Ketajaman Otak pun Bisa Dilatih

Kamis, September 02, 2010

Semakin bertambah tua, tidak dapat kita pungkiri kapasitas ingatan kita semakin berkurang. Kita mulai sering lupa. Seperti dilansir kapanlagi.com misalnya nama-nama orang atau di mana kita meletakkan barang. Tapi bertambah tua bukan berarti selalu berkurangnya daya ingat. Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk membuat ingatan tetap tajam. Simak yang satu ini:
Melatih Otak Kiri
Otak kiri diyakini berfungsi untuk mengontrol logika, bahasa dan kemampuan berhitung. Untuk membuatnya berjalan dengan kapasitas penuh, coba dengarkan bahasa baru atau bermain teka-teki. Sudoku salah satu pilihan bagus.
Melatih Otak Kanan
Otak kanan berfungsi untuk membangun kreativitas. Pertahankan agar tetap tajam dengan belajar musik, belajar sesuatu yang baru atau menekuni hobi baru. Bahkan ikut bernyanyi dalam paduan suara juga dapat membantu.
Melatih Keseluruhan Otak Belajar meditasi.
Melakukan meditasi membantu mengurangi tingkat stres dan kegelisahan. Dengan cara ini pula dapat kegelisahan. Dengan cara ini pula dapat membantu mengontrol pusat otak untuk terus merasa gembira dan senang.
Praktekkan Kemampuan Daya
Ingat Ingat saat Anda masih kecil dan dengan mudah mengingat segala hal, bahkan pelajaran menghafal nama-nama menteri dalam pemerintahan. Ingatan Anda tumbuh dengan subur saat Anda mempraktekkan ketrampilan mengingat.
Aktif Dalam Kegiatan Sosial
Dengan kehidupan social yang sibuk dapat mengurangi kemunduran ingatan.

Sumber : Spirit hal.13 Edisi 33#Tahun V#Juli 2010
BACA TRUZZ...- Ketajaman Otak pun Bisa Dilatih

Di Deiyai, Kolera ‘Makan’ 230 Orang

Rabu, Agustus 25, 2010

Wabah kolera kembali merebak di Kabupaten Deiyai. Tepatnya di Kampung Komauto, Distrik Kapiraya. Jumlah korban 230 orang. “Sampai sekarang wabah kolera masih menyerang warga Kamauto di Distrik Kapiraya,” kata Jason Yobee, Sabtu (21/8).

Menurutnya, pemerintah daerah masih belum menangani wabah tersebut. “Dinas Kesehatan belum turun ke lapangan untuk melihat penyebab Muntaber. Wabah itu terjadi sebelum pemekaran, saat masih Kabupaten Paniai,” kata Jason.

Muntaber di Komauto diduga mirip wabah di Lembah Kamu (Kabupaten Dogiyai), Muye (Kabupaten Paniai) dan Kabupaten Deiyai setahun silam.

Bukan hanya di Komauto. Kini wabah sudah menyerang warga Kampung Atou dan Idego, Distrik Kapiraya. “Wabah bermula dari gejala muntaber sejak Juli 2008 lalu,” imbuh Yobee.

Ironisnya, beberapa orang yang membantu pasien justru ikut meninggal. “Sampai sekarang pemerintah daerah belum tangani wabah itu, padahal kami sudah beberapa kali sampaikan, tapi hanya dijanjikan saja.”

Di Distrik Kapiraya tidak ada petugas kesehatan. Gedung Puskesmas yang dibangun pemerintah Kabupaten Paniai, ibarat rumah hantu. Obat-obatan pun tak ada. “Dulu masyarakat kecewa, jadi sempat bakar gedung Puskesmas itu,” katanya.

Masyarakat setempat saat ini sangat mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan menyusul merebaknya wabah tersebut. (Markus You)
-------------------------------------
Sumber: www.tabloidjubi.com
BACA TRUZZ...- Di Deiyai, Kolera ‘Makan’ 230 Orang

Food Estate dan Masyarakat Adat

  Oleh: Oktovianus Pogau*)


MERAUKE Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) belakangan ini menjadi topik hangat. Rencananya, di Merauke akan dibuka jutaan hektare (ha) lahan untuk pengembangan program “lumbung” pangan nasional. Food estate merupakan konsep pengembangan produksi pangan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, bahkan peternakan di suatu kawasan yang sangat luas. Secara sederhana konsep ini bisa dikatakan perkampungan industri pangan.

Untuk mendukung program food estate, pemerintah membuat payung hukum. Tujuannya, menarik investor masuk. Salah satunya, Instruksi Presiden No 5 Tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi 2008-2009 termasuk mengatur investasi pangan skala luas (food estate). Memasuki tahun 2010, Kementerian Pertanian merancang peraturan pemerintah (PP) tentang food estate atau pertanian tanaman pangan dengan skala sangat luas. Sebelumnya, persoalan ini sudah masuk dalam Perpres No 77/2007 tentang Daftar Bidang Usaha Tertutup Dan Terbuka untuk Investasi.

Saat ini, diperkirakan ada 7,13 juta ha yang dianggap telantar di Indonesia. Kabupaten Merauke, Papua, salah satu daerah yang dipandang layak untuk program food estate dengan lahan seluas 1,6 juta ha. Program ini secara resmi dicanangkan Bupati Merauke, Jhon Gluba Gebze pada perayaan HUT Kota Merauke ke 108, 12 Februari 2010.
Merauke memiliki cadangan lahan pertanian 2,49 juta ha, terdiri dari lahan basah 1,937 juta ha, dan lahan kering 554,5 ribu ha. Lahan yang ada hampir semua datar, hingga cocok untuk usaha pertanian skala luas. Sedangkan yang berpotensi untuk pengembangan food estate sekitar lahan 1,63 juta ha. Dari luas itu, sekitar 585.000 ha lahan penggunaan lain (APL) yang sudah mendapat persetujuan Kementerian Kehutanan.
Beberapa distrik di Merauke merupakan kawasan sentral produksi. Untuk tanaman padi di Merauke, Semangga, Kurik, Tanah Miring, Okaba dan Kimaam. Kedelai ada di Jagebob, Malind, Muting, Elikobel, Okaba dan Kimaam. Sedangkan jagung di distrik Semangga, Jagebob, Muting, Elokobel, Okaba, dan Kimaam.

Milik Konglomerat
Kabarnya, untuk mendukung program ini akan ada 36 investor di Merauke. Dari jumlah itu, 28 investor dalam negeri, sisanya asing. Serikat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Merauke, menyebutkan, beberapa perusahaan besar telah mulai beroperasi sejak Mei lalu. Misal, perusahaan milik Prabowo Subianto, PT Kertas Nusantara memperoleh lahan paling besar 154.943 ha untuk hutan tanaman industri (HTI).

Perusahaan ini hadir dengan surat rekomendasi 522.1/2700 tanggal 23-10-2008. Secara khusus perusahaan ini untuk pembuatan kertas dan bubur kertas, berkantor pusat di Menara Bidakara, Jakarta Pusat. Daerah operasi mereka meliputi beberapa distrik, seperti Ngguti, Okaba dan Tubang. Kehadiran PT Kertas Nusantara ini sudah tentu membuka hutan cukup besar. Keadaan ini khawatir terjadi konflik antara masyarakat adat setempat dengan perusahaan.

Lalu, Medco Group, perusahaan milik Arifin Panigoro melalui anak usaha PT Medco Papua Industri Lestari. Dia telah berinvestasi juga di Merauke. Kehadiran mereka dengan surat rekomendasi No.522.2/415 tanggal 18-02-2010, beroperasi di distrik Kaptel dan Ngguti. Lahan yang akan dibuka untuk energi biomassa (industri produksi energi) dan hutan tanaman industri (HTI) seluas 169.000 ha. Medco Group dan Arifin Panigoro hadir dengan tiga misi utama yakni; memperluas eksplorasi, meningkatkan produktivitas lapangan, serta memperketat balancing portfolio. Medco Group tentu akan beroperasi dalam waktu cukup lama di sana.

Tak ketinggalan, Keluarga Wiliam Soeryadjaya yang pernah menjadi orang nomor dua terkaya di Indonesia. Mereka menanamkan modal lewat PT Agro Lestari dengan anak perusahaan PT Papua Agro Lestari bergerak di perkebunan sawit. Perusahaan ini mendapat lahan operasi seluas 39,8 ribu ha, dengan surat keputusan. No 08 tanggal 16 Januari tahun 2007. Wilayah operasi mereka meliputi sebagian besar Distrik Ulilin.

Selain ketiga konglomerat kelas kakap itu, masih ada beberapa lagi yang perusahaan besar. Sebut saja Tommy Winata pemilik kelompok usaha Artha Graha Network melalui anak usaha PT Sumber Alam Sutera (SAS), Aburizal Bakrie dari kelompok Bakrie Group dan lain-lain.

Masyarakat Adat dan Lingkungan
Rencana ini mendapat respons dari berbagai kalangan, baik lembaga swadaya masyarakat maupun gereja di Papua. Septer J Manufandu, Sekretaris Eksekutif Foker LSM Papua mengatakan, program MIFEE yang membuka lahan 1,6 juta ha merupakan ancaman baru kerusakan hutan dan terjadi marginalisasi hak-hak masyarakat adat Marind. Direktur Serikat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Merauke, Pastor Decky Ogi MSC menyatakan, dampak MIFEE sudah tentu merugikan masyarakat adat setempat. Diana Gebze dari Solidaritas Masyarakat Papua Tolak MIFEE menolak kehadiran MIFEE karena berpotensi menggusur hak-hak adat masyarakat Marind demi kepentingan imperialisme.

Tujuan MIFEE tidak buruk jika memang murni mengatasi krisis ketahanan pangan. Namun, yang menjadi kekhawatiran jika program ini menggusur hak-hak adat, hutan dan budaya masyarakat setempat. Banyak pengalaman pahit yang membuat masyarakat adat di Papua, trauma.

Semoga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih ingat pada pidato di Kopenhagen akhir tahun lalu. Saat itu, dia mengajak pemimpin dunia menginjeksi logika ekonomi baru (new economic logic) dalam konsep pembangunan ekonomi. Konsep new economic logic versi SBY itu adalah mempertahankan tegakan hutan jauh lebih menguntungkan daripada menebang.

Pemerintah harus serius memerhatikan hak-hak masyarakat adat Marind. Pemerintah jangan membuat peraturan yang berpihak kepada pemodal, sembari mengabaikan hak-hak masyarakat adat. Peraturan daerah khusus (perdasus) yang mengatur hak-hak hidup, hutan dan adat harus dibuat. Ini untuk mengantisipasi keberlangsungan hidup masyarakat adat Marind di Merauke, Papua. Mari bersama-sama melihat, apakah kehadiran MIFEE menjadi ancaman atau berkah bagi masyarakat Merauke.

*) Solidaritas Masyarakat Papua
Sumber : http://www.jurnalnasional.com/show/arsip?berita=140808&pagecomment=1&date=2010-8-20
BACA TRUZZ...- Food Estate dan Masyarakat Adat

Di Tempat Sampah Mereka Mencari Nafkah

Minggu, Agustus 08, 2010

Dalam 10 tahun terakhir Pemda Merauke membeli empat buah pesawat. Membuka lahan untuk investor. Kaum miskin kota tak terurus.

Serombongan anak-anak berkaki telanjang  menapaki Jalan Natuna Kelurahan Karang Indah, Kota Merauke. Kompleks itu  dihuni oleh sebagian besar Penduduk Asli Papua, seperti Suku Marind, Mappi, Asmat dan Muyu Mandobo. Daerah itu juga dihuni oleh penduduk pendatang.

Siang itu, ditengah ganasnya sang surya, anak-anak manis tersebut terlihat memikul karung usang. Tubuh mungil mereka bermandikan kerigat. Mereka menyinggahi dari tempat sampah ke tempat sampah yang lainnya. Mereka memburu macam-macam barang rongsokan, seperti besi tua, aluminium, potongan kabel, kemasan minuman berbahan aluminium dan sejenisnya. 

Mereka mengaku, pekerjaan itu mereka lakoni setelah pulang sekolah. Fitalis Kamkopimu, seorang anak yang perawakannya lebih besar dibandingkan dengan rekannya dipercaya sebagai ketua tim. Fitalis yang menentukan wilayah mana yang akan akan digarap, sekaligus menentukan jumlah orang dalam satu tim kecil. Setelah mereka berembuk, anak-anak tersebutpun berpencar ke berbagai tempat sampah maupun wilayah yang dianggap ada ‘rezeki’.

Fitalis memilih Anes Way yang menemaninya. Keduanya, menyisir tempat sampah Wilayah Seringgu dan sekitarnya. Sedangkan lainnya menyebar hingga ke Gudang arang, Pelabuhan, Kompleks Transito, Kelapa Lima, Mopah dan di sekitar kompleks pertokoan di Jalan Raya Mandala, Merauke. Fitalis mengaku, selain besi tua, anak-anak pemulung sering memburu aluminium karena harga lebih mahal. Perkilo gram dihargai Rp. 6000. “Harga aluminium lebih mahal,” katanya kepada JUBI yang sengaja meliput aktivitas mereka pekan kemarin.

Sebagaimana disaksikan JUBI, walau pekerjaan yang mereka lakoni itu terasa berat, tetapi tampak mereka tegar dan ceria. Tingkah Anes yang berpostur lebih pendek dari Fitalis yang mengundang tawa. Sesekali ia bercanda sehingga situasi berubah segar. “Begini sudah kalau jadi orang miskin,” katanya bernada canda. “Anes, tempo!  (cepat-red) Ambil kawat itu,” timpal Fitalis sambil menggaruk kepalanya yang gatal.

Di sebuah kompleks militer di Jalan Martadinata, keduanya masuk ke gang-gang. Kalau tidak diketahui penghuninya, keduanya sampai masuk ke dalam pekarangan rumah warga. Fitalis dan Anes panen hari itu. Pasalnya, di sebuah rumah, teronggok tumpukan kaleng minuman. Tangan keduanya dengan cekatan memasukkan kaleng-kaleng minuman itu ke  dalam karung. Lantaran terlalu gaduh, penghuni rumah mengetahui keberadaan mereka. Dari dalam rumah terdengar suara. “Kamorang bikin apa! Jangan pancuri barang orang sembarang ya!” bentak perempuan itu. “Tidak tante, ambil kaleng bekas saja,” begitu jawaban Fitalis dan Anes. Keduanya bergegas lari dari rumah di kompleks militer itu, lalu berhamburan di jalan sambil tertawa riang karena memperoleh kaleng bekas yang cukup banyak. 

Keduanya melanjutkan perjalanan. Sesampai di daerah pasar darurat yang baru saja terbakar, mereka numpang mobil angkutan pedesaan menuju Kampung Kuprik Distrik Semangga. Berharap mendapatkan peruntungan yang lebih dari wilayah perkotaan. Diantara mereka tidak ada persaingan, namun masing-masing sudah mengetahui di mana mereka harus mencari besi dan kaleng tanpa harus mengganggu rejeki rekan lainnya.  Mereka jarang makan makanan bergizi sehingga tubuh mereka kurus dan nampak sedikit buncit lantaran kekurangan gizi.

JUBI mengitu jejak Fitalis dan Anes siang. Sekitar Pukul 15.30 WIT, keduanya beringsut pulang. Berjalan kaki dengan menyeberangi Jembatan Maro yang panjang hampir mencapai satu kilo itu. Jembatan ini yang menghubungkan wilayah perkotaan dengan beberapa distrik di Kabupaten Merauke.
Sampai di kota, keduanya pergi ke tempat penampungan besi tua.  Keduanya nampak dekil dan lusuh lantaran letih seharian mencari besi tua. Di dalam penampungan besi tua, nampak 4 orang lelaki tengah bersantai, 1 diantaranya tengah mengemas besi-besi tua.

Lelaki separuh baya pemilik usaha penampungan besi tua, langsung mengambil kedua karung milik Anes dan Fitalis. Setelah usai menimbang, keduanya diberi uang. Fitalis mendapat 50 ribu rupiah, sedangkan Anes mendapatkan 35 ribu rupiah. Keduanya tak pernah mengeluh dengan harga yang dipatok pemilik usaha, yang penting dapat uang  untuk beli buku sekolah atau diberikan sebagian pada orang tua walau tak seberapa hasilnya.

Fitalis mengaku, terkadang ia dan rekan-rekannya bolos sekolah demi mencari besi tua. Guru mereka sering menemukan Fitalis dan rekan-rekannya di pinggir jalan tengah mencari barang bekas. Hati mereka kecil mereka seakan tak mengerti bahwa pendidikan lebih penting dari pekerjaan yang mereka lokoni itu.
Keluar dari tempat penampungan besi, keduanya lalu mencari warung terdekat, rasa lapar sudah menggerogoti perut mereka sedari siang. Keduanya makan Bakso Celebes. Sebuah warung bakso yang berdekatan dengan penampungan besi tua di sepanjang Jalan Irian Seringgu.

Fitalis dan Anes lalu bergegas pulang, setibanya di Natuna, mereka langsung bertemu dengan rekan-rekan lainnya sesama pemulung yang tengah bergerombol di sepanjang jalan Natuna. Pemukiman mereka nampak lebih sederhana dari pemukiman lainnya. Terbuat dari papan dan beratapkan seng tanpa plafon. Ibunda Fitalis bernama Alfonsina. Mama Alfosiana sering memarahi Fitalis karena selalu terlambat pulang ke rumah.
Setelah itu, dia melupakan pekerjaan rumah dari guru di SD Biankuk tempatnya bersekolah. Kembali berkumpul dengan rekan-rekannya di sepanjang Jalan Natuna. Riuh rendah suara mereka di kompleks pemukiman warga lokal, berkerumun hanya untuk saling bercerita hingga malam hari. Ibu mereka, hanya menatap dari kejauhan tanpa peduli apa yang mereka lakukan.

Anes, anak berperawakan kurus dan nampak kekanak-kanakan sibuk mengajak kawan-kawannya untuk mengumpulkan uang hasil memungut barang bekas. Seorang 5 ribu rupiah.  Jelang malam hari, sekitar Pukul 19.00 WIT, Anes mengajak rekan-rekannya pergi ke sebuah toko bangunan. Setibanya, Anes kemudian membeli 3 kaleng aibon berukuran kecil, harganya masing-masing Rp. 9000.

Keinginan untuk segera menghirup aibon membuat Anes dan ketiga rekannya sesegera mungkin beranjak dari keramaian kota. Mereka tiba di dekat Kawasan Bandar Udara Mopah, Merauke. Duduk di bawah sebuah Pohon Mahoni yang lebih rimbun. Cahaya penerangan hanya bersumber dari terangnya bulan di atas kepala mereka. Anes dan kawan-kawan lekas membuka lem aibon yang baru saja dibeli. Dengan bersila, ketiganya kemudian menghirup aibon. Aibon bereaksi dan mereka terlena dengan hirupan aibon yang menggerogoti saraf otak ketiganya hingga larut malam.

Mama Theresia Esi Samkakai, Tokoh Perempuan Papua yang sangat peduli terhadap perkembangan Anak Papua dan pendidikan mengatakan, perubahan sosial ekonomi membuat hidup Anak-anak Papua luput dari perhatian semua pihak. Orang tua dari  anak-anak pemulung, rata-rata tak memiliki penghasilan tetap sehingga untuk memenuhi kebutuhan si anak, sangat tidak memungkinan.  “Harus dipertanyakan pada pihak-pihak terkait, apakah kondisi ini akan dibiarkan terus terjadi? Ini harus dicarikan jalan keluarnya.”

Jika undang-undang pendidikan mengamanatkan agar setiap  anak wajib bersekolah, maka harus konsekuen sehingga tidak ada yang terlantar di jalan-jalan.  Kondisi semacam ini, kata Esi, berpengaruh  secara psikologis.  Anak akan berkembang tidak terarah, liar dan tak dapat dikendalikan karena muncul keinginan  yang berdampak pada masalah sosial yang muncul di masyarakat. Umumnya, Anak Papua  tidak terperhatikan oleh orang tuanya. Hasilnya, banyak Anak Papua yang belum bisa membaca dan menulis hingga Kelas 4 SD.

Budaya bergeser jauh, terutama dalam kehidupan di kota dan tergusur oleh perkembangan jaman. “Anak harus belajar, tidak bekerja. Sangat disayangkan, anak akan berkembang liar dan menjadi beban sosial,” sesalnya. (JUBI/Indri Qur’ani)
------------------------------
Sumber: http://tabloidjubi.com/index.php/edisi-cetak/perempuan-dan-anak/8109-di-tempat-sampah-mereka-mencari-nafkah-
BACA TRUZZ...- Di Tempat Sampah Mereka Mencari Nafkah

Cyntia Warwe: Poligami untuk Generasi, Mengapa Tidak?

Kamis, Agustus 05, 2010

           Akhir-akhir ini, wacana poligami banyak dibicarakan orang di tanah Papua. Mereka berbicara di berbagai tempat dan melalui berbagai media. Beberapa bulan lalu,  tepatnya 30 Oktober 2009 wacana poligami didiskusikan cukup serius dengan melibatkan berbagai pihak. Mereka yang dilibatkan adalah Aprila Wayar (wartawati Tabloid Jubi), Rinny Soegiyoharto (Psikolog, lulusan UI Jakarta), Heni Lani (Aktivis HAM), Ryan Andrew Adriana Saroy (Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Hukum Universitas Janabadra Jogjakarta), Puput Daryo (Mahasiswa FT. Arsitektur Unika Soegiyapranata Semarang), Seniora Papua, Marice Katem (Alumnus Santa Maria Jogjakarta), Binangko Moiwend (SKP Jayapura), Octavianus Pogau (Siswa SMA di Nabire), Green Emerald (Sekred Tabloid JUBI), Miosindi Abubar (Wartawan Tabloid JUBI), Pdt Jessy Leimena (Alumnus Fak. Teologi UKDW), John Pakage (Wartawan Reuters untuk Papua), Emmy Sahertian (Aktivis HAM dan Juga Pendeta), Imbir Charles (Aktivis Lingkungan-CII-Sorong), Farsijana (Dosen UKDW), Yermias Degei (Guru SMA Adhi Luhur Nabire dan sekretaris LPP-edPaPaS), Donald Heipon (Aktivis HAM), Budi Hernawan (SKP Jayapura n Bruder), Kalfin Carles (Aktivis HAM-Mantan Ketua PKMFP Yogyakarta, Theus Rumere (Aktivis Lingkungan Hidup), Lucky Ir (Pimpinan Redaksi Cenderawasih Pos).  Diskusi itu tidak berakhir dengan sebuah kesimpulan. Melalui, webblognya, Oktopianus Pogau juga menulis tentang poligami.
            Terkait isu poligami tersebut, Majalah Selangkah menemui salah satu aktivis perempuan Papua, Cyntia Warwe dari Garda-Papua di Jayapura beberapa waktu lalu. Wawancara itu terkait tulisannya yang berjudul “Filosofis Poligami untuk Generasi” yang sempat dipublikasikan melalui facebook dan mendapat respon beragam dari berbagai pihak. Berikut petikannya.
 
Sebenarnya, apa itu poligami?
Dalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan) sekaligus pada suatu saat. Kemudian monogami adalah seseorang memiliki hanya satu suami atau istri pada suatu saat. Ada tiga bentuk poligami, yaitu poligini (seorang pria memiliki beberapa istri sekaligus), poliandri (seorang wanita memiliki beberapa suami sekaligus), dan pernikahan kelompok (bahasa Inggris: group marriage, yaitu kombinasi poligini dan poliandri).

Bagaimana sejarahnya?
Laki-laki pada hakikatnya adalah poligami. Namun, seiring dengan perkembangan zaman mulai muncul kesadaran bahwa kalau akhirnya tidak bias menjamin keluarga dari sisi ekonomi dan kasih sayang tidak penting untuk poligami. Budaya poligami di Jawa sudah biasa. Salah satu teman saya cerita, bapak kosnya di Yogyakarta beristri tiga. Seorang teman dari Nabire menceritakan bahwa moyangnya beristri tujuh. Di Wamena, Obahorok beristri puluhan. Di Intan Jaya juga ada yang beristri puluhan. Masih banyak juga. Di  luar negeri, Milton Mbhele di Weenen, Afrika Selatan menikahi empat perempuan bersamaan, yang mana Hukum di Afsel membolehkan pria seperti Mbhele untuk melakukan pernikahan poligami atau lebih dari satu istri. Aturan itu berlaku bagi mereka yang berasal dari suku tradisional Afsel, yaitu Zulu dan Swazi. Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma bahkan memunyai 3 istri. Masih banyak lagi. Jadi, poligami bukan menjadi suatu masalah di Afrika Selatan.
 
Sejarah poligami masa lalu berbeda dengan masa kini. Dulu, selain untuk generasi juga dia (orang tua) melihat beban kerja. Ketika dia punya kekayaan banyak dan istrinya kerja seorang diri, maka dia akan mencari istri baru untuk kurangi beban kerja. Dia akan menikah. Kalau sekarang, ketika kita lihat uang banyak, kekuasaan besar merasa diri dia bias miliki saja. Apakah mau istri limakah-enamkah terserah, tapi sekarang lebih banyak bukan dalam rangka gererasi. Lebih banyak nafsu dan gengsi maka beristri Jawa, Manado, Sumatra, dan lain-lain. Jadi, bukan untuk generasi yang rambut keriting dan kulit hitam.   
Kapan dan oleh siapa wacana poligami dalam konteks generasi itu mulai dimunculkan?
Dalam konteks generasi, sebenarnya makna poligami sudah dibicarakan mahasiswa Papua di Jawa untuk meningkatkan keturunan masyarakat asli Papua. Selanjutnya, pada diskusi Mambesak News di Hollandia (Jayapura: red), saya terhentak saat mendengar saudari Justicia dan Hypocrite mengatakan bahwa ’’tong harus poligami’’. Dan, pada saat itu Geel dan Eva menyetujui itu. Saya dengan Che hanya memberikan senyuman saat mendengar ungkapan ’’poligami’’, karena mahasiswa Papua di wilayah Makassar berpikir pun tidak pernah apalagi berdiskusi mengenai poligami.
 
Lalu, sebenarnya mengapa kebanyakan orang terus membicarakan pentingnya poligami?
            Wacana poligami mulai dibicarakan karena ada sebuah keprihatinan akan  eksistensi penduduk asli Papua. Tingkat populasi penduduk asli Papua tidak sebanding dengan penduduk non-Papua. Dr. Jim Elmslie, seorang peneliti dari Universitas Sidney pada akhir tahun 2007 dalam sebuah sebuah konferensi di Australia mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk Papua hingga tahun 2030 lebih didominasi oleh pertumbuhan penduduk non-Papua. Ia memberikan perbandingan tentang penduduk asli Papua dan non-Papua sejak tahun 1971. Perbandingan ini dapat dilihat dalam tulisan saya di internet dengan judul “Filosofis Poligami untuk Generasi”.
            Yang lebih mengkhawatirkan lagi, pada tahun 2030 Dr. Jim memprediksikan penduduk asli Papua hanya 15,2% dari total 15,6 juta jiwa penduduk Papua. Dengan kata lain, perbandingan antara penduduk asli Papua dan non-Papua pada tahun 2030 akan mencapai 1 : 6,5. Data BPS Papua pada tahun 2000 menunjukan jumlah penduduk asli Papua adalah sebanyak 1.460.846 jiwa.  Hanya mengalami pertambahan jiwa sebanyak 560.843 dalam kurun waktu 1970 - 2000 (30 tahun).
            Jadi, data lain seperti yang ditulis Tabloid Jubi, 3 April 2008, di masa yang sama, penduduk Papua New Guinea bertambah dari 2.554.000 pada tahun 1969, menjadi 5.299.000 jiwa pada tahun 2000. Jadi ada pertambahan sebanyak 2.745.000 jiwa. Pertambahan penduduk asli Papua di Indonesia tidak sampai 50% sedangkan di PNG penduduknya bertambah lebih dari 100%.

Bagaimana cara melakukan?
Ini adalah wacana umum.  Jadi, ide poligami ini dapat dibicarakan secara serius melalui  diskusi. Ide ini dikembangkan dan dibicarakan untuk generasi Papua ke depan. Poligami merupakan sesuatu yang dibolehkan, namun bukan sesuatu yang diharuskan. Artinya, seseorang boleh saja berpoligami dengan catatan dia dapat memenuhi syarat yang ditentukan melalui diskusi yang lebih serius. Memang secara logika, poligami terkesan tidak adil, sebab tidak memperbolehkan poliandri (wanita bersuami banyak). Namun, aturan yang muncul juga harus disesuaikan dengan logika, sebab logika manusia itu terbatas.
            Pandangan saya, kita dapat melihat dari hikmah poligami ini dengan menguji keikhlasan. Dan, menurut saya layak untuk jadi catatan adalah ‘menguji kemampuan kita dalam berbagi sesuatu yang kita cintai’’.  Ya tentunya, berbagi sesuatu yang dicintai, karena mencintai sesuatu bukan berarti kita harus memiliki sesuatu itu. Sebab, jika kita masih merasa harus memiliki sesuatu yang kita cintai berarti kita masih menjadi orang yang egois. Orang egois adalah orang yang hanya mencintai dirinya sendiri.
Mencintai sesuatu dapat dibuktikan dengan membiarkan orang lain merasakan manfaat dari yang kita cintai. Selain itu, membiarkan yang kita cintai dapat mencintai yang dia cintai. Pusingkah? Jika pusing berarti Anda masih berpikir.
            Memikirkan konsep ini tidak menjadi rumit, apabila diri kita sendiri berpikir untuk generasi, untuk memperbanyak keturunan dan dapat dilihat dari faktor umur perempuan dan tingkat kedewasaan pemikiran perempuan untuk generasi Papua ke depan. Saya sangat mengharapkan ide ini dikembangkan secara riil dan melihat dalam konteks Papua 30 tahun ke depan. Ideologi untuk generasi Papua ke depan sangat dibutuhkan, kesadaran intelektual kita diuji dalam hal ini.

Bagaimana dengan ajaran agama yang melarang poligami?
            Saya tidak ingin membedah poligami ini dalam ajaran agama, karena banyak sudah membahas orang.  Beberapa bulan lalu sempat dibicarakan di kampus STT Kijne, Abepura tetapi dalam diskusi tersebut hal ini tidak dilihat dari sudut pandang agama. Mereka lebih melihat dari segi proteksi identitas orang Papua, hitam dan keriting yang beberapa tahun ke depan mungkin hanya akan akan ada di museum untuk di kunjungi. Jadi, poligami itukan kebudayaan orang Papua dan perlu diwacanakan untuk proteksi. 
            Dalam diskusi itu dibicarakan bahwa dasar kebutuhan manusia adalah kebahagiaan yang artinya menyangkut landasan ekonomi. Adat dan orang tua dulu sudah mengajarkan hal-hal yang positif, yaitu tentang poligami. Mereka mampu menunjukkan kewibawaan dalam mengambil kebijakan dalam lingkungan sosial dan mereka mampu menyakinkan komunitas adat (Mambri, Tonawi, Ondoafi/Ondofolo ’BigMan’ dan menunjukkan kematangan dalam mengambil sikap untuk melakukan poligami. Sebenarnya,   sejarah nabi-nabi juga membuktikan bahwa poligami itu hal yang wajar dan diakui.  Jadi, yang  penting tanggung jawab untuk membagikan kebahagian secara bijak.
          Tapi, kaitan konflik agama saat ini dengan poligami Abraham adalah tidak benar. Konflik agama itu bukan karena poligami tetapi itu lebih karena ideologi.

Bagaimana konsep Anda tentang pemenuhan kebutuhan dalam keluarga?
            Dalam konteks kebutuhan dalam berpoligami juga harus memenuhi hirarki kebutuhan menurut konsep Abraham Maslow (pelopor aliran psikologi humanistic). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Ini yang harus dijalankan oleh suami-istri yang ingin menjalankan konsep poligami unutuk generasi. Kalau tidak diperhatikan, kebutuhan gizi anak dari menyusui dini hingga besar dan kecerdasan otak tidak berkembang sebagaimana baiknya.
            Ini juga harus dilihat dalam konteks masyarakat Papua kelas bawah yang standar kemiskinan masih mendominasi. Apa salahnya jika suatu keluarga ingin poligami namun taraf kehidupannya masih rendah dan keluarga tersebut meminta jaminan ke pemerintah. Itupun kalau sudah ada aturan oleh pemerintah/seperti yang terjadi di Jepang.

Apa yang terjadi di Jepang?
            Yang terjadi di Jepang menarik. Menteri Kesehatan Jepang Hakuo  Yanagisawa, yang melihat angka kelahiran yang rendah di Jepang mengatakan, sebuah keluarga memiliki anak lebih dari lima anak, maka akan diberikan jaminan oleh negara untuk kelangsungan pertumbuhan seorang anak tersebut. Dan, Perdana Menteri Shinzo Abe berjanji akan mengeluarkan Undang-Undang untuk mendorong perusahaan bersifat lebih fleksibel dalam menghadapi kebutuhan keluarga karyawan mereka. Angka kesuburan Jepang jatuh di bawah 1.26 bayi per ibu dalam tahun 2005. Informasi ini dapat dibacara di voanews.com, 29/01/2007.
            Memang Yanagisawa dikecam karena menggambarkan wanita sebagai mesin pencetak anak. Tetapi, di depan parlemen dia sudah meminta maaf karena ‘’melukai perasaan perempuan’’. Hal ini dilakukan karena melihat angka kelahiran paling rendah di Jepang, yang menimbulkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi dan kemampuan mendanai penggelembungan biaya pension.
 
Bagaimana dengan nikah dini?
            Menikah dini tentunya kita melihat dari faktor umur perempuan juga menjadi pertimbangan, dalam menerapkan konsep poligami ini, tanggapan sdri, selly mambor dalam komunitas papua (Mari memulai dari diri kita. Kita harus jaga organ reproduksi kita bila kita mau menyelamatkan orang Papua dari genosida melalui rencana "bikin anak banyak". Jadi mari setia dengan satu perempuan. Saya sepakat bila solusinya nikah dini dan bikin anak banyak. Satu orang Papua dengan satu istri bisa melahirkan 15 anak berkualitas dalam umur 40 tahun, ditambah lagi bila anak-anaknya dinikahkan dini, maka sudah pasti punya cucu yang banyak.  
            Setelah pasangan suami istri sudah tidak produktif atau meninggal, dia bangga bisa mempersembahkan 20 atau 30 anak dan cucu selama ia hidup. Kalau kita semua mulai sadar dengan cara ini, 10 tahun kedepan kita sudah bisa mengatasi bahaya genosida), menikah dini juga kita harus memikirkan kematangan dari pola pikir perempuan, kalau pun menikah dini dengan konsep untuk generasi tentunya tidak akan menjadi masalah. Namun, terkadang dalam menikah dini pasti masih banyak terjadi ke egoisan dalam diri perempuan (konteks saya).

Ngomong-ngomong, bagaimana kalau suami Anda nanti ingin poligami?
            Untuk generasi, saya berpikir tidak ingin egois dan memakai perasaan. Bila suatu saat saya mendapat lelaki Papua yang ingin menerapkan konsep poligami dan siap memberikan kebutuhan secara manusiawi, kalaupun dalam pemenuhan kebutuhan tidak bisa terpenuhi tentunya saya juga diberikan kebebasan bekerja/berkarir (untuk menghasilkan kebutuhan) dalam keluarga. Tentunya lelaki Papua yang akan menjadi pilihan saya nantinya tidak egois dalam hal membagi jatah ekonomi/kebutuhan dalam rumah tangga.
 
Bagaimana tanggapan Anda untuk kaum feminis dan aktivis perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender?
            Untuk kaum feminis atau pun aktivis perempuan, tampaknya lebih mementingkan perasaan (atau lebih tepat egonya), dari pada logika dan kecerdasannya. Lihat saja sikap mereka terhadap kesetaraan gender. Sebenarnya apa yang ingin diangkat dalam isu ini (poligami), yaitu (1) apakah keinginan untuk mengangkat martabat wanita? (2) apakah hanya ingin menunjukkan bahwa wanita itu bisa sama seperti laki-laki?

Apa yang mau katakana di akhir wawancara ini?
            Saya mau mengucapkan terima kasih untuk tulisan Okto Pogau yang menceritakan konsep poligami adalah sebuah jawaban dalam konteks proteksi orang asli Papua. Pada intinya, kalau untuk generasi dan ideologi apa yang tidak mungkin. Ide ini dikembangkan ke depan. Jangan hanya menjadi konsumsi publik dan menjadi perdebatan semata dan sebatas menjadi mengawang atau pun mimpi. Saya senang dengan tulisan “cewe mogee” (perempuan Papua Barat), yaitu ’’zaman boleh berubah, budaya jangan dirubah’’.
            ’’Kesadaran akan hal ini sangat penting di tengah kaum perempuan. kehadiran anak dalam sebuah keluarga ditentukan oleh perempuan, apakah banyak atau sedikit mau lahir berapa tergantung perempuan. Sementara kita lihat bahwa jumlah orang Papua sekarang sedikit dibandingkan dengan negara tetanggga kita PNG. Kalau kita tidak berpikir ini, kita tunggu saja saatnya nanti, orang Papua hanya akan ditemukan di museum.
                 Saya menyambung lagi ungkapan Cewe Mogee, yaitu perempuan Papua harus menjaga diri. Perempuan harus sehat maka perempuan akan melahirkan anak-anak Papua yang pintar yang suatu saat akan memegang dunia…tidak percaya…terserah….  Sehat berarti tidak sakit atau tidak ada ganguan fungsi tubuh maupun gangguan mental dan kejiwaan. Untuk menjaga agar semuanya stabil maka seorang perempuan harus menyadari dan berubah dari sekarang.....belum terlambat…to?

Apakah ada saran khusus untuk perempuan Papua?
          Perempuan Papua harus mengerti sejarah perkembangan setiap suku, sehingga bisa dikaitkan dengan teori–teori kontemporer. Pendidikan dan kesehatan menjadi acuan untuk perempuan Papua lebih produktif. Untuk poligami harus selesai dalam konteks berpikir bukan sebagai teori–teori yang menjadi perdebatan kosong di antara perempuan Papua. Sehingga penerapan harus di mulai dari ‘’SIAP dan SADAR’’, bahwa ini bukan ‘NAFSU dan PENINDASAN’’, terhadap perempuan Papua sendiri. Tentunya ini sebuah opini yang coba dibangun untuk membantu perempuan Papua berpikir dari segi kecerdasan intelektual untuk sesuatu yang obyektif untuk Papua. Tidak ada sesuatu yang sulit jika kita ingin jalani ini, tidak ada sesuatu yang sulit juga”jika’’ kita tidak ingin menjalaninya.  Toh, untuk Generasi, kondisi subyektif perempuan harus kuat, tentunya itu kembali ke pribadi diri sendirilah yang harus bertanya ‘’sa siap ka tidak ee, untuk poligami’’. [Yermias Degei]
---------------------------------
Sumber: Majalah SELANGKAH Edisi Januari-Maret 2010
BACA TRUZZ...- Cyntia Warwe: Poligami untuk Generasi, Mengapa Tidak?

Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Habis)

Jumat, Juli 30, 2010

 Juli 2009: dari serpihan ingatan akan kampung-kampung di tepian Danau Tigi

Oleh Johanes Supriyono*)

Cerita Waghete bukan hanya milik Josef Mote. Aku ingat pula seorang guru yang diejek-ejek murid-muridnya pada suatu pagi.
Pagi itu, ketika masih sangat dingin, lima anak kecil, berseragam SD dengan telanjang kaki, hanya dua saja bersepatu, berarak ke sekolah. Semuanya keriting tentu saja. Entah apa yang mereka bicarakan di jalan yang berdebu itu.
Di jalan itu, mereka bertemu dengan sang kepala sekolah, Pak Guru Pekei. Ia tidak berbusana layaknya mau ke sekolah. Bercelana pendek dan bertelanjang kaki, kendati waktu untuk masuk sekolah sudah menjelang, ia memikul papan. Tangannya masih serba kotor. Mulutnya mengepulkan asap rokok.
“Pak Guru, ayo ke sekolah sudah waktu ini. Kenapa malah sibuk di sini?” Murid-murid itu setengah mengejek sang guru yang tampak tidak hendak ke sekolah.
“Hei.. kalian ini anak kecil. Sana! Berangkat ke sekolah,” hardik sang guru.
“Iya, kami akan ke sekolah. Kau lihat kan, kami sudah berseragam dan membawa buku. Tapi, kamu akan ke sekolah, tidak?”
“Sudah.. ko anak-anak kecil tahu apa. Saya mau urus rumah dulu. Nanti saya baru ke sekolah.”
“Iyo, kami tunggu di sekolah ya. Kau ini guru bagaimana? Masak tidak ke sekolah.”
“Ah, sudah diam. Kau berangkat cepat. Jangan terlambat lagi.”
Anak-anak itu sambil berlalu, “kami tidak pernah terlambat.”
Anak-anak belia itu tidak tampak sungkan menegur pak guru yang sengaja melalaikan tanggung jawabnya.
Percakapan remaja belia dengan sang kepala sekolah jauh dari cuaca ‘mengadili’. Anak-anak itu telah cukup tahu berkat kebiasaan bahwa sejumlah guru tidak sepenuhnya menjiwai keguruan mereka. Ejekan gaya anak-anak itu mengandung juga pengampunan atau permakluman terhadap sang guru.
Begitu juga yang terjadi di sekolah dekat gereja Waghete pagi itu. Tidak ada guru di tiga kelas.
Seorang anak mencacat pelajaran di papan tulis. Agaknya ia yang paling maju di kelasnya. Tulisannya cukup rapi. Teman-temannya, sebentar-sebentar mendongak ke papan, menyalin yang tertulis di papan itu. Pelajaran bahasa Indonesia. Entahlah apakah dengan cara mencatat seperti itu mereka bisa mengerti dan menerapkan.
Ketika kami datang, semuanya terdiam dan menyembunyikan kaki telanjang mereka di bawah kursi. Tidak ada senyum tapi wajah tegang dengan tatapan mata tunduk. Mungkin mereka sejatinya memendam rasa dalam ketertundukan itu: mengapa pak guru tidak ada?
Seakan-akan mereka hendak mengatakan, lewat tatapan mata yang bergerak ke papan dan ke buku tulis, agar ‘orang asing’ ini selekasnya pergi, agar tidak perlu lebih lama lagi menyembunyikan diri dalam diam yang kaku... “Biarlah tidak ada guru asal kami tidak ditikami oleh kehadiran orang asing yang menatap kami dengan penuh pengadilan.” L’enfer, c’est les autres kata Jean Paul Sartre. Orang lain adalah neraka!
Anak-anak di kelas berdinding papan, di sekolah dengan halaman yang sangat berdebu, dengan atap seng yang telah parah berkarat, rumput-tumput nan rimbun di sekelilingnya, memamerkan wajah-wajah dingin tapi tanpa kebencian...  
Waghete. Jalan panjang yang berlumpur di musim hujan dan berdebu di musim kering. Jalan panjang untuk menjadi manusia.

*) Staf Peneliti pada Lembaga Pendidikan Papua
BACA TRUZZ...- Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Habis)

Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 3)

 Juli 2009: dari serpihan ingatan akan kampung-kampung di tepian Danau Tigi

 Oleh Johanes Supriyono*) 
Kembali kukisahkan ingatan kolektif—dan nanti kuceritakan pula konsep diri kolektif masyarkat Mee. Tanah satu marga dengan klan-klannya, dengan batas-batas tanda alam seperti bukit, pohon, sungai, atau batu besar, bisa diingat dengan baik, tanpa sertifikat atau surat tanah semacam girik. Cukuplah generasi yang lebih tua meneruskan ingatan itu pada generasi yang lebih muda. Entah bagaimana cara-caranya aku belum sepenuhnya mengerti. Tetapi salah satu yang penting, yang terjadi dalam ritus setiap orang suku Mee, adalah proses inisiasi ke kebun semenjak kecil. Inilah proses sosialisasi yang paling dini ke dalam hakikat tanah.
Proses inisiasi ini terjadi sangat alamiah. Anak kecil dalam keluarga akan diasuh dengan dibawa serta ke kebun tempat orang tuanya bekerja. Anak kecil itu digendong dalam noken atau ditaruh di bahu. Pada usia sangat dini, ketika mereka masih belum sepenuhnya sadar barangkali, anak-anak kecil sudah berkenalan dengan tanah. Perlahan-lahan, sesuai usianya, anak-anak itu akan terlibat dalam pekerjaan kebun orang tuanya.
Selanjutnya, anak laki-laki yang telah lumayan dewasa, bisa berjalan lebih jauh lagi, akan dilatih juga untuk turut berburu. Selama berburu, yang bisa makan waktu berhari-hari atau malah berminggu-minggu ini, mereka semakin mengenal tanah yang menghidupi mereka. Relasi dengan tanah menjadi lebih mendalam lagi lewat proses ini.
Masyarakat Mee hanya berburu di tanah mereka sendiri. Tidak akan mereka mencari binatang buruan di tanah orang lain.
Selama berburu anak-anak suku Mee tidak hanya semakin mengenal tanah mereka. Mereka juga semakin mengenal keluarga besar, termasuk para leluhur. Di samping itu, selama perjalanan berminggu-minggu di hutan itu, mereka pun belajar banyak pengetahuan tradisional tentang norma-norma berburu, tentang ilmu kehutanan, tentang tanda-tanda alam, tentang relasi laki-laki dan perempuan, tentang banyak hal.
Dalam percakapan tentang hutan dengan penduduk Distrik Unito, Sukikai selatan, aku mengerti menurut norma adat, tidak semua burung tahun-tahun boleh dipanah untuk dimakan. Misalnya, burung betina tidak boleh dipanah. Jika mendapati anak burung tahun-tahun di sarang, tidak boleh semuanya diambil. Norma yang lain, kita tidak boleh berkebun terus menerus di lahan yang sama. Secara akal, orang akan dengan cepat menangkap alasannya: kesuburan berkurang. Tapi, secara tradisional, masyarakat Mee meyakini, cara itu adalah untuk menghormati tanah.
Selain itu pun, menurutku, ajaran itu melarang masyarakat Mee untuk menjadi rakus, serakah. Tanah dikelola untuk menghasilkan secukupnya untuk makan sehari-hari. Jauh dari motivasi untuk menimbun makanan atau untuk memasarkan hasil pertanian demi keuntungan finansial sebesar-besarnya. Tiba-tiba aku sedikit melankolis membayangkan nilai tanah yang begitu luhur dan jiwa terdalam manusia Mee yang begitu mulia: tidak boleh rakus. Sebaliknya, bersyukur dan berterima kasih pada ibu tanah. Menurutku, nilai luhur tentang hidup yang tidak boleh kelaparan dan tidak boleh berlebihan ini mesti bisa dipelihara.
Cara hidup meramu dengan kuat masih digenggam. Tidak ada keluarga yang menanam ubi rambat (nota) di lahan yang luas. Tidak ada juga yang berkebun dengan orientasi bisnis. Kalaupun mereka ‘terpaksa’ menjual di pasar, jumlahnya sangat terbatas. Kukatakan ‘terpaksa’ karena mereka menjual untuk mendapatkan uang demi mencukupi kebutuhan yang tidak bisa diperoleh dari kebun, utamanya barang-barang fabrikan. Betul, globalisasi yang mengalir deras sampai ke Waghete, telah mendesak masyarakat Waghete untuk mendiversifikasi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Aku yakin kebutuhan makanan mereka kini tidak cukup sekadar nota. Penduduk Waghete sebagian mulai mengenal beras dan nasi. Kalau tidak pedagang-pedagang dari Sulawesi itu tidak perlu membawa berkarung-karung beras ke Waghete. Mestinya, perkakas rumah tangga seperti panci dan wajan itu tidak laku di Waghete. Nota cukup dibakar.
Memang, tidak ada yang tidak berubah di dunia ini. Semuanya berubah. Panta rei! Kalau si Parmenides mengatakan tidak ada yang berubah, si Anaximandros mengatakan semuanya berubah. Waghete berubah, meski pelan sekali!
Entah mulai kapan, penduduk Waghete merasakan kebutuhan akan jalan yang bagus, yang menghubungkan Waghete dengan kota di dekatnya: Enarotali, Moanemani, dan Nabire. Ketika jalan hancur, sehingga perjalanan dari Waghete ke Nabire memakan waktu yang panjang, mereka mengeluh. Tampaknya sejak mereka mengerti bahwa kebutuhan yang tidak lagi dicukupi hutan atau tidak dihasilkan oleh hutan bergantung pada suplai di kota lain. Hutan tidak menghasilkan cocacola kaleng; tidak menghasilkan beras; tidak menghasilkan pulsa; tidak menghasilkan radio, dan lain-lain.
Secara pasti Waghete mulai menyandarkan sebagian ‘kehidupan’ masyarakatnya pada kehidupan di tempat lain. Tidak lagi bisa disangkal. Anak-anak Waghete mulai menggemari minuman kaleng sejenis cocacola dan menantikannya ketika natal menjelang. Mereka juga berangkat ke sekolah berseragam kendati beberapa masih belum lengkap. Padahal Waghete tidak menghasilkan tekstil. Bahan-bahan makanan banyak didatangkan dari luar Waghete. Padahal, untuk mendatangkan semua itu perlu alat tukar yang dianggap setara: uang!
Pernah aku bertanya-tanya: dari mana orang Waghete menghasilkan uang? Sama sekali tidak ada maksud merendahkan. Boleh dikatakan aktivitas ekonomi masyarakat masih sangat minimal. Ekonomi produksi belum tampak. Komoditas masyarakat asli pun tidak begitu banyak.
Aku tidak suka sebenarnya untuk membahas uang. Tapi, kenyataannya, kehidupan masyarakat Papua dewasa ini mulai disetir oleh uang. Alat tukar mereka sendiri, kulit bia, pelan-pelan tidak berlaku. Atau itu hanya berlaku untuk komunitas masyarakat tradisional mereka. Padahal, ruang kehidupan dan ragam interaksi penduduk kian luas. Sebagian kebutuhan mereka disediakan oleh kios pastoran yang tidak mau dibayar dengan kulit bia tentu saja. Juga pedagang-pedagang dari Sulawesi itu tidak mengenal kulit bia. Generasi Mee yang lebih muda pun terkesan lebih nyaman dengan uang modern karena ketika membeli motor dealer tidak mau dibayar dengan kulit bia.
Aku mengerti kini kulit bia mulai digantikan fungsinya oleh alat tukar modern: uang. Agaknya, uang adalah benda sakti yang membuka akses Waghete pada dunia yang lebih global. Aku ingat lagi pada pipa-pipa air yang dipasang oleh NGO Prancis itu. Uang ada di sana.
Juga aku ingat akan keluh kesah beberapa keluarga yang menyesal tidak bisa mengirim anak mereka sekolah di kota. Sekolah itu dikenal mahal. Uang bulanan sampai Rp200.000,00. Jumlah yang sulit didapat oleh orang-orang Waghete kecuali mereka yang berstatus PNS. Sekali lagi, aktivitas ekonomi produktif belum massal. Kemampuan masyarakat menghasilkan uang masih sangat rendah. Anak-anak itu tidak bisa menikmati pendidikan di kota yang mereka idamkan karena orang tua mereka tidak beruang. Impian yang mahal harus kandas oleh uang. Tragis!
Masuknya alat tukar global ini turut mengubah kebudayaan masyarakat. Sebenarnya, itu bukan satu-satunya. Masih ada yang lain. Pergerakan zaman ternyata membebani penduduk Waghete dengan aneka kebutuhan yang sebelumnya tidak mereka rasakan. Muncullah kelaziman baru untuk mendapatkan uang: membikin proposal.
Bahkan, jika ada yang datang dari luar Waghete, sering ditafsirkan sebagai pembawa uang bantuan. Belakangan muncul pula, kecenderungan untuk menguangkan aneka hal. Sekali lagi, aku tidak menghakimi penduduk Waghete dengan menyebut mata duitan. Aku memahami gelagat ini karena mereka memerlukan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sebelumnya tidak mereka rasakan. Atau sekurang-kurangnya dulu masih dicukupi oleh para misionaris.
Masih dengan sangat jelas aku ingat wajah Josef Mote yang pagi-pagi datang dari Yaba ke Pastoran Katolik Waghete tempat kami menginap. Ia mencari seorang pria asing berkulit putih, berjambang, yang hari sebelumnya menjumpainya di Kampung Yaba. Josef ingat pria putih itu—sebenarnya ia seorang pater dari Filipina—telah mengabadikan dirinya di depan patung bapanya, Weyakebo Mote yang sedang menerima Injil dari Monsigneur Tillemans. Tujuan Josef datang adalah meminta sejumlah uang dari pater itu terkait dengan foto-foto yang telah ia ambil. Ia berterus terang bahwa ia memerlukan uang dan ia merasa sudah banyak membantu dengan menyediakan dirinya di foto.
Karena hambatan komunikasi, pater itu tidak menemuinya sendiri. Dengan bantuan Pastor Paroki, Josef mengerti bahwa pater itu tidak membawa bantuan dan memang maksudnya tidak untuk memberikan bantuan. Sebaliknya, pater itu sedang meneliti hutan Papua terkait dengan perubahan iklim. Meski dengan wajah sedikit mengiba, Josef meninggalkan halaman sekolah dan tampaknya kembali ke Yaba.
Aku sangat mengerti: Josef tua itu kecewa. Mungkin juga ia merasa tertipu. Ia telah memberikan sesuatu tapi ia tidak mendapatkan balasannya. Ia melangkah di belantara pagi Waghete yang dingin, tanpa uang yang sempat diimpikan, dengan perasaan kecewa yang pahit...
Kepadanya, pagi itu kukatakan bahwa aku akan mencetak foto-foto itu dan mengirimkan untuknya. Sebuah janji yang berhasil kutepati. Kuharap fotonya di depan patung Weyakebo Mote yang sedang menerima Injil dari Mgr. Tillemans sedikit mengurai kepahitan hatinya.
Temanku dari Filipina, Rowena Soriaga, mengungkapkan rasa penasaran kepadaku.
“Kamu, tahu darimana mereka memperoleh semen dan keramik untuk membuat patung yang sangat besar itu?”
“Aku tidak tahu. Tapi, jangan khawatir, aku akan bertanya.”
Patung itu memang sangat megah jika dikontraskan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Bahkan jika dibandingkan dengan gereja Yaba sekalipun. Tidak rumah di kampung Yaba yang dibangun dengan semen. Apalagi berkeramik. Kusampaikan pertanyaan itu pada Josef Mote, lelaki tua yang tidak bisa kutebak umurnya, tetapi rambut dan jenggotnya yang sangat tebal telah disusupi uban.
“Proposal,” begitu jawaban singkat Josef yang segera melanjutkan, “saya kirim proposal ke pemerintah. Saya beli semen. Saya beli itu semua.”
Bangga sekali Josef memamerkan patung ayahnya. Akh, sebenarnya ia bangga pada ayahnya sebagai orang yang menerima pertama kali Injil dari Mgr. Tillemans. Tentu saja, ayahnya adalah orang yang paling terpandang di kampung itu. Sangat mungkin Weyakebo Mote adalah tonowi marga Mote dan klan-klan di sekitarnya.
“Ini, sa punya bapa,” kata Josef, “ini Monsinyur Tillemans. Sedang kasih Injil sa pu bapa.”
Ketika sesi pengambilan foto dimulai, pada ketika matahari hampir ditelan malam, Josef meminta berfoto bersama Pedro, kemudian bersamaku, dan setelah itu ia mendorongku menjauh. Ia ingin diabadikan sendiri di kaki patung ayahnya. Setelah itu, seluruh penduduk yang sejak kami datang berkerumun mengambil pose masing-masing.
Proposal adalah alat untuk mendatangkan uang. Aneka hal diproposalkan. Kepada siapa proposal itu diajukan? Kebanyakan kepada orang-orang yang berjabatan agak tinggi di kalangan pemerintah daerah. Kadang-kadang agak lucu. Anak mau sekolah, orang tua menulis proposal. Keluarga ada yang sakit, anggota keluarga menulis proposal. Ketika mau membuat rumah, seorang ayah menulis proposal. Bahkan, seorang mahasiswa ketika kembali ke kampung untuk berlibur masih menyempatkan diri untuk menulis proposal agar mendapatkan uang saku dari pemerintah daerah.
Suatu siang, kamarku tiba-tiba diketuk. Di luar telah berdiri seorang lelaki berbadan kecil dan pendek. Wajahnya familiar: orang tua dari salah satu muridku.
“Bapa, selamat sian (bunyi diftong memang tidak ada). Saya ada perlu sedikit dengan Bapa,” kata sang tamu.
“Perlu apa ka? Bapa bisa bicara langsung saya sedang ada sibuk juga jadi,” kataku.
“Begini Bapa. Sa pu anak sa dengar mau maju olimpiade ka apa ka itu namanya..”
“Johny ka Bapa. Benar Bapa. Dia minggu depan maju olimpiade. Baru ada apa Bapa?”
“Saya mau minta surat keterangan bisa ka Bapa?”
“Untuk apa?”
“Begini. Saya kan tidak mampu, tidak ada biaya. Jadi saya mau minta sama dia pu bapa tua biaya. Begitu Bapa,” lelaki itu memandangku. Mungkin ia menanti reaksiku.
“Siapa dia pu bapa tua ka?”
“Sekda Kayame. Itu dia pu bapa tua.”
“Bapa, mau olimpiade itu tidak perlu biaya. Semua sudah diurus sekolah. Jadi tidak ada surat keterangan lagi. Begitu Bapa.”
“Ahhh.. tapi dia pu bapa tua harus tahu. Dia pu anak maju olimpiade.”
“Ooo iyo sudah bapa kasih tahu saja to dia pu bapa tua.”
Aku tahu Bapa Johny pasti kecewa. Harapannya untuk mendapatkan surat keterangan yang dilampirkan pada proposalnya tidak terwujud.
Menulis proposal untuk mendapatkan dana adalah paradigma setelah uang melimpah di Papua tetapi akses secara ekonomi sangat sempit. Mereka belum berdaya untuk mendapatkan uang dengan ‘brainware of economy” karena memang kecakapan untuk bertindak sebagai homo economicus belum terbangun. Entahlah bagaimana awal mula lahirnya tradisi menulis proposal... yang pasti sekarang ini begitulah salah satu cara untuk mendapat cipratan uang Otsus yang melimpah ruah.

*) Staf Peneliti pada Lembaga Pendidikan Papua 

 Bersambung...
BACA TRUZZ...- Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 3)

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut