Ketua DPD RI : Prioritas Peningkatan Kualitas Guru Berjalan Sejajar dengan Kesejahteraannya

Kamis, November 13, 2008

Banyak pakar dari luar negeri berpendapat bahwa untuk memperbaiki keadaan bangsa Indonesia, terdapat tiga langkah utama, antara lain: pertama pendidikan, kedua pendidikan, dan ketiga pendidikan. Artinya, bahwa bila kita ingin mengatasi kondisi buruk bangsa dan negara kita, pendidikan menjadi kunci utama yang amat fundamental, harus diprioritaskan dibenahi dan ditingkatkan. Hal ini dikemukakan Ketua DPD RI, Prof. Dr. Ir. Ginanjar Kartasasmita, menanggapi aspirasi dari delegasi Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Gedung Nusantara III Lantai 8, kompleks parlemen, Senayan – Jakarta, Senin (22/9).

Delegasi dari PGRI, dalam kesempatan tersebut dipimpin oleh ketua umumnya, Dr. Sulistiyo, M.Pd, didampingi Sekretaris Jenderal, H. Sahiri Hermawan, SH, MH bersama Wasesjen PGRI Giat Suwarno. Sementara Ketua DPD RI didampingi oleh Wakil Ketua DPD RI, Irman Gusman, ketua dan wakil ketua Panitia Ad Hoc III, Faisal Mahmud dan Soemardi Taher, serta Sekretaris Jenderal DPD RI, Siti Nurbaya Bakar. Dalam kesempatan itu, Sulistiyo menyampaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan secara umum, terutama yang berkaitan dengan keberadaan guru di seluruh tanah air.

“Sejumlah persoalan yang dihadapi dunia pendidikan dan guru-guru yang perlu mendapatkan perhatian, antara lain: mutu pendidikan yang belum baik; anggaran pendidikan yang masih perlu diperjuangkan dan penggunaan secara efisien dan efektif; kualitas professional guru yang masih rendah, kesejahteraan guru yang masih memprihatinkan, terlebih guru wiyata bakti, guru tidak tetap, dan guru swasta; pemanfaatan organisasi guru yang belum maksimal; berbagai peraturan tentang guru yang belum dijalankan; dan pejabat birokrasi pendidikan di daerah yang belum sesuai dengan kebutuhan, terutama keahlian, komitmen, dan pengembangan karier,” papar Sulistiyo.

Berkenaan dengan masalah-masalah yang dihadapi tersebut, PGRI secara kelembagaan meminta dukungan DPD RI agar bersama-sama mencari solusi dan memperjuangkan perbaikan dunia pendidikan Indonesia, antara lain dengan mendesak Pemerintah merealisasikan anggaran pendidikan 20% yang telah dijanjikan serta penerbitan peraturan pelaksanaan UU Sisdiknas. Mutu pendidikan kita masih jauh dari harapan. Berbagai indikator yang digunakan menunjukkan bahwa dari berbagai sudut, pendidikan kita masih memprihatinkan mutunya. “Berkaitan dengan itu, mohon agar Pemerintah segera menerbitkan Peraturan Pemerintah sebagai penjabaran UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah tentang Guru dan Dosen sebagai implementasi UU Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005,” ujar Sulistiyo.

Merespon hal tersebut, Ginanjar Kartasasmita mengatakan bahwa DPD RI senantiasa mendorong dan sudah melakukan berbagai upaya untuk membenahi pendidikan nasional, termasuk peningkatan profesionalitas dan kesejahteraan guru. “Garis kebijakan DPD RI jelas. Kita sudah sampaikan di depan Sidang Paripurna DPD RI yang mengundang Presiden RI pada tanggal 22 Agustus 2008,” imbuh Ginanjar. Selanjutnya ia memberikan buku kepada setiap delegasi yang berisi pidato ketua DPD RI dalam Sidang Paripurna Khusus tersebut.

“DPD berpendapat bahwa prioritas harus diberikan pada peningkatan kualitas guru, yang berjalan sejajar dengan peningkatan kesejahteraannya. Guru betul-betul harus menjadi profesi yang terhormat, bermartabat dan menjadi ujung tombak pembangunan bangsa,” jelas Ginanjar sambil menunjukkan kalimat-kalimat tersebut di buku pidatonya itu.

Demikian siaran pers yang dikeluarkan secara resmi oleh Bagian Hubungan Antar-Lembaga dan Pemberitaan Sekretariat Jenderal DPD RI. Penanggungjawab A Djunaedi. (DPD RI/WL/rac)


BACA TRUZZ...- Ketua DPD RI : Prioritas Peningkatan Kualitas Guru Berjalan Sejajar dengan Kesejahteraannya

Aksi Damai Mahasiswa Papua Peduli Hidup Sehat

Yogyakarta/Selangkah- Lanjutan dari diskusi pada tanggal 29 September 2008 (dua minggu yang lalu), pada tanggal 6 Oktober 2008 sekitar 100 massa gabungan pelajar dan mahasiswa asal papua yang mengatasnamakan SOLIDARITAS MAHASISWA dan PELAJAR PEDULI HIDUP SEHAT MASYARAKAT PRIBUMI PAPUA kembali mewarnai jalan raya Malioboro, dengan melakukan long march (aksi damai) yang dimulai dari depan hotel INA GARUDA.

Sebagai orang beriman sebelumnya dibuka dengan doa oleh kordinator lapangan Yakobus Wogee dan dilanjutkan dengan long march pada pukul 08.42 WIB dan berakhir di depan perempatan kantor pos sekitar pukul 13.15 WIB. Tidak adanya langkah serius oleh pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Papua, serta Pemerintah kabupaten dari kabupaten Nabire, Dogiai (hasil pemekaran dari kabupaten Nabire, yang diresmikan pada awal bulan juli 2008), dan Paniai menjadi pemicu utama untuk melakukan aksi damai tersebut.

Menurut data korban yang didapat oleh mahasiswa setelah diskusi tanggal 29 September 2008 adalah sebanyak 175 orang dewasa dan anak-anak menurut data SKP keuskupan jayapura & timika dan SINODE GKI, KIGMI Papua, hingga saat ini sudah berjalan selama 7 bulan (terhitung dari 6 April 2008 hingga 6 oktober 2008) dan telah menelan korban jiwa sebanyak 355 orang dewasa dan anak-anak, namun tidak ada langkah-langkah kongkrit yang dijalankan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Profinsi Papua, serta Pemerintah kabupaten setempat.

Bagi kita sebagai pelajar/mahasiwa yang berasal dari ketiga daerah tersebut dan Papua pada umumnya, yang memiliki ikatan batin dengan para korban dan yang masih dirawat di rumah sakit setempat, sehingga kemudian menyikapi sikap apatis Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Papua, dan Pemerintah ketiga Kabupaten tersebut, dengan mengelar aksi damai ini, agar kemudian menjadi bahan kritikan terhadap Pemerintah dan dapat menangapinya dengan menurunkan "Tim guna menanggulangi penyebaran wabah tersebut" yang sedang menyebar kebeberapa distrik, dan kampung-kampung tetangga di Kabupaten Paniai seperti di distrik obano, paniai utara (kebo), komopa, yatamo, dan yang lainnya, dan menyerukan kepada publik melalui media massa bahwa di Papua (Propinsi yang kaya akan hasil alam) ini sedang terjadi korban jiwa akibat WABAH DIARE/KOlERA dimana telah diidentifikasi sebagai "Kejadian Luar Biasa" (KLB).

Dalam aksi damai tersebut menuju titik finish massa aksi juga menyebulkan beberapa yel-yel yang berhubungan dengan tema aksi yaitu "Hidup sehat Bagi Masyarakat Pribumi Papua". Masa aksi juga melakukan orasi-orasi sistematik di beberapa titik, diantaranya depan kantor DPRD Provinsi Daerah Istimewah Yogyakarta, kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, dan berakhir di perempatan kantor Pos Yogyakarta.

Orasi-orasi sistematik yang dipaparkan oleh orator-orator dari solidaritas Mahasiswa asli Papua, dan rekan-rekan Prodem menyebutkan bahwa pemerintah Pusat melalui tanggan-tanggannya yaitu pemerintah daerah tidak aktif melihat segala persoalan-persoalan yang terjadi di dalam masyarakatnya, salah-satunya tentang penanganan kesehatan yang intensif, serta pelayanan kesehatan yang terpadu kepada masyarakat Indonesia secara umum dan masyarakat Papua secara khusus, mereka juga menambahkan bahwa isi UUD 1945 pada pasal 28 h tidak berjalan sesuai dengan yang dicita-citakan oleh UUD 1945. disamping itu massa aksi juga menambahkan bahwa UU No. 21 Tahun 2001 (tentang Otonomi Khusus) tidak berjalan sesuai dengan yang dicita-citakan pula. Hal tersebut dibenarkan karena telah terjadi korban jiwa akibat Wabah Diare/Kolera yang membuktikan bahwa bunyi pasal 59 UU. No. 21 / 2001 tidak terrealisasi, kemudian ada sanggahan juga dari salah satu orator terkait UU. OTSUS bahwasanya UU ini hanyalah simbol yang di berikan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi Papua (dimana pemerintah mengukur segalannya dengan dana OTSUS).

Walaupun dana OTSUS yang dialokasi sebesar 23 Milyar menurut Presiden Republik Indonesia pada pidato kenegaraan, tanggal 17 Agustus 2008 kemarin, namun itu hanya akan memperkaya pejabat-pejabat lokal, dan mempermudah pejabat-pejabat lokal dalam menggalang dana kampanye Bupati pada periode berikutnya, serta akan digunakan pula oleh pejabat-pejabat lokal untuk membentuk wilayah-wilayah administratif yang baru alias pemekaran Kabupaten atau Provinsi, dan memperkaya Pengusaha-pengusaha non-papua yang akan tender proyek-proyek di sana.

Disamping itu, menyangkut kesehatan dan fasilitasnya tidak akan dihiraukannya buktinya hingga saat ini masih saja terdengar berita kematian akibat diare/kolera di kabupaten Nabire, Dogiyai, dan Paniai dari bulan April – hingga saat ini (6 Oktober 2008), dan kasus HIV-AIDS yang hingga saat ini Papua sebagai daerah urutan pertama di Indonesia yang memiliki jumlah pengidap terbanyak/tertinggi yang tidak ditanggani dengan baik oleh pemerintah pusat, serta permasalah-permasalahan kesehatan yang tidak sempat disebutkan di sini, sehingga ada prasangka yang menyebutkan bahwa telah terjadi unsur kesengajaan (pembiaran/apatis) oleh pemerintah karena lambatnya penangganan.

Aksi tersebut diakhiri dengan dengan pembacaan Pernyataan Sikap oleh Juru Bicara SOLIDARITAS PELAJAR MAHASISWA PEDULI HIDUP SEHAT MASYARAKAT PRIBUMI PAPUA (Leczy Degei), bahwasannya TANGGUNG JAWAB UTAMA untuk mengatasi semua persoalan rakyat berada di pundak pemerintah, maka berdasarkan fakta ini, kami menyatakan keprihatinan kami dan meminta kepada Bupati Nabire, Bupati Paniai, Bupati Dogiyai, Gubernur Propinsi Papua, serta Pemerintah Pusat agar:

1. Mengambil Langkah pro aktif segera dengan mengirimkan tim medis ke lapangan untuk melakukan pengobatan bagi masyarakat yang menderita di TKP bencana/wabah tersebut;

2. Melakukan tindakan pemulihan atas segala dampak buruk baik fisik, mental, dan sosial yang ditimbulkan oleh wabah tersebut. Juga tindakan pencegahan, misalnya berupa pelatihan pelatihan SAR kepada Rakyat di ketiga kabupaten supaya apabila terjadi lagi di kemudian hari maka, masyarakat sudah siap untuk menanganinya sendiri;

3. Membangun infrastruktur kesehatan baru di daerah-daerah terpencil di Papua lengkap dengan tambahan tenaga medis, bukan hanya untuk mengatasi penyakit yang sudah ada, tapi juga bersifat pencegahan dengan memberikan pendidikan-pendidikan pola hidup sehat;

4. Tidak menyibukkan diri dengan pemekaran dan jabatan politik semata, melainkan memberikan pelayanan kesehatan bermutu seperti dalam pasal 59 UU No.21/2001 tentang Otsus dan sistem kesehatan pangan yang mendukung terjaminnya gizi yang baik;

5. Mengkaji/menyelidiki mendalam tentang penyebab sesungguhnya dari wabah diare-kolera dan hasilnya diumumkan kepada masyarakat luas agar dapat menghentikan segala praduga dan kecemasan yang sedang berkembang

Aktraksi pembakaran pasungan korban wabah diare/kolera menjadi akhir dari semuanya sebelum ditutup dengan doa. Aksi ini merupakan simbol bahwa kami Pelajar & Mahasiswa Papua khususnya tiga Kabupaten tersebut mewakili Saudara kami, Kakak kami, Bapa kami, Mama kami, Adik kami, Kawan kami yang telah menjadi korban Wabah Kolera/Diare baik yang sedang sakit ataupun yang telah meninggal, TIDAK MAU LAGI MENJADI KORBAN WABAH DIARE/KOLERA, DAN BERHARAP BAHWA INI ADALAH PERISTIWA TERAKHIR YANG TIDAK AKAN LAGI MELANDA DAERAH-DAERAH LAIN, DI DARATAN PAPUA.

Kami juga menyerukan kepada tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, dan tokoh pemuda serta seluruh lapisan masyarakat agar turut mendesak pemerintah agar memenuhi semua tuntutan di atas

"JIKA ADA KORBAN JIWA AKIBAT WABAH DIARE/KOLERA DAN KORBAN JIWA AKIBAT MASALAH KESEHATAN LAINNYA DI KEMUDIAN HARI MAKA KAMI AKAN MENYIKAPI DENGAN AKSI MASA DALAM JUMLAH BESAR, DARI SEBELUMNYA". (Egeidaby/Ego/selangkah).


BACA TRUZZ...- Aksi Damai Mahasiswa Papua Peduli Hidup Sehat

Memahami + Menyikapi + Menyiasati Kehidupan = Pendidikan Mencerdaskan

Oleh Longginus Pekey*)

Pendapat para ahli pendidikan, seperti Paulo Freire dari Amerika Latin dan lainnya menyepakati pendidikan sebagai basis pembebasan dari kebodohan dan keterasingan. Melalui pendidikan orang menjadi kritis memahami, menyikapi dan mensiasati persoalan hidup.

Jika kita sepakat dengan pandangan di atas, kita melihat bagaimana hakekat pendidikan yang seharusnya mencerdaskan, membebaskan masyarakat dari kemiskinan. Kita juga bisa mengukur apakah pelaksanaan pendidikan di Indonesia dan terutama di Papua selama ini setelah Indonesia merdeka 63 tahun dan menguasia Papua selama 45 tahun melihat potre kehidupan Pendudukan asli Papua, sudahkah pendidikan membebaskan rakyat asli Papua seperti dikemukakan para alih pendidikan di atas? lalu bagaiman dengan Paradigma pendidikan? Dan pandangan masyarakat tentang pendidikan, sekolah dan ijazah?

Potret Kehidupan Penduduk Asli Papua

Banyak sekolah telah dibangun, pemerintah tepuk dada atas hal itu, meskipin kenyataan berbicara lain, kecerdasan jauh dari semudah pejabat pemerintah dan birokarisi pendidikan mengucapkannya, bahwa mereka telah membangun pendidikan. Buktinya masih nol besar. Kebanyakan masyaratakat asli Papua belum cerdas mengelolah alam, ekonomi mereka semakin memprihatikan. Mereka menjadi penonton di negerinya. Penduduk asli di alam kaya itu belum tampak tanda-tanda mereka akan sejaterah. Mereka masih tetap miskin dan berbagai penyakit akibat gizi buruk telah mengakhiri nafas ribuan penduduk di Papua.

Mereka nyaris terasing, di pasar tradisional Wamena, Nabire, Timika, Merauke dan lainnya mama-mama asli Papua berjualan di los Pasar. Tetapi, sekarang los pasar sudah dipadati pendatang, pedagang asli umumnya berjualan di telaras pasar atau di emperan toko (Baca: ekspedisi Kompas, 123), mereka tidak ada tempat layak untuk berdagang.

Restoran siap saji, dan warung makan bertebarang tetapi ironisnya sulit mencari orang asli Papua bekerja sentra perekonomian. Mereka (mama-mama) hanya berjualan kebutuhan sehari-hari, seperti sayuran, ubi (ipere:Wamena) dan tidak rutin dilakukan. Jari tangan cukup menghitung orang asli Papua yang bekerja di toko, kios, warung makan, atau toko swalayan. Lebih sulit lagi menemukan orang asli Papua yang memiliki usaha sekelas itu.

Pendatang mejadi aktor ekonomi yang dominan. Menurut ekpedisi Kompas 2007 lalu, dituliskan bahwa warga Bugis, Buton, dan Makasar lebih banyak bergiat di sektor perdagangan sedangkan warga Menado, Toraja, dan Jawa di birokrasi pemerintahan. Orang Papua sendiri hanya di pegawai negeri sipil. Disektor perekonomian orang asli Papua tenggelam.


Alam Menjanjikan

Orang tertarik datang ke Papua, setaip ada kapal dari luar datang ke Papua ribuan orang luar pulau Papua datang untuk mengais hidup disana. Papua sangat menggairahkan. Masa depan menjanjikan. Memiliki lahan luas, kosong, berlimpah kekayaan alam. Menjadi bua bibir, orang ingin datang memperbaiki hidup di sana.

Pendatang cepat sejatera dan menjadi kaya-raya, dari sana mengirim anak-anak mereka bersekolah keluar Papua. Papua hanya menjadi tempat kumpul kekayaan. Setelah mendapat kekayaan ada yang menaruh rumah, mobil dan sebagainya di luar Papua. Sementara mayoritas penduduk asli masi melarat, mengelolah alam Papua dengan sederhana. Menikmati hasil alam sesuai kebutuhan karena bergantung pada alam.

Ada pendapat, bahwa penduduk asli Papua mesti bercermin pada pendatang. Bisa betul, tetapi mesti kita sadar, pendatang bukanlah satu-satunya ukuran kemajuan. Di antara mereka masih ada yang dililiti dan membawa pikiran kolot, apalagi yang hanya berpikir mencari hidup di Papua. Mereka ini tidak akan memberi input kepada penduduk Papua.

Sebagai pendatang kita mestinya berpikir apa yang dapat kita berikan kepada penduduk asli Papua? Tidak mesti kasih materi. Mungkin membagi pengetahuan dan skill. Kehadiran kita jangan memanbah penderitaan penduduk asli dengan menjadikan mereka layaknya seperti budak pememikul beban. Juga dengan meninggikan harga barang dagang berapa kali lipat untuk cari uang semata.

Paradigama yang Belum Membumi

Pedidikan sekolah sentralistik rupanya sebagai alat dogma penguasa, agama, negara sehingga tidak mencerdaskan, masyarakat tetap miskin. Antonio Grasci menilai sekolah seperti ini merupakan lahan subur untuk menanamkan ideologi kekuasaan yang secara berlebihan. Anak-anak dirampas dirampas kemerdekaan cara berpikirnya atau oleh Erich Fromm menyebutnya outomaton, yaitu individu yang bergerak berupa mesin, serba otomatis. Chomsky yang prihatin dengan sistem sekolah yang menjadikan anak sebagai intelektual pengapdisi ideologi penguasa.

Penduduk asli mesti sadar akan ketertinggalan, bukan karena tidak memunyai jiwa maju, bukan juga karena belum disiapkan, tetapi memang tidak disiapkan. Maka orang Papua harus siap, meskipun kendala yang mereka hadapi ada di pendidikan wawasan, karena kirangnya saran informasi dan media-media tempat belajar.

Sekolah selama ini ketat mempraktekan muatan kurikulum pusat kurang mencerdaskan. Masih jauh daripada pengajaran kurikulum kontek lokal di Papua. Sampai sekarang sekolah melakukan penyemaian benih kebergantungan dengan berpegang teguh kepada paradigma industri pemerintah dan kapital. Anak menjadi sebagai bahan mentah yang diisi dogama supaya kelestarian penguasa dan negara terjaga.

Hasil dari pendidikan sekolah seperti itu, orang Papua mulai menyangkal diri, tidak percaya pada tanah mereka (mama/ibu orang Papua) yang subur. Seolah-olah ibu pertiwinya tidak menyediakan kekayaan alam. Mereka relah jual tanah, tidak memiliki usaha, mulai tidak berkebun dan memiliki kebergantungan menjadi kulih pemerintah dan kapitalis di atas tanahnya sendiri.

Kita tidak bermaksut mesalahkan siapa-siapa, sekarang saatnyaorang Papua menyadari dan membangun diri. Karena tidak benar dan tidak boleh menyalakan orang lain. Kemajuan orang Papua ada ditangan mereka, bukan ditangan pendatang ataupun disiapa-siapa, yang lain itu hanya membantu. Tidak seratus persen mengikuti cara orang dari luar Papua ataupun cara pemerintah membangun dengan cara-cara pusat yang selama ini kurang manusiawi. Sehingga yang terjadi adah mengarah kepada suatu kepunahan kultural dan intelektual yang ada di Papua dan harus dikembangkan.

Pendidikan, Sekolah dan Ijazah

Pendidikan sekolah alangkah baiknya dimagnai luas. Tidak cukup hanya kurikulum lokal, lebih dari ini sekolah tidak hanya diruang kelas dengan gedung mewah dan baju seragam mahal, melainkan semua tempat dapat menjadi sekolah, entah di laut, darat, gunung, lembah dll menjadi tempat belajar memahami, mensiasati dan menyikapi hidup sesuai kebutuhan dan persoalan hidup.

Tetapi tidak dapat dipungkiri, masyarakat umunya telah tercandu sekolah sebagai bangunan, buku tulis, baju seragam dll. Bukannya kita menolak semua itu, persoalannya rata-rata penduduk Papua asli kurang memperhatikan kualitas ataupun mutu pendidikan. Apa lagi bagian di pedalamnan sana, merekan beranggap yang penting bisa sekolah, soal nanti jadi apa urusan belakangan. Bukan berarti sekolah tidak penting, sejak dulu orang tahu sekolah telah menjadi wahana yang dipergunakan untuk melangsungkan proses pendidikan (Dr. Mochtar Buchori 1993).

Sekolah belum mencerdaskan siswa dengan memberi pengetahuan dan skill sesuai kebutuhan persoalan hidup yang dihadapi. Ada fenomena, selesai sarjana memilih menjadi ”kuli pemerintah” Tidak dapat berbuat apa-apa. Syukur bila masi mengingat teori, pada hal hidup tidak cukup hanya berteori mencetak penganguran dan satu-satunya jadi kuli pemerintah. Tidak bermasut menolak kuli pemerinah, hanya saja kita akan kerdil kalau tidak mengaplikasikan profesi kita dan yang menjadi idealisme semasa kuliah. Itulah iman tanpa perbuatan sama dengan mati.

Wawasan dan Skill sangatlah penting, tetapi padangan umum sekolah orang berkerucut pada tujuan dapat ijazah. Ijazah bukannya tidak penting. Toh, ijazah asli ataupun palsu tetap merupakan patokan pengakuan menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu. Ukuran prestasi dan syarat cari kerja, karena itu ada anggapan sekolah ditempu melalui cara apa saja yang penting mendapatkan ijazah (Dr. Mochtar Buchori 1993).

Pihak guru dan dosen, dan bahkan orang tua mematovasi agar anak sekolah yang rajin agar cepat selesai, mendapatkan ijazah dan bisa bekerja”. Ijazah dimewahkan. Mereka ingin melihat anak cepat selesai dan menjadi pejabat atapun bekerja dikantor sebagai kuli pemerintahah, mesipun belum tentu cerdas dan hanya jadi pesuruh orang lain.

Motivasi seperi itu penting, tetapi alangkah lebih baik uangkapan berupa motivasi seperti itu dirubah ”sekolah yang rajin biar pintar dan cerdas agar dapat menjadi pribadi yang merubah” atau setelah sekolah anak selesai sangat pantas bertanya ”setelah selesai sekola SMK, STM, SMU, dan setelah jadi sarjana apa yang bisa anak lakukan”? Denga begitu kita menguggat hakekat mereka sekolah, bekal skill dan profesionalistas yang diperoleh dari sekolah.

Pendidikan, sekolah dan ijazah menjadi kesatuan tidak terpisah (Mochtar Buchori1993). Pendidikan dan sekolah sebagai wahana mendapat, menghimpun pengetahuan dan dapat ijazah. Oleh karena itu, semestinya ijazah menjadi ukuran ilmu pengetahuan atas suatu jenjang pendidikan tertentu.

Dalam arti lain, ijazah menjadi tolak ukur dari skill atau kemampuan seseorang. Denga begitu, sangat pantas bertanya setelah selesai sekolah saya dapat buat apa dari bidang ilmu yang telah ditekuni dalam mempertanggun jawabkan gelar yang dimiliki? Pertanyaan itu menantang skill, kerja keras, ketekunan, pengalaman dan fakus doa kita bagi perubahan kearah yang lebih baik, karena kita belajar bukan hanya demi sekolah tetapi demi hidup (Non scolae sed vitae discimus).

*) Ketua Komunitas Pendidikan Papua)

BACA TRUZZ...- Memahami + Menyikapi + Menyiasati Kehidupan = Pendidikan Mencerdaskan

Sang Revolusioner Sejati

Membaca judul di atas saat dalam suasana peringatan hari kembangkitan nasional, mengingatkan kepada tokoh-tokoh heroisme dalam revolusi sejarah Indonesia. Ataupun bagi pejuang kemanusiaan di Papua seperti Arnold. C. Ap, Theys Ellway.

Sejarah masa lalu itu menguak, menggugat pemuda negeri ini, menentukan arah kemerdekaan bangsa, disaat atmosfer kemiskinan, penyakit korupsi meraja dan kepentingan golongan agam memperjuangkan UU Pornografi, Syariah dan dengan kedok menyelamatkan negara, tetapi bisa jadi sebaliknya merong-rong negara berasas Pancasila ini tidak menentu akan dibawah kemana?

Di tepian sudut lain, judul ini agak jadi bombastis, hiperbolah sehingga niscaya saat sekarang membahas revolusi ataupun revolusioner menjadi suram, kabur dan bahkan buruk. Sudah diberi setriotip penghancuran dan pengrusakan. Bahkan juga sampai ada yang takut dengan kata itu. Ada juga yang sampai mengatakan sudah tidak relevan lagi dibahas di Indonesia. Meskipun kebijakan di negara ini berpihak pada industriawan kapitalis; masyarakat tergusur, tanah masyarakat disita, kekayaan alam air, emas menjadi milik negara luar. Reformasi yang bergulis 1998 sepertinya tidak memiliki gigi lagi. Lalua bagaiman bagi masyarakat di Papua yang mungkin sedikit awam dengan kata itu? Apakah revolusi masi konteks untuk dibahas? Kalau masih apa yang orang Papua harus siapkan? Saya yakin, bukan materi yang harus kita siapkan tetapi HATI YANG TULUS UNTUK MEMPERJUANGKAN KEBENARAN! ini menurut saya, kita bisa beda to...

Jiwa Revolusioner

Revolusi atau perubahan dalam waktu yang cepat atas nama rakyat tertindas menjatukan penguasa dan mengganti sistem ketatanegaraan sebagai sumber ketertindasan dan kemelaratan rakyat oleh pemerintah papitalis ataupun diktator dan kolonialisme. Para pemimpin revolusilah yang biasa disebut revolusioner. Dalam arti lebih luas sebagai sebuah istilah atau kontruksi kata ini menunjuk orang yang bertindak melakukan perubaha terhadap keadan yang tidak diterimah.

Revolusioner mirip pejuang, tetapi pejuang saja tidak cukup sangat umum, bisa murtat, menghianati sahabat-sahabatnya. Pejuang layak ditambah sejatinya menjadi perjuang sejati. Pejuaang sejati yang tidak pernah menyerah atas idealisme yang dicita-citakan. Bahkan sampai mati sekalipun ditembak, dipasung dalam penjarah ataupun dieksekusi di depan umum. Itulah seorang revolusioner. Kalau ada penilain berbeda, dipermonggo supaya berdemokrasi to...

Kehadirannya seorang revolusioner dimata penguasa dan kakitangannya dipandang sebagai musuh. Mereka dianggap penghasut, propokator, penyemprot gas beracun kepada masyarkat. Ekstrimya mereka disamakan dengan penjahat yang mesti dieksekusi. Pandangan negatif itu membuktikan ketakutan penguasa, pemilik modal dan kakitangannya kepada seorang revolusioner.

Sosok ini selalu siap berjuang menyadarkan rakyat yang melarat, bawa sistem yang membodohi rakyat adalah musuh rakyat. Memberikan penyadaran, bahwa rakyat tidak layal menerimah pemerintah otoriteritarian yang seolah-olah semua baik, aman, tentram damai menerima status mereka yang miskin, menderita melarat, terlunta-lunta di negeri sendiri sebagai nasib atau kutukan Tuhan.

Ia adalah jiwa yang telah membebaskan diri lebih dahulu dari pikiran kerdil penguasa penjajah untuk memina bobokan dengan iming-iming uang, jabatan, suku, agama. Dia tidak mudah dibeli oleh semua itu. Jiwanya selalu besar, tidak tunduk menyembah pada hal duniawi yang dapat menyesatkan pikiran dan jiwanya menajadi tandus, kerdil, kering dan mati sudah!

Aktivitasnya menarik dan mendatangkan simpati rakyat. Perbuatanya radikal, siap diikuti, dan mengajak rakyat mandiri tidak bergantun pada penguasa yang berupaya menanamkan pikiran kerdil membunuh kemanusian.

Jiwanya yang sejati relah menaru diri pada perjuang kemerdekaan, kebebasan, cintah kasih. Atas dasar ini, seorang revolusioner membangkitkan kesadaran, perlawanan kepada mereka yang bermata dua, pura-pura cinta damai, namun sesungguhnya tidak tulus cintai kemerdekaan, kebebasan, cinta kasih. Tidak pernah dia mengatasnamakan agama, negara dan jabatan. Perjuangannya atas nama kemanusiana.

Pribadi pemberani ini cerdas megerti rantai ketertindasan yang mempertahankan sistem ketidak adil. Karismanya akan membuat masyarakat semakin gelisah, tidak akan tinggal diam dan tidak takut kepada penguasa tangan besi.

Ia adalah seorang motivator yang dapat membangkitkan semangat dan kekuatan masyarakat. Membuat rakyatnya siap dan relah meluapkan keberanian menghadapi panser, tank, militer, pesawat tempur dan militernya. Masyarakat akan melawan, menuntut kebebasan kemerdekaan, perdamaian dan memperjuangkan cintah kasih.

Pribadi ini dikagumi dan tidak takut pada banyaknya tangk, tidak takut pada meriam, pada bedil muliter dan sama sekali tidak takut pada pengucilan, pengusiran, kemunafikan hukum, bahkan tidak takuta pada kematian. Dia pertarukan hidup untuk suatu perubahan menuju kemerdekaan, kedamaian, dan cinta kasih.

Berbalik dari itu, seorang revolusioner takut bila tidak memperjuangnakan kebenaran, keadilan, kejujuran, kemerdekaan, perdamaian dan cintah kasih demi kemanusiaan. Artinya orang ini jiwanya hanya takut kepada kebenaran Tuhan Allah yang mencintai kemanusiaan.

Pribadi seperti ini tidak penyembah agama dan negara yang melakuka tindakan kebiadapan membunuh banyak orang mengatasnamakan negara, kekuasaan dan demi agama Allah. Menurut jiwa seorang revolusioner, Allah tidak bernegara, tidak beragama. Allah hanya berkemanusiaan!

Yesus Revolusiner Sejati?


Pantaskah putra Yusuf tukang kayu dan Maria, yaitu Yesus dari Nazaret sebagi sosok revolusioner? Pertanyaan itu agaknya memicu kontrevesial dari jejeran buku mengenai Yesus, seperti Davici Code terjemahan bahasa Indonesia.

Duduk persolan apakah Yesus yang merubah dunia melalui ajarah cintah dan kasih layak disebut revolusioner? Menurut beberapa pandangan, Yesus tidak pernah berjuangan melakukan revolusi kemerdekaan mengakat nasip rakyatnya yang tertindas di zamannya.

Tetapi dalam kata-kata, ucapan dan perbuatanya namapak ada upaya menentang Romawi, Imam_imam Ahli Taurat dan terutama orang picik hatinya. Namun, nampaknya perjuagnanya dilakukan dengan cintah kasih menentang akar ketertindasan.

Ada tiga akar keterpenjajahan saat Yesus hidup. Pertama kerajana imperium Romawi yang sedang menjajah. Ketika itu masyarakat menderita, pajak sangat tinggi, masyarakat miskin dan melarat, di negerinya sendiri. Penderitana Kedua, Imam-Imam kepala pada saat menjadikan taurat Musa untuk menghukum penduduk setempat. Ketiga, yang paling ditentang adalah kepicikan hati manusia yang percaya politeisme (banyak dewa) dan tidak percaya pada Tuhan.

Sebagai pribadi yang ditentang sekaligus diterima, guru cinta kasih itu tampil di antara ketiga akar keterjajahan saat, namun tidak pernah DIA menempatkan Romawi maupun Imam-Imam Taurat sebagai lawan. Cintah kasih yang dinyatakan lewat tutur kata, perbuatan yang tulus dan muzisat memukau dan telah menarik simpati banyak orang. Janda-janda miskin, penderita cacat dan sebagainya menerima dan mengatakan Yesus sebagai Mesias atau penyelamat.

SANG pembawa kabar gembira bagi semua orang itu, ternyata bagi para-ahli Taurat Musa, Kerajaan Romawi, dan orang picik adalah pribadi yang mengacam kejayaan dan kekuasaan. Meskipun dalam kesetiaannya melayani DIA tidak pernah memilih-milih.

Pelayan setia itu, melayani semua orang dan menjadi teman semua orang tanpa membedakan bangsawan dan rakyat jelata. Kerajaan Romawi dan Imam-Imam Taurat, memberikan gelar di sebaai “Raja Orang Yahudi” itu sebagai penghasut atau provokator, dan bahkan penentang.

Anak tukang Kayu, Yusif itu dipandang musuh, karena ucapannya, dinilai tampak sedang melawanan Romawi dan Alih Taurat serta pribadi manusia yang congkak. Mencermati tutur katanya, Yesus seperti mengajak membangkang terhadap kerajaan Romawidan Imam Taurat.

DIA datang untuk menyelamatkan orang picik. Secara terang-terangan menentang mengajak orang picik untuk bertobat. Meskipun dituduh menentang Romawi dan ajaran tradisi Taurat Musa yang diterapkan sangat kaku oleh Imam-imam kepala. Misalnya menurut turat Musa Orang dilarang bekerja di hari sabat, Yesus malah melakukan mujizat penyembuhan di hari sabat. Melempari orang berzina, Yesus mengatakan siapa yang tidak pernah melakukan dosa boleh melempar dll bisa tambakan sendiri.

Ketika pengikutnya makin banyak, Romawi dan Imam-Imam Taurat semakin ketakutan. Meski tidak ada kesalahan Yesus ditangkap, dengan alasan mengujat pemerintahan dan Imam-imam Taurat. Pribadi yang setia pada kebenaran Allah itu diperlakukan sebagai seorang penjahat. Ini bukti, bahwa penguasa, para alih Taurat, dan orang picik sangat takut terhadap cinta kasih dan kebenaran akan ALLah.

Pribadi yang suka menghibur dan cinta damai, dalam memperjuangan keberanan ILLHI tidak dilakukannya tanpa ada kekerasan, tidak menghendaki pentumpahan dara apa lagi melukai orang lain pun DIA tidak relah.

PRIBADI yang bertentangan dengan para perjuangan revolus denga menghalalkan segalah cara, seperti ayah dari Yudas Iskariot adalah seorang yang mengakat senjata menentang Roamwi dan dia pun mati disalipkan sebagai penjahat.

Sebagai seorang pejuang sejati, PRIBADI yang tabah itu telah memperjuangkan tujuan ILLAHI. Yesus menunjukan keberanianya relah memikul salip tanda penghianata Imam-imam tahuara dan Romawi. PENEYELAMAT jiwa diperlakukan seperti seorang penjahat, mati dipaku dan ditombak di kayu salip.

Dialah seorang revolusioner sejati. Meskipun tidak menumbangkan kerajaan Romawi, tetapi ajaran cinta kasih meradikal dan merubah dunia. Ajarannya meluas, sampai saat ini Yesus dikenang sebagai palawan cinta kasih yang berani merubah dunia.

Reovolusioner sejati ini memberikan harapan dan menjajikan sebuah kehidupan yang lebih tentram dan damai bila mengedepankan cinta kasih dan kebenaran. Sampai saat ini masih tersuarakan, dan akan menjadi abadi dalam sejarah hidup manusia. DIA akan dikenang sepangjang masa.

DIA Petunjuk Jalan


Yesus menujukan suatu jalan menuju revolusi, bahwa revolusi akan terjadi bilah manusia meninggalkan kepicikan bertobat kepada Allah dan melawan anti kemanusiaan dengan rendah hati tanpa kekerasan dengan cinta kasih. Ajaran itu mengispirasi Mahatma Gandhi.

Menurut Stananley Wolpert, dalam karyanya Berjusul Mahatma Gandhi Sang Penakluk Kekerasan Hidup dan Ajarannya, sedikit menguraikan sosok Yesus yang dikagumi Gandhi. Gerakan yang di pimpin Gandhi mengutamakan Ahimasa (menyamakan dengan tanpa Kekerasan), atau dia lebih suka mendefinisikannya sebagai “cinta” dengan Tuhan. Dia juga yakin bahwa “kebenaran (satya) adalah Tuhan,” dan mencurakan hidupnya untuk pencarian passionate.

Passionate Gandhi meliputi tapas yang mengajarkan untuk melupakan ketakutan. Dengan melakukan perjuangan tanpa kekerasan, Mahatma Gandi memimpin rakyat India untuk bebas dari penjajah Inggris. Selain itu, kita kenal Marten Luter Pendeta pemimpin perjuangan tanpa kekerasan menentang rasis di Amerika. Ada Uskup Romero, Bunda Teresia dari Calkuta, sebelum kematinanya telah melakukan karya besar untuk orang miskin, serta Romo Mangun Wijaya dengan karyanya dan sebaganya.

DIA Pangil Nama Saya

Dengar DIA memangil nama saya, juga DIA memangil namamu. Bergiranglah setiap manusia yang Dipanggil oleh NYA. DIA memanggil semua orang, tanpa kenal bangsa, suku, golongan, agama.

Terutama, bergiranglah orang Kristen yang hidup menurut ajaran Kristus guru cinta kasih dan berpegang pada Alkitap sebagai dasar Iman kepada Allah untuk melanjutkan karya penyelamatan yang diwariskan Yesus.

Ingat, kata DIA, JANGAN TAKUT, AKU MENYERTAIMU. DIA menjadi spirit kita mewartakan cinta kasih, memperjuangkan, kemerdekan, kebenaran, dan kemanusiaan. Meskipun tidak mesti seektrim Yesus dan mereka yang disebutkan di atas. Kita terpanggil menajadi penabur benih kebenaran, cinta kasih dan kemanusiaan di dalam keluarga, di dalam menjalankan tugas profesi dan di dalam hidup bertetangga disekitar kita. Amin. (Longgi/Yogya, Bulan Sepuluh, Hari Dua puluh tiga, 2008)


BACA TRUZZ...- Sang Revolusioner Sejati

Patahkan Rebung Bambu, Itulah Kebodohanmu

Bagaimana jika dara muda di zaman ini dipaksa untuk memutuskan pacarnya yang ia cintai dan dipaksa menikah dengan seseorang yang lebih tua dari bapaknya? Kira-kira apa reaksi dara muda itu? Tidak tahu pasti. Tetapi, kemungkinan ada penolakan. Penolakan secara halus atau ekstrim dapat saja terjadi. Penolakan bukan hanya karena dia tua tetapi juga karena tidak ia cintai.

Cara penolakan zaman sekarang dapat dipastikan berbeda dengan zaman dahulu. Di zaman ini pun cara penolakan (terutama reaksi penolakan) gadis dari padalaman Papua tentu berbeda dengan yang kota. Gadis Papua dari suku A berbeda dengan gadis dari suku B. Reaksi penolakan dapat saja dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, lingkungan, keadaan keluarga, budaya, informasi, transportasi dan komunikasi. Ada yang berpendidikan cukup, ada yang membaca saja belum bisa. Ada yang berkecukupan hidup, ada yang makan sehari setengah mati. Ada yang masih dililit budaya patriarkhi dan ada yang tidak. Ada menganggap perempuan adalah manusia robot yang dapat diperintah/dipaksa semau orang tua.

Jika paksaan itu terjadi pada Papuana (16) siswi SMA di Jayapura misalnya, ia pasti meninggalkan rumahnya dan pergi ke temannya. Atau justru dia memencet-mencet HP-nya untuk mengatur rencana kabur ke kota lain bersama pacarnya. Atau mungkin, jika paksaan itu datang dari bapaknya, dapat saja ibunya tidak setuju. “Ini bukan zaman batu. Ini bukan zaman Situ Nurbaya.”Kira-kira begitu kemungkinan respon dara muda zaman ini. Respon penolakan tentu berbeda dengan Melanesiana (16) yang lahir di keluarga yang ayahnya otoriter dan bersamaan itu dihimpit banyak soal (?).

Nah, bagaimana jika dara muda di zaman dahulu kala (ratusan tahun lalu) di daerah pedalaman Nabire (tepatnya suku Mee) dipaksa untuk meninggalkan kekasihnya yang ia cintai dan menikah dengan seseorang yang lebih tua dari bapaknya? Kira-kira apa reaksi dara muda itu? Temukan jawaban dalam carita di bawah ini.

Di daerah pedalaman Nabire, tepatnya daerah suku Mee hidup satu keluarga kecil. Mereka terdiri dari ayah Makidoutouby, ibu Uwodoutoumaga, dan seorang anak perempuan hitam manis bernama Ideidetunai. Keluarga itu hidup di atas tanah mereka. Mereka berkebun, menanam, memanen, masak dan makan bersama. Sesekali, Makidoutouby berburu (membuat jerat) untuk keperluan protein. Untuk keperluan protein dan status sosial, mereka juga beternak babi dan ayam. Alam menyediakan kebutuhan tambahan mereka. Mereka hidup cukup seperti keluarga-keluarga lain di daerah itu. Tanah bagi orang-orang di daerah itu adalah ibu mereka. Kepemilikan tanah secara adat jelas. Jika ada perselisihan, mereka selesaikan secara damai.

Namun, Makidoutouby ayahnya selalu tidak puas dengan apa yang mereka miliki. Makidoutouby selalu mengimpikan banyak mege (kulit krang—alat tukar zaman dulu di suku Mee). Hari berlalu, tahun berganti, Ideidetunai semakin besar. Ia tampak cantik menawan. Dia sudah bisa membantu ibunya bekerja di kebun. Juga, ia membantu ayah dan ibunya memelihara ternak mereka. Sesekali ia membantu ibunya memasak makanan. Ideidetunai adalah anak satu-satunya dalam kekuarga itu. Kini Ideidetunai sudah beranjak remaja. Sebagai dara muda, Ideidetunai menjadi bunga riba. Dia selalu menjadi idaman para pemuda. Secara diam-diam para pemuda bersaing mendapatkan dara muda itu. Ideidetunai justru menaru perhatian kepada seorang pemuda yang rumahnya tidak jauh dari rumah mereka. Pamuda itu bagi Ideidetunai lebih ganteng dan dewasa daripada pemuda lain. Pemuda itu pun memberikan perhatian kepadanya. Sebagai bentuk perhatiannya, sebagian besar hasil buruan (daging) selalu saja diberikan kepada gadis idaman itu. Cinta mereka terus bersemi tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Secara diam-diam mereka menjalin hubungan mereka. Cinta mereka terus bertumbuh. Gadis itu selalu menerima hasil buruan dari kekasihnya dengan senang hati. Dia selalu membawa daging pemberian lelaki itu kepada orang tua. Namun, apa reaksi orang tuanya? Setiap kali membawa daging ke rumah, kedua orang tua selalu menolak dengan mengambil jalan tidak makan. Tetapi, Makidoutouby dan ibunya, Uwodoutoumaga jarang bertanya dari siapa ia (Ideidetunai) mendapatkan daging hasil buruan itu. Melihat anaknya yang beranjak remaja dan cantik, Makidoutouby ayahnya sangat senang. Senang karena anaknya beranjak usia menikah dan dia bisa memaksa menikah semaunya dengan harga mas kawin yang cukup. Makidoutouby tidak peduli apakah anaknya memunyai pemuda idaman atau tidak. Makidoutouby telah lama punya impian untuk memiliki banyak mege dan ternak babi.

Hari terus berlalu, gadis itu tumbuh semakin dewasa. Cinta antara mereka berdua semakin hari semakin bertumbuh kuat. Makidoutouby dan Uwodoutoumaga mendapatkan informasi tentang hubungan putrinya dengan pemuda itu. Beberapa pemuda yang cemburu memberikan informasi itu. Harapan mereka agar ‘bunga’ itu tidak ‘jadi’ dengan pria tersebut. Makidoutouby dan Uwodoutoumaga mendiamkan informasi itu. Secara diam-diam, ayah mengatur strategi untuk meninggalkan kampung itu. Rencananya sudah matang. Tiba-tiba saja Makidoutouby dan Uwodoutoumaga memberi tahu kepada anaknya bahwa hari itu juga mereka akan bepergian ke suatu tempat yang jauh. Bekal perjalanan telah disiapkan secara diam-diam oleh kedua orang tuanya. Gadis itu tidak tahu mereka hendak ke kemana. Ia tidak punya waktu untuk berpamitan dengan pacarnya yang ia cintai. Dara muda itu menolak pergi. Ia tidak mau meninggalkan kekasihnya.

Sebagai tanda penolakan, ia lari bersembunyi, namun dikejar dengan anak panah oleh ayahnya. Ia tidak berkuasa. Ia tidak tahu kekasihnya berada di mana. Mungkin ia berburu atau ke kebun. Tidak ada HP untuk SMS atau menelepon kekasihnya. Tidak ada orang lain yang ia percaya untuk meninggalkan pesan. Gadis itu pasrah. Ia takut panah menembus kulit halusnya dan mencucurkan darah. Ayahnya sudah berwajah ganas. Terpaksa ia harus menyerah. Tampak wajah ibunya mendukung suaminya. Ia menyerah. Dengan air mata berlinang ia meninggalkan belahan jiwanya. Hari sudah beranjak siang mereka pun mulai berangkat. Tidak tahu entah ke mana. Tidak tahu juga kapan mereka akan kembali. Bekal yang disiapkan cukup banyak. Ia tahu saja bahwa perjalanan cukup jauh. Ia memastikan bahkan perjalanan memakan waktu tiga/empat hari.

Dua hari sudah perjalanan mereka. Pada hari ketiga, mereka beristirahat di sebuah bukit yang tinggi sambil makan siang (keladi dan petatas). Dari bukit itu terlihat beberapa gunung menjulang tinggi di atas kampung mereka. Dia membayangkan kekasihnya. Air mata berlinang. Ia tidak tahan melihat gunung itu. Ia membayangkan kekasihnya yang berada di bawah kaki gunung. Air mata tak mampu ia bendung di bawah tekanan ayahnya. Mata membengkak. Tidak ada orang lain, hanya mereka bertiga.

Sebagai seorang gadis yang lahir di kampung yang mengenal berbagai jenis pantun, ia melantunkan sebuah puisi (komauga/gowai). Misounuu koda, nikauwa kodaa’ Anituma ki, ani bageko, sagamo kouka Anagata ko idabeu kosoka, ana dimiko epabeu kosoka, wegenai awena beu kosoka, witokai wagina beu kosoka Okii komaisa badoko beuno Uwepi komaisa aniki kagano aniki sagamo, mapegakatuku Anikika sagamo nakono Kee eteidai, kaawegai koukaa gaitage saisoo Okaikou buguwa wouwi idebonano satuwakumeti Terjemahan bebas: Dari zaman dahulu terdahulu jenisku dan bangsaku perempuan tidak ada ruang untuk memilih Dijodohkan dengan bukan idaman Mau lari tak mampu jua Aku hanya seorang perempuan Ayahku dan ibuku... Patahkan rebung bambu itulah kebodohanmu!

Dua bait puisi tak mampu menembus batu. Puisi itu tak menyentu hati ayah dan ibunya. Gadis itu mengenang kebaikan kekasihnya. Lelaki itu murah hati, dewasa, dan pekerja keras. Bagi ia, laki-laki itu adalah satu-satunya lelaki baginya. Ia tidak pernah membayangkan lelaki lain. Hanya lelaki itu yang mampu mengerti dia. Tapi ia yakin bahwa tidak lama lagi ia akan kembali dan akan menemui kekasihnya. Dalam keyakinan itu ada ketakutan. Dia takut, kekasihnya menikah dengan perempuan lain sewaktu ia dipaksa pergi dengan orang tuanya. Lantas, belum sempat memberi tahu ke ke mana dan kapan ia kemabli. Mereka terus berjalan.

Ini hari ketiga. Gunung-gunung yang menjulang tinggi di kampungnya mulai tidak tampak. Gunung-gunung itu diselimuti awan dan ditutupi oleh pepohonan yang besar. Perjalanan sungguh melelahkan, pada sore hari mereka tiba di sebuah kampung kecil. Gadis itu tidak tahu nama kampung itu, apalagi datang. Orangtuanya tidak pernah cerita tentang kampung itu. Dia juga tidak tahu degan tujuan apa perjalanan itu. Hari menjelang malam, mereka memasuki sebuah rumah. Di rumah itu, ada seorang tete berambut putih. Di halaman rumah terdapat umbi-umbian dan juga banyak sekali ternak babi. Hanya dia seorang diri di rumah itu. Mereka disambut sengan gembira oleh tete itu. Sebagai sambutan, tete itu memotong babi jantangnya yang besar. Mereka bakar batu bersama umbian dan sayuran lainnya. Wajah gadis itu masih murung. Setelah makan malam bersama, lelaki tua itu memberikan setumpuk mege kepada Makidoutouby ayah dara muda itu. Selain itu, ia menyiapkan babi beberapa ekor. Ideidetunai tidak tahu transaksi apa. Proses transaksi telah selesai.

“Ideidetunai, anikika wakakaumigoga kisoka, aweta akiha amaima inai auwaitage. Akiko kii ibokikopa waka otouu: (Ideidetunai, saya datang mengantar kamu supaya menjadi istri tete ini. Saya dan ibu akan kembali besok pagi. Dia sudah memberikan kami uang yang harta yang banyak. Harta sebanyak itu telah lama saya harapkan). Ideidetunai tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya menelan air liur kering. Ia semakin tidak berdaya. Ayahnya mengancam akan membunuh jika tidak turut kehendak ayahnya. Dia menyerah. Hari sudah pagi, ayah dan ibunya mulai menyimpan untuk berangkat. Ideidetunai mengantar kepergian ayah dan ibunya dengan air mata. Mereka menghilang. Kini di rumah itu hanya tete dan Ideidetunai. Ideidetunai meminta tete itu untuk menunjukkan kebun dan ternaknya. “Saya ingin bekerja di kebun dan ingin memberikan makanan ternak milik kita,” kata Ideidetunai. Tete itu tampak senang. “Wah, hebat ya. Baru hari pertama dan belum satu jam, anak itu mulai bertanya kebun dan ternak. Anak itu pasti rajin. Dia cantik. Inilah dambaanku puluhan tahun. Saya tidak rugi membayar dengan harta yang mahal,”pikir tete tua itu.

Ideidetunai yang awalnya berwajah murung itu kini tersenyum. Ia senyum dalam situasi hati yang benar-benar sakit. Ia terus membayangkan kekasihnya yang ada di kampungnya. Kini tete itu yakin bahwa Ideidetunai benar-benar menyukai dia dan dia akan tetap berada di rumah. Ideidetunai telah membangun keyakinan dengan senyum itu. Ia tidak seperti orang yang sedang marah. Beberapa jam kemudian tete itu keluar ke rumah tetangga dengan penuh bangga. Dia telah memiliki istri dara rimba. Hati benar-benar berbunga. Beberapa menit setelah tete itu pergi ke rumah tetangga, gadis itu keluar dan naik ke tebing yang tinggi dan menjatuhkan dirinya hingga tulang-belulang.

Ideidetunai, perempuan malang. Ia malang di zaman dahulu. Ia korban di bawah tekanan dan paksaan ayahnya. Dia korban atas pilihan. Dia memilih dan setia pada pilihannya hingga mengakhiri hidupnya demi pilihannya. Ia kalah zaman. Zaman telah berganti. Namun, di zaman ini pun banyak perempuan remaja seusia Ideidetunai kadang menjadi korban kuasa orang tua. Bahkan ada yang korban himpitan ekonomi keluarga. Ada juga menjadi korban ‘bisnis perempuan’. Tentu masih ada juga yang menjadi korban budayanya. Para korban zaman ini berbeda dengan zaman dahulu. Zaman ini lebih halus dan tampak tidak seekstrim di masa lalu.

Penolakan kadang lebih halus, tetapi juga ada juga yang masih memilih jalan mengakhiri hidup. Ideidetunai adalah pelajaran berharga untuk para orang tua di zaman ini. Cerita ini memberi tahu pentingnya budaya keterbukaan dalam kekluarga. Para ayah, jangan menjadi manusia berkuasa dalam keluarga sehingga harus mengantar anaknya mengakhiri hidup. Para ayah, anak-anak perempuan bukan harta karung. Mereka (perempuan) adalah manusia yang punya martabat dan memunyai hak untuk memilih yang terbaik baginya. Perempuan tahu jika ada yang lebih baik. Memilih yang terbaik adalah karunia Tuhan bagi perempuan. Ideidetunai, perempuan pemenang sekaligus perempuan yang kalah. Ia menang karena ia telah memilih lelaki yang baik untuk hidupnya. Ia telah gunakan karunia memilih. Pilihan dia tepat tetapi ia menjadi perempuan kalah karena kuasa ayahnya. Tapi, yang penting Ideidetunai telah memilih secara bebas dan mati karena pilihan itu. Jika Anda memilih sesuatu dan pilihan itu baik, mengapa Anda harus....? [Yermias Degei].


BACA TRUZZ...- Patahkan Rebung Bambu, Itulah Kebodohanmu

HENTIKAN WABAH DIARE-KOLERA DI NABIRE, PANIAI dan DOGIYAI SEKARANG JUGA!

Selasa, Oktober 07, 2008








MENGATASNAMAKAN ATURAN

Rabu, Juli 30, 2008


Oleh
Ventianus Sarwoyo*)


Sudah menjadi hakikatnya bahwa manusia adalah mahluk sosial (homo socius). Mahluk yang tidak dapat hidup sendirian melainkan membutuhkan kehadiran manusia (orang) lain. Secara singkat dikatakan bahwa manusia senantiasa hidup bermasyarakat. Dalam hidup bermasyarakat itu, manusia tentu memiliki seperangkat norma atau tata krama yang telah disepakati secara bersama-sama dan isinya pun mengatur kehidupan bersama pula.
Berbagai norma yang disepakati secara bersama-sama itu pulalah yang secara umum dan luas kita sebut sebagai aturan. Sebuah pepatah Latin mengatakan “Ubi Societas, Ibi Ius” yang artinya di mana ada masyarakat, di situ harus ada hukum (aturan). Tidak ada masyarakat tanpa hukum/aturan.

Kita mungkin pernah mendengar sebuah slogan singkat yang bunyinya demikian “Aturan untuk Manusia, Bukan Manusia untuk Aturan”. Slogan ini ingin menegaskan bahwa berbagai aturan yang dibuat dan disepakati bersama dalam masyarakat hendaknya mengabdi kepada berbagai kepentingan manusia, bukan malah membuat manusia merasa terbelenggu dan disengsarakan. Hal ini didasari pada kenyataan bahwa manusia sendirilah yang membuat aturan dan aturan yang telah dibuat itu berfungsi untuk menjaga kehidupan bersama warga masyarakat agar menjadi semakin harmonis. Lebih dari itu aturan menjadikan warga masyarakat menjadi semakin manusiawi, yang salah satu indikasinya tampak pada adanya kebebasan pada diri setiap individu yang selalu dibarengi dengan rasa tanggung jawab.

Sebagaimana yang terdapat dalam masyarakat umum, berbagai lembaga atau instansi di negara kita pun memiliki aturannya sendiri-sendiri dalam upaya untuk mewujudkan cita-cita atau tujuannya (atau lebih populer kita sebut sebagai visi-misi). Di sebuah lembaga pendidikan seperti sekolah misalnya, ada aturan main tertentu yang harus ditaati oleh para guru, siswa, pegawai, dan karyawan agar visi-misi yang sudah ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan dapat terwujud. Selain berupaya untuk mewujudkan visi-misi tersebut, terkadang berbagai aturan yang ada di sebuah sekolah juga memiliki kesan supaya ingin tampil beda; ingin menunjukkan identitasnya yang khusus dan khas. Hal ini salah satunya dapat terlihat dengan adanya ketentuan akan pakaian seragam yang harus dipakai siswa maupun guru dan pegawai pada waktu-waktu tertentu.

Kenyataan yang terjadi di masyarakat kita adalah bahwa tidak semua orang dapat mentaati berbagai aturan yang telah disepakati bersama. Dalam kejadian-kejadian seperti ini, kita biasanya menerapkan sistem pemberian sanksi. Di lembaga pendidikan seperti sekolah, hal seperti ini pun sering terjadi. Hanya praktisnya yang selama ini terjadi dalam masyarakat kita khususnya dalam sebuah lembaga pendidikan adalah banyak orang yang terjebak dalam upaya menegakkan aturan itu secara kaku sehingga tidak mampu lagi untuk melihat secara jernih apa yang melatarbelakangi seseorang bertindak seperti itu. Yang ada dalam benak sebagaian warga masyarakat adalah pokoknya kalau ada yang melanggar aturan, mereka itu harus diberi sanksi atau hukuman.

Kasus seperti di atas memang tidak jarang terjadi dalam masyarakat kita apalagi dalam sebuah lembaga pendidikan seperti sekolah. Guru sekian sering memberikan hukuman kepada para siswa yang sering melanggar aturan bahkan hukuman yang diberikan tidak setimpal dengan besarnya kesalahan. Terkadang kesalahan kecil diberi sanksi yang sangat berat. Seperti yang terjadi di SMA N 2 Solo baru-baru ini. Seorang guru memukuli siswanya karena celana seragam abu-abu yang dipakai siswa tersebut tidak sesuai dengan ketentuan sekolah. Siswa itu kemudian dirawat di puskesmas (Harian Jogja, 24 Juli 2008).

Kasus ini sungguh sangat sederhana. Hanya karena tidak seragam saja kok, siswanya sampai dipukul dan dirawat di rumah sakit. Kasus seperti ini memang bukan sesuatu yang baru lagi, tetapi sudah menjadi lagu lama dalam dunia pendidikan kita. Kasus ini tentunya menambah deretan panjang persoalan pendidikan kita. Lebih dari itu juga mencoreng nama baik guru di mata masyarakat.

Pendidikan yang sesungguhnya merupakan sebuah lembaga yang mendidik seseorang agar bisa menjadi lebih manusiawi (memanusiakan manusia) malah menjadi sebuah “kandang hewan” yang sama sekali tidak menghiraukan harkat dan martabat. Lembaga pendidikan yang sesungguhnya mengarahkan peserta didik menjadi seorang pribadi yang bebas dan bertanggung jawab malah menjadi sebuah penjara yang memasung kebebasan dan kekreatifan peserta didik dengan segala perangkat aturan dan sanksi-sanksinya.

Kasus di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak kasus kekerasan di sekolah yang menyebabkan manusia (peserta didik) sendiri yang menjadi korban dari berbagai aturan yang ada. Benar bahwa ketika ada yang bersalah atau melanggar peraturan, orang tersebut harus dikenakan sanksi atau hukuman. Namun tidakkah lebih baik apabila guru atau pihak sekolah menelusuri lebih jauh terlebih dahulu apa yang menjadi penyebab siswa itu melanggar peraturan. Kalaupun memang terbukti bersalah atau melanggar, tidakkah ada alternatif pemberian sanksi atau hukuman lain yang sifatnya lebih mendidik yang memungkinkan siswa itu bisa berubah dan tidak membuat lagi kesalahan yang sama.

Sekolah bukan penjara, bukan pula tempat menjinakkan binatang. Sekolah merupakan tempat memanusiakan manusia. Seharusnya di sekolahlah seseorang harus diperlakukan secara manusiawi; bukan malah di sekolah seseorang (peserta didik) dipasung kebebasannya atau diperlakukan secara tidak manusiawi (misalnya: dipukul, disiksa secara berlebihan). Sudah bukan zamannya lagi sekolah atau para guru menerapkan sistem tangan besi untuk melanggengkan berbagai peraturan yang ada. Angin demokrasi telah lama berhembus. Karena itu segala usulan perbaikan, saran, kritik yang sifatnya membangun dari setiap insan yang peduli akan persoalan pendidikan seharusnya diterima dengan tangan terbuka oleh pihak sekolah dan para guru.

Perlu dicamkan sekali lagi bahwa berbagai peraturan dibuat oleh dan untuk manusia. Janganlah manusia yang harus menjadi korban demi melanggengkan berbagai peraturan itu. Oleh karena itu, peraturan tidak harus diterapkan atau dilaksanakan secara kaku. Peraturan memang perangkat untuk memanusiakan manusia atau membuat seseorang menjadi lebih manusiawi. Tetapi kalau perangkat itu justru membuat manusia menjadi berkurang kadar kemanusiaannya bahkan menjadi semakin tidak manusiawi, kiranya tidak ada jalan lain selain merevisi atau mengubah peraturan-peraturan yang telah ada itu. Selamat mencoba!

*)Mahasiswa PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

BACA TRUZZ...- MENGATASNAMAKAN ATURAN

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut