Perda Miras di Manokwari, Bar Gulung Tikar Orang Mabok Susah Didapat

Sabtu, Mei 10, 2008

Dear All,

Hampir 3 bulan penugasan dimanokwari ada satu hal yang menarik, kota ini terasa damai.. dibanding kota-kota yg ada di Papua.. jayapura atau sorong contohnya.. khusunya orang MAbuk.., ini menjadi masalah sosial yang cukup tinggi di kota2 tersebut, tapi di manokwari no Problemo..

karena hampir 2 tahun ini Kondisi Kabupaten Manokwari saat ini sangat jauh berbeda dengan kondisi Manokwari sebelum ditetapkannya Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Manokwari Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Minuman Keras.

"Sebelum adanya Perda Miras di Manokwari, kondisi orang mabuk cukup banyak, bahkan akibat aksi mabuk-mabukan itu tidak jarang terjadi pemalakan atau penganiayaan dan kasus lainnya, seperti tingginya kasus kecelakaan lalulintas, namun setelah diberlakukannya Perda Miras itu kondisi orang mabuk sudah tidak tampak dan meskipun masih ada tetapi susah didapat,"

Awalnya perda ini dipandang sebelah mata, namun konsistensi aparat penegak hukum, pemda kab dan provinsi konsisten menegakkan perda yang konon katanya di usung dan diajukan oleh ibu-ibu or mama-mama di manokwari melalui perwakilan perempuan di dewan adat papua, akhirnya sedikit demi sedikit "orang yg jalan Miring-miring" ditengah jalan manokwari mulai berkurang, bahkan 2008 ini nyaris tak telihat.

dampaknya adalah : keluarga jadi tentram, tingkat kecelakaan jadi menurun, kekerasan berkurang, pencurian-pemalakan turun drastis.. dan yg ada rasa nyaman.. bayangkan saya pulang jam 3 pagi dari kantor dinas pendidikan (dari ngnet biassa..), rasanya damai banget :)

Kota ini adalah mayoritas penduduknya menganut ajaran Kristen Protestan dan Katolik, tapi mampu mengendalikan penyakit masyarakat yg begitu berbahaya, bagaimana dengan kab/kota lain yang notabene muslim termasuk saya.. bisa mengadopsi cara ini ? bukan membandingkan sebuah agama tapi ini cermin dari konsistensi.
-------------------------------------------
Sumber: http://nasirdbjpr.blogspot.com
BACA TRUZZ...- Perda Miras di Manokwari, Bar Gulung Tikar Orang Mabok Susah Didapat

Tiap Kampung Harus Memiliki Sekolah Dasar

Keerom, Wakil Bupati Kabupaten Keerom Drs. Waghfir Kosasih mengatakan untuk mempercepat pemerataan pendidikan di lingkungan masyarakat, disetiap kampung di Kabupaten Keerom harus ada pendidikan dasar atau Sekolah Dasar (SD) dari kelas 1, kelas 2 dan kelas 3.

“3 prioritas pembangunan Keerom, pendidikan, kesehatan dan infra struktur, khusus pendidikan wajib ada SD sampai kelas 3 di tiap-tiap kampung,”katanya kepada Cenderawasih Pos setelah acara peringatan 1 Muharram 1429 H, di Masjid Raya Baiturrahim, Jayapura, Jumat (11/1).

Menurutnya, di Kabupaten Keerom ada program Tribina, yaitu bina insan, bina ekonomi dan bina lingkungan. Bina insan meliputi bagaimana pendidikan dan kesehatan masyarakat menjadi lebih baik. “Dengan pendidikan, kita dapat membenahi Keerom kedepan,”jelasnya.

Dikatakannya, beberapa generasi di Kabupaten Keerom telah terputus dari aspek pendidikan, sehingga ada orang berbadan ditanya umurnya tidak tahu, hal tersebut merupakan kebijakan masa lalu yang menyebabkan banyak masyarakat yang tidak sempat mengenyam pendidikan.

Lanjut dia, kebijakan masa lalu yang belum berpihak kepada masyarakat, tidak perlu dipertanyaka siapa yang bersalah, yang terpenting saat ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) dan tugas bersama untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan Kabupaten Keerom terlebih pada bidang pendidikan. “Untuk membangun sumber daya manusia (SDM) pendidikan merupakan senjata ampuh,”terangnya.

Oleh karena itu, pendidikan ke kampung-kampung di Kabupaten Keerom sudah dimulai sejak 2006 dengan prioritas di setiap kampung paling tidak ada SD meski hanya sampai kelas 3. untuk pendidikan lanjutannya, kelas 4, 5 dan 6 SD dapat dikumpulkan menjadi satu pada tempat yang sudah ditentukan.

Mengenai penghambat pembangunan pendidikan karena tidak adanya perumahan guru, saat ini sedang dibangun secara bertahap perumahan guru untuk mengefektifkan mobilitas guru di kampung-kampung. “Alasan tidak ada rumah guru, sekarang kita sedang
membangunnya,”paparnya.

Mengenai pendidikan kelanjutan, di Kabupaten Keerom telah mempunyai SMP, SMA dan SMK, bahkan di sekolah yang ada di Waris tidak hanya masyarakat Kabupaten Keerom yang bersekolah tapi masyarakat dari PNG juga ada yang ikut serta menjadi peserta didik. “Bea siswa juga diberikan kepada mahasiswa baik yang kuliah di Papua maupun di luar daerah,”pungkasnya.(api
------------------------------------
(sumber: http://www.infopapua.com/cepos)
BACA TRUZZ...- Tiap Kampung Harus Memiliki Sekolah Dasar

Pelajar SMP Kwamki Lama Kesulitan Jawab Soal Bahasa Indonesia


Timika, Sebagian pelajar SMP Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Persekutuan Gereja-gereja Kristen Injili di Papua (YPPGI) Kwamki Lama mengaku kesulitan menjawab soal-soal ujian nasional (UAN) materi Bahasa Indonesia.

“Sedikit susah, yang lain masih kurang belajar dari dong (mereka) pak guru-pak guru,” kata Mervin, pelajar SMP YPPGI Kwamki Lama seusai mengikuti ujian di hari ini.

Menurut Mervin ada beberapa materi yang belum diajarkan disekolah, tetapi keluar di UAN. Johni Songgonau, siswa lainnya mengalami hal serupa. "Saya tidak dapat menjawab semua soal-soal ujian Bahasa Indonesia," kata Johni. Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran pertama yang diujikan dalam UAN SMP hari ini.

Christina Martina Risamasu, guru SMP YPPGI mengatakan, semua materi pelajaran yang dujikan sudah disampaikan kepada siswa. “Mungkin mereka tidak belajar, sehingga mereka tidak dapat menjawab soal-soal ujian,” kata Christina di SMP YPPGI Kwamki Lama.

Menurut dia, materi pelajaran Bahasa Indonesia memang merupakan bidang studi yang sulit diajarkan kepada para siswa SMP di Kwamki Lama ini. Terutama materi sastra. “Yang paling susah diajarkan adalah sastra, penulisan cerpen. Para siswa harus diasah terus,” kata Christina.

(sumber: http://www.infopapua.com/tempo)
BACA TRUZZ...- Pelajar SMP Kwamki Lama Kesulitan Jawab Soal Bahasa Indonesia

Mahasiswa dan LSM:

Senin, Mei 05, 2008

“Hans Magal Memiliki Kemampuan untuk Mengubah Mimika”

Nabire/Manokwari--Pemilihan kepala daerah (Pilkada) bupati dan wakil bupati
kabupaten Mimika tinggal hitungan jari. Empat pasangan calon bupati dan
wakil bupati Kabupaten Mimika periode 2008-2013 sepakat mematuhi
aturan yang berkaitan dengan kampanye terbuka yang dimulai 28 April
hingga 14 Mei 2008 melalui rapat Pleno KPU yang digelar di aula Hotel
Serayu, Sabtu (19/4) lalu.

Berkaitan dengan Pilkada itu, berbagai kalangan di Papua dan luar Papua
(mahasiswa) dan Lembaga Swadaya Masyarakat—LSM) mengatakandukunganya kepada
pasangan calon Bupati nomor urut 2, Hans Magal, SP - H. Sutoyo, Amd.untuk menjadi
bupati dan wakil bupati periode 2008-2013 Kabupaten Mimika.

Pasangan yang diusung oleh Koalisi Mimika Bangkit, yang terdiri dari PKS, PPDI,
PKPB, Parta Demokrat, PNI Marhaenis, dan PNBK ini dinilai memunyai
kemampuan untuk melakukan perubahan dalam berbagai bidang.

“Saat ini rakyat Mimika membutuhkan pemimpin muda yang realistis, bijaksana, 
energik, memahami rakyatnya, serta yang memunyai jaringan yang luas.
Jadi, kemampuan itu
telah dimiliki oleh sosok Hans Magal. Intinya,
Hans Magal memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan,”
kata salah satu aktivis LSM wilayah Teluk Cenderawasih via
telepon selulernya, Senin (5/5).
 Pada kesempatan yang berbeda, Koalisi Mahasiswa Papua Jawa dan Bali
Peduli Timika juga mengatakan dukunganya pada pasangan Hans Magal.
“Rakyat Mimika telah belajar dari masa lalu. Kini rakyat
Mimika butuh bukti, bukan janji-janji seperti pendidikan gratis,
kesehatan gratis, dan lain-lain yang selama ini tidak pernah terjadi,” katanya.
“Kami menilai Hans Magal adalah sosok pemimpin yang realistis dan memiliki 
kemampuan untuk bangkitkan rakyat Mimika yang telah lama tertidur dari
berbagai aspek. Dia (Hans) adalah sosok yang berjiwa perubah.
Kami yakin, dia bisa melakukan perubahan, maka kami mengatakan
dukungan kami secara resmi,” kata ketua koalisi yang namanya tidak mau diekspos.

Angelina Beanal, berkomentar suku Amungme Kamoro harus tahu sosok yang akan
mengubah kondisi mereka. Artinya harus mengenal baik-baik kira-kira pemimpin
siapa yang mampu mengubah kehidupan mereka yang terbelakang dari berbagai sisi.
Rakyat juga harus tahu pemimpin yang baik dan buruk.
Maka dari itu saya senang sekali mendengar nama Hans Magal yang dicalonkan.
Namun, untuk semuanya kita hanya bisa serahkan pada yang Maha Kuasa, katanya berharap.

Seperti yang dikutip wikimu. com, P.Rafael.Yosef.S mengatakan,
kabupaten Mimika sangat membutuhkan seorang pemimpin yang mau
memikirkan masa depan generasi penerus Papua. Sumber Daya Manusia (SDM)
Papua sangat rendah sekali, saya tidak bisa bayangkan apa yang sedang dan akan terjadi
ke depan jika rakyat tidak memikirkan baik-baik.

“Lihat saja para pemulung anak-anak Papua semakin bertambah berkeliaran
sejak pagi sampai malam. Itu berarti anak-anak Papua tidak ada yang mau
mimikirkan masa depan mereka. Bagaimana nasip mereka ke depan hari?
Mereka tidak sekolah. Pertanyaan siapa yang bertanggungjawab masa
depan anak-anak Papua?,” katanya.

Dia mengatakan, pemimpin ke depan adalah pemimpin yang mengutamakan
pembenahan dan penataan pendidikan orang Papua asli. Anak-anak Papua berhak
mendapatkan pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi sebagai dasar dan
persyaratan proses penciptaan SDM yang cerdas dan mandiri.

Harapnya adalah asli di suatu saat dapat berperan dalam kegiatan menggali
kekayaan sumber alamnya sendiri dan dapat menikmati hasil kekayaan buminya sendiri.
Selama ini orang Papua asli hanya sebagai penonton dan mengharapkan
kemurahan hati dan pemberian dana 1 porsen saja.

Jadi, katanya pemimpin yang dapat menyelamatkan masa depan orang Papua
adalah pemimpin yang tidak terikat dengan MOU-MOU, hutang budi pada
partai-partai, money politik, kepanjangan kekuasaan dan lain-lain.
Pemimpin unuk rakyat, bukan rakyat untuk pemimpin. Dicari seorang
Pemimpin seperti lilin dan mempunyai konsep misi penyelamatan masa depan SDM Papua.

Sementara itu. Agustinus Takati mengatakan, saya sebagai anak asli Timika yang
sangat peduli, mengganjurkan buat siapa saja yang ingin menjadi bupati di
periode ini agar memikirkan perubahan kesejahteraan masyarakat dan
tingkatkan pendidikan yang masih terbelakang.

Dari Nabire, Engelbertus Pr Degey juga berkomentar, Hans Magal bukan
karena teman saya, tetapi saya pikir Hans bisa ditegur oleh kalangan mana saja.
Walaupun tidak jadi bupati, Hans tetap akan diterima oleh orang
Mapia, Paniai, Amung, Kamoro, Jawa atau suku mana saja yang ada di Timika.
Jadi, seandainya kalau Hans terpilih, maka lempar dia dengan batu kalau
tidak mendengar jeritan rakyat. Hans akan rasakan lemparan batu itu.

Penulis muda Papua Yakobus Dumupa juga ikut berkomentar. Kata dia,
kabupaten rakyat Mimika membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan
untuk melakukan perubahan. “Setuju kalau orang Amungme jadi Bupati.
Terutama nama Hans Magal yang sedang muncul, adalah anak muda yang bisa
diandalkan bangun kota Timika yang dihuni berbagai suku di dunia,”
demikian kata penulis buku Berburu Keadilan di Papua dan tiga buku lainnya itu.

Sekjen AMPTPI: Masyarakat Mimika Butuh Pemimpin Baru 
Sementara itu, sekretaris Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah se-Indonesia (AMPTPI),
Markus Haluk mengatakan, masyarat Mimika saat ini butuh pemimpin yang baru.
Pemimpin yang baru artinya, pemimpin yang belum ternoda.
Demikian kata Markus Haluk di sela-sela Rakernas AMPTPI di Manokwari, Senin (5/5).
Haluk mengatakan, para pemain lama sudah ternoda dan bersekongkol dengan pihak lain.
Pemimpin lama telah terkontaminasi dengan permainan-permainan busuk. Kini rakyat
butuh figur yang mampu membawa rakyat Mimika dan Papua ke arah yang lebih baik.
Lebih baik tidak hanya kata-kata manis dalam kampanye tetapi pemimpin yang mampu
merealisasikannya.
 “Saya yakin masyarakat Mimika sudah tahu pemimpin mereka yang baru.
Mereka juga telah belajar dari masa lalu. Sudah cukup rakyat telah menderita
di atas tanah mereka. Siapa lagi yang akan membela dan membangun mereka,
kalau bukan figur baru yang muda dan energik, “ kata Hans serius.
 Dia melanjutkan, Hans Magal adalah figur kader terbaik AMPTPI yang memahami kondisi
rakyat Timika. Saya secara pribadi dan AMPTPI mendukung mendukung
Hans dengan segala kekuatan kami. Hans ada di hati kami. Kami yakin dia (Hans:red)
mampu membawa warna perubahan di Timika. Dia adalah figur kaum muda yang maju
dengan murni,” kata Haluk.
 Haluk berharap, dalam kanpanye, para kandidat perlu menjaga keamanan dan
ikuti aturan-aturan demokrasi. “Saya berharap para kandidat menjaga keamanan
dengan mematuhi nilai-nilai demokrasi. Juga jangan provokasi masyarakat
karena Mimika adalah daerah rawan konflik. Saya juga berharap rakyat
Mimika jangan terprovokasi dan pilihlah sesuai hati nurani,” kata Markus.
[yer/selangkah] ***
BACA TRUZZ...- Mahasiswa dan LSM:

Masih Ada Punggutan Uang Pada UAN

JUBI - Sekolah-Sekolah Yayasan Masih Membutuhkan Sokongan Dana dari Orang Tua Murid Dalam Menghadapi Ujian Nasional. Memang harus diakui bahwa perhatian pemerintah lebih cenderung memihak kepada sekolah-sekolah Negeri atau Inpres. Bahkan bantuan dana pendidikan lebih banyak diberikan kepada sekolah yang berstatus dibawah naugan pemerintah. Kebanyakkan gedung sekolahnya bertingkat dua dan dilapisi tehel putih dengan dominasi guru berstatus pegawai negeri serta fasilitasnya lengkap mulai dari perustakaan sampai laboratorium.

Sedangkan untuk sekolah yang berstatus Swasta atau Yayasan cenderung dijadikan anak tiri atau dinomor duakan. Dalam hal gedung sekolah swasta justru kalah jauh dengan gedung sekoilah negeri, fasilitasnya juga tidak lengkap. Sudah saatnya sekolah-sekolah Swasta atau Yayasan disamakan dengan Sekolah-sekolah yang berbasis pemerintah.

SMU Gabungan Katolik dan Protestan yang berada di Kelurahan Mandala, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Provinsi Papua memiliki 42 guru pengajar serta 365 murid. Dari 365 murid paling banyak adalah anak-anak Papua 305 anak. Tapi sayang kurang mendapat perhatian dari Pemerintah. Untuk menghadapi Ujian Nasional Tahun Ajaran 2007/2008 pihak sekolah memintah bantuan dana dari orang tua murid melalui surat resmi. “Karena bantun Dana Ujian Nasional dari Pemerintah Kota Jayapura untuk tiap anak SMU Gabungan Rp. 50.000,” ungkap Kepala Sekolah SMU Gabungan Katolik dan Protestan, T.Fransicus Wayne, S.pd. MM (52).

Dana sebesar Rp. 50.000, memang tidak cukup untuk persiapan-persiapan yang dilakukan kurang lebih tiga bulan. Untuk persiapan selama tiga bulan sebelum ujian nasional masing-masing anak menghabiskan dana Rp.300.000,- dana tersebut untuk pembelian alat tulis, biaya transport, foto copy serta biaya guru pendidik. Ditambahkan pria asal Monamani, orang tua merupakan aset yayasan. Jadi sudah seharusnya mereka mendukung setiap program yang dibuat oleh sekolah. Sejauh ini tidak ada orang tua yang protes mengenai pungutan biaya tambahan untuk ujian nasional. Untuk standar kelulusan rata-rata haruslah 6,00, jika nilainya pas di 5,2 dinyatakan tidak lulus dan itu sangatlah berat bagi SMU Gabungan.


Tapi dewan guru akan berupa semaksimal mungkin agar SMU yang bersebelah dengan kolam renang Tirta Mandala seluruh siswa harus lulus ujian nasional. “Kami para guru tidak kuatir lagi, karena mereka sangat serius dalam mengikuti les-les tambahan selama tiga bulan yang dilakukan oleh pihak sekolah. Kami percaya bahwa sekolah kami akan lulus semuanya.” ungkap Wayne di ruang kerjanya.

Yang sangat disesalkan oleh pihak sekolah, adanya surat perintah dari Kepolisian Sektor Jayapura Utara untuk menempatkan dua anggota polisi dalam pengamanan ujian nasional dan pihak sekolah tidak meminta pengamanan.
Menurutnya, tidak usahalah karena sudah ada satpam sekolah dan selama ini aman-aman saja, kecuali pada saat pengumuman kelulusan barulah dibutuhkan pengamanan dari pihak Kepolisian. Karena dana yang dibutuh akan membengkak dan tidak sesuai dengan dana yang dianggarkan oleh Panitia penyelenggara ujian nasional.

Immanuel Inarkombu (1 8) siswa SMU Gabungan peserta Ujian Nasional mengatakan tidak tahu menahu mengenai permintaan dana dari pihak seolah kepada orang tua murid. Yang Immanuel tahu hanyalah bersekolah dan lulus tepat waktu. Saat ditanyai oleh wartawan Jubi soal mana yang paling sulit, “Jujur saja kak yang paling susah adalah ujian Bahasa Inggris. Kami hanya mendengar (listening) melalui kaset dan langsung menjawab serta waktunya sangat singkat sekali. Kalau tidak cepat-cepat tulis maka akan terlewatkan soal berikutnya,” tuturnya.

Saul Sawaki Siswa Kelas III SMU Nergeri I Abepura mengungkapkan pihak sekolah tidak memunggut biaya sepeserpun dari siswa dan orang tua murid. Mungkin dana yang dibutuhkan sudah memadai sehingga pihak sekolah tidak meminta bantuan dana. Senada dengan Saul Sawaki, Vany Wangai Siswi SMK I, orang tua tidak dibebani uang ujian nasional. Hanya saja untuk praktek saat ujian orang tua dibebani biaya tambahan.Sementara itu, Kepala sekolah SMP Advent Abepura, ketika di temui Jubi di ruang kerjanya,belum lama ini, mengatakan, jumlah siswa yang ada sebanyak seratus delapan puluh sembilan orang. untuk kelas sembilan atau kelas tiga berjumlah delapan puluh satu orang.Tenaga pengajar sebanyak tiga belas orang di tambah dengan satu orang pegawai dari yayasan jadi jumlah seluruhnya empat belas orang. Guru PPL dari Uncen yang melakukan praktek selama enam bulan berjumlah enam belas orang.

Menurut Djemie Katang (42), khususnya SMP Advent sudah mempersiapkan kegiatan UANAS sejak Nevember 2007. Persiapan yang dilakukan berupa pengayaan-pengayaan atau penambahan pelajaran di luar jam sekolah. Mata pelajaran yang berikan dalam pengayaan tersebut adalah mata pelajaran yang dinasionalkan, antara lain Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Sejarah, dan PPKN.Mata pelajaran ini diberikan dengan cara mengajarkanya kepada setiap murid, tatap muka antara murid dengan siswa tetapi juga diputarkan lewat kaset CD kepada siswa.Selain pemberian mata pelajaran kepada siswa, siswa-siswi ini juga dilatih dengan Tray out, atau melepaskan siswa untuk mengerjakan soal dengan sendiri. Trayout ini sudah dilakukan sebanyak lima kali. Persiapan ini dilakukan dengan tujuan agar siswa-siswi tersebut benar-benar sudah benar-benar disiapkan untuk menghadapi ujian akhir nasional. selain itu, persiapan selanjutnya yang nanti akan di lakukan adalah pihak sekolah dan orang tua murid akan melakukan doa penyerahan siswa-siswi sebelum mereka menghadapi ujian nasional. ujar Djemie Katang selaku kepala sekolah.

Kata Djemie Katang kendala yang dihadapi dalam persiapan UANAS tersebut adalah kurangnya kehadiran siswa dalam mengikuti pengayaan yang dilakukan oleh sekolah. Sehingga siswa-siswi yang malas atau kehadirannya kurang, Selain itu mereka harus mempersiapkan diri mereka secara baik dalam menghadapi ujian nanti. “Kehadiran siswa-siswi kami seperti ini sangat merepotkan pihak sekolah dan susah untuk menangani serta mengendalikan mereka,” ujar kepala sekolah.Kemudian bantuan dana dari Pemerintah Kota Jayapura untuk SMP Advent dalam menghadapi UANAS hanya sebesar Rp. 2.430.000,-, per anak diberikan Rp.30.000,-,. Dana itu hanya di berikan kepada siswa kelas sembilan atau siswa kelas tiga. Sedangkan Untuk Dana Otonomi khusus yang dibagikan kepada para siswa-siswi, satu orang sebesar empat puluh tiga ribu rupiah. itu pun hanya dibagikan kepada siswa kelas tiga atau kelas sembilan atau kelas tiga saja.

Lanjut kepala sekolah, walaupun ada bantuan namun masih pihak sekolah masih memungut biaya dari setiap siswa-siswi sebesar tujuh puluh lima ribu rupiah. Biaya ini sudah di bicarakan bersama antara pihak sekolah dengan orang tua siswa-siswi. Dana ini di gunakan untuk membiayai guru honor dan tetap yang memberikan pengayaan. Biaya ini sangat di sesalkan oleh kepala sekolah, karena kata kepala sekolah pungutan ini sudah disampaikan kepada kasubdin SMP ditingkat Kota, namun sampai saat ini tidak ada tanggapan yang baik dari Kasubdin.Harapan kepala sekolah SMP Advent Abepura, ada peningkatan standar kelulusan yang tinggi oleh para siswa-siswi. Karena standar kelulusan siswa-siswi SMP Advent Abepura harus empat koma lima.

Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Jayapura Dra.WW Kambuaya, MM mengungkapkan, tingkat kelulusan peserta UAN pada 2008 ini ditargetkan tetap di atas 90 %. Oleh karena itu, selain program yang telah disiapkan Dinas P dan P dalam penyediakan latihan soal atau try out, pihak sekolah diharapkan juga mengintensifkan pengayaan materi dan latihan ujian.

“Diharapkan para guru sekolah menyiapkan anak-anak didiknya lewat pengayaan materi maupun latihan ujian,” ujar WW Kambuaya. (Musa Abubar/Carol Ayomi )
---------------------------------------------------------------------
Sumber:
FokerLSMPapua.org,
BACA TRUZZ...- Masih Ada Punggutan Uang Pada UAN

Mendukung Gerakan "One People, One Book, One Heart for Papua" yang di Lakukan oleh LPP. Kami kumpulkan buku baru dan bekas untuk bangun perpustakaan di Papua. Di Jakarta dan sekitarnya hubungi Johanes Supriyono, email:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
 
 
 

Visitors

Pengikut