5, 50 Standar Ujian Nasional 2009

Minggu, Desember 21, 2008

Dari tahun ke tahun standar kelulusan bagi siswa-siswi SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMK/SMALB kian naik. Pada tahun 2007, standar kelulusan mencapai angka 5,00, tahun 2008 5,25 dan tahun 2009 Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) tahun 2009 mencapai 5,50. Hal itu dijelaskan anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Departemen Pendidikan Nasional RI, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, pada sosialisasi UN dan UASBN tahun pelajaran 2008/2009, Sabtu (20/12) kemarin di Aula Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua.

Prof. Dr. M. Yunan Yusuf menjelaskan, kepastian naiknya standar nilai kelulusan pada tahun ajaran 2008/2009 ini telah ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Departemen Pendidikan Nasional RI, guna peningkatan mutu pendidikan nasional di seluruh Indonesia.

“Jadi standar kelulusan untuk tahun 2008/2009 ini, kita naikan rata-ratanya menjadi 5,50 dari 5,25 tahun 2008 dan 5,00 tahun 2007,” ujarnya kepada wartawan usai sosialisasi.

Dikatakan, sesudah mesimulasi hasil dari tahun 2008 lalu dengan penempatan nilai sekarang, ketidaklulusannya hanya bertambah sekitar 0,67 persen. Untuk itu, dirinya sangat berharap proses pembelajaran siswa dapat diperbaiki agar angka tersebut menjadi tidak ada.

Jika pada UN dan UASBN tahun ajaran 2007/2008 lalu, diperbolehkan adanya angka 4 untuk satu mata pelajaran dan pelajaran lainnya diatas angka 6 keatas, maka untuk tahun 2009 nanti diperbolehkan ada dua angka 4 tetapi mata pelajaran lainya tidak boleh dibawah 4,25 untuk semua jenjang, baik SMA,SMK maupun SMP.

“Jadi rata-ratanya 5,50 dan diperbolehkan ada dua mata pelajaran bernilai 4, tapi mata pelajaran lainnya tidak boleh kurang dari 4,25,” ujar Yusuf.

Yusuf menjelaskan, filosofi kenaikan standar tersebut karena setiap ujian nasional itu tiap tahun harus bergerak naik, karena melalui hal itu secara rasional dapat dikatakan mutu pendidikan di Indonesia dapat meningkat.

“Secara teoritis dan kasat mata, dengan menaikan angka standar kelulusan ini, ada proses yang lebih intens lagi untuk selalu berusaha dan berjuang untuk mencapai angka itu,” terangnya.

Adapun hari pelaksanaan UN dan UASBN nanti, Ujian Nasional untuk tingkat SMA dan MA ujian pertama (I) mulai 20-24 April 2009, sedangkan untuk ujian susulan dimulai 27 April hingga 1 Mei 2009. Untuk UN utama SMP/MTs/SMPLB dilaksanakan mulai 27-30 April 2009 dan ujian susulannya 4-7 Mei 2009. Sedangkan untuk SMALB ujian utama dilaksanakan 20-22 April 2009 dan ujian susulannya 27-29 April 2009.

Adapun untuk Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) ujian utamnya dilaksanakan tanggal 11-12 Mei 2009, ujian susulannya 18-20 Mei 2009. Untuk SMK, ujian utama dimulai 20-22 April 2009 dan ujian susulannya 27-29 April 2009. Dimana, ujian kompetensi keahlian SMK harus selesai dilaksanakan 1 minggu sebelum ujian utama dilaksanakan.

Dari segi pengawasan menurut Yusuf, untuk UN maupun UASBN tahun depan, guru mata pelajaran tertentu dilarang masuk ke ruangan ujian. Seperti contoh, dilaksanakan ujian dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, maka yang mengawasi siswa saat ujian tidak diperbolehkan guru yang notabene mengajar Bahasa Indonesia.

Hal itu dilakukan menurut Yusuf, dapat diindikasikan guru tersebut memberitahu murid-murid yang sedang ujian jawaban soal ujian tersebut, karena guru yang bersangkutan menguasai betul mata pelajaran yang diujikan.

“Untuk itu kita akan mengatur pos-pos pengawasan yang dilakukan guru-guru pengawas,” tegas Yusuf.

Adapula pengawasan yang dilakukan Tim independen, dimana BSNP memberikan wewenang yang seluas-luasnya dalam hal-hal tertentu yang dianggap emergenci atau mendadak diperbolehkan masuk keruang ujian.

Untuk itu dalam UN dan UASBN nanti dirinya berharap, ujian nasional ini harus jadikan sebagai penilaian evaluasi keseluruhan dari pendidikan nasional di Indonesia. Untuk menjaga kredibilitas agar mutu perkembangan bangsa Indonesia kedepan seperti yang diinginkan, Yusuf mengajak semua guru, pengawas maupun peserta ujian agar dapat melaksanakan UN dengan penuh kejujuran, tanggungjawab dan kesadaran tinggi serta seprofesional mungkin untuk mencapai mutu pendidikan nasional yang berkualitas.



OPTIMIS

Sementara itu, rasa optimis muncul dari Kepala Tata Usaha Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua Drs Paul Indubri yang mewakili Kepala Dinas P dan P Provinsi Papua, Drs. James Modouw, M.MT pada sosialisasi UN dan UASBN 2009 itu.

Menurutnya, dengan standar 5,50 untuk kelulusan tahun ajaran 2008/2009 khusus di Papua hal itu tidak terlalu menjadi masalah. Dimana, pada tahun lalu dengan standar 5,25, tingkat kelulusan di Papua sangat memuaskan.

“Saya kira bukan menjadi suatu kendala dengan kenaikan standar kelulusan kali ini, dilihat dari tahun kemarin, tingkat kelulusan di Papua mengalami peningkatan yang signifikan,” terang Paul.

Rasa optimisnya tersebut, karena menurut Paul sebelum pelaksanaan UN maupun UASBN segala persiapan para guru maupun peserta ujian telah dididik jauh-jauh harinya, begitu juga dengan latihan-latihan soal yang diberikan.
“Kami beserta dinas P dan P di masing-masing kabupaten/kota maupun satuan pendidikan lainnya, akan tetap berusaha agar target ini dapat tercapai guna menghadapi standar kelulusan tahun 2012 nanti yang mencapai 6,00,” pungkasnya.
---------------------------
Sumber:papuapos.com

BACA TRUZZ...- 5, 50 Standar Ujian Nasional 2009

Pendidikan Dogiyai Butuh Waktu dan Keseriusan Semua Pihak

Jumat, Desember 19, 2008

Untuk membangun dunia pendidikan di Kabupaten Pemekaran Dogiyai hanya dibutuhkan waktu dan keseriusan serta keterlibatan semua pihak. Demikian penegasan Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Dogiyai, Drs. Andreas Yobe, M.Hum.
Namun dirinya mengakui sebagai orang asli Kabupaten Dogiyai akan memulai menata dunia pendidikan dari kantor hingga ke sekolah-sekolah masing-masing. Dengan satu sistim, peningkatan disiplin kerja yang tegas dan berwibawa.

Dan Kepala Dinas yang satu ini juga merupakan orang lapangan yang sudah dibilang banyak menelan manis dan pahitnya liku-liku dunia pendidikan. Sehingga dari pengalaman tersebut, akan dijadikan modal membangun dunia pendidikan yang lebih baik di Kabupaten Dogiyai.

Kebetulan saya orang lapangan, maka saya sudah tahu persis apa yang menjadi kendala. Sehingga saya akan membangun kerja sama dengan para guru yang sedang melaksanakan tugas di lapangan,” tuturnya kepada Papuapos Nabire, Senin (2/12) usai mengikuti acara sosilaisasi dana BOS buku bagi para kepala sekolah SD dan SMP se-Kabupaten Nabire dan Dogiyai di kantor Dinas Dikjar Nabire.

Dikatakan, untuk menjawab kemajuan dunia pendidikan yang lebih baik, tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama. Tetapi dilakukan dengan tekad dan hati yang bersih serta adanya peningkatan disiplin yang baik.Tentunya harapan kemajuan dunia pendidikan akan dicapai, dan hal inipun tidak harus dilakukan atas dasar satu orang. Tetapi adanya keterlibatan dan kerja sama antara orang tua, guru dan pemerintah serta masyarakat sekitar dan peduli pendidikan.

Dan untuk melihat kondisi riil pendidikan yang ada di Kabupaten pemekaran Dogiyai, setelah dirinya dilantik pada tanggal 12 November dan selang satu hari kemudian, kepala dinas yang satu ini langsung melakukan kunjungan turun lapangan ke setiap sekolah. Tujuannya, melihat kondisi pendidikan dari dekat.

Sehingga dari hasil kunjungan turun langsung ke lapangan itu, telah ditemui keprihatinan yang melanda dunia pendidikan yang ada di Kabupaten Dogiyai seperti SMAN 5 Nabire di Moanemani yang ada gedung tetapi tidak memiliki meubeler kursi dan meja.

Bukan saja kursi dan meja belajar para siswa yang tidak ada. Tetapi hal yang paling sulit adalah terlihat rata-rata semua sekolah tidak memiliki rumah guru untuk bisa tinggal betah dan melaksanakan tugas. Sehingga dari hasil kunjungan lapangan yang temui itu, merupakan pekerjaan berat yang harus dijawab secara bertahap demi kemajuan dunia pendidikan yang ada di Kabupaten Dogiyai.

Diketahui bersama, untuk melihat kondisi riil dunia pendidikan yang ada di Kabupaten Dogiyai dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga SMA dan SMK, membutuhkan waktu lama. Karena jarak antara kampung dan distrik harus dilalui dengan jalan kaki saja.

“Pada bulan Januari 2009 nanti, saya akan tegakan disiplin yang sedini mungkin supaya proses belajar mengajar yang ada di lapangan dan kinerja aparat pelaksana pendidikan di kantor bisa berjalan dengan meletakan dasar yang kuat demi kemajuan pendidikan,” tuturnya.
-----------------------------------
Sumber:http://www.papuaposnabire.com/situs%20papuapos%20nabire/Scripts/04-12-08-Pendidikan%20Dogiyai.html


BACA TRUZZ...- Pendidikan Dogiyai Butuh Waktu dan Keseriusan Semua Pihak

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut