Oktovianus Pogau:Masih SMA Tapi Jadi "Guru" di Pemerintahan

Selasa, September 15, 2009

Zaman sekarang ini, dunia nggak terlalu luas untuk dijelajahi, karna teknologi informasi makin canggih. Meski tekno udah berkembang pesat, ada juga orang yang belon bisa menikmati dan memahami tekno canggih tersebut. Salah satunya internet... Bayangin, di Papua sono, main internet ke warnet aja 1 jamnya bayar 10rebu loh! Puji Tuhan, lagi-lagi ada satu sosok pemuda yang dibangkitkan Tuhan untuk melihat keadaan ini.

Oktavianus Pogau, salah satu teman kita dari Papua yang udah terjun di bidang jurnalistik 'n pernah belajar internet sendiri, punya kerinduan untuk mengajar internet. Meski Okto yatim piatu, namun semangatnya tinggi untuk membangkitkan Papua dari ketertinggalan. Remaja yang duduk di kelas 2 SMA Kristen Anak Panah, Nabire-Papua ini sempat bikin website dan blog untuk pemerintah sekaligus jadi guru di sana. Penasaran ama pengalamannya? Simak obrolan kita bareng Okto!

Sejak kapan kamu tertarik dunia tulis menulis dan media internet?
Aku suka menulis sejak SMP kelas 2, sekitar tahun 2005. Saat itu di sekolah, guru bahasa indonesiaku menunjukkan sebuah berita tentang lumpur lapindo di Porong, Sidoarjo. Beliau meminta murid-murid untuk memberikan tanggapan melalui tulisan. Entah kenapa, waktu itu aku punya banyak gambaran dan pendapat tentang kasus ini. Akhirnya apa yang aku pikirkan aku tuangkan dalam tulisan. Saat guruku baca, dia langsung bilang kalo tulisanku bagus. Sejak itu, aku termotivasi untuk menulis. Kebetulan waktu itu juga, warnet di Nabire baru ada. Nah, begitu denger ada warnet, aku jadi penasaran 'n jadi lebih sering ke sana.

Kabarnya di Nabire, warnet jarang ditemukan. Apa yang bikin kamu terdorong untuk terus belajar internet meskipun sulit?
Sejam main internet, aku harus bayar 10ribu. Padahal, kalo aku main internet bisa berjam-jam. Demi ke warnet, aku sisihkan uang saku. Di Nabire warnet cuma ada satu. Tantangan lain yang aku dapatkan adalah budaya. Banyak orang pelit untuk membagikan ilmu baru, apalagi yang punya gelar. Makanya ilmu pengetahuan di Papua itu mahal. Nggak heran kalo Papua dianggap tertinggal. Dari sinilah muncul motivasiku untuk belajar keras tentang internet, komputer, dan dunia jurnalis. Aku ingin berbagi ilmu membangun Papua untuk lebih maju dan bebas dari ketertinggalan.

Siapa sih yang memotivasi kamu untuk nggak menyerah?

Tuhan Yesus, Pribadi pertama yang sangat memotivasi aku. Yang kedua, diriku sendiri, lalu orang-orang terdekatku. Tiap menghadapi tantangan, aku selalu ngobrol ama Tuhan, supaya Dia tunjukkan apa yang harus aku lakukan. Saat Teduh adalah waktu yang tepat untuk terus minta motivasi dan kehendakNya. Merenungkan FirTu tuh wajib hukumnya. Saat orang lain nggak dukung, aku belajar untuk gak dengerin hal-hal negatif yang bisa melemahkanku. Aku belajar untuk selalu bisa memotivasi diriku sendiri setiap saat.

Siapa sih yang kamu ajari?
Banyak banget! Semua teman-teman yang aku kenal di Nabire, termasuk orang-orang yang lebih tua dariku. Dari mahasiswa sampai pejabat di pemerintahanpun aku ajari main internet dan aku buatkan blog. Selain itu, teman-teman di sekolah dan siapapun yang datang minta tolong, pasti aku ajarin tanpa dipungut biaya. Aku akan ngajarin mereka sampai paham benar, jadi nggak ketinggalan.

Kabarnya kamu juga pernah nulis dan jadi wartawan, juga kolumnis muda beberapa media cetak. Gimana bagi waktu dengan sekolah?
Wah kalo diceritakan satu-satu bisa jadi satu buku ^_^. Aku pernah bikin web untuk ajang kebudayaan Papua secara otodidak. Emang sih sederhana... Puji Tuhan dapat penghargaan dari banyak kalangan termasuk pemerintah Papua. Sampai saat ini, aku aktif memberikan tulisan dan liputan di Papua Pos, Kabar Papua. Aku juga sempat dipercaya jadi editor yang punya kuasa untuk mengijinkan sebuah berita dimuat atau enggak. Puji Tuhan, sekolah nggak terganggu, lancar-lancar aja. Kuncinya, aku bisa atur waktu. Sampe-sampe, 24 jam itu terasa kurang buat aku bekerja, hehehe... Ini semua anugerah Tuhan, sehingga hasil kerja keras itu bisa memberkati banyak orang.

Pesannya buat teman-teman muda se-Indonesia apa nih?

Jangan terpengaruh dengan keadaan dan keterbatasan. Dalam berkarya, nggak harus punya fasilitas lengkap, supaya terlaksana. Yang penting harus punya kemauan keras, tekad, dan selalu ngobrol sama Tuhan. Jadikan keterbatasan sebagai kunci sukses kita! (*/Bb)

Sumber: Renungan Harian BOOM edisi Oktober 2008)


6 komentar:

Markus You mengatakan...

mantap!!!
tp ko jang besar kepala e... soale jln mnuju ke puncak tu kan msh pjg ka ni.. hehehe
klo jaman kk pake mesin ktik, jaman ade dorang pake komputer plus internet....... jadi?

Anonim mengatakan...

aibon papua : dari sebagian yang kamu tulis kayaknya ada perasaan sombongnya dehh.kalau mas kagak yakin coba dibaca ulang tulisannya.
sesuatu yang sudah kita kasih ke orang jangan kita ceritrakan ke orang, karena kalau kita panjang lebarkan mulut kita itu dosa. dan biarlah kebaikanmu itu diketahui oleh TUHAN dan kamu. baik dan tidaknya seseorang, orang tersebut tidak akan menilai diri pribadinya sendiri tetapi akn di lihat oleh orang lain. dari makna ini kamu bisa ngerti kan mas wong ireng yang pangaru ???

Anonim mengatakan...

Ade ko mantap maju trus dan tingkatkan bakatmu ,kak yakin kesuksesan akan berpihak pada orang2 yang sungguh2 dalam mengerjakan sesuatu.

Anonim mengatakan...

Saudara Okto, itu sangat baik untuk pembaharuan di bidang teknologi informasi di Papua, saya sangat mendukung inisiatif dan pelayanan Saudara Pogau. kapan lagi kalau bukan sekarang dan siapa lagi kalau bukan Pogau dan rekan2 yang terjun ke Peranan Media di Papua pada umumnya dan Nabire kususnya. Selamat berkarya, Ugatame menyertai kita.(DONDO)

Anonim mengatakan...

sayua salut dgn anda saudara okto,,,,biarkan org mengkritik anda..org yg bsa mengkritik biasax gk bsa apa2,,,saya yakin bkn maksud anda buat sombongt,,saya yakin anda hxa bermaksud ingin berbagi ilmu dan untuk mendapatkan sesuatu itu butuh kerja keras....bukan untuk menyombong kan diri maju teruzzzz saya sangat mendukung,,,dri sumarna kalimantan tengah BUNTOK....[085249131677 ADA WAKTU HUBUNGI AKU YA]

Auki G. T. mengatakan...

saya mengenal okto pertamakali dalam sebua sesih presentasi finalis lombah mengarang se-kabupaten nabire di asrama taruna karsa nabire. awalnya, kami hanya bercertita hal-hal biasa.

ketika giliran okto tiba, saya menyaksikan sebua presentasi yang hebat. saya kagum dengan presentasi yang dibawakan okto.

setelah itu, kami saling mengenal. perkenalan itu membuat kami menjadi akrap. setiap kali kami bertemu, okto selau menceritakan semua keinginan-keingannya.

waktu pun terus berputar. beriringan dengan itu okto pun mulai membuktikan diri bahwa ia mampu membuktikan keingian-keinginannya itu. ia mulai banyak menulis, menerbitkan majalah sekolah, membuat mahalah dinding sekolah dan berbagai hal lainya.

saya percaya, okto masi punya banyak mimpi yang menungu untuk diwujudkan. saya percaya okto memiliki kemampuan itu.

maju terus mepa, amakanie.....
wa,wa,wa,,,,,,,,,,,,

Posting Komentar

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut