PKBM KOBOUGE GELAR PELATIHAN KF DAN PAUD: "Kami Ingin Ada Pelatihan Lanjutan"

Kamis, Februari 28, 2008

Bomomani–(Selangkah)—Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) KOBOUGE Bomomani, Mapia (pedalaman Nabire Papua) menggelar pelatihan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan keaksaraan fungsional (KF) bertema ”Revitalisasai Anak Bangsa Menuju Hasrat Masyarakat Melalui PAUD dan Keaksaraan Fuungsional” selama dua hari (17-18 Desember 2007) di gedung Sekolah Dasar (SD) Inpers Bomomani.

Pelatihan yang diikuti oleh 80-an peserta tutor PAUD dan Pemberantasan Buta Huruf (PBH) dari enam distrik wilayah pedalaman (wilayah II) kabupaten Nabire itu, dibuka secara resmi oleh Kapolsek Bomomani, M Syukur mewakili kepada distrik Mapia.”Kegiatan ini merupakan satu usaha hebat untuk mengejar ketertinggalan pendidikan. Maka, saya sambut baik kegiatan ini,” kata M Syukur mengawali sambutannya.

“Kebodohan itu dekat dengan kemiskinan, maka Bapak dan Ibu yang hadir di sini agar memberikan dukungan kepada anak-anak di lingkungan keluarga maupun di sekolah. Anak-anak yang belum sekolah diusahan untuk masuk sekolah. Apakah nanti mau menjadi pegawai atau pedagang itu urusan nanti. Yang penting anak-anak Anda dampingi dengan baik dan minimal bisa membaca dan menulis. Jangan menyerah, selama ada kemauan kita pasti bisa,” kata Syukur.
Hadir sebagai pembicara Bapak Frans Tekege, ketua PKBM Kobouge---jabatan ketua telah diganti dengan Primus Butu---dengan materi penguatan PKBM, Bapak Zacharias Petege, Penilik Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dengan materi pelatihan pembrantasan buta huruf (PBH)”, Bapak Mudestus Wakay Kasubdin PLS Kabupaten Nabire arahan umum kebijakan pemerintah tentang PAUD dan KF, dan Yermias Degei, sekretaris Komunitas Pendidikan Papua (KPP) dengan materi PAUD dan Kelompok Bermain.

Ketua panitia pelatihan, Primus Butu mengatakan, panitia telah mengundang pembicara dari Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (PLSP) Departemen Pendidikan Nasional, namun pihak yang diharapkan sibuk dengan laporan akhir tahun sehingga tidak sempat datang. Tetapi, katanya, kegiatan ini merupakan rangsangan awal, maka pada pelatihan lanjutan akan berjuang menghadirkan pembicara langsung dari Dirjen PLSP, Depdiknas. Katanya, supaya mereka (orang Jakarta) bisa melihat kondisi perjuangan kami untuk pendidikan.
”Kita sebagai orang tua pasti punya harapan bahwa anak harus menjadi cerdas. Maka, walaupun panitia mengalami kekuarangan untuk pelaksanaan kegiatan ini tetapi, kami akan tetap laksanakan. Kita merindukan perubahan itu telah lama. Maka dekorasi dengan koteka dan moge itu artinya kita masih dalam situasi itu. Kalau kita tunggu pemerintah kapan kita bangun. Sekarang kita harus lakukan dari bawa melalui PKBM. Kalau kita lakukan sesuatu, maka pemerintah akan memperhatikan kita,” kata guru SD Inpres Bomomani itu.
Dia juga mengatakan, memang selama ini ada banyak uang dari pusat (uang Otonomi Khusus), namun uang itu hanya terbang-terbang di udara dan kembali ke Jakarta. ”Walaupun dalam kondisi yang sulit, kita harus membangun kampung kita sendir. Bapak dan Ibu datang dari jauh itu karena ada niat. Bapak dan Ibu punya nama akan diukir. Apapun kegiatan baik yang Bapak dan Ibu lakukan itu akan terukir di dunia maupun di akhirat,” katanya memotivasi.

“Bagi wilayah pedalaman, pelatihan seperti ini hal baru, maka kegitan dapat menjadi ransangan awal. Ke depan kita mengharapkan ada kegiatan-kegiatan seperti ini. Selama ini masyarakat pedalaman dianggap tertinggal karena kurangnya informasi baik melalui media maupun melalui pelatihan-pelatihan sehingga melalui PKBM yang ada kami terus berusaha,” kata Primus optimis.
Kacapdin distrik Kamuu, Amatus Dumupa justru mengapresiasi Frans Tekege (ketua PKBM lama) dan ketua panitia Primus Butu. ”Kami mengucapkan terima kasih karena selama ini belum pernah ada kegiatan seperti ini. Kami tidak tahu tentang PAUD dan keaksaraan fungsional tetapi dengan pelatihan ini kami menjadi tahu. Maka kami harapkan ada pelatihan tingkat lanjut dengan waktu pelatihan3 atau 4 hari,” harap Amatus.
Bapak Amatus Dumupa juga menyoroti perhatian pemerintah daerah Papua terhadap tenaga pendidik di pedalaman SD maupun PAUD. Katanya, pemerintah mengizinkan membuka sekolah baru tetapi tenaga guru tidak diperhatikan, termasuk tutor PAUD. Maka, dia berharap, pemerintah dapat membuka kembali Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan beberapa sekolah sejenis yang mencetak banyak guru yang pengabdiaannya tinggi pada masa lalu. Dia juga mengatakan, jurusan PAUD harus menjadi komitmen pemerintah daerah di kampus-kampus yang ada di daerah Papua. Dia yakin, kecerdasan bangsa itu hanya mungkin dengan pendidikan.

Ibu Meliana Agapa dari Kamuu Barat mengatakan, pelatihan serupa baru pertama kali mengikuti dan seandainya dari dulu ada pelatihan seperti ini pasti kita juga sudah maju. ”Selama ini kami pikir bahwa pendidikan itu hanya di bangku sekolah. Pendidikan itu urusan dengan guru di sekolah. Tetapi ternyata tidak. Pendidikan itu ternyata pada intinya harus kembali kepada keluarga. Mencerdaskan anak itu kembali pada asupan gizi yang kita berikan ketika ibu hamil maupun kepada anak, perhatian, dan pendidikan kita di rumah,” kata Meliana.

Ibu Agapa berharap, pemerintah pusat dan daerah dapat memfasilitasi kami terus-menerus untuk mendapatkan informasi dari luar semakin banyak melalui pelatihan maupun bacaan maka lambat laun kami di pedalaman juga akan maju. ”Kami ingin ada pelatihan lanjutan. Pelatihan itu apakah melalui PKBM induk KOBOUGE maupun langusng ke PKBM-PKBM di tiap distrik.
Alfius Mote dari PKBM KOBUGE justru mengatakan, sebenarnya alat-alat permainan untuk anak usia dini sudah ada di lingkungan kami, namun kami tidak punya contoh model permainan. Maka, dia berharap pelatihan lanjutan yang menujukkan dan sekaligus menunjukkan alat-alat permainan sekaligus cara mendampingi anak dalam bermain. Senada juga diungkapkan Nela Iyai, salah satu tutor PAUD di Bomomani. [yer/Selangkah]
BACA TRUZZ...- PKBM KOBOUGE GELAR PELATIHAN KF DAN PAUD: "Kami Ingin Ada Pelatihan Lanjutan"

Diskusi KPP

Minggu, Februari 24, 2008

Jalan Trans Yogyakarta Hingga ke Jalan Trans Irian (Papua)

Yogyakarta (Selangkah)—Komunitas Pendidikan Papua (KPP) kembali mengadakan diskusi dengan topik “Memodret Jalan Trans Yogyakarta hingga ke Jalan Trans Irian (Papua)” pada Selasa, (19/02), pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB di Ruang Kampus Ministry, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Ketua Komunitas Pendidikan Papua (KPP) Longginus Pekey dengan pendampingan Pater Inn Nugraha, S.J., telah mengagendakan diskusi mingguan pada setiap hari Selasa sejak tahun 2007 lalu. Tempat pelaksanaannya, disediakan oleh pihak Universitas Sanata Dharma melalui Pater Inn Nugraha, S.J. dan Longginus Pekey yang juga kuliah di kampus tersebut.

Persoalan yang sering didiskusikan adalah berbagai topik. Namun, sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan, persoalan utama adalah masalah pendidikan (formal dan nonformal) di tanah Papua. Pada diskusi edisi ini KPP mengangkap topik tentang jalan memotret jalan Trans Yogyakarta hingga Jalan Trans Irian.

Sebelum mendiskusikan jalan Trans Irian, KPP mendiskusikan lebih dahulu tentang Jalan Trans Yogyakarta. “Tarnsportasi di Yogyakarta jejak dulu belum mantap, karena itu sering sekali terjadi kemacetan dan kecelakaan. Sehingga untuk memperbaikinya pemerintah bersama beberapa akademisi (dosen saya) terinspirasi dari jalur trans Jakarta (Bas Way) untuk mencobanya di Yogyakarta dengan tujuan memberikan kenyamanan dan ketertiban bagi pengguna transportasi di kota ini,” kata Eka Iyai, mahasiswa Teknik Sipil Atma Jaya Yogyakarta mengawali.

Kaitannya dengan rencana pembangunan Trans Yogyakarta, salah seorang peserta diskusi, Yunus Yeimo, mahasiswa Arsitektur Duta Wacana Yogyakarta, mengemukakan bahwa pemerintah harus hati-hati dan jangan lupa bahwa di setiap terotoar di bawahnya ada parit, artinya jalan di Yogyakat ini sudan sempit. Semntara di pinggiran jalan dipadati oleh pedagang kaki lima di tepian jalan yang mencari nafkah, kemungkinan untuk merapikan jalannya Trans Yogyakarta pasti akan terjadi penertiban terhadap pedagang-pedagang kaki lima yang selama ini beroperasi di tepi jalan raya.

Menurut dia pembuatan halte bus Trans Yogya tidak layak dan justru mengganggu, seharusnya halte itu berada di belangkang dari trotoar, tiang listrik dan telpon, namun ini tidak terjadi tidak sesuai penataan yang seharusnya.

Lebih lanjut, Yunus mengungkapkan memang halte yang telah dibangun sangat bagus namun sangat disayangkan karena pengawasannya masih kurang dan nampaknya bukan kebutuhan, lagi pula tidak sesuai karakter budaya setempat. Sementara fungsi operasi kurang efisien dan efektif, karena ada yang jauh dari keramaian atau jauh dari kampus yang paling ramai biasanya.Menurut Agus Degei, walaupun dibangun bagus, namun operasi Trans Yogyakarta tidak akan berpengaruh terhadap masyarakat karena masyarakat Yogyakarta mayoritas menggunakan tranportasi pribadi, mereka merasa lebih efektif dan efisien naik kendaraan roda dua.

Menurut mahasiswa pendidikan Akuntansi Sanata Dharma ini, dengan dioperasikannya Trans Yogya akan menambah lapangan pekerjaan, ada kemungkinan akan berkurangnya pengguna kendaraan pribadi bila operasi Trans Yogya dilakukan dengan semaksimal dan sebaik mungkin.
Namun menurut Albertina Agapa, mahasiswa Bimbingan Konseling Sanata Dharma justru dengan adanya Trans Yogyakarta akan menambah kemacetan. Salah satu hal menurut dia yang sangat disayangkan dengan adanya jalur trans adalah pengendara sepeda tidak lagi akan punya jalur. Padahal beberapa bulan lalu pernah dengan gembar-gembornya menjadikan Yogyakarta sebagai kota sepeda, yang telah dibuat jalurnya dengan menggunakan cat-cat putih untuk jalur sepeda.

Dengan adanya Trans Yogyakarta, tentu akan terjadi sedikit atau banyak perubahan sosial, tukang becak, pedagang kaki ima, tukan ojek, sebaiknya memperkuat wadah koperasi, karena mereka bisa jadi akan kehilangan pekerjaan kalau hanya beroperasi mengandalkan diri sendiri. Sehingga Longginus manansang, mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa Yogyakarta mengatakan, pembuatan Jalan Trans Yogyaklarta ini sebatas menghamur-hamburkan uang. Menurut dia bila ini berjalan, maka ada kemungkinan akan terjadinya persoalan.Trans Irian (Nabire-Paniai-Ilaga- Wamena)Persoalan di Yogyakarta hanya soal efektivitas, efisien dan kenyamanan. Beda dengan persoalan trans Irian di Papua. Jalan Trans Irian dililit banyak persoalan, baik dari sisi pembangunan jalan yang belum selesai, tranporatasinya yang minim, serta dampak sosial yang terjadi terhdap masyarakat.

Mengenai Jalan Trans Irian, Pemerintah memang nampak kurang serius dalam membangunnya. Hal ini nampak dari pembangunan jalan Trans Irian yang sudah bangun sejak tahun 1985 itu hingga saat ini belum terjadi sesuai harapan masyarakat dan pemerintah. Jalan ini masih sangat rusak total, kendaraan berjalan di dalam lumpur dan jembatan yang rawan putus.

“Dalam membangun jalan ini kontraktor hanya mencari untung semata. Yang penting asal meratahkan tanah, nanti kalau rusak pasti kontraktor tersebut di pakai lagi,” tutur Eka Iyai. Barangkali seperti inilah wajah Papua yang memang menjanjikan bagi kontraktor yang nakal. Membangun tanpa memperhitungkan kadar kekuatan bangunan.

Dampak Positif dan Negatif dari Jalan Trans Irian
Pembanguan jalan mengakibatkan perubahan sosial bagi masyarakat. Perubahan itu baik yang negatif maupun yang positif. Dampak negatif dari jalan trans Irian adalah banyak guru dari pedalaman meninggalkan tugas dan berbulan-bulan di kota; orang semakin malas karena merasa lebih tertarik jalan-jalan atau turun ke kota; anak-anak dari kampung turun ke kota dan merasa bangga menjadi anak terminal (dengan pinang di mulut dan botol di tangan), mereka malas sokolah (nati nai tekoda ko); bapak-bapak tua meninggalkan kampung halaman tanpa alasan dan kepentingan datang ke Nabire pulang membawa penyakit seperti HIV dan AIDS; terjadi kubu-kubu (geng) antara para pemuda, karena dibayar pedagang pendatang; minuman keras menyebar sampai ke pelosok kampong sehingga pemuda desa semakin menjadi pecandu alkohol; terjadi pengrusakan tehadap daerah-daerah telarang yang diyakini orang Papua sebagai tempat keramat, tempat doa dan sebagainya; Ilegal loging mudah masuk; dan berbagai persoalan social lainnya.

Dampak positif antara lain adalah memudahkan sarana teransportasi agar terjadi hubungan yang baik di mana orang dari kampung dapat perjualan sayuran ke Nabire atau ke daerah lain dan lainnya.

Yang Harus Kita Lakukan
Pemerintah daerah, khususnya Tripida di distrik, gereja (kegitan rohani), dan lembaga masyarakat harus kerja lebih giat untuk memberdayakan masyarakat setempat, melalui wadah-wadah ekonomi, sosial, dan budaya, dan melalui wadah-wadah kegiatan koperasi. Bagi guru-guru di pedalaman harus diperhatikan agar tidak terus-terusan meninggalkan sekolah.

Untuk mahasiswa yang melakukan studi baik yang di Jawa-Bali, Sumatera, Sulawesi, bila berpikir untuk membangun Papua harus menggunakan peluang dan kesempatan untuk belajar dengan baik. Tidak hanya kuliah atau nongkrong cerita mob, tetapi belajar untuk terlibat dalam kegiatan organisasi dan kegiatan kemasyarakatan lain serta menekuni suatu kealihan, seperti koperasi masyarakat, pertanian organik, pembuatan biogas, perbaikan komputer dan sebagainya yang dapat kita terapkan untuk melayani dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. [Long/Yer/Selangkah].
BACA TRUZZ...- Diskusi KPP

Minuman Keras Membunuh Generasi Muda Papua

Oleh Marcelino Seti*)

Kalau kita amati di tanah Papua (khususnya di kota Nabire), banyak orang melakukan jual beli minuman keras tanpa merasa minuman itu berbahaya bagi kesehatan jasmjani maupun rohani. Minuman itu ada yang didatangkan dari luar Papua dan ada juga yang di produksi di Papua. Yang didatangkan dari luar Papua misalnya, mensen, vodka, robinson, bir, dan lain-lain. Sementara yang diproduksi di Papua adalah bobo dan lain-lain.
Berdasarkan pengamatan saya, hampir 70% anak Papua telah dan terus mengonsumsi minuman keras. Anak-anak muda Papua sedang terbunuh dan membunuh diri mereka secara jasmani maupun rohani. Namun, pemerintah daerah dan keamanan (kepolosian) di Nabire malas tahu dengan hal ini. Mereka membiarkan generasi muda Papua mengonsumsi munuman keras tanpa menangani hal ini dengan tegas dan serius.

Ini adalah tanda ancaman untuk masa depan tanah Papua. Apa jadinya masa depan tanah Papua, apabila anak-anak muda Papua menjadi pecandu alkohol. Pemerintah dan pihak kepolisian tidak pernah sweeping besar-besaran dan membasmi semua minuman keras dan juga melarang penerimaan kiriman minuman keras dari luar tanah Papua. Aparat juga tidak pernah melakukan penjagaan dan tegas terhadap orang-orang yang membawa minuman keras melalui kapal maupun pesawat.

Menurut pengamatan saya, malahan pejabat-pejabat dan oknum keamanan yang banyak mengonsumsi minuman keras. Bahkan mereka kadang-kadang kerja sama dengan para pemasuk alkohol dari luar Papua. Bagaimana mungkin, kita mau membangun masa depan Papua, apabila pihak-pihak yang dapat dicontoh oleh generasi harus mengonsumsinya. Seharusnya para pejabat yang memberi contoh kepada masyarakat agar masyarakat dapat mengikuti dengan baik. Tetapi, hal itu tidak terjadi di tanah ini (tanah Papua).

Apabila keadaannya seperti itu, maka justru sebaliknya generasi muda Papua yang harus memberikan contoh kepada para pejabat dan keamanan. Sementara itu, kita masyarakat juga jangan membuat atau memroduksi minuman keras lokal seperti Bobo, karena jenis minuman sering menjadi alternatif kedua ketika anak-anak muda tidak ada uang.

Apabila pemerintah dan pihak keamanan tidak memberikan contoh maka, hanya ada satu hal yang bisa generasi muda Papua lakukan, yaitu mari kita jauhi minuman keras demi masa depan kita dan Papua yang tercinta. Teman-teman, keterlibatan dan pembiaran ini adalah mimpi buruk masa depan kita dan tanah kita Papua. Semoga catatan ini dapat berguna bagi kita yang memiliki masa depan yang indah!

*) Siswa Kelas XI IPS Wangari Mathaai, SMA YPPK Adhi Luhur Nabire Papua
BACA TRUZZ...- Minuman Keras Membunuh Generasi Muda Papua

Kesiapan SDM Papua Dalam Menempuh Jenjang Pendidikan

Kamis, Februari 21, 2008

Oleh Ones Madai*)
Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor yang dominan karena satu-satunya sumberdaya yang memiliki akal, prestasi, perasaan, keinginan, karsa, pengetahuan dan keterampilan. Jadi, pada prinsipnya sumber daya manusia (SDM) adalah satu satunya sumber daya yang sangat menentukan maju mundurnya suatu daerah dalam bidang pendidikan di antaranya, aspek sosial, ekonomi, budaya dan politik.

Dengan melihat perkembangan dunia pada era globalisasi, Papua merupakan salah satu provinsi yang terletak di ufuk timur Indonesia, dengan sumber daya manusia yang relatif rendah dalam kemajuan pengembangan dan pembelajaran pendidikan, dan sumber daya alam (SDA) yang sangat bervariasi seperti, tembaga, emas, perak, dan minyak bumi.

Pendidikan Papua terbagi atas dua kawasan yaitu pendidikan di kawasan pesisir dan pendidikan di kawasan pegunungan tengah. Penulis lebih tendensi ke pengembangan pendidikan di kawasan pegunungan tengah (pedalaman). Khususnya di pegunungan tengah mengalami kendala yang sangat menyedihkan baik dalam fasilitas maupun tenaga pengajar karena masa depan rakyat dan tanah Papua tergantung dari sekarang.

Otonomi Khusus telah berjalan enam tahun, tetapi belum menampakkan wajah perubahan pendidikan di tanah Papua. Jadi, kewenangan pembangunan pendidikan di tanah Papua yang diatur melalui Undang-Undang Otonomi Khusus itu benar-benar harus digunakan untuk membangun rakyat Papua di atas tanah mereka. Karena tenaga pengajar dan fasilitas merupakan sesuatu alat yang dapat mengembangkan sumber daya manusia (SDM).

Secara realitas pendidikan di pegunungan tengah (pedalaman) Papua banyak sekolah yang tidak efektif dalam proses belajar mengajar bahkan gedung sekolah tidak dapat di gunakan untuk belajar karena segala kebutuhan sekolah tidak terpenuhi dan tenaga pengajar kurang (guru). Kondisi demikian apakah sumber daya manusia akan berkembang? Dan yang bertanggung jawab terhadap pendidikan siapa? Apakah pemerintah, masyarakat, atau pihak yang berkewajiban atas berkembangnya pendidikan?

Dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) di pegunungan tengah Papua sangat dibutuhkan tenaga-tenaga pengajar untuk memajukan pendidikan, karena tenaga pengajar memiliki posisi strategis dalam mengembangkan sumberdaya. Artinya, guru memegang peranan penting dalam melakukan aktivitas untuk mencapai suatu tujuan.

Kendala bagi anak anak pedalaman salah satunya adalah aksesibilitasnya, karena aksesnya tidak begitu lancar sehingga siswa yang memunya minat untuk sekolah pun semakin menurun daya semangatnya. Sebenarnya kemauan anak anak pegunungan tengah untuk sekolah sangat tinggi namun menjadi beban adalah aksesnya, karena dari rumah ke sekolah sangat jauh sekitar beberapa kilo meter jalan kaki hingga sampai di sekolah. Sementara sekolah tingkat SMP bisanya terletak di ibu kota distrik yang hanya dijangkau dengan jalan kaki dua atau tiga hari.

Selain itu, pendidikan sangat sulit berkembang karena sebagian dari tenaga pengajar inginnya menetap di perkotaan karena kondisi alam pedalaman sangat mempengaruhi keadaan fisik. Guru adalah pahlawan, karena guru sebagai pahlawan yang menyelamatkan peradaban suatu bangsa dari keterisolasian, keterbelakangan, kesengsaraan dan kebodohan. Guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar. Mengajar dengan mengedepankan profesinya sebagai mata pencaharinnya. Mengajar adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah. Guru mengajar sambil mendidik dan mendidik sambil mengajar. Apalagi membuka pemahaman-pemahaman pada tiap pribadi yang berbeda konsep berpikirnya.

Tingkat intelegensi yang menonjol adalah orang orang dari pedalaman di bandingkan dengan orang orang kota namun sayangnya mereka dapat ilmu dari mana sedangkan tenaga pengajar berkurang dan akibatnya banyak siswa yang tidak ingin sekolah. Suatu hipotesa mengatakan bahwa " Suatu bangsa yang tak mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki bangsanya serta mencurahkan secara efektif untuk kepentingan pembangunan maka bangsa tersebut tidak akan mampu membangun bidang lain" (Tjiptohenyanto, 69).

Hipotesa di atas memberikan gambaran yang jelas arti pentingnya sumber daya manusia bagi suatu bangsa. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini, kita harus cepat-cepat mengenali dan menguasai segala bentuk perubahan, termasuk sumber daya manusia. secara real (nyata) tempat belajar bertambah di daerah pedalaman, misalnya Distrik tigi, kabupaten Paniai dulunya dua SMP namun sekarang bertambah menjadi lima SMP. Menjadi pertanyaan adalah apakah sumberdaya bisa berkembang jika tenaga pengajar berkurang sedangkan infrastruktur meningkat ? Itu sangat tidak mungkin terjadi dalam pengembangan SDM karena yang memajukan sumberdaya adalah tenaga pengajar.

Salah satu input untuk pemerintah daerah adalah khususnya pemda pegunungan tengah mengapa dana dana pendidikan di alokasikan ke tempat lain sedangkan SDM tidak berkembang. Kalau boleh pemerintah harus menyekolahkan anak-anak ke jurusan keguruan dengan biaya pemda agar sumber daya bisa berkembang dan selesai study kembali dan mengabdi di daerah tersebut.Alasan utama orang Papua jarang studi keluar daerah adalah kurangnya sumber daya manusia, sarana dan prasarana. Selain itu, ada hal mendasar lain yaitu, tidak tersedianya studi mendalam selepas SMA. Mengenai sarana dan prasarana yang kurang seharusnya menjadi prioritas utama di samping faktor lain. Faktor lain misalnya, guru sebagai pendidik dan pengajar memiliki arti penting bagi dunia pendidikan. Terutama pendidikan formal.
-------------------------------------------
*) Mahasiswa Jurusan Teknik Planologi pada Institut Teknologi Nasional ( ITN ) Malang.
BACA TRUZZ...- Kesiapan SDM Papua Dalam Menempuh Jenjang Pendidikan

Tidak Mebaca: Apa Kata Dunia?

Kamis, Februari 14, 2008

Yogyakarta (Selangkah)--Judul di atas ini dipilih sebagai tema pada acara pameran buku nasional 2007 yang digelar di gedung Wanita Tama, Yogyakarta yang berlangsung selama seminggu, berakhir tepat pada tanggal 10 Februari lalu. Acara seperti ini bukan hal yang baru, sudah sejak dulu pesta buku ini digelar dan hampir setiap beberapa bulan sekali pamerean buku dan penjualan buku murah diadakan di kota pendidikan Yogayakarta. Diskonnya mencapai 70%, di sana tersedia buku mulai dari harga lima ribu hingga sampai yang berharga ratusan ribu rupiah.

Tema yang ada di atas itu terkesan sangat ringan, namun bukan sesuatu yang kosong. Ada makna pilosofi yang cukup dalam bila kita mau masuk ke dalam dan menyelusuri makna kata ini. Walaupun kata itu terkesan menyerupai iklan wajib pajak ”tidak bayar pajak apa kata dunia” namun di antara kedua itu siapa yang lebih dulu bukan sesuatu yang harus kita perdebatkan. Yang terpenting di sini ada sesuatu yang mau dikomunikasikan pada kita dan seharusnya kita temukan .

Di dalam acara ini juga telah dilakukan berbagai diskusi dan bedah buku, dari jenis novel hingga buku akademik, mengenai agama, sosial dan budaya mistik dan sebagainya. Yang terpenting di sini, melalui diskusi dan bedah buku ini sudah menambah wawasan dan pengetahuan bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan diskusi dan beda buku ini. Nampaknya alasan menambah wasasan, menambah minat baca untuk pencerdasan, yang sepertinya telah menjadi harapan diadakannya pameran buku murah.

Setiap hari dikunjungi oleh ratusan orang, diperkirakan hampir mendekati seribu pengujung setiap hari. Namun selama dua hari pantauan tim dari Selangkah, dari sekian ribuh mahasiwa Papua yang ada di Yogyakarta, hanya nampak beberapa orang saja. Entalah? Mungkin 4 rbuan mahasiswa itu tidak tahu kalau sedang ada pameran buku.

Dari sekian banyak pengujung itu, ada ungkapan dari beberapa pengunjung yang kebetulan berseberangan dengan tim Selangkah mengatakan “pameran kali ini tidak semeria yang kemarin-kemarin” ada beberapa buku yang aku cari tidak dijual di sini, padahal pada acara yang lalu buku tersebut di jual.

Kita kembali kepada tema di atas? Barangkali kalau kita tidak membaca buku dunia akan menertawakan kita? Dunia akan meninggalkan kita, kita menjadi manusia yang paling terlambat, terbelakang dan ketinggalan jauh. Mungkin seperti itu yang mau dikatakan tema di atas kepada kita.

Untuk memahami dunia, berkeliling (mengelilingi) dunia juga dapat di tempu melalui membaca buku, misalnya jika kita ingin tahu tentang Afrika, Amerikan dan sebagainya tidak harus kita datang ke sana, meskipun kita ke sana dan pernah sampai di sana belum tentu mengetahui banyak tentang tempat itu. Tetapi ketika kita membaca buku ataupun peta tentang Afrika dan daerah lainnya justru akan menemukan dan tahu banyak hal. Misalnya juga, kita tidak pernah sampai di Bali, namun kita tahu Bali adalah kota wisata, kita akan tahu hal itu karena terdapat berbagai macam tempat wisata di antaranya Pantai Kuta, Pure Besaki dan sebagainya dengan membaca. Waluapun memang hanya membaca saja rasanya tidak puas, namun yang mau dikatakan di sini dengan membaca kita bisa keliling dunia dan tahu banyak hal.

Berkaitan dengan cara berpikir, membaca satu-satunya cara untuk memperluas wawasan kita. Dengan pengetahuan luas akan membuat wawasan kita semakin luas pula dan akan sangat membantu untuk memahami orang dari suku bangsa, agama lain. Sekalipun kita belum pernah bertemu dan saling menyapa. Melalui membaca kita akan mengetahui kebiasaan dan apa yang mereka yakini dan apa yang dapat menyinggung perasaan mereka, dari situ kita akan semakin menghormati dan menghargai mereka sebagai manusia yang sama dengan kita.

Memacu Minat Baca
Kegiatan ini tentu akan membatu menanamkan minat baca masyarakat. Paling tidak membuat masyarakat mencintai buku. Kita berharap untuk memacu minat baca orang Papua, akan bermunculan penerbitan dan percetakan buku di Papua. Tetapi yang lebih penting, untuk meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan masyarakat Papua sudah adakah upaya pemerintah daerah untuk mengampanyekan pentingnya membaca, menulis dan budaya bersikusi di Papua? Ini belum nampak, walaupun ada namun masih kurang.

Bukan hanya sekedar kampanye, tetapi bila belajar dari daerah lain sudakah pemerinah dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) pihak gereja dan sebagainya yang ada di Papua melakukan upaya untuk merangsang minat membaca masyarakat. Misalnya dengan mendirikan perpustakaan anak-anak, remaja dan umum serta melengkapinya dengan buku-buku bacaan, ataupun menggelar perlombahan menulis karya Ilmiah, puisi, cerpen dan juga kursus jurnalitik bagi kalangan umum.

Kegiatan seperti ini seharunya diprogramkan dalam anggaran APBD yang bernilai miliaran rupiah itu. Bila pemerintah sulit melakukannya, seharunya pemerintah bisa percayakan kepada lembaga ataupun intansi terkait yang secara serius menangani upaya-upaya soal pengembangan minat membaca dan menulis bagi masyarakat sebagai bagian dari upaya pencerdasan dan mengurangi angka buta huruf yang ternyata mendapat urutan paling atas di Papua. [Long/selangkah]
BACA TRUZZ...- Tidak Mebaca: Apa Kata Dunia?

Papua Membutuhkan Skill, Bukan Ijazah

Yogyakarta (Selangkah)-- Membaca, berdikusi dan menulis adalah sebuah spirit yang seharusnya dimiliki dan dijiwai oleh mahasiswa pada umumnya dan khusnya mahasiswa Papua yang belajar di Papua maupun yang belajar di luar Papua, seperti di Makasar, Jawa dan Bali dan sebagainnya.

Spirit ini telah mendorong sekelompok anak-anak Papua yang tergaung dalam komunitas Pendidikan Papua (KPP) di Yogyakarta untuk memrogramkan kegiatan diskusi rutin setiap hari selasa sore jam 15:30 WIB, di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Hampir setelah kurang lebih satu setengah bulan lebih sejak pertengahan Desember 2007 hingga bulan awal Februari 2008 mereka berlibur, karena sibuk merayakan natal dan tahun baru. Ada yang pulang kampung berliburan ke Papua, seperti Yemima Youw dan Maria Ijai pulang ke Nabire. Sedangkan yang lainnya sibuk dengan kegiatan natal dan urusannya masing-masing di Yogyakarta.

Lagi pula nampaknya kampus Sanata Dharma yang dikelolah Pastur-pastur Jesuit yang biasanya digunakan sebagai tempat mereka berdiskusi sedang libur dan baru mulai melakukan aktivitas belajar mengajar awal Februari. Sehingga tepatnya tanggal 12 Februaru 2007 mereka mulai berkumpul kembali, untuk mebahas agenda rencana kegiatan berikutnya.

Memang untuk membangun Papua tidak bisa dilakukan oleh satu dua orang saja, tetapi membutuhkan sekelompok orang yang lebih dari tiga. Pinjam kata-katanya Thom Chamara “Jika hanya satu orang saja yang bermimpi maka itu hanya sekedar mimpi, tetapi bila tiga orang lebih bermimpi bersama maka perubahan itu akan terjadi” Kurang lebih seperti itu. Tentu mereka yang bermimpi bersama harus memiliki harapan dan impian bagi perubahan ke masa depan yang lebih baik bagi masyarakat dan bangsanya.

Pertemuan kali ini, sangat disyukuri oleh seluruh angota KPP karena ada dua orang teman asli Papua turut hadir, yaitu Leni Songgonau (Universita Veteran) dan Eka Iyai mahasiswa Teknik sipil Atma Jaya, Yogyakarta. “Kita berharap ke depan komunitas ini lebih berkembang, menjadi fasilitator bagi teman-teman Papua yang ingin belajar bersama kita, siapapun dia, dari gunung ataupun pantai dan tidak harus dari kampus Sanata Dharma saja, tetapi juga mereka bisa saja dari kampus-kampus yang ada di Yogyakata ini,” ujar Longginus yang pada saat itu memimpin pertemuan mereka.

Ada pun beberapa agenda yang disepakati antara lain tetap melakukan kegiatan diskusi mingguan sebagimana sebelumnya. Minggu depan mereka akan berdiskusi soal tema damapak dari Trans Nabire-Paniai-Timika denga berpotret pada jalam Trans Yogya yang ternyata telah menuai pro dan kontra. Ide ini dikemukakan Eka Iyai, dan melalui pertimbangan bersama akhirnya disepakait rekan-rekannya.

Kemudian minggu berikutnya, akan dilakuna diskusi mengenai Rumah Adat Papua dalam tinjauah pendidikan, kesehatan, politik dan trasportasi, dilakukan pada hari dan waktu yang sama. Ide cukup menarik ini dikemukakan Yunus Yeimo salah satu mahasiswa Universitas Kriten Duta Wacana yang membidangi mengenai Arsitektur. Sebelum disepakati lebih dahulu Yunus meberikan gambaran mengapa pentingnya kita mendiskusikan soal ini.

Bersama berjalannya waktu, mereka juga menyepakati sebuah program bulanan yaitu tepat pada bulan April akan dia adakan rekoleksi. Kegiatan ini dirasa penting oleh mereka sebagai upaya untuk menguatkan kembali arah perjuagan mereka agar lebih konsiten sesuai jalur perjuagan mereka yaitu lebih pada upaya mengangkat martabat kaum marginal yang menjadi korban pembangunan, entah di mana saja mereka akan berkarya dan tentunya secara khusus ketika akan kembali ke Papua.

Sewaktu serba-serbi, pada dalam pembicaraan lepas seputar potret realita Papua, banyak hal yang telah mereka dibicarakan. Namun yang mendapat porsi yaitu mengenai situasi rencana penerimaan pegawai negeri di Paniai yang akan diadakan dua gelombong.

Gelombang pertama khusus bagi mereka yang memiliki ijazah sarjana yang menurut informasi telah mencapai ribuan orang. Gelombang kedua, akan dilakukan secara umum. Namun yang menarik diungkapkan Yunus Yeimo, mengulangi perkataan Bupati Paniai bahwa ”Paniai tidak butuh ijazah sarjana, melainkan membutuhkan skill orang yang mau bekerja.”

Kiranya ungkapan ini penting diperhatikan oleh mahasiswa yang belajar, agar pandai-pandai menggunakan waktu dalam mencari ilmu di luar kampus, karena tidak mudah untuk membangun Papua tanpa memiliki wawasan dan skill. Lagi pula kalau kembalike Papua di sana belum tersedia sarana-perasrana belajar untuk menambah skill yang memadai sepeti di Yogyakarta, Jawa, Bali dan Makassar. Jadi lebih tepatnya bisa dikatakan, bahw untuk membangun Papua ijazah saja tidak cukup tetapi keahlian yang kita miliki ini lebih mahal dari pada ijazah. [Long/selangkah]
BACA TRUZZ...- Papua Membutuhkan Skill, Bukan Ijazah

2000 Guru Terpencil Dapat Dana Insentif

Selasa, Februari 12, 2008

Jayapura (Cepos)--Untuk meningkatkan kinerja guru-guru di daerah pedalaman terpencil yang sulit dijangkau, pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua, mengalokasikan dana untuk tunjangan insensif kepada guru-guru terpencil di seluruh wilayah Papua.

Adanya kabar menggembirakan bagi guru terpencil tersebut diungkapkan Kepala Dinas P dan P Provinsi Papua, Drs James Modouw MM. Pemberian insensif ini katanya, bertujuan memberikan keseimbangan dan perhatian khusus kepada para guru yang mengabdi di daerah terpencil, sehingga dapat meningkatkan kinerja mereka.Modouw memaparkan, tunjangan tersebut diberikan kepada 2000 guru yaitu Rp 1.350.000,- setiap guru per bulan.

Alokasi dana ini bersumber dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN) 2007. Dan dana tunjungan tersebut sementara dibayarkan ke rekening masing-masing guru. Hanya saja pemberian tunjangan ini menuai pro dan kontra diantara guru-guru, dimana yang menerima tunjangan ini bukan hanya guru-guru yang bertugas di daerah terpencil akan tetapi sebagian guru yang ada di pinggiran kota juga menerimanya.

Dijelaskan, hal ini disebabkan karena pada waktu memasukkan data terdapat kesalahan, diantaranya kesalahan nomor rekening, kemudian kesalahan dalam memasukkan masa kerja, maksudnya antara SK pengangkatan dan penempatan tugas, dimana ada sebagian guru yang memasukkan masa kerja sejak diangkat menjadi guru akan tetapi yang berlaku adalah SK sejak ditugaskan di daerah terpencil.

Selain itu lanjut Modouw, faktor lain adalah data yang disampaikan dinas kabupaten/kota ke provinsi tidak akurat karena waktu untuk memasukkan data ini sangat terbatas.Mekanisme untuk pengalokasian dana ini jelas Kadis, yaitu data dikumpulkan oleh dinas kabupaten/kota kemudian dikirim ke provinsi dan selanjutnya dikirim ke pusat, dan setelah diproses oleh pusat, selanjutnya dari pusat yang langsung mengirim tunjangan tersebut langsung ke rekening para guru."Untuk itu saya menghimbau kepada guru-guru yang ada di kota atau dipinggiran kota yang tidak menerima tunjangan ini, hendaknya permasalahan ini jangan diperdebatkan karena tunjangan ini hanya untuk guru-guru yang bertugas di daerah terpencil,"tandasnya kepada Cenderawasih Pos di Swissbes Hotel, Senin (11/2), kemarin.

Menyoal intensif untuk daerah yang ada di kota atau pinggiran perkotaan, dikatakannya, mengenai pemberian intensif untuk sementara ini tidak ada, yang mana ini merupakan kebijakan dari pemerintah daerah dimana dia ditugaskan."Sekali lagi saya tegaskan bahwa yang berhak menerima tunjangan ini hanya guru-guru yang mengajar di daerah terpencil, jadi jangan lagi diperdebatkan, sehingga nantinya dapat mengganggu aktifitas belajar mengajar,"katanya.
Modouw menambahkan selain pemberian intensif bagi guru terpencil, 2008 ini pihaknya juga akan memberikan bantuan pendidikan kepada 1000 anak dari guru yang mengajar di daerah terpencil.(us)
----------------------------------------
BACA TRUZZ...- 2000 Guru Terpencil Dapat Dana Insentif

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut