Uskup Timika Resmikan Gereja Katolik Bomomani

Kamis, April 03, 2008

“Ada Tiga Syarat Damai Sejahtera”
NABIRE (selangkah)-Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Phillip ‘Gaiyabi’ Saklil, Pr meresmikan Gereja Katolik St. Maria Menerima Kabar Gembira Paroki Bomomani di Mapia, Minggu (30/3). Bersamaan dengan pemberkatan gereja tersebut, uskup juga meresmikan Asrama Putri St. Angela dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Gereja St. Maria Menerima Kabar Gembira yang diresmikan itu adalah gereja berkontruksi baja pertama di pedalaman Papua, bahkan di kota sekalipun. Kerangka bangunan yang menggunakan baja itu, memiliki 29 tiang induk termasuk tiang lonceng. Gereja yang berpintu induk tiga itu, tingginya 8 meter, panjang x lebar=32x32 meter dan berbentuk salib. Bagian dalam 22x22 meter berbentuk wajik.

Demikian kata Pastor Paroki Bomomani Johan Ferdinand Wijshijer, Pr kepada media ini di sela-sela kesibukan peresmian gereja di Bomomani. Dia menambahkan, harga satu tiang baja 2,5 juta. Sementara itu lulang di bawah tanah 3 meter dan di atas tanah 3 meter. Sementara material seperti batu didatangkan dari stasi-stasi yang jah dari Bomomani kira-kira 5-6 KM. Tenaga untuk pemasangan baja itu didatangkan dari Surabaya.

Dalam laporannya, ketua panitia pembangunan, Gereja Amandus Iyai mengatakan, pembangunan gereja itu menghabiskan dana 2 Miliard lebih. Kata dia, sumbangan awal pembanguan gereja itu sebesar 40 juta dari pastor paroki (Johan Ferdinand Wijshijer, Pr:red) dan dari keluarganya (Ibu dan Bapaknya) sebesar 35 juta. Jadi, dari keluarga pastor paroki berjumlah 75 juta. Sumbangan kedua adalah dari para pengawai di Bomomani sebasar 32 juta lebih.

Dia mengatakan, selain modal awal di atas juga mendapatkan sumbangan dari pemerintah sebasar 75 juta. Sementara material lain seperti batu, kayu dan pasir dari umat setempat. Tetapi kata dia, papan didatangkan dari Nabire oleh pastor paroki.

“Selain modal awal di atas, kami melakukan beberapa usaha. Pertama, kami membuat kelender dan menjual kepada berbagai pihak termasuk kepada umat; kedua, membuat rosario dari biji-bijian yang bahan ada di lingkungan gereja; ketiga, uang dari koperasi; keempat membuat proposal ke berbagai pihak; dan yang kelima kami bersama pastor paroki pergi ke beberapa gereja di Jakarta serta sumbangan suka rela dari berabgai pihak.

Pemberkatan Gereja
Sebelum uapacara (misa) pemberkatan di mulai, kira-kiar pukul 06.30 WIT tiga iman mengadakan pemberkatan 100 lebih babi dan 2 ekor sapi yang siap diptong pada peresmian gereja itu. Beberapa jam kemudian, pada pukul 09.00 WIT umat paroki Bomomani, para tamu dan undangan telah memadati halaman gereja baru. Lonceng dibunyikan bertanda misa pemberkatan gereja akan segera dimulai.

Bersamaan dengan itu, 24 laskar adat (12 laki dan 12 prempuan) yang telah siap dengan busana adat (koteka/bobe moge, anak panah dan peralatan budaya lainnya) waita mengelilingi gereja sebanyak 7 kali. Setelah itu, salah satu tua adat setempat memanah seekor babi yang telah disiapkan di depan gereja. Selanjutnya, uskup membuka pintu gereja dan para (sekitar 6 orang) masuk dan melakukan pemberkatan gereja.

Selanjutnya, seluruh umat disusul masuk ke dalam gereja yang tampak belum berisi apa-apa. Belum ada bangku, belum ada meja altar. Hanya terlihat foto-foto proses pembangunan gereja yang terpampang di dinding gereja dan satu buah salib besar di belakang altar. Uskup serta para imam duduk di atas sebuah bangku yang telah tersedia di altar.

Berkaitan dengan isi gereja yang kosong, ketua panitia pembangunan gereja mengatakan kemampun umat terbatas untuk menyelesaikan itu semua. “Kami sengaja mengadakan peresmian ini walaupun gereja belum selesai. Kami ingin ada perhatian secara serius dari pemerintah dan berbagai pihak untuk melengkapi gereja yang belum berisi. Selama ini, banyak proposal yang masuk di pemerintah Kabupaten Nabire, tetapi pemerintah jarang turun ke lapangan dan melihat mana yang besar, mana benar, dan mana yang penting. Kami ingin pemerintah melihat langsung pembangunan gereja ini,” kata Aman Iyai.

Berita Gembira
Dalam kata-kata pembukaannya, uskup mengatakan, pembangunan gereja kerangka baja ini merupakan berita gembira. “Hari ini kita menerima kabar gembira. Gerej baru ini bisa menjadi tempat yang baik untuk membangun keimanan dan kesejahteraan (kehidupan) yang lebih baik. Gereja ini akan benar-benar menjadi berita gembira apabila dimanfaatkan oleh umat sebagai sarana membangun iman, kata uskup mengajak.

Dengan nada guyonan tetapi serius, uskup mengatakan, Pastor Paroki Bomomani Johan Ferdinand Wijshijer, Pr selalu ingin menjadi orang pertama. Katanya, Ferdinand adalah pastor pertama yang menyetir strda (L200) sendiri ke pedalaman dari Nabire. Dua juga pastor pertama yang menembak sapi dengan senapan angin. Juga dengan pembangunan gereja ini, dia adalah pastor pertama yang membangun gereja dengan baja di pedalaman.

“Ada Tiga Syarat Damai Sejahtera”
Dalam kotbahnya, uskup mengatakan, Yesus setelah bangkit tidak mewariskan babi, uang, atau kekayaan yang lain. Dia (Yesus) hanya mewariskan ‘Damai Sejahtera’. “Apa yang Yesus wariskan setelah Dia bangkit? Dia tidak mewariskan ekina (babi), mege (uang), dan kekayaan yang lain. Dia hanya mewariskan ‘Damai Sejahtera’. Dia mengatakan, ‘Damai Sejatera Ku Tinggalkan Bagimu’.”

Lebih lanjut uskup mengatakan, untuk mencapai ‘damai sejahtera’ yang diwariskan Yesus itu, ada tiga syarat pokok. Syarat pertama, kita harus membaca alkitab dan beribadat. Dia adalah andalam hidup kita, maka kita harus mendekatkan diri kepada-Nya dengan membaca alkitab dan beribadat. Membaca alkitab dan beribadat berarti juga menerapkannya dalam kehidupan nyata. Membaca alkitab dan beribadat harus juga seiring dengan perbuatan dan tindakan kita dalam kehidupan.

Syarat kedua menurut uskup adalah bersatu. “Gereja baja bisa terbangun karena ada persatuan. Karena umat bersatu maka dapat mengangkat batu besar dari jauh untuk pondasi gereja. Hanya dengan persatuan kita bisa melakukan banyak hal yang luar biasa. Persatuan adalah spirit,” kata uskup.

Namun, kata uskup saat ini orang Mee khususnya dan Papua umumnya sedang mengalami krisis persatuan. Tidak ada persatuan. Setiap orang berpikir sendiri dan dikendalikan oleh uang. Uang sedang menghancurkan persatuan dan adat. Dalam dunia politik juga begitu. Katolik makan katolik, protestan sikat protestan, suku makan suku, adik sikat kakak dan sebagainya. Salah satu hal yang membut orang Papua, khususnya orang Mee tidak maju-maju adalah soal persatuan. Sumua orang pintar. Semua orang berbicara. Dalam perkara, misalnya, semua orang berbicara dalam waktu yang bersamaan, lalu siapa yang mendengarkan dan melakukan,” kata uskup.

Syarat ketiga adalah berbagi. Umat pertama dulu, mereka bebagi sesuai dengan keperluannya. Maka kehidupan mereka sejatera. Mereka membagi-bagi roti. Mereka tidak berpikir ‘yang penting saya kenyang’. Kita akan sulit berkembang dan tidak akan menemukan damai sejatera kalau kita terus mementingkan diri kita. Suami harus berbagi dengan istri dan sebaliknya istri dan anak-anaknya. “Menjual tanah adat lalu ke kota habiskan uang dalam jutaan rupiah dalam waktu 1 bulan, tanpa mengingat anak istri. Tidak memikirkan masa depan anak-anak,” katanya.

Lebih jauh dia mengatakan, hal ini tidak hanya masyarakat tetapi juga para pejabat. Para pejabat korupsi uang rakyat. Mereka tidak membagi sesuai dengan porsinya masing-masing. Mereka tidak pernah memilah-milah mana yang merupakan uang rakyat untuk pemberdayaan dan mana yang merupakan uang untuk mereka (para pejabat:red). Katanya, kalau kita tidak memperhatikan ketiga syarat itu dalam kehidupan kita, maka kita todak akan pernah menemukan damai sejahtera yang Yesis wariskan kepada kita umat manusia.

Masih Membutuhkan Bantuan
“Kami masih membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah untuk penyelesaian bangunan gereja ini. Gereja ini masih belum selesai. Kami harus membangun sekitar 30% dari bangunan ini. Belum ada bangku serta segala perlengkapan gereja yang lainnya. Sengaja kami mengadakan peresmian ini karena kemampuan umat sudah sampai di sini. Maka, kami berharap akan ada bantuan untuk penyelesaian gereja ini secara total,” kata ketua panitia peresmian Anakletus Petege.
Sementara itu, Pater Ferdinand mengatakan, pembangunan fisik entah pembangunan apapun termasuk gereja akan berakhir. Namun, pembangunan manusia tidak pernah berakhir. Maka, dirinya membutuhkan dukungan dari masyarakat setempat maupun siapa saja untuk pembangunan manusia pedalaman melalui pendidikan dan pendampigan peningkatan ekonomi rakyat. Hal ini terkait pabrik tahu, PLTA, dan asrama Putri St. Angela yang telah dibangunnya di Bomomani.

Kata dia, dalam etika politik, pemerintah tidak pernah dan tidak bias mensejaterakan rakyat. Pemerintah hanya bisa menyediakan fasilitas untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Maka, untuk mensejahterakan masyarakat pedalaman tugas pemerintah adalah menyediakan fasilitas. (yer/selangkah)
Keterangan Foto
Foto 1: Uskup Mgr. John Philip Gaiyabi Saklil dan para imam berada di depan gereja sesaat sebelum melakukan pemberkatan Gereja St. Maria Menerima Kabar Gembira Paroki Bomomani, Mapia Kabupaten Nabire, Minggu, (30/3).
Foto 2: Uskup Mgr. John Philip Gaiyabi Saklil membuka pintu gereja baru setelah para lascar adat mengelilingi gereja tuju kali.
Foto 3: Para laskar adat sedang mengelilingi gereja tujuh kali dengan tarian adat untuk mengusir roh jahat sebelum melakukan pemberkatan.
Foto 4: Uskup Mgr. John Philip Gaiyabi Saklil Uskup sedang berkotbah. Dia menekankan ada tiga syarat damai sejaterama, yakni membaca kitab suci dan berdia, kedua bersatu dan yang ketiga berbagi.

2 komentar:

Guhn mengatakan...

SECURITY CENTER: Look Please Here

I Komang mengatakan...

Semua KEBOHONGAN DAN KESESATAN ISLAM DIUNGKAPKAN DI BLOG INI -> BLOG MANTAN MUSLIM INDONESIA (klik disini)

Posting Komentar

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut