BIMBINGAN DAN KONSELING JUGA SEBUAH VITAMIN JIWA PEMANUSIAAN MANUSIA INSANI PAPUA YANG BELUM TERJAMAH DENGAN SADAR

Kamis, Maret 27, 2008

By bomkonwoqk Gerald Bidana*)

Pada hakekatnya bimbingan dan konseling merupakan upaya bantuan untuk mewujudkan perkembangan potansi diri manusia secara optimal baik secara kelompok maupun individual sesuai dengan hakekat kemanusiaannya dengan berbagai potensi, kelebihan dan kekurangan/kelemahan serta permasalahannya.

Bimbingan konseling sangat berperan dalam melihat peristiwa kehidupan manusia (secara individual maupun kelompok) dalam kaitan dengan perkembangan ilmu pengetathuan dan teknologi misalanya perubahan dan perkembagan masyarakat secara menyeluruh, modernisasi, era globalisai dan informasi, dampak (globalisasi, modernisasi dan informasi), derajat manusia diantara sekalian makhluk, manusia seutuhnya, sumber permasalahan, peranan pendidikan, peranan bimbingan konseling, peraturan perundang-undangan sistem pendidikan nasioanl dan dimensi-dimensi kemanusiaan.

Diemnsi-dimensi kemanusiaan antara lain adalah keindividualan (individualitas), kesosialan (sosialitas), kesusilaan (moralitas), keberagamaan (religiusitas). Dimensi disini dimaksudkan sebagai sesuatu yang secara hakiki ada pada manusia disuatu segi dan sisegi lain sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan untuk mencapai manusia seutuhnya. Untuk menuju pada manusia utuh tentunya membutuhkan waktu atau proses yang panjang di dalam lingkungan dan bersama manusia dewasa yang sudah memiliki keempat dimensi manusia tersebut di atas. Proses itu adalah pendidikan seumur hidup yang terdiri dari pendidikan informal, nonformal dan pendidikan formal (lingkungan sekolah). Pendidikan adalah cara yang tepat dan pasti sudah, sedang dan akan membebaskan manusia dari ketidaktahuan terhadap diri dan dengan apa saja untuk berkembang lebih optimal seluruh kemampuan yang dimilikinya. Selanjutnya adalah manusia yang utuh itu melakukan kegiatan pemerdekaan manusia insani dalam lingkungannya.

Prof. Prayitno, mengatakan manusia seutuhnya adalah manusia yang mampu menciptakan dan memperoleh kesenangan dan kebahagiaan bagi dirinya sendiri dan bagi lingkungannya berkat pengembangan optimal segenap potensi yang ada pada dirinya (dimensi keindividualan), seiring dengan pengembangan suasana kebersamaan dengan lingkungan sosialnya (dimensi kesosialan) sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku (dimensi kesusilaan) dan segala sesuatunya itu dikaitkan dengan pertanggungjawaban atas segenap aspek kehidupannya di dunia terhadap kehidupan di akhirat (dimensi keagamaan).

Sangat perlu dipahami dan disadari bahwa setiap manusia mempunyai keinginan, cita-cita, impian yang besar dalan mengembangkan seluruh potensi (kemampuan) yang dimiliki secara utuh, tetapi belum bisa diwujudkan dengan baik. Mengapa? Ada sejumlah kemungkinan yang menjadikan faktor penyebabnya yaitu (1) faktor internal adalah pengetahuan seseorang terhadap diri sendiri dan lingkungan karena belum berpendidikan secara baik walau sarjana sekalipun atau tidak pernah menempuh pendidikan informal sama sekali; (2) faktor eksternal yaitu semua aktivitas yang terjadi dalam lingkungan hidup seseorang membuat seluruh potensi diri manusia itu tidak berkembang secara optimal dan utuh. Contonya adalah sistem dan pola pendidikan sekolah tertentu yang tidak mampu memerdekakan seorang individu yang sedang berkembang dalam berbagai aspek dirinya. Walau bagaimana pun juga seluruh kemampuan manusia individu berkembang secara utuh apabila mendapatkan pendidikan yang benar dan bertanggung jawab dalam pembebasan dari berbagai ketidaktahuannya.

Jika berbagai faktor penghambat ini tidak dibenahi secara menyeluruh melalui penyelenggaraan pendidikan formal yang benar, seperti pendidikan sekolah berpola asrama atau sejenisnya maka perkembangan keutuhan potensi diri manusia itu menjadi stagnan. Lalu yang muncul kemudian adalah manusia-manusia karbitan yang tidak mampu memanusiakan manusia insani secara terus meneruas. Maka bagi kita, manusia Papua/anggota KPP sangat perlu meningkatkan kegiatan diskusi dan mengikuti kegiatan seminar atau kegiatan serupa lainnya demi memperjelas pola pandang dan mempertajam potensi diri masing-masing mengajak sesama manusia Papua melakukan kegiatan pembebasan manusia Papua insani dimana dan kapan saja untuk sesuatu yang besar. Perlu kita menyadari bahwa kegiatan pembebasan sungguh amat berat, harus menanggung resiko, juga mencucurkan air mata dan keringat daerah.

Disini ada sejumlah ciri-ciri manusia yang berfungsi penuh/utuh yang dikemukakan para psko-hunamitik yang bisa menjadikan pembelajaran bagi kita; adalah sebagai berikut :

  1. Menurut Frankl :

(1) mencapai penghayatan yang penuh tentang makna hidup dan kehidupan; (2) bebas memilih dalam bertindak; (3) bertanggung jawab secara pribadi terhadap segala tindakan; (4) melibatkan diri dalam kehiduapn bersama orang lain.

  1. Menurut Jung :

(1) memiliki pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri; (2) menerima diri sendiri termasuk kekuatan dan kelemahan; (3) menerima dan bersikap toleran terhadap hakikkat dan keberadaan kemanusiaan secara umum; (4) menerima hal-hal yang masih belum dapat diketahui atau misterius, (5) bersedia mempertimbangkan hal-hal yang bersifat tidak rasioanl tanpa meninggalkan cara-cara berpikir logis.

  1. Menurut Maslow (1) mengembangkan seluruh kemampuan dan potensinya; (2) lebih jauh lagi, mereka adalah oyrang-orang yang telah berhasil mewujudkan diri sendiri secara penuh; (3) memiliki orientasi yang realistik; (4) menerima diri dan orang lain; (5) spontan; (6) lebih berpusat pada tugas daripada berpusat pada sendiri dan tidak selalu memperhitungkan siapa memperoleh keuntungan ataupun kerugian (diri sendiri atau orang lain), yang lebih dipentingkan ialah pekerjaan atau tugas dapat diselesaikan dengan baik; (7) memiliki hal-hal khusus yang bersifat amat pribadi dan tidak boleh dicampuri oleh orang lain; (8) bebasa dan mandiri, akan pertiimbangan-pertiimbangan diri sendiri dan tidak sekedar meniru orang lain; (9) mampu menghargai orang lain sebagai sesuatu yang unik dan tidak menyamaratakan orang lain itu berdasarkan pandangan apriori (streotype) tertentu; (10) memiliki padangan dan penglaman yang bersifat mistik atau spritual yang cukup menonjol meskipun tidak selalu dinyatakannya lewat bahasa agama; (11) menyatukan diri ke dalam kegiatan sosial-kemanusiaan dan memiliki perhatian yang besar terhadap kesejahteraan orang lain; (12) menjalin hubungan yang sangat dekat dan intim dengan sejumlah orang; (13) mengamalkan nilai-nilai demokratis : menghargai semua orang tanpa memandanag ras, suku, agama, latar belakang sosial ekonomi; (14) memiliki rasa humor (yaitu rasa humor yang hangat dan segar dan bukan yang menyakitkan atau menyinggung orang lain); (15) tidak mencampuradukan antara tujuan dan cara mencapai tujuan itu; (16) kreatif; (17) tidak mau mengikuti begitu saja budaya – adat istiadat yang ada karena melihat kelemahan dan keterikatannya yang membelenggu; dan (18) lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan melalui kegiatan nyata (aksi) daripada sekedar melalui penanggapan ( reaksi).

Mewujudnyatakan sejumlah pendapat para ahli tentang manusia utuh atau manusia yang berkembang secara penuh atas potensi diri, kemampuan manusia insani membutuhkan proses yakni melalui pola pendidikan lingkungan keluarga, masyarakat dan pendidikan formal yang cocok dan yang membebaskan. Pembelajaran di bidang Bimbingan dan Konseling tidak lain adalah SIAPAKAH MANUSIA ITU! Yang mengaju pada pertanyaan bagaimana dan sejauhmana pertumbuhan dan perkembangan potensi diri manusia sejak perencanaan, kelahiran sampai tutup usia. Maka sebetulnya ilmu Bimbingan Konseling sangat relevan bagi setiap manusia yang mendambakan kehidupan yang lebih baik yaitu dari diri sendiri, kehiduapan dalam keluarga dan dengan sesama di lingkungannya.

Lalu bagaimana dengan keberadaan manusia Papua dahulu terhadap ilmu bimbingan konseling atau psikologi pendidikan? Sejauh pemahaman saya bahwa manusia Papua dahulu sudah memiliki ilmu bimbingan konseling pada konteks yang sangat sederhana adalah terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan mereka sangat sederhana tetapi mengandung filsafat hudp yang luar bisa yang belum tentu dimiliki manusia Papua sekarang. Contoh kongkrit praktek hidup manusia dahulu adalah melaksanakan (1) pendidikan inisiasi-pendidikan penanaman nilai-nilai hidup manusia insani; (2) cara bersikap dalam situasi tertentu;(3) bagaimana bersikap terhadap tamu; (4) cara membuat sebuah rumah yang benar; (5) cara membuat pagar kebun yang benar; (6) cara melahirkan anak yang benar; (7) cara perkawinan yang benar; (8) mendidik anak yang benar; dan sebagainya. Konteks pendidikan seperti ini sudah tentu masuk dalam kajian bimbingan dan konseling atau psikologi pendidikan melalui dunia perkuliahan saat ini. Sedangkan orang manusia Papua kini tidak memiliki minat dalam bidang yang sangat relevan ini. Hal ini disebabkan karena ketidaktahuan kita melalui pola dan sistem pendidikan yang diberlakukan di Papua khususnya dan Indonesia yang tidak kontektual.

Manusia Papua kini mengalami degradasi nilai-nilai kultur sebagai landasan hidup manusia suku-suku dengan bukti (1) kebanyakan anak yang lahir dan dibesarkan di kota atau daerah lain tidak memiliki bahasa daerah orang tuanya; (2) tidak memiliki nilai-nilai budaya khas orang tuanya; (3) terlalu menganggungkan, menganggap lebih baik budaya orang lain daripada budaya sendiri; (4) merasa jijik bila menggunakan pakaian tradisional dan sikap-sikap apatis lainnya yang tidak mencerminkan sebagai manusia Papua. Sejumlah sikap dan pandangan di atas disebabkan (1) sebagian besar orang tua manusia Papua tidak mendapatkan pendidikan informal secara baik dan benar; (2) para orangtua mendidik anak tidak sesuai dengan budayanya atau mendidik ala Papua dengan menggangap budaya luar baik adanya; (3) mangajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu bagi manusia Papua dan lainnya. Pola pandang seperti ini sudah sangat keliru sehingga perlu mengadakan kajian-kajian secara ilmiah untuk mengembalikan identitas suku-suku manusia yang ada di seluruh Papua seperti beberapa tulisan oleh generasi potensial manusia MEE Papua, contoh tulisan Titus Chris Pekei tentang MANUSIA MEE. Buku ini sebetulnya sebagai inspirasi bagi manusia muda Papua untuk lebih mengkaji dan menemukan identitas diri diantara manusia lain di jagat raya Papua.


[*] Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Catatan: Makalah disampaikan dalam Diskusi yang diselnggarakan Komunitas Pendidikan Papua (KPP), pada Selasa 18-03-08 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.



BACA TRUZZ...- BIMBINGAN DAN KONSELING JUGA SEBUAH VITAMIN JIWA PEMANUSIAAN MANUSIA INSANI PAPUA YANG BELUM TERJAMAH DENGAN SADAR

Jumat Agung: Drama Penyaliban Di Nabire Semarak

NABIRE (Selangkah)– Hari ini (21 Maret, Red) kita merenungkan penderitaan Yesus Kristus yang sungguh berat dan ngeri, namun menyelamatkan. Yesus mengawali penderitaan dengan ciuman. Situasi itu, saat kuasa kegelapan diberikan kesempatan untuk menang, tetapi akhirnya kuasa kegelapan dikalahkan.

Demikian kata-kata pembukaan Pastor Cristophorus Aria Prabantara, S.J., membuka drama prosesi jalan salib yang dipersiapkan oleh Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) dan diikuti secara Oikumene di Taman Gizi Oyehe Nabire, pukul 08.30 WIT, Jumat, (21/3).

“Maka Yesus berkata kepada Imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta tua-tua yang datang untuk menangkap Dia: Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung? Padahal setiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu,” kata Pastor mengutip Injil Lukas 22: 52-53. Pastor Cristophorus lebih lanjut mengontekstualkan kisah sengsara Yesus Kristus dengan keadaan kehidupan sekarang. “Kita lihat akhir-akhir ini, dalam kehidupan kita sering terjadi penganiayaan, pengurasan, pembunuhan, korupsi dan lain-lain. Maka peristiwa sengsara dan wafat Yesus Kristus ini mengajak kita untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan yang ditawarkan melalui kisah sengsara Yesus Kristus. Kita diajak oleh Yesus melalui kisah ini untuk melawan kejahatan,” katanya.

Drama proses jalan salib yang diikuti 5000-an lebih umat Kristiani itu, diawali di Taman Gizi pada pukul 09.45 WIT menuju ke bukit penyalipan, Bukit Meriam. Adegan pertama menggambarkan situasi di Taman Getszamani. “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini, dan berjaga-jaga dengan Aku, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” (Ia maju beberapa langkah kemudian ia berlutut dan berdoa)…”Ya, Bapa-Ku…, Jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku… tetapi,…janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Demikian kata-kata Yesus kepada ketiga murid dan doa-Nya kepada Bapa seperti yang dikutip teks drama penyaliban.

Upacara penyaliban yang dilakukan terdiri dari 14 perhentian. Hal ini sesuai dengan apa yang dialami oleh Yesus pada 2000 tahun lalu. Perhentian (1) Yesus dijatuhui hukuman mati; (2) Yesus memanggul Salib (kedua peristiwa ini dilakukan di Taman Gizi); (3) Yesus jatuh untuk pertama kalinya (di Tugu Cenderawasih); (4) Yesus berjumpa dengan ibu-Nya (di perempatan YPK); (5), Yesus ditolong Simon dari Kirene (Tugu Roket); (6) wajah Yesus diusap oleh Veronika (di depan kantor Distrik Nabire); (7) Yesus jatuh untuk kedua kalinya (di depan Kantor Statistik Nabire); (8) Yesus menghibur wanita-wanita yang menangisi-Nya (di Tugu Pemuda); (9), Yesus jatuh untuk ketiga kalinya (pintu masuk bukit penyaliban Meriam); peristiwa ke 10-14 terjadi di bukit Kalfari (bukit penyaliban Bukit Meriam).

Pada pukul 10.10 WIT, kedua penjahat dan Yesus disalibkan bersama-sama di atas bukit penyaliban. Kedua penjahat diperankan oleh masing-masing Paskalis Edowai sebelah kiri dan Lefinus Dogomo sebelah kanan. Sementara, tokoh Yesus diperankan oleh Jeremias Rahadat, salah satu peserta Kelas Persiapan Atas (KPA) untuk masuk di Sekolah Tinggi Theologi dan Filsafat (STFT) “Fajar Timur” Jayapura.

Dari atas bukit penyaliban terdengar “Eloi…Eloi..., Lama Sabactani” (Allah-Ku…Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Daku?”. Yesus sadar bahwa segala sesuatu sudah terlaksana, maka untuk menepati bunyi Kitab Suci, Ia berkata, “Ya…Bapa, ke dalam tangan-Mu, Ku-serahkan Roh-Ku”. Setelah berkata demikian, Ia mengatakan kepada para algojo, “Aku haus…!”, lalu salah satu algojo memberinya cuka yang pahit dan Ia berkata, “…selesailah sudah…”. Akhirnya Yesus menundukan kepala dan wafat.

Usai proses jalan salib, pukul 10.30 WIT, Jeremias mengatakan, dirinya merasa bahagia. Ini merupakan rahmat yang luar biasa sekaligus tanggungjawab. “Dengan memerankan tokoh Yesus dalam drama penyaliban ini, saya benar-benar merasa betapa ngeri penderitaan yang dirasakan oleh Yesus pada 2000 tahun lalu demi kita umat manusia. Sesungguhnya Yesus sangat menderita demi keselamatan kita, maka kiranya drama ini mampu menyadarkan kita semua untuk kalahkan kejahatan dan mengambil peran dalam penyelamatan umat manusia,” kata Jeremias mengajak. (yer)


BACA TRUZZ...- Jumat Agung: Drama Penyaliban Di Nabire Semarak

YABIMU dan YAPKEMA Studi Banding ke Serui

Minggu, Maret 23, 2008

NABIRE (Selangkah)– Yayasan Bina Mandiri Utama (YABIMU) Nabire dan Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) Enarotali melakukan studi banding proses pengolahan kopi Robusta/ Arabica di Koperasi Unit Desa (KUD) “Rimba Kakupi” di Kampung Ambaidiru, Distrik Yapen Selatan, Kabupaten Yapen Waropen, Selasa (8/3) lalu.

Studi banding diikuti oleh 6 peserta, masing-masing 3 orang mewakili YABIMU dan 3 orang dari YAPKEMA. Tim berangkat ke Serui dengan Kapal Motor Ngapulu dari pelabuhan Nabire pada 16 Maret dan keesokan harinya tiba di pelabuhan Serui. Tanggal 18 Maret, dengan menggunakan pic up L300, tim berangkat ke tempat studi banding di kampung Ambaidiru (ketinggian 800 kaki di atas permukaan laut). Rabu 19 Maret tim kembali ke Nabire dengan kapal yang sama bersama kepala Oxfam Papua, Bapak Yusuf Kalengkongan.

Kepada media ini, Direktur YABIMU, Ambrosius Degei mengatakan, studi banding proses pengolahan kopi di KUD “Rimba Kakupi” itu diadakan untuk melihat dari dekat bagaimana proses pengolahan kopi mulai dari buah sampai kopi bubuk. Selain itu, YABIMU ingin melihat bagaimana proses kerja dan pembagian tugas (manajemen). Dengan demikian, keberhasilan dan proses kerja dari KUD “Rimba Kakupi” dapat diterapkan dalam pengolahan kopi oleh YABIMU dan masyarakat di Nabire yang telah berjalan satu tahun ini.

Lebih lanjut dijelaskan, studi perbandingan itu merupakan kegiatan lanjutan. YABIMU sebagai LSM yang bergerak lebih fokus pada pengembangan ekonomi kerakyatan, telah mendampingi petani kopi sejak tahun 1999. Terakhir tahun 2007 atas dukungan Oxfam Gb, YABIMU bekerja bersama masyarakat lebih fokus ke kopi dan sudah menjelang setahun. Maka, untuk mengonkretkannya setelah proses penguatan petani kopi, pembentukan jaringan serta koperasi-koperasi, maka tahap berikutnya mendorong proses kopi dari petani sampai bubuk atau bisa dikomsumsi.

Jadi, kata Degei, studi lapangan itu diadakan dalam rangka kepentingan dimaksud di atas. Selain itu juga dalam rangka penguatan kapasitas lembaga, maka Oxfam Gb memfasilitasi studi banding YABIMU dan YAPKEMA ke KUD “Rimba Kukupi” di kampung Ambaidiru Serui.
KUD “Rimba Kakupi” berdampak positif dalam peningkatan kesejahteraan warga Kampung Ambaidiru.
Menurut Kepala Oxfan Papua, Ambaidiru adalah pegunungan di pesisir pantai Papua yang potensial. Keberadaan KUD “Rimba Kakupi” mampu meransang petani kopi membuka lahan-lahan baru untuk penanaman kopi. KUD “Rimba Kakupi” dapat membendung (melindungi) petani dari sirkulasi harga pasar. Keberadaan KUD itu juga sedikitnya dapat meningkatkan kesejahteraan warga setempat, khusunya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memenuhi kebutuhan anak-anak sekolah mereka.

KUD “Rimba Kakupi” memiliki semangat untuk terus inovasi baik pengelolaan manajemen koperasi maupun alat-alat yang digunakan. Mereka mempunyai moto, “Kami orang kampung harus membuat sesuatu yang orang kota tidak bisa buat”.

”Selama ini belum ada perhatian yang serius dari pemerintah. Seandainya ada perhatian yang serius, kami ingin terus mengembangkan yang lebih canggih, terutama alat-alatnya,” kata salah satu anggota KUD.
Yang menjadi pelajaran berharga bagi kedua LSM ini antara lain, (1) proses pengelolaan kopi mulai dari buah sampai kopi bubuk; (2) pembagian beban kerja (manajemen kerja) yang jelas. Setiap bagian memiliki tanggung jawabnya masing-masing; (3) KUD “Rimba Kakupi” memainkan peran yang stratgis untuk mengurangi beban kerja masyarakat; (4) KUD “Rimba Kakupi” mampu dapat membendung (melindungi) petani dari sirkulasi harga pasar yang tidak sehat; (5) keberadaan KUD “Rimba Kakupi” sedikitnya dapat meningkatkan kesejahteraan warga setempat, khusunya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memenuhi kebutuhan anak-anak sekolah; dan (6) semangat kerja dan inovasi alat. KUD “Rimba Kakupi” memiliki semangat yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan warga kampungnya. Mereka juga memikili daya inovasi yang tinggi. Jadi, beberapa pelajaran penting yang didapatkan dari KUD “Rimba Kakupi” dapat diterapkan dalam proses pengelolaan kopi arabica oleh YABIMU dan masyarakat di Nabire. (yer)
BACA TRUZZ...- YABIMU dan YAPKEMA Studi Banding ke Serui

Atma Jaya Prsentasikan Profil Kampus di Adhi Luhur

Sabtu, Maret 08, 2008

Nabire (Selangkah)--Unversitas Katolik Atma Jaya Yogyakarta mengutus salah satu dosennya Ibu Meylani Yo, S.Sos untuk melakukan presentasi profil kampusnya di SMA Adhi Luhur Nabire, Rabu (5/3). Presentasi ini diikuti oleh seluruh siswa kelas tiga dan didampingi oleh moderator SMA Adhi Luhur, Pastor Cristophorus Aria Prabantara, S.J.

Kegiatan presentasi yang memakan waktu sekitar 2 jam itu, sekitar 30 menit pertama Ibu Meylani mengawali dengan satu permainan. Permainan tersebut intinya memaparkan tentang lima rahasia orang sukses yang masing-masing memunyai gerakan tersendiri tetapi terpadu dengan iringan musik, sehingga terlihat indah dan cocok dengan musiknya.

Kelima rahasia orang sukses tersebut adalah pertama, orang sukses harus memuyai cita-cita. Tanpa cita-cita orang seakan berjalan tanpa arah. Kedua, setelah memunyai cita-cita kita harus fokus dengan cita-cita kita. Ketiga, untuk mencapai cita-cita tersebut membutuhkan ketangguhan. Keempat, kecepatan juga menjadi salah satu rahasia orang sukses. Sementara yang kelima menurutnya adalah apabila seseorang mau sukses harus memiliki antusiasme. Antusiasme ternyata menjadi sumber kekuatan untuk mencapai impian atau cita-cita kita.

Kegiatan pengenalan Universitas Atma Jaya yang disaksikan juga oleh kepala SMA J. Muji Santara, S.J. itu, siswa menonton film dokumenter tentang Universitas Katolik Atma Jaya Yogyakarta selama 30 menit disertai penjelasan singkat. Kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab. Kegiatan tanya jawab ini terlihat mengasyikan karena setiap siswa yang bertanya mendapatkan suvenir dari Atma Jaya berupa bolpoin berlogo Atma Jaya.

Beberapa siswa mengatakan senang mengikuti presentasi ini. ”Saya senang, karena selama ini kami kadang-kadang bingung mau ke mana. Dengan presentasi seperti ini ada bayangan sedikit,” kata Agustinus Dogomo dari kelas XII IPS. Sementara, Cristoforus dari XII IPA misalnya justru merasa kurang karena belum dijelaskan secara lengkap tentang keenam fakultas yang ada di Atma Jaya. “Saya merasa kurang karena belum dijelaskan secara lengkap. Tadi itu, Ibu hanya lebih banyak menjelaskan yang sosial, lalu yang IPA belum dijelaskan secara rinci,” katanya.

Pada akhir pertemuan, Ibu Meylani memberikan alamat website Atma Jaya dan mengajari cara mengakses informasi lebih lanjut tentang Atma Jaya melalui internet. Katanya, di website yang diberikannya telah termuat segala informasi tentang Atma Jaya, termasuk informasi beasiswa yang ditawarkan dari Atma Jaya.

Pihaknya (Atma Jaya) membuka kesempatan langsung kepada para siswa yang berminat untuk melakukan tes seleksi masuk di Atma Jaya. ”Kami akan membuka kesempatan kepada adik-adik yang mau mengikuti tes seleksi masuk. Bagi adik-adik yang nilai Bahasa Inggris dan Matematika kelas X dan Kelas XI baik, akan diterima tanpa tes. Tes masuk Atma Jaya akan diadakan besok di sekolah ini ( 6 Maret: red), kata Meylani.

Kepada media ini, Ibu Meylani yang juga tenaga ahli Pusat Studi Kawasan Indonesia Atma Jaya itu mengatakan, kegiatan serupa tidak hanya diadakan SMA Adhi Luhur tetapi juga diadakan di beberapa sekolah di tanah Papua. “Saya mengadakan presentasi di beberapa sekolah yang sudah kerja sama dengan kami (Atma Jaya:red) di tanah Papua, misalnya di SMA katolik di Merauke, Sorong, dan di Nabire (SMA Adhi Luhur: red), katanya. [yer]
BACA TRUZZ...- Atma Jaya Prsentasikan Profil Kampus di Adhi Luhur

Wapres Minta Perguruan Tinggi Tak Obral Ijazah

Kamis, Maret 06, 2008

JAKARTA-Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta perguruan tinggi tidak mengobral ijazah atau dengan gampang meluluskan mahasiswanya. Setiap sarjana yang lulus harus punya kompetensi teknis, sehingga perguruan tinggi tidak mencetak pengangguran baru."Wapres minta perguruan tinggi tidak main-main dengan kualitas alumni," ujar Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Rusliwa Somantri usai bertemu Wapres Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden kemarin (5/3).
Kalla juga meminta perguruan tinggi di Indonesia membuat perbandingan standar mutu pendidikan dengan perguruan tinggi di kawasan, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam. "Ini agar lulusan kita memiliki benchmark dengan lulusan universitas di negara tetangga," katanya.Kalla juga prihatin dengan penurunan peringkat universitas-universitas di Indonesia dari peringkat 200-an dunia pada 2006 menjadi 300-an dunia pada 2007. Tahun lalu, hanya tiga perguruan tinggi Indonesia yang masuk peringkat 400 besar dunia, yaitu Universitas Gajah Mada (360), Institut Teknologi Bandung (369), dan Universitas Indonesia (395).
Indikator penilaian adalah kualitas input mahasiswa, kualitas staf pengajar, jumlah dan kualitas staf pengajar internasional, jumlah mahasiswa asing, rasio dosen dan mahasiswa, dan jumlah publikasi karya ilmiah.Gumilar menuturkan, UI telah menetapkan tujuan menjadi universitas kelas dunia. Karena itu, pihaknya tidak pernah bermain-main dengan kualitas lulusannya. Akibat kontrol kualitas yang ketat, timbul kesan mahasiswa sulit lulus dari universitas peringkat 395 dunia ini. "Kami tidak pernah mempersulit untuk lulus, tapi itu untuk menjaga kualitas itu," tuturnya.Upaya menjadi universitas kelas dunia dilakukan UI dengan memperbaiki infrastruktur dan sistem manajemennya.
Silabus mata kuliah harus dipikirkan substansinya agar mampu menjamin proses belajar mengajar agar berjalan baik. Selain itu kualitas dosen juga ditingkatkan dan menjalankan sistem pendukung seperti IT. "Saat ini, kami juga berusaha meningkatkan rasio dosen dengan mahasiswa, yakni 1 (dosen) dibanding 20 (mahasiswa)," ujarnya.Setiap tahun UI mampu meluluskan 100 doktor, 4 ribu mahasiswa pascasarjana, dan 4 ribu mahasiswa sarjana. UI juga menerima 4.400 mahasiswa baru tingkat sarjana dan sekitar 4 ribu mahasiswa pascasarjana. (noe)
--------------------------------------
Sumber: http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=12336
BACA TRUZZ...- Wapres Minta Perguruan Tinggi Tak Obral Ijazah

SLTP YPK Satu Atap Kampung Ayapo ; Tidak Ada Buku, Kapur Dan Kekurangan Guru

JUBI - Pembangunan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Yayasan Pendidikan Kristen (SLTP YPK), Satu Atap Kampung Ayapo Sentani Kabupaten Jayapura, dibangun oleh Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P dan P) Provinsi Papua. Selanjutnya, tugas dan tanggung jawab Dinas P dan P Kabupaten untuk meresmikan sekaligus mengelolanya, namun sangat di sayangkan sampai saat ini SLTP YPK Satu Atap kampung Ayapo Sentani, kurang di perhatikan.Menurut Hajai Hanuebi, guru SMP YPK Satu Atap Kampung Ayapo, ketika di temui Jubi di ruang guru, Senin (18/11), awalnya belum ada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), hanya ada Sekolah Dasar (SD).

Namun karena setiap tahun, ketika anak-anak kampung Ayapo menyelesaikan sekolahnya di SD, mereka harus mendaftar ke SLTP Negeri 4 Kampung Harapan yang sangat jauh dari kampung Ayapo, karena harus menggunakan perahu jonson dari kampung Ayapo menuju Telaga Maya, kemudian menggunakan taksi ke kampung Harapan, Sentani. Dengan melihat kondisi seperti ini, maka beberapa guru SD, termasuk Hajai mengusulkan kepada Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Jayapura (P dan P) untuk membangun SLTP di kampung Ayapo. Usulan itu di terima, kemudian dinas P dan P kabupaten berkordinasi dengan Dinas P dan P Propinsi.

Selanjutnya, dengan ketetapan dinas P dan P provinsi, lahirlah sekolah yang disebut Satu Atap di kampung Ayapo ini. Lanjut Hajai, ketika Dinas P dan P Propinsi menerima keluhan itu, mereka langsung merespon usulan tersebut dengan baik karena usulan tersebut merupakan salah satu program yang dijalankan oleh Dinas P dan P Propinsi. Awal bulan Januari tahun 2007 Pembangunan SLTP mulai di lakukan di kampung Ayapo oleh Dinas P dan P Propinsi dan selesai pada bulan April 2007. Namun sekolah ini tidak langsung diresmikan karena belum tersedia fasilitas. Sehingga selama rentang waktu tiga bulan SLTP ini tidak di gunakan. Dalam rentang waktu tiga bulan tersebut, Dinas P dan P Kabupaten memberikan bantuan berupa meja dan kursi.

Akhirnya Pada tanggal 13 Agustus tahun 2007 Dinas P dan P kabupaten mengambil keputusan untuk meresmikan SLTP satu atap kampung ayapo dan proses belajar mengajar mulai berjalan pada tanggal 14 Agustus tahun 2007 sampai sekarang. Tambah Hanuebi, setelah peresmian di lakukan oleh dinas P dan P kabupaten maka pihak sekolah menarik siswa-siswi asal kampung Ayapo yang sudah melanjutkan ke sekolah pada SLTP Negeri 4 kampung Hapan untuk sekolah di SLTP Satu Atap yang sudah di bangun di kampungnya. Jumlah siswa-siswi yang kemudian bersekolah di sekolah tersebut sebanyak 37 orang. Di sekolah ini ada 12 orang tenaga pengajar di tambah dengan 1 orang Tata usaha (TU).

Meski demikian, menurut Freddy Leisubun, Kepala Sekolah sementara di SLTP Satu Atap Ayapo, tenaga guru yang ada sangat kurang, sehingga satu orang guru menangani dua sampai tiga mata pelajaran. Proses administrasi sekolah juga untuk sementara masih di tangai oleh kepala sekolah sampe saat ini, karena hanya satu orang tenga TU. Dengan adanya kondisi seperti ini, maka hampir setiap hari anak-anak sekolah menunggu guru untuk mengajar. Selain itu belum ada buku-buku yang di gunakan oleh para guru untuk mengajar. Kalau para guru mau mengajar harus membeli buku sendiri. Ditempat terpisah, Claudio Daniel Suebu, siswa SLTP Satu Atap kampung Ayapo, ketika di temui jubi di ruang belajar, mengatakan proses belajar mengajar di sekolah sudah berjalan dengan baik.

“Biasanya para guru selesai mengajar, mereka memberikan tugas kepada kami untuk selesaikan di rumah.” ujar Claudio.Para siswa merasa cukup puas dengan proses belajar yang di berikan. Namun ada beberapa kendala yang di keluhkan oleh Claudio antara lain; tidak ada buku-buku panduan belajar, guru-guru yang kurang. Sehingga ada hari-hari tertentu yang tidak ada proses belajar mengajar. Misalnya pada hari hujan. Biasa para siswa datang dan menunggu guru-guru di sekolah sampai siang, lalu pulang. Hal ini terjadi karena kebanyakan guru yang mengajar di kampung Ayapo, tinggal di daerah Sentani dan Abepura. Mereka juga kebanyakan bukan guru tetap, masih mengajar pada SLTP yang lain.

“Pembayaran SPP yang diputuskan oleh sekolah untuk kami bayar setiap semester sebesar tiga puluh ribu rupiah.” kata Claudio saat ditanya besarnya SPP yang mereka bayar.Lanjut Claudio, sampai saat ini tidak ada kunjungan dari dinas P dan P ataupun lainnya, seperti pada sekolah-sekolah lain yang berada di kota atau kabupaten Sentani Lebih lanjut, Freddy Leisubun, yang juga menjadi guru di SLTP Negeri 4 Kampung Harapan mengatakan pembangunan SLTP Satu Atap ini bertujuan untuk ; memperpendek tantangan yang di hadapi oleh anak Kampung Ayapo.
Karena jarak tempuh yang sangat jauh dan membutuhkan biaya transport besar tidak sebanding dengan tingkat pendapatan masyarakat yang lemah. Sebenarnya sekolah SLTP YPK satu atap kampung Ayapo ini adalah sekolah negeri namun sekolah ini merupakan pengembangan Sekolah Dasar, Yayasan Pendidikan Kirsten (YPK) kampung Ayapo Sentani.
Karena denominasi masyarakat kampung Ayapo rata-rata beragama Kristen maka Dinas P dan P kabupaten meresmikan SLTP ini dengan nama SLTP YPK Satu Atap kampung Ayapo dan masih bersifat sementara. Kurikulumnya juga masih mengalami penyesuaian. “Cap yang di gunakan sampai saat ini adalah SLTP YPK Satu Atap Sentani, berdasarkan nota dinas.” ujar Freddy menegaskan status sekolah tersebut. Lanjut Freddy, tenaga guru pada SLTP satu atap kampung Ayapo Sentani masih bersifat sementara.

Ada empat orang guru SD YPK Ayapo dan delapan guru dari SLTP Negeri 4 kampung Harapan Sentani. Mengenai fasilitas belajar mengajar, bukan hanya buku-buku saja yang di beli oleh guru tetapi kapur juga di beli sendiri oleh guru untuk di pakai. Keluhan ini sudah di sampaikan kepada dinas P dan P namun sampai sekarang belum ada respon. Tambah Leisubun bukan hanya itu saja, bantuan dana untuk menolong para siswa, pun tidak ada sama sekali. Sehingga para guru berusaha rapat untuk menentukan pembayaran SPP yang di bebankan kepada siswa pada tiap semester. Jumlah uang yang di tentukan untuk pembayaran SPP sebesar tiga puluh ribu rupiah. Keputusan ini merupakan hasil rapat bersama para guru dengan kepala sekolah. Namun banyak siswa yang belum membayar uang pembayaran SPP, karena kondisi ekonomi masyarakat di kampung Ayapo juga masih tergolong lemah.

“Mata pencaharian mereka tidak tetap, pendapatan mereka pun demikian. Sehingga kami merencanakan rapat ulang untuk menurunkan pembayaran uang SPP. Bantuan yang kami dapat hanya meja sebanyak 20 buah, kursi sebanyak 40 buah dan papan tulis satu buah. Ini yang baru di dapat dari Dinas P dan P Kabupaten. Padahal kalau di lihat jumlah siswa-siswi yang di tangani di SLTP satu atap kampung Ayapo Sentani ini sebanyak 34 orang.” ungkap Leisubun.Leisubun menambahkan, SLTP Satu Atap ini bukan hanya di bangun di kampung Ayapo Sentani saja tetapi sudah ada enam bangunan yang di bangun di kampung terpencil yang susah dijangkau, di kabupaten Jayapura.

Daerah-daerah yang di bangun sekolah satu atap antara lain Sabron Sari, Meukisi, Yokari, Dormena, Kanda, Kaure dan Ayapo. Sementara itu, Dra. Yuliana Yoku, Kepala Dinas P dan P kabupaten Jayapura ketika di temui Jubi di ruang kerjanya, belum bisa memberikan komentar mengenai pembangunan sekolah Satu Atap kampung Ayapo Sentani karena yang bersangkutan lagi sibuk. (Musa Abubar/Victor Mambor)
----------------------------------------
Sumber : FokerLSMPapua.org
BACA TRUZZ...- SLTP YPK Satu Atap Kampung Ayapo ; Tidak Ada Buku, Kapur Dan Kekurangan Guru

SMA Adhi Luhur Datangkan 10 Ribu Eksemplar Buku

Senin, Maret 03, 2008

Nabire (Selangkah)--Kolese Le Cocq d’Armandville SMA Adhi Luhur mendatangkan buku satu konteiner (seribu judul dan diperkirakan sepuluh ribu eksemplar) dari Jakarta. Buku tersebut dikirim dari Jakarta pada 26 Januari 2008 dengan kapal barang Caraka I dengan biaya pengiriman 22 juta rupiah.
Dengan perjalanan satu bulan di atas lautan, satu konteiner buku itu sampai di Nabire (SMA Adhi Luhur) pada Sabtu, 1 Maret 2008 pada pukul 08.00 WIT. Sekitar satu jam, para siswa mengangkat buku-buku tersebut yang terdiri dari tiga ratusan karton itu ke ruang perpustakaan yang telah selesai dibangun sebelumnya.

Kepada media ini, Rektor Kolese Le Cocq d’Armandville, Basilius Sudibya, S.J., mengatakan, buku tersebut tidak hanya buku pelajaran tetapi lebih banyak buku umum yang mampu membuka wawasan anak-anak muda tentang pandangan dan dunia luar. ”Sebuah lembaga pendidikan, mutu dan tidaknya tergantung pada perpustakaan. Perpustakaan itu sarana yang baik untuk wawasan dan pengetahuan orang terhadap dunia yang tertutup bagi kita, pengetahuan tentang dunia, kepribadian dan sebagainya. Guru itu bukan segala-galanya. Guru itu sosok yang terbatas maka guru juga terus harus belajar di perpustakaan ,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, kedatangan buku itu wujud konsen Serikat Jesus (SJ) dan Kompas- PT Gramedia Pustaka Utama terhadap masyarakat Papua, khususnya di dunia pendidikan. ”Sebenarnya, usaha pengadaan buku telah dilakukan sejak tahun 2001. Setiap tahun kami sisihkan lima sampai enam juta untuk beli buku,” katanya.

”Tujuan kehadiran SJ di tanah Papua, khususnya di Nabire dan memberikan perhatian khusus di bidang pendidikan itu, tujuannya bukan sekedar mendidik anak-anak Papua menjadi pandai-pandai (unggul dalam intelektual), tetapi lebih memunyai pengetahuan yang luas dan memunyai pemahaman tentang masyarakatnya. Kami ingin anak-anak Papua ke depan harus memunyai karakter dan integritas yang baik serta keberanian untuk bertindak,” kata Pater Bas.

Pada tempat yang berbeda, Kepala SMA Adhi Luhur, Pator J. Muji Santara, S.J., mengatakan, kedatangan buku ini berarti apabila dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh keluarga Kolese Le Cocq d’Armandville lebih khusus dan masyarakat umum. ”Buku datang dari Jawa belum ada maknanya, kolese harus memberikan makna dengan memanfaatkan (membaca—red). Tidak hanya siswa tetapi juga guru dan karyawan. Guru dan siswa harus ada keseimbangan. Dalam hal ini guru harus menjadi inpirator (sumber inspirasi) bagi siswa,” kata Pater Muji.

Pater Bas juga mengatakan, semakin banyak orang yang membaca itu semakin baik. ”Fasilitas yang ada itu semakin berguna apabila semakin banyak digunakan. Sehingga, walaupun lingkungan SMA Adhi Luhur kecil tetapi karena tempatnya strategis maka terus diupayakan berbagai fasilitas termasuk perpustakaan ini supaya siapa saja bisa mengakses. Maksudnya tempat yang referesentatif untuk mengembangkan diri,” katanya.

Secara spontan beberapa siswa mengungkapkan kesenangannya dengan kedatangan buku tersebut. Gordon Tanggahma dan Maria Magdalena dari kelas X Yury A. Gagarin misalnya mengatakan senang dengan kedatangan buku tersebut. ”Saya senang karena buku-buku ini menunjang pembelajaran. Pada waktu-waktu luang atau pada jam-jam pelajaran kami bisa memanfaatkan itu,” kata Gordo.
Musye Weror dan Simon Jitmau dari kelas XII Ignasio justru memberikan pesan buat adik-adik kelasnya yang masih berada di kelas X dan XI serta anak-anak muda lain yang masih berada di SMP dan sekolah lain. ”Kami senang sekali dengan kedatangan buku-buku ini. Tapi, kami yang kelas XII tinggal beberapa bulan lagi. Maka, saya berpesan kepada adik-adik kelas dari SMA Adhi Luhur maupun siapa saja boleh memanfaatkan fasilitas ini. Karena melalui membaca buku kita akan mengetahui banyak hal yang tidak pernah kita tahu sebelumnya,” kata Musye berpasan.

Kepada media ini, pada Senin (3/3), karyawan perpustakaan SMA Adhi Luhur, Sunce Dalending mengatakan, membutuhkan waktu sekitar satu bulan lebih untuk membuat penomoran dan penstempelan buku-buku tersebut. ”Kira-kira membutuhkan waktu satu bulan lebih untuk penstempelan. Abis buku banyak sekali jadi,” kata Sunce. Dia juga berkomentar, dari beberapa karton yang ia buka, terlihat hampir semua buku berkualitas. [yer/Selangkah/PapuaposNabire, Selasa 4 Maret 2008]
BACA TRUZZ...- SMA Adhi Luhur Datangkan 10 Ribu Eksemplar Buku

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut