TIDAK MENCAIRKAN DANA UNJIAN, SEKOLAH DASAR SE- KABUPATEN DOGIYAI MOGOK BELAJAR-MENGAJAR

Kamis, Mei 19, 2011


Hari ini (19/5) di Dogiyai guru-guru mogok mengajar, hal ini diakibatkan karena pemerintah tidak mencairkan dana Ujian yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu. Dari beberapa sumber (guru,red) yang berhasil dihubungi dikatakan seluruh sekolah yang ada di kabupaten Dogiyai mulai dari Sukikai sampai dengan Ugapuga mogok mengajar. Mogok belajar-mengajar ini adalah atas himbauan dari ketua PGRI Kabupaten Dogiyai Yustinus Agapa. Dikatakan beberapa waktu ke depan mogok belajar-mengajar ini akan berlanjut hingga pemerintah dalam hal ini Dikbudpora Kabupaten Dogiyai mengambil suatu kesepakatan dengan guru-guru.

Anehnya Ujian Nasional yang diselenggarakan beberapa waktu adalah tanpa alokasi dana dari pemerintah setempat. oleh karenanya guru-guru SD yang ada di Dogiyai menunggu sampai tuntutan mereka direalisasi. Tuntutan tersebut pemerintah memberikan siswa/peserta ujian sebesar Rp. 400.000,-/siswa. Jika hal ini tidak direalisasi oleh pemerintah maka Kepala Sekolah dari setiap SD yang ada di Kabupaten Dogiyai akan memberikan kunci sekolah kepada Dinas Pendidikan. Dikatakan hal ini adalah kesepakatan setiap kepala sekolah yang berhasil diputuskan di SD YPPK Moanemani (17/5) lalu.

Hal ini dibantah oleh Kepala Dikbudpora kabupaten Dogiyai Drs. Andreas Yobee, M.Hum., bahwa dana untuk ujian nasional sudah kami cairkan, namun guru-guru tidak mengerti dengan semua yang disampaikan. “kami sudah cairkan dana sebesar Rp. 570.100.000,- dari pos nondik, sebenarnya dana untuk ujian ini digunakan oleh dana otsus, namun karena masih belum disahkan sehingga kami gunakan dana nondik, itupun dipijam dan pos lain dan akan ditutup lagi setelah dana otsus disahkan, kata Andreas Yobee. Guru-guru malah minta tambah karena mereka kira dinas menghabiskan dana untuk ujian, saya kira guru-guru menjelekkan dinas Pendidikan, lanjutnya.

Ketua Lembaga Pendidikan Papua, Longginus Pekei, S.Pd., menyayangkan kejadian ini, karena hal ini merupakan tanggung jawab pemerintah, mogok mengajar yang terjadi ini wajar karena merupakan kelalaian dinas pendidikan setempat dalam mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan masalah yang akan terjadi dan yang jelas akibatnya akan berdampak pada siswa nanti. Ia mengambil contoh pada jumlah kelulusan di Kabupaten Nabire pada tahun ini, di SMA Adhi Luhur 8 orang tidak lulus dan 7 orang diantaranya berasal dari suku Mee, juga jumlah kelulusan SMA lain yang ada di Nabire adalah yang terbanyak berasal dari suku Mee. Kabupaten Dogiyai adalah tempat dimana berasalnya suku Mee, sehingga diharapakan pemerintah perlu mengevaluasi kembali pola belajar-mengajar yang tepat dengan guru-guru. Tidak dicairkannya dana ujian dan kesejahteraan guru tidak diperhatikan itu memang benar, namun guru-guru juga perlu sadar terhadap dampak yang akan terjadi jika mogok belajar-mengajar ini berlarut sampai memakan waktu yang cukup lama. Jelasnya. Siswa yang akan menjadi korban dari semua ini. karena untuk memajukan suatu daerah pendidikanlah yang menjadi tolak ukurnya.

Sementara itu, salah satu guru honorer yang sedang mengabdi juga membenarkan kejadian ini, pemerintah seakan-akan tidak menghargai dengan perjuangan kami, sudah tiga tahun kami masih belum mendapatkankan honor, namun kami masih menjalankan tugas kami sebagai guru honor, karena kami mencintai adik-adik kami. Kata Esebius Anouw. Hal ini diperkuat lagi oleh salah satu kepala sekolah bahwa semua guru honor yang ada di kabupaten Dogiyai masih belum mendapatkan keringat mereka, beberapa orang memang sempat mendapatkan honor tapi itupun dijawab setelah melakukan aksi.

Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap bangsa di dunia. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju atau tidaknya suatu negara di pengaruhi oleh faktor pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat diukur apakah bangsa itu maju atau mundur, karna seperti yang kita ketahui bahwa suatu Pendidikan tentunya akan mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas baik dari segi spritual, intelegensi dan skill dan pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa. Apabila output dari proses pendidikan ini gagal maka sulit dibayangkan bagaimana dapat mencapai kemajuan. Bagi suatu bangsa yang ingin maju, pendidik harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan sama halnya dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Maka tentunya peningkatan mutu pendidikan juga berpengaruh terhadap perkembangan suatu bangsa. (Egeidaby)

0 komentar:

Poskan Komentar

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut