Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

SEGERA TERBIT BUKU “MELANGKAH KE DUNIA LUAS, Impian dan Pergulatan Anak-anak Papua”

Jumat, Oktober 09, 2009

Segera terbit buku berjudul “MELANGKAH KE DUNIA LUAS, Impian dan Pergulatan Anak-anak Papua”. Buku ini ditulis oleh Johannes Supriyono. Dia lahir di Lampung, 25 Desember 1979. Menyelesaikan pendidikan di SMA Xaverius Pringsewu, Lampung (1997) dan di STF Driyarkara, Jakarta (2006), menulis skripsi sekitar pemikiran Roland Barthes tentang semiotika. Sempat belajar menjadi editor di Penerbit Yayasan Cipta Loka Caraka selama satu tahun. Sejak 2007 hingga tahun pertengahan 2009 hidup bersama dengan anak-anak Suku Mee dan Moni di Papua. Buku yang akan diterbitkan segera ini ditulis ketika bersama-sama dengan anak-anak Mee dan Moni di Nabire Papua.

Saat ini, Supriyono mengembangkan Lembaga Pendidikan Papua, Education of Papuans Spirit (LPP, edPapaS). Buku ini terdiri dari 40 kisah yang menggambarkan mimpi dan pergulatan anak-anak Papua. Berikut ini adalah kutipan tiga paragraf pertama dari cerita ke-40 berjudul “A Long, Tiresome Journey”.

Pernah kupikirkan untuk menulis artikel yang lebih serius tentang lahirnya babak intelegensia di Papua. Tidak lama keinginan itu bertahan di benakku. “Kalau kutulis menjadi artikel, sekian banyak nama yang kukenal, anak-anak Papua yang setiap hari kuhadapi, tidak akan muncul, tidak akan disebut. Boleh jadi munculnya nama justeru malah berdaya menggerakkan—bukan hanya nama tapi wajah!”

Melahirkan generasi intelegensia di Papua adalah perjalanan panjang, sangat panjang. Bahkan mungkin akan lebih panjang dari yang selama ini kubayangkan. Mengingat kenyataan betapa kacaunya pendidikan di Papua, bukan tidak mungkin sebagian dari para pemimpi itu akan gugur. Juga karena kondisi kesehatan secara umum belum maju, sebagian lain akan menyerah karena sakit—seperti Robby Tatogo dan Yanto Pigome. Juga karena desakan kemiskinan, akan ada yang terputus di tengah jalan secara menyakitkan seperti Yakobus Wayapa, si penemu setan putih. Mungkin juga akan ada yang tersendat-sendat karena dirintangi oleh malaria seperti Arnoldus Belau, sang penggulat fisika.

Mimpi-mimpi itu bisa pula membusuk dan rontok karena miskinnya teladan dari masyarakat. Banyak yang menempuh jalan pintas untuk mendapat-kan kekuasaan dan uang! Sering sekali mereka kuingatkan, “Jangan jadi koruptor. Sama saja Kau makan orang-orang Papua sendiri!” Entahlah, apakah kata-kata ini akan masih diingat kelak ketika mereka mendapatkan kesempatan dan kekuasaan.

...
Buku ini dapat Anda pesan melalui alamat email:selangkah_kpp@yahoo.com.


BACA TRUZZ...- SEGERA TERBIT BUKU “MELANGKAH KE DUNIA LUAS, Impian dan Pergulatan Anak-anak Papua”

Reporter Bawah Tanah

Jumat, November 14, 2008

Judul Asli : The Underground Report
Penulis : Kathy Kacer
Penerbit : Kanisius
Tebal : 216 Halaman
Tahun : 2007
------------------------------
Oleh: Longginus Pekey*)

Kisah mengenai perang selalu menunjuk pada heroisme kejayaan dan kepahlawanan. Tokoh seperti Alexander Agung, Julius Caesar, dan bahkan Hitler akan dikenang dalam sejarah umat manusia karena kisah itu. Akan tetapi, di balik heroisme kejayaan, “perang” menjadi kata yang tidak sedap didengar. Lantas, di balik kata “perang” hanya ada kisah penaklukan, penindasan, pembantaian, pembunuhan, tangisan, kematian, kehilangan segalanya. Situasinya pasti sangat kacau.

Buku setebal 216 halaman berjudul asli The Underground Report yang diterjemahkan oleh Purnawijayanti menambahkan dua kata pada bagian judul, yaitu “kisah nyata”. Artinya ceritanya itu diangkat dari kisah nyata. Ditulis berdasarkan wawancara dengan orang-orang yang mengalami peristiwa tersebut. Selain itu sumber ceritanya diangkat dari majalah Klepy. Kathy Kacer menceritakan masa-masa terpuruk orang Yahudi pada masa Perang Dunia II yang terjadi sekitar tahun 1940-an. Ia, melalui karyanya ini membuka pikiran kita untuk menengok derita tetang pembantaian yang dialami bangsa Yahudi.

Bagian pertama buku ini, memuat enam kisah yang memperkenalkan Jhon, France dari keluarga Neubauer yang menjadi saksi hidup atas peristiwa kelabu itu. Periode 1937-September 1939 tentang kemasyuran kota Budejovice dan kebanggaan sebelum kedatangan Nationalsozialismus (Nazi), awal kedatangan Nazi, dan aturan-aturan Nazi, hingga terjadinya Perang Dunia II. Bagian kedua terdapat tujuh belas kisah periode tahun 1940–1942. Pada bagian ketiga, terdiri dari delapan kisah dalam periode 1942 -1945.

Masa Sulit
Penulis buku ini menguraikan bahwa kedatangan Hitler di kota Budejovice, 150 Km sebelah Praha, ibu kota negara Cekoslovakia (sekarang Cheska), ibarat mimpi buruk bagi keturunan Yahudi. Kira-kira seribu orang Yahudi yang menjalani berbagai aktifitas profesinya seperti pedagang, dokter, guru, seniman dan sebagainya sangat terancam. Karena Hitler dan pasukan Nazinya sangat membenci bangsa Yahudi. Ketika Jerman kalah pada perang Dunia I, Jerman mengalami kesulitan ekonomi. Banyak orang Jerman dipecat dari pekerjaannya dan harus bekerja keras untuk mencari nafkah. Hitler menuding bangsa Yahudi sebagai penyebab seluruh kesulitan yang dialami bangsa Jerman (halaman 41).

Selain Musolini di Italia, Hitler pemimpin berideologi fasisme Jerman yang bercita-cita menyatukan daratan Eropa di bawah kekuasaan Nazi. Ia pernah mengancam akan mengobarkan perang di Eropa kalau Sudetenland sebuah wilayah perbatasan Cekoslovakia tidak diserahkan padanya. Karena tidak menginginkan perang tanggal 29 September 1938 tercipta maka terjadilah perjanjian Munich, (Konferensi Munich) antara Inggris, Perancis di satu pihak dan Jerman di pihak lain. Akan tetapi Jerman melanggar perjanjian itu dan meneruskan daerah penjajahannya dan kekuasaannya hingga menguasai seluruh daerah Cekoslovakia, karena tidak bisa dibendung oleh kekuatan militer Cekoslovakia yang jauh lebih lemah di banding Jerman (Nazi). Pada bulan Oktober 1938, Presiden Bener menyerah dan pergi ke pengasingan di Inggris (halaman 47).

Lalu Nazi terus melanjutkan serangannya ke Denmark, Norwegia, Belanda, Belgia, Luksemburg, dan Perancis. Mendengar Hitler yang terus memperluas daerah jajahannya, orang-orang Yahudi di Budejovice semakin cemas. Beberapa hari setelah kedatangan Hitler, di radio mulai terdengar aturan dan larangan, yang membuat anak-anak dan pemuda maupun orang tua di kota itu harus kehilangan kebebasannya, karena gerakan anti Yahudi terus berkembang di seluruh negeri Cekoslovakia.

Peraturan Nazi semakin hari semakin mencekik. Swastika, lambang Nazi terpamgang di setiap gedung sebagai penolakan terhadap Yahudi, bersamaan itu di toko-toko dan kantor-kantor terpampang tulisan bahasa Jerman Juden Eintrit Verboten! (orang Yahudi dilarang masuk). Semua orang Yahudi wajib mengenakan lambang bintang Daud berwarna kuning yang bertuliskan “Yahudi” agar tidak melarikan diri. Semua Paspor orang Yahudi diberi huruf “J” (halaman 59). Kekayaan, seperti rumah, gereja termasuk alat musik di serahkan kepada Nazi. Anak-anak Yahudi dilarang masuk sekolah dan tidak mendapat tempat untuk bermain di tempat-tempat tertentu.

Uraian yang menjadi bagian pertama di atas tidak bisa lepas dari bagian berikutnya, karena kisah nyata ini di ceritakan menurut kajian Historis dengan memperhatikan urutan waktu dan tempat kejadiannya.

Mendapat Kolam Renang
Bagian ini merupakan kisah kedua, anak-anak Yahudi tidak punya tempat untuk bermain lagi, tetapi mereka bersyukur bisa mendapatkan sebuah kolam renang yang dikhususkan Nazi. Kolam renang tersebut disediakan agar anak-anak Yahudi tidak keliaran dan tidak berbahaya bagi Nazi. Di kolam renang dekat sungai Vltava yang dalamnya mencapai lima meter di tepinya ada gubuk tua. Di gubuk tua tepi kolam itulah Jhon, France, Ruda, Irena dan teman-teman sebayanya menghabiskan hari-harinya. Semakin hari semakin ramai, tidak hanya berenang di lokasi kolam renang itu, mereka bisa bermain sepak bola dan voli yang menjadi kesukaan Johan. Ada juga lapangan tenis meja. ”Tempat ini sungguh menjadi tempat milik kami,” pikir Jhon. Tidak lagi ada tanda yang memperingatkan orang Yahudi untuk menjauhi. Di kolam renang itulah, pada musim semi 1940 anak-anak Yahudi Budejovice berkumpul untuk pertama kalinya (halaman 68). Di situlah tempat untuk sejenak anak-anak Yahudi melupakan kejadian buruk yang sedang menimpah mereka (keluarga).

Reporter Bawah Tanah
Saatnya rememaja Yahudi untuk melawan dalam ketidakberdayaannya. Mereka menciptakan media bernama Klepy, dalam bahasa Cheka adalah gosip. Media inilah satu-satunya media perlawanan yang mereka ciptakan. Majalah itu masih tersimpan di salah satu museum Yahudi di Jepang. Dalam majalah itu anak-anak Yahudi bercerita tentang banyak hal, ada cerita lelucon yang membuat pembaca tertawa, untuk menghilangkan ketakutan yang mereka hadapi saat itu.

Dalam situasi yang tidak memihak itu mereka menyadari “Tidak seorang pun yang dapat membantu kita, kita harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Aku Yakin kita bisa melawan Nazi dengan artikel tentang kekuatan dan kesatuan sebagai orang Yahudi, Kata Ruda, editor majalah itu, sambil menunjuk sebuah puisi sebagai contoh perlawanan.

Setelah Badai Salju di Bulan Januari.
Hari ini Yahudi harus pergi bekerja.
Dengan wajah yang tegang mereka membersikan salju…
Beberapa terlihat malu dan tak ingin dikenal.
Jangan takut, kerjakanlah pekerjaanm.
Dan tunjukan kepada mereka kekuatan kita! (halaman 124-126)



Dengan sangat berhati-hati para reporter Klepy mencari berita tentang penangkapan ataupun pembunuhan terhadap orang Yahudi di Budejovice, di seluruh kota Cekoslovakia maupun di seluruh Eropa. Isinya kadang di seleksi dan dibuat dalam bahasa yang tidak menyinggung dan terlihat tidak mengritik Nazi. Majalah Klepy satu-satunya bacaan bernuansa Yahudi yang digemari dan memiliki makna perlawanan. Itulah sebabnya patut mendapat sebutan reporter (wartawan) bawah tanah (The Underground Reporters).

Ajal pun tiba, Klepy tidak dapat dilanjutkan lagi setelah terbit 21 edisi. November 1941 Hitler menerapkan rencana pembunuhan terhadap orang Yahudi di seluruh Eropa yang dikenal dengan “solusi akhir”. Ketika awal Februari 1942 seluruh keluarga Yahudi di Budejavice menerima berita yang mereka takuti, bahwa di Jerman dan Polandia didirikan kamp konsentrasi, di antaranya adalah Auschwitz, Majdanek Belzak, Sobibortreblinka dan Chelmno.

Saatnya kelompok reporter Klepy berpisah. Ruda menyerahkan seluruh masa lalunya Klepy kepada Thereza, seorang Jerman yang pernah bekerja di rumah Ruda, walaupun resikonya berat bila ditemukan Nazi. Tanpa mengetahui harapan akan hidup, keluarga Ruda, keluarga Jhon dan seluruh keluarga Yahudi lainnya berangkat ke Theresiensthadt pada 14 April 1942. Di tempat itulah mereka harus mengalami masa pembantaian dan banyak orang Yahudi menemui ajalnya secara paksa.

Buku ini tercipta karena ada kesaksian oleh Jhon, Zdenek Svec, Irena Standler dan Frances Neubuer. Mereka adalah orang-orang yang langsung mengalami peristiwa pembantaian yang dilakukan oleh Hilter terhadap orang Yahudi di Cekoslovakia. Juga dalam penulisannya di lengkapi oleh buletin Keply yang saat ini terdapat di salah satu museum di Jepang.

Kathy Kacer adalah penulis buku The Secret of Gabi’s Dresser, Klara, War dan The Night Spies. Dalam buku ini dengan kalimat yang mudah dipahami ia memaparkan kembali mengenai situasi orang Yahudi di Eropa pada saat Perang Dunia II berkecamuk. Terutama mengulas kisah remaja Yahudi yang melakukan perlawanan terhadap Hilter melalui Klepy. Bagi pengemar sejarah, buku ini sangat penting untuk dibaca, karena memaparkan peristiwa penting mengenai situasi Perang Dunia II. Juga anak-anak dapat memetik banyak nilai-nilai hidup dari buku ini. Selamat membaca!

*) Ketua Komunitas Pendidikan Papua


BACA TRUZZ...- Reporter Bawah Tanah

Tragisnya Menjadi Siswa Indonesia

Minggu, November 11, 2007

Judul :Pembodohan Siswa TersistematisM.
Penulis :Joko Susilo
Cetakan Pertama :Februari 2007
Penerbit :PINUS Book Publisher Yogyakarta
Tebal :239 halaman

Paradigma yang berkembang di dalam kultur masyarakat Indonesia (masih) menempatkan sekolah sebagai satu-satunya corong pendidikan. Masyarakat dalam perkembangannya selalu menuntut pendidikan dapat memberikan manfaat kepada anak-anak bangsa. Guru ditempatkan sebagai orang suci yang tidak pernah salah.

Gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” dulu memang pernah populer. Gelar itu disematkan khusus kepada para pelaku pendidikan yang tidak peduli kepada dirinya alias mengorbankan kepentingan pribadi demi mencerdaskan generasi muda Indonesia. Tetapi, apakah sekarang guru patut disematkan gelar tersebut?

Namun, pada kenyataannya yang mau tidak mau harus kita maklumi, profesi guru di Indonesia merupakan tempat pelarian orang-orang yang gagal memperoleh pekerjaan yang (katanya) lebih menjamin kesejahteraan. (hal. 27) Karena profesi guru merupakan tempat pelarian, maka Indonesia pun hanya mencetak guru-guru yang tidak pantas untuk menjadi guru—Indonesia hanya melahirkan guru-guru yang text book.

Akibatnya, penyelewengan terhadap tugas guru seperti yang diungkapkan oleh V. Setyasih Harini (pada Kompas Senin 20 Desember 2004, Guru Jangan Jualan Buku!”) menjadikan pendidikan Indonesia hanya semata ‘politik balas dendam’ dengan mengkomersialisasikan buku pelajaran dan mewajibkannya kepada murid. Bahkan ada oknum guru yang dengan enteng mengancam, jika tidak beli buku pelajaran (yang dia jual) maka sang murid nilainya akan jelek.

Dalam bukunya ini, Joko Susilo tidak saja menyoroti tentang guru, tetapi mempertanyakan loyalitas pemerintah terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Apakah dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) telah benar-benar optimal, atau hanya sekedar pengalih isu terhadap penderitaan rakyat akibat kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok lainnya. (hal.69) Selain itu, Joko Susilo juga mempertanyakan kredibilitas orang tua yang sebenarnya bertanggungjawab penuh terhadap pendidikan anaknya.

Bertanggungjawab tidak saja berarti tercukupinya kebutuhan material si anak, tetapi kasih sayang. Acap kali orang tua marah-marah kepada pihak sekolah jika anaknya nilainya kurang memuaskan apalagi terlibat perbuatan yang melanggar hukum (tawuran, malak atau mencuri).

“Buat apa saya membayar mahal-mahal sekolah bila anak saya tidak diajar dengan becus” begitulah orang tua, padahal belum tentu kesalahan ada di pihak sekolah sepenuhnya. (hal. 74) Pendidikan yang mahal, egoisitas guru dan orang tua, dan pemerintah yang masih memposisikan pendidikan sebagai bidang yang sekunder—itulah yang membuat siswa ataupun murid sekolah di Indonesia menjadi ‘bodoh’ karena terlalu bingung memikirkan masalah yang seharusnya tidak perlu dipikirkan untuk anak-anak seumuran mereka yang haus akan pendidikan—sekolah.

Tentunya kita masih ingat lagunya Iwan Fals, yang berjudul “Sore Tugu Pancoran”. Pertanyaannya, apakah nurani kita (pelaku pendidikan Indonesia, dan masyarakat (dewasa) Indonesia) terlalu bebal sehingga sampai hati membiarkan Budi-Budi kecil yang banyak bersliweran di persimpangan jalanan kota?

Pada bab terakhir buku ini, Joko Susilo mengutip pendapat Frietz R. Tambunan yang menyampaikan pesan revolusioner: masyarakat yang demokratis harus menyediakan kesempatan pendidikan yang sama bagi semua warganya serta kualitas pendidikan yang sama. (hal. 224-225) Hakikat pendidikan yang demokratis adalah pemerdekaan.

Tujuan pendidikan dalam suatu negara yang demokratis adalah membebaskan anak bangsa dari kebodohan, kemiskinan dan berbagai “perbudakan” lainnya. (hal. 225) Terlepas dari itu, tentunya Joko Susilo dan semua kita masih berharap agar pendidikan Indonesia bisa berjalan kondusif tanpa ada campur tangan kepentingan pragmatis yang membuat generasi muda Indonesia tidak bisa sekolah. Semoga adagium “Orang Miskin Dilarang Sekolah”, cepat-cepat sirna dan berubah menjadi “Orang Miskin Gratis Untuk Sekolah”.
---------------------------------------------------------------
BACA TRUZZ...- Tragisnya Menjadi Siswa Indonesia

Pendidikan Alat Perlawanan (Resensi Buku)

Sabtu, Agustus 04, 2007


Karya dan pemikiran Paulo Freire merupakan sumbangan yang sangat berarti bagi dunia pendidikan. Dengan latar belakang kemiskinan yang terdapat pada masyarakat Brazilia bagian Timur Laut di mana ia hidup, Paulo Freire berhasil membongkar praktik-praktik pendidikan yangmenurutnya tidak menempatkan manusia sebagai manusia. Usaha Freire pada dasarnya ingin membangkitkan kesadaran masyarakat untuk berjuang melawan status quo kekuasaan dengan berperan aktif mengubah realitas yang ada ke arah yang lebih manusiawi, seperti semangat yang tercermin dalam judul buku ini: Pendidikan Alat Perlawanan.

Pendidikan sebenarnya dapat dipahami sebagai rangkaian usaha pembaharuan. Pendidikan pada hakikatnya tidak mengenal akhir karena kualitas kehidupan manusia terus meningkat. Persoalan pendidikan bukanlah terutama pada target pengetahuan yang ditetapkan, melainkan pada bagaimana orang dapat berinteraksi/berdialog dengan situasi dan kondisi jamannya.

Paulo Freire mengembangkan pemahamannya tentang pendidikan dari pandangan mendasarnya yang banyak dikritik orang, yaitu bahwa dunia hanya terbagi atas 2 kelompok: kelompok penindas (oppressor) dan kelompok tertindas (oppressed). Setiap orang pastilah menjadi bagian dari salah satu kelompok, entah dia si penindas ataukah si tertindas. Dalam kerangka pemahaman ini, praktik belajar-mengajar yang banyak terjadi sebelumnya dapat dipandang sebagai pendidikan yang menindas karena hanya melakukan proses “satu arah” dari guru kepada murid. Paradigma yang mengandalkan hafalan ini berwatak pasif, tidak menyulut keberanian, penalaran dan kreativitas, padahal nalar dan kreativitas inilah yang dibutuhkan oleh rakyat tertindas untuk melawan.

Freire berpendapat bahwa dalam pendidikan, peserta didik tidak boleh dipahami sebagai obyek tersendiri yang harus digarap dan diisi oleh pendidik. Dalam istilah Freire, sistem pendidikan seperti itu disebut sebagai Sistem Bank (Banking Education), di mana peserta didik adalah tabungan dan pendidik sebagai penabung. Pandangan tentang pendidikan semacam ini pada praktiknya cenderung bersifat otoriter dan menghalangi kesadaran peserta didik untuk berkembang. Aktivitas pendidikan kemudian berbelok menjadi tindakan-tindakan menundukkan peserta didik terhadap nilai-nilai dan norma budaya yang ada di masyarakat, dimana pendidik berperan sebagai agennya. Sebagai ganti sistem di atas, Freire menawarkan sistem hadap-masalah (Problem-posing Education).


Di dalam sistem ini, Freire menekankan metode pendidikan yang disebut “pendidikan dialogis” di mana terdapat suatu dinamika dialektik antara pendidik dengan peserta didik. Penekanannya adalah pada kesadaran pendidik dan peserta didik mengenai kemampuan dan keberanian menghadapi realitas secara kritis dan bertindak mengubah dunia secara kreatif. Dengan demikian, pendidikan harus berorientasi mengarahkan manusia pada pengenalan akan realitas diri dan dunianya dengan melibatkan dua unsur, yakni pengajar dan pelajar di satu pihak sebagai subyek yang sadar (cognitif) dan realitas dunia di pihak lain sebagai obyek yang tersadari (cognizable). Di sini, pendidik tidak hanya berfungsi sebagai fasilitator bagi tumbuhnya perkembangan kesadaran peserta didik, namun sekaligus menjadi seorang rekan yang melibatkan dirinya sambil merangsang daya pemikiran kritis peserta didik.

Butir-butir pemahaman yang membangun filsafat pendidikan Freire oleh Murtiningsih dijelaskan sebagai berikut: Manusia tidak hanya berada di dunia, tetapi juga berinteraksi dengan dunia di mana ia berada. Di dalam situasi keberadaannya tersebut, manusia harus memiliki kesadaran kritis yang diarahkan pada realitas sehingga terjadi suatu interaksi ketika manusia menanyai, menguji dan menjelajahi realitas tersebut. Hal yang paling bernilai bagi manusia adalah menjadi manusia seutuhnya yang dicapai melalui proses pembebasan, atau dalam istilah Freire disebut “konsientisasi”.

Secara sederhana, konsientisasi dapat dipahami sebagai proses menjadi manusia yang lebih penuh atau suatu proses perkembangan kesadaran menuju terbentuknya manusia-manusia baru yang akan menciptakan dunia baru. Tugas manusia di dunia bukanlah untuk beradaptasi, tetapi untuk mengubahnya secara kreatif.

Walaupun kesan perlawanan yang revolusioner sangat kental dalam tulisan-tulisannya, Freire tidak pernah setuju dengan pemberlakuan kekerasan. Ia mendambakan sebuah revolusi yang damai. Untuk memahami sepenuhnya pemikiran Paulo Freire, seseorang memang tidak cukup hanya membaca saja. Tetapi lebih dari itu, orang harus masuk ke dalam pengalaman di mana ia berinteraksi dengan dunia dimana ia berada. Dalam penerapannya terhadap kurikulum, Freire mengusulkan kurikulum yang bertolak dari realitas konkret peserta didik dan yang muatannya mampu menumbuhkan kesadaran kritis. Artinya kurikulum dapat mendorong perkembangan pola pikir dan kemampuan refleksi peserta didik. Kurikulum ini mengutamakan pengalaman dan menekankan pada aspek-aspek personal tertentu (oleh karena itu disebut juga dengan experience-centered curriculum).

Pada bagian akhir buku ini, Murtiningsih memberikan beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Antara lain, ia mencoba menggarisbawahi penyelewengan yang dapat muncul dalam penerapan konsep konsientisasi. Contoh penyelewengan yang terjadi misalnya kegiatan propaganda penyuluhan dalam kerangka bisnis yang mengatasnamakan konsientisasi (h. 116). Oleh karena itu, proses konsientisasi yang dimaksud baru dapat terjadi ketika dialog yang dilakukan diiringi rasa cinta, kerendahan hati, kepercayaan pada orang lain, pikiran kritis dan harapan.

Berikut ini, patut pula dicatat beberapa kelemahan tulisan Murtiningsih yaitu:
Pertama, tidak terlalu jelas mengenai penerapan konsep konsientisasi dalam konteks Indonesia. Pada bab terakhir, sub judul “Relevansi Konsientisasi bagi Pendidikan di Indonesia” lebih tepat jika diganti dengan “Situasi-Kondisi Pendidikan dalam konteks Indonesia” karena pada bab tersebut Murtini hanya memaparkan mengenai apa yang terjadi pada dunia pendidikan di Indonesia tanpa memberikan sedikit pun saran penerapan teori Freire dalam konteks Indonesia.

Kedua, sebenarnya sangat jelas kesan bahwa Murtiningsih ingin menyejajarkan konteks Indonesia dengan konteks yang melatarbelakangi teori Freire, sehingga dengan demikian teori Freire dapat dikatakan relevan. Namun kesejajaran tersebut tidak pernah dikemukakan atau dibahas oleh Murtiningsih, sehingga pembaca tidak pernah mengetahui sejauh mana teori Freire relevan terhadap konteks Indonesia.

Ketiga, Murtiningsih tidak masuk lebih jauh kepada analisis terhadap konteks Indonesia, sehingga ia pun tidak mampu mengusulkan tindakan/aksi yang sebaiknya diambil sebagai langkah awal untuk mengubah ‘realitas’. Tentu saja ini berbeda dengan semangat yang ada dalam teori Freire, yang pada dasarnya tidak mau ber-‘teori’, tetapi ingin ber-‘aksi’.

Buku-buku yang memiliki semangat membenahi pendidikan nasional, pada umumnya memiliki saran konkrit yang dapat dilakukan. Sebagai contoh, buku Membenahi Pendidikan Nasional karangan Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc. Ed. (diterbitkan pada tahun 2002) mengusulkan “…restrukturisasi pendidikan nasional dengan paradigma-paradigma menuntut alokasi dan realokasi dana nasional dan lokal yang sepadan dengan menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas utama.”

Di samping itu, tulisan Prof. Tilaar juga memberikan tempat untuk hal-hal positif pada konteks Indonesia yang dapat mendukung terciptanya pendidikan nasional yang lebih baik. Hal ini tidak terdapat pada tulisan Murtiningsih, sehingga kita tidak memperoleh informasi apakah juga terdapat hal-hal positif pada konteks Indonesia yang mendukung penerapan teori Freire.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa tulisan Murtiningsih ini merupakan kontribusi yang sangat berarti bagi pembaca Indonesia di tengah langkanya buku-buku yang dihasilkan oleh penulis Indonesia yang membahas pemikiran-pemikiran dari tokoh besar pendidikan seperti Paulo Freire.

Dengan bahasa yang cukup sederhana, buku ini mampu menjelaskan pokok-pokok pemikiran dari Paulo Freire, bahkan mampu pula menarik benang merah dari situasi-konteks serta pemahaman yang melatarbelakangi pemikiran Freire. Dengan demikian, buku ini pun diharapkan mampu membangkitkan di dalam diri pembacanya suatu semangat untuk menghadapi realitas dan mengubahnya ke arah yang lebih baik, seperti semangat yang juga dimiliki oleh Paulo Freire.

Resist Book-Komunitas Pendidikan Papua
BACA TRUZZ...- Pendidikan Alat Perlawanan (Resensi Buku)

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut