Situasi HAM Indonesia Memprihatinkan

Rabu, Mei 28, 2008

Rabu (28/05) organisasi hak azasi manusia Amnesty International meluncurkan laporan terbarunya tentang situasi HAM di 150 negara dunia. 60 Tahun setelah PBB menerima Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia, ternyata di sedikitnya 81 negara, penganiayaan masih tetap dilakukan. Di 54 negara, orang tidak memperoleh pengadilan yang adil. Dan di 77 negara, orang tidak bisa bebas mengungkapkan pendapat. Lalu bagaimana situasi di Indonesia? Berikut laporan redaksi Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum.

Ruud Bosgraaf dari Amnesty International prihatin atas situasi HAM di Indonesia. Organisasi ini misalnya menyesalkan Indonesia masih juga menerapkan hukuman mati. Menurut Amnesty, di tahun 2007 hukuman mati sebanyak 115 kali dilakukan. Jumlah eksekusi meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena itu Amnesty mengimbau pemerintah RI mengakhiri pelaksanaan hukuman mati. Tahun lalu Majelis Umum DK PBB menyetujui resolusi, yang menyerukan moratorium atas hukuman mati. Resolusi itu ditandatangi oleh mayoritas negara. Diharapkan juga Indonesia menandatangani resolusi itu dan mencabut hukuman mati.

Penyiksaan
Butir keprihatinan lain adalah tindak kekerasan dan penganiayaan oleh polisi, misalnya terhadap demonstran dan tahanan. Amnesty bukan satu-satunya yang menunjuk pada pelanggaran HAM seperti ini. November tahun lalu pelapor khusus PBB bidang anti penyiksaan Manfred Nowak berkunjung ke Indonesia. Ia pun prihatin atas praktek penyiksaan. Amnesty berharap Indonesia segera mengatasi masalah ini.

Amnesty juga khawatir tentang jumlah orang yang ditahan karena alasan politik dan religius. Menurut Amnesty mereka berjumlah 76 orang. Tahanan itu hanya ingin mengungkapkan pendapat saja dan tidak menggunakan atau memicu kekerasan. Karena itu Amnesty menuntut pembebasan tanpa syarat.

Juga konflik di Papua menarik perhatian Amnesty. Menurut Amnesty, pemerintah RI belum cukup menangani masalah ini. Organisasi HAM ini juga menyebut tentang kebebasan mengungkapkan pendapat. Aktivis-aktivis hak azasi manusia ditangkap, termasuk aktivis yang memperjuangkan hak kaum homoseksual. Tahun lalu pelapor khusus PBB pembela HAM, Hina Jilani berkunjung ke Indonesia dan mengimbau pemerintah supaya memperbaiki sikap di bidang itu.

Positif
Kendati demikian, Amnesty menganggap positif, Indonesia tetap memperbolehkan pelapor khusus PBB masuk negara. Beberapa negara di dunia melarang mereka masuk negara untuk melakukan penelitian. Melihat hal itu, Indonesia cukup terbuka. Selain itu juga menunjukkan keinginan memperbaiki situasi HAM.

60 Tahun setelah PBB menerima Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia, ternyata pelanggaran hak azasi manusia masih banyak dilakukan, termasuk di Indonesia. Penyebabnya adalah bahwa pemerintah pelbagai negara sering lebih mengutamakan kepentingan politik sendiri ketimbang hak azasi manusia. Menurut Amnesty International sekarang tiba waktunya pemerintah harus mengambil tindakan konkrit, dan mengutamakan hak azasi manusia di atas kepentingan politik dan ekonomi.

-------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber: Radio Nederland Wereldomroep (RNW)
BACA TRUZZ...- Situasi HAM Indonesia Memprihatinkan

VCT RSUD Abe Temukan 188 HIV dan AIDS

Selasa, Mei 27, 2008

Sejak dioperasikan pada 2005 lalu, Voluntary Counselling and Testing (VCT) atau Klinik Testing dan Konseling Sukarela HIV/AIDS di RSUD Abepura telah memeriksa sampel darah 1.400 orang dan ditemukan 188 pengidap HIV/AIDS positif hingga akhir April 2008.

Hal ini seperti diungkapkan oleh penanggungjawab VCT RSUD Abepura, dr Nyoman Sri Antari saat ditemui Cenderawasih Pos di sela-sela peresmian UTD Abepura, Selasa (27/5), kemarin.

Menurutnya, keberadaan VCT ini sudah tidak menjadi suatu ketakutan , di mana saat ini masyarakat datang sendiri untuk memeriksakan dirinya. "Kesadaran masyarakat saat ini sudah terbangun sedikit demi sedikit untuk memeriksakan dirinya yang mempunyai resiko tinggi tertular HIV/AIDS,"katanya.

Diungkapkan, VCT RSUD Abepura akan membantu siapapun yang mau memeriksakan dirinya. "Pelayanan ini gratis, setiap orang setelah dikonsultasi singkat apabila mempunyai resiko tinggi akan segera ditest,"ungkapnya.

Dijelaskan, banyak pasien yang meninggal dunia akibat HIV/AIDS karena ketidaktahuan mereka yang terlambat mendapatkan pengobatan. Oleh sebab itu, diharapkan kepada seluruh masyarakat untuk bertindak proaktif. "Karena ketidaktahuannya banyak dari pasien tersebut sudah stadium akhir baru mendapatkan pengobatan. Dan kebanyakan dari pasien tersebut diketahui mengidap penyakit lain seperti TBC dan Malaria" katanya.(ind)

-----------------------------------------

Sumber: http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=14954&ses=

BACA TRUZZ...- VCT RSUD Abe Temukan 188 HIV dan AIDS

Pdt. Yance Nawipa, M.Th:Papua di Ambang Kehancuran

NABIRE (Selangkah) - Saat ini berbagai fenomena yang terjadi di Papau sangatlah memperihatinkan. Penduduk miskin dari tahun ke tahun semakin meningkat, angka penggaguran semakin melambung tinggi, serta korupsi kian hari kian merajalela. Melihat hal ini bisa disimpulkan bahwa di Papua ini sedang terjadi kebobrokan moral dan kekerasan batin sehingga membuat semua orang Papua buta rohani yang menyebabkan semuanya berjalan dalam kegelapan yang ujung-ujungnya membawah Papua pada ambang kehancuran.

Hal ini disampaikan Pdt. Yance Nawipa, M.Th senin (26/05) di kediamannya di Karang Mulia beberapa saat lalu ketika ditemui media ini.

Lebih lanjut diungkapkannya, “saat ini orang-orang di Papua bekerja dengan tidak memperhatikan baik buruknya. Apapun yang mereka anggap dapat mendatangkan keuntungan bagi mereka semuanya disapu bersih tanpa menimbang-nimbang apa yang akan terjadi nanti dimasa yang akan datang. Mereka juga bahkan tidak peduli dosa atau tidak dosa, halal atau tidak halal yang penting mereka puas dan bisa hidup. Padahal sebagai umat beragama seharusnya menyadari dan bisa memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk,” tandasnya.

Ketika disinggung tentang visi dan misi yang dibutuhkan unutk membangun Papua kedepan, bapak yang membapai satu orang anak pria dan dua wanita ini menandaskan “kita jangan mengharapakan visi, misi yang sebagus-bagusnya serta strategi yang sematang-matangya, melainkan kita lihat fakta social yang terjadi di lapangan saat-saat ini. Bagaimana para pemimpin yang menerapkan visi, misi serta strategi pembangunan itu saja telah buta, bahkan telah mati rohaninya sehingga tidak melihat kenyataan yang dihadapi masyarakat saat ini. Bagaimana para bawahannya mau mengikuti dan menerapkan semua visi, misi serta program itu.

Siapapun mengakui secara terang-terangan kalau Papua adalah lumbung kekayaan atau dapur bangsa Indonesia, karena melimpah ruahnya berbagai kekayaan alam. Tetapi yang memalukan dan memperihatinkan adalah orang Papua mati diatas kekayaannya sendiri. Bagaikan tikus mati diatas lumbung padi, hal ini tidak bisa di sangkal lagi memang kenyataan kok. Kenapa hal ini bisa terjadi? Dengan tegas saya akan menjawab karena para pemimpin tidak berjalan di dalam kebenaran firman Tuhan. Bukan mereka tidak tahu kebenaran firman Tuhan, melainkan pura-pura lupa,”tandas secara tegas.

Selain itu, yang terjadi di Papua saat ini berbagai kekerasan batin. Baik kekerasan yang terjadi di rumah tangga, badan lembaga sampai pada tingkat yang lebih tinggi yaitu pemerintahan. Saya ambil contoh di rumah anak selalu ditindas oleh ibunya, ibu selalu ditindas oleh suaminya, kemudian sumaninya ditindas oleh bosnya di kantor. Jadi semua serba keras sehingga menciptakan suasana batin yang selalu dan selalu keras. Apa jadinya nanti.

Kemudian pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu pemerintahan. kepala lurah ditindas oleh camat, seorang camat ditindas oleh bupati, bupati akhirnya ditindas juga oleh gubernur. Sehingga semuanya tidak menciptkan suasana yang tenteram dan damai sehingga yang ada dipikiran hanyalah kekerasann dan kekerasan melulu, apakah Papua mau dibawah dengan kekerasan,“ungkapnya.

Kemudian lebih lanjut rector Walter Pos ini menambahkan, bahwa perekonomian di Papua pun telah kena dampak daripada kekerasan. Dengan kekerasan itu rakyat semakin mederita dan semakin terhimpit. Contoh paling nyata bisa kita lihat pada masyarakat asli Papua yang kalau berjualan selalu gang-gang serta lorong-lorong yang baunya sangat menyengat hidung. Padahal ditanah kelahiran mereka sendiri. Sehingga seluruh perekonomian di monopoli oleh orang-orang yang bukan asli Papua maka tidak mungkin kalau sifat pesismis akan tumbuh berkembang dalam kehidupan mereka.

Selain contoh diatas, contoh paling nnyata juga kita bisa lihat dari kegemaran masyarakat Papua unutk berburu dan berternak, misalnya berternak babi. Para pemerintah sudah mengetahui kalau masyarakat terutama orang gunung suka berternak babi, tetapi mereka tidak pernah menyiapkan tempat dan area untuk berternak babi. Dengan cara seperti ini tentunya menambah keresahan masyarakat terhadap pemerintah yang ada, ketika mereka resah, apakah mau dipaksakan untuk tetap patuh dan taat kepada pemerintah, “terangnya.

“Saya saat ini bingung mana pengusaha dan mana penguasa” tandasnya. Saya yakin bukan saya saja tetapi semua orang berpikir demikina. Lebih lanjut dikatakannya saat ini di Papua banyak penguasa menyamar menjadi pengusaha. Sehingga berbagai proyek pemerintahan yang ada langsung ditangani oleh penguasa. Padahal kalau mau dibilang penguasa sama sekali tidak mempunyai wewenang dan hak unutk menangani berbagai proyek. Karena semua itu tugas daripada pengusaha, ”imbunya.

Otonomi khusus yang dicanangkan tujuh tahun lalu bukanlah jalan keluar untuk membangun dan menjawab kerinduan rakyat Papua. karena kenyataannya tujuh tahun otonomi khusus diberikan malah menambah keresahan masyarakat Papua. sehingga yang terpenting disini adalah bagaimana para pejabat pemerintahan yang ada menyadari kalau rakyat butuh uluran tangan secara praktek bukan berteori.

Rakyat juga menyadari dana otsus yang diberikan bukan sedikit jumlahnya. Mereka tahu semua itu, tetapi mereka tetap menutup mulut. Satu yang mereka harapkan dengan dana otusus itu adalah bagaiaman memanajemen dana itu, sehingga manfaatnya bisa dirasakan semua insane yang ada di bumi Papua, agar hanya nama Tuhan saja ditinggikan ditanah perjanjian ini,”tegasnya sambil mengakhiri obrolan singkat itu pada sore hari yang mendung itu. [Oktovuanus Pogau, Siswa SMA Anak Panah Nabire Papua]

BACA TRUZZ...- Pdt. Yance Nawipa, M.Th:Papua di Ambang Kehancuran

Perihatin, Mengajar Apa Adanya Karena Tak Ada Guru

Perlu diacungkan jempol atas keperdulian Darius dan Daud memberikan pendidikan kepada siswa yang sama sekali tidak meliki guru. Hal ini dilakukan mereka menginggat pentingnya pendidikan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia di kabupaten Pegunungan Bintang. Memang, latar belakang sama sekali tidak memiliki dasar-dasar sebagai tenaga pendidik. Berikut laporannya. Peduli terhadap anak-anak di Distrik Aboy yang membuat Darius dan Daud menyalurkan pendidikan kepada siswa. Walau terbilang pengetahuan tidak seperti guru layaknya. Namun, sentuhan perhatian pendidikan yang diberikan kedua guru Darius Bamo dan Daud Sitamanki cukup menyentuh. Berbicara tentang latar belakang memang bukan sebagai tenaga pengajar. Tapi, rela mentransferkan pengetahuan yang dimiliki kepada anak sekolah di SDI Aboy. Darius Bamo, bermodalkan ijazah SMP, tamatan dari SMP Abmisibil. Sedangkan Daud Sitamanki, seorang pewarta gereja atau dikenal dengan guru katekis di sebuah gereja Katolik. Keduanya, kini menjadi tumpuan bagi 70 lebih siswa di SDI Aboy yang diajar oleh 3 guru.

Tak heran, satu-satunya sekolah yang ada di pusat distrik SDI Aboy hanya terdapat tiga kelas dengan tiga ruangan sederhana tersedia.

Konon, dikabarkan masyarakat setempat masih ada sekolah yang jauh dari pusat distrik, yang dikabarkan jauh lebih perhatin.

Menjadi memotivasi kedua tenaga guru ini untuk mengajar? Tentu bukan mau mendapatkan gaji, apalagi lapangan pekerjaan semata bagi kedua guru itu, karena pengabdiannya selama ini boleh dikatakan pula sebagai tenaga sukarela. Namun justru, pengabdian mereka ditengah puluhan generasi penerus Distrik Aboy itu, lebih beralasan merasa “perihatin”. Karena terkesan anak-anak yang ada di Distrik Aboy belum mendapat perhatian pendidikan secara baik. Layaknya yang dialami pendidikan di sekolah-sekolah lain.

“ Jujur saja, kalau mau dikaitkan dengan tenaga pengajar untuk bisa meraih mutu pendidikan, kita di SDI Aboy ini sama sekali tidak masuk dalam daftar, karena sampai sejauh ini tidak ada tenaga pengajar yang punya latar belakang pendidikan sebagai tenaga guru sebenarnya, kami terpaksa mengajar, karena kalau tidak, anak-anak disini terlantar,” tutur Daud Sitamanki kepada Papua Pos saat ditemui.

Secara jujur, pengalaman mengajar dan mendidik anak sekolah dirasa masih jauh dari yang diharapkan. Namun dikalangan masyarakat disana (Aboy,red) sudah cukup. Sebab keduanya sudah bisa menguasai abjad, angka, kata-kata dan kalimat sebagai materi pengajar bagi murid-muridnya.

Hal senada disampaikan Daud, bermodalkan pendidikan tamatan SMP lalu memberikan materi kepada murid-muridnya lebih baik. Daripada generasi di Aboy tidak mendapatkan pendidikan.

“ Bagaimana tidak, pendidikan disini memperihatinkan, sudah tidak ada guru, sekolahnya hanya ada tiga kelas, setelah sampai kelas tiga sudah bisa tahu abjad ABCD dan angka-angka, tidak bisa lanjut, akhirnya mereka kembali tinggal bersama masyarakat biasa, tinggal-tinggal saja begitu akhirnya sudah ada yang hidup berumah tangga,” tuturnya.

Meski bermodalkan semangat dan rasa kepedulian mereka terhadap nasib anak-anak di distrik Aboy, terbersit harapan dan keinginan untuk mengembangkan pendidikan di sana. Khususnya SDI Aboy, yang letaknya jauh dari pusat distrik, minimal bisa mencapai enam kelas.

Untuk itulah, instansi terkait perlu menempatkan tenaga pengajar.

Agar usai anak-anak tamat dari SDI Aboy diberi kesempatan untuk melanjutkan ke SLTP di kabupaten maupun di luar kabupaten.

Ia menambahkan, konsentrasi pemerintah membangun sektor pendidikan di Distrik Aboy, perlu disikapi secara baik. Bila tidak, dari tahun ke tahun tidak ada peningkatan, apa lagi kondisi perekonomian masyarakat sangat memperihatinkan.**

----------------------------------------------------------------

Sumber:http://papuapos.com/index.php?option=com_content&task=view&id=372&Itemid=9

BACA TRUZZ...- Perihatin, Mengajar Apa Adanya Karena Tak Ada Guru

BBM Naik 27,8%: “Tong Rakyat Kecil Manderita”

Sabtu, Mei 24, 2008

Nabire (Selangkah)--Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) secara resmi pada tanggal 24 Mei 2008, dengan rata-rata presentase kenaikan sebesar 27,8% dinilai benar-benar memberatkan rakyat kecil. “Indonesia benar-benar jadi gila. Indonesia sedang menuju kepada suatu situasi yang tidak menentu. Ya…pejabat dong uang banyak jadi tra papa. Tong rakyat kecil, menderita,” kata seorang bapak di Nabire.

Kenaikan BBM yang ketiga kalinya sejak zaman pemerintahan presiden SBY ini benar-benar membuat rakyat sedih. “Kan ini yang ketiga kalinya sejak SBY jadi presiden. Pemerintah telah menaikkan harga BBM pada 1 Maret 2005 dengan kenaikan rata-rata sebesar 30%. Kemudian pada tanggal 1 Oktober 2005 pemerintah menaikkan kembali harga BBM dengan kenaikan rata-rata sebesar 100%. Sekarang naik 27,8%. Katanya mau sejahterakan rakyat. Kok malah membuat rakyat menderita. Tahun 2009 ngak udah memilih aja. Sama aja kok,” seorang warga Transmigrasi Jawa di daerah Girimulyo Nabire ketika antre bensin yang naik dari Rp5000 menjadi Rp7000 secara tiba-tiba.

Hingga saat ini, di Nabire, walaupun belum ada penetapan resmi tetapi segala kebutuhan pokok serta ojek sudah naik. Harga ojek misalnya, yang sebelumnya Rp3000 sudah menjadi Rp5000. “Sekarang BBM naik mas. Kita juga beli bensin mahal jadi,” kata seorang tukang Ojek asal Jawa ini.

Mengapa BBM Naik?

Terdapat beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga BBM di tahun 2008. Pertama, dari sisi teknis, kelangkaan BBM terjadi karena supply BBM bersubsidi berkurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan lokal dan nasional. Berkurangnya supply BBM disebabkan adanya program konversi minyak tanah ke gas LPG dan terjadinya goncangan harga minyak dunia. Kedua Meningkatnya harga minyak dunia sebesar 40% hanya dalam waktu empat bulan, menyebabkan kemampuan finansial Pertamina mengimpor minyak mentah dan BBM menjadi sangat terbatas. Akibatnya Pertamina tidak dapat memenuhi kebutuhan kilang minyaknya yang berdampak pada berkurangnya pasokan BBM. Dalam APBN 2007, alokasi BBM bersubsidi sudah dikurangi pemerintah dari semula 37,9 juta kilo liter pada tahun 2006 menjadi 36,9 juta kilo liter pada tahun ini.

Setelah BBM Naik otomatis diikuti dengan kenaikan sejumlah barang-barang kebutuhan pokok yang sekarang harganya sudah melambung menjadi semakin melambung. Semoga pemerintah mendengar jeritan masyarakat kalangan bawah yang semakin tertekan hidupnya. [yer/Selangkah]

BACA TRUZZ...- BBM Naik 27,8%: “Tong Rakyat Kecil Manderita”

Malam Ini, Inul Konser di Nabire

Jumat, Mei 23, 2008

Nabire-(Selangkah)--Malam ini, Sabtu (24/5) dipastikan Inul Daratista akan konser di Nabire Papua. Pantauan Selangkah, penyanyi dangdut yang telah menyandang nama ratu ngebor itu, telah tiba di Nabire (24/5). Kira-kira pukul 10.00 WIT hari ini, panitia penyelenggara bersama Inul keliling kota Nabire dalam rangka mengosialisasaikan kedatangannya.

Inul datang ke Nabire memenuhi undangan panitia Pembangunan Gereja paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Keuskupan Timika Papua. Inul diundang ke Nabire dalam rangka mencari dana pembangunan gereja KSK.

Menurut informasi, tiket masuk paling mahal mahal satu juta rupiah untuk 2 orang dan paliang murah seratus ribu untuk dua orang. Hingga saat ini belum dipastikan berapa orang telah mengantongi tikte masuk. Menurut panitia, semua hasil dari penjualan tiket itu akan digunakan untuk pembangunan gereja. [yer/selangkah]

BACA TRUZZ...- Malam Ini, Inul Konser di Nabire

Harga BBM Naik, Rakyat Terpuruk

Kamis, Mei 22, 2008

Oleh : M.hasoloan Sinaga

Hari-hari kedepan ini keadaan di berbagai aspek kehidupan masyarakat akan menunjukkan situasi yang memprihatinkan. Keputusan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 28,7 % sudah pasti menambah beban berat bagi mayoritas rakyat di negeri ini, terutama masyarakat kecil yang selama ini sudah begitu menanggung beban ekonomi yang menyesakkan dada, rakyat makin terpuruk.

Segala alasan dan argumentasi yang disampaikan pemerintah baik karena situasi perekonomian global, regional dan lokal, bagi masyarakat luas sangat sulit untuk menerima, apalagi mencernanya. Sebaliknya, realitas ini memunculkan gejolak dan keresahan ditengah-tengah masyarakat.

Terhadap keputusan pemerintah ini mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat diberbagai daerah dan Jakarta menggelar aksi demonstrasi menolak kenaikan BBM. Skema Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi rakyat miskin juga mendapat resistensi dari aparat desa/kelurahan yang menilai BLT justru akan memunculkan masalah baru. Pengamat ekonomi dan elite politik juga bersikap menentang dan

menyesalkan keputusan pemerintah atas kenaikan BBM ini, terlepas adanya kepentingan atau manuver politik dibalik sikap tersebut. Sebagai dampak langsung terhadap kenaikan BBM ini dan tidak dapat dihindari adalah melonjaknya harga-harga barang dan ongkos transportasi.

Tidak menutup kemungkinan akan banyak perusahaan dan sektor usaha lainnya akan tutup /gulung tikar, karena sudah tidak mampu lagi untuk menutup ongkos operasional dan belanja barang atau jasa. Akan terjadi gelombang PHK, pengangguran makin bertambah, sehingga daya beli masyarakat akan makin melemah, akibatnya denyut perekonomian masyarakat akan kolaps.

Muara dari fenomena dan keadaan ini adalah menurunnya kwalitas kehidupan masyarakat. Jumlah anak yang putus sekolah akan meningkat secara signifikan. Anak kurang gizi tidak terhindarkan lagi, karena orang tuanya sudah tidak sanggup untuk menyediakan makanan dan susu yang selayaknya bagi anak-anaknya.

Sungguh keadaan ini sangat mengkhawatirkan, kita bisa saksikan melalui pemberitaan diberbagai media massa (cetak maupun elektronik) tingkat ketertekanan (stres) masyarakat makin menjadi-jadi. Ada seorang ibu yang nekat bunuh diri bersama dengan anaknya karena tidak memiliki uang untuk membeli beras.
Ada seorang suami yang tega membunuh isterinya karena tidak dapat memberikan uang belanja rumah tangga. Sepertinya negara ini sudah bangkrut, karena tidak dapat lagi membiayai program-program pemerintah yang akan dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.

Realitas ini sangat paradoksal dan merupakan sebuah ironi di sebuah negeri yang sumber daya alamnya –terutama sumber daya energi- yang melimpah ruah. Fakta ini membuktikan bahwa para penentu kebijakan di republik ini telah salah dalam merumuskan strategi perekonomian dan pembangunan negara. Hal ini telah melupakan amanat para pendiri republik dan konstitusi, yaitu sebagai aparatur negara yang berkewajiban untuk mengelola sumber daya alam untuk kemakmuran dan kesejahteraan segenap rakyat Indonesia.

Keadaan yang demikian ini sangat mengganggu pikiran kita sebagai anak bangsa, dan risau sehingga memunculkan pertanyaan : Apakah para petinggi di republik ini masih sanggup dan mampu untuk mengelola negara?

Kalau jawabnya tidak mampu dan tidak sanggup, langkah apa yang harus dilakukan? Apakah bersedia turun dari jabatannya atau harus diturunkan oleh rakyat?
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber gambar: petualangan.multiply.com/journal
BACA TRUZZ...- Harga BBM Naik, Rakyat Terpuruk

Seabad Kebangkitan Nasional, Kapan Papua Bangkit ?

Oleh Oktovianus Pogau*)

Kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Masa ini diawali dengan dua peristiwa penting Boedi Oetomo (1908) dan Sumpah Pemuda (1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain seperti: Sutomo, Gunawan, dan Tjipto Mangunkusumo, dr. Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Douwes Dekker, dll

Selanjutnya pada 1912 berdirilah partai politik pertama Indische Partij. Pada tahun ini juga Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (Yogyakarta) dan Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera di Magelang.

Suwardi Suryoningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku orang Belanda), 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana pemerintah jajahan Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Hindia Belanda. Karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryoningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka, tetapi “karena boleh memilih”, keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Di sana Suwardi justru belajar ilmu pendidikan dan dr. Tjipto karena sakit dipulangkan ke Indonesia.

Kebangkitan Serta Kemerosotan Indonesia

Sebut saja beberapa kebangkitan Indonesia di bidang pendidikan yang menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia, ketika Prof. Dr. Yohanes Surya membawa Yudistira Virgus dan kawan-kawannya menjuarai Olimpiade Fisika Internasional di China-Shanghai beberapa tahun lalu. Selain itu, saat pemerintah pusat berhasil mengundang-undangkan pelaksanaan Ujian Nasional bisa dikatakan sebagai suatu kebangkitan yang luar biasa menurut mereka.

Namun yang disayangkan pendidikan di Indonesia sangat memperihatinkan. Ujian Nasional yang dianggap sebagai dewa dalam mendongkrak standar, mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia namun kenyataannya sama sekali tidak membuahkan hasil yang menggembirakan. Karena beberapa fakta menunjukan Ujian Nasional telah menciptakan generasi yang rusak, baik mental maupun moralnnya.

Peristiwa yang tidak bisa hilang dari bayangan dan ingatan kita, ketika 17 guru di batam harus berurusan dengan aparat keamanan ketika terbukti membocorkan soal Ujian Nasional yang dianggap sebagai rahasia Negara kepada siswa-siswi mereka. Kemudian yang lebih memperihatinkan lagi ketika ratusan siswa-siswi SMA di Jogja mengundurkan diri karena tidak mampu, dan merasakan beratnya Ujian Nasional. Inikah yang dinamakan dengan kebangkitan pendidikan Nasional.

Kemudian dibidang olahraga, saat duta-duta Bulutangkis Rudi Hartono, Susi Susanti, Taufik Hidayat serta beberapa rekan mereka menjuarai berbagai turnamen bergengsi yang sekaligus menghantarkan Indonesia sebagai salah satu Negara yang disegani dan ditakuti dibidang olahraga bulutangkis. Selain itu Indonesia bangga juga ketika melahirkan pemain berbakat seperti Bambang Pamungkas dan Ellie Aiboy yang menghantar klub sepakbola Selangor FC, salah satu klub ternama di negeri jiran yang memuji dan mengagungkan Indonesia yang mampu melahirkan pemain berbakat seperti mereka.

Seluruh bangsa Indonesia sengan dan bangga ketika Rudi Hartono serta bambang Pamungkas Elie Aiboy dan bersinar membawa nama Indonesia ke dunia umum. Namun apakah kebangkitan mereka dalam membawah Indonesia masih tetap dilanjutkan dengan kebangkitan Indonesia pada saat ini.

Baru beberapa hari kemarin kejuaran bulutangkis yang paling bergengsi di dunia internasional telah berlangsung, yaitu piala Thomas Cup dan Uber Cup. Namun yang membekas dan menjadi luka batin bagi seluruh rakyat Indonesia ketika Taufik Hidayat dan kawan-kawan tidak mampu merebut satupun piala, baik Thomas maupun Uber. Mengapa bisa yah, padahal main di kandang sendiri lho? Sakit bukan ketika ditaklukan Korea pada semifinal bagi piala Thomas dan ditaklukan China di final di piala Uber.

Selain itu kebangkitan Indonesai dibidang Teknologi, kita bisa amati diberbagai persekolahan baik SD, SMA, MA hingga perguruan tinggi yang ada di wilyah barat telah dipasang jaringan internet yang tujuannya memudahkan setiap siswa-siswa serta para guru untuk mengakses berbagai informasi dari luar agar bisa menunjang dalam kegiatan belajar mengajar. Selain itu juga dengan hadirnya berbagai stasiun TV yang baru.

Namun yang memperihatinkan dibidang teknologi ini berbeda. Mengapa saya bisa katakan demikian? Indonesia dikatakan daerah nusantara berarati termasuk Papua. Kita bisa amati keadaan perekembangan teknologi di Papua, karena kurangnya kesempatan yaitu menyangkut pemerataan dari pemerintah pusat sehingga jangan kaget kalau mahasiswa yang duduk dibangku kuliah semester akhir mengoperaasikan computer saja masih barang langkah.

Contoh yang membekas di pikiran saya, ketika saya mengajari seorang alumnus dari perguruan tinggi di Sulawesi Utara. saya mengajari cara membuat email. saya mengajarinya secara perlahan-lahan hingga dia mengatakan dia telah paham. Karena hampir tiga kali saya mengulang-ulang cara membuat hingga cara mengirim kemudian saya menyuruh sendiri seraya meninggalkan ruangan, bagaimana cara membuka dan mengirim email. Ketika saya balik, kaget hampir 20 menit saya meninggalkannya namun belum apa-apa dibuatnya, karena dia tidak tahu sama sekali apa yang harus dibuat padahal beberapa saat saja saya telah mengajarinya.

Dengan contoh ketidakmampuan seperti diatas memberi pertanyaan buat kita semua, apakah kebangkitan Indonesia telah bangkit. Kebangkitan Indonesia yang sesungguhnya berbicara mengenai kemerataan dan penyentuhan yang menyeluruh terhadap seluruh bangsa Indonesia yang ada. Termasuk mereka yang ada di tanah Papua, bagian timur Indonesia.

Selain itu dibidang politik bisa dikatakan suatu kemajuan yang luar biasa ketika keberaniaan Presiden Bambang Yudoyono merombak kabinetnya. Yang dikatakan beberapa kalangan dengan lahirnya pemerintahan yang baru. Selain itu juga keberanian pemerintah pusat dalam memberika ijin pemekaran beberapa daerah baru di Indonesia seperti di Sulawesi, Papua dan Sumatera. Bisa dikatakan ini sebagai suatu kebangkitan yang cukup signifikan.

Namun apakah kebijakan yang diambil beliau dalam hal ini memberikan perubahan yang pesat terhadap kebangkitan bangsa Indonesia, nyatanya sama sekali tidak berdampak. Malahan banyak orang mengistilahkan wajah lama dengan jabatan baru. Berarti bagaimana mau adanya perubahan dan kebangkitan? Yang duduk orang-orang lama kok. Sebut saja seperi Hatta Rajasa yang saat itu menjabat sebagai menteri perhubungan, langsung di alihkan ke Menteri Sekertaris Negeri.

Selain berbicara perombakan kabinet, berbicara pemekaran daerah-daerah baru di seluruh Indonesia nyatanya tidak membawah Indonesia bangkit dari berbagai ketertinggalan. Seperti pemekaran besar-besaran yagn terjadi beberapa saat lalu di Papua. Pemekaran beberapa Kabupaten baru di Papau sampai saat ini masih jadi pro dan kontra, sebut saja seperti Kabupaten Dogiyai, Kabuapten Intan Jaya, Kabupaten Lani hingga beberapa kabupaten lainnya. Dengan adanya berbagai pro kontra tersebut tentunya bukan tidak mungkin akan terjadi adanya berbagai hal yang tidak di inginkan.

Kini, momentum kebangkitan nasional diharapkan mampu untuk membuka mata, hati dan fikiran sehat kita semua dalam menjawab segala keterpurukan bangsa. Kebangkitan adalah upaya perubahan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kebangkitan menjadi pemicu tumbuhnya sesuatu yang baru dan lebih baik. Kebangkitan melahirkan generasi yang memiliki pola pikir dan semangat baru dalam menciptakan karya yang berguna bagi masyarakat luas.

Generasi bangkit adalah generasi yang kualitas, mandiri dan berkarya serta memiliki kemampuan menjawab harapan para Pahlawan “kebangkitan nasional” dan tantangan masa depan. Keterpurukan menjadi pelajaran yang berharga dan pijakan anak muda untuk bangkit guna melampaui tantangan dan hambatan yang terbentang luas.

Generasi bangkit adalah generasi yang kreatif dan inovatif dalam mencari celah hambatan dan tantangan yang selanjutnya diubah menjadi sebuah peluang untuk bangkit dan memenangkan persaingan di era global. Menerobos celah sulit dilakukan secara sendirian, tetapi mudah jika dilakukan bersama-sama. Sudah sepatutnya anak muda berlomba-lomba untuk bangkit dan siap menjadi pemimpin dan dipimpin.

Papua Harus Bangkit dari Ketertinggalan

Otonomi Khusus hamper tujuh tahun telah merumput di Papua. dengan uang otonomui khusus yang tidak sedikit jumlahnya. total dana APBN yang diberikan kepada kita sebesar 28 triliun, (Radar Timika, 18/02/08, SKM Tribun Papua, Edisi, 25/2 – 02/03/08, SKM Teropong, Edisi 20 – 26/02/08). Dana yang tidak sedikti jumlahnya.

Puluhan triliun rupiah menguap begitu saja tanpa sasaran yang jelas. Tidak ada perubahan berarti bagi perbaikan kualitas kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, perlindungan dan penegakan HAM serta penegakan supremasi hukum. UU otsus mengamanatkan bahwa harus ada pertanggungjawaban atas pelanggaran HAM masa lalu dan pembentukan komisi kebenaran dan rekonsiliasi dalam rangka memantapkan persatuan dan kesatuan nasional. Namun faktanya Komnas HAM perwakilan Papua terancam dibubarkan karena tidak ada dana operasional (Tribun Papua, Edisi 28 Mei – 03 Juni 2007). Inilah salah satu dari sekian banyak janji indah pada UU No.21/2001, namun sampai hari ini, jauh panggang dari api.

Namun yang memperihatinkan lagi dengan adanya Otonomi Khusus pemerataan pendidikan di Papua tidak Nampak. Sebut saja beberapa kecamatan di Papua yang dalam satu sekolah guru-gurunya bisa dipastikan hanya ada satu sampai dua guru saja, dengan cara seperti itu bagaimana yah pendidikan di Papua mau maju. Padahal berbicara mengenai kemajuan haruslah pendidikan yang di perioritaskan dan diutamakan. Karena maju mundurnya suatu daerah tergantung dari para inteleqtula yang ada.

Dengan demikian jadikan Otonomi Khusus sebagai jembatan bangkitnya Indonesia terutama Papua dari berbagai ketertinggalan yang ada. Karena adanya kebangkitan dan pembangunan yang merata menandakan kita menghargai para leluhur kita yang telah memperjuangkan bangkitnya Bangsa Indonesia dari berbagai ketertinggalan yang ada.

Selain itu dengan hari kebangkitan nasional yang seabad ini kita sama-sama mendukung berbagai kebijakan dan keputusan yang ada, karena hal ini mencerminkan diri kita menghargai sang Pencipta. Sebagaimana dikatakan dalam kitab suci pemerintah adalah wakil Allah dengan demikian disaat kita menghargai dan menghormati mereka berarti kita menghargai dan menghormati Tuhan.

*) Penulis adalah siswa kelas X SMA Kristen Anak Panah, Nabire-Papua
BACA TRUZZ...- Seabad Kebangkitan Nasional, Kapan Papua Bangkit ?

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut