Kacang Harus Melupakan Kulitnya

Sabtu, Maret 26, 2011

Seorang partner saya pernah bertanya “Pak, kok diajarkan semuanya ? Apa Bapak tidak takut nantinya setelah Bapak mengajarkan semua ilmu yang Bapak miliki mereka malah lupa pada Bapak, seperti kacang lupa pada kulitnya?” Hal ini terjadi karena ia melihat materi NLP Practitioner yang saya ajarkan lebih banyak dan lebih dalam pembahasannya, dibandingkan training sejenis di Indonesia. Saya katakan kepadanya ada empat alasan kenapa saya selalu total dalam memberikan sesuatu.


Pertama saya memiliki guru-guru yang luar biasa dalam hidup saya, Tung Desem Waringin, Krishnamurti, RH Wiwoho, James Gwee, Tim Hallbom (NLP Institute California), William Horton. Psy.D (NFNLP Florida), John Grinder (NLP Academy –London), Anthony Robbins, Stave G James (America Alliance of Hypnosis), Karl Nielsen (NLP & Coaching Institute Berlin), T Harv Eker dan Barnie Wee (Mind transformation Singapore), mereka selalu menjawab semua yang saya tanyakan dan tidak pernah menyembunyikan apa yang mereka ketahui. Karena semakin banyak memberi maka gelas, semakin kosong dan semakin kosong sebuah gelas,maka semakin banyak “air” yang bisa mengisinya.

Kedua, saya adalah orang yang terus belajar dan berkembang. Setiap tahunnya saya pasti melakukan upgrade keluar negeri jadi ilmunya pasti terus berkembang, oleh karena itu semua peserta NLP Practitioner dan Master practitioner saya diwajibkan untuk ikut kembali materi atau kelas yang sama pada angkatan berikutnya secara GRATIS. Ini bermanfaat untuk melakukan upgrade ilmu dan mengasah kembali “gergaji.”
Ketiga, saya balajar NLP Practitioner dari dua lembaga yang berbeda (NLP Institute -California, Mind transformation - Singapore) dan saya belajar NLP Master Practitioner dari tiga lembaga yang berbeda (Mind Transformation – Singapore, NLP Academy –London, NFNLP-Florida) dimana sebagian besar materinya berbeda, jadi saya tidak akan pernah kehabisan bahan saat saya membagikannya.

Dan keempat, power of vibration. Saat saya total, sungguh-sungguh dan tulus memberi, para peserta pasti akan dapat merasakan hal tersebut. Ini terbukti dari tingkat closing yang 90% dan bahkan ada kelas NLP Practitioner yang 100% pesertanya joint ke kelas NLP Master Practitioner. Lebih “gilanya” ada peserta yang sudah daftar untuk kelas NLP Trainer Training yang baru akan diadakan 2012.

Kemudian kepada partner saya ini saya mengatakan. Bagi saya kacang lupa kulitnya adalah pribahasa yang kurang tepat. Sudah semestinya kacang haruslah melupakan kulitnya, kalau ia mau tumbuh dan berkembang. Kacang yang tetap tinggal didalam kulitnya tidak akan pernah menghasilkan kacang-kacang yang lain. Sebaliknya jikalau ia keluar dari kulitnya kemudian tumbuh dan berkembang, baru ia akan dapat menghasilkan kacang-kacang yang lain. Menjadi egois kalau membiarkan sebuah kacang tetap tinggal didalam kulitnya sehingga akhirnya membusuk atau justru digoreng.

Dalam hidup ini saya pernah melatih beberapa trainer yang kemudian menjadi trainer yang handal, apakah mereka mengingat saya atau tidak itu bukan urusan saya lagi. Ada diantara mereka yang menjadi Motivator No.1 Asia, ada yang bekerjasama dengan pembicara terkenal asal Amerika dan membuka cabang coaching di Indonesia atau ada juga yang akhir saya perkenalkan dengan partner saya Tung Desem Waringin kemudian akhirnya kita menjadi partner bersama.Mereka sekarang telah berkembang dan bermanfaat bagi banyak orang.

Melihat kiprah mereka, membaca atau mendengar cerita tentang mereka saya merasa ketambahan energy ,semangat untuk berbagi ,membantu dan membimbing. Karena NLP bukanlah teori, NLP adalah PERBUATAN. Jadilah kacang yang melupakan kulitnya atau dalam pandangan yang berbeda yakni tidak bergantung pada kulitnya tetapi menjadi kacang yang bisa tumbuh, berkembang, menghasilkan lebih banyak kacang-kacang yang lain.

*) Ongky Hojanto adalah penulis buku Best-Seller “The Secret To Be More Success”, partner Penulis buku “Financial Revolution in Action” bersama Tung Desem Waringin. Narasumber OBROLAN Pagi motivasi di Pacific TV dan narasumber di SMART FM Indonesia ini dapat dihubungi langsung di www.ongkyhojanto.com

Sumber: http://www.pembelajar.com/kacang-harus-melupakan-kulitnya
BACA TRUZZ...- Kacang Harus Melupakan Kulitnya

Cerita Pagi dari Bangku Sekolah

Dari jaman sekolah doeloe rasanya senang sekali apabila Bapak atau Ibu guru kita mengumumkan bahwa ada kegiatan rapat dewan guru sehingga para siswa diminta belajar di rumah masing-masing. Teriakan hore secara koor bergema di ruang kelas tanpa komando. Budaya itu diyakini masih ada dan berlaku sampai sekarang pada level atau jenjang pendidikan manapun dan di mana pun.


Bahkan saya sendiri menjelang akhir pekan rasanya kok plong bangets ya? Apa karena akan terbebas dari rutinitas tugas? Hehehe… Sebuah seloroh pernah saya ungkapkan kepada para mahasiswa bahwa sesekali mahasiswa membuat pengumuman yang berbunyi demikian “Sehubungan para siswa/mahasiswa mau rapat, para guru/dosen dipersilakan mengajar di rumahnya masing-masing. Wkwkwkwk…”.

Barangkali saja ada guru/dosen yang senang mendengarnya karena terbebas dari belenggu rutinitas. Ups! Yang satu ini tolong jangan diekspos ya, entar dikira Anda dianggap tidak taat aturan dalam soal penghormatan pada guru/dosen.


Saya pernah mengumumkan suatu hari bahwa perkuliahan dipercepat dari jadwal yang seharusnya karena ada tugas/dinas ke luar kampus. Tak pelak teriakan hore secara koor yang sama bergema dari mulut para mahasiswa. Saya akhirnya memutuskan menunda keluar ruang kelas. Saya mengurungkan niat mengakhiri pecepatan perkuliahan dengan mengatakan bahwa selama ini berarti dalam mengikuti pembelajaran dijalani dengan terpaksa atau penuh tekanan. Mereka mengelak dengan tuduhan tersebut. Namun saya beranalogi bahwa seandainya menjalani perkuliahan dengan gembira atau fun mengapa teriakan yang terucap bukan kalimat yang sebaliknya. Yakni sebuah kalimat yang menggambarkan rasa kecewa karena dtinggal dosennya dalam proses belajar di kelas.

Yang jelas guru atau dosen yang baik adalah mereka yang kehadirannya dinantikan oleh para siswa atau mahasiswanya. Ia akan dirindukan bila tidak masuk/hadir di sekolah atau kampus. Apabila yang terjadi sebaliknya, berarti ada yang salah dengan proses belajar-mengajar yang selama ini terjadi.

Seorang pendidik mestinya mempunyai kepribadian yang menarik, supel dalam menjalani aktifitas pembelajaran. Ia juga menggunakan paradigma pendidikan demokratis dalam menekuni peran profesional seorang pendidik –untuk hal ini selanjutnya baca “Paradigma Pendidikan Demokratis karya Prof. Dr. Dede Rosyada, MA–. Ia juga harus menjadi orang yang pertama yang mengamalkan dan mengimplementasikan hal-hal yang diajarkan kepada para muridnya.

Pernah pada suatu siang seorang mahasiswa mengirimkan sebuah pesan pendek bahwa ia sedang bete mengikuti perkuliahan yang diasuh oleh seorang dosen. Katanya: “Panas euy, bete, jenuh, mendengarkan ceramah si dosen, sudah tua lagi”. Selang beberapa detik kemudian saya menjawabnya:”Bukankah kita juga akan menjadi tua? Berarti kita akan membetekan juga dong…”. Ya, mestinya seorang guru/dosen harus dapat mendesain pembelajarannya secara komprehensif dengan perencanaan yang matang. Kombinasi berbagai metode dan strategi pembelajaran dapat dilakukan agar prosesnya belajar di ruang kelas dapat berjalan secara menyenangkan dan sukses mencapai tujuan yang ditentukan dan diharapkan.

Metode ceramah memang murah meriah, dan bersifat massif. Tetapi ceramah yang monoton juga dapat membuat kejenuhan yang dirasakan oleh para peserta didik. Di samping mempunyai kelebihan, metode ceramah juga mempunyai sedikit-banyak kekurangan. Kekurangan inilah yang mestinya dapat didukung dengan penggunaan kombinasi metode semacam diskusi, tanya-jawab, demonstrasi, karya wisata, resitasi, dll. Sudirman N, et. all. dalam buku Ilmu Pendidikan menjelaskan secara gamblang berbagai kelebihan dan kelemahan metode-metode mengajar. Hal ini juga dapat diperkuat dengan penggunaan strategi, pendekatan, dan teknik pembelajaran yang berpusat pada aktifitas siswa. Buku 101 Strategi Active Learning karya Melvin L. Sibermen dapat memberikan inspirasi para pendidik untuk mengarahkan pembelajarannya menjadi lebih menarik.

Sebagai seorang guru, dosen, atau sebutan lain yang aktifitasnya sejalan, sudah seharusnya mengembangkan paradigma baru dalam proses pembelajaran. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Artinya bagaimana dapat mendesain agar peserta didik tetap dapat belajar kendatipun kita absen dalam proses pembelajaran dengan berbagai alasan yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Wallahu a’lam.

*) Tanenji, Dosen dan Sekretaris Laboratorium Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dapat dihubungi langsung di tanenji@yahoo.com



Sumber: http://www.pembelajar.com/cerita-pagi-dari-bangku-sekolah
BACA TRUZZ...- Cerita Pagi dari Bangku Sekolah

Mahasiswa Papua Dituntut untuk Memahami Arti Pendidikan yang Sesungguhnya.

Senin, Maret 14, 2011

Diskusi Iyoo/ihoo, 12 Maret 2011

“Saya melihat di televisi orang tidak memiliki ijazah ada yang sukses menjadi pengusaha besi bekas”, (Kompas, 24 Mei 06)/ Kalimat ini diucapkan oleh Hilmy. Hilmy adalah seorang gadis remaja kelas tiga sekolah alternatif SMP Qaryah Thayyibah di lereng Gunung Merbabu. Waktu itu, teman-teman sebaya di sekolah formal sibuk mempersiapkan diri ikut Ujian Nasional (UN) dan panik ketika akan mendengar hasil kelulusan UN.

Seorang Gadis SMP saja bisa berpikir orang tanpa ijasah saja bisa sukses walaupun boleh dikata mereka di pulau Jawa hidupnya keras, karena lahan yang mereka miliki pun sempit untuk bisa membuka usaha tetapi seorang siswa ini dia sudah berpikir jauh dan memahami tentang pendidikan. Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan buat kita mahasiswa Papua yang sedang menganyam pendidikan di tanah Jawa ini.


Pendidikan merupakan hal vital yang dapat kita membantuk suatu dedikasi untuk memperhitungkan ouputnya. Agar ita bisa memahami bahwa pendidikan menjadi sarana bukan menjadi tujuan. Ijasah merupakan suatu pencapaian hasil dari suatu jenjang pendidikan. Jadi jangan kita membeli sekolah tetapi sesuatu yang dapat kita terima setelah kita sekolah. Intinya adalah pendidikan bukan Ijasah, Kata Mery Bame. Lalu ia pun mencoba memberikan solusi bahwa, kalau kita mau agar hal itu dapat berjalan dengan baik maka kita harus keluar dari rutinitas sekolah, mencapai tujuan, keluar dari budaya atau kebiasaan 1. Takut 2. Kita tidak mau 3. Untuk keluar penuh dukungan, Pungkas Mery seorang Mahasiswi Sanata Dharma Yogyakarta.

Oleh sebab itu, Pendidikan yang kita terima dibangku kuliah itu dapat memahami dan harapannya dimemperaktekan dilapangan walaupun orang tua kita utamakan adalah bagaimana kita mendapatkan ijasah dan pulang bisa bekerja [ hal itu tidak dipungkiri bahwa itu telah menjadi budaya orang tua kita kita]. Dengan hal itu kadang mahasiswa menjadi santai karena setelah lulus tunggu tes PNS [Pegawai Negeri Sipil], secara otomatis akan menjadi pekerja Negara Indonesia, sebelum masuk kedunia kerja bisa membuka usaha agar pengganguran. Sebaik Mereka mebuka usaha Ungkap Yosina mahasiswa yang sedang menempu pendidikan bagian ekonomi.

Membuka usaha diPapua cocok karena memunyai kekayaan alam yang berlimpah,oleh sebab itu, harapan saya kita bisa mengunakan kemampuan kita yang ada selama kita kuliah untuk megimplementasikan jagan sebatas teori saja, tetapi diimbangi dengan praktek dilapangan. Hal itu yang kadang kurang di Tanah Papua. Yosina
Kita bisa menerapkan teori yang kita terima selama ini dibangku study tetapi Kehidupan masayarakat Papua dan kehidupan masyarakat Jawa tidak sama, disini mereka walaupun tanah tidak luas pun mereka bisa berwirah usaha karena kehidupan mereka telah terhimpit dalam kehidupan yang keras. Dengan kehidupan yang keras akan menciptakan kehidupan ekonomi yang baik dan berwirausaha. Tetapi kalau kita melihat ditanah papua dengan melakukan kebiasaan kita yaitu mengambil semuanya dari bahan alami itu berarti kita telah menyiasati hidup dan bisa dikaitkan itu pendidikan, pungkas Oce mahasiswa Sanata Dharma.

Memang ada yang mengatakan pendidikan ditanah Papua telah gagal atau orang tua masing-masing yang telah gagal mendidikan anak-anaknya. Mengapa demikian? Karena banyak anak-anak yang datang ke Yogyakarta untuk mengayam pendidikan tetapi sampai disini mereka mengonsumsi miras mengunakan uang yang diberikan oleh orang tua berarti mereka merugikan biaya orang tuanya. Hal itu terjadi juga mereka belum memahami pendidikan itu terlebih dahulu dan yang jelas mereka mengharapkan ijasah dan pulang dapat menunggu PNS dan masuk PNS lalu bekerja.kata Yeri Dogomo Mahasiswa APMD.

Lanjutnya Guru-guru [paklaawan tanpa jasa] mengalikan profesinya ke menjadi wakil rakyat [DPR], hal itu sudah, sedang, dan akan. terjadi tanah Papua. Dengan masuknya otonomi daerah dan Pemekaran juga tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi. Intinya bahwa mereka belum memahami pendidikan itu dengan baik. Walaupun alasan mereka secara skrim yaitu kesejatheraan belum diperhatikan.

Kesimpulan dari kami sebagai mahasiswa papua penerus generasi Papua harus memahami pendidikan, lalu menyikapi seluruh masalah yang sedang terjadi tanah papua di berbagai aspek agar kelak kita bisa menyiasati kehidupan sebagai bangsa papua yang memunyai harga diri dihadapan orang lain. Harapan kita sekolah bukan untuk menjadi pekerja Indonesia tetapi bisa membebaskan masyarakat Papua dari pelbagai masalah yang terjadi tanah luka Papua. [Agus Dogomo]
BACA TRUZZ...- Mahasiswa Papua Dituntut untuk Memahami Arti Pendidikan yang Sesungguhnya.

Berita Foto Penyerahan Bantuan Pakaian kepada Anak-anak PAUD

Selasa, Maret 08, 2011

Seorang ibu rumah tangga di Jakarta, Marling M., belum lama ini menyumbangkan pakaian sekolah, pakaian gereja, buku tulis, dan buku-buku pengetahuan umum untuk anak-anak PAUD Doutou di kampung Putapa, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua. Kampung ini (Putapa) berada jauh dari kota dan terisolir. Transportasi darat dan udara sulit. Dari ibu kota distrik harus jalan kaki panjat gunung dan telusur sungai 1 hari (jam 6 pagi keluar dan jam 6 sore tiba). 

Jumlah anak yang terdaftar di lembaga PAUD Doutou kampung Putapa sebanyak 33 anak. Semua anak itu mendapatkan satu paket  berisi macam-macam barang (lihat foto) yang dikirim Marlin. Setelah anak-anak lain (yang belum masuk PAUD) melihat bantuan itu, anak-anak datang tumpah ruah. Ruang PAUD menjadi penuh. Warga belajar yang awalnya hanya 33 orang bertambah menjadi 64 orang. 

Putapa dan sekitarnya adalah wilayah yang 'untuk datang ke sekolah sejak kecil' mesti di rangsang. Kami yakin, orang tua akan terus mengantar anak mereka karena mereka mulai mengerti pentingnya PAUD. Kepala PAUD Doutou Putapa, Ibu Albertina Degei terus berupaya sosialisasi di gereja dan rumah-rumah akan pentingnya PAUD. Ia (Albertina) perempuan pendidik PAUD tanpa upah. Kita butuh banyak orang seperti Albertina di pedalaman Papua dan Marlin di Jakarta.  

 Kepala Taman Bermain PAUD Doutou, Ibu Albertina Degei, Am.Pd. Albertina, perempuan pendidik tanpa upah untuk masa depan anak-anak Papua. 

Foto-foto saat pembagian paket (pakaian) kepada anak-anak PAUD di halaman gereja St. Maria Magdalena Putapa.
 Foto setelah anak-anak mengenakan pakaian di halaman gereja St. Maria Magdalena Putapa. Hari pertama belajar dengan pakaian baru. 


BACA TRUZZ...- Berita Foto Penyerahan Bantuan Pakaian kepada Anak-anak PAUD

LPP Gelar Seminar dan Pelatihan PAUD di Nabire, Papua

Rabu, Februari 16, 2011



 “Investasi pada Pengembangan Anak Usia Dini adalah
Investasi Sumberdaya Manusia dan Ekonomi”

Nabire-- Lembaga Pendidikan Papua (LPP) menggelar seminar (pada Sabtu, 29 Januari 2011) dan pelatihan (pada Selasa, 1 sampai Kamis, 3 Februari 2011) bertema “Investasi pada Pengembangan Anak Usia Dini adalah Investasi Sumberdaya Manusia dan Ekonomi” bertempat Balai Aweida, Kelurahan Karang Tumaritis, Nabire Papua.
           
Seminar dan Pelatihan tersebut dilakukan atas kerja sama LPP dengan PTK-PNF, Kemendiknas serta didu-kung oleh Tim Penggerak-PKK Kabupaten Nabire.  
           
Menurut penang-gung jawab kegiatan, Yermias Degei, S.Pd., seminar dan pelatihan itu dilakukan dalam rangka menggerakan keikutser-taan masyaralat umum  dalam rangka  Pemba-ngunan Sentra Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) integratif berbasis lokal Papua di Kelurahan Karang Tumaritis dan Bumi Wono-rejo kabupaten Nabire yang sudah dimulai LPP sejak tahun 2010.
           
“Kami melakukan dua kegiatan bersamaan. Pada kegiatan pertama, yakni seminar, kami mengundang seluruh RT/RW di kelurahan Karang Tumaritis dan  Kelurahan Bumi Wonorejo tempat di mana dikembangkannya sentra taman bermain PAUD. Selain itu, kami mengundang tokoh agama (ketua kring), tokoh pemuda, tokoh perempuan di dua kelurahan tersebut. Kami juga mengundang Kepala Sub Bidang Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire; pihak Dinas Kesehatan yang menangani soal gizi, Tim Penggerak PKK Kabupaten Nabire, Ketua Dewan Pendidikan, dan lain,” katanya.
           
Dia mengatakan, pelatihan dilakukan khusus untuk para tutor dari Taman Bermain Aweida di Balai Aweida Kelurahan Karang Tumaritis, Taman Bermain St. Agustinus Kelurahan Bumi Wonorejo Kabupaten Nabire, tutor dari Taman Bermain Doutou Kampung Putapa, Kabupaten Dogiyai dan dari beberapa tempat lainnya.
           
“Tiga lembaga PAUD (Taman Bermain PAUD Aweida di Kelurahan Karang Tumaritis dan Taman Bermain PAUD St. Agustinus Kelurahan Bumi Wonorejo Kabupaten Nabire serta Taman PAUD Doutou Kampung Putapa,Kabupaten Dogiyai) ini digagas oleh LPP belum lama ini dan sedang dikembangkan secara integratif dan lokalitas Papua,”katanya.
           
Menurut Ketua LPP, Longginus Pekey, S.Pd., kami jalankan tiga sentra PAUD itu apa adanya tanpa modal apapun. “Saya berpikir, perubahan tidak akan menunggu orang Papua. Orang Papua harus memulai membangun sendiri dari ketidaberadaan. Kami harus memulai dengan PAUD dan mencoba buat seminar untuk menggerakan orang akan pentingnya PAUD. Kami sedang lakukan ini karena kami mengerti bahwa investasi pada pengembangan anak usia dini adalah investasi sumberdaya manusia dan ekonomi,” kata Pekey.
     
Dalam materinya, Longginus Manangsang, S.Ip memaparkan potret sosial di Papua. Dia mengatakan, perubahan sosial ini menggiring orang Papua pada suatu keadaan yang tidak menentu. Jadi, katanya, salah satu cara adalah melalui perbaikan pendidikan dasar, terutama membangun gerakan PAUD.
           
Kata Manangsang, dirnya dan teman-temannya prihatin melihat fenomena baru, yakni banyak anak usia PAUD dan sekolah dasar  menjadi tukang pemungut kaleng di jalanan dan terlibat dalam minuman keras serta menghirup lem aibon.
           
“Jika dari kecil tidak dibangun budaya belajar maka dia akan terpengaruh cepat. Sebe-narnya mata rantai ini harus segera diputuskan dengan pendidikan. Tentunya dengan pendidikan dasar. Kesadaran orang tua juga mestu terus kita bangun. Kami harap pemerintah dan gereja akan bicara dan perhatikan secara serius hal-hal ini,” katanya.
           
Ketika ditanya arti PAUD, kepada wartawan, Yermias Degei mengatakan, PAUD  adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
           
Kata Degei, kualitas sumber daya manusia Papua belum berkembang secara optimal karena belum banyak stimulasi (rangsangan) yang diberikan secara sengaja sejak usia dini (lebih banyak berkembang alami dan rendah). Dengan demikian, perlu diberikan input (rangsangan melalui pendidikan anak usia dini) agar sumber daya manusia Papua berkembang secara otimal. “Kita harus akui bahwa belum diberi rangsangan saja banyak orang Papua yang pintar. Jika diberi rangsangan dengan gizi baik, pasti akan berkembang optimal”.
           
Ada beberapa hal yang mengakibatkan PAUD di Papua tidak berjalan, yakni (1) pemahaman masyarakat terhadap arti pentingnya PAUD rendah; (2) masih terbatasnya dukungan pemerintah, baik pusat maupun daerah dalam upaya peningkatan akses dan layanan PAUD; (3) masih terbatasnya jumlah lembaga layanan PAUD (khususnya PAUD Nonformal); (4) masih terbatasnya jumlah pendidik dan tenaga kependidikan PAUD yang memenuhi kualifikasi dan kompetensi yang ditetapkan; dan (5) kurangnya lembaga pendidikan dan lembaga agama yang berminat menyelenggarakan pendidikan anak usia dini.
           
“Perlu dicatat bahwa berbagai penelitian telah membuktikan ‘anak usia dini’ adalah usia yang paling kritis atau paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Termasuk juga pengembangan intelegensi hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah empat tahun. Selain itu,  hasil penelitian di bidang Neurologi menemukan bahwa perkembangan intelektual sampai dengan 4 tahun = 50 %, sampai dengan 8 tahun = 80 %, dan sampai dengan 18 tahun = 100%. Sementara pertumbuhan fisik otak pada 0 tahun =25 %, 6 tahun =90%, dan 12 tahun = 100 %,” kata Yermias.
           
Lebih lanjut Yermias Degei menjelaskan, ada tiga hal penting megapa pembangunan PAUD di tanah Papua harus menjadi sebuah gerakan bersama. Pertama, Pemenuhan kebutuhan dasar anak--kesehatan, gizi, pengembangan emosi dan intelektual--menentukan pengembangan penduduk dewasa yang berkemampuan dan produktif . Kedua, pengasuhan anak-anak pada tahun-tahun awal dapat membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Ketiga, bagi sebuah bangsa kehidupan anak pada tahun-tahun pertama memiliki berbagai dampak. Artinya, anak yang diasuh dengan benar akan berprestasi di sekolah, dan lebih mampu mengembangkan keterampilan yang mereka perlukan untuk berkompetisi dalam ekonomi global.
           
Secara umum, Degei mengatakan, berdasarkan hasil studi "kemampuan membaca" siswa tingkat SD yang dilaksanakan oleh International Educational Achievement (IEA) diketahui bahwa siswa SD di Indonesia berada di urutan ke 38 dari 39 negara.  Hasil penelitian lain menunjukkan, kemampuan siswa Indonesia di bidang IPA berada di urutan ke 32 dari 38 negara yang diteliti dan di bidang matematika berada di urutan ke 34 dari 38 negara yang diteliti. Menurut laporan UNDP tentang Human Development Index (HDI) Indonesia menempati peringkat 102 dari 174 negara yang diteliti, jauh di bawah negara ASEAN lainya seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darusallam, yang berada di peringkat 40-an.
           
“Secara nasional, Papua menduduki urutan terendah kualitas hasil pendidikan. Rendahnya kualitas hasil pendidikan di Papua antara lain dipengaruhi belum banyak stimulasi (rangsangan) yang diberikan secara sengaja sejak usia dini (lebih banyak berkembang alami dan rendah). Dengan demikian, perlu diberikan input (rangsangan melalui pendidikan anak usia dini) agar sumber daya manusia Papua berkembang secara optimal,” Yermias.
           
Katanya, memang, banyak prestasi terus digapai anak-anak Papua, namun lebih banyak atas usaha keras anak-anak Papua. Prestasi gemilang itu belum terasa secara merata. Tentu saja kita akui bahwa hingga saat ini belum ada rangsangan yang sungguh-sungguh. Bagaimana tidak perestasi pasti akan gemilang secara merata bila PAUD telah menjadi komitmen pemerintah daerah  dan menjadi gerakan bersama rakyat Papua.
           
Dia mengharapkan, pemerintah daerah mendukung dan membangun PAUD secara integratif  dan sinergi karena PAUD telah menjadi  komitmen Nasional. Kemudian, masyarakat harus mendukung PAUD, membangun, dan mengantar anaknya ke sentra PAUD yang ada. Lalu, gereja harus memberikan ruang atau peluang yang terbuka di gereja-gereja  atau kring untuk terlaksananya PAUD serta melaksanakan sosialisasi  tentang pentingnya PAUD di gereja.
           
Pembangunan PAUD di Papua harus menjadi sebuah gerakan bersama seluruh komponen karena membangun PAUD berarti secara otomatis akan meningkatkan indek pembangunan manusia, mengurangi angka putus sekolah, menyiapkan anak untuk sekolah, mengurangi angka mengulang, mempercepat pencapaian wajib belajar, meningkatkan mutu pendidikan, mengurangi angka buta huruf muda, serta mengurangi derajat kesehatan dan gizi anak balita. Intinya, “Investasi pada Pengembangan Anak Usia Dini adalah Investasi Sumberdaya Manusia dan Ekonomi” *** [yid]
BACA TRUZZ...- LPP Gelar Seminar dan Pelatihan PAUD di Nabire, Papua

Bisakah, Bahasa MEE Akan Populer Seperti Sedia Kala?

Rabu, Januari 12, 2011

                                                                                          Oleh: Jhon Pekei *
Saya sebagai manusia MEE pun tentunya sangat bingung untuk menjawab pertanyaan di atas ini. Mengapa? Dengan adanya arus globalisasi yang kian tak terbendung lagi. Tapi mestinya sebagai Manusia MEE yang berdiam di wilayah barat Pegunungan Tengah Papua harus optimis untuk dapat mengembalikan segalanya menjadi sedia kala. Dan kitalah yang bisa menjawab dan menjadi pelaku atas keselamatan Bahasa Mee yang kian diambang kepunahan itu.

Ada satu pengalaman: Saat saya masih kelas dua di Kolese Le Cocq d'Armandville, SMA Adhi Luhur. Siang hari, om ( sebutan paman ala papua) dan beberapa orang teman sebayanya berkumpul di sebuah gubuk, hanya untuk sekedar duduk- duduk dan hanya saling bertukar pikiran. Ada om Kris Mote. Om Andi Mote, dan ada beberapa lagi yang saya lupa nama-nama mereka. Saya pun duduk duantara mereka dan mendengarkan jalannya pembicaraan ini. Rasanya pembicaraan mereka menjadi semakin hangat. Pembicaraan ini hanya lingkup soal bahasa MEE masa kekinian. Ada yang bilang “ kalian kira bahasa MEE masih bisa popular ka?”,” ato bagaimana ?”. kemudian satunya bilang , “ bagaimana, sekarang bahasa MEE su tacampur begitu. Campur dengan bahasa mee dan Indonesia, apalagi deng bahasa inggris”, katanya menambahkan.

Dari pembicaraan itu saya semakin paham akan pentingnya nahasa MEE. Bahasa MEE sudah tercampur dengan bahasa Indonesia. Dan dengan bahasa inggris. Misal, Ada beberapa kalimat yang menjadi sorotan , “ eh anak, minum UWO cepat”, “ anak wae, ega, pergi ke om dulu”, “ saya mau makan nota”, dan lain sebagainya.


Inilah sederetan kalimat sebagai contoh, yang menjadi sorotan bahasa MEE kita. Pahami saja, dari kalimat diatas. Kata “uwo” yang artinya air dibaur didalam kalimat. Kata “ ega” yang artinya cepat, di baur didalam kalimat. Kata “ nota” yang artinya ubi dicampur didalam kalimat dan lain- lain. Bukankah saya, kamu dan kita semua patuh dan berbicara pada satu bahasa dalam situasi dan kondisi yang sedang berlansung. Bila kita berbicara pakai bahasa mee, kata- kata yang disertai harus bahasa mee semua. Bila berbicara bahasa Indonesia, kata- kata yang menyertai harus bahasa Indonesia saja. Supaya tidak bercampur baur,dan makna ambigu dan sekaligus menjaga kekonsistenan bahasa.

Apalagi bahasa MEE itu berbaur dalam konteks global. Dengan bahasa inggris. Gimana jadi yah? Itulah tanda- tanda kebahasaan MEE menjadi ambang tanda Tanya besar bagi suku MEE di tanah Papua.

Awal Januari 2010, saya hanya sekedar mampir ke warnet. Diskusi menarik terjadi. Hanya karena pentingnya budaya bahasa MEE. Budaya bahasa MEE yang semakin hari semakin memprihatingkan. Banyak orang chating di jejaring sosial (facebook). Bahasa mee penting. Bahasa mee penting. Bahasa mee penting. Itulah ujung kesimpulan yang saya temukan setelah diskusi dan chatiingan singkat dengan mereka yang saya diskusikan memalui jaringan sosial itu. Ada Kakak Markus You. Juga ada Kakak Agus Mote juga dengan beberapa orang lain yang tergabung dalam salah satu forum di jejaring sosial tersebut.

Dari keprihatinan itu. Akhirnya, ada pembahasan khusus supaya buat kamus bahasa MEE. Selain, yang ditulis abang Jhon pada oktober 2009. Selain, alkitab versi bahasa MEE. Selain, kumpulan doa yang ditulis Bruder Norbert, SJ. Bruder Norbert menamakan judul buku itu adalah “ani sembayang natopai,” yang artinya ajarilah aku berdoa.

Dari diskusi terbuka memalui jaringan sosial itu, yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang punya niat untuk menulis kamus bahasa MEE. Kalimat siapa yang bersedia menulis inilah yang diungkapkan oleh kakak Markus You yang juga sebagai seorang wartawan di Papua Pos Nabire. Dan, tampaknya, Agus Mote bersedia untuk menulis kaidah- kaidah bahasa Mee. Kemudian kamus bahasa MEE, siapa yang mau tulis?
Kawan ini bukan lelucon. Bukan bahan tertawaan. Paling tidak kita sendiri , orang suku MEE sendiri yang tulis kamus bahasa MEE. Sebenarnya yang ditulis kakak Jhon itu merupakan karya gemilang namun, masih ada fonem yang tidak konsisten dengan kita punya bahasa. Tapi karyanya perlu diacung jempol. Salahnya fonem “y” dipakai menjadi “j”. masih kebarat- baratan. Tapi luar biasa karena ditulis oleh manusia MEE. Apalagi ditulis dalam empat bahasa oleh kakak Jhon.

Ketika saya ikuti kelas Sosiologi Umum dikampus. Memang, budaya bahasa yang menjadi hal yang pertama (utama). Hal utama yang harus dipertahatikan oleh manusia sebagai bagian dari budaya. Yang katanya, budaya dan manusia tak dapat dipisahkan satu sama lain. Ibarat sebuah koin. Itulah teori yang saya pernah dapatkan di bukunya, Soerjono Soekanto. Dan diktat kuliah.

Bila kita tengok,bahasa Mee telah terasimilasi dengan bahasa lain. Yang paling Nampak di daerah perkotaan Papua. Katakan saja di Nabire, ungkapan bahasa MEE dan bahasa Indonesia paling Nampak. Di Nabire misalnya; ketika ada orang berbicara ataupun mengutarakan pendapatnya, kadang perbauran bahasa itu jelas terlihat. Sama halnya juga di Timika, jayapura dan lainya ditanah Papua lainnya.
Kita lihat lagi ke mahasiswa. Mahasiswa pun sama. Kebahasaan MEE masih membaur. Apalagi pembauran kebahasaan itu dengan bahasa Inggris.

Sebenarnya solusi yang terpikir oleh saya yakni kita konsisten dengan bahasa. Ketika kita hanya berbicara bahasa Mee, maka kata- kata yang menyertai pun harus bahasa Mee. Begitu juga dengan bahasa lainnya. 


“Untuk itu mari kita lestarikan bahasa MEE kita, agar bahasa sebagai modal utama yang Tuhan Berikan bagi suku MEE di tanah Papua, menjadi identitas yang cukup dibanggakan”, kata saya.


Dengan melihat itu semua. Jadi pertanyaan, apakah bahasa MEE masih popular seperti sedia kala. Saya pikir, kita pribadi masing- masinglah yang bisa menjawab. 


*) Penulis adalah Mahasiswa asal Tanah Papua, Kuliah di Bogor


NB: Tulisan ini pernah juga muat di Forum Deiyai News. Dimuat di Blog ini atas permintaan Penulis!!
BACA TRUZZ...- Bisakah, Bahasa MEE Akan Populer Seperti Sedia Kala?

Natalku

Senin, Desember 27, 2010

Oleh: Johannes Supriyono

Ini tentang sebuah kisah [Ya, natal memang sebuah kisah yang kemudian ditanggali 25 Desember, pada ujung tahun] tentang Tuhan nan agung yang menjadi manusia hina. Dari jagat keilahian yang mulia ke dalam bayi palungan nista. Yang agung mewujud dalam yang hina. Dan, yang hina diresapi oleh keagungan. Yang ilahi menjadi sangat manusiawi dan yang manusia menjadi sangat ilahi.

Natal adalah kisah tentang Tuhan yang menyeberang: dari sur

ga ke dunia. Dunia diubah menjadi surga. Kasih dan kedamaian ada di sana. Manusia menikmati keagungan semestinya. Dunia yang terbelah dipulihkan. Yang patah harapan ditegakkan.

Natal adalah kisah tentang Tuhan yang mendekati manusia, sangat dekat, dan merengkuh manusia ke dalam yang ilahi. Tidak dalam kemewahan dan segala glamor. Tuhan merengkuh manusia dalam kepapaan. Seperti bapa baik hati yang menerima anak hilangnya kembali.

Natal adalah kisah tentang kasih yang cuma-cuma, yang mengingatkan manusia pada keagungan samudera kasih Allah tempatnya tenggelam.

Natal adalah kisah tentang Tuhan yang ingin dunia ini menjadi surga.

"Tuhanku, selamat natal. Selamat datang di dunia. Semoga aku dan seluruh kawanku boleh memanusia bersama-Mu: mengasihi, mencintai, memaafkan, dan menyembuhkan. Aku ingin bersamaMu, menghadirkan surga di dunia ini: Yang sakit disembuhkan, yang buta dimelekkan, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, yang lapar dikenyangkan, yang mati dihidupkan... Tuhan, aku ingin seluruh kehendakMu terjadi di bumi ini."

BACA TRUZZ...- Natalku

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut