Pdt. Yance Nawipa, M.Th:Papua di Ambang Kehancuran

Selasa, Mei 27, 2008

NABIRE (Selangkah) - Saat ini berbagai fenomena yang terjadi di Papau sangatlah memperihatinkan. Penduduk miskin dari tahun ke tahun semakin meningkat, angka penggaguran semakin melambung tinggi, serta korupsi kian hari kian merajalela. Melihat hal ini bisa disimpulkan bahwa di Papua ini sedang terjadi kebobrokan moral dan kekerasan batin sehingga membuat semua orang Papua buta rohani yang menyebabkan semuanya berjalan dalam kegelapan yang ujung-ujungnya membawah Papua pada ambang kehancuran.

Hal ini disampaikan Pdt. Yance Nawipa, M.Th senin (26/05) di kediamannya di Karang Mulia beberapa saat lalu ketika ditemui media ini.

Lebih lanjut diungkapkannya, “saat ini orang-orang di Papua bekerja dengan tidak memperhatikan baik buruknya. Apapun yang mereka anggap dapat mendatangkan keuntungan bagi mereka semuanya disapu bersih tanpa menimbang-nimbang apa yang akan terjadi nanti dimasa yang akan datang. Mereka juga bahkan tidak peduli dosa atau tidak dosa, halal atau tidak halal yang penting mereka puas dan bisa hidup. Padahal sebagai umat beragama seharusnya menyadari dan bisa memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk,” tandasnya.

Ketika disinggung tentang visi dan misi yang dibutuhkan unutk membangun Papua kedepan, bapak yang membapai satu orang anak pria dan dua wanita ini menandaskan “kita jangan mengharapakan visi, misi yang sebagus-bagusnya serta strategi yang sematang-matangya, melainkan kita lihat fakta social yang terjadi di lapangan saat-saat ini. Bagaimana para pemimpin yang menerapkan visi, misi serta strategi pembangunan itu saja telah buta, bahkan telah mati rohaninya sehingga tidak melihat kenyataan yang dihadapi masyarakat saat ini. Bagaimana para bawahannya mau mengikuti dan menerapkan semua visi, misi serta program itu.

Siapapun mengakui secara terang-terangan kalau Papua adalah lumbung kekayaan atau dapur bangsa Indonesia, karena melimpah ruahnya berbagai kekayaan alam. Tetapi yang memalukan dan memperihatinkan adalah orang Papua mati diatas kekayaannya sendiri. Bagaikan tikus mati diatas lumbung padi, hal ini tidak bisa di sangkal lagi memang kenyataan kok. Kenapa hal ini bisa terjadi? Dengan tegas saya akan menjawab karena para pemimpin tidak berjalan di dalam kebenaran firman Tuhan. Bukan mereka tidak tahu kebenaran firman Tuhan, melainkan pura-pura lupa,”tandas secara tegas.

Selain itu, yang terjadi di Papua saat ini berbagai kekerasan batin. Baik kekerasan yang terjadi di rumah tangga, badan lembaga sampai pada tingkat yang lebih tinggi yaitu pemerintahan. Saya ambil contoh di rumah anak selalu ditindas oleh ibunya, ibu selalu ditindas oleh suaminya, kemudian sumaninya ditindas oleh bosnya di kantor. Jadi semua serba keras sehingga menciptakan suasana batin yang selalu dan selalu keras. Apa jadinya nanti.

Kemudian pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu pemerintahan. kepala lurah ditindas oleh camat, seorang camat ditindas oleh bupati, bupati akhirnya ditindas juga oleh gubernur. Sehingga semuanya tidak menciptkan suasana yang tenteram dan damai sehingga yang ada dipikiran hanyalah kekerasann dan kekerasan melulu, apakah Papua mau dibawah dengan kekerasan,“ungkapnya.

Kemudian lebih lanjut rector Walter Pos ini menambahkan, bahwa perekonomian di Papua pun telah kena dampak daripada kekerasan. Dengan kekerasan itu rakyat semakin mederita dan semakin terhimpit. Contoh paling nyata bisa kita lihat pada masyarakat asli Papua yang kalau berjualan selalu gang-gang serta lorong-lorong yang baunya sangat menyengat hidung. Padahal ditanah kelahiran mereka sendiri. Sehingga seluruh perekonomian di monopoli oleh orang-orang yang bukan asli Papua maka tidak mungkin kalau sifat pesismis akan tumbuh berkembang dalam kehidupan mereka.

Selain contoh diatas, contoh paling nnyata juga kita bisa lihat dari kegemaran masyarakat Papua unutk berburu dan berternak, misalnya berternak babi. Para pemerintah sudah mengetahui kalau masyarakat terutama orang gunung suka berternak babi, tetapi mereka tidak pernah menyiapkan tempat dan area untuk berternak babi. Dengan cara seperti ini tentunya menambah keresahan masyarakat terhadap pemerintah yang ada, ketika mereka resah, apakah mau dipaksakan untuk tetap patuh dan taat kepada pemerintah, “terangnya.

“Saya saat ini bingung mana pengusaha dan mana penguasa” tandasnya. Saya yakin bukan saya saja tetapi semua orang berpikir demikina. Lebih lanjut dikatakannya saat ini di Papua banyak penguasa menyamar menjadi pengusaha. Sehingga berbagai proyek pemerintahan yang ada langsung ditangani oleh penguasa. Padahal kalau mau dibilang penguasa sama sekali tidak mempunyai wewenang dan hak unutk menangani berbagai proyek. Karena semua itu tugas daripada pengusaha, ”imbunya.

Otonomi khusus yang dicanangkan tujuh tahun lalu bukanlah jalan keluar untuk membangun dan menjawab kerinduan rakyat Papua. karena kenyataannya tujuh tahun otonomi khusus diberikan malah menambah keresahan masyarakat Papua. sehingga yang terpenting disini adalah bagaimana para pejabat pemerintahan yang ada menyadari kalau rakyat butuh uluran tangan secara praktek bukan berteori.

Rakyat juga menyadari dana otsus yang diberikan bukan sedikit jumlahnya. Mereka tahu semua itu, tetapi mereka tetap menutup mulut. Satu yang mereka harapkan dengan dana otusus itu adalah bagaiaman memanajemen dana itu, sehingga manfaatnya bisa dirasakan semua insane yang ada di bumi Papua, agar hanya nama Tuhan saja ditinggikan ditanah perjanjian ini,”tegasnya sambil mengakhiri obrolan singkat itu pada sore hari yang mendung itu. [Oktovuanus Pogau, Siswa SMA Anak Panah Nabire Papua]

1 komentar:

trah mengatakan...

bagaimana mau maju, lha wong masyarakatnya bisanya cuma mabuk bobo terus, judi, mencuri, makan pinang dan bermalas-malasan gak mau kerja, Marilah kita intropeksi diri sebelum ngomong mas. (buktinya: lihat dipasar karang tumaritis), orang dani boleh, mereka mau kerja tanam coklat dilagari hingga bisa beli tanah di daerah sanoba

Posting Komentar

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut