Tampilkan postingan dengan label Liputan Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan Pendidikan. Tampilkan semua postingan

TIDAK MENCAIRKAN DANA UNJIAN, SEKOLAH DASAR SE- KABUPATEN DOGIYAI MOGOK BELAJAR-MENGAJAR

Kamis, Mei 19, 2011


Hari ini (19/5) di Dogiyai guru-guru mogok mengajar, hal ini diakibatkan karena pemerintah tidak mencairkan dana Ujian yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu. Dari beberapa sumber (guru,red) yang berhasil dihubungi dikatakan seluruh sekolah yang ada di kabupaten Dogiyai mulai dari Sukikai sampai dengan Ugapuga mogok mengajar. Mogok belajar-mengajar ini adalah atas himbauan dari ketua PGRI Kabupaten Dogiyai Yustinus Agapa. Dikatakan beberapa waktu ke depan mogok belajar-mengajar ini akan berlanjut hingga pemerintah dalam hal ini Dikbudpora Kabupaten Dogiyai mengambil suatu kesepakatan dengan guru-guru.

Anehnya Ujian Nasional yang diselenggarakan beberapa waktu adalah tanpa alokasi dana dari pemerintah setempat. oleh karenanya guru-guru SD yang ada di Dogiyai menunggu sampai tuntutan mereka direalisasi. Tuntutan tersebut pemerintah memberikan siswa/peserta ujian sebesar Rp. 400.000,-/siswa. Jika hal ini tidak direalisasi oleh pemerintah maka Kepala Sekolah dari setiap SD yang ada di Kabupaten Dogiyai akan memberikan kunci sekolah kepada Dinas Pendidikan. Dikatakan hal ini adalah kesepakatan setiap kepala sekolah yang berhasil diputuskan di SD YPPK Moanemani (17/5) lalu.

Hal ini dibantah oleh Kepala Dikbudpora kabupaten Dogiyai Drs. Andreas Yobee, M.Hum., bahwa dana untuk ujian nasional sudah kami cairkan, namun guru-guru tidak mengerti dengan semua yang disampaikan. “kami sudah cairkan dana sebesar Rp. 570.100.000,- dari pos nondik, sebenarnya dana untuk ujian ini digunakan oleh dana otsus, namun karena masih belum disahkan sehingga kami gunakan dana nondik, itupun dipijam dan pos lain dan akan ditutup lagi setelah dana otsus disahkan, kata Andreas Yobee. Guru-guru malah minta tambah karena mereka kira dinas menghabiskan dana untuk ujian, saya kira guru-guru menjelekkan dinas Pendidikan, lanjutnya.

Ketua Lembaga Pendidikan Papua, Longginus Pekei, S.Pd., menyayangkan kejadian ini, karena hal ini merupakan tanggung jawab pemerintah, mogok mengajar yang terjadi ini wajar karena merupakan kelalaian dinas pendidikan setempat dalam mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan masalah yang akan terjadi dan yang jelas akibatnya akan berdampak pada siswa nanti. Ia mengambil contoh pada jumlah kelulusan di Kabupaten Nabire pada tahun ini, di SMA Adhi Luhur 8 orang tidak lulus dan 7 orang diantaranya berasal dari suku Mee, juga jumlah kelulusan SMA lain yang ada di Nabire adalah yang terbanyak berasal dari suku Mee. Kabupaten Dogiyai adalah tempat dimana berasalnya suku Mee, sehingga diharapakan pemerintah perlu mengevaluasi kembali pola belajar-mengajar yang tepat dengan guru-guru. Tidak dicairkannya dana ujian dan kesejahteraan guru tidak diperhatikan itu memang benar, namun guru-guru juga perlu sadar terhadap dampak yang akan terjadi jika mogok belajar-mengajar ini berlarut sampai memakan waktu yang cukup lama. Jelasnya. Siswa yang akan menjadi korban dari semua ini. karena untuk memajukan suatu daerah pendidikanlah yang menjadi tolak ukurnya.

Sementara itu, salah satu guru honorer yang sedang mengabdi juga membenarkan kejadian ini, pemerintah seakan-akan tidak menghargai dengan perjuangan kami, sudah tiga tahun kami masih belum mendapatkankan honor, namun kami masih menjalankan tugas kami sebagai guru honor, karena kami mencintai adik-adik kami. Kata Esebius Anouw. Hal ini diperkuat lagi oleh salah satu kepala sekolah bahwa semua guru honor yang ada di kabupaten Dogiyai masih belum mendapatkan keringat mereka, beberapa orang memang sempat mendapatkan honor tapi itupun dijawab setelah melakukan aksi.

Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap bangsa di dunia. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju atau tidaknya suatu negara di pengaruhi oleh faktor pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat diukur apakah bangsa itu maju atau mundur, karna seperti yang kita ketahui bahwa suatu Pendidikan tentunya akan mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas baik dari segi spritual, intelegensi dan skill dan pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa. Apabila output dari proses pendidikan ini gagal maka sulit dibayangkan bagaimana dapat mencapai kemajuan. Bagi suatu bangsa yang ingin maju, pendidik harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan sama halnya dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Maka tentunya peningkatan mutu pendidikan juga berpengaruh terhadap perkembangan suatu bangsa. (Egeidaby)
BACA TRUZZ...- TIDAK MENCAIRKAN DANA UNJIAN, SEKOLAH DASAR SE- KABUPATEN DOGIYAI MOGOK BELAJAR-MENGAJAR

Mahasiswa Papua Dituntut untuk Memahami Arti Pendidikan yang Sesungguhnya.

Senin, Maret 14, 2011

Diskusi Iyoo/ihoo, 12 Maret 2011

“Saya melihat di televisi orang tidak memiliki ijazah ada yang sukses menjadi pengusaha besi bekas”, (Kompas, 24 Mei 06)/ Kalimat ini diucapkan oleh Hilmy. Hilmy adalah seorang gadis remaja kelas tiga sekolah alternatif SMP Qaryah Thayyibah di lereng Gunung Merbabu. Waktu itu, teman-teman sebaya di sekolah formal sibuk mempersiapkan diri ikut Ujian Nasional (UN) dan panik ketika akan mendengar hasil kelulusan UN.

Seorang Gadis SMP saja bisa berpikir orang tanpa ijasah saja bisa sukses walaupun boleh dikata mereka di pulau Jawa hidupnya keras, karena lahan yang mereka miliki pun sempit untuk bisa membuka usaha tetapi seorang siswa ini dia sudah berpikir jauh dan memahami tentang pendidikan. Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan buat kita mahasiswa Papua yang sedang menganyam pendidikan di tanah Jawa ini.


Pendidikan merupakan hal vital yang dapat kita membantuk suatu dedikasi untuk memperhitungkan ouputnya. Agar ita bisa memahami bahwa pendidikan menjadi sarana bukan menjadi tujuan. Ijasah merupakan suatu pencapaian hasil dari suatu jenjang pendidikan. Jadi jangan kita membeli sekolah tetapi sesuatu yang dapat kita terima setelah kita sekolah. Intinya adalah pendidikan bukan Ijasah, Kata Mery Bame. Lalu ia pun mencoba memberikan solusi bahwa, kalau kita mau agar hal itu dapat berjalan dengan baik maka kita harus keluar dari rutinitas sekolah, mencapai tujuan, keluar dari budaya atau kebiasaan 1. Takut 2. Kita tidak mau 3. Untuk keluar penuh dukungan, Pungkas Mery seorang Mahasiswi Sanata Dharma Yogyakarta.

Oleh sebab itu, Pendidikan yang kita terima dibangku kuliah itu dapat memahami dan harapannya dimemperaktekan dilapangan walaupun orang tua kita utamakan adalah bagaimana kita mendapatkan ijasah dan pulang bisa bekerja [ hal itu tidak dipungkiri bahwa itu telah menjadi budaya orang tua kita kita]. Dengan hal itu kadang mahasiswa menjadi santai karena setelah lulus tunggu tes PNS [Pegawai Negeri Sipil], secara otomatis akan menjadi pekerja Negara Indonesia, sebelum masuk kedunia kerja bisa membuka usaha agar pengganguran. Sebaik Mereka mebuka usaha Ungkap Yosina mahasiswa yang sedang menempu pendidikan bagian ekonomi.

Membuka usaha diPapua cocok karena memunyai kekayaan alam yang berlimpah,oleh sebab itu, harapan saya kita bisa mengunakan kemampuan kita yang ada selama kita kuliah untuk megimplementasikan jagan sebatas teori saja, tetapi diimbangi dengan praktek dilapangan. Hal itu yang kadang kurang di Tanah Papua. Yosina
Kita bisa menerapkan teori yang kita terima selama ini dibangku study tetapi Kehidupan masayarakat Papua dan kehidupan masyarakat Jawa tidak sama, disini mereka walaupun tanah tidak luas pun mereka bisa berwirah usaha karena kehidupan mereka telah terhimpit dalam kehidupan yang keras. Dengan kehidupan yang keras akan menciptakan kehidupan ekonomi yang baik dan berwirausaha. Tetapi kalau kita melihat ditanah papua dengan melakukan kebiasaan kita yaitu mengambil semuanya dari bahan alami itu berarti kita telah menyiasati hidup dan bisa dikaitkan itu pendidikan, pungkas Oce mahasiswa Sanata Dharma.

Memang ada yang mengatakan pendidikan ditanah Papua telah gagal atau orang tua masing-masing yang telah gagal mendidikan anak-anaknya. Mengapa demikian? Karena banyak anak-anak yang datang ke Yogyakarta untuk mengayam pendidikan tetapi sampai disini mereka mengonsumsi miras mengunakan uang yang diberikan oleh orang tua berarti mereka merugikan biaya orang tuanya. Hal itu terjadi juga mereka belum memahami pendidikan itu terlebih dahulu dan yang jelas mereka mengharapkan ijasah dan pulang dapat menunggu PNS dan masuk PNS lalu bekerja.kata Yeri Dogomo Mahasiswa APMD.

Lanjutnya Guru-guru [paklaawan tanpa jasa] mengalikan profesinya ke menjadi wakil rakyat [DPR], hal itu sudah, sedang, dan akan. terjadi tanah Papua. Dengan masuknya otonomi daerah dan Pemekaran juga tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi. Intinya bahwa mereka belum memahami pendidikan itu dengan baik. Walaupun alasan mereka secara skrim yaitu kesejatheraan belum diperhatikan.

Kesimpulan dari kami sebagai mahasiswa papua penerus generasi Papua harus memahami pendidikan, lalu menyikapi seluruh masalah yang sedang terjadi tanah papua di berbagai aspek agar kelak kita bisa menyiasati kehidupan sebagai bangsa papua yang memunyai harga diri dihadapan orang lain. Harapan kita sekolah bukan untuk menjadi pekerja Indonesia tetapi bisa membebaskan masyarakat Papua dari pelbagai masalah yang terjadi tanah luka Papua. [Agus Dogomo]
BACA TRUZZ...- Mahasiswa Papua Dituntut untuk Memahami Arti Pendidikan yang Sesungguhnya.

Adhi Luhur Adakan Semiloka “Peran Guru dalam Pendampingan Siswa”

Minggu, Februari 28, 2010

Ada suatu keprihatinan yang mendalam atas pendampingan siswa di tanah Papua.

Nabire-- Hari ini Senin, (1/3), Kolese Le Cocq d’Armandville, SMA YPPK Adhi Luhur Nabire mengadakan seminar dan lokakarya (Semiloka) bertema “Peran Guru dalam Pendampingan Siswa” di ruang Laboratorun Bahasa Adhi Luhur Nabire, Papua.

Kepala SMA Adhi Luhur Nabire, Pastor Mardi Santosa, S.J., mengatakan, Semiloka itu menghadirkan dua pembicara dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yaitu Priyo Widiyanto, M.Si dan Setyandari, S.Pd., Psi., MA.

Panitia pelaksana yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Yuventus Tri Priyomiyoso, S.Pd., mengatakan, lokakarya ini akan berlangsung empat hari dan mengundang sejumlah guru dari SMA di Nabire.

“Semiloka ini akan berlangsung mulai tanggal 1 sampai dengan 4 Maret 2010. Kami juga mengundang sejumlah guru dari beberapa SMA di Nabire. Misalnya, dari SMA Negeri 3, SMA YPK Tabernakel, SMA Yapis, SMA Negeri 1, SMP YPPK At. Antonius dan lainnya,” kata Yuventus.

Dalam sambutannya, Kepala SMA Adhi Luhur Nabire yang sering disapa Romo (pastor: red) Mardi itu mengatakan, Semiloka “Peran Guru dalam Pendampingan Siswa” siswa itu diadakan karena ada satu keprihatinan yang mendalam atas pendampingan siswa di tanah Papua, khususnya di Nabire.

“Kami melihat bahwa anak-anak di Nabire kurang mendapatkan mendampingan yang baik di sekolah dan di rumah. Maka, dengan Semiloka ini diharapkan ke depan kita dapat mendampingi anak-anak kita dengan baik,” kata Mardi.

Mesak Mofu, S.Pd., Kepada Bidang Bina SMA/MA/SMK dalam sambutannya mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire mengatakan, Dinas Pendidikan Nabire menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh SMA Adhi Luhur. “Kegiatan ini penting dalam rangka tidak hanya memahami sisi akademik tetapi pelayalanan kepada siswa. Satu bidang studi pengembangan diri sedang dikembangkan maka seminar ini dapat memberikan teknis penulisan KTSP”.

“Ada yang dibangun oleh SMA Adhi Luhur di Nabire yaitu nilai tambah dengan mengundang para pembicara berkualitas dari luar. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada narasumber yang datang memberikan materi yang akan menjadi nilai tambah untuk mendampingi siswa di Nabire,” kata Mofu.

Mesak Mofu, S.Pd. atas nama kepala Dinas Pendidikan berharap para guru dapat meningkatkan kemampuannya melalui Similoka itu mendampingi siswa sesuai dengan karakter dan lingkungan mereka. ***


BACA TRUZZ...- Adhi Luhur Adakan Semiloka “Peran Guru dalam Pendampingan Siswa”

Ujian Paket Formal A, B, dan C di Nabire Tidak Ada Dana

Senin, Juni 29, 2009

Biaya Ujian Peket C Formal di Nabire Rp400.000,00/Peserta

Ujian paket A (setara SD), paket B (setara SMP), paket C (setara SMA) nonformal dan formal (ujian untuk siswa yang tidak lulus Ujian Nasional:red) jalurnya berbeda. Sehingga, pelaksanaan ujian tidak bisa disatukan. Peket A, B, dan C nonformal itu, nama-nama peserta sudah dikrim ke Jakarta pada enam bulan yang lalu. Maka, soal dan LJK yang tersedia juga sesuai dengan jumlah peserta yang terdaftar. Sementara paket A, B, dan C formal belum.

Kapala Bidang Pendidikan Luar Sekolah, Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Nabire, Yustinus Wakey kepada wartawan, Selasa, (23/6) di ruang kerjanya mengatakan, kebanyakan orang, terutama kepala SD, SMP, SMA masih belum mengerti soal ini. Soal dan LJK untuk untuk Paket A, B, dan C nonformal sudah ada sesuai dengan jumlah yang terdaftar. Sementara, untuk paket A, B, dan C formal soalnya masih belum ada. Baru akan dikirim dari Jayapura. Maka pelaksanaannya setelah selesai ujian peket nonformal.

Ketika ditanya soal pengutan pelaksanaan ujian paket B formal Rp300.000,00 dan paket C Rp400.000,00 Wakey mengatakan, pelaksanaan ujian paket A, B, dan C formal tidak ada dana sama sekali.

“Dana yang ada hanya untuk pelaksaan paket A, B, dan C nonformal yang nama-namanya sudah dikirim ke Jakarta. Sementara, untuk paket formal tidak ada dana dari dikjar kabupaten, provinsi, dan memang tidak ada dana dari pusat. Sehingga, kami harus menagih dari peserta ujian,” katanya.

Kata dia, ujian paket formal baru tahun ke dua kami adakan. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, biaya ujian paket C tiap peserta menyumbang Rp300.000,00 tetapi dinilai tidak cukup untuk berbagai keperluan. Maka, tahun ini kami menaikan menjadi Rp400.000, 00 untuk peket C formal dan Rp300.000, 00 untuk paket B formal.

Sumbangan peserta itu, katanya, digunakan untuk (1) uang fotokopi soal dan LJK semua mata pelajaran, (2) membayar tempat pelaksanaan, (3) honor pengawas, (4) uang makan dan minum pada saat ujian berlangsung, (5) biaya cetak nomor ujian, (5) biaya untuk mengantar hasil ujian ke Jayapura, dan biaya lainnya.

Kabid PLS Dikjar Nabire mengatakan, supaya tidak memberatkan para peserta ujian paket formal dengan tagihan yang dinilai basar, pemerintah perlu mengalokasikan dana khusus. “Saya sudah pernah usul dalam rencana kerja sama, tetapi hal ini belum ditanggapi. Maka, saya usul kepada pemerintah dan DPRD juga harus membicarakan hal ini. Kita semua tidak ada ada pungutan-pungutan seperti itu, “katanya.

“Hingga saat ini peserta ujian paket formal setara SMP baru 2 orang yang mendaftar. Sementara, setara SMA sudah delapan orang. Maka, kami masih terus membuka pendaftaran beberapa hari ke depan selama ujian paket A, B, dan C nonformal berlangsung ,” kata Kabid PLS.

Peserta yang ingin ikut paket formal silakan kepala sekolah atau siswa sendiri datang ke PLS dengan membawa surat keterangan dari sekolah dan ijazah tingkat pendidikan sebelumnya. Ujian paket formal akan diadakan setelah ujian paket nonformal. Diperkirakan akan dilaksanakan tanggal 26 ke atas. [yer]

BACA TRUZZ...- Ujian Paket Formal A, B, dan C di Nabire Tidak Ada Dana

Tingkat Kelulusan SD 95,58 Persen

Senin, Juni 23, 2008

Hasil Ujian Standar Nasional Pendidikan Dasar Tahun Ajaran 2007-2008 di Kabupaten Mimika diumumkan oleh kepada kepala sekolah SD masing-masing Senin (23/6) kemarin. Dari 2.238 peserta ujian, sebanyak 2.139 peserta (95,55 persen) dinyatakan lulus. Kemudian 99 peserta lainnya (4,42 persen) dinyatakan tidak lulus.

Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Mimika, Ausilius You, SPd, MM melalui Kepala Seksi Kurikulum, Hendrikus Tofi mengatakan sesuai catatan Dinas P & P Kabupaten Mimika, tingkat kelulusan pelajar SD tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu yang mencapai 94,72 persen.

Dari persentase pelajar SD yang tidak lulus tersebut, sesuai data yang dihimpun Radar Timika dari Subdin Pendidikan Dasar Dinas P & P Mimika, menyebutkan sebanyak 18 siswa SD Sempan Barat dinyatakan tidak lulus dari 146 jumlah siswa yang mengikuti ujian. Angka ini merupakan yang tertinggi dari 65 SD lainnya.

Selain itu, di SD Inpres Timika IV sebanyak tujuh peserta ujian dinyatakan tidak lulus. Kemudian di SD Negeri Kadun Jaya dan SD Inpres Timika V sebanyak delapan pelajar dinyatakan tidak lulus.

Hendrikus Tofi mewakili Kasubdin Pendidikan Dasar, Robert Martayuta, SPd yang ditemui Radar Timika di ruangan kerjanya Senin (23/6), menjelaskan Ujian Standar Nasional Pendidikan Dasar baru pertama kali digelar.

"Ujian seperti ini baru pertama kali (dilaksanakan, red.), tapi hasil yang dicapai sangat baik. Ini dijadikan acuan untuk tahun depan lebih dipersiapkan lagi," kata Hendrikus.

Hasil ujian secara umum, menurutnya memberi angin segar sekaligus acuan dalam rangka mempersiapkan ujian tahun depan agar hasil yang dicapai lebih bagus.

Hendrikus menambahkan bahwa Ujian Standar Nasional berbeda dengan ujian tahun-tahun sebelumnya. Untuk ujian tahun ajaran ini, soal dan keputusan kelulusan siswa ditentukan langsung dari pusat. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun lalu, dimana yang menentukan kelulusan siswa adalah sekolah masing-masing.

Namun demikian, penentuan nilai standar tergantung daerah masing-masing. Dimana Kabupaten Mimika menerapkan nilai standar kelulusan yaitu 3,20 untuk setiap mata pelajaran yang diujiankan.

Sementara itu, Kasubdin Pendidikan Dasar Robert Martayuta yang juga ditemui Radar Timika di kantor Dinas P dan P Mimika, mengatakan hasil ujian SD sudah diserahkan kepada masing-masing kepala sekolah saat dirinya mendampingi Kepala Dinas P&P Ausilius You dalam pertemuan di Aula Yayasan Yosua, Senin (23/6) lalu.

Sesuai data hasil ujian, 10 SD masuk kategori 10 besar, yaitu SD Yapis, SD Inpres Timika XIII, SD Advent Timika, SD Inpres Timika XII, SD YPK Ebenhaezer, SD YPPK Waonaripi, SD YPJ Tembagapura, SD Inpres Kwamki II, SD Inpres Koperapoka II, dan SD Inpres Koprapoka I. (lrk)


--------------------------------------------------------------------

Sumber: http://www.radartimika.com/article/Utama/7906/


BACA TRUZZ...- Tingkat Kelulusan SD 95,58 Persen

2.383 Murid SMP Tidak Lulus

Jumat, Juni 20, 2008

Jayapura – Hasil pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP/MTs dan SD tahun ajaran 2007-2008, diumumkan secara serentak di seluruh Papua, hari ini Sabtu (21/6). Untuk tahun ini, tingkat kelulusan peserta UN tingkat SMP/MTs seluruh Papua mencapai 90,34 persen sedangkan yang tidak lulus 9,66 persen.

Menurut data yang dihimpun Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua, yang mengikuti UN SMP/MTs sebanyak 23.025 peserta ujian dari 361 sekolah di 20 kabupaten/kota se-Papua yang tidak lulus 2.383 murid. Dimana masing-masing daerah memperoleh kelulusan sekitar 60 persen meskipun ada beberapa daerah yang meraih kelulusan 100 persen.

Untuk tingkat kelulusan UN tingkat SMP/MTs tahun ajaran 2007-2008, dari data yang berhasil dihimpun menunjukan bahwa tingkat ketidak lulusan yang paling tinggi terjadi di Kabupaten Pegunungan Bintang, dimana dari 174 peserta yang tidak lulus mencapai 81 orang. Sedangkan tingkat ketidak lulusan terendah di Kabupaten Jayawijaya, dari 2.444 peserta yang tidak lulus 119 orang.

Sedangkan untuk hasil kelulusan tingkat SD, akan diumumkan pada hari ini, Sabtu (21/6) namun pengumuman kelulusan peserta Ujian Nasional SD dilakukan oleh masing-masing sekolah di setiap kabupaten/kota, bukan pengumuman dari data Dinas P dan P provinsi.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua, Drs. James Modouw, M.MT, tingkat kelulusan tahun ini mengalami kenaikan, dimana dapat dilihat di tahun ajaran ini kelulusan mencapai 90,34 persen.

“Jika dibandingkan dengan tahun ajaran lalu, memang kali ini mengalami kenaikan, dimana tahun kemarin tingkat kelulusan tidak mencapai 99,44 persen,” ujarnya pada wartawan di Kantor P dan P provinsi Papua, Jumat (20/6) kemarin.

Nilai tertinggi di masing-masing sekolah di kabupaten/kota antara lain, Kabupaten Jayapura diraih SMPN 2 Sentani dengan nilai 31,70, Kabupaten Biak Numfor, SMPN 3 Biak dengan nilai 27,35, Kabupaten Yapen diraih SMP/MTs Darusallam Serui dengan nilai 32,42, Kabupaten Merauke diraih SMPN 5 Muting dengan nilai 29,05, Kabupaten Jayawijaya SMPN 3 Wamena dengan nilai 30,97, Nabire diraih MTs Asy-Syafiah dengan nilai 30,90, Kota Jayapura diraih SMPN 12 Jayapura dengan nilai 31,74.

Dengan hasil pengumuman yang akan diumumkan hari ini, James mengharapkan kiranya siswa yang lulus bukan hanya mengejar kelulusan samata, melainkan bagaimana dapat memilih sekolah lanjutan yang tepat sesuai dengan keahlian yang dimiliki.“Saya harap siswa yang lulus dapat memilih sekolah yang tepat, jangan hanya kejar nilai kelulusan, tetapi bagaimana mempunyai keahlian khusus,” paparnya.

“Begitu juga bagi siswa yang tidak lulus, jangan berkecil hati karena masih ada kesempatan berikutnya dan juga yang namanya pendidikan tidak pernah mati,” pungkasnya.**
-------------------------------------------------------------------
Sumber:http://papuapos.com
BACA TRUZZ...- 2.383 Murid SMP Tidak Lulus

3.140 Siswa SMU/SMK Ikut UAN

Rabu, April 16, 2008

SORONG- Sebanyak 3.140 siswa SMU/SMK akan ikut ujian akhir nasional (UAN). Dari total 3.140 siswa tersebut terdiri dari 2.026 siswa SMU/MA dan 1.114 siswa SMK. Sedangkan untuk jumlah peserta UAN tingkat SMP mencapai 3.006 siswa dan untuk siswa SD/MI mencapai 3.269 siswa.

Informasi tersebut seperti yang disampaikan Kepala Dinas P & P Kota Sorong, Dra Hermin S Matandung kepada Radar Sorong di ruang kerjanya kemarin.Dikatakan, jumlah siswa dari tingkat pendidikan baik setara SD, SMP maupun SMU/SMK yang merupakan hasil laporan yang disampaikan oleh sekolah masing-masing baik swasta maupun negeri.

“Data ini kami terima dari sekolah karena kalau tidak ada nomor ujian berarti tidak bisa ujian inikan sudah on line semua,”ujar Hermin.Dijelaskan, jumlah siswa yang mencapai ribuan telah diputuskan berdasarkan data yang diserahkan pada bulan Maret lalu, karena jumlah peserta berkaitan dengan nomor peserta ujian yang diterbitkan secara nasional melalui provinsi. ”Pengajuan dari sekolah nama-nama ujian dari bulan Maret karena nomor peserta ujian yang dikeluarkan sesuaikan dengan jumlah sisiwa yang dinas kabupaten/kota ajukan,”jelas Kadis P & P.

Sedangkan untuk pelaksanaan UAN tingkat SMU/SMK, Hermin menjelaskan dijadwalkan berlangsung selama dua hari mulai pada tanggal 22 April mendatang secara lembaga pihaknya sudah melaksanakan berbagai kesiapaan. Bahkan sampai saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak panitia penyelenggara di tingkat pendidikan masing-masing.

”Mata pelajaran yang diuji dengan baik yang sudah ditentukan oleh pusat disertai dengan pelaksanaan uji kompetensi sesuai jurusan bagi SMK dengan standar kelulusan minimal 5,25 sehingga harus diperhatikan secara serius bagi para sisiwa kelas tiga yang tahun ini mengikuti ujian.
Sedangkan kepada para orang tua agar dapat memberikan perhatian khusus kepada anak agar dapat menyelesaikan ujiannya dengan baik,”harap Kadis P & P.Ditambahkan, mengenai pelaksaan ujian sekolah juga harus diperhatikan karena dalam syarat penentuan kelulusan nilai rata-rata ujian harus mencapai 6,00 bagi ujian tertulis maupun praktek.

Batas minimal penilaian yang ditentukan harus diperhatikan dengan baik karena menyimak pengalaman sebelumnya yang sering terjadi pada siswa yang tidak lulus karena tidak belajar dan mengikuti pelaksanaan ujian dengan baik. (ris)
----------------------------------------------------------------
BACA TRUZZ...- 3.140 Siswa SMU/SMK Ikut UAN

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut