Kesiapan SDM Papua Dalam Menempuh Jenjang Pendidikan

Kamis, Februari 21, 2008

Oleh Ones Madai*)
Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor yang dominan karena satu-satunya sumberdaya yang memiliki akal, prestasi, perasaan, keinginan, karsa, pengetahuan dan keterampilan. Jadi, pada prinsipnya sumber daya manusia (SDM) adalah satu satunya sumber daya yang sangat menentukan maju mundurnya suatu daerah dalam bidang pendidikan di antaranya, aspek sosial, ekonomi, budaya dan politik.

Dengan melihat perkembangan dunia pada era globalisasi, Papua merupakan salah satu provinsi yang terletak di ufuk timur Indonesia, dengan sumber daya manusia yang relatif rendah dalam kemajuan pengembangan dan pembelajaran pendidikan, dan sumber daya alam (SDA) yang sangat bervariasi seperti, tembaga, emas, perak, dan minyak bumi.

Pendidikan Papua terbagi atas dua kawasan yaitu pendidikan di kawasan pesisir dan pendidikan di kawasan pegunungan tengah. Penulis lebih tendensi ke pengembangan pendidikan di kawasan pegunungan tengah (pedalaman). Khususnya di pegunungan tengah mengalami kendala yang sangat menyedihkan baik dalam fasilitas maupun tenaga pengajar karena masa depan rakyat dan tanah Papua tergantung dari sekarang.

Otonomi Khusus telah berjalan enam tahun, tetapi belum menampakkan wajah perubahan pendidikan di tanah Papua. Jadi, kewenangan pembangunan pendidikan di tanah Papua yang diatur melalui Undang-Undang Otonomi Khusus itu benar-benar harus digunakan untuk membangun rakyat Papua di atas tanah mereka. Karena tenaga pengajar dan fasilitas merupakan sesuatu alat yang dapat mengembangkan sumber daya manusia (SDM).

Secara realitas pendidikan di pegunungan tengah (pedalaman) Papua banyak sekolah yang tidak efektif dalam proses belajar mengajar bahkan gedung sekolah tidak dapat di gunakan untuk belajar karena segala kebutuhan sekolah tidak terpenuhi dan tenaga pengajar kurang (guru). Kondisi demikian apakah sumber daya manusia akan berkembang? Dan yang bertanggung jawab terhadap pendidikan siapa? Apakah pemerintah, masyarakat, atau pihak yang berkewajiban atas berkembangnya pendidikan?

Dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) di pegunungan tengah Papua sangat dibutuhkan tenaga-tenaga pengajar untuk memajukan pendidikan, karena tenaga pengajar memiliki posisi strategis dalam mengembangkan sumberdaya. Artinya, guru memegang peranan penting dalam melakukan aktivitas untuk mencapai suatu tujuan.

Kendala bagi anak anak pedalaman salah satunya adalah aksesibilitasnya, karena aksesnya tidak begitu lancar sehingga siswa yang memunya minat untuk sekolah pun semakin menurun daya semangatnya. Sebenarnya kemauan anak anak pegunungan tengah untuk sekolah sangat tinggi namun menjadi beban adalah aksesnya, karena dari rumah ke sekolah sangat jauh sekitar beberapa kilo meter jalan kaki hingga sampai di sekolah. Sementara sekolah tingkat SMP bisanya terletak di ibu kota distrik yang hanya dijangkau dengan jalan kaki dua atau tiga hari.

Selain itu, pendidikan sangat sulit berkembang karena sebagian dari tenaga pengajar inginnya menetap di perkotaan karena kondisi alam pedalaman sangat mempengaruhi keadaan fisik. Guru adalah pahlawan, karena guru sebagai pahlawan yang menyelamatkan peradaban suatu bangsa dari keterisolasian, keterbelakangan, kesengsaraan dan kebodohan. Guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar. Mengajar dengan mengedepankan profesinya sebagai mata pencaharinnya. Mengajar adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah. Guru mengajar sambil mendidik dan mendidik sambil mengajar. Apalagi membuka pemahaman-pemahaman pada tiap pribadi yang berbeda konsep berpikirnya.

Tingkat intelegensi yang menonjol adalah orang orang dari pedalaman di bandingkan dengan orang orang kota namun sayangnya mereka dapat ilmu dari mana sedangkan tenaga pengajar berkurang dan akibatnya banyak siswa yang tidak ingin sekolah. Suatu hipotesa mengatakan bahwa " Suatu bangsa yang tak mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki bangsanya serta mencurahkan secara efektif untuk kepentingan pembangunan maka bangsa tersebut tidak akan mampu membangun bidang lain" (Tjiptohenyanto, 69).

Hipotesa di atas memberikan gambaran yang jelas arti pentingnya sumber daya manusia bagi suatu bangsa. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini, kita harus cepat-cepat mengenali dan menguasai segala bentuk perubahan, termasuk sumber daya manusia. secara real (nyata) tempat belajar bertambah di daerah pedalaman, misalnya Distrik tigi, kabupaten Paniai dulunya dua SMP namun sekarang bertambah menjadi lima SMP. Menjadi pertanyaan adalah apakah sumberdaya bisa berkembang jika tenaga pengajar berkurang sedangkan infrastruktur meningkat ? Itu sangat tidak mungkin terjadi dalam pengembangan SDM karena yang memajukan sumberdaya adalah tenaga pengajar.

Salah satu input untuk pemerintah daerah adalah khususnya pemda pegunungan tengah mengapa dana dana pendidikan di alokasikan ke tempat lain sedangkan SDM tidak berkembang. Kalau boleh pemerintah harus menyekolahkan anak-anak ke jurusan keguruan dengan biaya pemda agar sumber daya bisa berkembang dan selesai study kembali dan mengabdi di daerah tersebut.Alasan utama orang Papua jarang studi keluar daerah adalah kurangnya sumber daya manusia, sarana dan prasarana. Selain itu, ada hal mendasar lain yaitu, tidak tersedianya studi mendalam selepas SMA. Mengenai sarana dan prasarana yang kurang seharusnya menjadi prioritas utama di samping faktor lain. Faktor lain misalnya, guru sebagai pendidik dan pengajar memiliki arti penting bagi dunia pendidikan. Terutama pendidikan formal.
-------------------------------------------
*) Mahasiswa Jurusan Teknik Planologi pada Institut Teknologi Nasional ( ITN ) Malang.
BACA TRUZZ...- Kesiapan SDM Papua Dalam Menempuh Jenjang Pendidikan

Tidak Mebaca: Apa Kata Dunia?

Kamis, Februari 14, 2008

Yogyakarta (Selangkah)--Judul di atas ini dipilih sebagai tema pada acara pameran buku nasional 2007 yang digelar di gedung Wanita Tama, Yogyakarta yang berlangsung selama seminggu, berakhir tepat pada tanggal 10 Februari lalu. Acara seperti ini bukan hal yang baru, sudah sejak dulu pesta buku ini digelar dan hampir setiap beberapa bulan sekali pamerean buku dan penjualan buku murah diadakan di kota pendidikan Yogayakarta. Diskonnya mencapai 70%, di sana tersedia buku mulai dari harga lima ribu hingga sampai yang berharga ratusan ribu rupiah.

Tema yang ada di atas itu terkesan sangat ringan, namun bukan sesuatu yang kosong. Ada makna pilosofi yang cukup dalam bila kita mau masuk ke dalam dan menyelusuri makna kata ini. Walaupun kata itu terkesan menyerupai iklan wajib pajak ”tidak bayar pajak apa kata dunia” namun di antara kedua itu siapa yang lebih dulu bukan sesuatu yang harus kita perdebatkan. Yang terpenting di sini ada sesuatu yang mau dikomunikasikan pada kita dan seharusnya kita temukan .

Di dalam acara ini juga telah dilakukan berbagai diskusi dan bedah buku, dari jenis novel hingga buku akademik, mengenai agama, sosial dan budaya mistik dan sebagainya. Yang terpenting di sini, melalui diskusi dan bedah buku ini sudah menambah wawasan dan pengetahuan bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan diskusi dan beda buku ini. Nampaknya alasan menambah wasasan, menambah minat baca untuk pencerdasan, yang sepertinya telah menjadi harapan diadakannya pameran buku murah.

Setiap hari dikunjungi oleh ratusan orang, diperkirakan hampir mendekati seribu pengujung setiap hari. Namun selama dua hari pantauan tim dari Selangkah, dari sekian ribuh mahasiwa Papua yang ada di Yogyakarta, hanya nampak beberapa orang saja. Entalah? Mungkin 4 rbuan mahasiswa itu tidak tahu kalau sedang ada pameran buku.

Dari sekian banyak pengujung itu, ada ungkapan dari beberapa pengunjung yang kebetulan berseberangan dengan tim Selangkah mengatakan “pameran kali ini tidak semeria yang kemarin-kemarin” ada beberapa buku yang aku cari tidak dijual di sini, padahal pada acara yang lalu buku tersebut di jual.

Kita kembali kepada tema di atas? Barangkali kalau kita tidak membaca buku dunia akan menertawakan kita? Dunia akan meninggalkan kita, kita menjadi manusia yang paling terlambat, terbelakang dan ketinggalan jauh. Mungkin seperti itu yang mau dikatakan tema di atas kepada kita.

Untuk memahami dunia, berkeliling (mengelilingi) dunia juga dapat di tempu melalui membaca buku, misalnya jika kita ingin tahu tentang Afrika, Amerikan dan sebagainya tidak harus kita datang ke sana, meskipun kita ke sana dan pernah sampai di sana belum tentu mengetahui banyak tentang tempat itu. Tetapi ketika kita membaca buku ataupun peta tentang Afrika dan daerah lainnya justru akan menemukan dan tahu banyak hal. Misalnya juga, kita tidak pernah sampai di Bali, namun kita tahu Bali adalah kota wisata, kita akan tahu hal itu karena terdapat berbagai macam tempat wisata di antaranya Pantai Kuta, Pure Besaki dan sebagainya dengan membaca. Waluapun memang hanya membaca saja rasanya tidak puas, namun yang mau dikatakan di sini dengan membaca kita bisa keliling dunia dan tahu banyak hal.

Berkaitan dengan cara berpikir, membaca satu-satunya cara untuk memperluas wawasan kita. Dengan pengetahuan luas akan membuat wawasan kita semakin luas pula dan akan sangat membantu untuk memahami orang dari suku bangsa, agama lain. Sekalipun kita belum pernah bertemu dan saling menyapa. Melalui membaca kita akan mengetahui kebiasaan dan apa yang mereka yakini dan apa yang dapat menyinggung perasaan mereka, dari situ kita akan semakin menghormati dan menghargai mereka sebagai manusia yang sama dengan kita.

Memacu Minat Baca
Kegiatan ini tentu akan membatu menanamkan minat baca masyarakat. Paling tidak membuat masyarakat mencintai buku. Kita berharap untuk memacu minat baca orang Papua, akan bermunculan penerbitan dan percetakan buku di Papua. Tetapi yang lebih penting, untuk meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan masyarakat Papua sudah adakah upaya pemerintah daerah untuk mengampanyekan pentingnya membaca, menulis dan budaya bersikusi di Papua? Ini belum nampak, walaupun ada namun masih kurang.

Bukan hanya sekedar kampanye, tetapi bila belajar dari daerah lain sudakah pemerinah dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) pihak gereja dan sebagainya yang ada di Papua melakukan upaya untuk merangsang minat membaca masyarakat. Misalnya dengan mendirikan perpustakaan anak-anak, remaja dan umum serta melengkapinya dengan buku-buku bacaan, ataupun menggelar perlombahan menulis karya Ilmiah, puisi, cerpen dan juga kursus jurnalitik bagi kalangan umum.

Kegiatan seperti ini seharunya diprogramkan dalam anggaran APBD yang bernilai miliaran rupiah itu. Bila pemerintah sulit melakukannya, seharunya pemerintah bisa percayakan kepada lembaga ataupun intansi terkait yang secara serius menangani upaya-upaya soal pengembangan minat membaca dan menulis bagi masyarakat sebagai bagian dari upaya pencerdasan dan mengurangi angka buta huruf yang ternyata mendapat urutan paling atas di Papua. [Long/selangkah]
BACA TRUZZ...- Tidak Mebaca: Apa Kata Dunia?

Papua Membutuhkan Skill, Bukan Ijazah

Yogyakarta (Selangkah)-- Membaca, berdikusi dan menulis adalah sebuah spirit yang seharusnya dimiliki dan dijiwai oleh mahasiswa pada umumnya dan khusnya mahasiswa Papua yang belajar di Papua maupun yang belajar di luar Papua, seperti di Makasar, Jawa dan Bali dan sebagainnya.

Spirit ini telah mendorong sekelompok anak-anak Papua yang tergaung dalam komunitas Pendidikan Papua (KPP) di Yogyakarta untuk memrogramkan kegiatan diskusi rutin setiap hari selasa sore jam 15:30 WIB, di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Hampir setelah kurang lebih satu setengah bulan lebih sejak pertengahan Desember 2007 hingga bulan awal Februari 2008 mereka berlibur, karena sibuk merayakan natal dan tahun baru. Ada yang pulang kampung berliburan ke Papua, seperti Yemima Youw dan Maria Ijai pulang ke Nabire. Sedangkan yang lainnya sibuk dengan kegiatan natal dan urusannya masing-masing di Yogyakarta.

Lagi pula nampaknya kampus Sanata Dharma yang dikelolah Pastur-pastur Jesuit yang biasanya digunakan sebagai tempat mereka berdiskusi sedang libur dan baru mulai melakukan aktivitas belajar mengajar awal Februari. Sehingga tepatnya tanggal 12 Februaru 2007 mereka mulai berkumpul kembali, untuk mebahas agenda rencana kegiatan berikutnya.

Memang untuk membangun Papua tidak bisa dilakukan oleh satu dua orang saja, tetapi membutuhkan sekelompok orang yang lebih dari tiga. Pinjam kata-katanya Thom Chamara “Jika hanya satu orang saja yang bermimpi maka itu hanya sekedar mimpi, tetapi bila tiga orang lebih bermimpi bersama maka perubahan itu akan terjadi” Kurang lebih seperti itu. Tentu mereka yang bermimpi bersama harus memiliki harapan dan impian bagi perubahan ke masa depan yang lebih baik bagi masyarakat dan bangsanya.

Pertemuan kali ini, sangat disyukuri oleh seluruh angota KPP karena ada dua orang teman asli Papua turut hadir, yaitu Leni Songgonau (Universita Veteran) dan Eka Iyai mahasiswa Teknik sipil Atma Jaya, Yogyakarta. “Kita berharap ke depan komunitas ini lebih berkembang, menjadi fasilitator bagi teman-teman Papua yang ingin belajar bersama kita, siapapun dia, dari gunung ataupun pantai dan tidak harus dari kampus Sanata Dharma saja, tetapi juga mereka bisa saja dari kampus-kampus yang ada di Yogyakata ini,” ujar Longginus yang pada saat itu memimpin pertemuan mereka.

Ada pun beberapa agenda yang disepakati antara lain tetap melakukan kegiatan diskusi mingguan sebagimana sebelumnya. Minggu depan mereka akan berdiskusi soal tema damapak dari Trans Nabire-Paniai-Timika denga berpotret pada jalam Trans Yogya yang ternyata telah menuai pro dan kontra. Ide ini dikemukakan Eka Iyai, dan melalui pertimbangan bersama akhirnya disepakait rekan-rekannya.

Kemudian minggu berikutnya, akan dilakuna diskusi mengenai Rumah Adat Papua dalam tinjauah pendidikan, kesehatan, politik dan trasportasi, dilakukan pada hari dan waktu yang sama. Ide cukup menarik ini dikemukakan Yunus Yeimo salah satu mahasiswa Universitas Kriten Duta Wacana yang membidangi mengenai Arsitektur. Sebelum disepakati lebih dahulu Yunus meberikan gambaran mengapa pentingnya kita mendiskusikan soal ini.

Bersama berjalannya waktu, mereka juga menyepakati sebuah program bulanan yaitu tepat pada bulan April akan dia adakan rekoleksi. Kegiatan ini dirasa penting oleh mereka sebagai upaya untuk menguatkan kembali arah perjuagan mereka agar lebih konsiten sesuai jalur perjuagan mereka yaitu lebih pada upaya mengangkat martabat kaum marginal yang menjadi korban pembangunan, entah di mana saja mereka akan berkarya dan tentunya secara khusus ketika akan kembali ke Papua.

Sewaktu serba-serbi, pada dalam pembicaraan lepas seputar potret realita Papua, banyak hal yang telah mereka dibicarakan. Namun yang mendapat porsi yaitu mengenai situasi rencana penerimaan pegawai negeri di Paniai yang akan diadakan dua gelombong.

Gelombang pertama khusus bagi mereka yang memiliki ijazah sarjana yang menurut informasi telah mencapai ribuan orang. Gelombang kedua, akan dilakukan secara umum. Namun yang menarik diungkapkan Yunus Yeimo, mengulangi perkataan Bupati Paniai bahwa ”Paniai tidak butuh ijazah sarjana, melainkan membutuhkan skill orang yang mau bekerja.”

Kiranya ungkapan ini penting diperhatikan oleh mahasiswa yang belajar, agar pandai-pandai menggunakan waktu dalam mencari ilmu di luar kampus, karena tidak mudah untuk membangun Papua tanpa memiliki wawasan dan skill. Lagi pula kalau kembalike Papua di sana belum tersedia sarana-perasrana belajar untuk menambah skill yang memadai sepeti di Yogyakarta, Jawa, Bali dan Makassar. Jadi lebih tepatnya bisa dikatakan, bahw untuk membangun Papua ijazah saja tidak cukup tetapi keahlian yang kita miliki ini lebih mahal dari pada ijazah. [Long/selangkah]
BACA TRUZZ...- Papua Membutuhkan Skill, Bukan Ijazah

2000 Guru Terpencil Dapat Dana Insentif

Selasa, Februari 12, 2008

Jayapura (Cepos)--Untuk meningkatkan kinerja guru-guru di daerah pedalaman terpencil yang sulit dijangkau, pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua, mengalokasikan dana untuk tunjangan insensif kepada guru-guru terpencil di seluruh wilayah Papua.

Adanya kabar menggembirakan bagi guru terpencil tersebut diungkapkan Kepala Dinas P dan P Provinsi Papua, Drs James Modouw MM. Pemberian insensif ini katanya, bertujuan memberikan keseimbangan dan perhatian khusus kepada para guru yang mengabdi di daerah terpencil, sehingga dapat meningkatkan kinerja mereka.Modouw memaparkan, tunjangan tersebut diberikan kepada 2000 guru yaitu Rp 1.350.000,- setiap guru per bulan.

Alokasi dana ini bersumber dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN) 2007. Dan dana tunjungan tersebut sementara dibayarkan ke rekening masing-masing guru. Hanya saja pemberian tunjangan ini menuai pro dan kontra diantara guru-guru, dimana yang menerima tunjangan ini bukan hanya guru-guru yang bertugas di daerah terpencil akan tetapi sebagian guru yang ada di pinggiran kota juga menerimanya.

Dijelaskan, hal ini disebabkan karena pada waktu memasukkan data terdapat kesalahan, diantaranya kesalahan nomor rekening, kemudian kesalahan dalam memasukkan masa kerja, maksudnya antara SK pengangkatan dan penempatan tugas, dimana ada sebagian guru yang memasukkan masa kerja sejak diangkat menjadi guru akan tetapi yang berlaku adalah SK sejak ditugaskan di daerah terpencil.

Selain itu lanjut Modouw, faktor lain adalah data yang disampaikan dinas kabupaten/kota ke provinsi tidak akurat karena waktu untuk memasukkan data ini sangat terbatas.Mekanisme untuk pengalokasian dana ini jelas Kadis, yaitu data dikumpulkan oleh dinas kabupaten/kota kemudian dikirim ke provinsi dan selanjutnya dikirim ke pusat, dan setelah diproses oleh pusat, selanjutnya dari pusat yang langsung mengirim tunjangan tersebut langsung ke rekening para guru."Untuk itu saya menghimbau kepada guru-guru yang ada di kota atau dipinggiran kota yang tidak menerima tunjangan ini, hendaknya permasalahan ini jangan diperdebatkan karena tunjangan ini hanya untuk guru-guru yang bertugas di daerah terpencil,"tandasnya kepada Cenderawasih Pos di Swissbes Hotel, Senin (11/2), kemarin.

Menyoal intensif untuk daerah yang ada di kota atau pinggiran perkotaan, dikatakannya, mengenai pemberian intensif untuk sementara ini tidak ada, yang mana ini merupakan kebijakan dari pemerintah daerah dimana dia ditugaskan."Sekali lagi saya tegaskan bahwa yang berhak menerima tunjangan ini hanya guru-guru yang mengajar di daerah terpencil, jadi jangan lagi diperdebatkan, sehingga nantinya dapat mengganggu aktifitas belajar mengajar,"katanya.
Modouw menambahkan selain pemberian intensif bagi guru terpencil, 2008 ini pihaknya juga akan memberikan bantuan pendidikan kepada 1000 anak dari guru yang mengajar di daerah terpencil.(us)
----------------------------------------
BACA TRUZZ...- 2000 Guru Terpencil Dapat Dana Insentif

FSGSD se-Kabupaten Nabire Mengancam Boikot UN

Senin, Februari 04, 2008

Nabire (selangkah)--Guru sekolah dasar (SD) se-kabupaten Nabire yang tergabung dalam Forum Solidaritas Guru SD (FSGSD) Kabupaten Nabire kembali mengancam mogok mengajar dan memboikot ujian nasional (UN) tahun ajaran 2007/2008 mendatang setelah pada Agustus 2007 melakukan mogok mengajar selama satu bulan lebih.

Mereka menilai, pemerintah kabupaten Nabire tidak mengabulkan hasil musyawarah yang telah disepakati dan ditandatangani pada 21 September 2007 oleh Bupati Nabire Drs. A.P. Youw dan Ketua Dewan Perwakilan (DPR) kabupaten Nabire, Daniel Buto serta disaksikan oleh Inspektur Jenderal Depdiknas, M. Sofyan, SH. M.Si, Kepala Dinas Pendidikan Provinisi Papua, Drs. James Modouw, M.MT, Pimpinan DPRD Provinsi Papua Sekretaris Komisi E Yoseph Pigai, S.Sos, dan Ketua PSGSD Yusak Ernes Tebay.

Ketua PSGSD Kabupaten Nabire, Yusak Ernes Tebay mengatakan, hasil musyawarah nomor tujuh mengatakan bahwa semua permintaan guru SD (uang makan, insensif, pakaian dinas, kekurangan gaji, dan berkala) termasuk kekurangan akan diakomodir melalui APBD tahun 2008. Namun, dalam sidang APBD kabupaten Nabire 2008 tidak diakomodir hal itu. Pemerintah justru mengakomodir kepentingan pemekaran Dogiyai dan rencana pemekaran Irian Jaya.

”Guru SD se-Kabupaten Nabire telah melakukan pertemuan dan telah disepakati bahwa mulai pekan depan, para guru akan turun ke jalan untuk meminta realisasai hasil musyawarah nomor tujuh. Kalau hal ini tidak dilaksanakan oleh pemerintah maka, 196 SD se-Kabupaten Nabire sepakat untuk melakukan aksi mogok hingga akan mengboikot UN,” kata Tebay.

Guru SD se-Kabupaten Nabire melakukan aksi mogok mengajar selama satu bulan lebih pada Agutus 2007 karena mereka menilai pelaksanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) kabupaten Nabire sejak 2003-2006 dilaksanakan melalui mekanisme APBD. Pemerintah tidak mengikuti pelaksanaan DAK sesuai keputusan Mendiknas No. 5 tahun 2006 tentang pelaksanaan DAK secara swakelola oleh sekolah dan Komite Sekolah, tetapi dilakukan melalui penyusunan APBD yang dikeluarkan oleh menteri keuangan dan menteri dalam negeri. Selain itu ada tuntutan uang makan bagi PNS, insensif bagi guru, pekaian seragam bagi guru, reformasi aparatur di Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Nabire. ***
BACA TRUZZ...- FSGSD se-Kabupaten Nabire Mengancam Boikot UN

Cenderawasih

Minggu, Februari 03, 2008

Di daerah Fak-fak tepatnya, pegunungan Bumberi hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina. Perempuan tua bersama anjing itu mendapatkan makanan dari hutan berupa buah-buahan dan kuskus. Hutan adalah ibu mereka yang menyediakan makanan untuk hidup. Mereka berdua hidup bebas dan bahagia di alam.

Suatu ketika, seperti biasanya mereka berdua ke hutan untuk mencari makan. Perjalanan yang cukup memakan waktu belum juga mendapatkan makanan. Anjing itu merasa lelah karena kehabisan tenaga. Pada keadaan yang demikian tibalah mereka berdua pada suatu tempat yang ditumbuhi pohon pandan yang penuh dengan buah. Perempuan tua itu serta merta memungut buah itu dan menyuguhkannya kepada anjing betina yang sedang kelaparan. Dengan senang hati, anjing betina itu melahap suguhan segar itu. Anjing betina itu merasa segar dan kenyang.

Namun, anjing itu mulai merasakan hal-hal aneh di perutnya. Perut anjing itu mulai membesar. Perempuan tua itu memastikan bahwa, ternyata sahabatnya (anjing betina) itu bunting.Tidak lama kemudian lahirlah seekor anak anjing. Melihat keanehan itu, si perempuan tua itu segera memungut buah pandan untuk dimakannya, lalu mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh sahabatnya. Perempuan tua itu melahirkan seorang anak laki-laki. Keduanya lalu memelihara mereka masing-masing dengan penuh kasih sayang. Anak laki-laki diberi nama: Kweiya.

Setelah Kweiya menjadi besar dan dewasa, dia mulai membuka hutan dan membuat kebun untuk menanam makanan dan sayuran. Alat yang dipakai untuk menebang pohon hanyalah sebuah pahat (bentuk kapak batu). Karenannya, Kweiya hanya dapat menebang satu pohon setiap harinya. Ibunya ikut membantu dengan membakar daun-daun dari pohon yang telah rebah untuk membersihkan tempat itu sehingga asap tebal mengepul ke langit. Setiap kali, hutan lebat itu dihiasi dengan kepulan asap tebal yang membumbung tinggi. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka telah menarik perhatian orang dengan mengadakan kepulan asap itu.
Konon ada seorang pria tua yang sedang mengail di tengah laut terpaku melihat suatu tiang asap yang mengepul tinggi ke langit seolah-olah menghubungi hutan belantara dengan langit. Dia tertegun memikirkan bagaimana dan siapakah gerangan pembuat asap misterius itu. Karena perasaan ingin tahu mendorongnya untuk pergi mencari tempat di mana asap itu terjadi. Lalu ia pun segera menyiapkan diri dengan bekal secukupnya dan dengan bersenjatakan sebuah kapak besi, ia pun segera berangkat. Pria itu berangkat bersama seekor kuskus yang dipeliharanya sejak lama. Perjalanannya ternyata cukup memakan waktu. Setelah seminggu berjalan kaki, akhirnya ia mencapai tempat di mana asap itu terjadi.

Setibannya di tempat itu, ternyata yang ditemui adalah seorang pria tampan membanting tulang menebang pohon di bawah terik panas matahari dengan menggunakan sebuah kapak batu berbentuk pahat. Melihat itu, ia menghampiri lalu memberi salam: “weing weinggiha pohi” (artinya selamat siang) sambil memberikan kapak besi kepada Kweiya untuk menebang pohon-pohon di hutan rimba itu. Sejak itu pohon-pohonpun berjatuhan bertubi-tubi. Ibu Kweiya yang beristerahat di pondoknya menjadi heran. Ia menanyakan hal itu kepada Kweiya, dengan alat apa ia menebang pohon itu sehingga dapat rebah dengan begitu cepat.

Kweiya nampaknya ingin merahasiakan tamu baru yang datang itu. Kemudian ia menjawab bahwa kebetulan pada hari itu satu tangannya terlalu ringan untuk dapat menebang begitu banyak pohon dalam waktu yang sangat singkat. Ibunya yang belum sempat melihat pria itu percaya bahwa apa yang diceritakan oleh anaknya Kweiya memang benar. Dan karena Kweiya minta disiapkan makanan, ibunya segera menyiapkan makanan sebanyak mungkin. Setelah makanan siap dipanggilnya Kweiya untuk pulang makan. Kweiya bermaksud mengajak pria tadi untuk ikut makan ke rumah mereka dengan maksud memperkenalkannya kepada ibunya sehingga dapat diterima sebagai teman hidupnya.

Dalam perjalanan menuju rumah Kweiya memotong sejumlah tebu yang lengkap dengan daunnya untuk membungkus pria tua itu. Lalu setibanya di dekat rumah, Kweiya meletakkan, “bungkusan tebu” itu di luar rumah. Sewaktu ada dalam rumah Kweiya berbuat seolah-olah haus dan memohon kepada ibunya untuk mengambilkan sebatang tebu untuk di makannya sebagai penawar dahaga. Ibunya memenuhi permintaan anaknya lalu keluar hendak mengambil sebatang tebu. Tetapi ketika ibunya membuka bungkusaan tebu tadi, terkejutlah ia karena melihat seorang pria yang berada di dalam bungkusan itu. Serta-merta ibunya menjerik ketakutan, tetapi Kweiya berusaha menenangkannya sambil menjelaskan bahwa dialah yang mengakali ibunya dengan cara itu. Harapan agar ibunya mau menerima pria tersebut sebagai teman hidupnya, karena pria itu telah berbuat baik terhadap mereka. Ia telah memberikan sebuah kapak yang sangat berguna dalam hidup mereka nanti. Sang ibu serta merta menerima baik pikiran anaknya itu dan sejak itu mereka bertiga tinggal bersama-sama.

Setelah beberapa waktu lahirlah beberapa anak di tengah-tengah keluarga kecil tadi, dan kedua orang tua itu menganggap Kweiya sebagai anak sulung mereka. Sedang anak-anak yang lahir kemudian dianggap sebagai adik-adik kandung dari Kweiya. Namun dalam perkembangan selanjutnya dari hari ke hari hubungan persaudaraan antara mereka semakin memburuk karena adik-adik tiri dari Kweiya merasa iri terhadap Kweiya.

Pada suatu hari, sewaktu orang tua mereka sedang mencari ikan, kedua adiknya bersepakat mengeroyok Kweiya serta mengiris tubuhnya sehingga luka-luka. Karena merasa kesal atas tindakan kedua adiknya itu, Kweiya menyembunyikan diri di salah satu sudut rumah sambil meminta tali dari kulit pohon “Pogak nggein” (genemo) sebanyak mungkin. Sewaktu kedua orang tua mereka pulang ditanyakan di mana Kweiya tetapi kedua adik tirinya tidak berani menceritakan di mana Kweiya berada. Lalu adik bungsu mereka, yaitu seorang anak perempuan yang sempat menyaksikan peristiwa perkelahian itu menceritakannya kepada kedua orang tua mereka. Mendengar cerita itu si ibu tua merasa ibah terhadap anak kandungnya. Ia berusaha memanggil-manggil Kweiya agar datang. Tetapi yang datang bukannya Kweiya melainkan suara yang berbunyi: “Eek..ek, ek, ek, ek!” sambil menyahut, Kweiya menyisipkan benang pintalannya pada kakinya lalu meloncat-loncak di atas bubungan rumah dan seterusnya berpindah ke atas salah satu dahan pohon di dekat rumah mereka.

Ibunya yang melihat keadaan itu lalu menangis tersedu-sedu sambil bertanya-tanya apakah ada bagian untuknya. Kweiya yang telah berubah diri menjadi burung ajaib itu menyahut bahwa, bagian untuk ibunya ada dan disisipkan pada koba-koba (payung tikar) yang terletak di sudut rumah. Ibu tua itu lalu segera mencari koba-koba kemudian benang pintalan itu disisipkan pada ketiaknya lalu menyusul anaknya Kweiya ke atas dahan sebuah pohon yang tinggi di hutan rumah mereka. Keduanya bertengkar di atas pohon sambil berkicau dengan suara: wong, wong, wong, wong, ko,ko, ko, wo-wik!!

Dan sejak saat itulah burung cenderawasih muncul di permukaan bumi di mana terdapat perbedaan antara burung cenderawsih jantang dan betina. Burung cenderawasih yang buluhnya panjang di sebut siangga sedangkan burung cenderawasih betina disebut: hanggam tombor yang berarti perempuan atau betina. Keduanya dalam bahasa Iha di daerah Onin, Fak-fak.

Adik-adik Kweiya yang menyaksikan peristiwa ajaib itu meresa menyesal lalu saling menuduh siapa yang salah sehingga ditinggalkan ibu dan kakak mereka. Akhirnya mereka saling melempari satu sama lain dengan abu tungku perapian sehingga wajah mereka ada yang menjadi kelabu hitam, ada yang abu-abu dan ada juga yang merah-merah, lalu mereka pun berubah menjadi burung-burung. Mereka terbang meninggalkan rumah mereka menuju ke hutan rimba dengan warnanya masing-masing. Sejak itu hutan dipenuhi oleh aneka burung yang umumnya kurang menarik di bandingkan cenderawasih.

Ayah mereka memanggil Kweiya dan istrinya dan menyuruh mengganti warna buluh, namun mereka tidak mau. Ayah mereka khawatir buluh yang indah itu justru mendatangkan mala petaka bagi mereka. Dia berpikir suatu ketika orang akan memburuh mereka termasuk ketiga anaknya yang lain. Ayah merasa kecewa kerena mereka tidak mengindahkan permintaan mereka untuk berubah buluh. Kini Ayahnya kesepian dan sedih, ia melipat kedua kaki lalu, menjemburkan dirinya ke dalam laut dan menjadi penguasa laut “Katdundur”.
---------------------------------------------
Sumber: Penyesuaian dari Depdiknas--Cerita Rakyat Papua, (1883;23-26)
BACA TRUZZ...- Cenderawasih

Kohei/Koyei

Di daerah pedalaman Nabire, tepatnya daerah Makewapa, hiduplah satu kelurga yang miskin. Keluarga itu termiskin di daerah itu. Mereka tidak memunyai makanan dan harta benda. Keluarga itu bernama Kibiuwo. Keluarga Kibiuwo terdiri atas lima orang, yaitu Ibu Kibiuwo, nama pertama Neneidaba, anak kedua Noku, dan anak ketiga Yegaku. Anak yang pertama dan kedua laki-laki dan yang ketiga adalah anak perempuan. Nama ayahnya tidak pernah disebut-sebut sampai sekarag (masih dirahasiakan).

Mereka tidak ada nota/nuta (ubi jalar), nomo (talas), digiyonapa/ugubo (sayur hitam), mege dan dedege (mata uang adat suku Mee), ekina (ternak babi), dan tidak ada harta benda lainnya. Pada saat itu, makanan yang ada hanyalah nota/nuta (ubi jalar) jenis kadaka dan digiyonapo/ugubo (sayur hitam). Pada saat itu, musim kelaparan dan krisis ekonomi berkepanjangan. Tanaman nota/nuta (ubi jalar), nomo (talas), dade/boho (sayur gedi), eto (tebu) dan lainnya terbatas.

Kelurga Kibiuwo duduk dalam rumah dan berbincang-bincang bagaimana mengatasi kelaparan yang menimpa keluarganya. Tiba-tiba saja ibu Kibiuwo serasa ingin buang air kecil. Dengan sendirinya, Ibu Kibiuwo serta merta berlari ke belakang rumah dan secara tiba-tiba melepaskan air kemihnya. Dilihatnya, air kemih itu berwarna merah. Ternyata ia melepaskan air kemih dalam bentuk darah, tepat di atas rerumputan yang rendah.

Dengan perasaan takut dan heran Ibu Kibiuwo memasuki rumah tanpa bersuara dan komentar. Ia terus bertanya-tanya dan merenungkan dalam hatinya, mengapa air kemihnya berdarah? Ia benar-benar heran karena selama hidupnya belum pernah terjadi hal serupa. Baru pertama kali terjadi seperti itu.

Mereka melanjutkan perbincangannya untuk terus mencari jalan keluar untuk mengatasi kelaparan yang sedang dan akan menimpa kelurga mereka. Ibu Kibiuwo tidak menceritakan kejadian yang menimpa dirinya ketika buang air kecil di luar sana. Tiba-tiba perbincangan mereka terputus oleh suara tangisan bayi.

Suara tangisan itu semakin besar, seakan meminta pertolongan orang. Mendengar tangisan bayi itu, serta-merta berdiri dan keluarlah mereka dari dalam rumah dan memperhatikan dari arah mana bayi itu menangis. Mereka berdiri di halaman rumah dan memperhatikan sekelilingnya. Suara tangisan semakin dekat, namun mereka tidak menemukan ibu yang mengendongnya atau ibu yang sedang melahirkan di dekat rumah mereka. Mereka terus melakukan pematauan di sekeliling rumah untuk mencari perempuan yang sedang duduk menyusui atau berdiri mengendong dan membujuknya. Tidak ada ibu yang melewati sekitar rumah mereka. Mereka terus melakuan pencarin. Tangisan terus bertubi-tubi.

Dengan penasaran mereka semakin ke belakang, tangisan anak semakin keras dan semakin dekat. Tangisan bayi mulai ke arah di mana Kibiuwo membuang air kemih berdarah. Akhhirnya, mereka menemukan seorang bayi lemah tergeletak persis di tempat Kibiuwo membuang air kemih. Dilihatnya, air kemih yang berdarah itu sudah tidak ada lagi.

Melihat bayi yang tidak berdaya itu, keluarga Kibiuwo merasa sayang. Ibu Kibouwo mengambil bayi itu dan membawa masuk ke dalam rumah, karena ia teringat peristiwa yang terjadi padanya. Ia merawat anak itu dengan senang hati, walaupun dalam kelaparan yang dasyat. Bayi itu terlahir dari lingkungan keluarga yang miskin dan kesusahan makanan. Ibu Kibiuwo bertanya-tanya apakah anak ini terlahir dari air kemihnya atau tidak.

Untuk memastikannya, ia menyuruh anak-anaknya untuk pergi bertanya-tanya kepada warga setempat disekeliling mereka. Warga di sekitaranya heran mendengar cerita itu. Mereka justru bertanya siapa gerangan yang meletakkan bayi itu di dekat rumah keluarga miskin itu. Terutama karena di daerah itu tidak ada ibu hamil.

Warga sekitar justru berdatangan ke rumah Ibu Kibiuwo untuk melihat bayi itu. Dengan demikian Ibu Kibiuwo benar-benar yakin bahwa bayi itu berasal dari air kemihnya. Ia merasa bayi itu pembawa berkat bagi keluarganya. Namun suaminya yang tidak disebutkan namanya itu merasa, bayi itu adalah ayayoka artinya anak bayangan atau anak roh. Alasan suaminya adalah karena anak itu tidak memiliki ayah dan ibunya yang jelas. Lagi pula Ibu Kibiuwo merahasiakan air kemihnya yang berdarah tersebut.

Suaminya berencana membunuh bayi itu, namun Ibu Kibiuwo melarang keras untuk membunuh. Suaminya masih ngotot untuk membunuh bayi lemah itu. Dia mengatakan ayayoka bisa membawa malapetaka bagi keluarga. Melihat niat suaminya, Ibu Kibiuwo memeluk dan terus membelai bayi itu. Melihat kasih sayang istrinya yang ditunjukkan melalui pelukan dan belaian itu, ia mengurungkan niatnya untuk membunuh bayi tersebut.

Suaminya menerima anak itu sebagai anak kandungnya. Ia menamai anak itu sesuai prasangkanya, yaitu “Ayayoka”. Hingga umur bayi itu enam bulan dia masih belum makan dan minum. Setiap kali Ibu Kibiuwo menyuap makanan dan minuman ke dalam mulut bayi itu terus dimuntahkannya. Namun bayi itu sehat dan mulus. Tidak pernah menangis untul meminta makanan dan minuman. Ketiga anaknya (Neneidaba, Noku dan Yegaku) menganggap bayi itu sebagai adik mereka. Mereka sungguh sayang kepadanya.

Hari berlalu tahun berganti, anak itu tetap sehat dan mulus. Melihat kondisi badannya yang agak kecil, mulus, sehat, dan berenergi, ayahnya memberikan nama baru baginya, yaitu Koyeidaba/Koheidaba. Koyei (daba)/Kohei (daba) yang berarti anak berbadan agak kecil, mulus, tetapi sehat dan berenergi. Koyei/Kohei menjadi nama kebanggaan ayahnya termasuk keluarga miskin itu.

Memasuki umur tujuh bulan, anak itu mulai berkarya melalui anusnya. Ia mengeluarkan makanan, harta serta ternak. Semua makanan dan ternak yang dikeluarkannya masih dalam keadaan mentah dan hidup. Ia mengeluarkan ubi mentah, talas mentah, apu (sejenis ubi jalar yang batangnya terlilit pada pohon di sekitarnya), sayur hitam mentah, sayur lilin mentah, sayur gedi mentah, bermacam-macam jenis tebu, bermacam-macam jenis pisang, buah-buahan termasuk buah merah mentah dan lain-lain. Tujuan Koyei/Kohei agar semuanya dapat dikembangbiakkan.

Berupa harta benda misalnya: mege (kulit kerang yang dipakai sebagai mata uang suku Mee); dedege (sejenis kulit kerang yang kecil berwarna putih untuk perhiasan leher), manik-manik biru tua yang dipakai sebagai perhiasan keher) dan lain-lain.

Sementara berupa ternak seperti: ekina (babi) yang masih hidup sebanyak dua ekor. Dua ekor babi itupun berkembang secara cepat, karena banyak makanan. Keluarga Kibiuwo menjadi keluarga yang berkecukupan di daerah itu. Keluara Kibiuwo tidak mengalami kelaparan lagi, kelahiran Koyei/Kohei menjadi berkat tersendiri bagi kehidupan mereka. Setelah keluarga Kibiuwo menjadi berkecukupan, tersebarlah berita itu di seluruh daerah. Melihat keluarga Kibiuwo yang berkecukupan berkat kehadiran Koyei/Kohei, muncul bermacam-macam pendapat dalam masyarakat di daerah itu.

Ada yang mengatakan, kehadiran Koyei/Kohei sebagai penyelamat dari kirisis ekonomi; ada yang berpendapat Koyei/Kohei sebagai peredam makanan, harta, dan ternak; ada juga yang menyangka Koyei/Kohey adalah perampas, penghimpun dan penghilang kekayaan suku Mee, dan ada juga yang berpendapat Koyei/Kohey hanya memperkaya keluarganya sendiri oleh sebab itu dia harus disingkirkan.

Masyarakat daerah itu merasa bahwa keluarga paling termiskin di daerah itu semakin menjadi kaya. Kecemburuan terus meningkat. Masyarakat diam-diam menyepakati untuk membunuh Koyei/Kohei. Sementara Ayah dan Ibu Kibiuwo tiba-tiba meninggal secara bersamaan. Koyei/Kohei menghibur ketiga saudaranya untuk tidak menangisi kepergian orang tua mereka. Namun mereka terus tangisi orang tua mereka. “Akan datang hari yang indah hari tidak ada orag kaya dan orang miskin. Semua orang akan hidup damai tanpa kekurangan apapun. Semua orang akan diselamatkan. Janganlah tangisi mereka. Mereka akan hidup.” Demikian kata-kata Koyei/Kohei menghibur.

Sejak kepergian ayah dan ibunya, Koyei/Kohei mengambil alih semua urusan keluarga. Dia juga mengajarkan mereka tentang kehidupan yang indah tanpa bermusuhan, tentang keadilan, tentang hak atas tanah dan lain-lain sambil berkarya meciptakan makan dan harta bagi mereka. Ketiga anak itu berkecukupan dan setara dengan masyarat sekitarnya. Kesetaraan secara tiba-tiba berkat kehadiran Koyei/Kohei tidak diterima oleh masyarakat setempat. Mereka (masyarakat sekitarnya) terus membenci kehadiran Koyei/Kohei.

Kelompok masyarakat tertentu yang iri dengan karya Koyei/Kohei mulai menyebarkan isu yang yang tidak benar. Katanya, “Kita akan menjadi miskin, tiga bersaudara akan menguasai kita. Mereka yang tadinya miskin kini mulai menjadi kaya. Dia (Koyei/Kohei) mementingkan keluarganya saja.” Mereka menyebarkan isu itu ke seluruh masyarakat Mee.

Mengamati isu yang berkembang itu, Koyei/Kohei merasa bahwa perlu mengambil sebuah buku yang berisi seluruh adat istiadat, kebaikan dan kesempurnaan. Maka suatu hari dia mengutus Noneidaba dan Noku untuk pergi mengambil “Touye Kapogeiye/Touhe kapogeihe” (sebuah buku tentang kehidupan, kebaikan dan kesempurnaan) ciptaan Koyei/Kohei. Tempat penyimpangan buku itu hanya dia yang tahu. Tidak ada orang yang mengetahuinya. Masyarakat sekitar mengetahui bahwa Noneidaba dan Noku sedang bepergian keluar dari daerah itu. Mereka tidak tahu untuk apa kedua pemuda itu pergi. Kesempatan itu benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat daerah itu untuk menyerbu Koyei/Kohei. Namun, dia meloloskan diri ke arah Gunung Odiyai. Pengejaran terus dilakukan dari gunung ke gunung, terus lari melewati kampung yang satu ke kampung yang lain, sungai-sungai besar disebrani, bukit-bukit ditaklukan.

Pada suatu titik jumlah orang yang mengejarnya semakin banyak, dia sudah semakin lelah. Panah yang tertusuk pada lambungnya semakin membuat dia tidak bisa meloloskan diri. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Koyei/Kohei berkata:

“Sesungguhnya saya memberi kami makanan dan harta kekayaan, namun kamu tidak mengerti bahkan membunuhku. Karena itu sekarang kamu berusaha sendiri dengan susah payah. Peliharalah dua ekor babi itu baik-baik, karena kamu akan diadili sesuai dengan setimpal perbuatanmu.”

Akhirnya Koyei/Kohei menarik nafasnya yang terakhir. Ketika, Noneidaba dan Noku pulang membawa “Touye Kapogeiye/ Touhe kapogeihe” dari kejauhan terdengar ratapan adik Yegaku. Mereka berdua berlari-lari masuk ke dalam rumah dan mendekati adiknya ada gerangan apa dia meratap. “Adik…, itu adik… telah dikejar dan dibunuh semua orang di daerah ini. Dia sudah meninggal”, katanya sambil meratap. Mereka berdua masih bertanya-tanya kenapa adik mereka dibunuh. Sementara “Touye Kapogeiye/ Touhe kapogeihe” masih belum diserahkan kepada Koyei/Kohei untuk menjelaskan apa isi buku.

Yegaku masih meratap. Ketika, dia ingin menjelaskan lebih lanjut tentang proses penyerangan dan pembunuhan, rumah mereka justru dikepung. Masyarakat sekitar sudah siap dengan panah untuk menyerang mereka dua. Melihat kepungan itu, Noneidaba melarikan diri ke arah barat lalu sempat meloloskan diri ke dalam sebuah gua batu dan menghilang di situ.

Pada saat yang sama, Noku melarikan diri ke arah timur. Namun sial, dia tertembak panah dan tidak bisa melarikan diri. Noku masih belum mati tetapi dia menyerahkan diri untuk dibunuh sambil memegang erat-erat “Touye Kapogeiye/Touhe kapogeihe” di depannya. Dia membelakangi masyarakat (saat itu “Touye Kapogeiye/Touhe kapogeihe” ada di depan dia) dan memasrakan dirinya untuk ditembak di punggungnya. Pada saat panah tertancap dipunggungnya, Noku sempat berteriak dan mengatalan, “To kabu togo kabu kiyayaikaine” (saya tinggalkan segala kegelapan dan keburukan padamu). Lalu Noku berteriak histeris masuk ke dalam sebuah goa dengan membawa “Touye Kapogeiye/Touhe kapogeihe” lalu tembus ke daerah lain (dunia Barat).

Semua orang yang mengejar dan membunuh Koyei/Kohei dan Noku kembali ke kediaman Koyei/Kohei dan Noku. Di situ mereka memotong babi satu ekor dari dua ekor babi yang keluar dari anusnya Koyei/Kohei. Sementara, satu ekor babi berubah menjadi sebuah gunung dan kini dikenal dengan, “Gunung Duwanita”.

Selanjutnya, mereka memotong kepala Koyei/Kohei dan kulit perut babi, lalu menutupkan lubang gua bagian timur. Kemudian kepala babi dan perut Koyei menutupkan bagian barat. Sementara dagingnya mereka pesta bersama. Sesudah semuanya berakhir, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan teriakan kegembiraan (yuwaita).

Segala kerahasiaan Koyei/Kohei tersirat dan tersurat dalam buku “Touye Kapogeiye/Touhe kapogeihe”. Saat ini sedang dicari oleh sekelompok suku Mee yang menamakan dirinya Utoumana (kelompok pencipta alat-alat budaya).

-------------------------------------------
Sumber: Penyesuian dari Yobee, Andreas, (2006: 42-49)
BACA TRUZZ...- Kohei/Koyei

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut