Zacharias Petege, 38 Tahun Berjuang Membangun Manusia di Pedalaman Nabire

Jumat, November 14, 2008

Oleh: Yermias Degei*)

RAMBUT HITAM telah hilang dimakan usia. Sedikit rambut putih yang tersisa di kepalanya menandakan lelaki ini telah tua. Senyum tulusnya menggambarkan cinta dan kecintaannya pada manusia dan kemanusiaan (pendidikan). Langkah kakinya berayun begitu cepat. Dia berjalan sendirian. Tidak ada seorangpun bersamanya. Dia pergi ke sebelah gunung. Bapak Kandep Petegeibo! Begitulah masyarakat pedalaman kabupaten Nabire dan Paniai mengenalnya. Ialah Bapak Zacharias Petege (70 tahun).

”Saya bekerja dengan berjalan kaki. Bermalam 3 sampai 4 hari di perjalanan, itu sudah biasa. Hanya itulah yang bisa saya lakukan untuk membangun manusia dan kemanusiaan di pedalaman Papua selama 38 tahun,” kata Petegeibo kepada Selangkah. Bukan tantangan yang mudah bila Petegeibo mengabdikan dirinya di pedalaman Nabire provinsi Papua dalam berbagai jabatan (Guru SD, Kepala Sekolah, Pengawas TK/SD, Kepala Kantor Dinas Kecamatan dan Penilik PLS) selama 38 tahun di dunia pendidikan (pendidikan formal dan Pendidikan Luar Sekolah).

Bapak dari sembilan anak---dua telah meninggal dan tujuh orang masih hidup)---ini hingga kini masih bersemangat untuk membangun dan mendidik anak-anak dan para orang tua di 38 kampung di pedalaman kabupaten Nabire. Memang bukan tanpa alasan, bila Kandep Petegeibo dijuluki sebagai tokoh dan praktisi pendidikan formal dan nonformal di 38 kampung (desa) di pedalaman Nabire selama puluhan tahun.

Suami dari Rosina Tebay ini, telah meniti perjalanan karir selama lebih dari 38 tahun. Ia telah menjalani profesinya di dunia pendidikan formal dan nonformal (PLS). Kini, ia tinggal di distrik Mapia (sebuah distrik yang jauh dari kota Nabire). Kabupaten Nabire terletak pada bagian pantai utara tanah Papua di kawasan Teluk Cenderawasih. Kabupaten Nabire memunyai 12 distrik/kecamatan, yaitu Yaur, Uwapa, Mapia, Sukikai, Nabire, Wanggar, Napan, Kamu, Ikrar dan Siriwo, Makimi dan Teluk Umar, serta 156 kampung (kelurahan/desa)---pemerintah daerah kabupaten Nabire melakukan beberapa pemekaran distrik dan kampung sehingga jumlah distrik dan kampung kemungkinan bertambah lagi. Sebagian distrik berada jauh dari ibu kota kabupaten Nabire. Beberapa distrik (ibu kota distrik) dapat dijangkau dengan jalan darat sejauh 160-an KM, namun kampung-kampung terpencil hanya dapat dijangkau dengan pesawat terbang.

Kabupaten Nabire hanyalah satu dari 29 kabupaten dan kota (belum termasuk 5 kabupaten baru yang disahkan DPR RI pada 6 Desember 2007) yang ada di tanah Papua. Luas wilayah kabupaten Nabire mencapai 29.678 km2 dan berdasarkan data tahun 2005, tercatat jumlah penduduk di Kabupaten Nabire sebanyak 160. 882 jiwa. Penduduknya, banyak yang bertani kopi arabika, beternak babi, ayam, dan lainnya. Dari kedekatannya dengan masyarakat Kabupaten Nabire, Petegeibo melihat semburat tekad dan semangat belajar yang cukup kuat. Inilah yang juga mendorong Petegeibo berjibaku dalam pengabdiannya sebagai penilik di pedalaman Nabire. Wilayah pedalaman (daerah ia lahir dan menjadi besar) ini juga yang membentuk Zacharias menjadi pengabdi di jalur pendidikan nonformal (PLS).

”Saya Mau ke Sekolah Guru”

Bapak Zacharias Petege dilahirkan di kampung halamannya, Timepa distrik Mapia kabupaten Nabire pada tahun 1938. ”Saya tidak tahu tanggal dan tahun kelahiran yang pasti, karena orang tua saya tidak mengenal tanggalan. Saya masuk sekolah dasar (SD) kira-kira umur 6-7 tahun. Tanggal lahir di ijazah, dimasukan kira-kira saja. Jadi pada tahun 2008 ini saya sudah berumur 70 tahun,” kata Zacharias kepada Selangkah di sela-sela pelatihan keaksaraan fungsional dan PAUD untuk 80-an tutor gabungan (tutor pemberantasan buta huruf dan PAUD) di 6 distrik di daerah pedalaman kabupaten Nabire pada 18 Desember 2007 di Bomomani, Mapia.

Dia masuk SD (waktu itu SD hanya kelas II) di Mapia pada tahun 1956. ”Pada tahun 1956, Pater Smith, OFM membawa kami 16 orang ke Kokenau. Kami diantar oleh orang tua kami bersama pater Smith. Kami berjalan kaki selama 10 hari menuju ke Kokenau (pantai selatan Papua). Pada awalnya, kami ada 18 orang, tetapi dua orang telah melewati umur sekolah sehingga mereka tinggal di kampung,” kata Petegeibo berkisah.

Katanya, proses seleksi pada saat itu adalah dirinya bersama teman-temannya disuruh berdiri dan yang tinggi tidak lulus. ”Pada waktu itu, saya juga termasuk salah satunya yang tinggi. Namun, ketika pater mengukur badan saya, tiba-tiba badan saya manjadi pendek akhirnya saya boleh berangkat bersama teman-teman lain. Memang aneh tetapi itulah yang terjadi pada saat itu.”

Pada tahun 1957, dirinya dan teman-temannya (16 orang) masuk di asrama dan masuk kelas satu (bagi yang tahu membaca dan menulis) di SD Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPP) Kokenau. ”Ketika kami sampai di Kokenau kami seperti orang mono (tidak bisa bahasa Belanda dan tidak bidak bisa bahasa Kokenau). Kami baru bisa berbahasa Balanda (bahasa pengantar waktu itu) secara aktif ketika kelas IV SD,” katanya.

Mengenai kebutuhan hidup, dia bersama teman-teman tidak diberikan uang saku, tetapi pakaian dan alat tulis disediakan. ”Celana pendek, baju, dan celana tali masing-masing dua pasang dan tiap tiga hari ganti. Sebagai alat tulis, mereka disediakan batu tulis oleh para pastor dari asrama termasuk makanan dan minuman.

Bapak Zacharias menyelesaikan pendidikan SD pada tahun 1962. Setelah menyelesaikan pendidikan di SD YPPK Kokenau, Pater Smith, OFM menawarkan untuk pendidikan di negeri Belanda, namun dia menolak. Selanjutnya, pater menawarkan dirinya untuk belajar ke Australia di bidang Meteorologi dan Geofisika namun tawaran itupun ia tolak. Kemudian, pater menawarkan dirinya untuk belajar di Oksiba Jayapura (sekolah pemerintahan), namun tawaran ketiga pun ia tolak. ”Setelah saya menolak ketiga tawaran itu, pater bertanya, kau mau apa? Lalu saya menjawab, ’saya mau ke sekolah guru’. Saya menolak tiga tawaran itu karena keinginan saya sejak kecil adalah menjadi guru,” katanya.

Sesuai dengan keinginannya, pada tahun 1963 dirinya diberangkatkan ke Nabire untuk masuk di Sekolah Guru Bawahan (SGB) Nabire. Dia bersama 30 temannya tinggal di asrama. Pada saat itu, Zacharias ditunjuk sebagai ketua asrama. Pada tahun 1965 dia diberangkatkan ke Biak untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru Atas (SGA) di sana. ”Di sana kami tinggal di asrama dan saya ditunjuk lagi menjadi ketua asrama. Waktu itu saya memimpin 216 orang gabungan dari SGB dan SGA,” katanya.

Pada suatu hari di tahun 1965 Zacharias dan teman-temannya, dikagetkan dengan peristiwa penyerangan antara tentara Indonesia dan tentara OPM di Biak. ”Waktu itu kami pergi belajar ke hutan. Ketika kami berada di hutan, tiba-tiba ada bunyi tembakan dan kami lari menyembuyikan diri. Namun, ketahuan oleh tentara Indonesia dan kami dianggap tentara OPM dan mau dibunuh tetapi untung karena kebetulan saya kenal tentara Indonesia itu dan tidak sempat membunuh kami. Dia hanya pukul kami dan menasihati kami untuk pulang ke asrama,” tukas Zacharias membuka lembaran pengalamannya di Biak.

Pada tahun 1968, dia menyelesaikan pendidikannya di SGA Biak. Setelah selesai pendidikan dia ditugaskan di pedalaman, tepatnya di SD YPPK Diyoudimi. Di sana dia dipercayakan untuk memimpin sekolah tersebut (kepala sekolah). Belum sampai satu tahun mengabdi di sekolah itu, terjadi peristiwa Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA). Pada saat itu, semua sekolah di pedalaman diliburkan karena semua orang takut dengan TNI. “Waktu itu semua sekolah diliburkan tetapi sekolah saya tidak. Sekolah saya tetap buka dan banyak orang tua wali murid yang mengancam saya untuk sekolah diliburkan. Namun, saya bilang, apabila TNI datang membunuh, maka saya akan mati bersama anak-anak di sekolah. Saya bilang sama orang tua murid bahwa, kalau TNI datang saya lebih duluan akan menyerahkan diri untuk dibunuh,” paparnya menukik pengalaman menakutkan di masa lalu.

Tidak sia-sia memang, keberaniaannya untuk tetap menjalankan pendidikan dalam masa-masa tegang diapresiasi oleh keuskupan Jayapura dengan memberikan penghargaan. Sebagai salah satu bentuk penghargaan, keuskupan Jayapura menawarkan dirinya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Cenderawasih Jayapura pada jurusan pendidikan (ilmu pendidikan dan keguruan), namun Zacharias yang sering di sapa Kandep Petegeibo itu menolak tawaran tersebut. “Pendidikan saya sudah cukup. Saya mau mendidik. Nanti anak-anak saya yang akan kuliah di sana. Mereka kuliah di sana akan kembali menjadi guru di pedalaman menggantikan saya.

Pada tahun 1972, ketika ada kunjungan dari pengurus sekolah dasar (PSD) Timepa, dia memberikan laporan perkembangan sekolah. Ketika laporan yang dibuat Zacharias itu baik, maka pada tahun itu juga beliau dipindahkan ke SD YPPK Timepa. Ketika dia dipindahkan ke Timepa, Petegeibo menjabat beberapa jabatan sekaligus di sana, yaitu menjadi dewan paroki, kepala sekolah, guru kelas VI, pewarta (memimpin ibadah di gereja pengganti pastor), dan dia juga memberikan obat kepada masyarakat yang sakit (pengganti tenaga medis).

Bapak yang menikah pada tahun 1970 di Diyoudimi itu, terus bertahan di Timepa. Pada tahun 1979, ketika ada kunjungan dari Kakandebdikbud wilayah pedalaman, dia menyerahan laporan perkembangan pendidikan di sekolahnya secara khusus dan wilayahnya secara umum. Laporan tersebut menggugah hati Kakandebdikbud dan pada tahun 1985 dia diangkat menjadi penilik TK dan SD di kecamatan Mapia. Mapia (Bomomani) adalah salah satu kecamatan dari kabupaten Nabire yang terletak di pedalaman. Kampung atau desa-desa dari kecamatan itu terlatak jauh dari ibu kota distrik. Ada kampung yang harus menempuh perjalanan 2 atau tiga hari. Ada kampung yang hanya sehari saja dengan medan yang sungguh berat (mulai dari lumpur, naik turun gunung, batu kerikil dan lainnya).

Setelah dia diangkat menjadi penilik TK dan SD, dia pindah ke ibu kota kecamatan Mapia. Dia meninggalkan anak dan istri di Timepa (tempat tugas sebelumnya). Selama dia menjabat sebagai penilik TK dan SD (1985-1987) dia melakukan kunjungan kerja di seluruh SD yang berada di kecamatan Nabire. Dia berjalan kaki menempuh perjalanan kaki 2 sampai tiga hari dengan medan yang berat. Sebagai penilik, ia ingin melihat langsung perkembangan sekolah-sekolah yang berada di daerah terpencil sekaligus melakukan pertemuan dengan para guru di setiap sekolah yang ia kunjungi. Dia membicarakan banyak dengan para guru, mulai dari hakikat pendidikan, didaktik metodik, sampai pada hal-hal teknis pembuatan laporan, dan hal-hal lain yang menunjang pengembangan pendidikan di pedalaman dalam rangka pembangunan manusia pedalaman Papua.

Pada tahun 1987 dia diangkat menjadi Kakandebdikbud Agadide (Paniai bagian Timur). Setelah dia diangkat menjadi Kakandebdikbud, ia harus pergi ke tempat yang lebih jauh melewati beberapa distrik/kecataman dengan menempuh perjalanan kaki 3-4 hari. Dia menetap di Agadide tanpa anak istri (anak istri masih di kampung halamannnya, Timepa Mapia). Selanjutnya, setelah bertugas beberapa tahun di Agadide, dia dipindahkan ke distrik Kamuu (Moanemani) dengan jabatan yang sama untuk melayani dua distrik Kamuu dan Mapia.

Pada akhir 1999 dia diangkat menjadi penilik PLS (Penmas) untuk wilayah yang sama (Kamuu dan Mapia). Pada tahun 2003 beliau pensiun dari Penmas. Selanjutnya, pada tahun 2005 dia diangkat lagi menjadi pengawas TK/SD di wilayah Kamuu dan Mapia. Akhirnya, pada tahun 2007 bapak Zacharias pensiun dari jabatan pengawas TK/SD karena sudah mencapai batas usia pensiun.

Dari Kampung ke Kampung
Zacharias menceritakan, ketika ia bertugas di daerah Agadide dan menangani PLS, masyarakat memandang dirinya di atas segalanya. ”Ketika saya bertugas di Agadide, saya membentuk kelompok usaha usaha ternak, warung (kios). Kondisi ekonomi masyarakat lemah, maka saya bagikan uang masing-masing kelompok ada yang Rp2.00.000,00 dan ada juga yang Rp500.000,00. Usaha ini cukup berkembang cepat. Sebelum sampai 1 tahun ada yang sudah berkembang sampai Rp2.000.000,00. Berkembang sangat cepat dan pada saat itu masyarakat memandang saya lebih dari segalanya,” katanya membuka kembali kisah kesuksesannya.

”Pada waktu itu, di mata-mata jalan masyarakat menjaga jangan sampai saya pindah. Kalau saya pindah, mereka mau ikat saya. Mereka bilang, Bapak harus mati bersama kami dini, karena Bapak telah membangun kami di sini,” katanya menjelaskan reaksi masyarakat ketika ia bertugas di sana.

Wajar memang masyarakat menganggap dirinya, orang yang mampu membawa perubahan dan tidak rela pindah ke tempat lain. Selain kerena pembangunan PLS juga karena pembelaannya terhadap masyarakat atas tindakan kebrutalan TNI di daerah itu.

”Pada saat itu, daerah Agadide, Komopa dianggap sebagai daerah gawat OPM. Jadi, semua tanaman dan ternak dihabisi oleh TNI. Masyarakatnya dipukuli sampai babak belur. Suatu ketika saya pergi kepada Danramil dan saya marah-marah di sana. ’Kenapa Bapak punya anggota memukul masyarakat? Kenapa Bapak punya anggota menyita barang-barang milik rakyat? Padahal saya dan bapak ditugaskan di sini karena ada masyarakat’. Saya juga pernah menegur Kapolsek, karena dia diam saja atas tindakan militer itu,” ungkitnya.

Pembangunan PLS di daerah itu sungguh berhasil. Setelah kelompok-kelompok usaha itu berhasil, Zacharias membangun pasar rakyat. Masyarakat memasarkan ternak, sayuran, dan lainnya yang mereka kelola dalam kelompok yang telah dibentuknya. Pembangunan pasar itu seakan memutuskan mata rantai ketertinggalan ekonomi, sehingga dari hasil itu mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke luar daerah (ke Jayapura, Nabire, bahkan di Jawa). Akhirnya sebagai penghargaan kepada Zacharias Petege yang menjabat sebagai Kandep, pasar itu diberi nama ”Pasar Kandep”. Hingga saat ini, di daerah itu ada tujuh buah koperasi unit desa (KUD) besar.

Kembali ke distrik Mapia. Ketika kembali dan menjadi penilik PLS di kecamatan/distrik Mapia, Zacharias harus berkunjung ke lebih dari 20 tempat setiap bulannya. Di antaranya, 15 tempat penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Fungsional (KF), 6 tempat Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C, 4 Taman Bacaan Masyarakat, dan 4 tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di distrik Mapia. Ia harus menempuh medan yang lumayan berat. Jarak antar kampung tak tangung-tanggung. Tak jarang Zacharias harus berjalan kaki selama 3 sampai 4 hari. Ia pun terpaksa menginap di rumah-rumah penduduk yang jalurnya ia lewati. Jika senja mulai turun, udara di sana menjadi lebih dingin. Suasana menjadi sangat gelap, karena kebanyakan penduduk di distrik Mapia, masih menggunakan lilin sebagai alat penerangannya. Jaringan listrik dan telepon memang belum menjangkau daerahnya. Sebuah kondisi yang luar biasa berat ini, dijalani dengan penuh semangat.

Motivasi yang ia tebarkan ke beberapa tempat kegiatan pendidikan nonformal di wilayahnya, telah membuahkan hasil. Sebanyak 1.581 orang lulusan dari pendidikan nonformal di pendidikan KF, paket A, B, dan C, juga kursus ketrampilan wanita telah mendapatkan ijazahnya. Terakhir, di distrik Mapia juga telah didirikan sebuah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kobouge pada tahun 2003 lalu.

Pendidikan Non Formal yang dikembangkannya adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Paket A (Setara SD), Paket B (Setara SMP), Paket C (Setara SMA), Buta Huruf dan Ketrampilan Wanita. Untuk tahun 2007, dari 190 peserta ujian setara SMP lulus 149 orang sedangkan dari 90 peserta ujian setara SMA lulus 72 orang.

Hingga kini, siswa didik buta huruf sebanyak 757 orang, setara SD 1286 orang, masih ditambah siswa didik untuk ketrampilan wanita yang meliputi ketrampilan jahit-menjahit, memasak, gizi, mengasuh anak. Agar proses belajar dapat berlangsung dengan baik, para siswa didik diasuh oleh 26 orang tutor untuk pendidikan kesetaraan dan 32 orang tutor untuk pendidikan buta huruf, sedangkan untuk Ketrampilan Wanita dipimpin oleh ibu Margareth Degei. Kesemua tutor diambil dari guru SD, SMP, dan SMA yang pada pagi hari mengajar di sekolah formal sementara sore hari mengajar di PKBM.

Selama 6 tahun menjadi tenaga penilik pendidikan masyarakat, hanya 3 tahun belakangan ia memperoleh honor. Honornya yang sejumlah Rp1juta, diperolehnya per 6 bulan. Walau sejak tahun 1993 ia tak mendapatkan kenaikan pangkat dan golongan, ia juga tetap banyak bersabar. Pria berpangkat IIIc ini tetap menjalani tugasnya dengan hatinya yang ikhlas. “Mungkin karena saya cuma tamatan SPG, yang setara SMA, maka kenaikan pangkat saya juga tak banyak dipedulikan,” ujarnya prihatin.

Bertemu Dirjen PMPTK
Pada akhir jabatannya sebagai pengawas, Petegeibo mengikuti pelatihan pengawas di Salatiga pada tahun 2007. Pada saat itu, dia menyempatkan diri menemui Bapak Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Fasli Jalal di ruang kerjanya Depertemen Pendidikan Nasional Jakarta. Pertemuannya dengan Fasli Jalal untuk menyampaikan segala program dan kegiatan yang telah dilakukkannya di kampung serta memperluas wawasan mengenai perkembangan dunia pendidikan saat ini. “Waktu itu, saya seperti akan bertemu dengan Tuhan” kata Petegibo kepada Selangkah berkisah. ”Saya katakan langsung kepada Bapak Dirjen, saya seperti akan bertemu dengan Tuhan.

Petegibo mulai membuka bundalan-bundalan catatan lusuh yang menyimpan segala data dan informasi atas hasil kerjanya di hadapan Bapak Dirjen PMPTK, Fasli Jalal. Bapak Fasli Jalal, Dirjen PMPTK mengatakan bahwa begitu hebatnya Bapak Zakharias hingga mampu mengelola sekolah dan PKBM di 38 kampung selama lebih dari 20 tahun. Seharusnya pemerintah mampu menemukan dan memberikan penghargaan pada orang-orang yang memiliki pengabdian dan pengorbanan seperti Bapak Zacharias sehingga dapat menjadi contoh bagi rekan tenaga kependidikan yang lainnya di pedalaman Papua.

Saya Kecewa...
Petegeibo mengatakan, dirinya kecewa dengan oknum guru dari pedalaman yang tidak mengerti tugasnya dan sering tinggalkan tugas. ”Saya kecewa dengan oknum guru dari pedalaman yang sering tidak memahami tugasnya sebagai guru yang harus mendampingi anak-anak pedalaman. Kadang-kadang mereka tinggalkan tugas (anak-anak) dan berbulan-bulan di kota. Mereka naik ke pedalaman ketika ujian atau ulangan. Mereka itu akan merugikan anak dan masa depan orang Papua. Jadi, itukan kita membunuh masa depan,” katanya kecewa.

Dia juga menyoroti bahwa kerap kali para guru membantu siswa pada ulangan atau justru ujian. Padahal, katanya, siswa harus dibantu dalam proses belajar. Siswa belajar itu bukan untuk nilai. ”Kalau kita tidak mendampingi anak-anak dalam proses belajar dan hanya membantu mereka pada ujian atau ulangan itu sama saja kita membunuh. Kalau kita tidak mengajar dengan baik, mereka pasti tidak pandai dan pada ujian mereka tidak lulus. Kalau tidak lulus ya biarkan mereka mengulang. Mereka tambah pengetahuan. Bukan harus diluluskan tanpa melihat kemampuan dia,” kata Petegeibo.

Dia juga menyoroti pembukaan sekolah-sekolah baru di pedalaman. “Membuka sekolah baru, baik SMA, SMP, dan SD itu baik. Sebab, sekolah itu tempat mendidik anak supaya menjadi manusia. Tetapi, kalau tidak diimbangi dengan tenaga guru, maka sekolah itu hanya gedung. Tidak ada orang yang mendampingi anak-anak kita. Lagi pula, guru-guru yang ada pun sering ke kota sampai berbulan-bulan tanpa urusan yang jelas. Kalau keadaannya begitu untuk apa kita membuka sekolah.

Dia mengatakan, membangun sumber daya manusia itu bukan sekedar membangun gedung sekolah. Katanya, gedung itu hanya sarana untuk membangun manusia. Kita dapat memanusiakan manusia melalui proses pendidikan dan pendanpingan yang benar, baik di keluarga maupun di sekolah. Guru pertama adalah orang tua. Orang tua juga harus ikut bertanggung jawab terhadap anak mereka di rumah. Guru juga harus memahami dengan benar hakikat pendidikan dan tugasnya.

Saya Merasa Bahagia
Bapak Petegeibo mengatakan, dirinya merasa bahagia dan senang karena dengan setia mengabdi dan membangun pendidikan formal dan nonformal di pedalaman Nabire Papua. ”Saya bangga dan senang. Saya telah berbakti untuk manusia karena itulah pilihan saya dan memang karena Tuhan mengutus saya menjadi pendidik. ”Saya telah berbakti selama 16 tahun menjadi kepala SD, 2 tahun penilik TK/AD, 12 tahun Kakancam/Kakandep, 6 tahun penilik PLS, dan 2 tahun pengawas TK/SD,” katanya.

Petegeibo juga mengatakan, kesetiannya di bidang pendidikan dapat membuahkan hasil pada anak-anaknya. ”Saya setia pada pembangunan manusia (pendidikan), maka anak-anak saya dapat sekolah dengan baik. Dua orang telah menjadi master, empat orang telah menjadi sarjana dan satu orang baru mahasiswa di Jawa. Saya puas melihat anak-anak saya. Itu terjadi karena saya benar-benar-benar mencintai pendidikan. Tuhan tahu, kalau kita setia, maka itu doa saya,” kata Petegeibo.

Petegeibo telah membaktikan hidupnya pada manusia dan kemanusiaan di pedalaman Nabire Papua selama 38 tahun. Kini ia telah menggunakan alat bantu dengar. Juga dia telah pensiun, namun hingga sekarang masih gesit menjalani tugasnya di Distrik Mapia, Nabire. Pedalaman Papua, tempat yang membutuhkan banyak orang setegar dan seteguh Zacharias Petege.

*) Sekretaris Komunitas Pendidikan Papua



3 komentar:

okto mengatakan...

Harus ada orang yang mau mengabdi seperti adama dia. Kalau tidak, SDM di PAPUA ini sampai kapanpun tidak akan maju.

Majunya pendidikan di Papua, bukan tergantung dari majunya pola pikir dari masyarakat PAPUA yang ada di perkotaa.

Tetapi bisa di katakan maju, ketiak saudara2 kita yang di kampung2 bisa kenal apa yang namaya baca, tulis, dan hitung. Itu kemajuan SDM yang sesungguhnya.

Tuhan Memberkati Bapak, semua jerih payah bapak akan TUHAN perhitungkan sampai kapanpun.

Anonim mengatakan...

Mantap!

ONGGOK mengatakan...

Khusus pribadiku....saya sangat salut dengan seorang bapak yang mana selalu memberikan ilmu dan motivasi terhadap anak - anak papua agar kesiapan SDM semakin berkembang dan maju dalam era - global ini.....DOA DARIKU UNTUK BAPAK........SUKSES SELALU........?????

Posting Komentar

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut