Tampilkan postingan dengan label Mata Air Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mata Air Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Semakin Banyak Memberi, Semakin Banyak Menerima

Sabtu, Maret 26, 2011

"Namaku Linda. Aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberiku sebuah pelajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan  mengagumkan penuh gairah seperti dalam novel-novel roman, walau begitu menurutku ini adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari itu semua.

Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri. Mereka bertemu disebuah acara resepsi pernikahan dan kata ayahku ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk ke dalam ruangan. Saat itu ayah tahu, bahwa inilah perempuan yang akan menikah dengannya. Hal ini menjadi kenyataan, kini mereka telah menikah selama 40 tahun dan telah memiliki tiga orang anak, aku anak tertua, telah menikah dan memberikan mereka dua orang cucu.

Mereka bahagia dan selama bertahun-tahun telah menjadi orang tua yang sangat baik bagi kami, mereka membimbing kami, anak-anaknya dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan. Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Saat itu beberapa ibu-ibu tetangga kami mengajak ibuku pergi kepembukaan pasar murah yang mengobral alat-alat kebutuhan rumah tangga. Mereka mengatakan saat pembukaan adalah saat terbaik untuk berbelanja barang obral karena saat itu saat termurah dengan kualitas barang-barang terbaik.

Tapi ibuku menolaknya karena ayahku sebentar lagi pulang dari kantor. Kata ibuku,"Mama tak akan pernah meninggalkan papa sendirian". Hal itu yang selalu dicamkan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang perempuan aku harus patuh pada suamiku dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sehat maupun sakit. Seorang perempuan harus bisa menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu menurut mereka, itu hanya janji pernikahan, omong kosong belaka. Tapi aku tak pernah memperdulikan mereka, aku percaya nasihat ibuku.

Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami mengalami duka, setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh. Dokter mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi sehinnga ia harus menghabiskan sisa hidupnya di tempat tidur. Ayahku, seorang pria yang masih sehat diusianya yang lebih tua, tapi ia tetap merawat ibuku, menyuapinya, bercerita banyak hal padanya, mengatakan padanya kalau ia mencintainya. Ayahku tak pernah meninggalkannya, selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya, ia masih suka bercanda-canda dengan ibuku. Ayahku pernah mencatkan kuku tangan ibuku, dan ketika ibuku bertanya ,"untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan jelek sekali". Ayahku menjawab, "aku ingin kau tetap merasa cantik". Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, ia merawat ibuku dengan penuh kelembutan dan kasih sayan. 

Para kenalan yang mengenalnya sangat hormat dengannya. Mereka sangat kagum dengan kasih sayang ayahku pada ibuku yang tak pernah pudar. Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum, "Kau tahu, Linda. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku...kau tahu kenapa?" Aku menggeleng dan ibuku melanjutkan, "karena aku tak pernah meninggalkannya. .."

Itulah kisah cinta ayah dan ibuku. Mereka memberikan kami, anak-anaknya pelajaran tentang tanggung jawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya.

Sumber: http://www.conectique.com/enlight_your_life/article.php?article_id=5841
BACA TRUZZ...- Semakin Banyak Memberi, Semakin Banyak Menerima

Harmoni Kehidupan

Minggu, September 26, 2010

Ingin ku berlari jauh
Tapi kaki ini tak mampu.
Ingin ku melompat tinggi hingga mengenai tangga awan
Tapi sayang badan ini tak sanggup.
Ingin ku terbang tinggi meninggalkan bumi ini
Tapi apalah… sayang badan ini tak memiliki sayap.

ketika
Semuanya bercampur
Menggugah kalbu
Hampir tak sanggup untuk menahan semua ini
Rasa dan pikiran yang tak menyatu.

Susah senang setengah kendi
Harmoni kehidupan yang terus mengalun
Serasa memanggil jiwaku untuk terus bernari
Tanpa mengenal siang dan malam

Kenapa mata dan otak tak bersatu
Kenapa badan dan otak tak bersatu
Kenapa pikiran dan kenyataan ini tak sama
Kenapa tahu tapi tak bisa menolak dan berontak

Kuatkanlah dan lindungilah
Yang muda dalam semangat,
Penuh impian dan harapan
Sarat energi dan gairah

Ingin suatu hari nanti
Tifa kehidupan ditabuh
Semua dengan ekspresi kebebasanya bernari
Diatas tanahnya yang subur…

(O_C).Puren, 15 Juli 2010

------------------
Sumber: http://kelabur.blogspot.com/2010/07/harmoni-kehidupan.html
BACA TRUZZ...- Harmoni Kehidupan

Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Habis)

Jumat, Juli 30, 2010

 Juli 2009: dari serpihan ingatan akan kampung-kampung di tepian Danau Tigi

Oleh Johanes Supriyono*)

Cerita Waghete bukan hanya milik Josef Mote. Aku ingat pula seorang guru yang diejek-ejek murid-muridnya pada suatu pagi.
Pagi itu, ketika masih sangat dingin, lima anak kecil, berseragam SD dengan telanjang kaki, hanya dua saja bersepatu, berarak ke sekolah. Semuanya keriting tentu saja. Entah apa yang mereka bicarakan di jalan yang berdebu itu.
Di jalan itu, mereka bertemu dengan sang kepala sekolah, Pak Guru Pekei. Ia tidak berbusana layaknya mau ke sekolah. Bercelana pendek dan bertelanjang kaki, kendati waktu untuk masuk sekolah sudah menjelang, ia memikul papan. Tangannya masih serba kotor. Mulutnya mengepulkan asap rokok.
“Pak Guru, ayo ke sekolah sudah waktu ini. Kenapa malah sibuk di sini?” Murid-murid itu setengah mengejek sang guru yang tampak tidak hendak ke sekolah.
“Hei.. kalian ini anak kecil. Sana! Berangkat ke sekolah,” hardik sang guru.
“Iya, kami akan ke sekolah. Kau lihat kan, kami sudah berseragam dan membawa buku. Tapi, kamu akan ke sekolah, tidak?”
“Sudah.. ko anak-anak kecil tahu apa. Saya mau urus rumah dulu. Nanti saya baru ke sekolah.”
“Iyo, kami tunggu di sekolah ya. Kau ini guru bagaimana? Masak tidak ke sekolah.”
“Ah, sudah diam. Kau berangkat cepat. Jangan terlambat lagi.”
Anak-anak itu sambil berlalu, “kami tidak pernah terlambat.”
Anak-anak belia itu tidak tampak sungkan menegur pak guru yang sengaja melalaikan tanggung jawabnya.
Percakapan remaja belia dengan sang kepala sekolah jauh dari cuaca ‘mengadili’. Anak-anak itu telah cukup tahu berkat kebiasaan bahwa sejumlah guru tidak sepenuhnya menjiwai keguruan mereka. Ejekan gaya anak-anak itu mengandung juga pengampunan atau permakluman terhadap sang guru.
Begitu juga yang terjadi di sekolah dekat gereja Waghete pagi itu. Tidak ada guru di tiga kelas.
Seorang anak mencacat pelajaran di papan tulis. Agaknya ia yang paling maju di kelasnya. Tulisannya cukup rapi. Teman-temannya, sebentar-sebentar mendongak ke papan, menyalin yang tertulis di papan itu. Pelajaran bahasa Indonesia. Entahlah apakah dengan cara mencatat seperti itu mereka bisa mengerti dan menerapkan.
Ketika kami datang, semuanya terdiam dan menyembunyikan kaki telanjang mereka di bawah kursi. Tidak ada senyum tapi wajah tegang dengan tatapan mata tunduk. Mungkin mereka sejatinya memendam rasa dalam ketertundukan itu: mengapa pak guru tidak ada?
Seakan-akan mereka hendak mengatakan, lewat tatapan mata yang bergerak ke papan dan ke buku tulis, agar ‘orang asing’ ini selekasnya pergi, agar tidak perlu lebih lama lagi menyembunyikan diri dalam diam yang kaku... “Biarlah tidak ada guru asal kami tidak ditikami oleh kehadiran orang asing yang menatap kami dengan penuh pengadilan.” L’enfer, c’est les autres kata Jean Paul Sartre. Orang lain adalah neraka!
Anak-anak di kelas berdinding papan, di sekolah dengan halaman yang sangat berdebu, dengan atap seng yang telah parah berkarat, rumput-tumput nan rimbun di sekelilingnya, memamerkan wajah-wajah dingin tapi tanpa kebencian...  
Waghete. Jalan panjang yang berlumpur di musim hujan dan berdebu di musim kering. Jalan panjang untuk menjadi manusia.

*) Staf Peneliti pada Lembaga Pendidikan Papua
BACA TRUZZ...- Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Habis)

Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 3)

 Juli 2009: dari serpihan ingatan akan kampung-kampung di tepian Danau Tigi

 Oleh Johanes Supriyono*) 
Kembali kukisahkan ingatan kolektif—dan nanti kuceritakan pula konsep diri kolektif masyarkat Mee. Tanah satu marga dengan klan-klannya, dengan batas-batas tanda alam seperti bukit, pohon, sungai, atau batu besar, bisa diingat dengan baik, tanpa sertifikat atau surat tanah semacam girik. Cukuplah generasi yang lebih tua meneruskan ingatan itu pada generasi yang lebih muda. Entah bagaimana cara-caranya aku belum sepenuhnya mengerti. Tetapi salah satu yang penting, yang terjadi dalam ritus setiap orang suku Mee, adalah proses inisiasi ke kebun semenjak kecil. Inilah proses sosialisasi yang paling dini ke dalam hakikat tanah.
Proses inisiasi ini terjadi sangat alamiah. Anak kecil dalam keluarga akan diasuh dengan dibawa serta ke kebun tempat orang tuanya bekerja. Anak kecil itu digendong dalam noken atau ditaruh di bahu. Pada usia sangat dini, ketika mereka masih belum sepenuhnya sadar barangkali, anak-anak kecil sudah berkenalan dengan tanah. Perlahan-lahan, sesuai usianya, anak-anak itu akan terlibat dalam pekerjaan kebun orang tuanya.
Selanjutnya, anak laki-laki yang telah lumayan dewasa, bisa berjalan lebih jauh lagi, akan dilatih juga untuk turut berburu. Selama berburu, yang bisa makan waktu berhari-hari atau malah berminggu-minggu ini, mereka semakin mengenal tanah yang menghidupi mereka. Relasi dengan tanah menjadi lebih mendalam lagi lewat proses ini.
Masyarakat Mee hanya berburu di tanah mereka sendiri. Tidak akan mereka mencari binatang buruan di tanah orang lain.
Selama berburu anak-anak suku Mee tidak hanya semakin mengenal tanah mereka. Mereka juga semakin mengenal keluarga besar, termasuk para leluhur. Di samping itu, selama perjalanan berminggu-minggu di hutan itu, mereka pun belajar banyak pengetahuan tradisional tentang norma-norma berburu, tentang ilmu kehutanan, tentang tanda-tanda alam, tentang relasi laki-laki dan perempuan, tentang banyak hal.
Dalam percakapan tentang hutan dengan penduduk Distrik Unito, Sukikai selatan, aku mengerti menurut norma adat, tidak semua burung tahun-tahun boleh dipanah untuk dimakan. Misalnya, burung betina tidak boleh dipanah. Jika mendapati anak burung tahun-tahun di sarang, tidak boleh semuanya diambil. Norma yang lain, kita tidak boleh berkebun terus menerus di lahan yang sama. Secara akal, orang akan dengan cepat menangkap alasannya: kesuburan berkurang. Tapi, secara tradisional, masyarakat Mee meyakini, cara itu adalah untuk menghormati tanah.
Selain itu pun, menurutku, ajaran itu melarang masyarakat Mee untuk menjadi rakus, serakah. Tanah dikelola untuk menghasilkan secukupnya untuk makan sehari-hari. Jauh dari motivasi untuk menimbun makanan atau untuk memasarkan hasil pertanian demi keuntungan finansial sebesar-besarnya. Tiba-tiba aku sedikit melankolis membayangkan nilai tanah yang begitu luhur dan jiwa terdalam manusia Mee yang begitu mulia: tidak boleh rakus. Sebaliknya, bersyukur dan berterima kasih pada ibu tanah. Menurutku, nilai luhur tentang hidup yang tidak boleh kelaparan dan tidak boleh berlebihan ini mesti bisa dipelihara.
Cara hidup meramu dengan kuat masih digenggam. Tidak ada keluarga yang menanam ubi rambat (nota) di lahan yang luas. Tidak ada juga yang berkebun dengan orientasi bisnis. Kalaupun mereka ‘terpaksa’ menjual di pasar, jumlahnya sangat terbatas. Kukatakan ‘terpaksa’ karena mereka menjual untuk mendapatkan uang demi mencukupi kebutuhan yang tidak bisa diperoleh dari kebun, utamanya barang-barang fabrikan. Betul, globalisasi yang mengalir deras sampai ke Waghete, telah mendesak masyarakat Waghete untuk mendiversifikasi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Aku yakin kebutuhan makanan mereka kini tidak cukup sekadar nota. Penduduk Waghete sebagian mulai mengenal beras dan nasi. Kalau tidak pedagang-pedagang dari Sulawesi itu tidak perlu membawa berkarung-karung beras ke Waghete. Mestinya, perkakas rumah tangga seperti panci dan wajan itu tidak laku di Waghete. Nota cukup dibakar.
Memang, tidak ada yang tidak berubah di dunia ini. Semuanya berubah. Panta rei! Kalau si Parmenides mengatakan tidak ada yang berubah, si Anaximandros mengatakan semuanya berubah. Waghete berubah, meski pelan sekali!
Entah mulai kapan, penduduk Waghete merasakan kebutuhan akan jalan yang bagus, yang menghubungkan Waghete dengan kota di dekatnya: Enarotali, Moanemani, dan Nabire. Ketika jalan hancur, sehingga perjalanan dari Waghete ke Nabire memakan waktu yang panjang, mereka mengeluh. Tampaknya sejak mereka mengerti bahwa kebutuhan yang tidak lagi dicukupi hutan atau tidak dihasilkan oleh hutan bergantung pada suplai di kota lain. Hutan tidak menghasilkan cocacola kaleng; tidak menghasilkan beras; tidak menghasilkan pulsa; tidak menghasilkan radio, dan lain-lain.
Secara pasti Waghete mulai menyandarkan sebagian ‘kehidupan’ masyarakatnya pada kehidupan di tempat lain. Tidak lagi bisa disangkal. Anak-anak Waghete mulai menggemari minuman kaleng sejenis cocacola dan menantikannya ketika natal menjelang. Mereka juga berangkat ke sekolah berseragam kendati beberapa masih belum lengkap. Padahal Waghete tidak menghasilkan tekstil. Bahan-bahan makanan banyak didatangkan dari luar Waghete. Padahal, untuk mendatangkan semua itu perlu alat tukar yang dianggap setara: uang!
Pernah aku bertanya-tanya: dari mana orang Waghete menghasilkan uang? Sama sekali tidak ada maksud merendahkan. Boleh dikatakan aktivitas ekonomi masyarakat masih sangat minimal. Ekonomi produksi belum tampak. Komoditas masyarakat asli pun tidak begitu banyak.
Aku tidak suka sebenarnya untuk membahas uang. Tapi, kenyataannya, kehidupan masyarakat Papua dewasa ini mulai disetir oleh uang. Alat tukar mereka sendiri, kulit bia, pelan-pelan tidak berlaku. Atau itu hanya berlaku untuk komunitas masyarakat tradisional mereka. Padahal, ruang kehidupan dan ragam interaksi penduduk kian luas. Sebagian kebutuhan mereka disediakan oleh kios pastoran yang tidak mau dibayar dengan kulit bia tentu saja. Juga pedagang-pedagang dari Sulawesi itu tidak mengenal kulit bia. Generasi Mee yang lebih muda pun terkesan lebih nyaman dengan uang modern karena ketika membeli motor dealer tidak mau dibayar dengan kulit bia.
Aku mengerti kini kulit bia mulai digantikan fungsinya oleh alat tukar modern: uang. Agaknya, uang adalah benda sakti yang membuka akses Waghete pada dunia yang lebih global. Aku ingat lagi pada pipa-pipa air yang dipasang oleh NGO Prancis itu. Uang ada di sana.
Juga aku ingat akan keluh kesah beberapa keluarga yang menyesal tidak bisa mengirim anak mereka sekolah di kota. Sekolah itu dikenal mahal. Uang bulanan sampai Rp200.000,00. Jumlah yang sulit didapat oleh orang-orang Waghete kecuali mereka yang berstatus PNS. Sekali lagi, aktivitas ekonomi produktif belum massal. Kemampuan masyarakat menghasilkan uang masih sangat rendah. Anak-anak itu tidak bisa menikmati pendidikan di kota yang mereka idamkan karena orang tua mereka tidak beruang. Impian yang mahal harus kandas oleh uang. Tragis!
Masuknya alat tukar global ini turut mengubah kebudayaan masyarakat. Sebenarnya, itu bukan satu-satunya. Masih ada yang lain. Pergerakan zaman ternyata membebani penduduk Waghete dengan aneka kebutuhan yang sebelumnya tidak mereka rasakan. Muncullah kelaziman baru untuk mendapatkan uang: membikin proposal.
Bahkan, jika ada yang datang dari luar Waghete, sering ditafsirkan sebagai pembawa uang bantuan. Belakangan muncul pula, kecenderungan untuk menguangkan aneka hal. Sekali lagi, aku tidak menghakimi penduduk Waghete dengan menyebut mata duitan. Aku memahami gelagat ini karena mereka memerlukan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sebelumnya tidak mereka rasakan. Atau sekurang-kurangnya dulu masih dicukupi oleh para misionaris.
Masih dengan sangat jelas aku ingat wajah Josef Mote yang pagi-pagi datang dari Yaba ke Pastoran Katolik Waghete tempat kami menginap. Ia mencari seorang pria asing berkulit putih, berjambang, yang hari sebelumnya menjumpainya di Kampung Yaba. Josef ingat pria putih itu—sebenarnya ia seorang pater dari Filipina—telah mengabadikan dirinya di depan patung bapanya, Weyakebo Mote yang sedang menerima Injil dari Monsigneur Tillemans. Tujuan Josef datang adalah meminta sejumlah uang dari pater itu terkait dengan foto-foto yang telah ia ambil. Ia berterus terang bahwa ia memerlukan uang dan ia merasa sudah banyak membantu dengan menyediakan dirinya di foto.
Karena hambatan komunikasi, pater itu tidak menemuinya sendiri. Dengan bantuan Pastor Paroki, Josef mengerti bahwa pater itu tidak membawa bantuan dan memang maksudnya tidak untuk memberikan bantuan. Sebaliknya, pater itu sedang meneliti hutan Papua terkait dengan perubahan iklim. Meski dengan wajah sedikit mengiba, Josef meninggalkan halaman sekolah dan tampaknya kembali ke Yaba.
Aku sangat mengerti: Josef tua itu kecewa. Mungkin juga ia merasa tertipu. Ia telah memberikan sesuatu tapi ia tidak mendapatkan balasannya. Ia melangkah di belantara pagi Waghete yang dingin, tanpa uang yang sempat diimpikan, dengan perasaan kecewa yang pahit...
Kepadanya, pagi itu kukatakan bahwa aku akan mencetak foto-foto itu dan mengirimkan untuknya. Sebuah janji yang berhasil kutepati. Kuharap fotonya di depan patung Weyakebo Mote yang sedang menerima Injil dari Mgr. Tillemans sedikit mengurai kepahitan hatinya.
Temanku dari Filipina, Rowena Soriaga, mengungkapkan rasa penasaran kepadaku.
“Kamu, tahu darimana mereka memperoleh semen dan keramik untuk membuat patung yang sangat besar itu?”
“Aku tidak tahu. Tapi, jangan khawatir, aku akan bertanya.”
Patung itu memang sangat megah jika dikontraskan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Bahkan jika dibandingkan dengan gereja Yaba sekalipun. Tidak rumah di kampung Yaba yang dibangun dengan semen. Apalagi berkeramik. Kusampaikan pertanyaan itu pada Josef Mote, lelaki tua yang tidak bisa kutebak umurnya, tetapi rambut dan jenggotnya yang sangat tebal telah disusupi uban.
“Proposal,” begitu jawaban singkat Josef yang segera melanjutkan, “saya kirim proposal ke pemerintah. Saya beli semen. Saya beli itu semua.”
Bangga sekali Josef memamerkan patung ayahnya. Akh, sebenarnya ia bangga pada ayahnya sebagai orang yang menerima pertama kali Injil dari Mgr. Tillemans. Tentu saja, ayahnya adalah orang yang paling terpandang di kampung itu. Sangat mungkin Weyakebo Mote adalah tonowi marga Mote dan klan-klan di sekitarnya.
“Ini, sa punya bapa,” kata Josef, “ini Monsinyur Tillemans. Sedang kasih Injil sa pu bapa.”
Ketika sesi pengambilan foto dimulai, pada ketika matahari hampir ditelan malam, Josef meminta berfoto bersama Pedro, kemudian bersamaku, dan setelah itu ia mendorongku menjauh. Ia ingin diabadikan sendiri di kaki patung ayahnya. Setelah itu, seluruh penduduk yang sejak kami datang berkerumun mengambil pose masing-masing.
Proposal adalah alat untuk mendatangkan uang. Aneka hal diproposalkan. Kepada siapa proposal itu diajukan? Kebanyakan kepada orang-orang yang berjabatan agak tinggi di kalangan pemerintah daerah. Kadang-kadang agak lucu. Anak mau sekolah, orang tua menulis proposal. Keluarga ada yang sakit, anggota keluarga menulis proposal. Ketika mau membuat rumah, seorang ayah menulis proposal. Bahkan, seorang mahasiswa ketika kembali ke kampung untuk berlibur masih menyempatkan diri untuk menulis proposal agar mendapatkan uang saku dari pemerintah daerah.
Suatu siang, kamarku tiba-tiba diketuk. Di luar telah berdiri seorang lelaki berbadan kecil dan pendek. Wajahnya familiar: orang tua dari salah satu muridku.
“Bapa, selamat sian (bunyi diftong memang tidak ada). Saya ada perlu sedikit dengan Bapa,” kata sang tamu.
“Perlu apa ka? Bapa bisa bicara langsung saya sedang ada sibuk juga jadi,” kataku.
“Begini Bapa. Sa pu anak sa dengar mau maju olimpiade ka apa ka itu namanya..”
“Johny ka Bapa. Benar Bapa. Dia minggu depan maju olimpiade. Baru ada apa Bapa?”
“Saya mau minta surat keterangan bisa ka Bapa?”
“Untuk apa?”
“Begini. Saya kan tidak mampu, tidak ada biaya. Jadi saya mau minta sama dia pu bapa tua biaya. Begitu Bapa,” lelaki itu memandangku. Mungkin ia menanti reaksiku.
“Siapa dia pu bapa tua ka?”
“Sekda Kayame. Itu dia pu bapa tua.”
“Bapa, mau olimpiade itu tidak perlu biaya. Semua sudah diurus sekolah. Jadi tidak ada surat keterangan lagi. Begitu Bapa.”
“Ahhh.. tapi dia pu bapa tua harus tahu. Dia pu anak maju olimpiade.”
“Ooo iyo sudah bapa kasih tahu saja to dia pu bapa tua.”
Aku tahu Bapa Johny pasti kecewa. Harapannya untuk mendapatkan surat keterangan yang dilampirkan pada proposalnya tidak terwujud.
Menulis proposal untuk mendapatkan dana adalah paradigma setelah uang melimpah di Papua tetapi akses secara ekonomi sangat sempit. Mereka belum berdaya untuk mendapatkan uang dengan ‘brainware of economy” karena memang kecakapan untuk bertindak sebagai homo economicus belum terbangun. Entahlah bagaimana awal mula lahirnya tradisi menulis proposal... yang pasti sekarang ini begitulah salah satu cara untuk mendapat cipratan uang Otsus yang melimpah ruah.

*) Staf Peneliti pada Lembaga Pendidikan Papua 

 Bersambung...
BACA TRUZZ...- Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 3)

Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 2)

Juli 2009: dari serpihan ingatan akan kampung-kampung di tepian Danau Tigi

Oleh Johanes Supriyono*) 


Lelaki itu mengangguk. Mungkin maksud kata-kataku kurang jelas ia pahami. Maklum saja, hubungan masyarakat Mee dengan hutan sudah terjadi alami dan menjadi cara hidup dari generasi ke generasi. Maka aneh bahwa ada orang asing bertanya tentang hal itu. Bagi orang Mee, hubungan itu sudah sangat jelas, sangat sehari-hari, sampai tidak ada lagi orang yang mempertanyakan. Adakah gunanya bertanya: apakah seorang Paus, uskup Roma, seorang Katolik?
Mungkin sebenarnya lelaki tadi heran: untuk apa bertanya tentang perkara yang sudah sangat jelas? Mengapa Pater ini tidak bertanya tentang dampak positif UU no 21 tahun 2001 bagi masyarakat Waghete? Apakah angka kematian ibu dan bayi menurun? Apakah jumlah anak-anak yang ke sekolah lebih banyak? Apakah di kampung sekarang ada pusat kegiatan belajar masyarakat? Apakah jumlah guru bertambah?
Mengapa Pater berjambang putih lebat itu bertanya tentang hal yang kalah menarik dibandingkan dengan kucuran dana otonomi atau dengan korupsi di Papua? Rupanya lelaki muda yang pernah bersekolah di Semarang itu merasa pertanyaan si pater tidak menarik. Ia tidak menyinggung sedikitpun soal itu. Ia malah keasyikan menceritakan sekolahnya dan mengenang teman-temannya dari pegunungan yang menempuh pendidikan di Jawa.
Pater itu asyik bertanya kepada seorang ibu yang susah berbahasa Indonesia. Si perempuan Filipina itu terus-terusan mengambil gambar dengan kamera digitalnya. Latar belakangnya adalah gundukan-gundukan kebun nota (ubi rambat) yang hijau segar dan anak-anak kecil yang sedang “menyaksikan makhluk asing”. Jauh di belakang adalah Danau Tigi yang airnya berkilau-kilau dengan rumah-rumah sederhana di tepiannya. Dan pepohonan indah yang melambai-lambai.
Namun, tampaknya lelaki itu tidak akan heran pada Pater karena tidak bertanya tentang Inpres no. 5 tahun 2007 tentang percepatan pembangunan daerah tertinggal dari Susilo Bambang Yudoyono. Alasannya sederhana saja: informasi tentang instruksi yang sangat penting itu tidak sampai ke kampung mereka.
Waghete belum dialiri listrik kendati sedang disiapkan menjadi kabupaten sendiri. Dengan sendirinya, media elektronik belum merambah wilayah ini secara masif. Mungkin ada beberapa keluarga yang mampu mengupayakan solar sel swadaya dan membeli perangkat televisi dari kota. Mungkin juga ada radio. Semua serba menerka karena di kampung Yaba atau Damabagata maupun Enagotadi tidak tampak antena parabola menjulang di atas atap rumah-rumah mereka yang renta.
Mungkin satu-satunya sudut Waghete yang sudah pernah mengenyam nikmatnya menerima sajian informasi dan mengirimkan secara cepat lewat internet hanya Pastoran St. Yohanes Pemandi Waghete. Sayang, karena perangkatnya rusak dan biayanya mahal sekali, kini fasilitas itu tidak lagi dapat dinikmati.
Informasi mengalir bersama dengan listrik. Tanpa listrik, informasi bergerak menjangkau seperti siput. Sangat pelan. Media yang mengantar informasi menjadi sangat terbatas, untuk tidak mengatakan tidak ada samasekali.
Media cetak tidak beredar di Waghete, kecuali yang sudah basi untuk Pastoran Waghete. Koran-koran diambil di Nabire setelah beberapa bulan disimpan di gudang. Entahlah, apakah informasi yang disajikan masih relevan pada hari mereka membacanya. Ketika membaca koran-koran itu, mereka merasa seakan-akan sedang mendapatkan kabar dari negeri yang jauh, negeri antah-berantah. Ada perasaan teralienasi dari jagat dunia ini. Ketika orang bisa bertemu secara maya, tanpa kehadiran wajah, bisa bekerja sama tanpa harus saling menyentuh, di Waghete dunia terasa sangat sepi dan kecil. Di belahan lain, dunia terasa sesak dan cepat sekali bergerak, hari berlalu sangat kilat, berpindah dari satu topik ke topik baru, di Waghete musim berlaku sepanjang tahun, dan waktu seakan tidak beranjak.
Sama sekali aku tidak sedang mengisahkan bahwa Waghete tidak bergerak.
Sentuhan kampung Waghete dengan dunia luar sangat minimal, sangat lambat, sangat tidak interaktif. Perlu waktu yang panjang untuk merasakan aksi dari luar, dan perlu waktu yang lebih lama lagi untuk membangkitkan reaksi. Jalan trans-Papua yang masih berupa tanah berlumpur pada musim hujan itu sudah sangat berjasa meski perjalanan dari pusat kota di Pesisir Utara bisa memakan waktu yang panjang.
Ketika wabah kolera merenggut puluhan nyawa di sekitar Moanemani tidak lekas sampai ke belahan dunia lain—anehnya, menurut rumor yang beredar, wartawan Australia malah mengetahui lebih dulu dibanding wartawan Indonesia di luar Papua—tidak terlalu mengherankan. Mungkin kalau pun informasi itu sudah sampai di Jakarta, ia tidak bisa lekas menjangkau ibu menteri atau bapak presiden. Arus informasi sangatlah sendat. Apalagi arus obat dan tenaga medis untuk menyelamatkan yang masih bertahan.
Sendatnya arus informasi, sendatnya arus ilmu pengetahuan, berarti sendatnya arus peradaban. Tidak lagi disangkal, peradaban kontemporer sangat bertalian dengan informasi dan perkembangan pengetahuan. Lihatlah berapa banyak kosakata baru yang berkembang bersamaan dengan temuan-temuan teknologi mutakhir! Maklum saja, Waghete terperangkap dalam skema pembangunan yang tidak partisipatoris, tidak menggerakkan penduduknya terlibat dalam dunia yang luas.
Hari itu, si pemuda yang asyik memerhatikan pater bule itu tidak akan pernah bertanya tentang inpres no.5 tahun 2007 dari sang presiden. Untuk mereka, inpres itu tidak pernah ada. Jangan-jangan eksistensi presiden pun sekadar nama dengan impak historis dan eksistensial yang mendekati nol. Secara sinis, orang boleh saja berpendapat ada atau tidak ada presiden Waghete adalah Waghete dengan danau Tigi yang cantik dan berkilau-kilau.
Rumah-rumah sederhana para penduduk sangat menarik untuk diperhatikan. Rumah-rumah mereka jarang yang berdekatan. Tidak satu rumah pun yang berbagi dinding dengan rumah yang lain. Tidak juga ada rumah yang berbagi atap dengan rumah sebelahnya. Hampir tiap-tiap rumah dikelilingi pagar dari kayu hutan yang dipancang membujur dan sangat rapat. Kayu-kayu itu dijalin dengan ikatan rotan yang sangat kuat. Babi yang besar sekalipun tidak akan menembus pagar itu.
Ternyata bukan hanya rumah, kebun merekapun sebagian berpagar. Tanaman-tanaman di selingkungan pagar itu terlindung dari jamahan mahkluk luar, selain yang empunya. Bahan dan model pagarnya sama dengan pagar yang melindungi rumah.
Kebun-kebun mereka pun sangat mencolok, bukan pertama-tama karena tanaman. Yang menandai adalah pagar kayu utuh disusun tegak dan sangat rapat. Batang-batang kayu sebagian telah menghitam karena usia, dan ujung-ujungnya yang menjolok langit biru telah ditumbuhi rerumputan. Tapi batang-batang yang semakin umur, tampaknya malah semakin kokoh.
Menurutku, kehadiran pagar dan rumah-rumah yang berdiri sendiri-sendiri itu mempertegas konsep kepemilikan dan konsep diri masyarakat Waghete. Batas tanah tidak pernah samar. Malah sangat jelas. Batas privasi atau wilayah privat masyarakat Mee di Waghete sangat terlihat berkat kehadiran pagar-pagar yang kokoh.
Pagar kayu itu masih diperkokoh dengan praktik sehari-hari yang hingga kini masih berlaku. Atau, mungkin saya keliru mengatakannya, praktik sehari-hari membutuhkan infrastruktur perlindungan hak milik, yaitu pagar. Dalam kehidupan bersama, masyarakat saling menenggang. Mereka tidak akan masuk ke wilayah orang lain tanpa izin. Tidak akan mereka melanggar sekadar melompati pagar tetangganya. Lebih-lebih, tidak akan mereka mengambil harta kebun orang lain. Bahkan, aku ingat sekali bagaimana—bersama pater bule dan warga setempat—ditegur serius, bahkan dengan anak panah siap terluncur, gara-gara kami mendekati kebun nota.
Agaknya, itulah sebabnya tanah-tanah klan atau marga besar benar-benar masuk ke dalam ingatan kolektif. Salah satu alasannya adalah konsep kepemilikan yang sangat kuat bertalian dengan diri. Barangkali kalimat tadi tidak cukup jelas. Maksudku, masyarakat suku Mee mendekatkan ‘milik’ dengan ‘diri’. Kalau dalam bahasa Inggris ada “I have” dan “I am” atau “to have” dan “to be”, masyakarat Mee tidak mau kehilangan miliknya karena itu berarti kehilangan dirinya. Secara lugas ingin kutafsirkan—semoga tafsir ini benar—merebut milik berarti merebut diri atau menginjak milik (misalnya tanah) berarti menginjak diri. Nanti, ketika berbicara tentang tanah dan konflik, tafsir ini bisa lebih jelas.

*) Staf Peneliti pada Lembaga Pendidikan Papua 

Bersambung .... 
BACA TRUZZ...- Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 2)

Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 1)

Senin, Juli 26, 2010

Juli 2009: dari serpihan ingatan akan kampung-kampung di tepian Danau Tigi

Oleh: Johanes Supriyono*)
Waghete, calon ibukota Kabupaten Deiyai, terletak di tepi Danau Tigi, satu dari antara tiga danau besar di Pegunungan Tengah di Provinsi Papua. Meski calon ibu kota kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Paniai, Waghete belum menampakkan kemiripan dengan kota pada umumnya. Fasilitas-fasilitas publik seperti listrik dan telepon belum ada. Jalan utama pun belum beraspal. Manakala hujan turun, jalan menjadi berlumpur dan susah ditempuh.
Atas inisiatif sendiri, beberapa penduduk memasang panel surya untuk suplai listrik rumah tangga mereka.  Jaringan pipa air bersih telah berhasil dipasang oleh sebuah LSM asing dan mampu melayani penduduk  yang menghuni kawasan sepanjang jalan utama. Sementara untuk bisa berkomunikasi dengan kota lain via telepon selular, mereka mesti ke Enarotali. Untuk itu, mereka membayar ongkos taksi Rp50.000,00 sekali jalan. Bisa jadi, biaya transportasi lebih mahal daripada biaya menelepon. 
Jalan yang belum diaspal, pada saat kemarau dengan angin pegunungan yang kencang menebar debu. Penduduk mengalami infeksi saluran pernafasan bagian atas (ISPA). Beberapa sakit mata.
Pelayanan medis belum maksimal diberikan di Waghete. Meski telah ada dokter (satu orang saja!), kerap pasien dilarikan ke Enarotali—dengan melewati jalan yang tidak mulus. Jika keluarga cukup beruntung mereka dapat menerbangkan pasien langsung ke Nabire dari Enarotali. Biaya terbang dari Enarotali ke Nabire sekitar Rp500.000,00. Jika pasien tidak bisa ditangani di Enarotali, biasanya dirujuk ke Nabire. Meski demikian, ini tidak berarti pelayanan kesehatan di Nabire sudah sangat baik.
Di Waghete saya bertemu dengan Pak Sam Posumah, guru SD yang telah menetap lebih dari 20 tahun.  Pak Sam sudah fasih berbahasa Mee. Hari itu, ia datang ke Stasi Kigou membawa obat cacing dan salep kulit untuk anak-anak. Menurut Pak Sam, banyak anak usia sekolah menderita cacingan. Kulit mereka pun bersisik. Ada juga yang korengan. Orang-orang tua pun ada yang meminta salep kulit.
Pak Sam bukanlah dokter atau tenaga medis yang bertugas di Waghete. Ia adalah guru SD dan pewarta di Gereja Santo Yohanes Pemandi Waghete. Sebagai pemuka jemaat, ia menerima tugas tambahan dari Pastor Paroki untuk menyalurkan bantuan-bantuan kesehatan. Secara rutin ia berkeliling dengan motor Honda Win merahnya.
Tentu saja, penyakit kulit dan cacingan tidak tuntas teratasi. Hanya saja, sekurangnya anak-anak di Kigou dan Yaba—yang hari itu kami kunjungi—mendapatkan obat untuk kulit dan perut. Seperti setetes air ketika kehausan mendera. Anak-anak itu begitu bersukacita. Wajah mereka berbinar-binar. Lantas, mereka berlarian dengan sorak gembira dan mengundang sahabat-sahabat yang lain untuk mengambil obat pada Pak Sam.
Tidak lama kemudian, perempuan-perempuan pun meninggalkan kebun ubi mereka di sekitar Danau Tigi. Mereka berlari menuju sumber suara. Yang belum mendapat obat langsung meminta pada Pak Sam Posumah.
“Kamu sudah saya beri kan?” Tanya Pak Sam dalam bahasa Mee.
“Belum. Mereka yang lain sudah tapi saya belum. Jadi saya minta,” jawab perempuan itu. Ia pun lalu bergabung dengan banyak orang yang lain sambil mengamat-amati dua orang ‘asing’ berkulit putih.
Entah sejak kapan, orang kulit putih mereka pandang sebagai pembawa bantuan. Di belakang Pak Sam mendengar mereka berbisik-bisik ingin tahu bantuan apa yang dibawa oleh Pedro dan Rowena. Segera Pak Sam menukas, “Mama, Bapa, anak-anak. Kami hanya bawa obat cacing dan salep kulit yang sudah saya bagi. Masih ada dua kotak lagi tapi akan saya bagikan ke kampung yang lain. Yaba dan besok Damabagata. Kami tidak membawa uang. Jadi mama-mama tidak perlu ribut bicara soal bantuan. Tidak ada. Mereka ini pater. Bukan LSM.”
Penduduk pun mengerti tapi sekaligus tidak lagi antusias dengan kunjungan orang ‘asing’ ini. Lalu Pak Agus Pekei mencoba member penjelasan lebih lengkap, “Pater ini sedang mengamati keadaan lingkungan kita. Apakah sudah terlalu rusak. Ya, pater ingin mengetahui bagaimana cara kita merusak lingkungan dan apa yang bakal terjadi pada tahun-tahun mendatang. Mungkin cara kita membuat kebun atau cara kita mendapatkan kayu. Jadi bantuan pater berwujud lain. Bukan uang. Saya harapa bapa dan mama mengerti.”
Wajah penduduk kurang gembira. Berbeda dengan anak-anak, mereka sangat gembira. Hati mereka dipenuhi oleh pengalaman yang baru: berjumpa dengan orang asing dan disapa oleh mereka. Anak-anak belia itu menyertai kemanapun Pedro dan Rowena pergi sambil memamerkan salep kulit dan obat cacing kepada teman-temannya yang tidak mendapat.
Kemudian, Pak Agus mencarikan seorang yang mau menjadi narasumber tentang teknik pertanian penduduk. Seorang perempuan yang menanam ubi rambat di pinggiran Danau Tigi yang subur, mengajak kami ke kebunnya.
ia menyilakan kami untuk melihat petak tanaman yang tidak luas. Ia sendirian bekerja, mulai dari menyiapkan lahan dan menanaminya. Biasanya, setelah menanam, mereka tidak lagi merawat tanaman sampai nanti panen. Perempuan itu juga menanam di tempat lain dengan tanaman yang sama.
Sayang, perempuan itu tidak mau mengatakan kepada ‘orang asing’ siapa namanya. Kata Pak Agus, ia takut terjadi apa-apa dengan dirinya atau keluarganya kalau sampai mengatakan siapa namanya. Pedro merasa tidak mendapat cukup informasi karena perempuan ini bukan orang yang tepat untuk dijadikan narasumber. Setelah berbasa-basi dengan mengucapkan terima kasih, kami berlalu dengan harapan dapat menemukan narasumber yang tepat.
Kami berpindah ke petak yang lain. Mata kami tertatap pada lahan nota di bidang yang miring, punggung bukit. Spontan kami putuskan untuk menuju tempat itu. Begitu mendekat ke bedeng nota itu, si pemilik kebun marah. Entah apa arti teriakan mereka itu karena semua dalam bahasa Mee. Wajah mereka tegang. Malah, ada juga yang meregangkan tali panah. Apa yang menyebabkan mereka marah, kami hanya tahu sedikit saja.
Mereka mengusir kami. Selekas mungkin kami tinggalkan tempat itu. Kemarahan itu merambat ke penduduk yang lain setelah mendengar kata-kata dari si pemilik kebun. Untunglah ada Pak Agus Pekei dan pak tonowi setempat yang masih bisa diajak bicara oleh Pak Agus. Kami pergi menjauh sambil di belakang kami ada orang-orang yang meregangkan busur. Bukan hanya laki-laki, perempuan-perempuan pun melengkingkan suaranya untuk menghalau orang-orang asing ini.
Setelah agak jauh, saya meminta penjelasan dari Pak Agus. Kurang lebih penjelasan Pak Agus seperti ini. Si pemilik kebun tidak suka ada orang asing—apalagi dari Eropa—menginjak tanahnya. Semua orang asing perlu dicurigai. Intruder tidak pernah diharapkan oleh orang Waghete. Lebih lagi, penduduk takut kalau orang asing punya maksud tersembunyi. Orang asing bisa-bisa mengundang malapetaka.
Barulah, setelah Pak Agus menjelaskan bahwa yang datang adalah seorang Pater, mereka agak reda. Seorang laki-laki, berperawakan kecil dan agak kurus, mendekati kami dan, dari wajah ramahnya, kami mengerti bahwa ia menerima kami. Ia bertanya dari mana pater datang dan apa maksud ia datang ke Waghete. Dengan senang hati ia berkisah, ia sedang belajar di Jawa.
Dari nada suaranya, aku menangkap ada rasa bangga di balik kata ‘Jawa’. Ia merasa sedikit berbeda dari ‘orang kebanyakan’. Entahlah bagaimana Jawa seakan-akan dibayangkan sebagai titik peradaban yang penting, yang lebih berbobot dikonstruksi. Banyak orang tua menginginkan suatu hari untuk bisa mengirim anak-anaknya belajar di Jawa.
“Pater ini datang dari Filipina dengan temannya, perempuan ini,” kataku sambil menunjuk pada Rowena, “Pater ini sedang ingin melihat-lihat keadaan hutan di Papua, terutama ia ingin mengerti bagaimana hubungan masyarakat dengan hutan.”

*) Staf Peneliti pada Lembaga Pendidikan Papua (LPP) 
Bersambung... Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 2)
BACA TRUZZ...- Waghete: Perjalanan Panjang ke Masa Depan (Bagian 1)

MAKNA TAHUN BARU HIJRIYAH: Bergerak, Berjuang dan Melawan

Selasa, Desember 30, 2008

Oleh : Rudy Handoko

Tak terasa saat ini kita sedang memasuki dua tahun baru. Tahun Baru Hijriyah 1430 H dan Tahun Baru Masehi 2009. Selamat Tahun Baru kuucapkan pada seluruh handai taulan. Semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih indah, lebih damai, lebih berwarna carah, lebih baik dari tahun kemarin.

Menurut Baginda Rasul, seseorang yang beruntung adalah jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok lebih baik dari hari ini. Sedangkan orang yang ‘celaka’ alias ‘gagal’ adalah jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin dan hari esoknya lebih buruk dari hari ini.

Biasanya, setiap kali tahun baru hijriyah tiba, maka akan banyak ceramah-ceramah agama yang mengingatkan akan makna dan hikmah di balik pergantian tahun, termasuk yang menceritakan tentang makna dan hikmah di balik hijrahnya Baginda Rasul yang merupakan titik sejarah perhitungan Tahun Baru Hijriyah berdasarkan peredaran bulan (lunar system).

Maksudnya, dengan memahami makna-hikmah pergantian tahun serta meneladani makna-hikmah perjalanan hijrahnya Baginda Rasul beserta Imam Ali Karamallahu Wajhahu dan sahabat, Abu Bakar RA, maka kita diharapkan mendapat suntikan rohani dan bekal semangat untuk menghadapi tahun depan yang mungkin saja lebih baik, tapi boleh jadi juga lebih menantang dan berat.

Biasanya, isi ceramah-ceramah itu, seperti yang sering ditularkan oleh para ahli dakwah, cuma sekadar menceritakan hikmah tahun baru hijriyah secara tekstual. Yaitu seputar cerita hijrah Baginda Rasul, mulai dari lolosnya Baginda Rasul ketika dikepung kaum dzalim, bersembunyi di Gua Tsur hingga sampai di Madinah Al-Munawwarah. Cerita itu selalu diulang-ulang dari tahun ke tahun.

Terlepas dari kisah tersebut, padahal ada ide-ide segar yang lebih progressif yang dapat diuraikan dari makna-hikmah hijrah itu. Seperti memaknai hikmah hijrah sebagai bentuk upaya membangun gerakan dan perlawanan terhadap kedzaliman dan memaknai upaya revolusioner Baginda Rasul mendobrak tatanan bobrok kaum elit penguasa kapitalis Mekkah.

Hijrah adalah bagian dari strategi untuk mengembangkan perlawanan dengan membangun basis kekuatan, membina kader, merangkul dan membentuk aliansi strategis serta berjuang secara bertahap, konsisten dan komitmen memberangus sistem yang korup, jahil, dan dzalim yang status quo di Mekkah dan Jazirah Arab pada saat itu.

Jika ini diletakkan pada konteks sekarang, maka élan vital perjuangan Muhammad sang Revolusioner akan terus mengharu biru dan mampu memberi semangat bagi umatnya. Terutama pada masa panca roba sosial saat ini, yang mana penjahat menjadi penguasa, penguasa adalah penindas yang sejati, rezim berkembang dan berjaya di atas penderitaan rakyat.

Seandainya semangat hijrah itu dimaknai hikmahnya secara kontekstual, mungkin kita mafhum bahwa hijrah Baginda Rasul bukan sekedar cerita agama atau roman pengantar tidur. Sekarang hijrah bukan sekadar cerita berpindah secara fisik, tapi hijrah adalah memuat semangat perlawanan dan upaya untuk membangun peradaban yang lebih baik. Terlebih kita sedang mengalami peradaban rusak, peradaban yang kapitalistik dan menghisap, peradaban yang dibuat para penindas untuk melanggengkan status quo dan penindasan.

Jika kita sedang berada di negeri yang korup, jahil dan dzalim, maka hijrah adalah bergerak-berjuang-melawan untuk mengubahnya. Ada sebuah plesetan (positif) tentang ayat suci Al-Quran yang kira-kira bunyinya begini; ”Sesungguhnya syirik itu adalah kedzaliman yang nyata,” diplesetkan menjadi “Sesungguhnya kedzaliman itulah kesyirikan yang nyata". Maka kedzaliman harus dilawan!

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1430 H
-------------------------------------
Sumber: http://kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20081228224832

BACA TRUZZ...- MAKNA TAHUN BARU HIJRIYAH: Bergerak, Berjuang dan Melawan

Sang Revolusioner Sejati

Kamis, November 13, 2008

Membaca judul di atas saat dalam suasana peringatan hari kembangkitan nasional, mengingatkan kepada tokoh-tokoh heroisme dalam revolusi sejarah Indonesia. Ataupun bagi pejuang kemanusiaan di Papua seperti Arnold. C. Ap, Theys Ellway.

Sejarah masa lalu itu menguak, menggugat pemuda negeri ini, menentukan arah kemerdekaan bangsa, disaat atmosfer kemiskinan, penyakit korupsi meraja dan kepentingan golongan agam memperjuangkan UU Pornografi, Syariah dan dengan kedok menyelamatkan negara, tetapi bisa jadi sebaliknya merong-rong negara berasas Pancasila ini tidak menentu akan dibawah kemana?

Di tepian sudut lain, judul ini agak jadi bombastis, hiperbolah sehingga niscaya saat sekarang membahas revolusi ataupun revolusioner menjadi suram, kabur dan bahkan buruk. Sudah diberi setriotip penghancuran dan pengrusakan. Bahkan juga sampai ada yang takut dengan kata itu. Ada juga yang sampai mengatakan sudah tidak relevan lagi dibahas di Indonesia. Meskipun kebijakan di negara ini berpihak pada industriawan kapitalis; masyarakat tergusur, tanah masyarakat disita, kekayaan alam air, emas menjadi milik negara luar. Reformasi yang bergulis 1998 sepertinya tidak memiliki gigi lagi. Lalua bagaiman bagi masyarakat di Papua yang mungkin sedikit awam dengan kata itu? Apakah revolusi masi konteks untuk dibahas? Kalau masih apa yang orang Papua harus siapkan? Saya yakin, bukan materi yang harus kita siapkan tetapi HATI YANG TULUS UNTUK MEMPERJUANGKAN KEBENARAN! ini menurut saya, kita bisa beda to...

Jiwa Revolusioner

Revolusi atau perubahan dalam waktu yang cepat atas nama rakyat tertindas menjatukan penguasa dan mengganti sistem ketatanegaraan sebagai sumber ketertindasan dan kemelaratan rakyat oleh pemerintah papitalis ataupun diktator dan kolonialisme. Para pemimpin revolusilah yang biasa disebut revolusioner. Dalam arti lebih luas sebagai sebuah istilah atau kontruksi kata ini menunjuk orang yang bertindak melakukan perubaha terhadap keadan yang tidak diterimah.

Revolusioner mirip pejuang, tetapi pejuang saja tidak cukup sangat umum, bisa murtat, menghianati sahabat-sahabatnya. Pejuang layak ditambah sejatinya menjadi perjuang sejati. Pejuaang sejati yang tidak pernah menyerah atas idealisme yang dicita-citakan. Bahkan sampai mati sekalipun ditembak, dipasung dalam penjarah ataupun dieksekusi di depan umum. Itulah seorang revolusioner. Kalau ada penilain berbeda, dipermonggo supaya berdemokrasi to...

Kehadirannya seorang revolusioner dimata penguasa dan kakitangannya dipandang sebagai musuh. Mereka dianggap penghasut, propokator, penyemprot gas beracun kepada masyarkat. Ekstrimya mereka disamakan dengan penjahat yang mesti dieksekusi. Pandangan negatif itu membuktikan ketakutan penguasa, pemilik modal dan kakitangannya kepada seorang revolusioner.

Sosok ini selalu siap berjuang menyadarkan rakyat yang melarat, bawa sistem yang membodohi rakyat adalah musuh rakyat. Memberikan penyadaran, bahwa rakyat tidak layal menerimah pemerintah otoriteritarian yang seolah-olah semua baik, aman, tentram damai menerima status mereka yang miskin, menderita melarat, terlunta-lunta di negeri sendiri sebagai nasib atau kutukan Tuhan.

Ia adalah jiwa yang telah membebaskan diri lebih dahulu dari pikiran kerdil penguasa penjajah untuk memina bobokan dengan iming-iming uang, jabatan, suku, agama. Dia tidak mudah dibeli oleh semua itu. Jiwanya selalu besar, tidak tunduk menyembah pada hal duniawi yang dapat menyesatkan pikiran dan jiwanya menajadi tandus, kerdil, kering dan mati sudah!

Aktivitasnya menarik dan mendatangkan simpati rakyat. Perbuatanya radikal, siap diikuti, dan mengajak rakyat mandiri tidak bergantun pada penguasa yang berupaya menanamkan pikiran kerdil membunuh kemanusian.

Jiwanya yang sejati relah menaru diri pada perjuang kemerdekaan, kebebasan, cintah kasih. Atas dasar ini, seorang revolusioner membangkitkan kesadaran, perlawanan kepada mereka yang bermata dua, pura-pura cinta damai, namun sesungguhnya tidak tulus cintai kemerdekaan, kebebasan, cinta kasih. Tidak pernah dia mengatasnamakan agama, negara dan jabatan. Perjuangannya atas nama kemanusiana.

Pribadi pemberani ini cerdas megerti rantai ketertindasan yang mempertahankan sistem ketidak adil. Karismanya akan membuat masyarakat semakin gelisah, tidak akan tinggal diam dan tidak takut kepada penguasa tangan besi.

Ia adalah seorang motivator yang dapat membangkitkan semangat dan kekuatan masyarakat. Membuat rakyatnya siap dan relah meluapkan keberanian menghadapi panser, tank, militer, pesawat tempur dan militernya. Masyarakat akan melawan, menuntut kebebasan kemerdekaan, perdamaian dan memperjuangkan cintah kasih.

Pribadi ini dikagumi dan tidak takut pada banyaknya tangk, tidak takut pada meriam, pada bedil muliter dan sama sekali tidak takut pada pengucilan, pengusiran, kemunafikan hukum, bahkan tidak takuta pada kematian. Dia pertarukan hidup untuk suatu perubahan menuju kemerdekaan, kedamaian, dan cinta kasih.

Berbalik dari itu, seorang revolusioner takut bila tidak memperjuangnakan kebenaran, keadilan, kejujuran, kemerdekaan, perdamaian dan cintah kasih demi kemanusiaan. Artinya orang ini jiwanya hanya takut kepada kebenaran Tuhan Allah yang mencintai kemanusiaan.

Pribadi seperti ini tidak penyembah agama dan negara yang melakuka tindakan kebiadapan membunuh banyak orang mengatasnamakan negara, kekuasaan dan demi agama Allah. Menurut jiwa seorang revolusioner, Allah tidak bernegara, tidak beragama. Allah hanya berkemanusiaan!

Yesus Revolusiner Sejati?


Pantaskah putra Yusuf tukang kayu dan Maria, yaitu Yesus dari Nazaret sebagi sosok revolusioner? Pertanyaan itu agaknya memicu kontrevesial dari jejeran buku mengenai Yesus, seperti Davici Code terjemahan bahasa Indonesia.

Duduk persolan apakah Yesus yang merubah dunia melalui ajarah cintah dan kasih layak disebut revolusioner? Menurut beberapa pandangan, Yesus tidak pernah berjuangan melakukan revolusi kemerdekaan mengakat nasip rakyatnya yang tertindas di zamannya.

Tetapi dalam kata-kata, ucapan dan perbuatanya namapak ada upaya menentang Romawi, Imam_imam Ahli Taurat dan terutama orang picik hatinya. Namun, nampaknya perjuagnanya dilakukan dengan cintah kasih menentang akar ketertindasan.

Ada tiga akar keterpenjajahan saat Yesus hidup. Pertama kerajana imperium Romawi yang sedang menjajah. Ketika itu masyarakat menderita, pajak sangat tinggi, masyarakat miskin dan melarat, di negerinya sendiri. Penderitana Kedua, Imam-Imam kepala pada saat menjadikan taurat Musa untuk menghukum penduduk setempat. Ketiga, yang paling ditentang adalah kepicikan hati manusia yang percaya politeisme (banyak dewa) dan tidak percaya pada Tuhan.

Sebagai pribadi yang ditentang sekaligus diterima, guru cinta kasih itu tampil di antara ketiga akar keterjajahan saat, namun tidak pernah DIA menempatkan Romawi maupun Imam-Imam Taurat sebagai lawan. Cintah kasih yang dinyatakan lewat tutur kata, perbuatan yang tulus dan muzisat memukau dan telah menarik simpati banyak orang. Janda-janda miskin, penderita cacat dan sebagainya menerima dan mengatakan Yesus sebagai Mesias atau penyelamat.

SANG pembawa kabar gembira bagi semua orang itu, ternyata bagi para-ahli Taurat Musa, Kerajaan Romawi, dan orang picik adalah pribadi yang mengacam kejayaan dan kekuasaan. Meskipun dalam kesetiaannya melayani DIA tidak pernah memilih-milih.

Pelayan setia itu, melayani semua orang dan menjadi teman semua orang tanpa membedakan bangsawan dan rakyat jelata. Kerajaan Romawi dan Imam-Imam Taurat, memberikan gelar di sebaai “Raja Orang Yahudi” itu sebagai penghasut atau provokator, dan bahkan penentang.

Anak tukang Kayu, Yusif itu dipandang musuh, karena ucapannya, dinilai tampak sedang melawanan Romawi dan Alih Taurat serta pribadi manusia yang congkak. Mencermati tutur katanya, Yesus seperti mengajak membangkang terhadap kerajaan Romawidan Imam Taurat.

DIA datang untuk menyelamatkan orang picik. Secara terang-terangan menentang mengajak orang picik untuk bertobat. Meskipun dituduh menentang Romawi dan ajaran tradisi Taurat Musa yang diterapkan sangat kaku oleh Imam-imam kepala. Misalnya menurut turat Musa Orang dilarang bekerja di hari sabat, Yesus malah melakukan mujizat penyembuhan di hari sabat. Melempari orang berzina, Yesus mengatakan siapa yang tidak pernah melakukan dosa boleh melempar dll bisa tambakan sendiri.

Ketika pengikutnya makin banyak, Romawi dan Imam-Imam Taurat semakin ketakutan. Meski tidak ada kesalahan Yesus ditangkap, dengan alasan mengujat pemerintahan dan Imam-imam Taurat. Pribadi yang setia pada kebenaran Allah itu diperlakukan sebagai seorang penjahat. Ini bukti, bahwa penguasa, para alih Taurat, dan orang picik sangat takut terhadap cinta kasih dan kebenaran akan ALLah.

Pribadi yang suka menghibur dan cinta damai, dalam memperjuangan keberanan ILLHI tidak dilakukannya tanpa ada kekerasan, tidak menghendaki pentumpahan dara apa lagi melukai orang lain pun DIA tidak relah.

PRIBADI yang bertentangan dengan para perjuangan revolus denga menghalalkan segalah cara, seperti ayah dari Yudas Iskariot adalah seorang yang mengakat senjata menentang Roamwi dan dia pun mati disalipkan sebagai penjahat.

Sebagai seorang pejuang sejati, PRIBADI yang tabah itu telah memperjuangkan tujuan ILLAHI. Yesus menunjukan keberanianya relah memikul salip tanda penghianata Imam-imam tahuara dan Romawi. PENEYELAMAT jiwa diperlakukan seperti seorang penjahat, mati dipaku dan ditombak di kayu salip.

Dialah seorang revolusioner sejati. Meskipun tidak menumbangkan kerajaan Romawi, tetapi ajaran cinta kasih meradikal dan merubah dunia. Ajarannya meluas, sampai saat ini Yesus dikenang sebagai palawan cinta kasih yang berani merubah dunia.

Reovolusioner sejati ini memberikan harapan dan menjajikan sebuah kehidupan yang lebih tentram dan damai bila mengedepankan cinta kasih dan kebenaran. Sampai saat ini masih tersuarakan, dan akan menjadi abadi dalam sejarah hidup manusia. DIA akan dikenang sepangjang masa.

DIA Petunjuk Jalan


Yesus menujukan suatu jalan menuju revolusi, bahwa revolusi akan terjadi bilah manusia meninggalkan kepicikan bertobat kepada Allah dan melawan anti kemanusiaan dengan rendah hati tanpa kekerasan dengan cinta kasih. Ajaran itu mengispirasi Mahatma Gandhi.

Menurut Stananley Wolpert, dalam karyanya Berjusul Mahatma Gandhi Sang Penakluk Kekerasan Hidup dan Ajarannya, sedikit menguraikan sosok Yesus yang dikagumi Gandhi. Gerakan yang di pimpin Gandhi mengutamakan Ahimasa (menyamakan dengan tanpa Kekerasan), atau dia lebih suka mendefinisikannya sebagai “cinta” dengan Tuhan. Dia juga yakin bahwa “kebenaran (satya) adalah Tuhan,” dan mencurakan hidupnya untuk pencarian passionate.

Passionate Gandhi meliputi tapas yang mengajarkan untuk melupakan ketakutan. Dengan melakukan perjuangan tanpa kekerasan, Mahatma Gandi memimpin rakyat India untuk bebas dari penjajah Inggris. Selain itu, kita kenal Marten Luter Pendeta pemimpin perjuangan tanpa kekerasan menentang rasis di Amerika. Ada Uskup Romero, Bunda Teresia dari Calkuta, sebelum kematinanya telah melakukan karya besar untuk orang miskin, serta Romo Mangun Wijaya dengan karyanya dan sebaganya.

DIA Pangil Nama Saya

Dengar DIA memangil nama saya, juga DIA memangil namamu. Bergiranglah setiap manusia yang Dipanggil oleh NYA. DIA memanggil semua orang, tanpa kenal bangsa, suku, golongan, agama.

Terutama, bergiranglah orang Kristen yang hidup menurut ajaran Kristus guru cinta kasih dan berpegang pada Alkitap sebagai dasar Iman kepada Allah untuk melanjutkan karya penyelamatan yang diwariskan Yesus.

Ingat, kata DIA, JANGAN TAKUT, AKU MENYERTAIMU. DIA menjadi spirit kita mewartakan cinta kasih, memperjuangkan, kemerdekan, kebenaran, dan kemanusiaan. Meskipun tidak mesti seektrim Yesus dan mereka yang disebutkan di atas. Kita terpanggil menajadi penabur benih kebenaran, cinta kasih dan kemanusiaan di dalam keluarga, di dalam menjalankan tugas profesi dan di dalam hidup bertetangga disekitar kita. Amin. (Longgi/Yogya, Bulan Sepuluh, Hari Dua puluh tiga, 2008)


BACA TRUZZ...- Sang Revolusioner Sejati

Jangan Berkata 'Tidak' Sebelum Mencoba

Rabu, Juni 18, 2008

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?"

"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?".

"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?"

"Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?"

"Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam.

"Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"
"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias. Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Renungan:

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.

Kata Bijak:
Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah, dan air mata. Tetapi ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.

Sumber: http://www.conectique.com/enlight_your_life/article.php?article_id=5438

BACA TRUZZ...- Jangan Berkata 'Tidak' Sebelum Mencoba

Hidup Itu Memilih

Jerry adalah seorang manajer restoran di Amerika. Dia selalu dalam semangat yang baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia akan selalu menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar!"

Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja, sehingga
mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran yang lain.
Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry adalah karena sikapnya.

Jerry adalah seorang motivator alami. Jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana, memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialami.

Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, "Aku tidak mengerti! Tidak mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu. Bagaimana kamu dapat melakukannya?"

Jerry menjawab, "Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu.

Setiap ada seseorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya. Aku selalu memilih sisi positifnya."

'Tetapi tidak selalu semudah itu," protesku. "Ya, memang begitu," kata Jerry, "Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi terhadap semua keadaan.

Kamu memilih bagaimana orang-orang di sekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup."

Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran, yaitu membiarkan pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang bersenjata.

Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit.

Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan setelah musibah tersebut. Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas luka-lukaku?"

Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan. "Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang," jawab Jerry.. "Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk hidup."

"Apakah kamu tidak takut?" tanyaku. Jerry melanjutkan, "Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata 'Orang ini akan mati'. Aku tahu aku harus mengambil tindakan."

"Apa yang kamu lakukan?" tanya saya.
"Di sana ada suster gemuk yang bertanya padaku," kata Jerry.
"Dia bertanya apakah aku punya alergi. 'Ya' jawabku.

Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, 'Peluru!' di tengah tertawa mereka, aku katakan, "Aku memilih untuk hidup!". Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati'."

Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena sikap hidupnya yang mengagumkan. Aku belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya.

Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu. Jika kamu bisa mengendalikannya maka hidup akan jadi lebih mudah.
---------------------------------------------------------------------------------------

Sumber: http://www.conectique.com/enlight_your_life/article.php?article_id=6054
BACA TRUZZ...- Hidup Itu Memilih

Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan Waktu

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.

Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.

Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.

"Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta.
"Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini."

Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali,
namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta. "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta. "Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja ...." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!"

Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu.

Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu. "Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu," kata orang itu. "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku," tanya Cinta heran. "Sebab," kata orang itu, "Hanya Waktu-lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu ..
----------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber:http://www.conectique.com/enlight_your_life/article.php?article_id=6394

BACA TRUZZ...- Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan Waktu

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut