25 Tahun OTSUS Tak Akan Bahwa Perubahan

Kamis, Juni 05, 2008

Hingga saat ini pemerintah Papua belum memiliki renstra otsus maupun perdasus hingga pelaksanaan otsus berjalan sepotong sepotong. Setiap Gubernur membawa sesuai pikirannya tanpa ada kesinambungan. Sedangkan para pemimpin Papua cenderung saling lempar kesalahan tanpa benar-benar ingin menyelesaikannya.

Tekad Barnabas Suebu, Gubernur Papua untuk menuntaskan semua instrumen pelaksanaan otsus seperti peraturan daerah provinsi (Perdasi) dan peraturan daerah khusus (perdasus) pada tahun 2008 sepertinya hanya isapan jempol belaka.Hingga bulan mei 2008 belum ada satu pembahasan yang dilakukan oleh pihak legislatif. “Ada 11 perdasi yang belum mendapat tanggapan gubernur, dan ini sangat menghambat pelaksanaan otsus di Papua” ujar Yance Kayame, Ketua Komisi A DPR Papua. Akibatnya hingga 7 tahun pelaksanaan otsus, ia merasakan otonomi khusus sudah keluar jauh dari relnya dan menjadi tugas seluruh masyarakat untuk mengembalikan pada relnya.

Kajian dari komisi A DPR Papua, dalam 7 tahun pelaksanaan otonomi khusus yang saat ini masih berproses, telah terjadi perubahan yang cukup signifikan seperti peningkatan APBD setiap tahun, keberpihakan pada orang asli Papua semakin dirasakan namun semua itu dirasakan belum maksimal karena kebutuhan kebutuha dasar masyarakat belum sepenuhnya dapat terpenuhi secara proporsional baik pendidikan, kesehatan, gizi, perumahan maupun infrastruktur. “Pedasi dan Perdasus sebagai instrumen penting dalam memback up UU No.21/2001 hingga saat ini belum dirumuskan, sehingga berbagai kewenangan yang diberikan tidak dapat diimplemenrtasikan.” Ujar Ramses Wally, wakil ketua Komisi A DPR Papua.
Menurutnya selain itu ada beberapa hal penting yang menghambat pelaksaan otsus, seperti tidak adanya rencana strategis (renstra) khusus otsus, lembaga ad-Hoc yang bertugas menyiapkan perdasi dan perdasus, pemerintah pusat sering mengeluarkan kebijakan yang kontroversial yang menyulitkan UU No.21/2001 seperti pemekaran, PP No.77/2008 tentang lambang daerah dan yang terakhir adalah rencana pemerintah mengeluarkan Perpu otsus tanpa melibatkan DPR Papua. Juga belum adanya lembaga Kebenaran dan rekonsiliasi sebagai media penyelesaian masa lalu, terutama pelurusan sejarah Integrasi Papua dalam NKRI yang juga menjadi amanat UU No.21/2001.

Menurut Amir Siregar, wartawan dari Radio Republik Indonesia (RRI) saat mengikuti hearing dan dialog Pers dan Komisi A tentang Prediksi kondisi Papua setelah 25 tahun otsus berjalan bahwa kondisi yang terjadi saat ini dakibatkan karenaa DPR Papua lemah,”Untuk memperbaikinya, saya pikir rakyat Papua harus memilih wakil-wakilnya yang benar-benar berani memperjuangkan kepentingan rakyat,” ujar Siregar. Misalnya saat gubernur Papua memilih tidak menggunakan Perdasus No.1/2007 tentang pembagian dana otsus dalam menyusun Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Papua tahun 2007 dan 2008, seharusnya DPR Papua menolak.

“Kami, komisi A sudah pernah menyampaikan itu, namun ketika itu orang mengelu-elukan kebaikan piramida yang begitu sempurnahnya. Ini suatu hal yang sangat memprihatinkan. Tapi jika sekarang tanya ke saya apakah saya optimis dengan pelaksanaan otsus, saya akan jawab saya prihatin dan saya tidak yakin bisa tercapai tujuan utama otsus. Banyak hal disini yang tidak dilaksanakan dengan baik. Seperti dana otsus untuk pendidikanyang seharusnya 30 persen tetapi dalam pelaksanaannya tidak sampai 7 persen. Daerah daerah lain tidak perlu otonomi khusus, SPP bisa dibebaskan. Tetapi kita dengan dana sebesar itu belum bisa,” kata Yanni, anggota komisi A yang juga ketua Partai Bintang Reformasi (PBR) provinsi Papua.

Robin Manurung dari RRI juga berpikir seharusnya hanya dalam waktu 10 tahun perubahan sudah benar benar terjadi, “Apalagi jika Papua mampu mengambil Rp. 100 Trilyun dari kayu dan ikan seperti kata pak Bas baru-baru ini. Untuk mengejar ini kita perlu Rp. 200 trilyun tidak lebih. Lalu mengapa DPRP tidak tidak panggil semua orang? Masukkan semua orang itu, mereka melanggar undang-undang,” ujar Manurung.

Menjawab pertanyaan ini, Yanni menjawab “Begitulah persoalan, Memang ada suatu kekuatan untuk menyampaikan kebenaran. Kita bicara disini juga belum akan ada manfaatnya. Namun saya percaya jika kita terus menerus menyuarakan itu. Semua sudah lebih tahu tahu dari saya,” kata Yanni. Selain itu menurut Yanni Lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM) pemerintah provinsi dalam hal management, birokrasi tumpang tindih, proyek2 yang berorientasi pada kepentingan kepentingan. Disatu sisi rakyat Papua dalam kondisi kelaparan, namun memiliki mega proyek yang menghabiskan dana ratusan milyar.

Netty Dharma Somba, dari harian The Jakarta Post yang ikut nimbrung menggungkapkan bahwa yang pertama tama harus dibenahi bukan renstra, ataupun aturan aturan yang harus dilengkapi. Melainkan komitmen untuk membangun Papua dari para pemimpin Papua yang harus ada terlebih dahulu baru otsus dapat dilaksanakan dengan baik. “Dahulu sebelum ada otsus, jurang hanya terjadi antara orang Papua dan Pendatang. Namun setelah otsus semakin banyak jurang. Antara Papua dan Pendatang, antara suku dan suku, antara pejabat dan rakyat biasa. Hal ini menyebabkan biaya rekonsiliasi yang lebih besar. Sebab itu kita harus mencegah jangan sampai ada lebih banyak jurang lagi ” ujarnya. Contohnya propinsi Sragen dengan PAD dan APBD yang sangat kecil namun dapat menggratiskan pendidikan.Di sana tidak ada kepala dinas dengan mobil merk Ford atau mobil yang berharga milyaran namun masyarakat menjadi prioritas utama. Setelah itu baru hal hal yang lain.

Karena Gubernur Papua, Barnabas Suebu sendiri mengatakan sebelum kepemimpinannya 90 persen dana Otsus dihabiskan oleh Birokrat. Namun hingga saat ini belum ada tindakan nyata terhadap koruptor ataupun tidakan penghematan dari para birokrat.

Untuk itu Kepala Biro Antara Jayapura, Pieter Tukan mengingatkan bahwa otsus ada karena orang Papua minta merdeka. Jika tidak dilaksanakan dengan baik maka tindakan saat ini hanya menunda masalah. “Saya memprediksi jika keadaan seperti ini terus berlanjut hingga 25 tahun mendatang maka yang terjadi adalah terjadi konflik antara orang Papua, terjadi konflik antara orang Papua dan orang pendatang namun lahir di Papua dan antara orang Papua dan orang pendatang. Apalagi saat itu beberapa kontrak karya perusahaan besar seperti PT Freeport dan BP Migas berakhir. Akan banyak pihak ketiga yang bermain dan membuat kisruh Papua,” ujarnya. Untuk itu Ia mengingatkan agar jika ingin menyelesaikan maka harus dimulai hari ini sebab kesadaran untuk merdeka bukan datang karena masyarakat Papua menyadari mereka kaya SDA namun karena rasa kebebasan.

Sebagai wakil rakyat, peran DPR Papua tentu sangat diharapkan oleh masyarakat Papua. Misalnya jika ada perdasi atau Perdasus yang harus dibahas gubernur namun tidak selesai dalam jangka waktu tertentu, maka DPRP harus berani mengambil keputusan untuk memberlakukannya. “Sebagai langkah awal, komisi A akan meminta agar tahun anggaran 2009 Gubernur harus membuat 2 APBD. Yang pertama APBD khusus tentang anggaran pendapatan belanja yang berasal dari dana otsus dan APBD umum yang berasal dari sumber dana selain otsus,” ujar Yance Kayame.Selain itu Kayame memandang perlunya mendorong penyusunan tim AD hock untuk melakukan restra,Perdasi dan perdasus sebagai instrumen penting dalam pelaksanaan otsus.

Dengan begitu impian menemukan masyarakat Papua yang sejahtera dengan sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, cukup pangan dan memiliki perekonomian mandiri setelah dua puluh lima tahun paskah pelaksanaan otsus dapat terwujud. (Angel Flassy)
-----------------------------------------------------------------
http://www.fokerlsmpapua.org
BACA TRUZZ...- 25 Tahun OTSUS Tak Akan Bahwa Perubahan

Mayoritas Orang Papua Cenderung Makan Nasi

Rabu, Juni 04, 2008

Tercatat sebanyak 30 % penduduk Papua mengkonsumsi umbi-umbian (petatas), 15 % mengkonsumsi sagu dan selebihnya 55 % mengkonsumsi beras. Krisis pangan tampaknya tak akan pernah usai kalau masyarakatnya masih terus diajak mengkonsumsi hanya satu pangan saja. Padahal sebagai daerah tropis, mestinya tidak terjadi penyeragaman bahan pangan. Masyarakat Biak Numfor punya pengalaman tentang rusaknya makanan pokok keladi dan bete beberapa tahun silam.

Hama ulat menghancurkan dan merusak tanaman keladi bete yang hendak dipanen di wilayah Biak Numfor dan Supiori. Waktu itu terjadi krisis pangan dan orang tua berusaha mengolah buah bakau atau dalam bahasa Biak disebut aibon untuk dikonsumsi sebagai pengganti keladi bete. Kini pemerintah Kabupaten Supiori terus mempromosikan tepung aibon ini untuk konsumsi lokal di sana.

Belajar dari pengalaman hama ulat di Kabupaten Biak Numfor tentunya membuat masyarakat untuk tidak selalu mengosumsikan satu jenis tanaman pangan saja. Kalau meminjam program pemerintah yaitu sudah saatnya dilakukan diversifikasi pangan atau keanekaraman pangan perlu dikembangkan. Meskipun masyarakat di tanah Papua sudah lama mengenal keanekaragaman pangan mulai dari pisang, sagu, keladi, talas, kumbili di suku Marind Merauke, batatas di pedalaman Papua.Ironinya kondisi masyarakat asli di Papua saat ini mulai beralih konsumsi pangan lokal ke padi padi alias beras sebagai bentuk penyeragaman pangan. Hal ini diperparah lagi dengan program beras miskin (raskin) sehingga masyarakat sudah jarang berkebun dan hanya menjual ikan atau hasil tanaman pertanian holtikultura untuk membeli beras murah.

Memang masyarakat Papua telah mengenal sejumlah makanan lokal, seperti sagu, ubi jalar, keladi, singkong, dan pisang. Tetapi hanya dua jenis makanan yang begitu populer, yakni sagu bagi masyarakat pantai dan ubi jalar untuk masyarakat pedalaman. Jika disimak ternyata dari hari ke hari makanan lokal itu diabaikan, sebab pemerintah mulai mensosialisasikan pola makan beras. Sedangkan budidaya padi di kalangan petani lokal tidak bisa dikembangkan. Walau masyarakat di Lembah Baliem dan Merauke telah mengolah sawah tetapi tak bertahan lama. Masyarakat suku Dani di Kampung Yiwika menanam padi di dalam sawah mereka tetapi merasa banyak menyita waktu sebab malam jaga tikus dan siang usir burung. Pekerjaan mengolah sawah tak seenak membuat bedeng bedeng kebun hipere.

Dr Josh Mansoben di Jayapura kepada Jubi mengatakan, hasil penelitian sejumlah dosen Uncen menunjukkan, kecenderungan masyarakat Papua mengonsumsi beras terus meningkat setiap tahun dibanding makanan lokal. Bahkan, ada sebagian penduduk Papua tidak lagi berupaya menanam pangan lokal, dengan alasan akan membeli beras.Padahal, pangan lokal seperti ubi jalar, keladi, pisang, singkong dan sagu sudah dikenal masyarakat sejak nenek moyang. Makanan ini dari turun-temurun dikenal orang Papua. Bahkan, sagu memiliki nilai budaya dan tradisi yang sangat tinggi karena mengandung unsur mistis dan magis.

Data dari Tanaman Pangan Provinsi Papua menyebutkan sejak 1998 tercatat sebanyak 30 % penduduk Papua mengosumsi umbi umbian (petatas), 15 % mengosumsi sagu dan selebihnya 55 % mengosumsi beras.Bukan itu saja tetapi pada tahun 1996-1998, produksi ubi jalar di Papua sebanyak 435.000 ton. Tetapi jumlah ini terus menurun setiap tahun. Pada tahun 1999-2001 hanya mencapai 340.000 ton. Tahun 2003 lebih parah lagi dengan jumlah produksi hanya 250.000 ton. Produksi ubi jalar terbesar di daerah Pegunungan Tengah (Paniai, Puncak Jaya, Jayawijaya, Tolikara, Yahokimo, Pegunungan Bintang, dan Nabire).

Sedangkan menurut Ir Leonardo A Rumbarar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Papua belum lama ini di Jayapura menyebutkan potensi lahan tanaman pangan dan holtikultura di Provinsi Papua seluas 14.269.376 Ha. Dalam tahun 2006 penggunaan lahan untuk sawah seluas 25.127 hektar dan untuk lahan kering hanya 165.505 hektar.Adapun sentra tanaman pangan padi padian terdapat di Kabupaten Merauke, Kota Jayapura, Nabire, Waropen, Kabupaten Jayapura, Sarmi dan Mimika. Sentra tanaman jagung terdapat di Paniai, Keerom, Kota Jayapura, Kab Jayapura, Sarmi, Biak Numfor dan Nabire. Sentra tanaman kedelai di Kab Keerom, Merauke, Jayapura, Nabire dan Sarmi. Sentra tanaman kacang tanah di Kabupaten Merauke, Nabire, Jayapura, Sarmi, Paniai. Sentra kacang hijau hanya di Kabupaten Biak Numfor. Ubi jalar (hipere) di Kabupaten Jayawijaya, Jayapura, Paniai, Puncak Jaya, Tolokara, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Merauke dan Keerom. Sentra keladi di Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori.

Bahkan data dari Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura mencatat produksi dan kebutuhan padi di Papua tahun 2005-2007 hanya 73.775 ton saja sedangkan kebutuhannya mencapai 297.940 ton Sedangkan produksi ubi jalar sekitar 307.871 ton sementara kebutuhannya sebesar 284.847 ton. Berarti terdapat kelebihan stok ubi jalar atau hipere.Masyarakat Pegunungan Tengah terutama di Lembah Baliem suku Dani (Jayawijaya) menyebut ubi jalar dengan sebutan hipere (Ipomea batatas). Penduduk suku Kurima (Jayawijaya) menyebut supuru, dan penduduk di Tiom menyebut mbi. Ubi jalar asal Baliem, termasuk jenis raksasa dengan panjang 2 meter dan garis tengah mencapai 30 cm, dan beratnya mencapai 15 kg.

Bahkan mereka mengenal ratusan jenis ubi jalar sesuai dengan nama yang diberikan sendiri. Terkadang dalam satu bedeng berukuran 10 meter x 20 meter ditanam lebih dari 20 jenis ubi jalar.Ubi jalar juga lebih tahan hawa pegunungan ketimbang bete(taro) dan syafu(yam), dan dapat ditanam sampai ketinggian 2700 meter.Hal ini memungkinkan penduduk asli Papua tinggal menghuni lembah lembah yang tinggi. Betatas yang daunnya sangat lebat dan cukup bergizi berguna ( sebagai pakan) untuk pemeliharaan babi secara besar besaran.

Cara bertanam ubi pada masyarakat Dani ialah dengan membuat gundukan atau timbunan tanah setinggi kurang lebih 10 cm yang disebut hipere ukul. Di dalam hipere ukul ini ditanam dua batang bibit ubi atau hipere ai.Secara umum terdapat tiga tipe cara berkebun yang dikembangkan sesuai kondisi lahan antara lain ;1. Di lereng gunung : kebun dibuat dengan sistem teras yang memanjang atau menuruni lereng. Tetapi pada lokasi lokasi tertentu dibuat teras membujur sebagai penyangga tanah.2. Di tanah/daerah andai : kebun dibuat dengan membangun parit parit kecil yang dangkal atau wen tinak antar bedeng. Parit dalam dibuat di sekeliling kebun.3.Di daerah rawa : kebun dibuat dengan parit parit lebar dan dalam atau wen ika antar bedeng.

Adapun kegunaan parit parit adalah sebagai sumber air berlebih, sebagai saluran pembuangan, sumber air pada musim kemarau. Biasanya parit tersebut dihubungkan dengan sungai kecil atau parit alam.Pekerjaan kaum laki laki dalam berkebun yaitu membuka lahan sebagai lokasi kebun baru dibersihkan dengan memakai kapak dan parang. Selanjutnya tanah diolah dengan tongkat penggali/sege, gumpalan gumpalan tanah digali lalu disebarkan dengan tangan di atas bedengan. Sedangkan kaum perempuan menghaluskan tanah dalam bedengan. Kaum pria bertanggungjawab untuk membangun pagar dari kayu atau batu batuan di sekitar kebun untuk mencegah perusakan oleh babi.

Penanaman dilakukan bervariasi. Bila larik pertama ditanami jenis ubi jalar jenis saporeken, musan, sapoleleke, dan pilhabaru, maka larik berikutnya ditanami jenis lain. Variasi jenis tanaman ini dimaksudkan agar tidak bosan mengonsumsi satu jenis ubi jalar tertentu. Karena rasa dan aroma setiap ubi jalar berbeda. Pembantu Rektor I Universitas Cenderawasih Sam Renyaan mengatakan masyarakat Dani mengenal banyak jenis ubi jalar (batatas) sekitar 24 jenis dan ada jenis batatas yang tepungnya sangat bagus untuk ayam goreng Kentucky. “Saya harap suatu saat nanti ada penelitian yang memakai tepung petatas asal Jayawijaya dalam adonan ayam goreng,”ujar Renyaan dalam dialog Pengelolaan Sumber Daya Alam Forum Komunitas Pengetahuan, Kawasan Timur Indonesia di Jayapura belum lama ini.

Pengetahuan masyarakat Pegunungan Tengah mengenai manfaat ubi termasuk tinggi, terutama untuki anak-anak atau bayi biasanya diberikan jenis walelum karena teksturnya halus, tidak berserat dan mengandung betakarotein tinggi. Jenis helalekue dan arugulek dikonsumsi oleh orang dewasa, dan untuk makanan ternak (babi) biasanya diberikan jenis musan, yang tidak bercitarasa dan kulitnya tampak pecah-pecah.Hasil penelitian dari Uncen menyebutkan, di Papua terdapat 681 jenis umbi-umbian dan sekitar 15 persen di antaranya setelah diteliti ternyata memiliki sejumlah kesamaan. Penelitian itu hanya berfokus pada jenis daun, tulang daun, warna kulit, dan daging umbi.

Ubi jalar dapat dipanen antara 6 dan 8 bulan, tergantung jenis tanah, sinar matahari, dan jenis ubi. Tanah berhumus dengan tingkat kelembaban cukup tinggi, mempercepat ubi berisi dan dalam waktu enam bulan dapat dipanen. Masyarakat Pegunungan Tengah hanya mengonsumsi ubi jalar dengan cara direbus, dibakar, dan sebagian dijemur di sinar matahari kemudian disimpan. Belum ada yang mencoba mengelola ubi jalar untuk bahan kue.

Ubi jalar termasuk tidak tahan terhadap proses pembusukan dan ulat ubi. Makin lama disimpan citarasa dan aromanya terus menurun. Malah bila disimpan di tempat yang lembab menjadi tumbuh, berkecambah. Karena itu, ribuan ton ubi jalar milik petani di Pegunungan Tengah sering rusak dan membusuk. Ubi jalar hanya bertahan 3-4 bulan jika disimpan di tempat dengan suhu udara 20-30 derajat Celsius.

Salah satu cara menyimpan batatas atau mengawetkan pernah dilakukan oleh Women and Their Children Health (WATCH) Program Wamena. Cara ini mereka tiru dari Papua New Guinea (PNG) orang PNG menyebut batatas kering dengan nama kao kao rice. Cara membuatnya batatas dibilas dengan air hingga bersih kemudian dikuliti atau diiris tipis menyerupai keripik singkong. Keripik batatas ini dijemur sampai kering dan bisa bertahan sampai delapan bulan. Cara memasaknya bisa seperti menanak nasi didandang. Keripik batatas dihancurkan dan dibasahi dengan air bersih, dibungkus serta dibakar dengan batu sesuai cara memasak orang Dani. Bisa juga dibuat bubur batatas ducampur wortel dan sayuran lainnya tanpa mengurangi rasa ubinya.

Selain batatas dan taro di Provinsi Papua termasuk salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi sagu terbesar, bahkan terluas di seluruh dunia. Luas lahan sagu 771.716 hektar atau sekitar 85 persen dari luas hutan sagu nasional. Wilayah sebarannya di Waropen Bawah, Sarmi, Asmat, Merauke, Sorong, Jayapura, Manokwari, Bintuni, Inawatan, dan daerah yang belum terinventarisasi.

Di Kabupaten Asmat sagu sebagai makanan khas pemberian nenek moyang dan cara masaknya mereka hanya membakar saja. Orang Asmat biasa menyebut sagu bola yang dibakar. Kebiasaan jaman dulu di Asmat, menokok sagu harus diawali dengan upacara adat. Maksudnya agar nenek moyang yang menjaga sagu itu dapat memberikan sari yang bagus dan dapat dikonsumsi untuk pertumbuhan dan kesehatan. Data dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Jayapura, luas lahan sagu di Jayapura 38.670 ha, terdiri dari 14.000 ha areal budidaya dan sisanya areal hutan sagu alam. Dari areal ini diperoleh tepung sagu sebanyak 6.546 ton, sebanyak 62,98 persen di antaranya dijadikan stok pangan penduduk Kabupaten Jayapura, sisanya untuk bahan makanan penduduk kota Jayapura. Produksi sagu di Papua diperkirakan 1,2 juta ton setiap tahun.

Mantan Bupati Jayapura Yan Pieter Karafir pernah mengeluarkan SK Bupati tentang perlindungan dan pengembangan sagu alam di Kabupaten Jayapura. Dalam Simposium Sagu di Jayapura YP Karafir memperoleh penghargaan karena membudidaya dan mengamankan sagu sebagai pangan lokal bagi masyarakat Papua.Sam Renyaan menambahkan sagu juga bisa dikembangkan jadi bahan baku mie dan juga untuk produk tepung sagu untuk bahan kue dan roti. Memang sagu tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga digunakan untuk produk industri modern, seperti proses pembuatan kayu lapis, sohun, kerupuk, kue kering, jeli. Di Jepang pati sagu setelah dicampur dengan bahan tertentu digunakan untuk bahan baku plastik daur ulang, lampu komputer, dan layar flat monitor TV.

Meski pun sagu tumbuh secara alami tetapi upaya untuk melakukan budi daya dan perkebunan sagu jelas sangat tepat sebab jika tidak akan terus berkurang karena alih fungsi lahan. Fakta telah menunjukan bahwa akibat pengembangan Kota Jayapura terpaksa dusun dusun sagu milik warga Tobati dan Injros harus ditebang. Kini ketergantungan terhadap pangan beras sangat tinggi di tanah Papua sementara produksi beras sendiri masih kurang. Pilihan terbaik adalah jangan tergantung pada satu tanaman pangan saja sebab selama berabad abad sagu jarang terkena hama atau gagal panen. (Dominggus A. Mampioper dari berbagai sumber)
---------------------------------------------------------
Sumber: http://www.fokerlsmpapua.org
BACA TRUZZ...- Mayoritas Orang Papua Cenderung Makan Nasi

Budaya Menulis di Kalangan Mahasiswa

Selasa, Juni 03, 2008

Oleh : Hendra Sugiantoro

DALAM menempuh pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswa tak dapat dilepaskan dari aktivitas membaca dan menulis. Kedua aktivitas tersebut dimaksudkan untuk memperkaya khazanah pengetahuan sekaligus mengembangkan spesialisasi keilmuan mahasiswa. Dengan melakukan aktivitas membaca dan menulis, mahasiswa diharapkan akan memiliki kemampuan memahami dan mengaplikasikan bidang keilmuan yang tentu saja sangat menunjang proses akademiknya.

Aktivitas membaca dan menulis pada dasarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Untuk dapat melakukan aktivitas menulis, mahasiswa dituntut membudayakan aktivitas membaca. Dengan kata lain, aktivitas menulis mahasiswa berkaitan erat dengan aktivitas membacanya. Namun demikian, aktivitas membaca yang menjadi landasan menulis ini ternyata belum begitu maksimal. Masih dijumpai mahasiswa yang kurang antusias membaca literatur-literatur terkait mata kuliahnya. Tidak jauh berbeda dengan tingkat membaca masyarakat Indonesia umumnya, rendahnya minat membaca juga terjadi di kalangan mahasiswa.

Adanya kenyataan rendahnya budaya membaca di kalangan mahasiswa ini tentu berpengaruh terhadap aktivitas menulisnya. Dalam melakukan aktivitas menulis, mahasiswa dituntut membuka berbagai literatur. Kesulitan dalam melakukan aktivitas menulis dimungkinkan terjadi jika mahasiswa tidak memiliki motivasi dan ketekunan membaca.

Memang dapat dikatakan mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi tidak bisa menghindar dari aktivitas menulis. Di perguruan tinggi, khususnya S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya tulis, seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil, tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian (Harry Firman : 2004).

Dengan demikian, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan menulis dalam menunjang keberhasilan studinya. Sebut saja misalnya dosen yang mengampu mata kuliah X menganjurkan mahasiswa menyusun makalah sebagai bagian dari penilaian akhir. Mahasiswa yang mendapatkan tugas menyusun makalah tentu saja harus menuliskannya secara baik, sistematis, dan mudah dipahami. Dengan penyusunan makalah yang baik dipastikan memudahkan dosen memahami kerangka berpikir mahasiswa dalam penyajian makalahnya. Penyusunan makalah secara baik, sistematis, dan mudah dipahami jelas akan memberikan nilai positif. Tugas penyusunan makalah ini tidak saja diberikan oleh dosen yang megampu mata kuliah X, tetapi juga dosen-dosen mata kuliah lainnya. Banyaknya tugas makalah yang diberikan dosen berarti menuntut mahasiswa selalu membuka literatur dan menulis. Kebiasaan membaca dan kemampuan menuangkan pemikiran dalam tulisan yang dimiliki mahasiswa dipastikan akan berbanding lurus dengan peningkatan prestasi akademiknya.

Ditinjau lebih jauh, aktivitas membaca dan menulis sebenarnya telah ditumbuhkan dosen di perguruan tinggi. Tugas penyusunan makalah, misalnya, mengajak mahasiswa tekun membaca dan meningkatkan kualitas tulisan. Lomba kepenulisan karya ilmiah pun sering kali diselenggarakan di perguruan tinggi, seperti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) dan Program Penulisan Kritis Mahasiswa (PPKM). Dari pemberian tugas makalah dan lomba kepenulisan tersebut mahasiswa diarahkan untuk membiasakan membaca dan menulis sebagai tradisi intelektual di perguruan tinggi. Pertanyaannya, apakah mahasiswa memberikan respons positif terhadap stimulus menulis tersebut?

Aktivitas menulis di kalangan mahasiswa bisa dikatakan belum berjalan baik. Rangsangan menulis yang dilakukan dosen atau pun melalui lomba penulisan menunjukkan beragam perilaku di kalangan mahasiswa. Diakui atau tidak, mahasiswa sering kali merasa terbebani dengan tugas-tugas penyusunan makalah. Setiap dosen memberi tugas menyusun makalah selalu ditanggapi negatif oleh sebagian mahasiswa. Bahkan, mahasiswa tidak jarang memberikan stigma buruk terhadap dosen yang memberi tugas menyusun makalah karena dianggap memberatkan. Berbagai lomba kepenulisan pun hanya diikuti oleh segelintir mahasiswa.

Adanya respons kurang baik dari mahasiswa ini tentu disebabkan berbagai faktor yang tidaklah sederhana. Harus diakui jika karakter sebagian mahasiswa saat ini lebih menyukai pekerjaan yang tidak terlalu berat. Setiap tugas kuliah—tidak hanya penyusunan karya tulis—selalu dianggap membebani mahasiswa. Budaya instan memang disadari telah menjangkiti kepribadian sebagian mahasiswa di perguruan tinggi.

Perilaku menyontek saat ujian pertengahan semester dan ujian akhir semester tidak dimungkiri merupakan penyakit akut yang menunjukkan budaya instan tersebut. Mahasiswa dengan karakter seperti ini (baca : mahasiswa Z) dalam mengerjakan tugas kuliah termasuk menyusun makalah sering kali asal cepat jadi. Dalam penyusunan makalah atau karya tulis lainnya, mahasiswa Z ini sering kali hanya memindahkan tulisan orang lain atau mencomot berbagai referensi tanpa memerhatikan kaidah penulisan yang baik dan benar. Misal, mahasiswa Z dalam menyusun tugas makalah memiliki tema “Keluarga dan Penanaman Moral”.

Mahasiswa Z ini mencari literatur di perpustakaan yang terkait dengan penanaman moral dan keluarga. Dari bacaan-bacaan terkait, mahasiswa Z sering kali hanya copy paste apa yang dituliskan penulis dalam bacaan tersebut. Perilaku seperti itu memang tidaklah salah, namun tanpa memerhatikan kaidah penulisan tentu tidak dibenarkan dalam penyusunan karya tulis.

Sebagai sebuah bentuk aktivitas akademik, upaya menumbuhkan dan memacu minat mahasiswa untuk menulis tentu harus terus-menerus dilakukan. Meminjam istilah Prof. Dr. T. Jacob dalam Kata Pengantar buku Menulis Karya Ilmiah karangan Etty Indriati, Ph.D (2003), mahasiswa yang menulis karya-karya ilmiah disebut sebagai karyawan ilmiah. Bagi karyawan ilmiah, menulis seharusnya telah menjadi budaya dan panggilan hidup untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat luas. Dengan menulis, mahasiswa tentu akan dapat mentransformasikan pengetahuan dan wawasannya.

Di pihak mahasiswa, motivasi internal dalam diri mahasiswa sendiri untuk giat menulis tentu saja sangat diharapkan. Respons positif diharapkan muncul dari mahasiswa dengan, pertama, mengerjakan tugas-tugas penyusunan makalah, paper, laporan praktik/observasi sesuai kaidah keilmuan dan kepenulisan yang benar. Kedua, berperan dan berpartisipasi aktif dalam setiap perlombaan karya tulis ilmiah sebagai upaya menerapkan dan menguji ilmu pengetahuan terkait jurusan dan program studinya. Ketiga, mengembangkan ilmu pengetahuan terkait jurusan dan program studinya melalui karya-karya tulis yang dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat. Semoga.

*)HENDRA SUGIANTORO,
pekerja media di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
BACA TRUZZ...- Budaya Menulis di Kalangan Mahasiswa

Mecintai Buku

Jumat, Mei 30, 2008

oleh: Ferdinandus Setu

Suatu kebiasaan yang ingin saya tumbuhkan kepada putra kami adalah kecintaan kepada buku. Saban hari Sabtu dan/atau Minggu, saya dan istri mengajak buah hati kami yang masih berusia 6 bulan berkunjung ke Perpustakaan Kota Jakarta Pusat, di Jalan Tanah Abang I. Jarak tempuh 5 menit jalan kaki dari istana kami di Petojo Enclek XIII. Meski anak kami benar-benar masih belum paham benar apa itu buku, apa itu perpustakaan, kami tetap nekat mengajak dia turut serta ke rumah buku itu. Alasannya, kami ingin mengenalkan suasana buku, suasana perpustakaan kepadanya.

Sebuah keadaan miris terjadi di perpustakaan. Saban kami di sana, pengunjung tak pernah banyak. Kadang hanya kami sendiri bertiga, kadang ditambah dua atau tiga anak SD yang lebih banyak bermain di dalam perpustakaan ketimbang duduk membaca. Perpustakaan dengan ribuan judul buku itu sepi pengunjung. Iseng-iseng bertanya ke petugas. Ia menuturkan bahwa hari Sabtu dan Minggu paling maksimal 20 orang. Hari biasa pun kurang lebih sama.

Kondisi perpustakaan yang sepi berbanding terbalik dengan kolam renang yang berada tepat di depan hidung gedung perpustakaan. Lebih dari 100 orang, separuhnya anak-anak bermain-main di kolam. Untuk menikmati kolam, pengunjung harus merogoh kocek Rp1.600. Bagi yang membawa kendaraan harus membayar parkir. Padahal masuk perpustakaan gratis. Aneh bin ajaib. Orang lebih senang bermain-main ketimbang menghabiskan waktu dengan membaca.

Hemat saya, Membaca buku bisa mengubah pola pikir seseorang untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan. Membaca buku juga bagian dari proses pendidikan bagi pembacanya. Hanya saja, sebagian besar kegiatan membaca selama ini kerap diterima sebagai kewajiban atau keharusan. Hal itu dikatakan pakar pendidikan Arief Rachman. Menurutnya, orang tua dan guru harus terlibat aktif menumbuhkan minat baca di kalangan anak dan siswa. Jangan biarkan anak menonton tayangan televisi yang tidak jelas. Menyalahkan anak dan siswa saja tentu tidak bijak, apabila orang tua dan guru tidak memberikan teladan. Sangat indah ketika kita menyaksikan anak-anak sejak dini sudah dibiasakan untuk membaca

Membaca buku erat kaitannya dengan menulis. Keduanya adalah elemen yang saling mendukung dan tidak dapat dipisahkan. Menulis tanpa membaca ibarat orang buta yang sedang berjalan. Artinya, dalam proses penulisan, seseorang akan mengalami banyak kesulitan, tertatih-tatih dan sekali berjalan lantas berhenti karena tidak tahu tujuannya. Sementara itu, membaca tanpa menulis ibarat orang pincang. Pengetahuan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang. Karena ilmu pengetahuan yang tidak dikembangkan dan disampaikan kepada orang lain secara lisan atau tulisan terasa kurang memberikan makna dalam kehidupan.

Membaca tidak lain adalah suplement food atau energy drink bagi para penulis. Kalau ada penulis yang mengaku bisa produktif tanpa membaca sama sekali, hemat saya ada dua kemungkinan. Pertama, ia memang sudah mencapai tahap ‘manusia guru’ atau manusia setengah dewa. Kedua, ia berbohong, dan ini rupanya lebih masuk akal. Menulis bisa gampang kalau suplai informasi ke otak dan batin kita memadai. Proses pemasukan informasi itu berasal terutama dari aktivitas membaca. Membaca berarti memberi makna. Dengan membaca kita menafsirkan teks sekaligus belajar memahami konteks. Kita mencoba memahami apa yang tersurat sekaligus apa yang tersirat. Ini menjadi bagian pemulihan energi untuk penulis.

Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, kita menimba banyak manfaat. Membaca itu memperluas wawasan dan memperkaya perspektif kita, memperoleh banyak solusi atas berbagai masalah yang dihadapi, mengatasi trauma atau frustrasi, memadukan kerja pikiran sadar dan tidak sadar. Selain itu, membaca berarti mengolahragakan pikiran dan menimba kesegaran baru.

Sudah saatnya budaya membaca itu menjadi budaya kita. Anak-anak dilatih untuk membaca dan mencintai bacaan sejak dini. Perpustakaan yang ada di mana-mana bukanlah museum bagi buku-buku bacaan. Itu universitas rakyat, seperti moto perpustakaan umum di daerah-daerah. Ada banyak buku menarik dan berguna di perpustakaan-perpustakaan kita yang ada saat ini. Namun, tak ada artinya jika tidak dibaca. Benar kata-kata Joseph Brodsky, pengarang asal Rusia: “Ada beberapa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku.” Bahkan ada anekdot satir untuk kita: “Kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.”

Masyarakat membaca (reading society) bisa dimulai dari kebiasaan membaca. Mencintai buku adalah awal dari kebiasaan gemar membaca. Sudahkan Anda membaca hari ini?

Sumber: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=8527

BACA TRUZZ...- Mecintai Buku

Nilai Diri

Pagi ini seorang temanku mengirimkan email yang menurutku bagus, jadi mau kubagi pada teman-teman yang membaca wikimu. Atau mungkin juga teman-teman yang lain juga telah mendapat email yang sama karena sepertinya ini email berantai.

Ada 3 kaleng Coca Cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama.

Ketika tiba hari, sebuah truk datang ke pabrik mengangkut kaleng-kaleng Coca Cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Kaleng Coca Cola pertama di turunkan di sini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng Coca Cola lainnya dan diberi harga Rp. 4.000.

Kemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana , kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng Coca Cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan.

Dan ketika keluarkan, kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng Coca Cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp. 60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah :

engapa ketiga kaleng Coca Cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama?

Lingkungan mencerminkan harga. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.

Apabila berada di lingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari dalam diri, maka akan menjadi cemerlang. Tapi bila berada di lingkungan yang meng-kerdil-kan diri maka akan menjadi kerdil.

(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA.

[oleh: Siti Maesaroh/www.wikimu.com]


BACA TRUZZ...- Nilai Diri

Mendiknas Alokasikan Dana Rp 200 Miliar

Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo menyatakan, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp200 miliar untuk mahasiswa kurang mampu di Indonesia."Dana tersebut akan direalisasikan kepada mahasiswa sebanyak 400 ribu orang mahasiswa perguruan tinggi negeri dan swasta," kata Bambang Sudibyo di Sanur, Bali, Kamis. Usai pembukaan Konferensi Regional Asia-Pasifik Persiapan untuk Konferensi Internasional Bidang Pendidikan ke-48 di Swiss, ia mengatakan, mahasiswa yang mendapatkan bantuan tersebut sesuai dengan kreteria yang telah ditentukan, dan untuk pembagiannya diserahkan kepada masing-masing PT pada semester ganjil yakni Agustus mendatang. "Masing-masing mahasiswa akan mendapat bantuan sebesar Rp500 ribu per semester," katanya.

Ia mengatakan, jumlah penerima bantuan khusus sebanyak 400 ribu mahasiswa itu, setara dengan 10 persen dari total jumlah mahasiswa PTN dan PTS di Indonesia, yang jumlahnya mencapai empat juta orang.

Mendiknas menyebutkan, dana bantuan khusus ini adalah sebagai bagian bentuk kompensasi menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Langkah yang dilakukan pemerintah merupakan upaya mengurangi angka "drop out" akibat naiknya harga BBM yang berpengaruh juga terhadap naiknya harga kebutuhan hidup lainnya. "Soal pendidikan menjadi prioritas utama, karena merekalah yang nantinya akan membangun negara ini," ucapnya.

Selain dana bantuan khusus tersebut kata Bambang, pemerintah juga akan mengalokasikan beasiswa bagi siswa berprestasi mulai dari jenjang pendidikan SD, SMP, SMA/SMK hingga PT. "Kami belum bisa rinci dana beasiswa untuk siswa atau mahasiswa berprestasi itu," katanya menambahkan.**

--------------------------------------------------------------------------

Sumber:http://papuapos.com/Antara

BACA TRUZZ...- Mendiknas Alokasikan Dana Rp 200 Miliar

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut