Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 2)

Jumat, Juli 30, 2010

Juli 2009: dari serpihan ingatan akan kampung-kampung di tepian Danau Tigi

Oleh Johanes Supriyono*) 


Lelaki itu mengangguk. Mungkin maksud kata-kataku kurang jelas ia pahami. Maklum saja, hubungan masyarakat Mee dengan hutan sudah terjadi alami dan menjadi cara hidup dari generasi ke generasi. Maka aneh bahwa ada orang asing bertanya tentang hal itu. Bagi orang Mee, hubungan itu sudah sangat jelas, sangat sehari-hari, sampai tidak ada lagi orang yang mempertanyakan. Adakah gunanya bertanya: apakah seorang Paus, uskup Roma, seorang Katolik?
Mungkin sebenarnya lelaki tadi heran: untuk apa bertanya tentang perkara yang sudah sangat jelas? Mengapa Pater ini tidak bertanya tentang dampak positif UU no 21 tahun 2001 bagi masyarakat Waghete? Apakah angka kematian ibu dan bayi menurun? Apakah jumlah anak-anak yang ke sekolah lebih banyak? Apakah di kampung sekarang ada pusat kegiatan belajar masyarakat? Apakah jumlah guru bertambah?
Mengapa Pater berjambang putih lebat itu bertanya tentang hal yang kalah menarik dibandingkan dengan kucuran dana otonomi atau dengan korupsi di Papua? Rupanya lelaki muda yang pernah bersekolah di Semarang itu merasa pertanyaan si pater tidak menarik. Ia tidak menyinggung sedikitpun soal itu. Ia malah keasyikan menceritakan sekolahnya dan mengenang teman-temannya dari pegunungan yang menempuh pendidikan di Jawa.
Pater itu asyik bertanya kepada seorang ibu yang susah berbahasa Indonesia. Si perempuan Filipina itu terus-terusan mengambil gambar dengan kamera digitalnya. Latar belakangnya adalah gundukan-gundukan kebun nota (ubi rambat) yang hijau segar dan anak-anak kecil yang sedang “menyaksikan makhluk asing”. Jauh di belakang adalah Danau Tigi yang airnya berkilau-kilau dengan rumah-rumah sederhana di tepiannya. Dan pepohonan indah yang melambai-lambai.
Namun, tampaknya lelaki itu tidak akan heran pada Pater karena tidak bertanya tentang Inpres no. 5 tahun 2007 tentang percepatan pembangunan daerah tertinggal dari Susilo Bambang Yudoyono. Alasannya sederhana saja: informasi tentang instruksi yang sangat penting itu tidak sampai ke kampung mereka.
Waghete belum dialiri listrik kendati sedang disiapkan menjadi kabupaten sendiri. Dengan sendirinya, media elektronik belum merambah wilayah ini secara masif. Mungkin ada beberapa keluarga yang mampu mengupayakan solar sel swadaya dan membeli perangkat televisi dari kota. Mungkin juga ada radio. Semua serba menerka karena di kampung Yaba atau Damabagata maupun Enagotadi tidak tampak antena parabola menjulang di atas atap rumah-rumah mereka yang renta.
Mungkin satu-satunya sudut Waghete yang sudah pernah mengenyam nikmatnya menerima sajian informasi dan mengirimkan secara cepat lewat internet hanya Pastoran St. Yohanes Pemandi Waghete. Sayang, karena perangkatnya rusak dan biayanya mahal sekali, kini fasilitas itu tidak lagi dapat dinikmati.
Informasi mengalir bersama dengan listrik. Tanpa listrik, informasi bergerak menjangkau seperti siput. Sangat pelan. Media yang mengantar informasi menjadi sangat terbatas, untuk tidak mengatakan tidak ada samasekali.
Media cetak tidak beredar di Waghete, kecuali yang sudah basi untuk Pastoran Waghete. Koran-koran diambil di Nabire setelah beberapa bulan disimpan di gudang. Entahlah, apakah informasi yang disajikan masih relevan pada hari mereka membacanya. Ketika membaca koran-koran itu, mereka merasa seakan-akan sedang mendapatkan kabar dari negeri yang jauh, negeri antah-berantah. Ada perasaan teralienasi dari jagat dunia ini. Ketika orang bisa bertemu secara maya, tanpa kehadiran wajah, bisa bekerja sama tanpa harus saling menyentuh, di Waghete dunia terasa sangat sepi dan kecil. Di belahan lain, dunia terasa sesak dan cepat sekali bergerak, hari berlalu sangat kilat, berpindah dari satu topik ke topik baru, di Waghete musim berlaku sepanjang tahun, dan waktu seakan tidak beranjak.
Sama sekali aku tidak sedang mengisahkan bahwa Waghete tidak bergerak.
Sentuhan kampung Waghete dengan dunia luar sangat minimal, sangat lambat, sangat tidak interaktif. Perlu waktu yang panjang untuk merasakan aksi dari luar, dan perlu waktu yang lebih lama lagi untuk membangkitkan reaksi. Jalan trans-Papua yang masih berupa tanah berlumpur pada musim hujan itu sudah sangat berjasa meski perjalanan dari pusat kota di Pesisir Utara bisa memakan waktu yang panjang.
Ketika wabah kolera merenggut puluhan nyawa di sekitar Moanemani tidak lekas sampai ke belahan dunia lain—anehnya, menurut rumor yang beredar, wartawan Australia malah mengetahui lebih dulu dibanding wartawan Indonesia di luar Papua—tidak terlalu mengherankan. Mungkin kalau pun informasi itu sudah sampai di Jakarta, ia tidak bisa lekas menjangkau ibu menteri atau bapak presiden. Arus informasi sangatlah sendat. Apalagi arus obat dan tenaga medis untuk menyelamatkan yang masih bertahan.
Sendatnya arus informasi, sendatnya arus ilmu pengetahuan, berarti sendatnya arus peradaban. Tidak lagi disangkal, peradaban kontemporer sangat bertalian dengan informasi dan perkembangan pengetahuan. Lihatlah berapa banyak kosakata baru yang berkembang bersamaan dengan temuan-temuan teknologi mutakhir! Maklum saja, Waghete terperangkap dalam skema pembangunan yang tidak partisipatoris, tidak menggerakkan penduduknya terlibat dalam dunia yang luas.
Hari itu, si pemuda yang asyik memerhatikan pater bule itu tidak akan pernah bertanya tentang inpres no.5 tahun 2007 dari sang presiden. Untuk mereka, inpres itu tidak pernah ada. Jangan-jangan eksistensi presiden pun sekadar nama dengan impak historis dan eksistensial yang mendekati nol. Secara sinis, orang boleh saja berpendapat ada atau tidak ada presiden Waghete adalah Waghete dengan danau Tigi yang cantik dan berkilau-kilau.
Rumah-rumah sederhana para penduduk sangat menarik untuk diperhatikan. Rumah-rumah mereka jarang yang berdekatan. Tidak satu rumah pun yang berbagi dinding dengan rumah yang lain. Tidak juga ada rumah yang berbagi atap dengan rumah sebelahnya. Hampir tiap-tiap rumah dikelilingi pagar dari kayu hutan yang dipancang membujur dan sangat rapat. Kayu-kayu itu dijalin dengan ikatan rotan yang sangat kuat. Babi yang besar sekalipun tidak akan menembus pagar itu.
Ternyata bukan hanya rumah, kebun merekapun sebagian berpagar. Tanaman-tanaman di selingkungan pagar itu terlindung dari jamahan mahkluk luar, selain yang empunya. Bahan dan model pagarnya sama dengan pagar yang melindungi rumah.
Kebun-kebun mereka pun sangat mencolok, bukan pertama-tama karena tanaman. Yang menandai adalah pagar kayu utuh disusun tegak dan sangat rapat. Batang-batang kayu sebagian telah menghitam karena usia, dan ujung-ujungnya yang menjolok langit biru telah ditumbuhi rerumputan. Tapi batang-batang yang semakin umur, tampaknya malah semakin kokoh.
Menurutku, kehadiran pagar dan rumah-rumah yang berdiri sendiri-sendiri itu mempertegas konsep kepemilikan dan konsep diri masyarakat Waghete. Batas tanah tidak pernah samar. Malah sangat jelas. Batas privasi atau wilayah privat masyarakat Mee di Waghete sangat terlihat berkat kehadiran pagar-pagar yang kokoh.
Pagar kayu itu masih diperkokoh dengan praktik sehari-hari yang hingga kini masih berlaku. Atau, mungkin saya keliru mengatakannya, praktik sehari-hari membutuhkan infrastruktur perlindungan hak milik, yaitu pagar. Dalam kehidupan bersama, masyarakat saling menenggang. Mereka tidak akan masuk ke wilayah orang lain tanpa izin. Tidak akan mereka melanggar sekadar melompati pagar tetangganya. Lebih-lebih, tidak akan mereka mengambil harta kebun orang lain. Bahkan, aku ingat sekali bagaimana—bersama pater bule dan warga setempat—ditegur serius, bahkan dengan anak panah siap terluncur, gara-gara kami mendekati kebun nota.
Agaknya, itulah sebabnya tanah-tanah klan atau marga besar benar-benar masuk ke dalam ingatan kolektif. Salah satu alasannya adalah konsep kepemilikan yang sangat kuat bertalian dengan diri. Barangkali kalimat tadi tidak cukup jelas. Maksudku, masyarakat suku Mee mendekatkan ‘milik’ dengan ‘diri’. Kalau dalam bahasa Inggris ada “I have” dan “I am” atau “to have” dan “to be”, masyakarat Mee tidak mau kehilangan miliknya karena itu berarti kehilangan dirinya. Secara lugas ingin kutafsirkan—semoga tafsir ini benar—merebut milik berarti merebut diri atau menginjak milik (misalnya tanah) berarti menginjak diri. Nanti, ketika berbicara tentang tanah dan konflik, tafsir ini bisa lebih jelas.

*) Staf Peneliti pada Lembaga Pendidikan Papua 

Bersambung .... 
BACA TRUZZ...- Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 2)

Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 1)

Senin, Juli 26, 2010

Juli 2009: dari serpihan ingatan akan kampung-kampung di tepian Danau Tigi

Oleh: Johanes Supriyono*)
Waghete, calon ibukota Kabupaten Deiyai, terletak di tepi Danau Tigi, satu dari antara tiga danau besar di Pegunungan Tengah di Provinsi Papua. Meski calon ibu kota kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Paniai, Waghete belum menampakkan kemiripan dengan kota pada umumnya. Fasilitas-fasilitas publik seperti listrik dan telepon belum ada. Jalan utama pun belum beraspal. Manakala hujan turun, jalan menjadi berlumpur dan susah ditempuh.
Atas inisiatif sendiri, beberapa penduduk memasang panel surya untuk suplai listrik rumah tangga mereka.  Jaringan pipa air bersih telah berhasil dipasang oleh sebuah LSM asing dan mampu melayani penduduk  yang menghuni kawasan sepanjang jalan utama. Sementara untuk bisa berkomunikasi dengan kota lain via telepon selular, mereka mesti ke Enarotali. Untuk itu, mereka membayar ongkos taksi Rp50.000,00 sekali jalan. Bisa jadi, biaya transportasi lebih mahal daripada biaya menelepon. 
Jalan yang belum diaspal, pada saat kemarau dengan angin pegunungan yang kencang menebar debu. Penduduk mengalami infeksi saluran pernafasan bagian atas (ISPA). Beberapa sakit mata.
Pelayanan medis belum maksimal diberikan di Waghete. Meski telah ada dokter (satu orang saja!), kerap pasien dilarikan ke Enarotali—dengan melewati jalan yang tidak mulus. Jika keluarga cukup beruntung mereka dapat menerbangkan pasien langsung ke Nabire dari Enarotali. Biaya terbang dari Enarotali ke Nabire sekitar Rp500.000,00. Jika pasien tidak bisa ditangani di Enarotali, biasanya dirujuk ke Nabire. Meski demikian, ini tidak berarti pelayanan kesehatan di Nabire sudah sangat baik.
Di Waghete saya bertemu dengan Pak Sam Posumah, guru SD yang telah menetap lebih dari 20 tahun.  Pak Sam sudah fasih berbahasa Mee. Hari itu, ia datang ke Stasi Kigou membawa obat cacing dan salep kulit untuk anak-anak. Menurut Pak Sam, banyak anak usia sekolah menderita cacingan. Kulit mereka pun bersisik. Ada juga yang korengan. Orang-orang tua pun ada yang meminta salep kulit.
Pak Sam bukanlah dokter atau tenaga medis yang bertugas di Waghete. Ia adalah guru SD dan pewarta di Gereja Santo Yohanes Pemandi Waghete. Sebagai pemuka jemaat, ia menerima tugas tambahan dari Pastor Paroki untuk menyalurkan bantuan-bantuan kesehatan. Secara rutin ia berkeliling dengan motor Honda Win merahnya.
Tentu saja, penyakit kulit dan cacingan tidak tuntas teratasi. Hanya saja, sekurangnya anak-anak di Kigou dan Yaba—yang hari itu kami kunjungi—mendapatkan obat untuk kulit dan perut. Seperti setetes air ketika kehausan mendera. Anak-anak itu begitu bersukacita. Wajah mereka berbinar-binar. Lantas, mereka berlarian dengan sorak gembira dan mengundang sahabat-sahabat yang lain untuk mengambil obat pada Pak Sam.
Tidak lama kemudian, perempuan-perempuan pun meninggalkan kebun ubi mereka di sekitar Danau Tigi. Mereka berlari menuju sumber suara. Yang belum mendapat obat langsung meminta pada Pak Sam Posumah.
“Kamu sudah saya beri kan?” Tanya Pak Sam dalam bahasa Mee.
“Belum. Mereka yang lain sudah tapi saya belum. Jadi saya minta,” jawab perempuan itu. Ia pun lalu bergabung dengan banyak orang yang lain sambil mengamat-amati dua orang ‘asing’ berkulit putih.
Entah sejak kapan, orang kulit putih mereka pandang sebagai pembawa bantuan. Di belakang Pak Sam mendengar mereka berbisik-bisik ingin tahu bantuan apa yang dibawa oleh Pedro dan Rowena. Segera Pak Sam menukas, “Mama, Bapa, anak-anak. Kami hanya bawa obat cacing dan salep kulit yang sudah saya bagi. Masih ada dua kotak lagi tapi akan saya bagikan ke kampung yang lain. Yaba dan besok Damabagata. Kami tidak membawa uang. Jadi mama-mama tidak perlu ribut bicara soal bantuan. Tidak ada. Mereka ini pater. Bukan LSM.”
Penduduk pun mengerti tapi sekaligus tidak lagi antusias dengan kunjungan orang ‘asing’ ini. Lalu Pak Agus Pekei mencoba member penjelasan lebih lengkap, “Pater ini sedang mengamati keadaan lingkungan kita. Apakah sudah terlalu rusak. Ya, pater ingin mengetahui bagaimana cara kita merusak lingkungan dan apa yang bakal terjadi pada tahun-tahun mendatang. Mungkin cara kita membuat kebun atau cara kita mendapatkan kayu. Jadi bantuan pater berwujud lain. Bukan uang. Saya harapa bapa dan mama mengerti.”
Wajah penduduk kurang gembira. Berbeda dengan anak-anak, mereka sangat gembira. Hati mereka dipenuhi oleh pengalaman yang baru: berjumpa dengan orang asing dan disapa oleh mereka. Anak-anak belia itu menyertai kemanapun Pedro dan Rowena pergi sambil memamerkan salep kulit dan obat cacing kepada teman-temannya yang tidak mendapat.
Kemudian, Pak Agus mencarikan seorang yang mau menjadi narasumber tentang teknik pertanian penduduk. Seorang perempuan yang menanam ubi rambat di pinggiran Danau Tigi yang subur, mengajak kami ke kebunnya.
ia menyilakan kami untuk melihat petak tanaman yang tidak luas. Ia sendirian bekerja, mulai dari menyiapkan lahan dan menanaminya. Biasanya, setelah menanam, mereka tidak lagi merawat tanaman sampai nanti panen. Perempuan itu juga menanam di tempat lain dengan tanaman yang sama.
Sayang, perempuan itu tidak mau mengatakan kepada ‘orang asing’ siapa namanya. Kata Pak Agus, ia takut terjadi apa-apa dengan dirinya atau keluarganya kalau sampai mengatakan siapa namanya. Pedro merasa tidak mendapat cukup informasi karena perempuan ini bukan orang yang tepat untuk dijadikan narasumber. Setelah berbasa-basi dengan mengucapkan terima kasih, kami berlalu dengan harapan dapat menemukan narasumber yang tepat.
Kami berpindah ke petak yang lain. Mata kami tertatap pada lahan nota di bidang yang miring, punggung bukit. Spontan kami putuskan untuk menuju tempat itu. Begitu mendekat ke bedeng nota itu, si pemilik kebun marah. Entah apa arti teriakan mereka itu karena semua dalam bahasa Mee. Wajah mereka tegang. Malah, ada juga yang meregangkan tali panah. Apa yang menyebabkan mereka marah, kami hanya tahu sedikit saja.
Mereka mengusir kami. Selekas mungkin kami tinggalkan tempat itu. Kemarahan itu merambat ke penduduk yang lain setelah mendengar kata-kata dari si pemilik kebun. Untunglah ada Pak Agus Pekei dan pak tonowi setempat yang masih bisa diajak bicara oleh Pak Agus. Kami pergi menjauh sambil di belakang kami ada orang-orang yang meregangkan busur. Bukan hanya laki-laki, perempuan-perempuan pun melengkingkan suaranya untuk menghalau orang-orang asing ini.
Setelah agak jauh, saya meminta penjelasan dari Pak Agus. Kurang lebih penjelasan Pak Agus seperti ini. Si pemilik kebun tidak suka ada orang asing—apalagi dari Eropa—menginjak tanahnya. Semua orang asing perlu dicurigai. Intruder tidak pernah diharapkan oleh orang Waghete. Lebih lagi, penduduk takut kalau orang asing punya maksud tersembunyi. Orang asing bisa-bisa mengundang malapetaka.
Barulah, setelah Pak Agus menjelaskan bahwa yang datang adalah seorang Pater, mereka agak reda. Seorang laki-laki, berperawakan kecil dan agak kurus, mendekati kami dan, dari wajah ramahnya, kami mengerti bahwa ia menerima kami. Ia bertanya dari mana pater datang dan apa maksud ia datang ke Waghete. Dengan senang hati ia berkisah, ia sedang belajar di Jawa.
Dari nada suaranya, aku menangkap ada rasa bangga di balik kata ‘Jawa’. Ia merasa sedikit berbeda dari ‘orang kebanyakan’. Entahlah bagaimana Jawa seakan-akan dibayangkan sebagai titik peradaban yang penting, yang lebih berbobot dikonstruksi. Banyak orang tua menginginkan suatu hari untuk bisa mengirim anak-anaknya belajar di Jawa.
“Pater ini datang dari Filipina dengan temannya, perempuan ini,” kataku sambil menunjuk pada Rowena, “Pater ini sedang ingin melihat-lihat keadaan hutan di Papua, terutama ia ingin mengerti bagaimana hubungan masyarakat dengan hutan.”

*) Staf Peneliti pada Lembaga Pendidikan Papua (LPP) 
Bersambung... Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 2)
BACA TRUZZ...- Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 1)

FKMKP Gelar RUA: Ada Lima Gol untuk Mencapai Tujuan

Bersama Forum Komunikasi Mahasiswa Katolik Papua (FKMKP), kita membangun pemuda katolik Papua yang cerdas, kritis dan humanis berdasarkan iman katolik, demikian tema yang terpampang dalam Rapat Umum Anggota yang dilaksanakan di Wisma Imanuel Jalan Gejayan Yogyakarta.

Dalam RUA yang melibatkan pelajar dan mahasiswa katolik dari lima keuskupan se-tanah Papua di Yogyakarta berlangsung dengan dari pukul 8.00-20.16, Sabtu (24/07). Lima keuskupan se-Tanah Papua melingkupi; Keuskupan Agung Merauke, keuskupan Agats, keuskupan Timika, keuskupan Jayapura serta keuskupan Sorong-Manokwari.

Beberapa agenda yang dilaksanakan dalam RUA ini, di antaranya: penyusunan/pengeditan AD/ART, pemilihan Badan Pengurus Harian [BPH] serta pengukuhan BPH terpilih. Obeth Youw dan Timotius Turot sebagai pemimpin sidang I dan II, Agustinus Dogomo sebagai Notulen, Andreas Pati sebagai Moderator serta Gerald Bidana dan Damianus Tae sebagai Pengarah. Sekilas gambaran bahwa dalam agendanya, pukul 08.00-13.03 penyusunan/pengeditan Anggaran Dasar, 13.03-13.35 makan siang, 13.35-14.31 penyusunan/pengeditan Anggaran Rumah Tangga, dilanjutkan penyusunan kriteria bakal calon ketua, peluncuran logo, Garis-Garis Besar Haluan Kerja [GBHK], pemaparan visi-misi bakal calon serta pemilihan ketua, pengukuhan, hingga meninggalkan ruangan rapat pada pukul 20.16.

Dalam pemilihan ketua yang berlangsung, tiga anggota yang diusulkan dari tiga keuskupan, masing-masing Tomotius Turot dari keuskupan Sorong-Manokwari, Milda Kossay dari keuskupan Jayapura serta Agustinus Dogomo dari keuskupan Timika. Tata cara pemilihan yang dilakukan secara voting ini, Agustinus Dogomo berhasil memperoleh suara terbanyak dari kedua bakal calon lainnya dan menjadi ketua pada periode 2010/2011, diikuti Milda Kossay menjadi wakil serta Timotius Turot menjabat sebagai sekretaris. 


Belum pernah saya bayangkan, saya akan terpilih menjadi ketua, namun kita akan melakukan hal-hal yang kecil dan di tempat inilah kita akan memulainya, demikian ungkap Agus kepada media ini, usai RUA ditutup. Saya tidak mampu mengangkat batu besar untuk memindahkannya sendiri, namun saya butuh bantuan orang lain untuk memindahkan batu besar itu, lanjut mahasiswa semerter III di STPMD/APMD Yogyakarta ini, mengulangi kata-kata yang juga sempat di ucapkannya saat pemaparan visi-misi. Sedangkan Milda Kossay dan Timotius Turot terlihat menerima dengan kenyataan yang terjadi, hal ini sangat terlihat dari senyuman polos dari wajah meraka seusai perhitungan suara dilaksanakan, senyum tersebut menandakan siap melaksanakan tanggung jawab yang diberikan sekaligus mendukung segala rencana kerja yang akan dilakukan ketua terpilih dalam satu kesatuan FKMKP.

Pada penghujung acara, dalam agenda pengukuhan sekaligus renungan singkat yang dibawakan oleh Pater Yanuarius Youw, Pr. Disaat homili mengatakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan ada lima gol yang harus dilakukan yaitu antara lain: gol dalam iman, gol dalam membangun komitmen dengan orang tua yang menjadi sponsor utama dalam studi kita, solider atau ikut prihatin terhadap situasi orang lain, kerja sama salam satu kekeluargaan serta membangun persatuan dengan organisasi keagamaan lain yang ada. Jangan pernah bertanya apa yang akan orang lain lakukan kepada saya, tapi bertanya bahwa apa yang akan saya lakukan untuk orang lain, lanjut Pastor yang baru saja menyelesaikan ujian skripsinya pada Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.

RUA yang menguras tenaga, pikiran serta waktu tersebut berjalan secara harmonis dalam rasa kekelurgaan yang sangat erat. Rasa kekeluargaan yang tercipta saat RUA ini dilangsungkan menjadi modal awal dalam mendukung segala program yang akan dilaksanakan FKMKP ke depan. Sesuai pantauan media ini, tim kerj/badan formatur, mengatakan Empat tahun kerja komunitas menjadi vakum, sehingga diharapkan ke depan persatuan dan kerja sama yang tercipta saat ini dijaga dan saling mendukung antara satu dengan lain karena segalanya kita mulai dari awal. Semangat membangun bersama, spirit itulah akan menciptakan sesuatu yang besar kata Obeth You dan Andreas Pati.

Gerald Bidana seorang senior yang juga bertindak sebagai pengarah saat RUA berlangsung mengatakan jangan pernah takut melakukan kesalahan dalam melaksanakan sesuatu, karena dari kesalahan itulah kita akan mendapatkan pengalaman yang berharga yang sulit didapatkan oleh semua orang. Proviciat buat kawan-kawan yang terpilih dan siap memikul tanggung jawab yang diberikan, lanjutnya memberikan motivasi. [Egeidaby]
BACA TRUZZ...- FKMKP Gelar RUA: Ada Lima Gol untuk Mencapai Tujuan

45 Persen Mahasiswi Uncen Pernah Aborsi

Selasa, Juli 20, 2010

Andrianus Krobo, Pengamat Pendidikan dan pengajar di Universitas Cenderawasih Jayapura, Papua mengatakan, berdasarkan riset tahun 2003/2004, mahasiswi Uncen diketahui melakukan aborsi hingga mencapai 45%.

Menurutnya, aborsi oleh sejumlah mahasiswi Uncen disebabkan oleh dua faktor, yakni kurangnya informasi tentang pendidikan seks dan adanya tekanan ekonomi.

Pendidikan seks yang kurang, kata dia, telah mengimbangi mahasiswi dengan mudah melakukan perbuatan ‘gelap’ (seks di luar nikah) yang berujung pada aborsi atau pengguguran janin.

Sementara faktor ekonomi menempati urutan kedua sebagai penyebab mahasiswi melakukan aborsi. “Hal ini biasanya terjadi karena keterlambatan pengiriman uang dari orang tua, sehingga untuk mendapatkannya, mahasiswi menghalalkan segala cara, termasuk dengan kenikmatan biologis,” ujarnya, Selasa.

Ia menuturkan, perbuatan aborsi oleh mahasiswi bukan karena kesalahan lembaga Universitas Cenderawasih. Keluarga, kata Adrianus, yang seharusnya memberi banyak pengetahuan pada anak agar paham soal seks.

Untuk meminimalisir kondisi ini, Uncen pernah menggelar seminar khusus tentang pendidikan seks dan kasus aborsi. Selain itu, bekerja sama dengan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Provinsi Papua.

“Bagi mereka yang telah melakukan aborsi, Uncen tidak akan memberikan hukuman, tapi hanya melakukan pendekatan personal agar mengakui perbuatan yang dilakukannya adalah salah,” pungkasnya. (Karolus)


---------------
Sumber: http://tabloidjubi.com/index.php/daily-news/jayapura/8168-45-persen-mahasiswi-uncen-pernah-aborsi
BACA TRUZZ...- 45 Persen Mahasiswi Uncen Pernah Aborsi

Camkan: Miras bukan Budaya Papua

Minggu, Juli 18, 2010

Oleh Amoye Yogi*)

Kedua telinga saya sering sekali terasa panas dan sakit ketika mendengar orang dari luar papua mengatakan miras (minum minuman keras) adalah budaya orang papua. Saya sendiri kadang bingung untuk menjelaskan kepada mereka kalau miras sebenarnya bukan budaya kami karena kenyataan yang ada dilingkungan membuktikan seperti itu.

Tetapi, sekarang yang menjadi pertanyaan atas pernyataan mereka (non papua) untuk kita orang papua adalah apakah mereka mengerti akan makna atau definisi dari kata budaya itu sendiri atau tidak..?.

Mungkin mereka mengartikan bahwa budaya adalah suatu kebiasaan sehari-hari. Memang benar budaya dan kebiasaan itu artinya sama tetapi kalau kita menganalisa kembali kedua kata tersebut , masing-masing kata mempunyai arti yang berbedah kalau kita lihat dari letak konteksnya.

Mengapa demikian? Karena budaya adalah kebiasaan asli (bukan dari luar) yang dilakukan oleh sekelompok atau beberapa orang secara turun-temurun disuatu wilayah (tidak berubah). Sedangkan makna dari kebiasaan itu adalah suatu sikap atau cara yang datangnya dari luar (bukan dari daerah setempat) dan akan dilakukan oleh sekelompok orang secara rutin apabilah hal itu menurut mereka enak ( selalu berubah), alias kecandungan susah untuk dilepaskan.

Oleh sebab itu, coba kalian berpikir kembali apakah minuman keras itu di produksi oleh orang papua ataukah miras itu memang sudah ada sejak dulu dan dilakukan secara rutin oleh para leluhur dan nenek moyang orang papua sehingga kalian dengan lantang tanpa berpikir panjang mengatakan bahwa miras adalah budaya orang papua.

Jujur secara pribadi saya sebagai orang papua sangat-sangat kecewa , kesal, jengkel, dan banci dengan apa yang kalian katakan seperti itu kepada kami.

Karena yang saya tahu berdasarkan berbagai info melalui media tentang miras menyangkut sudah atau yang sedang berkembang pesat hingga kini di papua yaitu kira-kira pada tahun 90-an. Dan puncaknya adalah pada tahun 2001 dengan adanya otonomi khusus (otsus).

Dengan adanya uang trilun, seakan-akan semua nya menjadi gampang untuk dijangkau. Minuman keras yang dulunya tidak ada dan susah untuk dijangkau tetapi sekarang sudah terbalik 90 derajat, dengan sendirinya miras menjadi langganan orang papua. Dan pada kenyataannya sekarang bukan manusia yang mencari miuman tetapi minumanlah yang balik mencari manusia (khususnya di papua) Memang apa yang mereka rencanakan sepertinya mulai terjawab karena pada saat otsus ada di tanah papua, semua masyarakat papua lupa dengan daratan.

Maka dengan itu, sekali lagi saya dengan tegas mau memberitahukan kepada semua bahwa miras bukan budaya papua. Tetapi miras adalah kebiasaan buruk yang dibuat atau dibawah sengaja oleh bangsa Indonesia ke tanah papua dengan maksud untuk membunuh, membinasakan, bahkan menghilangkan ras melanesia.

Bangsa indonesia tahu bahwa miras adalah alat yang sangat efektif dan ampuh. Karena ,dengan mengonsumsi miras banyak dampak-dampak negative yang akan melanda orang papua, misalnya seperti: masa depan suram, kesehatan selalu terganggu, tidak bisah berpikir yang logis, rumah tangga berantakan, mengubah kaum laki-laki menjadi berandalan, menjadikan kaum wanita yang terlantar dan mengubah anak-anak papua yang penuh semangat menjadi manusia yang tidak memiliki harapan serta masih banyak dampak-dampak yang saya tidak bish uraikan satu per satu.

Kalau dilihat dari kenyataan yang ada, memang tidak salah kalau kalian bisah berpikir seperti itu, karena mahasiswa papua pada umumnya selalu melakukan keonaran dimana-mana melalui miras.

Yang menjadi pertanyaan sekarang , siapa yang menjadi biang kedali dibalik semua keonaran yang dilakukan oleh mahasiswa papua dimana-mana? Sampai-sampai kalian berani mengatakan yang tidak-tidak kepada kami padahal kalian sendiri yang menginginkan kami melakukan hal itu.

Tidak tahukah kalian bahwa yang memproduksi, mengkampanyekan, menyebarluaskan serta mengajarkan bagaimana cara mengonsumsi miras adalah kalian bangsa Indonesia.[Sumber: http://tangisantanah.blogspot.com]
BACA TRUZZ...- Camkan: Miras bukan Budaya Papua

Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai Jawa-Bali Menuntut Janji Beasiswa

 Oleh Mateus Auwe*)

Berhubung janji yang pernah diungkapkan oleh pihak utusan Pemerintah Daerah Kabupaten Dogiyai membuat Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai di kota Jawa-Bali bertanya-tanya. Janji tersebut adalah di tahun 2010 akan ada beasiswa bagi setiap pelajar dan mahasiswa serta tugas akhir atau bantuan dana bagi mahasiswa yang menyusun skripsi. Ungkapan ini langsung dating dari Sekretaris Daerah Kabupaten Dogiyai ketika menghadiri pengesahan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai [IPMADO] Se-Jawa-Bali di Yogyakarta (30/01) tahun lalu.

Begitu ungkapan itu diucapkan oleh petinggi/pejabat di Kab. Dogiyai, pelajar serta mahasiswa asal Dogiyai yan hadir saat itu menyambut dengan baik dengan bertepuk tangan memecah kesunyiannya ruangan. Tiga orang utusan pemerinta kabupaten Dogiyai yang hadir masing-masing, Drs. Fabianus Yobee [Sekda. Kab. Dogiyai], Herman Kayame [Kabag. Pembangunan Kab. Dogiyai] serta Wihelmus Degai [Intelektual Kab. Dogiyai]. Bagaimana tidak? 80% atau bahkan 90% pelajar dan mahasiswa asal Dogiyai adalah orang tuanya berasal dari ekonomi lemah/petani. Hanya karena nekat anggotalah yang menjadikan dasar untuk hidup mandiri mencari ilmu di rantauan.


Waktupun terus berjalan, hingga saat ini memasuki pertangan tahun 2010 masih belum juga adanya tanda-tanda akan janji yang pernah diungkapkan. Melihat kenyataan ini, banyak pelajar dan mahasiswa atau yang sedang menempuh skripsi terus mempertanyakan. Pesan singkat dan telpon kepada BPH IPMADO yang menjadi payung terus dituntut agar mempertanyakan kepada pihak yang dijanjikan agar menuntut akan janji tersebut.

Mengingat tuntutan dari anggota akan janji beasiswa dan bantuan dana skripsi ini beberapa kali BPH mempertanyakan kepada pihak berwajib [Kepala Dinas Pendidikan dan Sekretaris Daerah Kabupaten Dogiyai], namun jawabannya saling over kesana-kemari. Ketika menanyakan hal itu kepada kepala dinas pendidikan jawabannya “ hal itu bukan kami yang janjikan, silakan menghubungi pihak yang menjanjikan kalian” begitu juga sebaliknya, ketika menghubungi sekretaris daerah jawabannya” silahkan tanyakan kepada kepala dinas pendidikan karena itu merupakan tugasnya dinas pendidikan”. Kami jadi pusing dan kami bukan seperti bola yang dengan seenaknya diover kesana-kemari.

Jawaban ini mengundang banyak pertanyaan dari setiap anggota pelajar dan mahasiswa Dogiyai di Jawa dan Bali, dan berikut kutipan-kutipan pesan singkat yang masuk ke ponsel BPH IPMADO untuk menanggapi masalah janji beasiswa dan bantuan dana tugas akhir:
Frans Kedeikoto atau orang yang sering disapa Tomoki ini, meminta agar perlu membicarakan dan sepakat untuk kelanjutannya, apakah perlu menghadirkan pihak yang dijanjikan ataukah mhasiswa merapat ke Dogiyai dan aksi menuntut janji tersebut. Nada yang sama datang juga dari Isak waine hal ini tidak perlu dibiarkan begitu saja, kita harus tuntut akan janji yang pernah diucapkan itu, mahasiswa jurusan kesehatan masyarakat ini meminta mahasiswa yang ada seluruh kota studi yang tersebar di Indonesia bersatu dan menuntut, karena jika dibiarkan begitu saja, maka ke depannya para pejabat daerah akan melakukan seenaknya saja. Jack Mote yang juga mahasiswa yang sedang menyusun skripsi meminta agar melakukan demo besar-besaran dari kota studi yang ada di Indonesia di depan kantor bupati, karena tahun 2010 sudah berjalan pertengaan tahun masih belum juga adanya tanda-tanda dari janji yang pernah mereka ungkapkan.

Begitupun dengan Yakonias Adii, kabupaten Dogiyai dengan pemekaran kabupaten baru tidak ada bedanya, namun mengapa kabupaten baru yang hampir secara bersamaan dimekarkan memberikan beasiswa serta bantuan dana tugas akhir? Apa yang terjadi sebenarnya diantara para pejabat yang ada di Dogiyai? mahasiswa yang juga sedang menyelesaikan [skripsi] S1 di Universitas PGSD Yogyakarta ini mengatakan agar mahasiswa harus menuntut atas janji tersebut, karena ini merupakan hak mahasiswa yang berasal dari kabupaten Dogiyai. senada juga diucapkan oleh Kendi Edowai, Lidia Adii, dan Andreas Pigai.

Sedangkan Emanuel Tebai, salah satu mahasiswa asal Bandung ini mengatakan agar meminta penjelasan minimal mempertanyakan dengan surat resmi untuk menindak lanjuti atas janji beasiswa dan tugas akhir tersebut, dan meminta jaminannya dari pihak terkait. Selvi Waine mahasiswi asal Surabaya mengatakan ini merupakan kabupaten baru dan membutuhkan banyak mahasiswa yang siap pakai di daerah nantinya, maka pemerintah jangan menghambat putra-putri Dogiyai yang ingin melanjutkan kuliah dengan janji-janji seperti ini.

Terkait masalah ini BPH IPMADO sudah memenuhi permintaan pemerintah berupa data seluruh pelajar dan mahasiswa yang diminta, kenapa sekarang terjadi seperti in? jangan salahkan mahasiswa jika dalam waktu dekat mahasiswa Jawa-Bali atau mahasiswa se-Indonesia melakukan aksi besar-besaran di depan kantor bupati Dogiyai, karena mereka [mahasiswa, red] menuntut apa yang menjadi hak dan menuntut akan janji tersebut.[Sumber: http://egedy-news.blogspot.com/]


*) Ketua Ikatan Mahasiswa Dogiyai se-Indonesia
BACA TRUZZ...- Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai Jawa-Bali Menuntut Janji Beasiswa

Ruben Magai Siap Satukan Pemuda Papua

Calon Ketua KNPI Papua periode 2010-2013, Ruben Magai S.Ip mengaku siap menyatukan pemuda/pemudi Papua untuk berkreasi lebih jauh dan berperan aktif dalam pembangunan. Diyakini bahwa meski banyak terdapat perbedaan, hal tersebut dianggap menjadi satu tantangan untuk bagaimana mempersatukan perbedaan yang ada.

Bahkan ia terlihat optimis akan niatnya ini bakal mendapat dukungan dari simpatisannya seperti tertuang dalam profile singkat disebuah buku yang berjudul Mari Berikan Saya Tanggung Jawan Bersama Suaramu. “Harus diakui bahwa saat ini banyak potensi pemuda yang belum sepenuhnya tergarap dan satu misinya kedepan adalah bagaimana KNPI mampu bertindak sebagai motor penggerak dalam mengaktualisasikan ide-ide perubahan,” ujarnya di sela deklarasinya di Hotel Relat, Jumat (16/7).

Dengan dukungan dari sejumlah paguyuban yang ada di Kota Jayapura termasuk Ketua Kerukunan Masyarakat Pegunungan di Kota Jayapura dan Angkatan Muda Kemah Injil di Tanah Papua (AMKI), ia berfikir inilah waktu untuk terlibat langsung dalam perubahan. Jika nantinya ia terpilih, dipastikan semua unsure pimpinan di KNPI harus bekerja melihat langsung persoalan yang terjadi ditengah komunitas anak muda di Papua sekaligus mencarikan jalan keluarnya.

Lalu menyangkut jabatannya sebagai salah satu ketua fraksi di DPRP, Ruben menegaskan bahwa dari jabatannya itu ia justru ingin menjadikan sebagai senjata untuk melawan sebuah kekuatan.

Saat ini, menurutnya baik KNPI maupun OKP banyak yang tak bisa menjalankan program secara maksimal karena kebijakan yang tak memihak dari pemerintah jadi kedepannya jika terpilih ia ingin berkomitment untuk merubah secara total.. “Hari ini, saya sedang melawan tembok dan caranya harus dengan tangan besi, namun jika seandainya memang tak lolos yah saya pastikan saya tetap memberikan dukungan,” imbuhnya. (ade/nat) (scorpions)

BACA TRUZZ...- Ruben Magai Siap Satukan Pemuda Papua

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut