena, sebagai penghargaan kepada Kartini, Alvince Wenda siswi kelas XI IPA mengajar teman-teman kelasnya. Tidak hanya di kelasnya, tetapi dia juga mengajar di kelas XI IPS.

Dia menggunakan dua jam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia masing-masing di kelas XI IPA dan IPS. Bahkan, waktu dua jam tidak cukup sehingga Alvincen menyarankan teman-temannya untuk fotokopi materinya. Presentasi berjalan lancar selayaknya seorang ibu guru yang mengajar di depan kelas. Sementara, teman-temannya memerhatikan dengan serius.

Meteri yang diajarkan adalah tentang cara menulis karya ilmiah. Materi tersebut dia dapatkan dari seminar pada beberapa minggu lalu. Beberapa minggu lalu, dia (Alvince) mengikuti seminar sebagai utusan dari sekolah. [Yermias Degei]
BACA TRUZZ...- SISWI BICARA

Nama ‘Papua’ dalam Sejarah

Minggu, April 20, 2008

Sebelum abad VI dan VII sesudah Masehi pulau (Papua) yang terbesar kedua di dunia ini masih belum dikenal oleh dunia. Dunia hanya mengenalnya sebagai sebuah daratan yang tak dikenal (Pigay, 2000:93). Papua dikenal oleh bangsa luar setelah abab VI dan VII sesudah Masehi melalui perdagangan dan pelayaran para pedagang Persia dan Gujarat serta pedagang-pedagang India. Ketika mereka melihat pulau itu menyebutnya dengan Dwi Panta dan juga Samudranta yang artinya Ujung Samudra atau Ujung Lautan. Dua abad kemudian (abad VIII) para pelaut dan pedagang Cina melakukan transaksi dagang. Mereka membeli burung Nuri, Kakaktua, dan burung-burung kuning dengan cara barter berupa Piring, Bangkok Porselin, dan benda-benda lain. Tempat asal rempah-rempah ini oleh pedagang Cina diberi nama Tungki. Pada abad yang sama pelaut Sriwijaya mengenalnya dengan nama Janggi.

Awal abad XVI Masehi (1500-1800) Antonio d’Abrau (d’Arbreu) 1511 dan Francesco Serano 1521 menyebut wilayah besar itu dengan nama “Os Papuas” atau Ilha de Papo Ia. Tahun 1526-1527, Don Jorge de Menetes juga dari Portugis menamakannnya Papua. Nama Papua diketahui dalam catatan harian Antonio Figafetta juru tulis pelayaran Magelhaens yang mengelilingi dunia. Nama Papua diketahui saat ia singgah di Tidore dan saat itulah nama Papua lebih dikenal di seluruh dunia. Dalam bahasa Tidore Papo ua artinya tidak bergabung tetapi dalam bahasa melayu berarti rambut keriting. Pelaut Spanyol Alvaro de Savedra yang tidak bersamaan dengan pelayaran Magelhaens ketika menancapkan jangkar kapalnya di pantau Utara Papua tahun 1528, ia menamai pulau itu Isla del Ora atau Island of Gold yang artinya pulau emas. Pelaut Spanyol lain, Ini Go Oertis de Retes memberikan nama Nueva Guinea (Nova Guinea, bahasa latinnya atau Netherland Nieuw Guinea, diberikan oleh orang Belanda). Ia memberikan nama itu setelah ia melihat penduduknya mirip dengan penduduk Guinea di Afrika Barat (sebuah Negara bekas jajahan Portugis).

Nama Papua dipertahankan hampir dua abad lamanya baru kemudian muncul Nieuw Guinea. Pada abad ke-19 kedua nama ini dikenal secara luas. Para penduduk nusantara mengenal dengan nama Papua, sementara nama Nieuw Guinea terkenal sejak abd ke-16 setelah tampak dipeta dunia (dipakai oleh dunia luar terutama Negara-negara Eropa). Pada tahun 1940-an di kampung Harapan Holandia (sekarang Jayapura) beberapa dewan suku (Frans Kasiepo, Corinus Krey,Yan Waromi) dari sekolah pemerintahan yang didirikan oleh Residen JP Van Eechoud dalam rangka mewujudkan “Papuanisasi” memunculkan ide pergantian nama Papua atau Nieuw Nuinea. Ide tersebut terwujud pada pertemuan kedua di Ifar Gunung Holandia. Mereka memilih sebuah nama yang berasal dari Biak dan nama tersebut diambil dari sebuah mitos Mansren Koreri, yaitu Irian. Dalam bahasa Biak Iri artinya tanah dan An artinya panas, jadi Irian berarti tanah panas (Pigay, 2000:96), namun menurut Koentjaraningrat (1994) Irian (Iryan) berarti “sinar matahari yang menghalau kabut di laut”, sehingga ada harapan bagi para nelayan Biak untuk mencapai tanah dataran seberangnya.

Pada tanggal 16 Juli 1946 nama Irian disosialisasikan di konferensi Malino oleh Frans Kasiepo melalui pidatonya mewakili Papua. Selanjutnya nama Irian dipolitisir lewat para pejuang merah putih seperti Marthen Indey, Silas Papare, dan para Digulis lainya pada masa perjuangan perebutan Papua dari tangan Belanda untuk Ikut Republik Anti Netherland (IRIAN), Muhamd Yamin melalui Pigay, (2000:97), padahal bangsa Papua tidak pernah membenci bangsa manapun. Nama tersebut tidak terkenal di seluruh dunia sekalipun sudah sekian lama dicetuskan oleh para pembela merah putih. Sepanjang Konferensi Meja Mundar hingga penyerahan Papua tetap masih menggunakan West Nieuw Guinea. Nama Irian secara umum digunakan setelah 1 Mei 1963 dengan sebutan Irian Barat. Pada tanggal 1Meret 1973 sesuai dengan peraturan No. 5 tahun 1973 nama Irian Barat resmi diganti oleh Presiden Soeharto dengan nama Irian Jaya. Pergantian tersebut dilakukan bersamaan dengan peresmian eksplorasi PT Freeport yang telah masuk ke Erstberg jauh sebelum UU PMA Nomor 1 tahun 1967 itu disahkan (sebelum Papua sah menjadi bagian dari Indoneia melalui PEPERA 1969).

Dalam perjalanan sejarah selanjutnya dengan berjalannya waktu, masyarakat Papua mulai memahami bahwa nama-nama tersebut menunjukkan sebuah nama yang bermuatan politik. Masyarakat Papua mulai menyadari bahwa nama-nama tersebut bukan berarti konstan dan abadi. Mereka terus mencari sebutan yang benar-benar menunjukkan identitas Papua yang rasional bukan politis. Dengan berjalannya waktu, masyarakat Papua menyadari bahwa nama Papua adalah sebuah nama yang menunjuk pada identitas orang Papua. Namun, antara tahun 1973-2000 nama Papua dilarang digunakan di Papua. Orang yang menggunakannya dianggap Organisasai Papua Merdeka (OPM) sehingga dibunuh atau dipenjara. Setelah melalui masa-masa refresif (tahun 1973-2000), akhirnya pada tanggal 26 Desember 2001 Presiden Abdulrahman Wahid memberikan hadih natal menggantikan Irian Jaya menjadi Papua Barat perjuangan rakyat Papua. [Redaksi]
BACA TRUZZ...- Nama ‘Papua’ dalam Sejarah

3.140 Siswa SMU/SMK Ikut UAN

Rabu, April 16, 2008

SORONG- Sebanyak 3.140 siswa SMU/SMK akan ikut ujian akhir nasional (UAN). Dari total 3.140 siswa tersebut terdiri dari 2.026 siswa SMU/MA dan 1.114 siswa SMK. Sedangkan untuk jumlah peserta UAN tingkat SMP mencapai 3.006 siswa dan untuk siswa SD/MI mencapai 3.269 siswa.

Informasi tersebut seperti yang disampaikan Kepala Dinas P & P Kota Sorong, Dra Hermin S Matandung kepada Radar Sorong di ruang kerjanya kemarin.Dikatakan, jumlah siswa dari tingkat pendidikan baik setara SD, SMP maupun SMU/SMK yang merupakan hasil laporan yang disampaikan oleh sekolah masing-masing baik swasta maupun negeri.

“Data ini kami terima dari sekolah karena kalau tidak ada nomor ujian berarti tidak bisa ujian inikan sudah on line semua,”ujar Hermin.Dijelaskan, jumlah siswa yang mencapai ribuan telah diputuskan berdasarkan data yang diserahkan pada bulan Maret lalu, karena jumlah peserta berkaitan dengan nomor peserta ujian yang diterbitkan secara nasional melalui provinsi. ”Pengajuan dari sekolah nama-nama ujian dari bulan Maret karena nomor peserta ujian yang dikeluarkan sesuaikan dengan jumlah sisiwa yang dinas kabupaten/kota ajukan,”jelas Kadis P & P.

Sedangkan untuk pelaksanaan UAN tingkat SMU/SMK, Hermin menjelaskan dijadwalkan berlangsung selama dua hari mulai pada tanggal 22 April mendatang secara lembaga pihaknya sudah melaksanakan berbagai kesiapaan. Bahkan sampai saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak panitia penyelenggara di tingkat pendidikan masing-masing.

”Mata pelajaran yang diuji dengan baik yang sudah ditentukan oleh pusat disertai dengan pelaksanaan uji kompetensi sesuai jurusan bagi SMK dengan standar kelulusan minimal 5,25 sehingga harus diperhatikan secara serius bagi para sisiwa kelas tiga yang tahun ini mengikuti ujian.
Sedangkan kepada para orang tua agar dapat memberikan perhatian khusus kepada anak agar dapat menyelesaikan ujiannya dengan baik,”harap Kadis P & P.Ditambahkan, mengenai pelaksaan ujian sekolah juga harus diperhatikan karena dalam syarat penentuan kelulusan nilai rata-rata ujian harus mencapai 6,00 bagi ujian tertulis maupun praktek.

Batas minimal penilaian yang ditentukan harus diperhatikan dengan baik karena menyimak pengalaman sebelumnya yang sering terjadi pada siswa yang tidak lulus karena tidak belajar dan mengikuti pelaksanaan ujian dengan baik. (ris)
----------------------------------------------------------------
BACA TRUZZ...- 3.140 Siswa SMU/SMK Ikut UAN

Pendidikan (Papua): Mencerdaskan Kehidupan Bangsa?

Jumat, April 11, 2008

“Pendidikan”. Ya, pendidikan. Itulah sebuah kata yang terus dipekikan seakan sepanjang masa di tanah Papua. Itu wajar. Wajar karena pendidikan tidak akan pernah basi sepanjang manusia masih ada. Juga, lebih-lebih untuk pembangun manusia dan tanah Papua yang konon katanya tertinggal.

Persoalan, apakah memang ‘meninggalkan’ ataukah telah dirusak di masa lalu sehingga hasilnya itu merusak pendidikan masa kini adalah persoalan cara pandang. Setiap orang Papua dan bukan orang Papua yang manusia memunyai pendapatnya sendiri-sendiri. Tidak ada yang salah. Yang jelas, pendidikan itu penting.
Pendidikan itu penting karena dapat membebaskan manusia sekaligus juga dapat membelenggu.
Walaupun kata ‘mem-bebas-kan’ bermakna positif, bagi saya tidak demikian. Pendidikan dapat membebaskan manusia dari segala kekayaan--entah kekayaan apa saja--yang dimilikinya maupun dapat membebaskan untuk menemukan dan memiliki kekayaan yang dimilikinya.

Pendidikan dapat membunuh karakter sehingga masa depan terbunuh dan sekaligus juga dapat membangun karakter sehingga masa depan terbangun. Pendidikan dapat membuat seseorang tidak mengenal tentang dirinya dan dapat membuat seseorang mengenal tentang dirinya. Pendidikan dapat membawa malapetaka besar dan dapat membawa keberuntungan besar. Dalam konteks inipun pendidikan selalu bertujuan baik, katanya.

Tetapi, apakah sebenarnya pendidikan itu? Apakah tujuan yang hendak dicapai oleh institusi pendidikan? Pertanyaan yang berat untuk dijawab. Pertanyaan yang berat untuk ditemukan. Apalagi dalam kondisi kita yang sedang dikejar-kejar untuk memiliki nilai dan ijazah. Apalagi dalam kondisi institusi pendidikan di tanah ini yang tidak ubahnya seperti pencetak mesin ijazah. Dalam kondisi institusi pendidikan kita yang penuh iming-iming--lulus cepat, status setarakan, dapat ijazah, absen longgar, dan sebagainya.

Menjawab dan menemukan kedua pertanyaan di atas, rasanya semakin sulit di saat ini. Setiap orang dan kebanyakan institusi pendidikan kita di tanah ini kering idealisme. Pendidikan berjalan di gelap gulita. Jarang ada, apa yang mau dibangun. Apakah budak atau manusia-manusia yang bebas dan dapat membebaskan dirinya saat ini serta masa depannya --masa depan generasinya dan anak cucunya.

Dalam konteks ‘pendidikan itu penting’ dan lebih-lebih untuk menjawab dan menemukan hakikat pendidikan, kita perlu berkenalan dengan Paulo Freire, Ivan Illik, Ki hajar Dewantoro, Diryarkara, Drost, Mangun Wijaya, dan bahkan Che, Marthen Luther King, Nelson Mandela dan Arnold Ap serta juga Theys Eluay dalam konteks pembebasan yang universal.

Mengenal para tokoh itu dan mengundang mereka di tengah realitas ini, benar-benar menjadi penting. Membiarkan mereka berkata-kata tentang pendidikan. Membiarkan mereka berkata-kata tentang berbagai persoalan sosial ini. Membiarkan mereka protes dan sekaligus membangun. Tatapi, itu mimpi. Itu hanya mimpi di tengah realitas ini. Realitas yang genas dan membunuh. Mereka telah membangun dan kehidupan mereka untuk pembangunan demi keselamatan manusia.

***
Pendidikan yang lebih menyiapkan "buruh" harus direfleksikan bersama para tokoh di atas itu ke arah menyiapkan pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi ini. Karena pola pikir "buruh" lah, segala macam hapalan dijejalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi NILAI dan setelah itu IJAZAH! Ya nilai dan ijazah, ijazah, ijazah yang diperlukan untuk kerja di kantor pemerintah. Menjadi pengusaha adalah status memalukan dari pendidikan ijazah di tanah ini. Itulah potret.
Anak-anak di tanah ini kehilangan kebebasan untuk beridealisme untuk mengubah kondisi tanah Papua yang morat-marit ini. Tidak ada pengajaran tentang hidup dan kehidupan. Masalah sosial dan identitas siswa berada di daerah abu-abu. Siswa harus terpaku pada naskah-naskah absolud dari orang-orang berperadaban tinggi. Entalah.
Negara Indonesia (bukan bangsa Indonesia) memunyai mimpi besar. Mimpi yang harus terus diperjuangkan, yakni mencerdaskan kehidupan negara (maaf saya memakai istilah negara). Pernyataan itu mimpi karena demi idealisme tersebut justru membunuh bangsa lain sehingga idealisme itu masih terus menjadi mimpi hingga saat ini. Mimpi karena mutlak setiap bangsa harus masuk dalam cara dan alam pikiran bangsa yang lebih beradab.
Walaupun demikian, saya tetap setuju dengan pernyataan itu. Setuju dengan menerjemahkannya lagi dalam tataran taktis. Kata mencerdaskan kehidupan bangsa mempunyai tiga makna dasar.
Tentang cerdas. Cerdas itu berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Cerdas bukan berarti hafal seluruh mata pelajaran, tapi kemudian terbengong-bengong saat harus menciptakan solusi bagi kehidupan nyata. Cerdas bermakna kreatif dan inovatif. Cerdas berarti siap mengaplikasikan ilmunya untuk dirinya dan lingkungan yang dia hadapi.
Tentang hidup. Hidup itu adalah rahmat yang diberikan oleh Allah sekaligus ujian dari-Nya. Hidup itu memiliki filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan mati, dan segala perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya.
Ada catatan penting bahwa jasad yang hidup belum tentu memiliki ruh yang hidup—begitu kata para pater, pendeta, haji dan lainnya. Bisa jadi, seseorang masih hidup tapi nurani kehidupannya sudah mati saat dengan santainya dia menganiaya orang lain, saat dia menguras orang (kekayaan) lain, melakukan tindak korupsi, bahkan saat dia merasa bahwa dia adalah yang paling berbudaya dan termodern. Filosofi hidup ini sangat sarat akan makna individualisme yang artinya mengangkat kehidupan seseorang, memanusiakan seorang manusia, memberikannya makanan kehidupan berupa semangat, nilai moral dan tujuan hidup.
Tentang bangsa. Manusia selain sesosok individu, dia juga adalah makhluk sosial. Dia adalah komponen penting dari suatu organisme masyarakat. Sosok individu yang agung, tapi tidak mau menyumbangkan apa-apa bagi masyarakatnya, bukanlah yang diajarkan agama maupun pendidikan.
Setiap individu memuyai kewajiban untuk menyebarkan pengetahuannya kepada masyarakat, berusaha meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitarnya, dan juga berperan aktif dalam dinamika masyarakat.
Siapakah masyarakat yang dimaksud di sini? Masyarakat adalah identitas bangsa yang menjadi ciri suatu masyarakat. Pernyataan ‘bangsa Indonesia’ itu telah mengaburkan bangsa-bangsa yang ada di Indonesia. Lebih-lebih makna orang Papua sebagai bangsa melanesia untuk membangun masa depannya. Nah, kini tantangan untuk membangun manusia Papua yang cerdas untuk hidup dan membuat orang lain (masyarakatnya) hidup dari realitas yang terus membunuh ini adalah tugas kemanusiaan yang berat. Mari membangun pendidikan untuk membebaskan manusia Papua dari realitas yang mematikan ini. [Yermias Degei, Pimpinan Redaksi Majalah Selangkah]
BACA TRUZZ...- Pendidikan (Papua): Mencerdaskan Kehidupan Bangsa?

SMA Adhi Luhur Gelar Open House

Muji Santara: Kegiatan Ini Media Lain Pembelajaran

Nabire (Selanglah)--Kolese Le Cocq d’Armandville SMA Adhi Luhur Nabire menggelar kegiatan Open House (OH), Sabtu, (5/4). Kegiatan OH ini adalah kegiatan tahunan SMA Adhi Luhur yang intinya adalah praktik ekonomi prinsip dagang dan pameran ilmu pengetahuan. Pelaksanaan OH ahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena diadakan juga pameran buku sekitar 6300 judul buku bermutu.
Kegiatan OH dimulai pukul 09.00 WIT dengan upacara singkat yang antara lain adalah laporan ketua panitia dan sambutan singkat kepala SMA Adhi Luhur. Kegiatan OH tampak dipadati para siswa SMA dari sekolah lain seperti SMA Negeri I, SMA YPK, SMK Negeri I dan lainnya serta anak-anak SMP datang secara berkelompok. Terlihat juga para wali murid dan alumni SMA Adhi Luhur di sana.
Kegiatan OH di dalamnya terdiri dari dua kegiatan besar, yaitu praktik ekonomi dagang dan pemeran ilmu pengetahuan. Praktik ekonomi dagang misalnya, siswa SMA Adhi Luhur dibagi dalam 13 kelompok dan mereka membuka warung makan selama sehari. Mereka (para siswa Adhi Luhur: red) menawarkan berbagai menu makanan dan minuman, misalnya nasi ayam, nasi ikan, roti bakar, es kelapa, es buah es jeruk dan lainnya.
Sementara pameran ilmu pengetahuan terlihat beberapa stand, misalnya Stand Geografi, Stand Bahasa Inggris, Stand Jurnalistik, dan pameran buku. Pameran buku, misalnya, beberapa wali murid berkomentar, buku-buku yang dipamerkan benar-benar bermutu.

”Saya merasa seakan-akan mengunjungi pameran buku di Gramedia Jakarta. Buku-bukunya lengkap dan juga bermutu. Ada buku tentang pendidikan, ekonomi, politik, sastra, buku-buku keterampilan. Pokoknya, saya lihat lengkap semua,” kata salah satu wali murid spontan seraya menunjuk ke salah satu buku.

Beberapa mahasiswa Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) justru berharap perpustakaan SMA Adhi dibuka untuk umum. ”Dibuka untuk umum boleh, supaya kami juga datang membaca di sini. Soalnya, kadang-kadang kesulitan mencari sumber bila ada tugas dari kampus,” kata salah satu mahasiswi USWIM di sela-sela OH.

Cikal-Bakal OH
Kegiatan OH di SMA Adhi Luhur bermula dari percikan pertanyaan: Bagaimana pola pendidikan bermutu diterapkan di sekolah-sekolah menengah? Percikan pertanyaan itu muncul karena keprihatinan terhadap mutu pendidikan. Sekolah dicurigai hanya sebagai kios penjual ijazah. Orang tua atau wali murid membayar biaya sekolah untuk mendapatkan ijazah tanpa memedulikan proses belajar mengajar yang menekankan pendidikan anak seutuhnya (PAS).

Penanggung jawab kegiatan OH, Pastor Cristophorus Aria Prabantara, S.J. kepada media ini mengatakan, pendidikan anak seutuhnya (PAS) tidak terletak pada sisi kognitif dan selembar kertas pengakuan kelulusan. Pendidikan yang bermutu senantiasa memerhatikan seluruh isi manusiawi dan proses menuju hasil yang optimal.
”Adhi Luhur mencoba menjawab keprihatinan tersebut antara lain dengan mengadakan pameran pendidikan yang selama ini kami terapkan. Kami hendak memperkenalkan model pendidikan yang menyentuh sebanyak mungkin sisi manusiawi,” kata penanggungjawab kegiatan OH yang sering disapa Pastor Tito itu.
Melalui kegiatan Open House, katanya, ingin mencoba terbuka untuk dikenal dan mengenal. ”Harapannya, kami semakin dikenal sedemikian rupa sehingga orang-orang muda yang tinggal di Nabire tidak ragu untuk masuk mengalami sendiri kegiatan belajar mengajar di SMA Adhi Luhur, tidak takut untuk berkembang di dalamnya,” jelasnya.
Kepala SMA Adhi Luhur, Pastor J. Muji Santara, S.J. menambahkan, kegiatan OH merupakan media lain pembelajaran. ”Kegiatan ini diadakan dalam rangka mengaplikasikan hal-hal yang diperoleh dalam kelas sesuai dengan bidang masing-masing. Juga untuk menemukan relasi antardisiplin ilmu. Sifatnya itu yang lebih bebas, kreatif, dan argumentatif. Pedagang kecil mencari untung dan mengola secara matematis. Itu yang dimaksud argumentatif,” kata Pastor Muji.

Wakil ketua panitia, Trisia Ancelina Tekege siswi kelas XI Wangari Maathai mengatakan, dirinya sebagai panitia awalnya ragu-ragu untuk menyukseskan kegiatan OH, tetapi akhirnya sukses.
”Awalnya, kami bingung, tetapi setelah kami jalani proses ini tidak papa juga. Kami benar-benar dipacu untuk berproses. Kadang-kadang capek tetapi senang juga, karena bisa belajar banyak hal. Bisa belajar berbicara, belajar memimpin, belajar mencari uang, belajar melobi dan lainnya. Pokoknya, banyak hal yang kami dapatkan baik dalam proses persiapannya maupun pada acara puncaknya,” kata Ance dan Donna. (yer)

-----------------------------------------------------------
Keterangan Foto:

Foto 1: Tampak ucapan selamat datang pada kegiatan OH di depan gedung kantor SMA Adhi Luhur (Foto:yeridegei).

Foto 2: Seorang polisi lengkap berpakaian dinas dan beberapa siswa SMP asyik membaca buku di perpustakaan pada pameran buku pada OH SMA Adhi Luhur (Foto:yeridegei).

Foto 3: Salah satu siswa kelas XI IPA Neil Amstrong, Eris S. menjelaskan proses terjadinya gempa bumi kepada para pengunjung OH (Foto:yeridegei).

Foto 4: Tampak beberapa judul buku dari ribuan buku yang dipamerkan pada OH(Foto:yeridegei).
----------------------------------------------------------

BACA TRUZZ...- SMA Adhi Luhur Gelar Open House

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut