Negara Dengan Kualitas Pendidikan Terbaik di Dunia

Kamis, Februari 04, 2010

Teman-teman semua, berikut ini adalah artikel yang sangat bagus yang ditulis oleh sahabat saya Bapak Satria Dharma, salah satu tokoh pendidikan nasional. Semoga bermanfaat.

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Finlandia. Negara dengan ibukota Helsinki (tempat ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) ini memang begitu luar biasa. Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).

Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment) mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.

Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia?

Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya. Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes.

Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

Apa gerangan kuncinya?

Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau kedokteran!

Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.

Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!. Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.

Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.

Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.

---------------------
Sumber:http://www.adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=248
BACA TRUZZ...- Negara Dengan Kualitas Pendidikan Terbaik di Dunia

Wakil Menteri Pendidikan: Fasli Jalal, Si Dokter Cerdas

Rabu, Januari 06, 2010

Sebagai dokter, Fasli tak melepas kariernya di bidang pendidikan.

Fasli Jalal ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Wakil Menteri Pendidikan. Pria yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi sejak akhir November 2007 itu akan dilantik pukul 14.00, Rabu, 6 Januari 2010.

Lahir di Padang Panjang, 1 September 1953, semenjak muda Fasli tumbuh sebagai sosok yang cerdas dan berprestasi. Ia menjadi mahasiswa teladan Universitas Andalas pada 1977 dan lulusan terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada 1982.

Selepas lulus dari perguruan tinggi, Fasli menekuni profesinya sebagai dokter di sejumlah tempat di Sumatera Barat. Namun, Fasli tak melepas kariernya di bidang pendidikan. Sejak 1982, Fasli menjadi pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pada 1987, saat menempuh pendidikan doktoral di Universitas Cornell, Ithaca, New York, ia juga menjadi staf dosen dalam bidang gizi.

Sepulang dari Amerika, kariernya mulai menanjak dengan jabatan Kepala Bagian Gizi pada Biro Kesehatan dan Gizi, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 1991. Selama sembilan tahun, Fasli berkarier di Bappenas.

Kariernya di Departemen Pendidikan dimulai pada pertengahan tahun 2000. Kala itu, Fasli membuat lompatan sebagai Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Sumber Daya Pendidikan. Setahun kemudian, ia diangkat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda. Dan sebelum mengemban jabatan sebagai Dirjen Dikti, ia menjadi Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan periode Mei 2005 hingga Oktober 2007.

Sepanjang kariernya, Fasli juga kerap mewakili Indonesia sebagai pembicara di forum-forum internasional yang berhubungan dengan pendidikan. Di sela tugasnya, ia juga menulis makalah ilmiah yang disajikan di forum nasional dan internasional. Ia juga menjadi penulis dan editor dari beberapa buku, majalah ilmiah dan majalah ilmiah populer.

Sementara dari hasil pernikahannya dengan Dr Gusnawirta Taib, S.Pd., M.Pd., Fasli dikaruniai tiga anak yaitu Fitra Ifana (mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia), Anisa Ifana (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia), dan Wahyu Figura (Mahasiswa ITB).

Mulai pukul 14.00 siang nanti, Fasli akan resmi menjabat sebagai wakil menteri pendidikan. Selanjutnya, dokter cerdas itu akan memulai tugas baru mendampingi Menteri Pendidikan M Nuh.
Sumber: http://politik.vivanews.com/news/read/118900-fasli_jalal__si_dokter_cerdas


BACA TRUZZ...- Wakil Menteri Pendidikan: Fasli Jalal, Si Dokter Cerdas

Yang Menjanjikan di Tahun 2010 : Beasiswa Kuliah sampai Lulus, judul Untuk 20 Ribu Orang

Kabar gembira untuk siswa-siswi SMA sederajat yang lulus di 2010 ini. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menjanjikan beasiswa bernama BIDIK MISI bagi 20 ribu siswa di Indonesia yang berprestasi dan dari keluarga kurang mampu. Bentuknya jaminan biaya kuliah hingga tuntas, baik pada Diploma III, Diploma IV, ataupun jenjang Strata I. Bahkan biaya hidup per bulan pun turut dijamin.

Lebih menggembirakan lagi, siswa calon penerima bisa memilih maksimal dua program studi baik dalam satu perguruan tinggi atau di dua kampus yang berbeda. Sebanyak 104 perguruan tinggi negeri di Indonesia, baik yang bernaung di Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama, telah terikat kerjasama sebagai penyelenggara beasiswa ini dan hampir semua program studinya boleh dipilih.

Terkait besaran beasiswa, dalam panduan yang dirilis Dirjen Dikti disebutkan besarnya mencapai Rp 5 juta per semester. Rinciannya; untuk biaya hidup ditetapkan dalam kisaran Rp 500 ribu sampai Rp Rp 700 ribu per bulan; sedang biaya pendidikan yang diterima oleh kampus penyelenggara dihitung dari setiap penerima berada dikisaran Rp 800 ribu – Rp 2 juta per semester.

Hampir semua kalangan kampus mengapresiasi program ini. Dr H Agus Maimun MPd, Pembantu Rektor III Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menilai program ini sebagai kebijakan yang revolusiner. Untuk kali pertama pemerintah memberikan jaminan biaya pendidikan sekaligus biaya hidup secara penuh bagi lulusan SMA untuk bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi.

“Dibilang revolusioner sebab beasiswa ini akan menepis anggapan bahwa untuk kuliah itu biayanya mahal. Istilahnya, anak sekolah sekarang belajar saja yang baik dan giat agar bisa berprestasi, urusan biaya untuk kuliah, negara sudah menanggung,” tegas Agus Maimun.

Pandangan serupa diungkap Prof Dr Ir Bambang Suharto MS, Pembantu Rektor I Universitas Brawijaya yang menilai beasiswa ini memiliki semangat memutus rantai kemiskinan. Dengan adanya jaminan dan kesempatan yang sama untuk kuliah, diharapkan ke depan ada perbaikan kualitas kehidupan bagi si anak sekali yang selanjutnya bisa mengangkat perekonomian keluarga.

“Bila kemiskinan lahir dari kebodohan maka beasiswa ini mencoba untuk memutus akarnya, yaitu kebodohan. Dengan kesempatan yang sama untuk bisa kuliah amat diharapkan ada kesempatan yang sama juga dalam memperbaiki kualitas hidup,” tegas Bambang Suharto.

Sayang sedikit, program beasiswa yang revolusioner dan lahir atas semangat mulia ini menyimpan kesan amat diskriminatif. Pasalnya tidak satupun perguruan tinggi swasta yang dilibatkan sebagai kampus penyelenggaran. Oleh praktisi pendidikan IKIP Budi Utomo Malang, Muhammad Yahmin MPd, ini menegaskan betapa pemerintah semakin tidak mengakui keberadaan PTS.

”Dalam UU BHP jelas disebut bahwa selain ada bentuk BHP Pemerintah, juga ada BHP Daerah dan BHP Masyarakat (dalam hal ini swasta –red). Adanya kebijakan yang tidak mengakomodir ketiga bentuk BHP ini tentunya sudah melanggar legal formal. Kenapa tidak sekalian saja diubah UU nya.” tegas Yahmin.
---------------
Sumber: http://www.koranpendidikan.com

BACA TRUZZ...- Yang Menjanjikan di Tahun 2010 : Beasiswa Kuliah sampai Lulus, judul Untuk 20 Ribu Orang

Dari Pertemuan LPP: Kita Semakin Menjadi Manusia dengan Memanusiakan Orang Lain

Senin, Desember 07, 2009

Nabire, Selangkah—Komunitas Pendidikan Papua (KPP) berawal dari kegelisahan beberapa mahasiswa asal Papua di Yogyakarta atas masalah pendidikan di tanah Papua. Kemudian, direncakan untuk membuat sebuah buletin kecil bernama Selangkah sebagai tempat curhat kegelisahan itu di Asrama Realino Yogyakarta (asrama milik Jesuit). Buletin itu terbit hanya delapan halaman hitam-putih dan digandakan kurang dari 50 buah dengan cara foto kopi. Isinya adalah pengalaman kuliah dan kegelisahan kami. Jadi, majalah Selangkah lahir lebih dahulu baru kemudian KPP sebagai wadah.

Demikian dikatakan ketua KPP (sekarang LPP:red) pada kata sambutannya dalam kegiatan “Evaluasi, Penguatan, dan Perumusan Program Kerja Lembaga Pendidikan Non-Formal dan Pergantian nama dan status Komunitas Pendidikan Papua menjadi Lembaga Pendidikan Papua, Education of Papuans Spirit (LPP-edPapaS) di ruang pertemuan Yayasan Bina Mandiri Utama (Yabimu) Nabire, Sabtu (28/11).


Dia mengatakan, kami mengamati bahwa sampai saat ini banyak orang Papua kurang mendapatkan perhatian dan kurang beruntung untuk mendapatkan pendidikan, keterampilan yang memadai, dan kebebesan ekspresi dan pengembangan budaya secara alami sehingga harga diri dan sumber daya manusia orang Papua asli di tanah Papua kurang terkembangkan. Akibatnya kualitas hidup orang Papua dari sisi ekonomi dan kesehatan lebih banyak masih terpuruk. Maka, arah kita ke depan adalah secara serius mengkaji tentang pendidikan dan kebudayaan di tanah Papua.

Dalam pertemuan itu, selain evaluasi program yang telah dilakukan termasuk penerbitan majalah Selangkah juga dibicarakan berbagai program kerja jangka panjang dan jangka pendek. Juga membicarakan dan mempertajam visi dan misi lembaga itu. Beberapa program jangka pendek insidental yang akan dilakukan tahun 2010 atas kerja sama berbagai pihak misalnya adalah kampanye-kampanye budaya membaca dan menulis; sekolah menulis, mencari sumbangan buku ke berbagai pihak (untuk perpustakaan); pendidikan dan pendampingan 43 ibu janda di Nabire; kampanye “Kitorang BISA! BANGKIT melawan ke(pe)miskinan! MEMBANGUN kehidupan yang lebih baik!; lomba menulis cerita rakyat dua bahasa (Indonesia-daerah); dan masih banyak program lain. Program-program jangka panjang ikut dibicarakan dalam pertemuan ini.

Dalam catatannya, salah satu staf ahli peneliti, Johannes Supriyono mengatakan, kesadaran kita yang mendalam akan cita-cita kita untuk membangun manusia Papua, jika kita terangi dengan terang iman kita, niscaya membantu kita untuk mengerti dengan batin kita bahwa inilah panggilan kita sebagai manusia: kita menjadi lebih manusiawi dengan memanusiakan orang lain. Inilah salah satu cara kita untuk memuji dan memuliakan Allah, Sang Pencipta kita.

Dalam keyakinan yang dalam, sebuah lembaga yang didasarkan pada panggilan yang hakiki, menyatukan dirinya dengan yang Abadi, niscaya akan senantiasa dihidupi oleh yang ilahi pula. Sebaliknya, jika lembaga ini kita percayakan pada kekuatan manusia belaka, yang dengan jujur kita akui sebagai makhluk yang rapuh, pun akan rapuh dan tidak bertahan. Lembaga yang berjuang sekadar untuk ‘kehendak’ manusia pun akan lemah. Lembaga Pendidikan Papua hendaknya menjadi sarana yang efektif untuk mewujudkan Kerajaan Allah di Papua. Kita dipanggil untuk terlibat di dalamnya, untuk bekerja bersama-sama menghadirkan keadilan, kemerdekaan anak-anak Allah, damai, dan cinta kasih, dan kelestarian hidup secara utuh. [yer]


BACA TRUZZ...- Dari Pertemuan LPP: Kita Semakin Menjadi Manusia dengan Memanusiakan Orang Lain

15 Tahun Yayasan PESAT Nabire: “Mereka Anak-anak yang Terpilih”

Kamis, Desember 03, 2009

Dengan pendidikan berpola asrama, PESAT Nabire telah hadir di Papua selama 15 Tahun. Ada yang luar biasa dengan pelayanan mereka, di mana mendidik anak-anak asli Papua sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Bagi mereka, mendidik karakter seorang anak lebih penting daripada hanya kepintaran dan kecerdasan saja.

Pendidikan berpola asrama merupakan salah satu cara jitu yang dapat digunakan untuk membangun Pendidikan di tanah Papua, lebih khusus meningkatkan sumber daya manusianya. Namum, tidak banyak juga yang menyadari hal ini sehingga terkesan mengabaikan pendidikan pola asrama untuk anak-anak Papua yang membutuhkan pendidikan.

UU No. 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus sudah hampir 8 tahun hadir di Papua, namun tidak ada prestasi gemilang yang bisa Otsus torehkan untuk perubahan anak-anak Papua, khususnya di bidang pendidikan. Lihat saja, hasil Study Univerisitas Indonesia yang dipaparkan beberapa waktu lalu di Jakarta menempatkan provinsi Papua sebagai daerah buta huruf paling tinggi di Indonesia. Seharusnya tidak demikian, kenapa proposional dana Otsus untuk pendidikan yang milyaran rupiah belum bisa menjawab hal ini.

Hingga saat ini di Papua, hanya ada satu Yayasan yang mengembangkan pola pendidikan berasrama, yaitu Yayasan PESAT, mereka berdomisil di Kabupaten Nabire. Dan telah hadir di Papua hampir 12 Tahun lamanya. Sistem pendidikan berpola asrama yang mereka kembangkan, adalah dengan cara ber-asrama-kan anak-anak asli Papua dari TK-SMA, dan memiliki sekolah khusus yang tidak bisa dicampur baurkan dengan mereka yang ada di luar asrama.

Komentar Pelayanan Mereka
Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH telah banyak bercerita tentang kinerja luar biasa yang Yayasan ini tunjukan selama hadir di Papua, lebih khusus telah dipaparkan panjang lebar dalam bukunya “Kami yang Menanam, Kami yang Menyiram dan Tuhanlah yang Menumbuhkan”.

“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, karena Yayasan PESAT hadir di Papua dan telah mendidik dan mengajari sekian banyak anak-anak Papua, khususnya mereka yang datang dari pedalaman untuk menjadi manusia. Mewakili pemerintah daerah, saya mengucapkan banyak terima kasih untuk Yayasan Pesat,’ ucap Pak Bas saat melaksanakan kunjungan di Yayasan ini beberapa waktu lalu.

Yayasan PESAT berdiri bermula dari kerinduan besar seorang hamba Tuhan, Pdt Daniel Alexander namanya. Beliau sangat berkeinginan melihat anak-anak Papua yang pintar, cerdas, terampil, kreatif serta berkarakter kristus. Baginya mereka sudah pasti bisa membangun Papua setelah keluar dari arena pendidikan dasar (TK-SMA) ini. Dasar yang kuat, sudah tentu mengarahkan anak ini untuk memilih dan menentukan araha hidup yang lebih baik lagi.

“Saya yakin, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin Papua yang hebat dan luar biasa. Mereka imamat yang rajani, anak-anak yang terpilih untuk membangun dan mengubah Papua. Nanti kita bisa lihat kinerja mereka dalam beberapa waktu mendatang setelah mereka menyelesaikan studi,” kata Daniel beberapa waktu lalu di Nabire.

Menurutnya, pendidikan pola asrama paling jitu di Papua, agar setiap anak-anak tersebut bisa didik sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang berlaku, serta mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menjadi modal dasar. Guru-guru yang mereka datangkan untuk melayani anak-anak ini sangat luar biasa. Bahkan ada yang bergelar doctor tapi di mana harus tinggal serumah dengan anak-anak. Luar biasa bukan? Baginya, tidak cukup seorang anak hanya pintar dan cerdas, tapi yang terpenting adalah memiliki aklhak dan karakter yang baik, ini baru orang yang hebat. Dan, setiap guru-guru yang ada mengajarkan tentang hal itu dimana membentuk karakter dan akhlak dari pada setiap anak-anak didik.

“Lihat saja di negara Indonesia, terlebih khusus di Papua, banyak orang pintar dan cerdas, semua mereka selalu korupsi terus, sehingga rakyat hanya menjadi korban. Tetapi beda, kalau pintar dan cerdas dibarengi dengan aklhak dan karakter yang baik seperti kristus, mereka akan menjadi lilin di tengah kegelapan, dan memang itu kerinduan terbesar saya membangun pendidikan berpola asrama di Papua,” papar Daneil menjelaskan.

Selain itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Nabire, A. H. Sihombing pernah berkomentar tentang keberadaan Yayasan ini, ketika memberikan kata sambutan dalam acara yang diselenggakan oleh SMA Kristen Anak Panah, salah satu sekolah yang didirikan Yayasan ini.

“PESAT Nabire telah membantu meringankan beban pemerintah daerah, di mana bisa mendidik dan membina anak-anak Papua untuk menjadi manusia. Saya sangat berterima kasih untuk kerja ini,” tandas Sihombing.

Lebih lanjut menurutnya, PESAT telah menyatakan bahwa membangun pendidikan di kabupaten Nabire, uang bukan segalanya, tetapi kesungguhan dan motivasi untuk mendidik-lah yang harus dikedepankan. Ini harus menjadi contoh bagi yayasan-yayasan, serta sekolah-sekolah yang lain di kabupaten Nabire.

Kendala Mendidik Anak-anak Papua
Menurut kepala salah satu asrama di Nabire, Gestinov Hutubesy S.T. bahwa mendidik anak-anak Papua sangat susah, diperlukan pendekatan kasih saying agar mereka bisa berubah. “Mendidikan anak-anak Papua yang datang dari berbagai tempat, serta berbagai latar belakang memang sangat susah, tetapi kami menggunakan pendekatan kasih sayang, sehingga bersyukur anak-anak kami bisa menerima ini, dan banyak dari antara mereka yang memilki karakterk sangat baik, sopan, ramah, serta bergaul dengan siapa saja,” pungkasnya.

Lebih lanjut, pak Gestinov mengatakan bahwa mereka mendidik anak-anak Papua dengan kasih, sehingga ke depannya anak-anak ini bisa membawa terang kepada siapa saja, terutama keluarga mereka sendiri. Dan, kami sangat berkeyakinan, bahwa orang tua mereka juga akan disenang, melihat perubahan sikap hidup anak-anak mereka.

Banyak prestasi yang anak-anak kami torehkan, seperti ada beberapa anak yang selalu mewakili sekolahnya untuk ikut Olimpiade di Jayapura, bahkan ada beberapa yang sempat ke Jakarta, dan tinggal lama di sana. Ini merupakan kebanggaan tersendiri buat kami yang di Asrama maupun Yayasan, di mana keluh kesah kami mendidik tidak sia-sia.

“Selain itu juga, anak-anak kami telah belajar menulis melalui bulletin AGAPE yang mereka terbitkan setiap bulannya secara berkala. Di sini terlihat anak-anak kami memiliki potensi-potensi yang sangat luar biasa. Dan, mereka tetap belajar dan belajar untuk mengembangkan bulletin asrama yang mereka miliki, tetapi pesan saya untuk mereka, jangan sekali-kali mengabaikan tugas utama, yaitu sekolah,” pungkasnya.

Sekolah dan Asrama
Selama 12 Tahun hadir di Papua, terlebih khusus di Nabire, pesat telah membangun sangat banyak asrama, dan mereka sempat berpindah-pindah tempat. Terdapat 4 asrama. Asrama Anugerah (untuk anak-anak laki-laki SMP hingga SMA), Asrama Agape (untuk anak-anak perempuan SD), asrama gilgal (untuk anak-anak laki-laki dan perempuan TK hingga SD), dan terakhir asrama Yudea (untuk anak-anak perempuan SMP hingga SMA).

Sedangkan sekolah, ada beberapa taman kanak-kanak. Seperti TK Agapae, TK Shekina, TK Samabusa, TK Wanggar, dan ada beberapa TK lainnya di pinggiran kota Nabire. Pada umumnya, taman kanak-kanak ini dikelola oleh Yayasan Pesat dengan latar belakang para guru yang umumnya didatangkan dari daerah Jawa.

Selain itu, ada SD Kristen Agape yang berdiri sejak pesat masuk di Kabupaten Nabire, kemudian berikutnya didirikan SMP Kristen Anak Panah, setelah itu secara bertahap didirikan lagi SMA Kristen Anak Panah. Sampai saat ini, SMA Anak panah telah menamatkan dua angkatana, dan semua lulusan memang betul-betul tinggal didik di asrama sejak taman kanak-kanak hingga mereka lulus.

Jumlah anak-anak asrama secara keseluruhan, hampir mencapai 300 anak. Sebagian besar atau hampir seluruhnya anak asli Papua. dan berasal dari berbagai daerah di Papua, seperti dari Kabupaten Intan Jaya (suku Moni), Kabupaten Paniai (suku Mee), Serui, Biak, bahkan ada yang dari daerah pegunungan Papua (suku Dani).

Mereka semua hidup sangat bersahabat dan terlihat hubungan kekerabatan yang sangat besar. Mereka sepertinya telah menjadi satu keluarga dalam sebuah yayasan. Dan, bagi mereka moment penting saat tinggal di asrama, akan selalu dikenang saat ke mana saja mereka berpergian.

Setiap lulusan yang menamatkan SMA akan dikirim ke luar Papua untuk kuliah sesuai dengan kemampuan anak-anak itu. “Kami berharap setiap anak bisa berprestasi supaya kita bisa sekolahkan sampai di perguruan tinggi,” jelas Eliezer Edo Odo, Ketua Yayasan Pesat Nabire dalam sebuah kesempatan ketika duduk memberikan kejelasan kepada anak-anak Asrama.

Pelayanan PESAT, selain di Kabupaten Nabire, ada 9 tempat lagi yang mereka layani, yaitu di Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Timika bekerja sama dengan LPMAK, serta beberapa daerah kecil lainnya di Papua. PESAT lebih khususkan diri bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan untuk Papua. (Pogau).
-----------------
sumber: http://pogauokto.blogspot.com/2009/12/pesat-nabire-membangun-pendidikan.html



BACA TRUZZ...- 15 Tahun Yayasan PESAT Nabire: “Mereka Anak-anak yang Terpilih”

DEKLARASI KONGRES I - SELAMATKAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA

Minggu, November 22, 2009

PORT NUMBAY, 21 November 2009

MENCERMATI KONDISI MASYARAKAT ADAT DI TANAH PAPUA YANG SEMAKIN TERMARJINALKAN DARI PROSES PEMBANGUNAN YANG BERKAITAN DENGAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT, PERTAMBANGAN, PEMEKARAN WILAYAH, INFRASTUKTUR MILITER DAN HPH YANG TIDAK BERPIHAK KEPADA MASYARAKAT ADAT, KELESTARIAN SUMBER DAYA ALAM DAN PELANGGARAN HAM DI TANAH PAPUA.

MASYARAKAT ADAT PAPUA TELAH LAMA MENJADI PELAKU UTAMA DAN PENGGUNA UTAMA PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM BERBASIS PADA KEARIFAN LOKALNYA PADA RATUSAN TAHUN YANG LALU, MAKA SEGALA KEGIATAN PEMBANGUNAN HARUS MELIBATKAN MASYARAKAT ADAT DAN HASIL-HASIL DIPERUNTUKKAN BAGI KESEJAHTERAAN BANGSA PAPUA.

MAKA KAMI, PESERTA KONGRES PERTAMA “SELAMATKAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA” YANG TERDIRI ATAS PEMIMPIN ADAT, LEMBAGA KEAGAMAAN, AKTIVIS LSM DAN AKTIVIS PEREMPUAN, MENYATAKAN KEPEDULIAN DAN KEPRIHATINAN SERTA SIKAP KAMI BAGI UPAYA PENGAKUAN PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN HAK-HAK MASYARAKAT ADAT PAPUA.

UNTUK MEMBANGUN PAPUA SEBAGAI SATU TANAH YANG BEBAS DARI KEKERASAN, KESERAKAHAN DAN PENINDASAN, MAKA KAMI MENGELUARKAN DEKLARASI KONGRES I SELAMATKAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA.

“NEGARA BERTANGGUNGJAWAB BAGI PENYELAMATAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA”

1. TANAH MASYARAKAT ADAT PAPUA ADALAH MAMA YANG MEMBERIKAN KEHIDUPAN & PENGHIDUPAN BAGI MANUSIA & ALAM. TANAH PAPUA ADALAH WARISAN LELUHUR YANG MENJADI MILIK MASYARAKAT ADAT TANAH PAPUA, KARENA ITU TIDAK DIPERJUALBELIKAN.

2. ASET-ASET ADAT MASYARAKAT ADAT PAPUA SEPERTI GELAR ADAT TIDAK BISA DISERAHTERIMAKAN KEPADA ORANG LAIN.

3. PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI TANAH PAPUA HARUS BEBAS DARI KETERLIBATAN TNI/POLRI.

4. PEMBANGUNAN TANAH PAPUA DAN MANFAATNYA DIPERUNTUKAN BAGI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ADAT PAPUA, MAKA MASYARAKAT ADAT PAPUA HARUS TERLIBAT AKTIF DALAM SELURUH PROSES PEMBANGUNAN TERSEBUT.

5. SEGALA BENTUK KEGIATAN EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM TANAH PAPUA YANG MERUSAK LINGKUNGAN DAN PELANGGARAN HAM HARUS DIHENTIKAN.

6. TANAH PAPUA HARUS BEBAS DARI PRAKTEK PELACURAN INTELEKTUAL YANG MELEGITIMASI UPAYA PEMEKARAN WILAYAH PEMERINTAHAN, MERUSAK LINGKUNGAN HIDUP DAN MELANGGAR KEARIFAN MASYARAKAT ADAT YANG DILAKUKAN OLEH AKADEMISI DAN AKTIFITIS ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL.

7. PEMEKARAN WILAYAH PEMERINTAHAN DI TANAH PAPUA MENCIPTAKAN PERMASALAHAN BARU BERUPA KONFLIK HORISONTAL YANG MENGGANGGU TATANAN ADAT PAPUA, KERUSAKAN SUMBER DAYA HUTAN DAN EKOSITEMNYA, MAKA PEMEKARAN WILAYAH KABUPATEN/KOTA DAN PROVINSI DI TANAH PAPUA SEGERA DIHENTIKAN.

8. SEGALA BENTUK KEGIATAN DAN UPAYA PERDAGANGAN KARBON & KOMPENSASI KARBON YANG TIDAK MENGAKUI HAK-HAK MASYARAKAT ADAT DI TANAH PAPUA HARUS DIHENTIKAN.

9. PEMBERIAN PENGHARGAAN LINGKUNGAN KEPADA GUBERNUR PROVINSI PAPUA MERUPAKAN KEPEDULIAN MASYARAKAT INTERNASIONAL PADA UPAYA PELESTRIAN DAN KEBERLANJUTAN MANUSIA & HUTAN PAPUA, KARENA ITU PEMERINTAH PROVINSI PAPUA SEGERA MEREALIASIKAN KEBIJAKAN-KEBIJAKAN YANG SECARA NYATA MENDUKUNG PERLINDUNGAN MANUSIA & PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DI TANAH PAPUA.

10. PELANGGARAN HAK INTELEKTUAL YANG DILAKUKAN OLEH LEMBAGA & PENELITI NASIONAL & INTERNASIONAL ATAS KEKAYAAN FLORA & FAUNA ENDEMIK PAPUA HARUS DIHENTIKAN.

11. MASYARAKAT ADAT PAPUA TELAH MENGALAMI DEPOPULASI YANG SERIUS, KARENA ITU PROGRAM KELUARGA BERENCANA NASIONAL HARUS DIHENTIKAN DAN UPAYA SERIUS PENANGGULANGAN HIV/AIDS, KESEHATAN IBU DAN ANAK, GIZI TERUS DIGALAKKAN SERTA PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN DI TANAH PAPUA.

12. MASYARAKAT ADAT DI TANAH PAPUA PADA BERBAGAI LEVEL & WILAYAH ADATNYA, MELAKUKAN PENGUATAN KAPASITAS STRUKTUR, NILAI & NORMA ADATNYA.

SEGALA KEBIJAKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANG PEMERINTAH YANG TIDAK MENGAKUI DAN MELINDUNGI SERTA BERPIHAK PADA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ADAT DI TANAH PAPUA DALAM SEMANGAT OTONOMI KHUSUS SEGERA DICABUT.

BEKERJALAH BAGI NEGERIMU TERCINTA.
BERSAMA KITA BISA, KITA BISA BERSAMA
SELAMATKAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA
TUHAN MEMBERKATI TANAH PAPUA

BACA TRUZZ...- DEKLARASI KONGRES I - SELAMATKAN MANUSIA DAN HUTAN PAPUA

200 Anak Papua Ditelantarkan di Tangerang

TANGERANG - Sekira 200 anak Papua, yang masih berusia sekolah dikabarkan terlantar di berbagai daerah di wilayah Tangerang. Ratusan anak ini, ditelantarkan begitu saja setelah dibawa dari Papua.

Marsila, salah satu koordinator Bagian Kesehatan Kelompok Kerja Marsila mengaku menemukan satu orang anak Papua bernama Fauzan (12) warga Wamena. Marsila mengaku menemukan Fauzan setelah pihaknya mendapat informasi dari pihak Polsek Ciputat.

"Saya dapat info dari Polsek Ciputat," katanya saat dihubungi ponselnya, Senin ( 16/11/2009).

Saat ditemukan, dia mengaku anak tersebut dalam keadaan sehat dan tidak mengalami gangguan psikologis. Dari pengakuan Fauzan, dirinya bersama 200 anak Papua lainnya dibawa dengan menggunakan pesawat Hercules.

Namun Fauazan tidak mengetahui secara pasti dimana dia bersama yang lainnya diturunkan, dan tiba-tiba ditelantarkan begitu saja. Keterangan yang diperoleh dari Fauzan, menurut Marsila, mereka bertahan hidup di Tangerang dengan cara mencuri.

"Kini anak itu berada di Panti Asuhan di wilayah Pondok Aren," ucapnya.(hri)

----------
sumber : http://news.okezone.com/read/2009/11/17/338/276200/200-anak-papua-ditelantarkan-di-tangerang


BACA TRUZZ...- 200 Anak Papua Ditelantarkan di Tangerang

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut